Sunday, December 1, 2013

Ajal

 
(Cerpen ini pernah dimuat di Media Indonesia, 9 Juni 2013.)


PRIA itu meninggal dua tahun lalu. Menjelang hari kematiannya, saat terbangun dari tidur, ia telah habis menggigiti lidahnya hingga putus. Ia biarkan lidah itu mengering di seprai. Namun, kalian perlu tahu, ia meninggal bukan karena lidahnya putus. Pagi itu, ia masih dapat beranjak ke kamar mandi, bercermin, dan menyeringai lebar ke arah dirinya sendiri. Tak ambil pusing melihat bibirnya yang merah oleh darah.

Rumahnya hari itu sepi. Keluarganya pergi menginap ke vila di wilayah pegunungan. Setelah mengambil koran di teras depan dan menyetel televisi, ia membuka keran air untuk mengisi bak mandi, lantas pergi ke dapur dan di sana menyiapkan sarapan telur ceplok tanpa garam dan kopi luwak tanpa gula. 

Selama menunggu bak penuh terisi, ia merinci detail matriks kerjanya hari itu. Sehari-hari, ia menjadi reporter lepas. Setiap pagi, ia selalu merinci daftar kegiatan baru yang dapat ia lakukan selain meliput dan menulis berita. Hari itu, ia berencana meliput desas-desus presiden yang hendak dimakzulkan dan perkara kenaikan harga daging sapi. Karena dua-duanya berkaitan dengan para pejabat, ia tinggal pergi menuju tempat yang sama. 

Sekilas lalu di televisi ia melihat seorang pria yang mati dikeroyok karena mengumpat Tuhan di internet. Lantaran kejadian yang ia lihat itu, ia tiba-tiba teringat akan Karl Jaspers—seorang eksistensialis Jerman yang selama enam tahun tiga bulan di masa kuliah pernah ia dewakan. Hari itu setelah meliput perkara daging sapi, ia berencana membaca ulang empat situasi batas dalam teori Jaspers itu, tentang 1) Kematian, 2) Penderitaan, 3) Perjuangan, dan 4) Kesalahan. Keempatnya berkaitan dengan takdir si pengumpat Tuhan. 

Selain menambahkan daftar bacaan untuk hari itu, masih ada tiga target kegiatannya yang belum tuntas: 1) Menerjemahkan I La Galigo ke dalam bahasa Inggris dan rumpun bahasa Semitik serta Armenia, 2) Belajar melukis dengan aliran ekspresionisme, dan 3) Berkorespondensi melalui surel dengan para pengoleksi tengkorak. 

Setelah merapikan dan memasukkan kembali semua perkakas pewartaannya ke dalam koper tua, barulah ia menuju kamar mandi. 

Pada hari-hari biasa, kulitnya yang terkikis oleh sabun tidak seberapa tebal. Namun, kali ini, setelah diguyur secentong air, seluruh bagian kulitnya dalam sekejap terlekang. Air yang dingin gigil pagi itu seolah-olah kawah candradimuka. Setelah kulit dari ujung rambut hingga mata kakinya rontok, otot dan saraf pria itu seketika saja mengering dan mengeras. 

Bila kalian pikir pria itu langsung mati begitu seluruh permukaan kulitnya lepas dari tubuh, kalian salah besar. Dengan telapak kaki hanya berbalut otot yang membatu, ia keluar dari kamar mandi sambil membaluti tubuh dengan handuk. Otot-ototnya yang membatu terkikis sedikit demi sedikit hingga sepanjang ia berjalan kemudian menyisakan genangan air yang becek berbaur butiran-butiran kulit yang menjelma pasir.
 

Wednesday, November 20, 2013

Tentang Proses Kreatif #SPTJKYJTC

Saya tak pernah mengharapkan sesuatu yang besar dari novel ini. Memang sejak kenal penghargaan DKJ, dan juga penghargaan KLA, kira-kira sewaktu kelas 3 SMA, di tahun 2008, saya pernah berharap untuk memenangkannya. Muluk-muluk, saya pernah ingin menjadi salah satu penulis muda berbakat-nya KLA. Namun, kita semua menua, dan saya sudah tak peduli pada penghargaan, mungkin itu yang namanya menjadi dewasa. Setelah karya saya terbit, ternyata menerima pendapat dari pembaca lewat surat-e sudah melipur semua lara (saya ketemu alasan kenapa lebih suka menaruh alamat surat-e daripada akun Twitter dalam biodata pengarang, karena obrolannya jadi lebih panjang).

