Sunday, June 24, 2018

Feminis Transnasional dan Testimoni Jugun Ianfu


Pengantar
Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, menuai kontroversi pada 2007 lantaran ia mengangkat kasus jugun ianfu (comfort women atau perempuan budak seks perang) sebagai persoalan kemanusiaan yang perlu dituntaskan pada masa pemerintahannya. Pernyataannya ini didukung oleh berbagai riset yang sejak tahun 1990 telah menunjukkan bahwa pemerintah Jepang wajib bertanggung jawab terhadap kasus kekerasan yang terjadi pada masa Perang Dunia II tersebut. Sebelumnya, pengadilan terkait kejahatan perang yang menampung pula tujuh dokumen laporan khusus tindak kekerasan seksual oleh militer Jepang telah dilakukan oleh Pengadilan Tokyo pada 3 Mei 1946.[1] Namun, persidangan tersebut berakhir tanpa penyelesaian. Dokumen inilah yang dibuka pada riset-riset di dekade 1990, dan kembali pada 2007 di masa pemerintahan Abe.[2] Kembali terulang, para anggota parlemen ultra-kanan (konservatif) menyatakan tidak ada bukti kuat bahwa para perempuan ini dipaksa untuk memenuhi kebutuhan seksual balatentara Jepang. Bagaimanapun usaha Abe, kelompok ultra-kanan di Jepang berusaha menghapus fakta-fakta riset tersebut. Resolusi dari pihak perwakilan rakyat di Jepang pada Juli 2007 (H. Res. 121) dan pengunduran diri Abe dari jabatannya tampak menunjukkan kasus ini berakhir tanpa penyelesaian—kecuali fakta bahwa pemerintah Jepang membayar sejumlah ganti rugi kepada beberapa negara.[3]

Selain nihilnya hasil persidangan di tahun 1946, kontroversi dan penolakan dari kelompok ultra-kanan dilancarkan sejak 1980-an. Pada 1982, menteri pendidikan Jepang memerintahkan penghapusan sejarah tentang jugun ianfu dari buku-buku teks referensi terkait agresi dan korban perang yang melibatkan Jepang.[4] Namun, ingatan para korban tidak bisa dibungkam begitu saja, pada Desember 1991, seorang jugun ianfu dari Korea Selatan, Kim Hak Sun, mengungkapkan pengalamannya dan mengajukan perkara ke pengadilan. Pernyataannya ini diikuti oleh beberapa korban perempuan lainnya dari sepenjuru Asia, termasuk beberapa korban dari Indonesia. Langkah berani mereka mendorong para aktivis perempuan Jepang untuk mengorganisir dukungan. Riset menunjukkan bahwa di antara tahun 1928 hingga 1945, terdapat sekitar 150.000 hingga 200.000 perempuan yang dijadikan sebagai budak seks oleh pihak militer Jepang.[5] Pemerintah Jepang lagi-lagi membantah tuntutan tersebut, menolak meminta maaf, dan bahkan menolak untuk melakukan peninjauan lebih lanjut.[6]

Sepanjang sejarah perang, pemerkosaan dan beragam kekerasan seksual terhadap anak-anak dan perempuan terjadi tanpa kendali—serta pembungkaman atas kasus-kasus kekerasan seksual terhadap mereka terus berlanjut. Kekejaman balatentara Jepang terhadap budak seks dari Indonesia menjadi satu contoh dari sekian banyak kekerasan serupa yang juga terjadi dalam perang-perang lainnya. Tindakan pendukung HAM transnasional untuk mengambil kendali pada situasi perang semacam itu semestinya perlu dipertimbangkan. Dengan latar belakang ini, artikel ini berupaya memaparkan bagaimana sejarah kelam kolonialisme jugun ianfu digambarkan dalam kesusastraan Indonesia yakni dengan mengambil Mirah dari Banda oleh Hanna Rambe dan Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer oleh Pramoedya Ananta Toer sebagai pembuktian sejarah, dilanjutkan dengan pemaparan pandangan para feminis atas dominasi seksual para lelaki terhadap perempuan di masa perang, pembungkaman kasus jugun ianfu ini, dan bagaimana para feminis berupaya menggerakkan suatu gelombang transnasional untuk memecahkan persoalan kemanusiaan semacam ini agar mendapatkan pertimbangan pihak-pihak lembaga maupun masyarakat internasional.

