Monday, December 17, 2012

Perigi Buta

SEKERAT bir hitam tersisa di lemari es. Johan menandaskan satu botol yang separuh terisi. Dalam satu tegukan itu, perutnya belum berhenti membunyikan tanda lapar.

Anaknya yang masih balita merangkak mendekat, menonton Johan menjilati kepala botol. Mata bulat dan bibir bocah itu sedikit terbuka, tangannya menggapai-gapai kursi. Johan melempar botol ke arahnya karena kesal. Pecahannya seketika tersebar di lantai. Bocah itu lantas menjeritkan nama ibunya yang sedang sekarat di kamar. Jeritannya berbalaskan lagu keroncong dengan volume maksimal yang diputar Johan. Berjam-jam kemudian, gesekan biola dari lagu-lagu itu berhasil menidurkannya.

Menjelang pagi, Johan membelai rambut istrinya dan membisiki agar dia bangun. Linda terlentang di kasur dan menggenggam rosario. Wajahnya pucat dan bibirnya membiru. Telah berhari-hari Linda tak makan. Kalau bukan karena sifilis, perempuan itu akan mati karena kelaparan.

Pagi itu Johan menyuapi Linda lumatan sosis dan roti sisa yang ia pungut dari keranjang sampah tetangga. Saat suapan terakhir habis, Johan berusaha mengingat tanggal. Seketika, ia tiba-tiba berlari ke arah mantelnya yang tergantung di ruang tengah, lalu merogoh saku dan mengeluarkan beberapa keping koin. Johan tahu sisa koin itu tak akan cukup untuk menunggu Linda sembuh dari kelumpuhan. Ia harus kembali bekerja.

Lima tahun lalu ia memutuskan berhenti bekerja demi menunggu kesembuhan istrinya itu. Berhari-hari ia diselimuti rasa cemas tak berkesudahan. Sekian pengandaian ia ajukan kepada dirinya. Sampai akhirnya, ia kontrakkan rumah dan dijualnya koleksi buku dan keping filmnya yang menggudang demi membiayai pengobatan Linda. Beberapa bulan berikutnya, Linda siuman dari koma setelah mereka pindah ke dangau di belakang rumah. Hanya saja, pangkal paha hingga mata kakinya lumpuh.

Sebulan terakhir Johan tak lagi mencucikan baju hangat istrinya. Ia pun tak ingat untuk menyobeki kalender China di dinding dapur. Lembar terakhir berhenti pada angka ganjil hijau. Tanggal pernikahan mereka yang sudah tak terayakan sejak Linda sakit.

EMBUSAN napas Johan menjelma asap di udara. Digunakannya koin-koinnya untuk menelepon kawan lamanya lewat telepon umum.

“Kira-kira, apa ada pekerjaan untukku?”

Koin pertama untuk penjelasan berbelit kawannya.

“Yang tiga hari kerja dalam seminggu, dan gajinya cukup untuk biaya hidup, ada?”

Koin kedua untuk Johan menjelaskan keadaan keuangannya.

“Linda tak kunjung sembuh. Aku butuh uang untuk bertahan hidup. Tapi aku tetap harus menjaganya di rumah. Pekerjaan yang ringan saja.”

Koin ketiga untuk memaki-maki.

SELALU ada orang-orang unik melewati jalan di depan rumah mereka. Pagi itu, seorang perempuan muda mendorong kereta bayi. Payudaranya penuh, gesturnya seperti Audrey Hepburn di Breakfast at Tiffany's. Johan membayangkan perempuan itu menjawab perkataan “Aku cinta kamu” dengan sebatas “Terima kasih”. Bayangan itu lenyap ketika melihat istrinya duduk di ruang tengah rumah. Saking laparnya, perempuan itu terlihat mengganyang kepala anak mereka di sana. [*]

Semacam bosan, lagu-lagu dari Banda Neira sudah buyar. Yogyakarta, 17 Desember 2012.

Wednesday, November 7, 2012

Pendidikan Alternatif di Yogyakarta

Entah apa yang ada di pikiran seorang guru SD ketika menyuruh muridnya mencari materi pelajaran di internet. Entah pula apa yang ada di pikiran seorang guru dan kepala sekolah SMA ketika membiarkan anak didiknya mengakses kunci jawaban Ujian Nasional demi mendapati kelulusan 100% untuk sekolahnya. Bimbingan belajar dengan trik-trik instan, tanpa menekankan pada logika ilmu pengetahuan, bermunculan bak cendawan di musim hujan. Joki-joki menanti siapa saja yang sedia membayar sekian juta dan dengan cara apa pun membantu mereka mendapatkan jurusan favorit. Gedung-gedung pendidikan dan fasilitas pendidikan meniru standardisasi global. Mahasiswa, pelajar, ataupun cendekiawan pada umumnya barangkali kehilangan orientasi, tentang apa yang mereka cari di institusi pendidikan.

Banyak masalah terjadi. Paragraf di atas barangkali hanya contoh-contoh yang terlihat di permukaan. Seperti batu es di lautan, yang terlihat hanya bagian permukaannya. Padahal, bisa jadi permasalahan ini berantai dengan minimnya wawasan masyarakat tentang negara, bangsa, dan Nusantara-nya, atau kealpaan kita tentang landasan yang membangun negara Indonesia.

Frustrasi dan anakronisme yang terjadi lantaran permasalahan-permasalahan ini ternyata masih memiliki jalan keluar. Ada beberapa pendidikan alternatif bagi masyarakat untuk mengelola tradisi lokalnya dan memahami apa yang terjadi di sekitarnya.



Pada mulanya mungkin hanyalah amanat ibu saya sebelum beliau tutup usia bahwa saya harus menjadi seorang dokter, dan berkuliah di alma mater ibu. Amanat itu mengantarkan saya ke Yogyakarta. Dan ternyata Bali jauh berbeda dari Jawa. Di Bali, tak ada transportasi dengan kereta api, transportasi publik juga tak beroperasi. Beberapa saat, saya menjadi the others, tak ada sanak famili, tak fasih bahasa Jawa. Namun kini, agaknya kota ini telah menahan saya, bahkan hanya dengan tawaran nasib ke depan yang masih belum jelas.