Perjalanan menulis saya, seperti banyak kanak-kanak lainnya, dimulai sejak saya mengenal huruf. Kakek saya seorang guru, ia yang pertama kalinya mengajari saya baca-tulis. Dua tahun setelahnya, saya benar-benar fasih menulis dan membaca apa saja, waktu kelas 2 SD. Guru saya saat kelas 2 SD itu menemukan kesukaan saya berimajinasi. Diminta menggarap tulisan pendek, saya justru selesaikan dalam dua halaman folio bolak-balik. Karena hal ini, ibu saya dipanggil ke sekolah dan disarankan untuk membimbing saya ke dunia tulis menulis. Entahlah, bukannya dibimbing, saya lupa apa yang membuat saya setelahnya terpental dari dunia satu ini.

Seingat saya, waktu SD, saya sangat suka membaca buku puisi, meski juga suka bolos sekolah. Pinjam satu buku, bolos tiga bulan. Pinjam buku lainnya, bolos hingga enam bulan. Saya ingat, setelah sekian bulan tak sekolah, saya tiba-tiba mesti duduk di kelas 4 SD. Di tengah teman-teman saya yang paham pelajaran Matematika tentang kali silang. Saya duduk di bangku belakang kelas, menggambar saat guru Matematika menjelaskan di papan. Ibu saya dipanggil ke sekolah lagi, kali ini diminta memindahkan saya ke SLB. Kata guru saya, di kelas, saya tampak seperti autis. Kerjanya cuma menggambar dan menulis puisi dalam notes kecil. Lagi-lagi, Ibu saya tak menuruti saran guru saya.

Kembali ke buku puisi. Saya pinjam semua buku yang ada kata “puisi”-nya dari perpustakaan SD, SMP, dan perpustakan daerah. Ada seorang teman saya, waktu kelas 1 SMP, yang mencibir saya saat dia membaca buku yang saya baca. Ada kritik-kritik yang ditujukan untuk salah satu puisi. Saya suka membaca kritik-kritik sastra. Pendapat yang disampaikan untuk puisi itu: rimanya, maknanya, entahlah apa lagi, saya lupa. Tidak hanya berhenti dengan membaca, saya membuat puluhan puisi, dan bahkan menciptakan lagu dari puisi itu. Sampai kemudian saya menemukan terminal lain.

Saat itu, kelas 2 SMP, di jam istirahat, kawan saya memamerkan cerpen yang dibuatnya. Banyak yang menggemari tulisan kawan saya itu. Saya pikir, cuma menulis cerita... hal itu seharusnya mudah. Pulang dari sekolah, saya terpekur di depan komputer dan mengetik sebuah cerita pendek. Judulnya “Kesepian Pagi Hari”. Saya lupa, duluan mana, ibu saya menderita kanker atau saya memulai cerita dengan tokoh yang menderita kanker. Yang jelas, tokoh utama cerpen perdana saya itu mati karena kanker.

Thursday, November 14, 2013

Si Malakama



 (Cerpen ini dimuat di Bali Post, 4 Januari 2015

SUATU hari, dalam tidurku, aku mengingat lagi semua penitisanku. Setelah aku terjaga, segera mimpiku itu kuumumkan ke jalanan.

Seharian aku meyakinkan orang-orang yang lalu-lalang. Aku bilang kepada mereka, di salah satu kelahiranku aku pernah menjelma burung yang terbang bebas di angkasa. Ketika musimnya tiba, aku dan sekawanan burung akan terbang dari utara ke selatan. Aku menunjukkan bagaimana bebasnya aku terbang. Kukepak-kepakkan tangan dan berlari demikian kencang dari satu gang ke gang lain.


