Sunday, August 3, 2014

Keputusan Ely



(Cerpen ini dimuat di Media Indonesia edisi hari ini, 3 Agustus 2014.)

ELY mengemas semua yang tak bisa ditinggalnya. Bahkan suara burung-burung pada pohon akasia yang berkicau sepanjang hari sudah dia masukkan ke dalam setoples. Dengan secongkel cat warna merah jambu dari ayunan di taman belakang rumah, dan cacing-cacing pada tanah gembur dari taman ayahnya.

Saat meninggalkan ayah Ely, ibunya hanya berkata maaf. Ayah Ely di kursi roda tak menyahuti. Ia hanya dapat menatap mata istrinya. Melihat itu, Ely tak kuasa menghamburkan tubuh ke pangkuan ayahnya. Namun, kakak Ely sudah berdiri di belakang kursi roda. Hanya menggelengkan kepala, lantas mengangkat dagu mengusir Ely.

Ely tak tahu mengapa dia harus memihak ibunya yang berselingkuh. Dan mengapa kakaknya dibiarkan menemani ayahnya yang lumpuh. Padahal kakaknya manja dan cerewet. Namun, Ely tak dapat menuntut. Tangannya digenggam erat dan ditarik menjauhi rumah. Bahkan anjing kesayangannya turut menyeret rok Ely menuju mobil. Pergi selamanya dari rumahnya.

Ely enggan memakai sabuk pengaman. Di pelukannya ada akuarium besar yang berisi hadiah pemberian ayahnya. Paman yang melarikan Ibu dari ayah Ely menyetir di jok sebelah, membiarkan Ely dimaki ibunya. Meski lantas ibunya mengalah dan mengalihkan perhatian ke bayi yang menggeru di jok belakang.

Dia menoleh benci ke bayi yang memisahkan ayah dan ibunya, dan lantas ke ibunya. Dan kemudian mereka masing-masing berlagak tak punya mulut dan lagu yang tak diselerai Ely terputar sepanjang jalan.

Rumah paman yang dia benci itu memang lebih megah. Taman yang lebih luas, lahan parkir dan mobil yang lebih banyak, dan kaca-kaca jendela yang lebih besar. Ely yakin ibunya akan betah menjahit sembari menekuri panorama danau di belakang rumah. Tak akan ada gangguan dari derit kursi roda dan bau pesing sarung ayahnya.

Kamar baru Ely tujuh kali lipat lebih luas. Dengan grand piano, biola, papan catur, busur dan anak panah, rak-rak buku ensiklopedi, dan semua yang Ely rasa tak dibutuhkannya. Dibukanya setoples-setoples yang dia bawa. Ely melihat burung-burung yang biasa dilihatnya di pohon akasia rumahnya lantas bertengger pada grand piano, cacing-cacing seketika menggemburkan lantai kamar dan rumput teki tumbuh subur darinya, dan rak-rak buku berubah menjadi ayunan.

Maka, Ely lantas tergesa berlari keluar kamar. Dia bawa akuarium besarnya ke ruang tengah. Ditebarkannya barang-barang dari akuarium itu di sepenjuru ruangan. Seketika seluruh bagian rumah paman yang dia benci itu berubah menjadi rumah ayahnya. Tiap momen ketika ayahnya memberikannya hadiah terulang di hadapan Ely. Dia menonton semua itu dari sofa hingga tertidur lelap.

Barang-barang itu habis dibakar ibunya di belakang rumah saat Ely terbangun.

“Kenapa Ibu tega membakar barang-barang Ayah?” Ely berlari ke tengah api dan memadamkannya dengan tubuhnya.

Rok bunga-bunga Ely mulai terbakar saat Ely dapat meraih tongkat kasti ayahnya. Orang-orang berseragam pelayan membawa baskom berisi air dan bergegas menyiraminya.

“Kenapa kamu rela terbakar untuk tongkat kayu tak berguna itu?” Ibunya mendekap Ely yang basah kuyup.

“Kenapa Ibu memilihku? Kenapa Ibu tak tinggalkan aku dengan Ayah?”

Ibunya tak menjawab dan hanya mendekapnya semakin kencang.