Gelar diploma yang kelak saya peroleh dari universitas tak akan mampu mengantarkan saya ke cita-cita saya menjadi jurnalis, kecuali saya mengambil kuliah lain lagi tahun depan. Meski sayalah yang secara sadar memilih jurusan ini lantaran merasa lelah mengejar impian ibu. Tiga tahun lewat, saya akhirnya bisa lepas dari bayang-bayang amanat ibu, dan saya tahu apa yang saya inginkan. Namun hari ini, jurang antara saya dan cita-cita saya adalah syarat gelar minimum sarjana.

Adalah mudah untuk sekadar mengambil alih program dari diploma ke sarjana, bila yang saya butuhkan hanya sebatas gelar. Tetapi untuk apa? Harold Ross, pencetus The New Yorker dan membidani tokoh-tokoh jurnalistik seperti John Hersey yang menulis laporan berita Hiroshima malah tak pernah merampungkan pendidikan tinggi. Saya paham kami berbeda zaman. Terlahir di zaman yang penuh standardisasi global, ketika seorang Ph.D. di Amerika saja bisa menjadi pengangguran, saya terkadang merasa mengalami anakronisme. Suatu sensasi, seolah seharusnya beberapa orang tak terlahir pada zaman tertentu.

Thursday, October 18, 2012

Sebuah Rumah untuk Kesenian Rakyat


Awalnya tempat itu hanya diniatkan sebagai ruang mengisi waktu luang. Kini, beragam usaha dilakukan untuk membuatnya bertahan.

Menjelang malam dua gadis kembar berlatih mendalang di ruang tengah rumah. Seruni Wida Ningrum melantunkan suluk  memulai kisah pewayangan. Intonasi suaranya mantap mengalahkan gerimis hujan di pekarangan. Bersimpuh bersisian, Seruni Wati memperadukan wayang kancil di pegangannya. Tabuhan gamelan mengiringi latihan mendalang dalam bahasa Jawa itu.

Bagi Wida-Wati, begitu mereka biasa disapa, rutinitas harian itu adalah sarana untuk mewujudkan cita-cita menjadi pendalang. Bisa dibilang Wida-Wati adalah sepasang pendalang yang disiapkan dan digembleng sejak dini oleh para pelatih di Balai Budaya Minomartani. Tak ada biaya yang diperlukan dalam setiap kegiatan mereka. Roedi Hotmann-lah yang membawa ide tanpa pungutan biaya itu ke Balai Budaya Minomartani sejak berdirinya joglo pada 1990. Walhasil, para penggiat seni Balai Budaya Minomartani lainnya kerap mengadakan pelatihan gratis karawitan, wayang, tari, ketoprak, dan teater bagi warga Minomartani dan sekitarnya.

Sebagian besar warga Minomartani tidak menggeluti ranah seni secara profesional. Mereka berlatih seni untuk mengisi waktu senggang selepas kerja. Seperti pada malam yang sama, ibu kedua saudari kembar itu, Endang Purwanti, ikut berlatih ketoprak bersama tiga puluh pendengar setia Radio Balai Budaya Minomartani (Radio BBM). Ada pentas yang mereka persiapkan untuk ditampilkan tiga minggu berikutnya. Karakterisasi ketoprak disesuaikan dengan keseharian pendengar radio BBM sebagai wujud interaksi pendengar dan pegiat Radio BBM. “Kan, pendengar Radio BBM profesinya macam-macam, itu yang akan ditampilkan,” jelas Sukisno, Kepala Taman Budaya Yogyakarta yang juga bergiat di Balai Budaya Minomartani.

Pentas juga akan diudarakan secara langsung melalui Radio BBM 107,9 FM. Dengan itu, komunitas Minomartani dapat menikmati Ketoprak kendati sebatas melalui medium suara. “Kalau tidak ada radio, balai budaya tidak jalan, karena seringnya orang-orang monitoring dari radio. Sebaliknya, radio tidak jalan tanpa balai budaya karena income radio dari penyewaan gamelan,” ujar Eko Cahyo, teknisi Radio BBM.

Jauh pada tahun 1990-an, kebutuhan warga akan budaya hanya diwadahi oleh RRI dan TVRI. Lantaran seringnya delay dan kualitas rekaman yang kurang baik, warga berinisiatif membuat media sendiri. Sebelum ada radio, warga memperoleh berita seni dan budaya melalui Koran Selembar (Kobar). Koran ditulis tangan, diperbanyak, dan lantas dibagikan kepada masyarakat. Radio BBM adalah generasi kedua dan telah beroperasi sekitar 12 tahun. Mulanya, ada Radio Suket Teki sebagai radio perintis,yang berdiri lantaran keisengan Adi Nugroho, generasi pertama teknisi radio di Minomartani. Bersama warga yang hobi membikin pemancar radio FM, bilik kecil rumah di depan joglo Balai Budaya Minomartani dijadikannya tempat siaran.

Saat itu, Adi tak meniatkan radionya menjadi ikon Balai Budaya Minomartani. Meneruskan Kobar, program siaran Radio Suket Teki masih berfokus pada seni dan budaya berdaya jangkau hingga Kalasan dan Jetis. Siaran radio terdengar belum terlalu jernih karena masih menggunakan radio rakitan sendiri. Namun, ketangguhannya beroperasi dapat ditandingkan dengan usaha radio-radio swasta pada awal tahun 2000-an. “Pada tahun-tahun itu, Radio Suket Teki sempat dijuluki mbah-nya radio komunitas,” jelas Eko.

Tuesday, July 31, 2012

Perihal Angle of Vision dan Sejarah Tokoh Kosmopolitan

Wawancara dengan Andi Achdian untuk Balairungpress.com

Jumat (27/7), sejak pukul 09.00 hingga 18.00 Komunitas Etnohistori mengadakan rangkaian acara kuliah umum, peluncuran perdana Jurnal Etnohistori, diskusi buku The Will to Improve oleh Prof. Dr. Tania M. Li. dan buku The Angle of Vision oleh Andi Achdian, serta program buka bersama. Di Auditorium Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, pengurus redaksi Majalah Loka mengisi acara terakhir, diskusi buku The Angle of Vision. Diskusi buku ini mendatangkan juga Hatib Abdul Kadir M. A., dosen Jurusan Antropologi Universitas Brawijaya, dan M. Nazir, M. A., pengajar di Sekolah Tinggi Pertahanan Nasional, sebagai panelis.

