Monday, August 4, 2014

Perihal Hantaman Pasar Swasta

Wawancara dengan Derajad S. Widhyharto untuk Tempo Institute.

Apakah menurut Mas pasar rakyat masih menjadi kebutuhan masyarakat?
Masih. Definisi tradisional dalam pasar rakyat bukan perkara ketertinggalan, melainkan entitas, dinamika yang ada. Justru sebagian besar masyarakat memiliki keterikatan terhadap pasar rakyat. Nilai-nilai sosial ada di sana: orang-orang menawar, dan siapa saja dapat berjualan. Misalnya, ketika menganggur, seseorang dapat memanen hasil taninya, dan saat ingin menjual dagangan di pasar rakyat, hal itu dapat dengan mudah dilakukan.

Melihat kenyataan pasar rakyat mencoba menjadi pasar swasta yang canggih, perkembangannya akan seperti apa?
Perkembangannya tidak akan mudah. Akan ada risiko baru yang harus ditanggung sebagai sebuah komunitas, di mana perubahan tentu akan mempengaruhi dimensi nilai, pengetahuan, status, dan norma masyarakat setempat. Ruang pasar rakyat dan modern memang berbeda. Ada nilai dialog, perbincangan, hal itu yang takkan mungkin ditemui di pasar swasta. Pasar rakyat adalah arena dari berbagai nilai untuk berkontestasi. Mereka yang memiliki nilai kultural berlainan akan saling bertukar dan memberikan gambaran mengenai wilayah masing-masing, tentang dagangannya, dari mana mereka memperolehnya. Hal-hal ini tidak akan tercipta di pasar swasta, karena pasar swasta menjual produk massal, produksi pabrik. Kalau dibandingkan antara kedua jenis pasar, nilai jualnya semestinya lebih besar yang hand made.
Pembaharuan pasar sebenarnya menawarkan hal yang problematis. Ada aturan ketat, dibarengi masuknya bank-bank swasta untuk mengelola pasar rakyat dengan dalih syariah dan kredit murah. Ketika hal itu terjadi, ada sistem nilai yang hilang. Misalnya, kalau kita ambil contoh, Bank Plecit hilang, di mana orang-orang bisa meminjam uang dalam jumlah kecil sesuai dengan yang mereka butuhkan, ada kekuatan spontanitas pula di bank itu. Sangat mudah untuk mengembalikan pinjaman karea tidak ada keruwetan administrasi. Namun, bayangkan bila Anda pergi ke bank modern, Anda harus membuat akun bank dan mengurus banyak hal elementer yang tentunya tak mudah. Di Bank Plecit, hubungan antara peminjam dan pemberi pinjaman juga terjalin erat. Lagipula, kebutuhan pinjaman oleh para pedagang di pasar lebih banyak yang bersifat jangka pendek, terkadang mereka meminjam hanya untuk membeli bahan-bahan tertentu untuk kemudian dijual kembali.

Bagaimana Bapak melihat kontestasi masuknya produk-produk pabrikan dengan produk yang masih natural? Pasar swasta juga sudah mencuri keunggulan pasar rakyat dengan menawarkan produk-produk sayuran dan buah segarnya.
Kalau Anda bisa melihat hati pasar, Anda sudah bisa menangkap sistem masyarakat. Mereka yang berdagang di pasar rakyat bermukim tidak jauh dari pasar. Kebutuhan mereka juga terukur. Sedangkan kalau kita membicarakan pasar swasta, sebenarnya siapa yang mau disasar? Masyarakat modern seperti saya yang bawa laptop dan ponsel canggih, begitu? Atau justru sebaliknya, ketika mereka menjual produk segar seperti itu, mereka ingin mengembalikan romantisme seperti pasar rakyat dengan wajah yang mereka katakan modern. Meskipun, di sisi lain, pasar swasta datang dengan harga yang lebih tinggi. Ini berlawanan dengan semangat dialogis. Pasar adalah ruang bertukar cerita antara masyarakat, pusat informasi, yang mana para pelakunya bahkan tak bisa bercerita tentang hal itu di rumah. 

Kalau dari perspektif pembeli, kenapa banyak masyarakat kita yang lari ke pasar swasta?
Tidak mudah mengajak masyarakat untuk berpikir seperti dulu. Saat ini, masyarakat sudah berubah. Ada beberapa dimensi yang bisa diukur. Ketika menjadi kaya, seseorang mungkin tidak berbelanja di pasar rakyat lagi karena ada kaitannya dengan status sosial. Juga mungkin terkait dengan tingkat pendidikan. Tempat berbelanja adalah simbolisasi status. Dari sisi pembeli, mereka sudah teredukasi, diserang iklan luar biasa oleh televisi, pembeli yang mampu mengakses internet dengan cepat. Secara otomatis, tentu akan ada perubahan.

