Thursday, December 29, 2016

Iain Thomson: Fenomenologi dan Perkembangan Teknologi

Dari waktu ke waktu, terutama sejak berkembangnya teknologi dengan demikian pesatnya dan berlangsungnya industri, masyarakat dari tiap zaman menyuarakan betapa teknologi bisa jadi membawa sengsara. Pandangan nihilistik ini terutama dapat kita baca dari para pemikir romantisisme dan transendentalisme. Representasi catatan pemikiran paling tebal agaknya ditulis oleh Henry David Thoreau melalui bukunya, Walden, yang menceritakan bagaimana ia memutus hubungan dengan beragam teknologi buatan dan mengasingkan diri ke hutan selama dua tahun. Buku tersebut adalah catatan hariannya dan merupakan amatan ekonomi-politik tamatan Universitas Harvard ini atas zaman yang dipengaruhi oleh perkembangan revolusi industri, di mana untuk menghadapi “teknologisasi” ia mengajukan apa yang disebutnya sebagai pemberontakan sipil (civil disobedience) dan bertahan hidup secara subsisten hanya dengan menggantungkan diri pada alam. Buku Walden tersebut terbit pada 1854 dan agaknya masih relevan merepresentasikan pandangan masyarakat dunia atas teknologi hingga seabad kemudian setelah Perang Dunia II menghadirkan goncangan hebat lantaran jatuhnya dua bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.

Pada paruh akhir abad ke-19, teknologi komputer yang canggih dapat dipergunakan secara massal dan sempat membuat kita berpandangan positif atas teknologi. Kita pun menjadi lupa akan pengaruh negatif dan betapa teknologi dapat melakukan hal-hal paling mengerikan yang bahkan tak dapat dinalar dengan pendekatan realistis, sebagaimana diceritakan oleh banyak fiksi sains bertema distopia—mengenai kehancuran dunia. Gawai-gawai canggih hadir dalam genggaman dan mengikuti keseharian kita.

Namun kemudian, sebuah berita mengenai bocornya data-data intelijen Amerika (NSA, National Security Agent dan CIA, Central Intelligence Agency) oleh Edward Snowden pada 6 Juni 2013 agaknya membuat dunia kembali “terguncang”. Pemberitaan menyatakan mengenai penyadapan yang dilakukan oleh lembaga intelijen Amerika tersebut atas komputer yang beredar di seluruh dunia. Film teranyar Oliver Stone yang rilis tahun 2016 ini bahkan menggambarkan bagaimana aplikasi “Heartbeat” yang dikembangkan oleh NSA-CIA mampu memadamkan listrik satu kota di Tiongkok hanya dengan menekan sebuah tombol di suatu laboratorium di Amerika.

Meski sebagian dari kita mafhum akan tegangan ekonomi politik yang terjadi di antara negara-negara blok barat dan blok timur yang berkembang pasca-Perang Dingin, dengan fakta bahwa ancaman “gencatan senjata” terjadi secara tersembunyi di antara mereka karena tiap negara dapat dikatakan sama-sama kuat lantaran mereka sama-sama mengembangkan teknologi senjata nuklir, dunia pun kembali dibuat waswas lantaran privasi mereka sebagai individu terancam dengan fakta bahwa NSA-CIA mengawasi setiap gerakan mereka.

Kenyataan-kenyataan tersebut di atas agaknya menarik bila dilihat melalui pandangan fenomenologis Heidegger. Lewat Being and Time yang terbit pada 1927, ia menjelaskan secara teoretis mengenai hal-ihwal yang mendasar mengenai alasan mengapa kita cenderung melihat teknologi dari sudut pandang nihilistik dan apa yang perlu kita lakukan untuk melampauinya. Adapun sebuah artikel oleh Iain Thomson dalam “Phenomenology and Technology” menjelaskan secara detail dan historis mengenai perkembangan pemikiran fenomenologis Martin Heidegger, yakni dari studinya atas Immanuel Kant, Wilhelm Hegel, hingga Edmund Husserl.