Buku The Angle of Vision yang diterbitkan LOKA Publishing pada Juni 2012 ini membawa tagline “Mereka yang Tidak Menyerah pada Sejarah”. Melalui bukunya, Andi mengajak pembaca mengenal delapan tokoh yang dekat di hatinya; (diurutkan berdasarkan Daftar Isi) Kartini, Sukarno, Soedjatmoko, Gunawan Wiradi, Onghokham, Imam Muhaji, Bre Redana, dan Linda Christanty.
Hatib berpendapat kumpulan tulisan Andi menggunakan penulisan etnografi kontemporer. Jelasnya, penulisan etnografi tradisional masih menggunakan sudut pandang pertama, terwujud dalam penggunaan kata ganti mendaku (saya, aku, dst.), sementara etnografi kontemporer telah lepas dari penggunaan kata ganti orang pertama. “Ini terjadi karena seringkali etnografer pada masa ini takut bila dimintai pertanggungjawaban,” ungkapnya.

Sementara itu, Nazir menganggap buku Andi ini sebagai suatu milestone yang baik bagi penulisan sejarah kontemporer; terutama dengan menampilkan profil tokoh-tokoh dengan ragam potensi. Menurutnya, cukup lama penulisan sejarah Indonesia hanya terpaku pada masa lalu.

Hatib menyebutnya sebagai sejarah kosmopolitan. Ia menarik benang merah dari delapan tokoh yang dihadirkan Andi dalam bukunya ini. Tokoh-tokoh yang dihadirkan adalah tokoh-tokoh yang membuka diri kepada dunia global, juga gemar berinteraksi dengan dunia membaca dan menulis. Beberapa dari mereka bahkan telah membaca karya-karya adiluhung sejak usia muda. Meskipun, bagi Hatib, pemaparan dalam buku masih kurang dalam.

Yang menarik, Hatib melihat, penulisan profil Linda nampak sangat intim. Andi, dalam diskusi, mengakui kedekatannya dengan Linda. Baginya, intensitas wawancaranya dengan Linda yang berkali-kalilah yang menimbulkan kesan itu. Andi lantas juga memaparkan tokoh-tokoh lainnya dengan beragam profesinya. “Ada yang menjadi penulis, dramawan, tokoh politik. Delapan orang ini dapat menjadi contoh terbaik menyangkut profesi yang digelutinya. Buku ini bisa menjadi referensi bila generasi muda kita ingin belajar caranya menjadi penulis, atau dramawan yang baik, misalnya,” jelasnya.

Tidak berhenti hanya di diskusi buku, Balairungpress.com mendapatkan kesempatan wawancara khusus dengan Andi Achdian di akhir acara.

Bagaimana tanggapan Andi tentang pernyataan Hatib; ia bilang, buku ini bisa menjadi referensi untuk bahasan kosmopolitanisme?
Kira-kira memang betul. Indonesia dibentuk oleh tokoh-tokoh penting yang pada saat mudanya berkenalan dengan dunia luar yang lebih luas; baik keseharian maupun kesempatan belajar. Rumusan-rumusan tentang Indonesia dibuat oleh pemikiran yang sangat modern, mondial. Mereka tidak hanya berkutat dengan sebuah negeri kecil, mereka dapat bicara tentang sesuatu yang besar. Jadi ada perbandingan yang mereka lakukan, mereka tidak terkurung. Mereka menunjukkan bahwa kita adalah bagian dari dunia, bukan orang yang tertutup.

Lalu kenapa hanya delapan tokoh ini? Tadi di dalam (auditorium FIB—red.), Andi memaparkan delapan orang ini dapat menjadi representasi yang baik untuk profesi-profesi intelektual, penulis, tokoh politik, dan sebagainya. Kenapa hanya delapan profesi?
Keterbatasan memberitakan banyak hal. Jadi saya ambil yang paling saya kenal. Paling tidak ada benang merah, bahwa masing-masing dari mereka punya driveangle of vision, untuk terus berkembang. Mereka semua berhasil melakukan hal yang orang-orang pada umunya lihat sebagai mustahil.

Apa bisa diceritakan satu per satu?
Tadi saya sudah paparkan tiga orang di dalam (Soekarno, Kartini, dan Linda—red.).

Soedjatmoko, waktu kuliah saya sangat terkesan dengan tulisannya. Walaupun tidak ada kerangka teoretis yang dikemukakan dalam tulisannya, ia orang yang merepresentasikan Indonesia yang begitu besar. Ia menjadi rektor pertama Universitas PBB di Tokyo, ia menjadi bagian dari dunia yang besar, ia menjadi bagian global.

Gunawan Wiradi, orang yang pantang menyerah, punya banyak masalah tentu, tapi ia aktif menjadi generasi yang mencoba membuat definisi baru tentang Indonesia. Terlihat dari karakternya; baginya, masalah gagal, itu lain soal.

Imam Muhaji, terlihat seperti orang biasa, ia aktivis politik, meski tingkat kampung, tapi punya sikap yang gigih, ia juga bisa realistis, punya kreativitas. Kalau keadaan menekan; kan, kita selalu bertanya, kita bisa bagaimana? Nah, Imam bisa menjawabnya. Kita butuh orang-orang yang bisa menjawab itu.

Bre Redana, ia memberikan makna baru terhadap sejarah ’65. (Ingatannya tentang sejarah ’65 muncul dalam novel semiotobiografinya yang berjudul Blues Merbabu dengan nama pena Gitanyali. Ia tidak menulis tentang kekejaman yang terjadi pada 1965, kendati ia berasal dari Merbabu, Salatiga di mana kekejaman tentang kejadian itu barangkali telah didengarnya dari banyak versi—red.)

Onghokham, dia guru saya, secara pribadi. Ia intelektual yang bisa bicara besar tentang sejarah, ia membicarakan lebih dari kapasitasnya, lebih dari sekadar sejarah, ia intelektual publik yang mewakili hasrat masyarakatkita tentang demokrasi. Saya pernah belajar di rumahnya.

