Wednesday, September 10, 2014

Transportasi Indonesia: Dari Konsumsi Industri Hingga Kesalahan Pembangunan Kota

 
(Kolaborasi Tulisan dengan M. Misbahul Ulum dan Purnama Ayu Rizky.)
Industrialisasi oleh negara menjadikan Indonesia hanya sebagai konsumen belaka. Tingginya konsumsi kendaraan mengakibatkan kemacetan di kota-kota yang tidak terencana pembangunannya dan hanya meniru (disebut menjiplak, juga boleh) model-model negara lain. Sedangkan, infrastruktur di desa-desa tetap tidak terurus.

Pada dekade ‘70-an, hampir semua negara di Eropa dan juga Amerika Serikat menjadikan gagasan Adam Smith dalam An Inquiry Into the Nature and Causes of The Wealth of Nations sebagai basis menuju gerbang industrialisasi. Meski pengaruh gagasannya yang melahirkan sistem ekonomi kapitalis itu sempat meredup, terutama saat dunia usaha mengalami depresi pada 1929-1930, beberapa ekonom liberal tetap teguh berpegang pada sistem ini. John Maynard Keynes, dalam buku bertajuk The General Theory of Employment, Interest, and Money (1936), menawarkan solusi untuk menyudahi krisis ekonomi asalkan sistem ekonomi tetap mengacu pada semangat kapitalisme. Keynes percaya, ekonomi kapitalisme masih bisa terselamatkan dengan catatan ada sedikit intervensi dari pemerintah.

Berapa besar intervensi pemerintah, itu tak pernah tuntas dijelaskan oleh Keynes. Hal inilah yang kemudian membuat negara merasa memiliki kontrol yang besar. Ian Chalmers (1996) menjelaskan, akar intelektual kebijakan industrialisasi terletak pada abad ke-19. Selanjutnya, antusiasme terhadap industrialisasi melanda seantero Jepang dan dunia Barat. Imbasnya, apa yang semula tak lebih dari tujuan kebijakan berubah menjadi ideologi independensi ekonomi, yang menghendaki peningkatan posisi negara serta titik berat industrialisasi sebagai wahana integrasi nasional.

Chalmers menguraikan, selang Perang Dunia II, retorika nasionalisme dunia ketiga—termasuk Indonesia—dikaitkan dengan agenda pembangunan industri. Industrialisme menjadi unsur utama dalam ideologi pembangunan nasional. Pada masa itu, industri otomotif menjadi tumpuan harapan pembangunan industri dari banyak politisi negara Dunia Ketiga. Gengsi yang terkandung dalam pengembangan manufaktur, yang dalam hal ini diartikan sebagai produksi—dan bukan perakitan—mobil ini menciptakan keterkaitan dengan sektor ekonomi lain.

Mendapat angin segar, negara-negara industri seperti Amerika Serikat, Kanada, Inggris, dan Australia pun kian giat memasarkan produksi mobil ke Dunia Ketiga. Seperti yang diungkapkan Henry Ford, ekspansi mobil ini juga terpengaruh kebijakan industri nasional yang menuntut perusahaan perakitan mobil merelokasi pasar ke negara Dunia Ketiga. Di Indonesia, industri otomotif didaratkan lewat kolonialisme Belanda. Belanda mengusung ide ekonomi kolonial, di mana mereka membebaskan ekonomi Indonesia dari ketergantungan terhadap sektor pertanian serta ekspor primer, dan menciptakan struktur ekonomi yang seimbang.

Di sisi lain, pemerintah kolonial juga menghasilkan dominasi asing terhadap seluruh sumber daya ekonomi yang penting, dan lingkungan sosial menyediakan lahan subur bagi perkembangan sentimen anti-asing. Dengan demikian, hasil perkembangan penting dari masa kolonial Indonesia adalah tekanan politik bagi pribumisasi pemilikan.

Ikhwal ini, ada silang pendapat di antara politisi dan ekonom Indonesia era 1950-an. Mereka terbagi dalam dua poros: dalam negeri dan luar negeri. Dr. Soemitro Djojohadikusumo—anggota PSI—mewakili pihak luar negeri menghendaki adanya penanaman modal asing, tetapi juga tampak siap siaga melancarkan intervensi demi melindungi bisnis pribumi. Sebaliknya, para politisi PKI mendesakkan nasionalisasi terhadap hak milik asing meski juga menganjurkan proteksi negara terhadap seluruh modal nasional, termasuk bisnis milik orang Tionghoa.