Artikel tersebut menerangkan bahwa Husserl dan Heidegger memandang bahwa studi fenomenologi tidak membahas fenomena secara umum. Oleh mereka, fenomenologi dilihat sebagai cara untuk memahami bagaimana kesadaran menangkap hal-hal di sekitarnya. Dengan melihat aspek fundamental tersebut, maka fenomenologi berusaha menyadari bias-bias konsep dengan menyingkapkan hal-hal yang tak disadari oleh pandangan dengan mata telanjang yang barangkali disebabkan oleh dua faktor: 1) distorsi realitas dan 2) pemahaman yang tidak menyeluruh atas kesekarangan, kemelekatan, atau hal-hal yang tampak sudah jelas. Dalil I Fenomenologi, yakni Dalil Kedekatan (yang diambil dari terminologi psikologi Gestalt) menerangkan bahwa betapa hal yang paling dekat dengan kita di keseharian merupakan hal yang sebenarnya paling jauh bagi kita dari segi pemaknaan. Oleh karenanya, tugas fenomenologi adalah membantu menyingkapkannya.

Dengan memahaminya melalui jalan ini, kita dapat menggali lagi pengaruh pemikiran Kant dan Hegel atas Husserl dan Heidegger. Dalam bukunya, Critique of Pure Reason, Kant membedakan dua kemampuan untuk mengindera: intuisi (intuition) yang secara pasif menerima informasi sensoris dan pemahaman (understanding) yang merupakan bentuk pengolahan atau yang diistilahkan sebagai “representasi mental”. Kedua hal ini berkombinasi (receptive spontaneity) dan berlangsung pada tingkat kesadaran (conscious experience). Pendapat Kant mengenai tesis diskursivitas menyatakan bahwa kedua kemampuan ini, yakni intuisi dan pemahaman, bekerja bersamaan secara tak disadari untuk menghasilkan pengalaman (experience). Untuk memperoleh suatu pemahaman, Kant mensyarakatkan bahwa diperlukan adanya 12 kategori kognitif dasar. Bagi Kant, seseorang menggunakan kedua belas hal tersebut untuk memberikan kategori bagi hal-hal yang diinderainya. Kedua belas hal ini diatur oleh pikiran melalui struktur yang sudah pasti (fixed structure).

Hegel menolak pandangan ini dengan menyelami lebih dalam kejiwaan manusia terkait kesadarannya melalui Phenomenology of Spirit, menurutnya terdapat logika “dialektis” (“dialectical” logic). Tradisi Fenomenologi sendiri bermula darinya. Ia menambahkan peran kesadaran pada tingkat pertama-personal (first-personal consciousness), dan bukan semata-mata kesadaran diri (self-consciousness), untuk lebih menjelaskan kedua belas kategori oleh Kant.

Husserl sendiri bertolak dari pandangan Hegel tersebut dan menjelaskan lebih lanjut mengenai struktur kesadaran pada tingkat pertama-personal. Ia lebih memilih pendekatan Hegel karena menurutnya pendekatan Kant memiliki beberapa persoalan. Ia tidak bersepakat bahwa pemaknaan kita terhadap benda-benda hanya tergantung pada kombinasi dari dua kemampuan tersebut. Menurutnya, semestinya ada yang dinamakan intuisi eidetik (eidetic intuition), yakni kapasitas untuk menerima eidos dari suatu hal bersamaan dengan informasi sensoris. Konsepnya ini mengingatkan akan skema dualisme Kantian mengenai dikotomi intuisi dan pemahaman (a myth of the given).

Namun demikian, barulah oleh Heidegger, beberapa pandangan radikal ditambahkan ke dalam pendekatan fenomenologi, yakni 1) ketidaklengkapan kategori-kategori Kant (kegagalannya dalam menyatakan pengalaman kesadaran pada tingkat pertama-personal), 2)  historisitas pengalaman (fakta bahwa realitas yang disadari oleh seseorang berubah seiring waktu), 3) absennya kesadaran pada tingkat tertentu karena kesadaran kemampuannya yang terbatas, tak dapat menyadari dirinya sendiri dan dunia secara bersamaan, 4) ide bahwa takdir kesejarahan manusia ditentukan oleh pemahaman mengenai relasi antara diri kita dan dunia (oleh karenanya penangkapan kita secara fundamental mengubah sejarah dan sebaliknya).