Dengan gigih, setelahnya kuceritakan aku juga pernah menjelma menjadi semut. Kuterangkan apa yang biasa dilakukan para semut pekerja. Kuperlihatkan kepada mereka bagaimana caranya membungkuk hormat kepada sang ratu. Aku tunjukkan caraku meliuk-liuk membawa bongkahan gula-gula besar dengan gigiku. Bagaimana biasanya aku bertikai dengan semut-semut lainnya saat gula-gulaku hendak direbut.

Makin hari aku makin kerasan mempertontonkannya. Bedanya, makin hari, aku mendapatkan uang dari apa yang kulakukan. Receh demi receh memenuhi jalanan. Mereka melempar begitu saja uang-uang logam itu. Mereka pikir aku membadut.

Aku terus berusaha. Kulakukan beragam cara agar mereka percaya. Aku meloncat dari satu genteng rumah tetangga ke genteng tetangga lainnya dan mengaku bahwa aku pernah hidup menjadi kera di kawasan hutan Kalimantan Selatan.

Anak-anak kecil di sekitar rumahku dengan sukacita bertepuk-tepuk riang, tertawa-tawa, sesekali meminta naik ke punggungku sewaktu aku beratraksi laiknya simpanse sirkus. Untuk tontonan itu, mereka memberikanku roti bekal mereka ketika jam istirahat sekolah.

Aku hanya perlu mendongengi mereka setiap hari. Sembari meloncat-loncat, meliuk-liukkan tubuh, merayap di tanah, semuanya kulakukan. Menggonggong, menjerit, mencicit, mendesis, tiap hari kusiarkan bunyi apa pun yang bisa kuperdengarkan kepada mereka.

Untuk semua itu, mereka menyayangiku lebih dari apa pun.

Ziarah




(Cerpen ini pernah dimuat di Jawa Pos, 21 Oktober 2012.)

21 APRIL 1978.

BEGITU tertera pada dua kayu nisan yang tertancap di puncak bukit pagi itu. Dengan cuaca yang sama, dua puluh tahun lalu, aku ingat betul, aku hampir tak mengenali separuh orang yang berdiri mengelilingiku di bawah payung-payung gelap mereka.

Melintasi sepanjang jalan setapak kembali ke rumah, aku ingat bagaimana aku dibawa pergi oleh mobil-mobil panjang besar, oleh orang-orang yang belum genap sehari kukenal. Tengah malam di waktu sebelumnya, keluarga bibi yang tinggal di sebelah rumah—satu-satunya tetangga yang ketika itu dekat dengan keluargaku—mengantarkan mereka kepadaku. Masih separuh terjaga di sebelah peti mati kedua orang tuaku, aku mendengar percakapan mereka, tetapi tidak kuteruskan.

Mereka menghampiriku dan memperkenalkan diri sebagai kerabat dari pihak ayah, tempatku berlindung setelah segala prosesi pemakaman orang tuaku berakhir. Saat itu aku sungguh takut.

Masih kuingat betul apa yang menyebabkan kedua orang tuaku berpulang. Saat mendapat kabar, sepulang dari berburu kelinci bersama teman-teman sebaya, aku berlari menyusuri jalan setapak berkilo-kilometer jauhnya, hanya untuk memastikan aku masih bisa menyelamatkan kedua orang tuaku.

Saat aku datang, api telah melahap gudang tempat ayahku biasa bekerja. Aku berkeliling ke dalam rumah, mencari ibu. Kudapati, para tetanggaku berusaha memadamkan api dengan baskom-baskom kayu berisi air. Beberapa dari mereka bilang ibuku juga terperangkap di dalam rumah.

Segala upayaku untuk dapat mencapai gudang digagalkan. Mereka berbondong-bondong memelukku dan menghentikan niatku menerobos api. Mereka menghentikan segala teriakanku dan mendekapku seerat mungkin.

Wednesday, November 13, 2013

#5BukudalamHidupku: Filsafat Ilmu, Buku untuk Anak Badung

Saya rasa kamu tidak perlu menjadi seorang kanak-kanak yang tak punya masa depan untuk menyukai buku ini. Meskipun, saya perlu. Rata-rata pembaca di Goodreads memberi rating tinggi untuknya dan memuji penyusunnya, Jujun S. Suriasumantri. Ada yang menjadikan buku ini pengantar mata kuliah wajib, ada pula yang menyanjungnya karena pengaruhnya pada pemikiran kritis. Saya berhutang banyak padanya karena buku ini menjadi semacam jembatan bagi saya.

