2021/08/19

Sabda Armandio: Berkeliling Semesta Spekulatif

Sabda Armandio mulai dikenal di jagat perbukuan Indonesia sejak menerbitkan novel debutnya Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya pada 2015. Manuskrip novel itu dirampungkannya sejak di bangku SMA dan baru dimatangkannya pada akhir 2013, dan lantas ia unggah di blog pada 2014. Takdirnya mujur karena entri blognya itu kelak dibaca oleh Dea Anugrah, yang lantas menjadi editor untuk novel debut Dio dan dengan lekas menjadi karibnya. Enam tahun berselang, Dio yang kerap berseloroh “menulis itu sebenarnya memuakkan”, kini telah menerbitkan tiga buku lain, novel 24 Jam Bersama Gaspar: Sebuah Cerita Detektif (2017), novela Dekat dan Nyaring (2019), dan kumpulan cerita Kis2ah-Kisah Suri Teladan (2019).

Berbeda dari karakter tokoh di dua buku pertamanya yang tampak ringan dengan pendekatan cerita menyambut masa bujang (coming of age) dan pertualangan detektif partikelir memecahkan masalah yang ganjil, novel terakhirnya Dekat dan Nyaring menghadirkan tragedi hidup manusia dibalut kemiskinan yang begitu kompleks, lebih kompleks daripada cerita detektif ala Gaspar. Dari buku terakhirnya ini, kita dapat ikut merasakan betapa kemiskinan begitu dekat dan nyaring. Masih sama dengan karya-karyanya yang lain, bagaimanapun, Dio dengan kuat menjajal humor dan ironi—dua unsur yang kental dalam gaya narasinya—untuk menggarap karakter para penghuni Gang Patos itu. Dengan mulusnya ia menceritakan bagaimana orang-orang bergulat bertahan hidup dengan moda apa pun, tak tanggung-tanggung novel ini menegaskan tagar #jakartaitukeras dengan pembuka novelnya yang menghadirkan percakapan perihal daging ular asap hingga ganja palsu dari bunga bokor—hal-hal yang akrab dalam hidup warga di wilayah kumuh tersebut.

Lewat Mongrel, cerita bersambungnya yang terbit berkala di Kumparan+, Dio masih memberi nama aneh bagi karakternya, sebutlah “Wortel”, dan bercerita tentang paguyuban, cybercommunism, alam kuantum, botani, mimpi dan alam bawah sadar yang diprogram secara sosial, bebek dengan empat kaki dan empat sayap, kode biner dan ASCII yang mesti dipecahkan sebuah Forum Federasi Pelajar, dan hal-hal lain yang terasa “begitu Dio”: abstrak, anomali, dan acak. Namun, dari keacakan itu, ia berhasil menghadirkan keutuhan, sebuah harmoni dalam semesta yang chaos. Membaca Mongrel, kita mungkin akan mengingat bagaimana 24 Jam Bersama Gaspar juga bercerita soal kotak hitam misterius yang konon bisa membuat pemiliknya kaya raya, toko emas milik Wan Ali, motor Kawasaki KZ200 Binter Mercy keluaran 1976, dan kronologi perampokan yang dihadirkan dalam wujud transkrip wawancara.

Bagaimana kekhasan bercerita dan narasi-narasinya yang spekulatif ini bermula? Sejak kapan Dio menemukan “suara kepenulisan ala Dio” ini? Dalam obrolan berdurasi 2 jam ini, Dio menceritakan tentang bagaimana ia tumbuh besar dengan cerita-cerita yang dikisahkan saat bersepeda dengan kakeknya, ketertarikannya pada dunia komputer lantaran terbiasa melihat pekerjaan ayahnya yang mereparasi komputer pelanggan, hingga bagaimana tanggapan Dio tentang masalah umat manusia hari-hari ini: dari kebangkitan fasis hingga perubahan iklim. Berikut ini adalah obrolan Dewi Kharisma Michellia dari Tengara dengan Sabda Armandio.