Fenomenologi dengan pendekatan Husserl dan Heidegger ini tidak banyak berbeda di bidang selain filsafat teknologi. Mereka (Husserl II dalam The Crisis of European Sciences dan Heidegger I dalam Being and Time) sama-sama memiliki pandangan positif atas ilmu-ilmu empiris. Dengan dasar ini, mereka lantas berpendapat bahwa fenomenologi menyediakan metode untuk memperjelas dasar maupun esensi dalam disiplin saintifik, dan dengan demikian dapat (kembali) menempatkan filsafat sebagai ratunya ilmu pengetahuan. Meskipun, Heidegger II selanjutnya menolak pandangan teleologis Hegel mengenai keberlangsungan sejarah (historical progress). Lewat pendekatan barunya, Heidegger mengembangan teori mengenai struktur ontoteologis, lewat pendekatan holisme ontologisnya, bahwa segala sesuatu berubah dan karenanya pemahaman kita akan hal tersebut (understanding of the being entities) menentukan konsep kita atas segala sesuatu.

Bila dikaitkan dengan pandangan Nietzschean, ontoteologi “teknologis” ini memahami pengada (being) untuk terus-menerus kembali bergerak atas kehendak akan kekuasaan (the will-to-power). Karena keberlangsungan gerak menuju kekuasaan inilah, kita cenderung melihat perjalanan “perkembangan teknologi” dengan sudut pandang nihilistik, karena kita pun memandang diri kita sebagai sumber daya yang tidak berarti (the meaningless “resources”; Bestand). Kita tidak lagi melihat diri kita sebagai subjek modern yang menguasai dunia yang objektif, tetapi kita adalah sumber daya tak bermakna yang perlu diatur untuk dapat menjadi efisien secara maksimal, baik lewat bantuan kosmetik, farmakologi, manipulaasi genetis, maupun jejaring sibernetis.

Dengan demikian, metode fenomenologi Husserl sendiri tidak menjawab esensi suatu fenomena meski telah menghadirkan pendekatan intuisi eidetik (eidetic intuition). Ia sependapat dengan para “anti-esensial” yang dalam analisisnya lebih menekankan pada pemahaman atas norma sosial terhadap perkembangan teknologi. Pandangannya ini pun dekat dengan pandangan Foucault mengenai biopower yang melihat bahwa segala entitas sebagai sumber daya yang tak bermakna. Meski pandangan Foucault mengenai biopower yang terkait dengan kuasa-pengetahuan (power-knowledge) atas teknologi ini merupakan kelanjutan dan kritik atas padangan Heidegger mengenai pengada, Heidegger sendiri tidak terlampau menaruh perhatian pada perkara normatif penggunaan alat-alat teknologi. Ia lebih berminat melihat teknologisasi (technologization) dengan pendekatan ontohistoris. Tujuan utama fenomenologi teknologi oleh Heidegger ini dengan demikian adalah agar kita dapat melihat perkembangan teknologi dari kacamata ontoteologis sehingga kita dapat menstrukturkan kemampuan penginderakan sedemikian rupa sehingga dapat memaknai dunia, berkontestasi atas teknologi yang berkembang, bahkan melampauinya. 

Sumber utama:

“Phenomenology and Technology” oleh Iain Thomson dalam Companion of Philosophy of Technology.

