Monday, October 27, 2008

Lelaki Hujan




SEBUAH jendela dan seorang lelaki hujan, begitu saya menamai suasana di luar rumah di musim hujan pagi itu. Seorang pria berdiri tegap, memandang lurus ke rumah di seberang, mematung dan memegang gitar. Saya terlalu gentar untuk memintanya memandang ke lain arah dan saya biarkan diri saya terus memandang punggungnya, bahunya yang lebar, dan rambutnya yang basah.

Setahu saya, tidak pernah ada kupu-kupu di musim hujan, mereka berdiam entah di mana, bersembunyi yang seolah terasa untuk selamanya. Kupu-kupu adalah lambang jiwa yang tak pernah mati, begitu ibu saya selalu bercerita, yang selalu mengisahkan tentang romantika Sam Pek Eng Tay. Sama seperti yang saya lihat dari sosok lelaki hujan itu, jiwa pecinta yang abadi menanti sang pujaan hati. Seharusnya dia tidak berdiri di bawah hujan, seharusnya dia berlindung pada selimut yang hangat.

Dan kemudian, aura musik mengalun, lelaki hujan itu memainkan gitarnya, dan saya melangkah ke seberang ruangan untuk mengambil harmonika, meninggalkan jendela yang tak kunjung saya tutup. Saya selalu menikmati rintik hujan yang masuk, mendengar rintih pada tiap tetes air yang menyentuh permukaan jendela.

Dan setelah itu, kami memainkan lagu kami.

Perlahan dia menoleh ke arah saya, menatap saya dengan pandangan seolah dia telah pulang ke rumah. Saya berlari keluar dan memegang payung di tangan.

“Selalu ada rahasia di antara kita,” ucap saya sembari memayunginya.

Dia menatap saya, “Sudah berapa lama semenjak saat itu?”

“Tujuh tahun atau kurang.” Saya tersenyum dan meraih tangannya, “Aku selalu melihatmu di depan rumahku, mungkin menangis di bawah hujan?”

“Apa kabarmu?” Ia menggenggam tangan saya erat tanpa menjawab pertanyaan saya.

“Sama seperti dulu. Apa kabarmu?”

Ia mengulum senyum, “Aku tak sempat menyatakan cinta.”