 

Bersepeda dengan Kakek

Beberapa penulis tumbuh dengan cerita yang dituturkan oleh orang tua mereka. Dio, dengan kedua orang tua yang sibuk, memperoleh itu dari sang kakek maternal yang seorang dalang.

 

DEWI KHARISMA MICHELLIA

Di beberapa wawancara, kamu cerita tentang kakek maternalmu. Apakah sedemikian membekasnya bagimu punya kakek seorang dalang? Kamu juga bilang, di keluargamu tradisi lisan lebih kuat daripada tradisi tulisan.

 

SABDA ARMANDIO

Nah, kalau ditelusuri, kebiasaanku mendengarkan cerita lahir dari lingkungan di sekitarku. Jadi, ya betul, kakekku adalah dalang, dia anggota Bakoksi Pekalongan. Periode pertengahan 1960an, dia pergi dari Pekalongan, ke Garut, dan terus dari Garut langsung menetap di Jakarta di atas tahun 1965. Mungkin sekitar tahun 1967an. Aku lupa. Pokoknya, setelah itu, keluarga kami pindah. Mamaku menikah, dan pindah ke Tangerang, dan aku lahir di Tangerang. Kakekku ikut pindah ke rumah kami. Dari Manggarai—dulunya kami tinggal di Manggarai—jadi tinggal di Ciledug, Tangerang. Mamaku menikah tahun 1989, dan sudah mulai tinggal di Ciledug. Papaku kerja di daerah Pasar Ciledug, di wilayah bisnis di sana.

Waktu itu, pembangunan lagi masif. Mamaku juga buka semacam salon, jadi, kira-kira kayak begitu. Kakekku pindah ke rumah kami. Waktu itu aku masih TK, tahun 1996-1997. Rumah kami ada di antara pusat Kota Ciledug—kalau istilah itu ada—dari sana kamu tinggal naik sepeda. Kalau mau lihat pembangunan, Bintaro baru dibangun, atau ke sektor di sekitar Stasiun Sudimara itu, tinggal naik sepeda.

Jadi, kakekku, selama tinggal di rumah kami—saat Mama lagi mengurus adikku, Papa di kantor—biasanya mengajak aku keliling-keliling naik sepeda. Di perjalanan itu, dia sambil bercerita. Mungkin dia juga kangen bercerita. Aku juga baru tahu dia dalang sewaktu aku SMP-SMA. Aku juga enggak pernah tahu sebelumnya dia bekerja apa. Yang aku tahu, dia ada di rumah, dan suka mengajak main.

 

MICHELLIA

Enggak pernah pentas lagi, begitu? Apa enggak ada wahana bagi dia untuk menyalurkannya di sanggar-sanggar di Ciledug?

 

DIO

Enggak pernah. Kan, Bakoksi dibubarin, ya?

Setelah menetap di Jakarta, dia memilih profesi lain untuk menghidupi keluarganya. Kakekku, ya, suka mengajak aku jalan-jalan, dan cerita. Dia suka membenturkan dongeng-dongeng yang dia ceritakan, dengan kejadian yang lagi hangat sehari-hari. Atau, ya, lebih ke merespons mobil atau bulldozer yang kami lihat di jalan, misalnya.

Sekitar 1999, aku pindah-pindah. Dari Ciledug, sempat di Pamulang, terus sempat di Bojongsari. Lalu, menetap di Bogor, karena di tahun 1998 papaku kena PHK. Jadi, dia cari akses pekerjaan yang lebih gampang. Bagiku waktu itu, kerugian yang aku alami adalah aku jadi susah punya teman. Waktu itu aku baru kelas 1 atau 2 SD, posisi kakekku jadi penting karena dia yang menemaniku main, dia ikut pindah-pindah terus dengan keluarga kami.