Semasa SD, saya termasuk anak badung dalam artian sesungguhnya. Suka menghitamkan kulit dengan berjemur main layangan di loteng rumah teman, berkejaran saat tali nilon dari layangan yang beradu di langit putus, atau sekadar jalan-jalan dengan kaki telanjang di sungai. Pernah bolos sekolah hingga enam bulan. Pernah ditelepon kepala sekolah SD sementara saya sedang main lompat tali di halaman rumah, dan menyuruh Nenek berbohong. Saya cuma berteman dengan laki-laki. Laku saya saban hari hanyalah menjadi kanak-kanak yang tak kenal sekolah: bangun pagi, kelayapan keluar rumah, pulang malam; setelah adu kelereng, main layangan, mampir di rumah teman ini dan itu, mencuri ubi dari halaman rumah orang, bikin ogoh-ogoh, dan entahlah apa lagi.

Sementara itu, di sekolah, saya tak pernah memperhatikan pelajaran. Masa bodoh dengan guru bahasa Indonesia dan Matematika di depan kelas. Saya asyik menggambar di sudut kelas paling belakang. Pernah, saya ditegur dan diminta untuk ajak orangtua ke sekolah. Ibu saya dinasihati untuk memindahkan saya ke sekolah luar biasa dalam artian sesungguhnya. Saya tak ingat apa yang membuat saya berkarakter seberandalan itu.

Buku yang saya temukan saat kelas 1 SMP ini mengubah segalanya, dalam artian sesungguhnya. Saya sebagai bocah lugu yang tak punya masa depan ini, yang lulus dari SD dengan nilai IPS 5,4 di ijazah, tiba-tiba menemukan buku “Filsafat Ilmu” di rak ibu saya. Gambar di sampulnya lucu, gajah yang pegang macam-macam. Kelak saya mengenalnya sebagai Ganesha, dewa kecerdasan dan adik dari Dewi Saraswati.

Saya baca macam-macam sebelum ketemu “Filsafat Ilmu”, yang kebanyakan berupa cergam: Candy-candy-nya Yumiko Igarashi, Doraemon-nya Fujiko F. Fujio, Dewi Matahari-nya Suzue Miuchi. Juga seri awal Harry Potter edisi bahasa Indonesia. Namun, tak ada yang mengubah saya sedahsyat apa yang dilakukan buku ini.

Ada orang yang tahu di tahunya
Ada orang yang tahu di tidaktahunya
Ada orang yang tidak tahu di tahunya
Ada orang yang tidak tahu di tidaktahunya

(Halaman 19)

Ditambah dengan ilustrasi-ilustrasi yang sederhana nan lucu; ilustrasi Einstein yang bersimpuh dan tampak kebingungan memikirkan rumus matematika, juga ilustrasi yang berbunyi “Orang itu adalah ilmuwan ahli fisika nuklir yang diculik makhluk halus dan diselamatkan oleh dukun yang ahli ilmu gaib...” atau “Dia tidak tahu apa-apa kecuali fakta” dengan ilustrasi orang-orang yang sibuk berdiskusi dan tak peduli terhadap satu sama lain, dan banyak lagi. Anak kecil mana yang tidak jatuh cinta menemukan buku yang penuh pertanyaan dan gelitikan tetapi disajikan dengan jenaka ini?

#5BukudalamHidupku: Buku Pertama dalam Hidup, Mahabharata

Sekian belas tahun lalu, saya belajar baca-tulis dari Kakek yang sedang senggang. Kami duduk-duduk santai di depan kamar Kakek. Tiba-tiba, ia ambil buku tulis dan pulpen. Lantas, ia menulis huruf-huruf alfabet dengan berurutan. Saya ingat, huruf pertama yang paling rumit bagi saya adalah “S” karena saya tak bisa membedakannya dengan angka “5”. Beberapa hari setelah belajar baca-tulis, orangtua saya membelikan cerita bergambar (cergam) bikinan R. A. Kosasih: Mahabharata dan Bharatayudha. Buku pertama yang kemudian menjadi teman yang saya ajak ke mana pun, sampai saya fasih baca-tulis.