Tuesday, December 13, 2016

Immanuel Kant dan GWF Hegel: Perbedaan maupun Persamaan Konsep Idea

Immanuel Kant adalah filsuf pertama yang berkontribusi pada bidang logika idealisme Jerman sehingga menjadi fondasi bagi para pemikir idealisme Jerman selanjutnya, oleh Fichte, Schelling, maupun Hegel. Sementara idealisme pada masa-masa sebelumnya memisahkan antara objek material maupun objek intelektual, sebagaimana yang dilakukan oleh Plato dan Berkeley, idealisme Jerman menolak distingsi tersebut. Agaknya, idealisme Kant terbilang yang cukup moderat mendefinisikan bahwa objek yang diselidiki oleh pengetahuan manusia bersifat ideal dan transendental sekaligus riil dan empiris—menengahi konsep para pemikir sebelumnya tentang Empirisme dan Rasionalisme. Hal tersebut mungkin terjadi karena bagi Kant, pemikiran manusia dapat menghasilkan pengetahuan yang valid dari dirinya sendiri (das Ding an sich) yang berasal dari kesimpulan silogistis tertentu. Dalam diskursusnya mengenai Dialektika Transendental, Kant menyebutkan adanya tiga kesimpulan silogistis yang mungkin dan berkaitan dengan tiga kategori akal-budi (substansi, kausalitas, dan resiprositas), yang merupakan semacam kesatuan akhir yang mutlak, tiga kesimpulan itu disebutnya sebagai “idea-idea rasio murni”. Idea pertama adalah “Idea Jiwa”, idea kedua adalah “Idea Dunia”, dan idea ketiga adalah “Idea Allah”.

Dalam rentang sejarah selanjutnya, GWF Hegel berpendapat bahwa dalam kritisisme Kant masih terdapat oposisi antara fenomena dan noumena, jadi masih ada oposisi antara subjek dan objek. Hegel lebih menyetujui usaha Fichte menghapus “das Ding an sich”, ia juga mengagumi filsafat Schelling yang memaparkan adanya Alam atau dunia yang tidak dipahami sebagai oposisi Roh. Terhadap pemikiran Schelling tersebut, Hegel menambahkan unsur kesejarahan—poin tentang adanya proses perwujudan diri (Selbstverwirklichug) dari Roh. Dalam filsafat Hegel, Yang Absolut (das Absolute) atau Roh (der Geist) ini dipandang hadir pada dirinya sendiri, dan menurutnya Roh tersebut harus menyatakan dirinya dengan mengalienasikan diri dalam Alam terlebih dahulu, beserta konsep mengenai adanya negasi dalam proses perwujudan tersebut. Bagi Hegel, Roh adalah totalitas, seluruh kenyataan. 

Dari paparan di atas, perbedaan antara konsep Idea (dalam terminologi Hegel, Roh/Rasio/Yang Absolut) Hegel dengan Kant (dalam terminologi Kant, idea-idea rasio murni) adalah: 1) Hegel bersepakat dengan Fichte, menghapus adanya “das Ding an sich”, 2) Hegel menggunakan pandangan Schelling mengenai Alam dan Roh, dan menyetujui bahwa Roh identik dengan Alam, 3) Hegel menambahkan unsur kesejarahan untuk menjelaskan kaitan antara Roh dengan Alam, dan proses mengembangkan lebih lanjut konsep refleksi Schelling menjadi sebuah konsep tentang alienasi yang dilakukan oleh Roh terhadap Alam yang sesungguhnya berada dalam satu kesatuan sistem, 4) Hegel mempercayai adanya objektivitas murni yang akan diperoleh oleh Roh Absolut di akhir sejarah.

Sementara itu, persamaan konsep Idea Hegel dengan Kant adalah: 1) Masih terdapat kedekatan pandangan kedua filsuf dengan peristilahan keagamaan—yakni Roh ataupun Allah dalam istilah “Idea Allah” maupun “Roh Absolut”, 2) Keduanya mendamaikan Rasionalisme dan Empirisisme baik dengan mengajukan adanya “kesimpulan silogistis” maupun “Roh Absolut”, 3) Keduanya telah menjelaskan konsep Idea dalam tataran metafisis dengan pengandaian atas keberadaan “das Ding an sich”, meski tidak bisa dicerap melalui penginderaan, maupun “Roh Absolut”, yang hanya bisa mengemuka di akhir sejarah.   