Sampai, akhirnya, menetap di Bogor, masuk SD dan SMP, dari sana mungkin, ya. Pas di Bogor, karena waktu itu zamannya judi togel, orang-orang yang suka pasang judi togel itu menganggap aku pintar. Kalau ke orang lain, biasanya, kan, suka ditanya mimpinya apa. Kalau aku, dikasih angka, disuruh bantu ngecak kode, menghitung secara matematis. Dari situ, mereka sering cerita, dari mana mereka mendapatkan kode atau wangsit untuk judi-judi mereka itu. Mereka juga suka bertingkah aneh, ada yang memancing kodok, tidur di kuburan, atau makan bubur di pemakaman Cina. Semuanya yang mereka lakukan terkait sesuatu yang mistik. Kalau dipikir-pikir mirip kultus Pythagoras. Waktu itu, aku enggak punya opini apa-apa soal itu. Aku lihat mereka cuma abang-abangan, yang suka bercerita ke anak kecil.

2021/07/28

Mengunjungi Buku Cerita Anak Lawas

Perkenalan saya dengan dongeng dan fabel bermula dari cerita ayah dan ibu setiap petang, mereka bertukar peran untuk mendongeng (yang hebatnya, mereka hafalkan), juga terkadang nenek (yang bukan membacakan, melainkan menyanyikan kisah tentang katak), dan ketika saya sudah cukup umur untuk membaca sendiri kisah-kisah tersebut, maka dimulailah petualangan saya dengan beberapa buku cerita anak.

Panchatantra adalah teman pertama yang menumbuhkan rasa sayang, saya bawa ke mana pun, dan membuat saya menangis di jok belakang mobil saat membacanya karena salah satu ceritanya yang menyentuh. Tahun 1996 lalu, versi bahasa Indonesianya saya peroleh dari sebuah toko buku kecil dengan rak-rak berdebu di Denpasar. Versi gratis berbahasa Inggris dari fabel tipis dari wikisource ini kurang-lebih sama dengan yang saya baca dulu. Meliputi lima payung besar cerita yang saling terkait tentang kehidupan hewan. Barangkali setara dengan fabel Aesop. Dari buku ini, kita dapat belajar kejiwaan manusia; sikap persahabatan, kelicikan yang tersembunyi dan bagaimana menghindar dari petaka yang disebabkannya, hingga pentingnya bersikap cerdik dan hati-hati.

Kawan selanjutnya adalah Mahabharata dari RA Kosasih (Penerbit Erlina). Komik wayang hitam putih tebal dan berukuran besar ini diberikan ayah karena dia sudah bosan saya mintai mendongeng tentang kisah panca pandawa sebagai dongeng sebelum tidur. Gubahan oleh RA Kosasih ini sudah diterbitkan sejak tahun 1950-an, mengambil cuplikan kisah dari  Adiparwa, salah satu bagian dari Astadasaparwa (delapan belas bagian) epos Mahabharata yang dikarang oleh Bhagawan Byasa. Bermula dari Dewi Gangga yang melahirkan Bhisma, hingga ke kehadiran lima pandawa dan seratus korawa. Darinya saya belajar tentang karmaphala, konsep mengenai karma (sebab-akibat) yang berlaku dalam kehidupan.

Dua buku itu dari masa taman kanak-kanak hingga awal sekolah dasar. Setelahnya, ada begitu banyak buku cerita anak yang sama menariknya. Dari buku-buku cerita bergambar yang saya sudah tak ingat lagi apa judulnya atau siapa pengarangnya hingga banyak judul populer lainnya yang sepertinya masih digandrungi hingga saat ini.

Komik Mafalda karya Quino (Kepustakaan Populer Gramedia, 2009) saya temukan belakangan, saat menggandrungi blog sastra Amerika Latin & Iberia (Sastra Alibi) yang diasuh Ronny Agustinus di masa-masa awal kuliah di Yogya satu dasawarsa lalu. Generasi saya mungkin adalah generasi yang sudah muak dengan hipokritnya penyelenggara negara, dan karenanya beberapa kawan yang sangat politis justru memilih berada di garis apolitis. Komik yang bisa dibaca oleh segala kelompok usia ini tampaknya bisa menjadi antidote bagi pahitnya kenyataan politik ini. Humor-humor politik bocah ini jenaka, lincah, dan begitu mengalir. Ini membuat saya membayangkan bagaimana jika kita punya generasi muda yang melek politik dan bisa menyampaikannya dengan jalan sesantai (alias seringan dan seasyik) Mafalda? Dan tentunya, saya membayangkan, bagaimana jika saya dan kawan-kawan sepantaran saya sudah membaca buku ini sedari kami kanak-kanak dulu?