Sebelum usia lima tahun, menjelang saya tidur dan giliran Ayah mendongeng, sudah pasti Ayah menceritakan kisah-kisah pewayangan. Mahabharata, Bharatayudha, dan Ramayana tidak pernah absen dari daftar cerita yang ia repetisi setiap malam. Sementara Ibu hanya hafal satu cerita: Sampek Engtay, dan satu cerita itu yang kerap dia repetisi. Mungkin karena mereka bosan saya mintai mendongeng, maka dibelikanlah saya buku berukuran kitab yang judulnya “Mahabharata” dengan gambar tokoh wayang itu. Kertasnya kertas buram, baunya enak sekali, seperti mencium aroma dupa, tapi lebih pekat dan bukan  beraroma bunga. Gambar-gambar tokohnya juga tegas seperti digambar pakai tinta Cina, dan cergam ini menggunakan huruf-huruf kapital untuk teks di balon-balon dialog.  

Dalam prakata, ketahuan bahwa kisah Mahabharata diolah jadi cergam oleh R.A. Kosasih pada tahun ’50-an. Karena masih banyak peminat dan perlu terus dicetak ulang, cergam yang saya akses adalah versi EYD sesuai aturan pemerintah.

Alur Mahabharata linear dan kejadian-kejadiannya menerapkan hukum karmaphala di mana setiap perbuatan tokoh akan mendapat ganjarannya sepanjang cerita ke depan. Cerita dibuka dengan perburuan Prabu Sentanu, Raja Hastinapura, diiringi pasukan kerajaan. Dalam perburuan itu, ia tersesat dan terpisah dari pasukannya. Setelah lama mencari-cari pasukannya, ia kelelahan dan beristirahat di bawah pohon. Di sana, dia kemudian bertemu seorang putri tanpa asal usul yang kelak dijadikannya permaisuri.

[Ketika itu, teringatlah sang prabu kepada pesan ayahandanya dahulu bahwa bilamana berjumpa dengan seorang putri di dalam rimba, janganlah menanyakan asal usulnya, kawinilah dia segera dan jadikan permaisuri, sebab putri itu adalah anugerah dewata.]

Dipintalah sang putri menjadi permaisuri. Uniknya, sang putri menetapkan syarat:

[Inilah permohonan hamba: bahwa kesatu, gusti jangan sekali-kali bertanya asal usul hamba. Kedua: bila di kemudian hari ada perbuatan hamba yang aneh yang menyimpang dari hukum kemanusiaan jangalah gusti prabu berani menegurnya. Ingatlah itu gusti...]


Friday, September 13, 2013

Untuk Nenek: Memorial di Tahun 0

Ada katak-katak dari lagu-lagumu di masa kecilnya yang setia hadir di pemakamanmu. Dia pernah berpikir akan selamanya kau menyanyikan lagu-lagu itu untuknya. Namun di malam esoknya, kau tak lagi menyanyikan lagu itu. Kau membisu dan menepuk-nepuk tubuhnya. Jam di dinding yang kemudian menidurkan cucu semata wayangmu. Hingga kemudian, pada dini hari itu dia dibangunkan oleh kedua orangtuanya, dipisahkan dari ranjangmu.

Ada ikatan yang kuat antara gadis berusia lima tahun itu dengan dapur. Mangkok-mangkok yang dia buat penuh tepung, pemanggang dengan adonan roti yang gosong. Hingga suatu masa, kawan-kawan sebayanya tiba-tiba menarik cucumu dari dunia imajinernya dengan dapur. Dia lantas bermain dengan piring dan gelas plastik, daun-daun dan buah-buah kecil yang ditumbuk, dan berpura-pura menggoreng di wajan. Adonan kopi, gula, dan tepung yang saling lengket dipikirnya dapat menjadi permen.