Søren Kierkegaard: Bahaya Kerumunan dan Upaya Menjadi Diri Sendiri


Pengantar
Sepanjang hidupnya, individu akan selalu dihadapkan pada pilihan untuk tetap otentik menjadi dirinya sendiri dan mendasarkan pilihan-pilihannya pada nilai-nilai yang dipegangnya ataukah terlibat dalam bahaya kerumunan dan menuruti pilihan-pilihan yang diajukan oleh orang lain. Pada fase perkembangan seorang manusia, beberapa tahap pengenalan diri didukung oleh keluarga dan terutama oleh orang tuanya. Selama beberapa waktu hingga ia menjelang dewasa, individu tersebut akan menuruti saja arahan-arahan yang diberikan dalam lingkup keluarga tersebut. Namun demikian, pada akhirnya ia akan menemukan titik ketika ia telah memperoleh prinsip-prinsip individualitas yang memungkinkannya untuk menentukan sendiri jalan hidupnya dan benar-benar terlepas dari pengaruh pendapat orang lain. Perihal ini, Søren Kierkegaard dalam tulisan-tulisannya sangat bernas memaparkan tentang apa yang mungkin dilakukan oleh seseorang untuk berhasil melalui pergulatan hidup demi menjadi dirinya sendiri. Artikel ini akan memaparkan beberapa tulisan Kierkegaard yang dia tuliskan dengan nama samarannya,[1] tulisan-tulisan tersebut penting untuk membantu mengembangkan dasar pemahaman pembaca mengenai otentisitas diri manusia.

Dalam rentang kekaryaannya, Kierkegaard membahas proses ketika individu menentukan keputusan ketika dihadapkan pada banyak pilihan sebagaimana tampak jelas dalam tulisan Either/Or, A Fragment of Life (1843)[2], proses ketika individu tersebut merasa gelisah dalam menghadapi pilihan-pilihannya sebagaimana dipaparkan dalam tulisan Fear and Trembling (1843)[3] dan The Concept of Anxiety (1844)[4], proses ketika individu tersebut berusaha memperoleh pengetahuan dan kebenaran yang dapat membebaskannya dari kecemasan menghadapi pilihan tersebut sebagaimana tertuang dalam tulisan Philosophical Fragments, or a Fragment of Philosophy (1844)[5], hingga pada akhirnya ia dapat menemukan bahwa kebenaran dapat diperoleh dari subjektivitasnya yang perlu ia apropriasikan ke dalam hidupnya sebagaimana dituturkannya dalam Concluding Unscientific Postscript to Philosophical Fragments (1846).[6] Penjelasan mengenai proses-proses tersebut kemudian dihadapkan pada tulisan Kierkegaard berikutnya, yakni Two Ages: The Age of Revolution and The Present Age, A Literary Review (1846)[7] yang memaparkan mengenai keadaan masa sekarang yang dihadapi oleh individu.

Dalam TA, pemaparannya mengenai keadaan masa sekarang yakni yang terjadi pada 1846 saat artikel tersebut dituliskannya—dan agaknya masih relevan dengan keadaan masa milenium sekarang ini—diperbandingkannya dengan masa revolusi yang merujuk pada Revolusi Prancis 1789. Ia menggambarkan masa sekarang sebagai masa yang gelap dan tanpa hasrat lantaran individu dihadapkan pada kegamangan berada di tengah-tengah kerumunan dan kehilangan jati dirinya. Penjelasannya mengenai musabab kegamangan tersebut adalah lantaran individu kehilangan prinsip-prinsip individualitasnya. Pemahaman terhadap teks-teks heteronim Kierkegaard lainnya seperti EO, FT, TCA, PF, dan CUP dengan demikian menjadi penting sebagai modal pembacaan atas TA sehingga, apabila dikehendaki, pembaca dapat menemukan pemecahan atas masalah yang dipaparkan Kierkegaard terkait kondisi masa sekarang. Adapun demikian, artikel ini hanya akan mendalami teks CUP untuk membantu menjelaskan subjektivitas kebenaran serta proses apropriasi yang semestinya dilalui seorang individu untuk dapat bertahan dalam keadaan present age.