Lebih belakangan lagi, sekira tahun 2018 lalu, Penerbit Ultimus melibatkan saya dalam sebuah rencana penerbitan ulang, untuk menyunting buku Pak Supi: Kakek Pengungsi (Penerbit Ultimus, 2018), cerita anak karangan S. Rukiah Kertapati yang diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1958. Pak Supi berkisah tentang gerombolan anak yang bertemu seorang kakek misterius, yang terlilit masalah dengan para tetangganya yang memfitnahnya, tetapi lantas mendapatkan pembelaan dari para bocah petualang yang menyaksikan banyak peristiwa ini, menguntit sang kakek bak detektif partikelir. Rukiah rupanya pernah mengasuh majalah anak-anak, Majalah Kutilang, yang terbit di tahun 1960-an dan bersamaan dengan itu dia juga menerbitkan banyak judul buku anak, di antaranya Si Lenting Kuning dan Sekumpulan Cerita Bunda. Membicarakan kiprah S. Rukiah Kertapati dalam kerangka “buku cerita anak” rasanya bisa menghasilkan satu telaah khusus tersendiri, dan mungkin rekomendasi “lima judul buku cerita anak” tersendiri.

Saat pandemi ini, saya bertukar surel dengan kawan lama, yang menceritakan betapa gembiranya dia menemukan buku yang dia sukai dan dibacanya saat SMP dulu, Undangan dari Planet Mars (Gramedia Pustaka Utama, 1974). Karena penasaran, maka saya memesannya dari marketplace. Buku ini adalah terjemahan bahasa Perancis oleh Sundari Hoesen dari karangan Philippe Ebly, Et Les Martiens Inviterent Les Hommes. Tentang geng remaja yang suka sains, terlibat dengan profesor dan piring terbang, beberapa dasawarsa lebih dulu mereka dengan antusias ingin mengunjungi Mars dibandingkan Elon Musk dan SpaceX-nya. Yang menariknya lagi, buku ini adalah buku nomor 36 dalam seri bacaan bermutu, Seri Elang, yang dulu digagas GPU. Saya jadi tertarik mengumpulkan satu per satu buku-buku cerita anak dalam seri ini.

2021/06/02

Rahasia dari Kramat Tunggak

DIA menutup pintu apartemen. Tubuhnya lebih letih dari hari-hari yang lain, tapi begitu melihat tumpahan bir dan botol-botol yang tergeletak di lantai, dan asbak dengan belasan puntung rokok di meja makan, dia merasa sanggup membanting apa saja.

Saat membanting pintu kamar, dia sempat mendengar suara kasur reot, genjotan demi genjotan dan lenguhan demi lenguhan dari kamar sebelah.

Sudah ratusan kali dia ingatkan ibunya untuk tak menjajakan tubuh di hunian mereka.

Enam bulan lalu, kabar buruk itu datang di lapo langganan mereka, saat dia sedang khusyuk mengunyah babi panggang Karo favoritnya.

“Bantu Ibu,” pinta ibunya saat itu. “Kita lunasi utang ke para rentenir itu,” sambil mengunyah babi panggang, sang ibu dengan yakin ingin melanjutkan profesi lawasnya.

Merasa tidak perlu memberi persetujuan, dia menyudahi obrolan itu, “Ibu selesaikan urusan Ibu sendiri. Ini bukan utang yang harus aku tanggung.”

Lamunannya terusik ketika perempuan itu memanggil nama Tuhan dari ruangan sebelah, lantas berteriak kesetanan. Ibunya, dan pelanggannya yang entah siapa, kembali bergulat seperti hewan liar, seperti malam-malam sebelumnya.

“Ibumu ini dulu primadona Kramtung,” ujar ibunya bangga saat dia beranjak dari kursinya. “Kita bisa dapat banyak.”