Ada tangisan di saat dia baru mengerti tentang terbatasnya umur manusia. Hari itu kali pertama dia dipisahkan dari pengasuh yang menjadi temannya sejak kecil. Di mobil itu, di sisimu, dia menangis meraung melihat gadis remaja itu melambaikan tangan padanya. Kalian semua mencoba memberi pengertian. Namun cucumu tetap tidak mengerti kenapa orang-orang bisa dengan begitu mudah pergi dan tidak dapat lagi dijumpai. Saat itu, dia kemudian membayangkan bagaimana bila kelak, pertama-tama, ibunya meninggal, lalu ayahnya, diikuti oleh semua orang yang dia kenal. Dan dia tidak bisa berhenti menangis sepanjang hari itu. Kau yang memeluknya demikian erat.

Ada piring-piring dan gelas-gelas yang dia tinggalkan. Dia bermain dengan busa yang memenuhi halaman rumah, lantas meniupi busa-busa itu hingga menjadi balon-balon transparan di udara. Kau tahu bagaimana kemudian dia selamanya terpisah dari piring-piring dan gelas-gelasmu. Mencuci piring-piring dan gelas-gelas ibunya. Dan lalu mencuci piring-piring dan gelas-gelas tantenya.

Ada keterpisahan yang lama di antara kau dan cucumu itu. Bertahun-tahun setelah dia berhenti memelihara anjing, tidak lagi menjelajah persawahan dan sungai-sungai, tidak lagi memanjati pagar rumah tetangga hanya untuk mencuri ubi, tidak lagi membantu teman-teman sebayanya membangun ogoh-ogoh untuk hari Nyepi. Kau tak tahu apa yang dia lakukan dengan buku-bukunya, persaingan di kelas, hal-hal yang dia tekuni. Kalian tidak lagi saling bicara. Ibu dari cucumu membencimu. Cucumu juga ikut membencimu dan mencoba selamanya pergi dari hidupmu.

Dan setelah sekian tahun berlalu, kau yang kemudian selamanya pergi dari hidupnya. [*]

A Memorial. Yogyakarta, 13 September 2013. Setahun setelah Memorial untuk Kakek.

Sunday, August 18, 2013

Hadiah Kontes Review dan Giveaway #SPTJKYJTC

#SPTJKYJTC merayakan ulang tahun pertamanya pada tanggal 13 Agustus lalu. Persis di hari ulang tahun saya, saya memilih melanjutkan sebuah cerita singkat tentang kisah cinta dua anak manusia yang menganggap diri mereka sebagai alien. Saya memulai kalimat pertama di bulan Juni, ketika saya betul-betul merindukan sosok seorang teman, atau malah banyak teman saya yang di tahun 2012 itu seketika menjadi asing. Ada kejadian hebat di tahun itu, yang mengubah begitu banyak susunan di hidup saya.

Jadi bisa dianggap, novel ini bermula bukan dari kisah cinta, tapi upaya saya untuk merangkum keresahan tentang hidup, persahabatan, dan hubungan-hubungan yang kandas demikian cepat.  Alien-alien ini, mungkin, adalah teman-teman yang saya kenal, yang pergi menghilang. Mereka yang ingin melakukan sesuatu, merasa tidak sesuai dengan dunianya. Maka, mungkin ada benarnya kritik soal tokoh utama yang berusia 40 tahun tetapi kegundahannya mirip bocah usia 20-an itu. Saat menulis novel ini, saya membingkai emosi seorang remaja 20-an. Namun, tentu saya dapat berkilah, bisa saja hasrat si tokoh utama telah lama mati, dan sepanjang hidupnya dia berlaku skeptis dan apatis terhadap kehidupan. Memangnya, kenapa pula setiap orang harus melalui pertumbuhan psikologis dengan jalan yang sama?