Empat orang dalam daftar isi bagian awal, Kartini, Sukarno, Soedjatmoko, Gunawan Wiradi, saya belum pernah ketemu. Empat orang dalam daftar isi bagian bawah, Onghokham, Imam Muhaji, Bre Redana, dan Linda Christanty, saya pernah.

Kalau mengenai penulisan, profil yang kali pertama ditulis?
Saya mulai sejak Juni tahun lalu, saya menulis tentang Linda, waktu ada acara diskusi. Panjang tulisan setiap tahun berbeda, ketika itu saya belum menemukan kunci yang bisa menyatukannya. Baru bisa ketemu belakangan setelah dimuat di Majalah Loka (via daring melalui http://lokamajalah.com—red.). Yang paling puas, mungkin ketika menulis Kartini—saya banyak bermain dengan metafor, menggunakan lika-liku detail yang naratif sifatnya.

Dan dari delapan ini, kenapa perempuannya hanya dua? Kenapa tidak komposisi empat-empat?
Karena pilihan subjektif, yang paling menonjol ya saya lihat dua itu, ha ha ha.

Tapi apa ada tokoh lain yang potensial, utamanya wanita, namun tak dieksplor?
Dolorosa Sinaga, ia perupa, saya berniat menulis tentangnya. Waktunya tak terkejar, dan belum mendalam. Selebihnya, bagi saya, baru dua itu yang istimewa, Linda dan Kartini.

Ada hambatan dalam pengerjaan?
Teknis saja, mencetak dan menulis dua hal yang berlainan. Kendalanya, sebatas rasa malas saja, mungkin.

Terakhir, apa yang melatarbelakangi buku ini?
Ada juga inspirasi awal, ada orang yang saya tak kenal, tapi dia tahu saya. Dia menghubungi lewat YM (aplikasi Yahoo! Messenger—red.), kami bicara, dari pernyataannya: Kok susah ya ketemu tokoh yang menarik di Indonesia. Kita tidak punya seseorang yang “wah”. Harusnya ada. Bermula dari pembicaraan itu, saya ingin menulis suatu sejarah yang bukan sekadartextbook yang berlaku untuk kalangan akademis. Orang biasa, anak SMA, dan orang-orang yang tidak berhubungan dengan sejarah bisa suka dengan buku ini. Supaya anak-anak Indonesia suka sejarah.

Monday, June 25, 2012

Tikungan

Sepuluh atau dua puluh tahun dari sekarang, semua kawan kita—bahkan mereka yang kini mengaku paling kesepian sekalipun—sudah akan menikah. Kawan gay, kawan lesbi, semua kawan kita tak terkecuali. Mereka akan bekerja di perkantoran, membangun usaha mereka sendiri, ataupun menganggur dan tetap bersuka cita dengan hal-hal kecil yang mereka lakukan. Atau menjadi gila karena dunia.

“Sudah selesai. Sudah beres. Sebentar aku pulang dan mengemasi semua barang.”

Tahun-tahun ke depan, kita semua akan mulai mewujudkan mimpi. Menang ataupun kalah bukan tujuan. Karena aku percaya, kau akan melanjutkan hidupmu bahkan ketika semua mimpimu tak berhasil kau wujudkan. Karena kita hanya merebut kembali apa yang sempat kita lepas. Kegembiraan anak kecil yang bercita-cita.

“Tidak, aku malas berfoto. Maksudku, aku mengiyakan untuk wisuda pun hanya agar kamu senang saja. Tapi ternyata kamu ada kerjaan lain. Mengecewakan.”

Pada saat apa pun, ayah-ibumu, adikmu, dan semua sahabatmu mungkin akan selalu menemanimu di sisimu. Seperti hari ini. Mereka dapat memelukmu, mengecup pipimu, memukul-mukul pundakmu, dan berbagi tawa denganmu. Menceritakan hal-hal lucu yang akan membuatmu terpingkal. Menaruh kesedihanmu di pundak mereka. Hari ini, kalian dapat segera berlarian, meloncat, dan kamera-kamera akan mengabadikan semuanya. Ataupun kau dapat melempar togamu ke angkasa. Biarkan mereka menangkapnya kembali untukmu.

“Tidak, hanya bercanda. Bukan masalah. Aku menikmati. Kalau tidak, aku pasti sudah  pulang dari tadi. Aku suka melihat suasana ini. Semua temanku bergembira.”

Selamanya aku hanya akan menjadi pemujamu. Tak akan selangkah pun mendekat. Tak akan memulai pembicaraan. Bila kelak kita bertemu lagi, kita hanya akan bertukar tatap. Membagi senyum sebagai kawan lama. Yang satu almamater, yang seringkali berjumpa di kesempatan-kesempatan tak terduga, dan tak pernah berkesempatan untuk saling mengenal.

“Aku tak menganggap perayaan semacam ini penting. Lagipula aku ada banyak pikiran sekarang. Kontrakan rumahku selesai bulan ini. Aku akan … pergi. Pindah ke suatu tempat. Atau mungkin hidup nomaden.”

Setelah hari ini, kau akan mencintai gadis lain. Menikahinya. Beranak. Membesarkan anak-anak kalian agar menyerupai kalian. Bertahun-tahun kemudian, mungkin aku akan jatuh cinta kepada anakmu.

“Bodoh. Sekalipun nomaden, aku tak ingin berkeliling dunia. Itu sudah terlalu mainstream.”

Jadi kita berpisah di tikungan ini. Aku tahu kau tidak akan menyadari perpisahan ini. Selamat tinggal untuk cinta empat tahunku kepadamu.

*

#25 Juni 2012

Tuesday, June 19, 2012

Saudade

Saudade (*)

(*) Lema berbahasa Portugis dengan dialek Galisia (tidak ada padanan-kata dalam bahasa Inggris) yang kira-kira bermakna kerinduan yang kuat terhadap sesuatu atau seseorang yang dicintai. Perasaan ini biasa diikuti oleh keyakinan bahwa yang dirindukan tak akan pernah kembali.