Dahinya mengernyit. Dia bisa menghidupi dirinya sendiri, bahkan dialah yang selama ini membayar sewa rumah kontrakan mereka. Dapat banyak? Dia tak merasa butuh lebih!

Dia kepalang gengsi meminta penjelasan bagaimana bisa ibunya berutang banyak. Dia merasa dialah yang selama ini bekerja paling keras. Yang dia tahu, dia tak ingin punya urusan dengan Kramat Tunggak. Meski tak betul-betul mengingat semua detail masa kanak-kanaknya di sana, dia tahu itu bukan masa-masa yang indah untuknya, juga untuk ibunya. 

Saat lebih dewasa dia tahu bahwa Kramat Tunggak adalah mantra yang mewujudkan keajaiban Jakarta. Dengan duit dari lokalisasi itu, gubernur membiayai sebagian pembangunan, dari jalan tol ibukota sampai kompleks kesenian Taman Ismail Marzuki.

Tapi baginya segala polesan informasi dan pembenaran itu tak memperbaiki apa pun.

“Aku masih cantik dan tidak perlu kerja terlalu banyak.  Tiga tamu sehari cukup untuk bayar utang dan membiayai hidup kita,” Ibunya masih berusaha memberi penjelasan.

“Kramtung itu masa lalu kita!”

“Kita enggak kembali ke sana!” tegas ibunya.

Dan, di sinilah mereka, pindah ke tower apartemen yang disewa per bulan di Kalibata. Dia terus menunjukkan keengganannya, tapi seperti yang sudah-sudah, dia mengikuti keputusan ibunya. Untuk membayar biaya apartemen, dia harus merelakan tabungan biaya semesteran kuliahnya ludes. Sembari memaki dalam hati, dia pindah ke Kalibata dengan berbagai prasangka buruk.

Dengan lidah pedasnya dia sebut tempat itu Taman Hidung Belang. Tempat itu ramai, semua jenis manusia tinggal di sana; para pekerja kantor, juga pedagang, juga pelajar, juga bandar, juga pekerja seks. Sebutan tempat itu apartemen, mentereng, dengan pusat perbelanjaan, dan kedai kopi, dan lapangan basket, tapi tempat itu juga sarang nyawer dan jajan lendir, markas bandar gelek dan pengedarnya, tempat seorang gadis bunuh diri loncat dari lantai 8 karena patah hati. Ringkasnya: tempat itu kolong dunia terkutuk.

Semua itu cocok jadi amunisinya jika sewaktu-waktu mesti melontarkan amarah, “Kenapa kita pindah ke tempat terkutuk ini?!

Di pagi saat mereka pindahan, seorang pria berusia sepantarannya sedang bugil menggedor-gedor pintu kamar sebelah. Tampak mabuk, si pria bugil tersenyum menyapa ke arah mereka, “Wah, tetangga baru. Sori, gue dikerjain orang-orang sinting di dalam karena kalah taruhan.” Sambil memegang karton bekas untuk menutupi selangkangannya, ia sibuk menggedor dan menggedor.

Kamar sebelah ditempati lima orang buruh yang bekerja untuk kontraktor di kamar sebelahnya lagi. Pergi pagi, pulang larut malam dengan berpeluh-peluh dan pakaian dekil berlumpur. Kepulan asap rokok mengisi sepanjang lorong saat mereka bersantai di petang hari.

Mendapati tetangga semacam itu, dalam hitungan hari, dia justru merasa betah. Dengan cepat dia mengakrabi mereka, berbagi bungkus rokok atau saling pinjam korek dengan si pria bugil dan teman-teman buruh dan kontraktornya. Sempat pula salah satu buruh menawarinya pil koplo, tapi dia menolak dengan halus.

Sementara itu, ibunya berjejaring dengan lebih cepat lagi. Walau tak muda lagi, tamu yang butuh layanannya terus bertambah, dari oom-oom bau domba sampai bocah SMA bau kencur. Ibunya memang masih molek. Tapi dia tahu betul ibunya akan butuh riasan, pakaian baru yang cukup bagus, ataupun pakaian dalam seksi yang membangunkan hasrat nakal lelaki paling alim sekalipun. Dia tahu ibunya butuh uang darinya sebagai modal.

