Wednesday, March 23, 2011

Balada Seekor Semut

ALIANA berjalan di tengah keramaian, kegaduhan terjadi di seluruh penjuru ruangan. Dentum musik pameran kala itu mengacaukan pikiran. Berkali-kali dia berusaha menyelinap di antara kerumunan, menerobos lalu-lalang, bertekad keluar entah dari pintu mana pun. Dia harus pergi dari tempat itu. Tak peduli lagi akan janji temu yang dia buat dengan seseorang-yang-tak-benar-benar-dia-kenal. Sudah satu jam dia di sana dan keterlambatan lelaki itu tak dapat dia toleransi.

Makara sudah tiba di pintu gerbang ketika tiba-tiba letusan demi letusan terjadi. Semua lampu padam. Ia menyadari ia memang telah terlambat selama satu jam, tetapi bukan berarti itu dapat dijadikan alasan oleh gadis pembunuh misterius itu untuk kembali melakukan satu kasus pembunuhan lagi di keramaian seperti hari itu.

Para pengunjung berteriak ketika satu persatu orang yang berdiri di sebelah mereka roboh. Kepanikan memenuhi udara.

Makara tahu benar siapa yang hadir di sana. Ia dapat memprediksikan ketika gadis itu berlari ke arahnya dengan menghunuskan pisau yang dipegang di tangan kanan. Tangan kiri gadis itu masih memegang pistol dan mengarahkannya secara acak, menembak sembarangan.

Alangkah bengis, pikir Makara, ketika menangkap tangan kecil gadis itu.

“Salam kenal?” ujar Makara ketika menangkap sorot mata tajam gadis itu sekilas lalu.

Tanpa menjawab, seketika itu juga gadis itu menghilang dari pandangan.

Dan, pertemuan itu berakhir dengan kesia-siaan bagi Makara. Pembunuhan massal yang menewaskan puluhan pengunjung pameran malam itu diberitakan oleh sepenjuru media massa di Indonesia, tanpa seorang pun tahu siapa pelakunya.