Present Age: Hasrat yang Lemah, Problema Ketergila-gilaan atas Uang, Penyamarataan Individu ke dalam Publik, hingga Meredupnya Prinsip Individualitas
TA adalah ulasan dan respons S. Kierkegaard atas novel Thomasine Christine Gyllembourg-Ehrensvard berjudul Two Ages, yang dipublikasikan pada 30 Maret 1846, setelah terbitnya karya pseudonim Kierkegaard yang diedit oleh S. Kierkegaard dan ditulis oleh Johannes Climacus, yang berjudul CUP. Teks ini membahas mengenai tegangan antara era revolusi dan era sekarang. Era revolusi (revolutionary age), lebih spesifik merujuk pada Era Revolusi Prancis, dikatakannya sebagai era yang penuh gejolak dan dengan gejolaknya itu tetap mempertahankan prinsip-prinsip kontradiksi sehingga yang baik maupun yang buruk tetap dapat terbedakan. Sementara itu, era sekarang (present age)—merujuk pada tahun ditulisnya ulasan ini, yakni era modern pasca-Revolusi Prancis tahun 1846—adalah era yang tidak terintegrasi, lantaran era ini menekankan pada penyamarataan yang mengaburkan prinsip-prinsip kontradiksi sehingga media dan publik dapat mendominasi dengan prinsip-prinsip konformitasnya dan mendorong sebanyak-banyaknya individu untuk menanggalkan kediriannya demi terlibat dalam kerumunan orang banyak dan terlibat dalam pergunjingan.

Perihal kategorisasi era yang telah dipaparkan sebelumnya, Kierkegaard menerapkan dua distingsi: pada era dengan hasrat yang kuat (passionate age), antusiasme adalah prinsip pemersatu (unifying principle) generasi, sementara pada era dengan hasrat yang lemah (passionless/very reflective age), rasa cemburu adalah prinsip pemersatunya. Kierkegaard mengategorikan era saat ini (present age) sebagai era dengan hasrat yang lemah. Padahal, hasrat yang lemah adalah penghambat bagi seseorang untuk melakukan sesuatu yang berarti. Berbeda dengan era revolusi yang menampilkan hasrat yang hebat dan menurut saya dapat diandaikan seperti kawah gunung yang bergejolak, era modern adalah era yang sangat reflektif dengan hasrat yang lemah yang menurut saya dapat dianalogikan layaknya air laut yang tenang, air laut dengan ombaknya yang kehilangan daya, laut yang kehilangan maknanya. Era ini adalah era ketika orang-orang dapat tenang-tenang saja untuk tidak berbuat apa-apa, dan lebih mementingkan aspek publisitas atau hal yang tampak di permukaan alih-alih kedalaman yang mendorongnya melakukan hal-hal esensial. 

Salah satu hal dangkal yang Kierkegaard sebutkan terjadi di era sekarang adalah ketergila-gilaan masyarakat atas uang kertas (paper money) dan transaksi yang menggunakan uang kertas. Uang adalah objek kehendak (the object of desire) generasi saat itu. Di era modern, orang-orang amat jarang menaruh rasa cemburu pada kemampuan yang dimiliki oleh orang lain, mereka cenderung hanya tertarik pada uang dan menganggap bahwa hidup mereka telah lengkap hanya dengan mengukur kepemilikan mereka atas setumpuk kekayaan material. Sebagai era yang tanpa hasrat, prinsip yang berlaku adalah transaksi dan sirkulasi uang dan rasa cemburu yang muncul adalah rasa cemburu semata-mata menyangkut kepemilikan atas uang kertas. Padahal, pada satu titik, di tengah era uang kertas ini pula, suatu saat seseorang akan merasa kosong dan merindukan terdengarnya gemerincing uang koin (coin) yang jatuh, suatu hal yang lebih primitif seperti halnya hal-hal yang menandai vitalitas hidup, keberadaan orang yang diagungkan, kehadiran cinta, kecemerlangan para pemikir, para ksatria keyakinan, serta orang-orang yang menghargai derajat kemanusiaan.

Dikatakannya pula, era ini membiarkan segala jenis peristiwa berlangsung, tetapi sekaligus melenyapkan makna dari peristiwa-peristiwa itu. Di tengah kekosongan makna ini, ia menarik kembali arti penting moralitas, yakni karakter yang diperoleh dari kedalaman batin (inwardness). Hanya dengan kembali ke dalam batinnya, seseorang dapat memiliki keutuhan diri, kedirian atau individualitas (individuality). Sementara itu, era ini justru menekankan bahwa seseorang harus melakukan penyamarataan (leveling), yang mengutamakan aspek konformitas. Bagi Kierkegaard, abstraksi dari penyamarataan ini terkait dengan negativitas yang lebih tinggi: kemanusiaan murni—suatu konsep yang agaknya dapat dipandang sebagai utopia. Penyamarataan, baginya, adalah suatu urgensi dekaden.