Sehari diniatkannya melayani tiga pria, meski tak selalu begitu karena pelanggannya datang manasuka, semestinya mereka bisa tajir. Tapi karena ini upaya mendadak demi membayar utang, dan karena dia tidak pernah benar-benar setuju akan keputusan ini, dia berserah saja saat semua penghasilan masuk ke rekening ibunya. Dia hanya dapat ampas-ampasnya: lenguhan, jeritan, barang-barang terdengar berjatuhan, dan kegiatan beres-beres.

Kali ini, dia tidak membantu beres-beres. Dia terlalu lelah untuk memulai ritus bertengkar.

Tamu terakhir ibunya pulang pukul 2 pagi. Namanya dipanggil karena ibunya tahu dia masih mengetik.

“Tadi Ibu beli nasi padang buat kamu. Kok, masih utuh? Enggak enak, lho, kalau basi.”

Sementara si anak menyendok nasi padangnya, si ibu yang masih segar seusai melayani tiga pria pergi keluar membawa bungkusan plastik besar berisi sampah.

Seisi ruang apartemen sudah bersih, seolah tidak pernah dipenuhi asap rokok atau tumpahan bir. Tapi tetap saja, tempat itu berbau apak. Dinding-dindingnya dingin berjamur.

Hingga nasi padangnya tandas, ibunya masih di luar. Tahu kebiasaan ibunya untuk menikmati dini hari dengan menelusuri jalan, dan dengan jalur berbeda-beda setiap kalinya, dia menyalakan televisi dan memutar film sembari menunggunya kembali.

Kualitas keping DVD bajakan baru ini buruk sekali. Andai punya cukup waktu, dia ingin mengajari ibunya mengunduh film bajakan dari torrent agar tidak harus memandangi tontonan kualitas rendah begini.

Tapi mereka sama-sama sibuk. Saat lulus SMA, dia hampir tak lanjut kuliah. Mengirim anak perempuannya ke kampus memang impian sang ibu, tapi uang adalah penghambat segalanya. Dia bekerja menjadi SPG di mal, dengan izin yang diberikan ibunya dengan berat hati. Dua tahun kemudian, setelah menderetkan kampus-kampus swasta murah, dan dengan tabungan hasil kerjanya, dia akhirnya berani mendaftarkan diri.

Dia mengambil jurusan akuntansi supaya saat lulus bisa cepat mendapat kerja lagi. Semula dia merasa lebih cocok dengan seni rupa, tapi ibunya menyanggah minatnya, “Jurusan itu hanya untuk anak-anak orang tajir yang enggak butuh lihat duit lagi.”

Sementara ibunya bekerja jadi buruh cuci untuk tiga rumah tetangga dan menitipkan masakan di kantin kampus, dia tetap bekerja paruh waktu di kafe bilangan Cikini, dekat wilayah mereka tinggal. Dari sana dia mendapat uang untuk membayar tagihan-tagihan di rumah dan membiayai penuh perkuliahannya.

Hidup berdua dengan kebutuhan tidak banyak, dia sebenarnya masih bertanya-tanya, bagaimana mungkin ibunya dikejar-kejar rentenir? Bukankah dia mencicil biaya kuliahnya sendiri? Selain paruh waktu di kafe, dia juga mendapat upah dari mengetik transkrip untuk dosen fakultas sebelah. Namun, lantaran gengsi untuk terlalu peduli, dia memutuskan untuk tidak bertanya lagi.

Dia sadar betul mereka miskin. Sejak kecil, dia diajak berpindah-pindah tinggal dari satu gang kumuh ke gang kumuh lain, dari pinggir sungai ini ke pinggir sungai itu, berkawan dengan bocah-bocah preman sepenjuru Jakarta. Dia tak sempat menanyakan mengapa mereka miskin, di mana ayahnya, dan bagaimana bisa ibunya melonte di Kramat Tunggak.

Tulisan Terdahulu