Tuesday, April 21, 2009

Mengantar


(Cerpen ini kemudian dimuat di Jakartabeat.net, 10 Mei 2014)



dunia dengan dua sisi Kau tatap Ia dari pikir-Mu / kadang nyata kadang maya mendua pada Satu / dan pada-Nya Kita bergenggaman / Kita berjalan berputar / pada Ia yang menyata Satu / pada bumi yang melingkar mentari / lihat perjalanan Kita kini / adakah Kita mengiyakan tiada / mengenggankan nyata / seperti halnya Ia menjadi bumi dan mentari / Ia menjadi tanah dan langit / menjadi Aku dan Kamu / nyatakah pada-Mu senyata pada-Ku / bahwa Kita Satu / bahwa Kita adalah Ia seperti Ia adalah Kita / seperti Aku adalah Kamu / nyatakah pada-Mu Kita adalah Satu bahkan pada maya / bahkan pada tiada / karena Kita: / menyatu Alam Semesta.

ARWAHNYA secara perlahan meniti langkah pada gelap dunia niskalayang dulu ketika hidup tak pernah dimengertinya. Sebagai arwah dalam wujud yang halus, dia tertabrak oleh segala benda; tidak ada orang yang meminta maaf ketika berlari melewatinya. Dia ditabrak segala, bahkan oleh gas yang berpencaran.
Semasa hidup dia tak pernah tahu di mana tempat hunian jiwanya bilamana dia mati. Kini dia juga tak tahu ke mana dia akan menuju bilamana arwahnya hidup abadi. Saat itu, bersamanya, banyak jiwa juga berjalan pada gelap, pada kesunyataan, pada ketiadaan pemahaman, pada gelombang paralel dunia. Namun, dia menyadari, mereka tak saling melihat. Mereka berjalan tanpa mata, tanpa alat indera, tanpa atribut pada jasad yang pernah mereka huni.
Dia tak ingat dia lepas dari tubuh siapa. Baginya, dia hilang dari sesuatu dan menjadi bagiannya sendiri. Dia hanya masih mengingat, dia dulu pernah memiliki tempat lain untuk tinggal. Mengisi bagian tubuh seseorang dan hidup di sana. Seperti halnya ekor cacing yang masih bergerak-gerak bahkan ketika kepalanya diputus, dia menjadi bagian pada jari telunjuk yang masih hidup ketika jantung orang itu berhenti. Namun, akhirnya dia lepas.
Pada kesadarannya—dia bertanya-tanya, di manakah sebenarnya letak jiwa? Diakah jiwa?

“IBU tak mungkin mati!” Seorang gadis berteriak di depan kamar rumah sakit. “Apa yang bisa aku lakukan tanpa ibu? Ibu jangan mati, hanya Ibu satu-satunya yang Alin punya!”
Orang-orang di rumah sakit itu mengelilinginya. Setiap orang pada setiap kamar keluar untuk menonton gadis itu menangis.
Kamar di hadapan si gadis telah telanjur kosong. Sebuah ranjang bersprei putih tanpa penghuni. Tak ada lagi tiang infus.

Tuesday, April 7, 2009

Kompilasi Tiga Kehilangan

(I)
JADI ceritanya dia sama sekali tidak lapar. Seharian sejak dari rumah hingga dia memutuskan untuk pergi jalan-jalan di tengah hari, dia mengunci mulut untuk tidak bicara juga tidak makan apa pun.

Siangnya, hujan turun begitu lebat. Dia berjalan tanpa payung. Arus air yang menuju ke bawah berlawanan dengan langkahnya yang menanjak ke atas. Ditendangnya aliran air itu. Berkecipratan.

Ingin sekali dia berjalan dengan memejamkan mata atau merentangkan tangan seperti yang biasa dia imajinasikan sejak kecil.

Ada sesuatu pada hujan yang selalu merenggut orang-orang yang dia kasihi. Sesuatu tentang hujan yang selalu menyita kenangan-kenangannya. Hingga setiap hujan tiba, dia kembali teringat akan orang-orang yang dia kasihi juga kenangan-kenangan yang sekian lama disita oleh waktu. Hingga dia selalu ingin hujan tak pernah berhenti dan dia bisa terus merentangkan tangan di sepanjang perjalanan pulang.