Lalu, bagaimana triknya supaya pasar rakyat juga bisa menyasar orang-orang dengan status sosial tinggi tersebut?
Saya kira biarkan pasar rakyat menemukan obyeknya. Pada prinsipnya, mereka memiliki segmen berbeda. Ada pembeli loyal di pasar rakyat, tapi tidak ada di pasar swasta. Bahkan di kala-kala tertentu, orang-orang kaya itu juga berbelanja di pasar rakyat karena mereka tahu harganya lebih murah.

Dalam jangka panjang, apakah menurut Mas akan ada masa ketika pasar rakyat menghilang?
Bisa jadi iya, karena ada serangan luar biasa. Kalau sekali dua kali diserang barangkali tidak masalah, tetapi kalau tiap hari diserang, bagaimana? Pasar rakyat mencoba untuk bertahan dengan banyak konsep revitalisasi. Namun, tidak mudah. Pasar rakyat tidak punya kemampuan untuk melakukan intervensi, seperti melalui iklan atau media. Mereka hanya mengandalkan kekuatan relasi sosial, dari mulut ke mulut, tanpa modal. Di sanalah letak kritisnya. Memang, harus ada political will dari pemerintah untuk melindungi mereka. Bukan dicagarkan. Mereka tidak perlu dicagarkan, tetapi biarkan mereka menjadi entitas, dengan kehidupannya sendiri. Revitalisasi silakan, tetapi kemudian tidak untuk memaksa mereka mengonsumsi juga barang-barang pabrik. Biarkan mereka yang menentukan kebutuhan para pembeli loyal mereka, sehingga memang pemerintah tidak perlu berlelah-lelah untuk menjalankan program brain wash. Memang tidak mudah, karena banyak private sector industry.

Bagaimana perkembangannya saat ini, Mas?
Luar biasa. Siapa yang tidak kenal Unilever atau Indofood? Saya lihat, Piyungan berubah, tetapi itu hanya secara fisik. Namun, para pedagang tidak berubah.

Berarti, Mas melihat pasar rakyat masih ada jiwanya. Kalau pasar rakyat mati tadi, tahun berapa kira-kira?
Saya kira, ketika negara ini mengumumkan menjadi negara industri.

Ada kecenderungan ke sana?
Menteri perdagangan di KompasTV hari ini sudah menyatakan bahwa Indonesia akan menjadi negara industri. Kita terbuka menjadi negara industri, semua indikator negara industri sudah ada. Permendag Nomor 53/2008 yang sudah direvisi Permendag 70/2013 baru disahkan juga mendukung itu.

Bedanya dari kedua aturan itu?
Begini, judul Permendag itu adalah “Pembinaan Pasar rakyat dan Modern”. Sebenarnya, yang dilindungi semuanya atau pasar swasta saja? Tampaknya pemerintah justr lebih mendukung pasar swasta. Misalnya, Permendag 70 ingin melindungi masyarakat dengan tidak boleh menggunakan dollar di mal. Siapa yang menggunakan mata uang semacam itu di pasar rakyat? Yang diatur lebih banyak pasar swasta.

Kalau yang diatur di pasar rakyat, apa saja?
Ada upaya untuk membiarkan pasar rakyat. Mungkin, mereka beranggapan bahwa suatu hari pasar rakyat akan mati sendiri. Padahal, kalau ke Eropa, sejarah masih dijaga. Bangunan tidak serta merta dihancurkan. Sejarah muncul dari interaksi. Tradisi lisan kita sangat kuat, dibandingkan tradisi tulis. Pasar rakyat adalah tradisi lisan itu.

Dengan adanya industri ini, Mas memprediksikan pasar rakyat akan hilang, selain itu, hal-hal apa lagi yang akan hilang?
Nilai sosial, pengetahuan sosial, norma sosial, status dan peran, semuanya akan tercerabut. Perbincangan di pasar rakyat akan digantikan media di internet dan dengan penjualan saham cukup fantastis. Pasar rakyat hanya dikelola preman, selisihnya 10.000-20.000, hanya untuk hidup. Kalau masuk mal, lebih besar biaya parkirnya, apalagi kalau ada sistem hitungan jam, dan tidak ada interaksi.

Saat Mas terjun ke lapangan, apa pedagang di pasar rakyat pernah mengeluhkan hal itu?
Tidak pernah, mereka tidak punya kekuatan untuk mengeluh. Ada Permendag yang mengatur jarak pasar rakyat dan pasar swasta. Kasus simpel saja, bagian belakang Pasar Ambarrukmo itu pasar rakyat. Kita hanya menunggu waktu. Memang segmennya berbeda, tapi menunggu waktu, seberapa banyak orang-orang akan beralih ke mal. Revitalisasi dilakukan, tapi belum ada semangatnya.