"POSITIF, tiga tahun lagi aku akan mati,” ujar Nirwan dengan putus asa setelah hening berpuluh menit. Air matanya banjir di pipi dan telah membasahi layar ponsel hingga lipatan lehernya. “Aku harus mengajukan surat berhenti bekerja, tiga tahun ini aku akan berkeliling Indonesia; dan bila nanti tubuhku melemah, aku akan menetap di sembarang kota untuk sebanyak-banyaknya menulis syair.”

Jane kehilangan kata-kata kendati gagang telepon telah menempel di telinganya lebih dari satu jam—sampai tiba-tiba dia teringat, “Bukannya kau benci sastra?”

“Aku berubah pikiran. Jane—begini, aku akan kursus menulis fiksi dan syair, aku ingin hidup abadi dalam tulisan. Barang-barangku—aku sedang mempertimbangkan untuk membakarnya. Aku takut menjadi miskin di sana. Kau tahu, kami etnis Tionghoa biasa membakar barang-barang agar leluhur mereka dapat mempergunakannya kembali di alam sana. Paling tidak, aku akan titip Sera dan anak-anaknya kepadamu. Aku tak yakin kucing-kucingku ini bisa dekat dengan orang lain selain kita berdua.”

“Jane,” panggil Nirwan, “katakan apa pun. Aku butuh pendapatmu.”

“Bagaimana bila dua tahun lagi dokter-dokter itu menemukan obat yang mujarab untuk leukemia?”

“Menurutmu takdirku sebaik itu?” tanya Nirwan lirih. “Maksudku, bahkan tak ada seorang pun pernah mencintaiku. Tiga tahun lagi, aku akan mati perjaka sebagai gay yang menyedihkan.”

“Sebelum mati, kau bisa tidur denganku,” sahut Jane, “aku mungkin bisa melepaskan keperawananku.”

“Bodoh.” Nirwan tertawa sarkastis. “Aku sahabatmu, dan aku gay, aku gay, Jane.”

Jane menggigit bibir. “Nirwan, apa kau memang benar-benar ingin lenyap begitu saja? Semua barangmu akan kau bakar, kau mati; nanti apa yang tersisa darimu?”

“Nanti—aku pasti akan sukses menulis buku-buku tebal selama tiga tahun ini. Pramoedya bilang, itu cara menjadi abadi.”

Jane tertawa terbahak. “Omong kosong. Darahmu tidak mengalir dalam tulisanmu.” Dia berhenti sejenak, “Aku tak rela kau mati perjaka. Sebelum mati, tolonglah, kau harus menghamili seorang wanita.”

“Jangan konyol,” tukas Nirwan. “Aku tidak akan pernah sudi merampas keperawanan darimu yang sudah kuanggap adikku sendiri.”

“Apa kau keberatan untuk tidur dengan pelacur?”

Monday, May 21, 2012

Untuk Kakek: Memorial di Tahun 0

Kakek bisa jadi adalah sosok paling tak masuk akal di rumah kami. Apapun yang ia lakukan selalu bertentangan dari hari ke hari. Ibu tak pernah suka kepadanya, ibu tak pernah suka kepada mertuanya. Kakek juga tak pernah menyukai ibu, kakek juga tak pernah menyukai putra semata wayangnya yang menikahi ibu. Namun, ayah-ibu, kakek-nenek—meski tidak saling menyukai—selalu saling bertentangan dalam sikapnya untuk menyayangi saya, anak dan cucu satu-satunya dalam keluarga.

Sebelum usia saya genap lima tahun, saya lebih sering menghabiskan waktu dengan kakek dan nenek. Ayah dan ibu senantiasa pulang larut malam, atau pada dini hari. Kendati, mereka hampir selalu membawakan oleh-oleh martabak ataupun terang bulan untuk kakek dan nenek. Pukul dua pagi, perlahan ayah akan menggendong saya—merebut saya dari bantal yang saya peluk di kamar nenek—dan membawa saya ke kamar ayah dan ibu. Bertahun-tahun kami tidur bertiga. Kakek, sepagi itu, akan mulai menyirami tanaman atau berbicara dengan angin; atau menekuri anjing peliharaan yang tidur pulas di halaman rumah. Nenek akan melanjutkan lagu-lagu kataknya untuk dirinya sendiri. Bila saya terbangun dan tak kunjung juga tertidur, ayah akan mulai menceritakan kisah-kisah pewayangan, atau ibu akan mengulang lagi kisah angsa yang menautkan leher dalam cerita Sampek Engtay. Mereka akan bercerita sepanjang malam hingga saya lanjut tidur.

Ayah kakek (kakek buyut saya) adalah seorang petani, cukup sering—meski tak mengelola sawah—kakek menggendong saya ke persawahan. Dari rumah kami di Jalan Imam Bonjol, ia akan berjalan kaki sembari membawa saya sebagai beban di pundak menuju sejauh tiga kilometer untuk mencapai persawahan terdekat. Untuk mencapai sawah, kami perlu melintasi lapangan sepak bola—di mana, pada ingatan saya, kakek selalu dapat bertemu dengan rekan-rekannya sesama veteran tentara. Saya tak pasti ingat apakah kakek memang pernah menjadi tentara; sebab ia juga adalah pensiunan guru SD (kalau bukan guru SMP).

Sawah di Denpasar pada medio 1990 tak jauh berbeda dengan sawah pada era milenium. Kecuali mungkin; lebih hijau-kekuningan, penuh dengan pondokan kecil yang terletak pada tiap empat barisan petak-petak sawah, ada banyak orang-orangan sawah yang dipasangi caping dan mengenakan pakaian lusuh berwarna biru army dan celana berwarna cokelat kumal, dan pada pinggiran aliran perairan Subak terdapat baling-baling kecil yang tak henti-hentinya berputar seiring dengan pergerakan angin. Persawahan itu selalu ditanami padi dan kacang kedelai, di sana kakek pernah menangkap katak dan melepaskannya lagi. Beberapa kali pula kami melihat ular sawah.

Tanpa diajak; ataupun dikalungi tali kait, anjing peliharaan kami—waktu itu adalah anjing ras Kintamani berwarna putih yang kira-kira berusia empat tahun dengan rambut yang lebat, namanya Rambo—selalu turut serta dalam perjalanan. Rambo selalu peka cuaca, ia akan pulang mendahului kami bilamana hujan berkemungkinan turun. Hujan sendiri tak pernah menjadi masalah bagi kakek. Kaki kakek selalu memijak dengan kuat. Menantang becek dan hujan. Mungkin hal ini menurun dari kakek buyut saya yang tak pernah saya kenal.