Sama seperti hari ketika ibunya meninggal, hujan turun begitu lebat. Sama seperti saat itu, dia menyusuri jalan dengan merentangkan tangan, sejak keluar dari kamar mayat rumah sakit hingga rumah. Seperti itulah kini dia mengulangnya.

Dia sampai di gerbang rumah. Tempat yang tanpa siapa-siapa karena kini hanya tinggal dia yang mengisi ruangan-ruangan itu. Rumah yang tanpa denyut, tanpa napas. Kosong.

Dibukanya pintu rumah. Tidak ditutupnya lagi. Tidak dipedulikannya keadaan rumah yang begitu berantakan. Dia berjalan ke arah kamar mandi, menyalakan keran air. Sementara air memenuhi bathtub, dia mengambil semua berkas-berkas di lemari, ijazah-ijazah sejak SD hingga dia lulus dengan gelar magister.

Dibawanya semua berkas itu turut bersamanya ke arah dapur. Dinyalakannya kompor gas di dapur lalu dibuangnya satu per satu semua berkas itu ke atas api. Tidak dimatikannya kompor gas itu. Lalu dia berjalan ke arah kamar mandi. Bathtub sudah dipenuhi air. Dituangnya sebotol cairan pembersih lantai kamar mandi ke dalam bathtub.

Dia melangkah keluar lagi, menuju ke arah kamar. Mengambil kertas dan menuliskan sesuatu. Setelah beberapa saat, dimasukannya kertas itu ke dalam amplop.

Teruntuk Clara. Ditulisnya di sudut kanan atas permukaan amplop. Kemudian diletakkannya amplop itu di atas meja baca. Setelah itu, dia membuka laci dan lalu mengambil sebuah pisau lipat, dibawanya menuju ke kamar mandi.


“TY?” Seorang gadis memanggil-manggil dari arah gerbang yang tergembok. Dilihatnya pintu rumah Ty tidak terkunci. Terasa janggal karena tidak biasanya Ty lupa mengunci pintu rumah jika dia sudah menggembok pagar.

“Mungkin dia sedang tidur?” Pria di sebelah gadis itu berpendapat. Si gadis menoleh dengan enggan lalu menggelengkan kepala. Tidak mungkin Ty tertidur dan lupa mengunci pintu.

“Kecurigaanmu berlebihan, Clar.” Pria itu melanjutkan.

“Kartu-kartuku tak pernah salah, Ar.” Clara menjawab.

“Aku harap kali ini salah.”

Gadis itu sejenak menarik napas, “Aku juga.”

Tapi asap muncul dari arah belakang rumah. Bagian belakang rumah di hadapan mereka dilalap api yang mengganas.

ORANG-ORANG telah membantu mereka dengan memadamkan api dan menyirami sepenjuru rumah dengan berember-ember air. Di luar begitu ramai dan di hadapan mereka, mayat Ty memerah di dalam bathtub. Cairan yang entah apa menggumpal-gumpal dan terapung di atas air. Aria memeluk Clara. Gadis itu menangis di bahu Aria.

Ketika mayat Ty diangkat, Clara berteriak. Aria refleks menghalangi penglihatan Clara dengan tangan kanannya. Sementara dia melihat tubuh Ty yang membeku. Bagian bawah tubuh jenazah Ty berwarna merah keunguan. Darahnya mengendap searah dengan arah gravitasi bumi, tanda bahwa jantung Ty sudah tidak lagi berdetak, sudah tidak lagi memompa darah.

“Itu mayat, Ar?” Clara bertanya terbata.

“Itu mayat.” Aria menarik Clara semakin erat ke dalam pelukannya, “Itu Ty.”
Clara,
Kamu tahu betapa lelahnya aku menjalani hidup. Tanpa siapa-siapa menemaniku di sisiku. Aku tahu kamu mungkin tidak akan pernah menyadari kelelahanku menyimpan jiwa seorang anak-anak di dalam diriku. Ketakutanku melewati jalan-jalan baru. Dan aku terlalu takut untuk terus hidup. Sendiri dan tanpa arah tujuan. Bisakah kamu bayangkan rasanya hidup seperti itu, Clar?
Air mata Clara terjatuh di atas kertas itu. Aria membelai rambut Clara dan lalu mengecup ubun-ubunnya, “Semuanya akan baik-baik saja.”