Jadi pembelajaran baru dilakukan ke penjual, dan belum ke pembeli. Menurut Mas, bagaimana cara mencegah hilangnya pasar rakyat?
Tidak mudah untuk mencegah. Upaya yang dilakukan adalah, saya masih berharap ada kebijakan pemerintah yang kemudian menegaskan ada perlindungan terhadap pasar rakyat. Caranya bagaimana? Membatasi jumlah mal atau perdagangan yang mempunyai similaritas dengan dagangan pasar rakyat. Biarkan pasar-pasar yang tumbuh memiliki ciri berbeda. Dengan cara seperti itu, saya percaya akan memperpanjang usia pasar rakyat. Meskipun, setelah kita mengumumkan sebagai negara industri, tetap akan hilang.

Pemerintah biasanya tidak bergerak bila tidak didorong. Bagaimana peran masyarakat dan akademisi untuk mengatasi keadaan ini?
Pada level akademik, saya mencoba mengusulkan ke pemerintah. Beberapa waktu lalu, saya menulis tentang pasar swasta. Hantaman pasar swasta yang luar biasa dari ritel. Mereka berdagang di mal. Namun, memang tidak mudah meyakinkan masyarakat untuk memilih. Saya masih berharap pada pemerintah untuk mendorong kebijakan yang melindungi. Ancaman ini tidak mudah. Saya senang ada komunitas yang mencoba menggali lagi sejarah tekstil, orang-orang India di Yogya yang dilakukan Antariksa “Kunci Cultural Studies”.

Kenyataannya, bos tekstil terbesar di Indonesia, kan, memang India...
Ya, betul, tapi itu kan menjadi social power, social capital saat kembali diwacanakan. Kita tahu India menyumbang komoditas terbesar. Lalu, kita ini apa? Dengan melihat sejarahnya melalui jalan yang dilakukan Antariksa dan kawan-kawanna itu, kita jadi tahu di Indonesia juga pernah ada tekstil sendiri. Kalau ada komunitas pencinta kereta api, kenapa tidak ada komunitas pencinta pasar rakyat? Penggagas yang ingin membikin komunitas itu tidak perlu repot membuat lembaga baru, pasar rakyat adalah lembaga itu sendiri. Masyarakat harus memiliki kesadaran untuk membentuk komunitas itu. Saya khawatir, kalau tidak ada pencinta pasar, semakin lama orang-orang di pasar rakyat akan merasa tidak diperhatikan. Bagus kalau pedagang masih punya orientasi berdagang. Nah, sebaliknya, kalau mereka tidak berdagang lagi, tentu akan repot. Pasar rakyat menyediakan lapangan kerja. Yang spontan. Tidak punya uang, tinggal ambil ketela, rambutan dari belakang rumah, bisa langsung dijual di pasar rakyat. Mau dicari ke mana yang seperti itu lagi?

Yang saya lihat di Pasar Klaten, mereka sudah punya los sendiri untuk kerajinan tangan dan lainnya, mereka menyewa los itu sekarang, jadi tidak secara langsung datang untuk menjual...
Untuk sayuran, tetap jelas, mereka spontan. Produk lainnya, ya, kulakan.

Kenyataannya, semangat para pedagang wirausaha itu terpisah-pisah. Mereka membangun wirausaha terpisah dari pasar rakyat...
Ya, pasar rakyat saat ini memang dibentuk menjadi kelas-kelas.

Loncat ke program Unilever. Bagaimana pendapat Mas secara keseluruhan?
Masih seremonial, karena ada tuntutan CSR. Saya bisa maklum. Kan, kalau ingin membangun kesadaran, kita tidak bisa sekali-dua kali saja bertemu, karena kesannya jadi formal. Yang disasar, kan, perilaku sehatnya dan bukan mengganti lantai menjadi keramik. Membangun infrastruktur memang bagus, ada hal yang lebih substansial: bagaimana mendorong kesadaran berperilaku sehat. Itu tidak hanya sekali dalam training dan mendidik pedagang.

Jadi, kalau saya dengar dari cerita mereka, ada tiga program: clean & green DIY, women empowerment, dan lainnya. Menurut Mas itu belum cukup?
Ya, kalau sekali-dua kali, tidak mungkin. Solusi saya, hal itu harus dilakukan. Harus ada agen, siapa yang didorong Unilever untuk membangun pasar sehat? Relasinya bukan hanya pedagang saja, ada preman, tukang parkir, bank pasar, dan lainnya. Kalau hal itu dilakukan intensif ketika seremonial selesai, saya yakin mereka akan berubah. Substansinya adalah tentang bagaimana membentuk perilaku sehat. Bahwa tempatnya bisa di mana saja, dan perilaku sehat itu terjaga.