Pada poin tersebut, prinsip-prinsip egaliter yang diantarkan oleh slogan jurnalisme a la media (the press) justru mengaburkan keunikan dari individu dan menghilangkan arti penting prinsip kontradiksi (the principle of contradiction). Demi penerimaan oleh orang lain, individu terdorong untuk menyatu bersama kerumunan dan kehilangan jati dirinya di tengah orang banyak (the public). Untuk menjaga hubungan dengan orang banyak itu, individu tidak membahas hal-hal yang esensial, yang mirisnya hal ini didukung pula oleh publisitas media dengan borbardir gunjingan, sehingga individu dengan instan kehilangan kediriannya dan turut bergunjing, lantas menjadi penggunjing (the chatter). Baik media maupun orang banyak dikatakan oleh Kierkegaard sebagai hantu (phantom). Mereka tak memiliki wujud yang  konkret dan hanya berupa abstraksi yang menjadikan setiap individu yang berada dalam kelompok tersebut bukan siapa-siapa (nobody). Mereka hanya akan menjadi statistik tanpa karakter. Bahkan, hal ini mendorong ke arah yang lebih abstrak: demi diterima oleh orang banyak, dengan dorongan rasa cemburunya (selfish envy), semakin banyak orang akan rela menanggalkan kediriannya untuk menjadi bukan siapa-siapa. Ia lebih jauh lagi mengeksplor mengenai kemungkinan dari rasa cemburu untuk berubah menjadi kecemburuan etis, dan pada saatnya membuat seseorang kehilangan karakternya (principle of characterlessness).

Terdapat kesetujuan di tengah masyarakat bahwa penyamarataan dapat berlaku dan menjadi penting bagi berlangsungnya suatu generasi. Kierkegaard memandang, tidak demikian halnya bagi keberadaan individu. Prinsip persamaan (equality) yang menghendaki segala hal untuk menjadi egaliter adalah baik apabila ditempatkan pada konteks kemasyarakatan yang tepat. Baginya, tidak seorang pun dapat menghindari era penyamarataan ini lantaran prinsip egaliter ini memiliki daya negatif yang sangat kuat. Oleh karena itu, ia mengajukan bahwa prinsip individualitas (the principle of individuality) dapat mengatasi hal ini dengan mengembangkan abstraksi atas prinsip persamaan dalam suatu generasi beserta lompatan keyakinan (inspired leap of religiousness). Prinsip individualitas ini dapat mengantarkan seseorang pada kebenaran yang abadi, dan bukan kebenaran yang temporer yang semata-mata ditawarkan oleh refleksi yang stagnan (stagnation in reflection).

Dengan mempertahankan individualitasnya, seseorang dapat bertahan untuk tetap menjadi konkret. Prinsip individualitas memungkinkan seseorang untuk memiliki karakter dan kedirian yang mencerminkan keunikan-keunikannya sehingga ia tidak dapat direduksi ke dalam statistik belaka. Ia tidak akan menjadi sekadar kerumunan, orang banyak yang tanpa identitas. Kierkegaard menyebutkan pula bahwa seseorang yang membaca, dan dengan demikian memiliki kesadaran atas dirinya, dapat menghindarkan dirinya dari kesemuan berada di tengah-tengah kerumunan (a single individual who reads is not a public). Ketika seseorang memegang prinsip individualitas, di tengah kebisingan orang-orang yang bergunjing, ia akan mampu bergeming (silence). Sikapnya untuk hening di tengah hiruk-pikuk era modern dimungkinkan lantaran ia mampu untuk masuk ke dalam relung batinnya. Poin pentingnya adalah bahwa hanya orang yang dapat bersikap hening di tengah keributan dapat mengatakan hal-hal yang esensial, dan dengan demikian dapat bertindak esensial. Keheningan, yang menunda tindakannya untuk memilah hal-hal yang mencerminkan kepribadiannya, adalah jalan untuk mencapai sesuatu yang ideal. Ia mengandaikannya selayaknya seorang pengarang yang membutuhkan privasi yang merupakan inner sanctum-nya.