Thursday, November 17, 2011

Mengikuti Rasa Rindu




Pertemuan dan Perpisahan
“Dengan kereta malam ku pulang sendiri
Mengikuti rasa rindu pada kampung halamanku
Pada ayah yang menunggu, pada ibu yang mengasihiku
Tembang kenangan dari Franky & Jane tersebut mengabadikan perjalanan seorang individu; seorang diri, memenuhi rindunya bertemu dengan orangtua dan keluarga di kampung halaman, tentang bagaimana kemudian dia belajar mengenai kehidupan dari orang-orang yang dia temui di dalam kereta. Dia bertemu seorang ibu yang anaknya telah tiada; dan wajah anak itu mirip dengannya. Kesan akrab tergambar dari situasi tersebut.
Hanya di gerbong kelas ekonomi atau bisnis, orang-orang asing dapat leluasa saling bercengkerama. Setiap tahunnya menjelang hari lebaran, ribuan kepala mengisi gerbong-gerbong KA kelas ekonomi; mengantarkan para perantau pulang ke tanah kelahiran. Sebutlah, melestarikan tradisi. Padahal KA kelas ekonomi bukan moda transportasi yang ramah. Banyak kasus pencopetan dan penodongan senjata tajam terjadi di dalam kereta. Kenyamanan pun harus ditanggalkan; karena alasan kebersihan dan jumlah penumpang.
Banyak yang tetap menggunakan jasa KA kelas ekonomi dan tidak memedulikan tradisi kesemrawutan yang bakal terjadi di hari lebaran. Tumiso, tukang becak yang telah bekerja selama 10 tahun di Stasiun Lempuyangan, mengatakan ia selalu menyempatkan diri pulang ke kampung halaman dengan KA kelas ekonomi. Karenanya, meski izin cuti istrinya baru keluar pada hari H, mereka sekeluarga akan tetap pulang. Ia memilih pulang dengan moda transportasi KA kelas ekonomi karena ongkos yang lebih murah 4 sampai 5 kali lipat daripada tarif kelas bisnis. “Saya merasa berdosa kalau tidak pulang. Silaturahmi setahun sekali kepada orangtua. Minta restu dan minta maaf, itu penting. Uang cuma cukup kalau naik kereta ekonomi,” ujarnya.