Apakah Mas sempat bertemu dengan orang-orang dari Yayasan Persada?
Ya, mereka merepresentasikan program. Yang saya maksud agen adalah pedagang, orang-orang yang day-to-day hidup di sana. Datang, tinggal di sana, setiap hari menyapa. Bisa jadi tukang parkir, atau siapa saja yang cukup populer berhubungan dengan pelaku di pasar rakyat yang bisa membangun kesadaran mereka tentang perilaku sehat.


Sunday, August 3, 2014

Keputusan Ely



(Cerpen ini dimuat di Media Indonesia edisi hari ini, 3 Agustus 2014.)

ELY mengemas semua yang tak bisa ditinggalnya. Bahkan suara burung-burung pada pohon akasia yang berkicau sepanjang hari sudah dia masukkan ke dalam setoples. Dengan secongkel cat warna merah jambu dari ayunan di taman belakang rumah, dan cacing-cacing pada tanah gembur dari taman ayahnya.

Saat meninggalkan ayah Ely, ibunya hanya berkata maaf. Ayah Ely di kursi roda tak menyahuti. Ia hanya dapat menatap mata istrinya. Melihat itu, Ely tak kuasa menghamburkan tubuh ke pangkuan ayahnya. Namun, kakak Ely sudah berdiri di belakang kursi roda. Hanya menggelengkan kepala, lantas mengangkat dagu mengusir Ely.

Ely tak tahu mengapa dia harus memihak ibunya yang berselingkuh. Dan mengapa kakaknya dibiarkan menemani ayahnya yang lumpuh. Padahal kakaknya manja dan cerewet. Namun, Ely tak dapat menuntut. Tangannya digenggam erat dan ditarik menjauhi rumah. Bahkan anjing kesayangannya turut menyeret rok Ely menuju mobil. Pergi selamanya dari rumahnya.

Ely enggan memakai sabuk pengaman. Di pelukannya ada akuarium besar yang berisi hadiah pemberian ayahnya. Paman yang melarikan Ibu dari ayah Ely menyetir di jok sebelah, membiarkan Ely dimaki ibunya. Meski lantas ibunya mengalah dan mengalihkan perhatian ke bayi yang menggeru di jok belakang.

Dia menoleh benci ke bayi yang memisahkan ayah dan ibunya, dan lantas ke ibunya. Dan kemudian mereka masing-masing berlagak tak punya mulut dan lagu yang tak diselerai Ely terputar sepanjang jalan.

Rumah paman yang dia benci itu memang lebih megah. Taman yang lebih luas, lahan parkir dan mobil yang lebih banyak, dan kaca-kaca jendela yang lebih besar. Ely yakin ibunya akan betah menjahit sembari menekuri panorama danau di belakang rumah. Tak akan ada gangguan dari derit kursi roda dan bau pesing sarung ayahnya.

Kamar baru Ely tujuh kali lipat lebih luas. Dengan grand piano, biola, papan catur, busur dan anak panah, rak-rak buku ensiklopedi, dan semua yang Ely rasa tak dibutuhkannya. Dibukanya setoples-setoples yang dia bawa. Ely melihat burung-burung yang biasa dilihatnya di pohon akasia rumahnya lantas bertengger pada grand piano, cacing-cacing seketika menggemburkan lantai kamar dan rumput teki tumbuh subur darinya, dan rak-rak buku berubah menjadi ayunan.

Maka, Ely lantas tergesa berlari keluar kamar. Dia bawa akuarium besarnya ke ruang tengah. Ditebarkannya barang-barang dari akuarium itu di sepenjuru ruangan. Seketika seluruh bagian rumah paman yang dia benci itu berubah menjadi rumah ayahnya. Tiap momen ketika ayahnya memberikannya hadiah terulang di hadapan Ely. Dia menonton semua itu dari sofa hingga tertidur lelap.

Barang-barang itu habis dibakar ibunya di belakang rumah saat Ely terbangun.

“Kenapa Ibu tega membakar barang-barang Ayah?” Ely berlari ke tengah api dan memadamkannya dengan tubuhnya.

Rok bunga-bunga Ely mulai terbakar saat Ely dapat meraih tongkat kasti ayahnya. Orang-orang berseragam pelayan membawa baskom berisi air dan bergegas menyiraminya.

“Kenapa kamu rela terbakar untuk tongkat kayu tak berguna itu?” Ibunya mendekap Ely yang basah kuyup.

“Kenapa Ibu memilihku? Kenapa Ibu tak tinggalkan aku dengan Ayah?”

Ibunya tak menjawab dan hanya mendekapnya semakin kencang.