Kakek selalu suka berbicara dengan dirinya sendiri; lebih tepatnya, menggumamkan kata-kata yang tak terekognisi bahasanya. Kata salah seorang dalam keluarga besar kami, kakek pernah beberapa tahun mendekam di rumah sakit jiwa pasca kejadian gestapo. Ayah pernah bercerita tentang apa yang terjadi di halaman rumah kami pada tahun 1965; leher-leher yang dipenggal, tubuh-tubuh yang tercecer katanya pernah memenuhi ruang-dan-waktu kala itu. Namun begitu, kakek selalu netral setiap membicarakan soal PKI—yang dalam usia itu tak benar-benar saya pahami apa maksudnya. Pikir saya waktu itu; beberapa meter jaraknya dari rumah kami, ada sungai yang mengalir dari Sungai Badung. Mungkin tubuh-tubuh yang terpotong itu sempat dibuang ke sana.

Meskipun berprofesi guru, kakek bisa saya bilang bukanlah tipikal orang yang berstrategi baik. Pada awal 1990, ia menjual lahan belakang rumah kepada saudara nenek. Bertahun-tahun setelah rumah baru dibangun di lahan itu—dan telah cukup lama ditempati—Pohon Asam besar tempat saya bermain dengan kawan-kawan seusia menjelang tahun 2000 pada akhirnya ditebang. Dulu saya selalu mengambil buah-buah asam di sana, saya ingat jelas bagaimana cara lidah saya memisahkan serabut buah asam dengan bijinya.

Di rumah kami pula, terdapat sanggah keluarga besar—semacam pusat tempat bersembahyang keluarga besar kami. Kira-kira sebelas pelinggih kecil dan dua pelinggih besar (tempat berstananya Sang Hyang Bhatara Guru dan Tri Murti) dibangun di sana. Menurut kepercayaan, dewa-dewa berstana pada tiap pelinggih. Dua bale berhadapan di depan pelinggih-pelinggih tersebut. Di luar sanggah keluarga besar, juga terdapat dua bale lain dengan ukuran sama (3x4). Di dua bale itu, biasanya, bila akan diadakan upacara Ngaben—kremasi jenazah bagi umat Hindu—jenazah disemayamkan, dimandikan, dan ditusuk-tusuki dengan jarum, dan dilapisi dengan kain-kain sebelum akhirnya diupacarai ke Setra (pekuburan). Terpikir oleh saya, hari ini mungkin kakek sudah disemayamkan di salah satu bale.

Saya tak pernah dekat lagi dengan kakek sejak awal tahun 2000-an selepas kami berpisah rumah. Sekolah dan orangtua, juga permasalahan keluarga dengan saudari-saudari ayah saya, adalah jurang utama di antara kami. Maka setelahnya, segala hal yang saya ingat tentang kakek hanyalah kepada pria tua yang acapkali menggendong saya di tengah persawahan, berhujan-hujan, berbecek-becek, menyanyikan lagu-lagu tentang katak, berkejaran mengambil sandal saya yang terjatuh-terseret banjir dan memasangkannya kembali sementara saya masih berada di gendongan; kepada pria tua yang selalu terbangun pukul dua dini hari hanya untuk menyirami tanaman; kepada pria tua yang mewangi air seni dengan rambut putih yang menipis, selalu hadir dengan senyum jenaka, dan senantiasa terpingkal-pingkal sendiri tanpa alasan pasti. Dan setelah itu, tidak ada lagi. Kecuali, barangkali potongan-potongan ingatan tentang kakek yang sempat jatuh pingsan di kamar mandi dan dua kali terkena serangan jantung, kakek yang tidur pada ranjang bersebelahan dengan nenek yang stroke, dan kakek yang suka menyembunyikan uang gaji pensiunannya di bawah bantal dan sembunyi-sembunyi memberikannya kepada saya. Dan setelah tiga tahun tak bersua, pagi tadi kakek berpulang sebelum menjelang ulang tahunnya di bulan Juni. Dari keempat kakek-nenek saya di pihak ayah-ibu, hari ini ia menjadi orang pertama yang meninggalkan cucunya. [*]

 A Memorial. Yogyakarta, 21 Mei 2012

Monday, April 23, 2012

Hidup Kita Selepas Elegi


(Cerpen ini dimuat di Media Indonesia edisi Minggu, 18 Desember 2016)


GIGI-GIGI MEREKA belum sepenuhnya rontok ketika maut memanggil tepat pada pergantian tahun. Pada akhirnya, di rumah para lansia itu—aku tak sampai hati menyebutnya panti jompo—orang tua kita melihat nenek dan kakek bertahan hidup demikian lama dengan romansa yang mengejutkan. Duduk di atas kursi roda yang bersebelahan, kakek-nenek kita memejamkan mata untuk selamanya. Siapa pun tak akan paham bagaimana bisa hal itu terjadi, sepasang suami-istri meninggal pada detik yang sama secara alamiah.

Dulu aku pernah bilang kepadamu, dalam hidup, kita tak perlu jujur-jujur amat. Mari kita jemput kakek-nenek kita, masing-masing kita selundupkan uang ayah dan ibu yang melimpah, yang sanggup membayar uang sewa rumah dan membiayai hidup dua orang berusia senja. Dengan uang itu, kita ajak mereka pergi ke Yogyakarta, tempat yang paling tepat untuk menghabiskan sisa hidup. Di sana, kakek akan tetap dapat menikmati hobinya melukis langit dan nenek akan dapat menyenandungkan lagu-lagu mesranya untuk embun pagi. 

Tetapi toh kau terlalu bebal. Kita biarkan mereka hidup kesepian di kota yang mirip neraka ini. Aku tahu itu hasil didikan ayah dan ibu di masa kecil kita. Entah kau masih ingat—suatu hari, sementara ibu melempar barang pecah-belah pada ayah, kita tetap setia pada sinetron percintaan remaja. Bahkan ketika kau harus ikut ayah, dan aku dipaksa ikut ibu, kita menganggapnya wajar. Jiwa pengecut benar kita ini. 