Tinjauan atas Mirah dari Banda oleh Hanna Rambe dan Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer oleh Pramoedya Ananta Toer
Novel Mirah dari Banda oleh Hanna Rambe adalah kisah pertemuan antara Mirah dan cucunya yang hilang. Mirah, diculik dari rumahnya di Jawa saat berusia lima tahun, dijadikan budak pemetik buah pala di Bandaneira pada masa penjajahan Belanda. Jelang dewasa, ia menjadi nyai (gundik) bagi Tuan Besar Ulupitu, dan lantas pekerja seks atau jugun ianfu bagi para balatentara di masa penjajahan Jepang. Dari hubungannya dengan Tuan Besar Ulupitu, Mirah sempat memiliki dua orang putri yang lantas diculik darinya.[7] Salah seorang putrinya yang hilang tersebut melahirkan seorang anak yang kelak bernama Rowena “Wendy” Morgan-Higgins—nama yang diperoleh setelah ia diangkat anak oleh keluarga Higgins. Wendy, cucu Mirah, menjadi “bayi perang” lantaran ia tak pernah mengetahui ibu dan ayah kandungnya—yang ia ketahui hanyalah fakta bahwa ayahnya adalah seorang Jepang dan ibunya, anak Mirah, adalah seorang Indo-Belanda. Wendy tumbuh dewasa, dan berkesempatan mengunjungi Banda, nasib mengantarnya berjumpa Mirah, neneknya. Namun demikian, Mirah dan Wendy bertemu sebagai dua orang asing, dan kemudian berakhir sebagai dua orang asing yang tidak saling mengetahui relasi darah di antara mereka.

Mirah dari Banda bergerak melintasi tiga periode sejarah, pada masa penjajahan Belanda, masa penjajahan Jepang, hingga jauh melewati masa kemerdekaan. Mirah yang hidup pada tiga zaman itu menceritakan kekejaman di masa perang—saat seseorang dipandang memiliki derajat jauh lebih rendah, selayaknya barang untuk diperjualbelikan. Dalam cerita ini, Mirah adalah tokoh yang dipandang rendah itu: ia tidak dapat menikmati kebebasannya sebagai manusia karena kebebasan itu telah dirampas darinya sedari kecil. Ia dipaksa memenuhi hasrat tuan besar, seorang Belanda, sembari bekerja memetik pala. Selanjutnya di masa kedatangan “saudara tua” Indonesia, ia lantas dijadikan budak seks. Rambe menampilkan sejarah kelam kolonialisme di Indonesia timur melalui kisah fiksi, tetapi meski kisahnya sendiri hampir mendekati kenyataan, penekanan sejarah khususnya mengenai para jugun ianfu dapat kita telusuri melalui Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer karya Pramoedya Ananta Toer.

Perawan Remaja adalah dokumentasi kesaksian Toer atas kisah para perempuan remaja di Indonesia yang dijadikan budak seks oleh balatentara Jepang pada Perang Dunia II. Dalam pembuangan ke Pulau Buru di tahun 1969, Toer bersaksi bahwa ia dan kawan-kawannya menemukan sebuah wilayah sabana (area ini menjadi kamp konsentrasi para buangan politik tanpa persidangan pada rezim Orde Baru) yang telah ditinggali oleh sekumpulan perempuan remaja yang ditelantarkan oleh balatentara Jepang. Perawan Remaja menyusun kronik kedatangan para remaja perempuan tersebut ke wilayah Kepulauan Ambon.[8]