Saya tidak akan membeberkan lebih jauh tentang hal-hal yang memang saya sengajakan menyimpang. Dan pada akhirnya, bagian yang menyenangkan dari menulis dan menyelesaikan proses "pengadaan" novel ini adalah bahwa saya dapat mengenal banyak orang baru dengan respons positif terhadap novel ini. Saya berterima kasih kepada beberapa orang yang sudah ikut meramaikan kontes review dan giveaway #SPTJKYJTC. Dan selamat untuk mereka yang review-nya terpilih:



Tuesday, July 9, 2013

Giveaway dan Kontes Review Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya




Untuk merayakan sebulan peluncuran novel Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya—dan karena terinspirasi giveaway dan kontes review yang dilakukan seorang teman saya, Tia Widiana—saya ingin bagi-bagi kebahagiaan dengan memberi hadiah kepada pembaca #SPTJKYJTC. Untuk seru-seruan juga, ada giveaway bagi yang pengin baca #SPTJKYJTC tapi belum punya novelnya.

Tuesday, April 16, 2013

#5BukudalamHidupku: Merintis Jalan, Yan Setiawan

Ketika saya menulis ini, saya mengalami fase merasa sangat jenuh dengan dunia tulis menulis. Saya tidak lagi percaya tulisan saya dibaca—di saat ada begitu banyak karya berlimpahan dari segala zaman—apalagi mengandai-andai kalau tulisan saya memengaruhi orang-orang yang membacanya. Saya sangat pesimis dengan pakem menerbitkan buku hingga menjadi best seller, dibaca oleh sejuta orang, dibahas di banyak media. Buku yang sangat memengaruhi saya malah buku yang barangkali tidak dibaca oleh siapa pun.

Buku itu berjudul Merintis Jalan, ditulis Yan Setiawan, tiba-tiba terbaca oleh saya di bangku SD kelas 3, dan kemudian saya curi sewaktu saya kelas 6. Itu kali pertama dan kali terakhir saya mencuri buku dan mengaku-akunya sebagai milik saya. SD saya tidak memiliki perpustakaan, rak-rak buku berada persis di sebelah bangku murid-murid kelas 3. Kelas yang tanpa penerangan lampu. Guru masih menulis di papan tulis hitam dengan kapur.

Saat jam istirahat, teman-teman saya bermain lompat tali di halaman sekolah yang sempit (persis di depan ruang guru dan ruang kepala sekolah). Entah oleh sebab apa, saya tidak pernah bisa bicara dengan teman-teman seusia saya. Buku-buku di rak berdebu itulah yang kemudian menggantikan fungsi sosial mereka. Merintis Jalan—entahlah sudah saya baca hingga kali keberapa, sampai akhirnya saya mencurinya alih-alih memfotokopinya.

Buku itu bercerita tentang seorang wanita yang rumahnya—beserta suaminya di dalam rumah itu—dibakar hidup-hidup. Anak mereka satu-satunya diculik. Saya bisa membayangkan dengan jelas bagaimana situasi saat Mak Esah, nama wanita itu, pulang ke rumahnya dan melihat para tetangga tidak melakukan apa pun untuk rumah yang terlalap api itu. Saking terinspirasinya saya dengan kejadian dalam roman itu, saya yakin cerpen saya ini banyak dipengaruhi oleh kisah di sana.

Baru beberapa tahun kemudian, saya bisa mengasosiasikan cerita itu ke kejadian sekitar tahun ’60-an, terutama momen G30S, saat orang-orang yang berafiliasi dengan gerakan kiri dimusnahkan. Mereka dibakar hidup-hidup di rumahnya, atau diseret naik ke truk, untuk kemudian ditembak mati di tebing-tebing, dan jasad-jasad mati itu lantas memenuhi jurang.

Hal itu tidak ditulis Yan dalam bukunya. Ia menulis tanpa pretensi politik apa pun, tetapi bayangan itu muncul saat belakangan ini saya mencoba membaca kembali tulisannya. Saya yakin Yan tidak berkubu pada Lembaga Kebudayaan Rakyat ataupun pihak Manifes Kebudayaan. Yang saya tahu, jejaknya tidak terdeteksi.  Atau, barangkali Yan Setiawan adalah nama pena lain dari Asrul Sani yang punya banyak nama samaran.