Asal kau tahu, sejak pisah dari ayah lima belas tahun lalu, ibu kita sudah hampir tiga ratus kali gonta-ganti pacar. Tiap dia putuskan hubungan dengan pacar-pacarnya, gaya dandanannya akan tampak makin muda satu bulan. Perhitunganku serius, karena bila satu bulan itu kau kalikan tiga ratus lalu kau bagi tiga ratus enam puluh lima, jelas bahwa semenjak pisah dengan ayah, ibu kita menjadi tampak lebih muda dua puluh empat tahun. Perumpamaan ini bisa kau buktikan dengan kasat mata, bila kau melihat aku dan ibu berjalan bersama, kau—seperti orang-orang lain—akan pula menganggap ibu kita adalah adikku. 

Entahlah, aku senang dengan pertemuan keluarga yang sudah lama tidak terjadi ini. Setelah bertahun-tahun saling berusaha melukai satu sama lain, mungkin saat mereka melihat takdir tak masuk akal dari kakek-nenek kita yang mati dengan ganjil, mereka telah mendapat pelajaran yang pantas.
  
Aneh ya, betapa mudah hidup menjurangi orang-orang yang telah lama terpisah. Meski kau berdiri di sampingku, aku bahkan tak berani bertanya kepadamu, ke mana kau selama ini, di mana kau akan menginap malam ini. Aku sangsi kau masih mengingatku di saat kau melalui momen-momen penting hidupmu. 

Sebatas dari tatapan matamu, aku tahu kau bertanya-tanya apa yang telah kulakukan atas hidupku. Duduk di persimpangan jalan dekat pemakaman, berpenampilan lusuh, berkepala botak, kurus ceking dengan perut sedikit membuncit karena terlalu banyak asupan alkohol—dari gelagatmu ketika akhirnya memutuskan duduk di sebelahku, jelaslah kelihatan tanyamu.  

Banyak hal terjadi selama lima belas tahun ini. Setelah keberangkatanmu ke Papua untuk percobaan menjadi dokter praktik di sana, aku beranikan untuk bilang kepada ibu kalau aku ingin keluar dari tempatku kuliah. Ibu sempat marah-marah sebentar, dia bilang, dia gagal mendidikku, merajuk dia tentang kenapa aku tidak bisa sukses sepertimu. Kamu di matanya: sudah kuliah untuk jadi dokter, perginya ke Universitas Indonesia pula. 

Bandingkanlah dengan aku di matanya: sudah kuliah Teknik Nuklir (awalnya ibu selalu bilang, ini pekerjaan martir—yang artinya, ini urusan hidup dan mati—kalau tidak nyawaku yang dikorbankan, kelak pastilah nyawa [calon] cucunya), tidak diniatkan selesai pula. Dia bilang, jangan-jangan itu karena ayah berlaku seperti diktator dalam membesarkanmu. Dia lantas memaki-maki dirinya sendiri karena selama ini berlaku terlalu baik kepadaku. 

Kupikir ibu terlalu ngawur untuk mendefinisi kesuksesan dengan sesederhana itu. Dia meracau selama sekian hari tentang hal-hal yang akan dibutuhkan zaman. Karena aku tak kunjung bersedia menurutinya untuk menamatkan kuliah, ibu menyewa jasa orang yang tak kukenal untuk menggarap skripsiku. Akhirnya aku lulus—dengan sangat mepet waktu. Aku benar-benar merasa simpati pada kegigihannya. Sayangnya, selepas kuliah, bagaimanapun, ibu justru melarangku bekerja sesuai dengan bidangku. Tentu saja, mana berani dia mendapati anaknya jadi mandul gara-gara unsur radioaktif. Sejak hari itu, dipingitlah aku di rumah. Dia yang membiayai semua kebutuhan hidup kami. Kau pasti bisa membayangkan betapa kaya-rayanya ibu berkat pacar-pacarnya. 

Apa es krimnya enak? Minuman cokelatku terasa hambar. Selama ini, aku selalu bertanya-tanya mengapa orang-orang suka duduk berlama-lama di kursi-kursi kafe, mengudap camilan dan minum kopi, terjaga semalam suntuk untuk mengobrolkan hal-hal remeh. Belasan tahun ini tak ada seorang pun yang kuajak berbicara sepanjang lebar seperti saat ini. 

Oke, aku akan melanjutkan ceritaku. Jadi, aku benar-benar tak ingat lagi apa alasannya dan kapan tepatnya, dengan niat untuk menghukum ibu, aku meminta dokter mengangkat ovariumku. Tetapi baru belakangan ini kusadari mereka tak melakukannya. Mungkin mereka hanya mengangkat payudaraku. 

Aku merasa sedang hamil, meski belum mengeceknya dengan test-pack. Aku melakukannya dengan pacarku sebulan lalu (tanpa payudara, masih ada juga yang mau tidur denganku!), dan setelah kami sempat bertengkar karena dia mengaku telah menghamili gadis muda yang ditidurinya saat mabuk; dan akhirnya kami putus—pokoknya setelah itu semua terjadi, aku sudah tak peduli lagi apa yang kuinginkan atas hidupku. Aku memutuskan hubungan dengannya tanpa mengatakan aku mungkin (sama seperti jalang yang akan dia nikahi) hamil anaknya. Aku lantas membotakkan rambut kepala.

Begitulah, kau selalu tahu kalau aku suka melakukan hal-hal fantastis yang tak ada maknanya sama sekali. 

Omong-omong, aku sangat iri ketika tadi sempat mengerling ke jari manismu dengan cincin emas itu. 

Apa? Kau berniat kawin lari? Ayah tak menyetujui hubungan kalian? Jadi kalian bahkan belum menikah? Mengejutkan. 

Kupikir ia benar-benar laki-laki yang setia, berpacaran tujuh tahun dan masih bersikap sebaik itu padamu, tampaknya ia bisa kau andalkan. Pacarmu itu tampan, apalagi melihatnya membaca buku tebal di dalam mobil seperti itu. Aku tahu, ya aku ingat kau pernah bercita-cita baru akan menikah di usia 27 tahun, jadi pacarmu itu tinggal menunggu dua tahun lagi. Kurasa kawin lari bukan masalah. 