Di era ini, ada usaha yang ekstrem dari mereka yang pro-Sumitro untuk meneguhkan peran borjuasi pribumi. Lewat kebijakan Benteng buatan Dr. Juanda, Menteri Kemakmuran Rakyat, kelompok bisnis pribumi berhasil melesakkan proteksi negara; pada 1951 impor mencakup 10 persen; 1952 impor diperluas hingga 25 persen; dan 1954 tercakup 85 persen dari jenis barang impor. Pada suatu waktu, jumlah ini bahkan tercatat menembus 4.000 importir.

Dalam hal industri otomotif, sekelompok pengusaha pribumi dengan cepat dapat mengontrol impor mobil. Di kala kecenderungan nasionalisme ekonomi berkuasa dan pembangunan industri mendapat titik berat, industri mobil pun dibangun. Sebagian besar mereka yang membangun memiliki keterkaitan dengan PNI

Salah satu pabrik terbesar di Indonesia adalah pabrik perakitan mobil yang dibangun di Tanjung Priok pada 1927, yakni NV General Motors Java Handel Mij. Pabrik ini memulai usaha sesaat sebelum produksi boom pada 1930-an. Selama sepuluh tahun pertama masa produksi, perusahaan itu merakit tak kurang dari 47.000 mobil, sebagian besar mobil Chevrolet dan truk General Motors. Pabrik ini menjadi salah satu manifestasi pertama industri modern di Indonesia.

Monday, September 8, 2014

Tanda



(Cerpen ini juga dimuat di Jakartabeat.net, 19 Mei 2013)
TELEVISI masih menyala. Ikan-ikan di akuarium bergerak-gerak cepat. Dua orang di ruangan itu terjaga dini hari itu, duduk berhadapan di sofa yang dipisahkan sebuah meja. Musik klasik menemani mereka yang saling memberi jarak.

Si gadis dengan laptop di atas bantal pada pahanya, si pria dengan buku bacaan tebalnya. Sebuah mug besar berisi kopi kental di hadapan si pria, satu botol mineral besar di hadapan si gadis.

“Kau tak pulang?” tanya si gadis pada pria di hadapannya.

Si pria menggeleng, “Terlalu larut.” Ia tahu gadisnya akan kembali lenyap dini hari itu. Pertemuan-pertemuan mereka hanya akan berlalu sekedipan mata. “Tulisanmu sudah jadi?” tanya si pria, mengalihkan pembicaraan.

Gadis itu menggeleng, “Nanti begitu aku pergi, pulanglah. Masih ada kereta untuk kembali ke Kyoto sebelum dini hari. Bacaanmu sudah habis, kan?” tukas si gadis.

Tiga buku tebal yang telah habis dibaca oleh si pria tertumpuk di meja. “Kita sudah telanjur memesan kamar hingga esok. Buku-buku ini bisa kubaca ulang, bahkan kubacakan untukmu.”

“Memangnya kau tak lelah?”

“Aku akan mulai ceritakan apa yang kubaca tadi, oke?” Si pria mengambil buku-buku yang telah diletakannya di atas meja. Ia mulai menceritakan apa-apa saja yang ia baca.

Si gadis tak memedulikannya dan terus mengetik.

“Pulanglah,” pintanya lagi. “Nanti bila aku pergi, kau bisa langsung pulang. Kau tampak sangat lelah.”

“Tidak, aku akan tetap di sini. Aku akan menangis sampai pagi.”

Mendengar hal itu, si gadis memejamkan mata, “Jangan bilang begitu.”

“Kau tahu aku rindu bertengkar denganmu. Aku begitu rindu hingga aku dapat berpura-pura semuanya baik-baik saja. Aku tak mau kehilanganmu.”

“Jangan bilang begitu.”

“Aku tak akan bilang begitu bila kau mau berjanji. Jangan menghilang dengan tiba-tiba. Jangan pernah pergi lagi dariku.”

“Itu tak mungkin. Kau tahu kenapa aku selalu berusaha mengusirmu, kan?”

Si pria mengulum senyum, dadanya perih ketika melihat tubuh gadis di hadapannya perlahan-lahan berubah menjadi asap. Air mata menetes di pipi si gadis ketika sebagian tubuhnya telah lenyap. Hingga kemudian, tubuh gadis itu menghilang sepenuhnya.