Apa yang kemudian diajarkan Yan kepada saya, adalah tentang seorang wanita yang begitu kuat, tidak hilang asanya untuk bertahan hidup meski dunianya yang nyaman—bersama suami dan anaknya—tiba-tiba tidak bisa dia jumpai lagi. Dia kemudian pergi mengasingkan diri, menerabas hutan rimba, berhari-hari kemudian ia menemukan tempat baru untuk tinggal. Saya ingat dengan jelas gambaran ketika ia berdiri di atas sebuah batu, berteriak ke langit, bukan untuk membanggakan pencapaiannya, tetapi untuk memohon kepada Tuhan. Dia meminta untuk diperbolehkan tinggal di hutan itu.

Mak Esah dapat tinggal di hutan itu, seorang diri membersihkan rawa dan lumpur, membangun gubuk dengan kayu dan jerami yang ia temukan di hutan. Dia lalu menanam pohon lamtoro sebagai pagar di depan gubuknya, dan juga sayur-sayuran saat kantong bekal perjalanannya sudah mengempis. Awalnya dia menanam sepetak, kemudian berpetak-petak. Hasil taninya itu lalu dia jual untuk dibelikan garam dan ikan teri, beras atau sabun. Mak Esah menebas sendiri belukar yang menghalangi jalan dari rumahnya ke pasar. Di jalan yang dia lewati pulang-pergi itu kemudian dia bertemu seekor anjing yang kemudian setia menemaninya.

Hidup yang sesederhana itu. Dia mengubah kesendiriannya menjadi sesuatu yang dapat dilalui dengan sukacita. Meski tentu akhir dari roman itu bukan tentang Mak Esah yang hidup sendirian di tengah hutan. Orang-orang yang mengaku-aku dirinya sebagai orang modern kemudian datang ke sana. Tanpa peduli bahwa Mak Esah-lah yang menggali terowongan bawah tanah, membuat gua hingga ke sumber mata air. Tanpa peduli bahwa pohon-pohon yang mereka tebang ditanam oleh wanita tua itu. Tentu saja, seperti kisah-kisah hero dalam dunia angan, Mak Esah tetap menang.

Maka begitulah, bukan Henry David Thoreau—yang kemudian menginspirasi Jack Kerouac menulis novel On The Road dan kemudian difilmkan—ataupun Ralph Waldo Emerson yang mengenalkan kepada saya tentang paham transendentalisme, tentang kesukacitaan hidup yang terbebas dari aturan dan segala perangkat dalam masyarakat, tentang pemberontakan kaum sipil. Atau mengiming-imingi saya akan hidup bersama alam yang tak ternamai dan tak terjamah seperti yang dilakukan para penulis babyboomers di Amerika Latin. Yan melakukannya lebih dulu.

Sayangnya, seperti yang saya bilang di atas—barangkali hanya saya yang pernah mengetahui roman itu. Google pun tidak. Dan saya sangat bahagia memiliki satu buku yang tidak diketahui orang lain, yang kemudian menjadi bacaan favorit saya, yang bahkan saya bawa bersama saya ke Yogya—dan entahlah ke mana lagi.

Sementara apa yang terjadi saat ini? Tulisan yang bagus seolah-olah harus dirayakan, um, dibaca, semua orang. Teman-teman saya punya hobi mengumpulkan daftar karya sastra yang ditulis peraih penghargaan Nobel, Pulitzer, The Manbooker Prize, atau barangkali karya dari peraih DKJ (;p). Mereka tidak seperti saya, yang suka saja jalan-jalan ke toko buku (bekas), mengambil sembarang judul buku dengan paragraf pembuka yang asyik, dan membawanya pulang. Namun, bukan berarti saya tidak mengumpulkan daftar karya pemenang penghargaan-penghargaan itu. Hanya saja, menurut saya, kesan personal hanya bisa diperoleh ketika kamu“menemukan sendiri” para penulis serta buku-buku itu, tanpa dituntun oleh rekomendasi orang lain.

Setelah berkontemplasi berpanjang-panjang begini, mungkin jawaban dari ‘mengapa saya enggan menulis’ ada di dalam diri saya sendiri. Walaupun hanya satu orang saja yang membaca karya saya, sejauh itu memberikan pengaruh, mungkin sudah cukup. Mungkin itulah yang dimaksudkan Kurt Vonnegut dalam kredo menulisnya: “Tulislah untuk satu orang audien”.