Omong-omong, benar juga ucapanmu dulu soal kematian. Kesedihan ditinggal mati selalu merupa dalam ujudnya yang cengeng dan berkarib dengan kerinduannya yang abadi. Pada masa-masa tertentu dalam hidupmu, kedua-duanya sama-sama bisa jadi tak terperi dan tak terpenuhi. Setelah kakek-nenek kita pergi, aku takut ada kelanjutannya. Meski membenci keduanya, benar-benar tak terbayangkan bagiku untuk mendapati ayah dan ibu tiba-tiba habis usianya. Aku belum berkesempatan menanyakan tentang masa muda mereka, apa mereka pernah jatuh cinta; kepada siapa saja, apa mereka pernah merasa tersesat, apa mereka pernah takut memilih jalan hidup. Tapi apakah aku akan sudi bertanya? 

Aku sudah dengar ayah menjadi perokok berat dan peminum alkohol yang parah setelah berpisah dengan Ibu. Aku tahu penghasilanmulah yang selama ini menutup biaya listrik dan air, dan keseluruhan biaya hidup kalian berdua. Ini membuatku kadang tak habis pikir, bagaimana bisa para orang tua membiarkan anak-anaknya menderita karena pilihan-pilihan salah yang mereka ambil dalam hidup? 

Kamu tentu paham, latar belakang keyakinan dua orang unik inilah yang mengawali kehancuran keluarga kecil kita. Entah bagaimana cara mereka dipertemukan. Seorang ayah yang agnostik—sesekali ke gereja hanya untuk memaki-maki pendeta dari bangku barisan paling belakang. Ibu kita—entah agamanya apa—feminis eksistensialis dan percaya laki-laki mana pun dapat takluk di telapak kakinya. 

Di mana kau tinggal sekarang? Apa di tempatmu tinggal ada kafe seperti ini juga? Aku tak pernah sebelumnya mampir ke sini. Tapi setelah hari ini, mungkin aku akan lebih sering mampir. Belakangan ini aku gemar menulis syair, mungkin aku akan menulis di sini saat senggang. Syair-syairku kugubah menjadi lagu juga. Jelas, bukan, aku tidak sebegitu nelangsanya menghadapi hidup? 

Jangan menatapku secara aneh. Aku tak sedang kehilangan topik pembicaraan. 

Aku tahu sejak balita kau sama sekali tak tertarik pada musik bernada garang, syairnya agak lawas—bukan juga favoritmu—tapi jangan sampai kau tolak bila nanti aku mengirimkan album-album musikku. Aku sudah membuat selusin lagu tentang surga dan neraka, ya aku tahu itu juga bukan favoritmu.

Ah, hujan reda. Apa kau ingat kapan terakhir kali kita main hujan bersama? Anak kecil memang tak pernah tahu malu, aku masih ingat bagaimana saat basah kuyup dan bugil kita menggigil berlari ke arah ibu untuk digantikan pakaian. Ibu selalu menomorsatukanmu. Gadis Putih-nya yang jelita, dia suka sekali memakaikanmu gaun selayaknya Putri Salju karena kulitmu yang putih sama dengan ibu. Jujur saja, itu membuatku terheran-heran hingga hari ini, mengapa ibu memutuskan memilih untuk membesarkanku, alih-alih kamu? Tetapi hidup memang penuh hal-hal yang tidak pernah kita duga, penuh juga akan hal-hal yang terjadi berulang tanpa henti.

Aku sudah terlalu banyak bicara. Sekarang giliranmu bercerita. Jadi, bagaimana, ceritamu? Oh ya, selamat tahun baru, semoga tahun ini menjadi awal yang lebih baik untuk kita.

Yogyakarta, 6 Juni 2012

Monday, March 5, 2012

Semiliar Perbedaan



 (Cerpen ini dimuat di Bali Post, 15 September 2015)

KAMI berdua memeluk keyakinan berbeda. Ia kakak tingkatku yang menelantarkan jatah waktu kuliah hingga hampir dikeluarkan dari kampusIa selalu berpenampilan dan bertingkah sembrono. Kalau kurangkum hal-hal yang selama setahun ini kami bicarakan, tak ada satu kesepakatan pun yang tercipta dalam perdebatan-perdebatan kami.

Hari itu ketika kami semestinya diwisuda, pada jam-jam di mana seharusnya kami menunggu di gedung kampus dengan aku berpakaian kebaya dan ia rapi dengan jasnya—duduk lama menanti kesempatan pemindahan tali toga—aku justru bertemu dengannya di perpustakaan. Buku-buku lapuk bertumpuk di meja.

“Membaca Wilde lagi?” tanyaku, mengambil tempat di hadapannya.

“Kamu tak wisuda hari ini?”

Begitulah. Aku akan memulai dari A, ia bukan menjawab B, melainkan Z.

“Oscar Wilde seorang gay.” Aku mengomentari buku yang dibacanya.

“Aku juga membaca Nietzsche.”

“Nietzsche pemain wanita, meninggal karena raja singa. Kamu mencemooh orang-orang seperti mereka, biasanya. Kamu tak dapat menolerir tindakan-tindakan buruk seperti itu, bukan?”

“Sepertinya kamu memang lebih hobi membaca biografi. Kuduga kamu lebih suka menilai buku dari sampulnya?” balasnya.

Aku menyunggingkan senyum ketus untuk menuding. “Bukannya kamu yang begitu? Pria yang sangat membenci humanisme.”

Humanisme. Pernah satu waktu—aku lupa kami sebelumnya membahas apa—dengan mengutip kamus, ia bilang ia bukan seorang humanis. Menurut manifesto para pencipta kata tersebut, humanisme ialah paham yang menganggap manusia berada di tingkatan kesadaran paling tinggi, di mana para humanis tidak memercayai keberadaan hal-hal mistis dan juga bahkan tidak pula Tuhan.

Pria di hadapanku ini seperti halnya kamus berjalan. Ia penghafal sekian banyak istilah. Bila bicara dengannya, aku perlu tahu tiap makna dari lema yang seringkali spontan saja kuucapkan. Dan begitulah semua percakapan panjang lebar kami selalu bermula dari kata-kata yang salah kudefinisikan dan lantas ia betulkan.