Sebuah pengumuman pemerintah Jepang pada 1943 menyerukan kepada setiap orang tua untuk mendaftarkan dan lantas menyerahkan anak gadisnya yang masih perawan berusia di antara 15-17 tahun untuk disekolahkan oleh Pemerintah Dai Nippon. Remaja-remaja perempuan ini dijanjikan belajar di Singapura ataupun di Jepang. Siapa pun yang melanggar perintah ini dinyatakan sebagai bertindak membelot terhadap Tenno Heika (kaisar Jepang). Para pejabat daerah bahkan hingga perlu menyerahkan anak-anak gadis mereka demi memberi contoh kepada masyarakat untuk juga melakukan hal serupa. Seiring perjalanan waktu, diketahui bahwa janji pemerintah Jepang tersebut tidak pernah terlaksana.

Balatentara Jepang menyeberang pulau dengan membawa para perempuan remaja itu, lantas mereka berhenti di wilayah Kepulauan Ambon. Para balatentara Jepang menyatakan bahwa mereka akan diberi pelajaran ilmu kebidanan untuk menjadi bidan di wilayah Ambon. Pada praktiknya, setiap remaja perempuan yang diserahkan kepada pihak Jepang ditempatkan pada sebuah bilik bernomor. Bilik-bilik itu dijaga oleh seorang heiho sebagai ibu asrama bagi mereka. Setiap serdadu Nippon yang berhajad seks datang ke kamar berdasarkan pada karcis berisikan nomor bilik, dan mereka mengantre hingga datang kesempatan menyetubuhi para gadis itu. Para perempuan remaja ini tidak memperoleh bayaran sepeser pun, kecuali uang rekreasi yang sesekali saja diberikan.

Begitu pihak Jepang kalah dari sekutu pada Perang Dunia II, balatentara Jepang segera meninggalkan para remaja perempuan itu dalam situasi terombang-ambing. Mereka dilepas tanpa tanggung jawab, tanpa pesangon, dan dibiarkan untuk melanjutkan hidupnya terserah jalan mereka sendiri-sendiri, bahkan tidak mendapatkan pelayanan dan perlindungan hukum dari para pejabat RI yang ketika itu disibukkan dengan upaya untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Begitu Indonesia merdeka, para tokoh politik bangsa ini lantas lanjut disibukkan dengan urusan pertentangan antarpartai. Akibatnya, hingga tahun 1979 atau ketika mereka berusia sekitar 35 tahun (juga ketika Toer menyusun buku ini), mereka praktis terlupakan. Sebagian besar dari mereka menganggap hidupnya telah gagal sehingga tidak berupaya untuk kembali ke keluarganya.

Beberapa perempuan yang masih tertinggal itu akhirnya berusaha menyatu dengan para penduduk lokal di sekitar wilayah Pulau Buru yang ketika itu masih dihuni oleh suku Arafuru yang bergerak nomaden. Toer menggambarkan bagaimana para remaja perempuan yang tadinya hidup dalam adab Jawa itu perlu kembali ke kebiasaan hidup primitif para suku di wilayah itu demi bisa diterima dan melanjutkan hidupnya. Bahkan, beberapa dari mereka menikah dengan penduduk setempat dan kemudian membesarkan anak-anak mereka, hingga kedatangan Toer dan kawan-kawannya. Singkatnya, mereka telah sama sekali melupakan kehendaknya untuk kembali ke rumah mereka di Jawa.

Wednesday, June 6, 2018

Mengzi, dan Kodrat Baik Manusia dalam Politik Demokratis


Pengantar
Mengzi (c. 372-289 SM) dan Xunzi (c. 310-235 SM) menjadi dua sosok berpengaruh pada periode perang-antar-negara (warring states period, 403-221 SM) setelah Kongzi (c. 557-479 SM) wafat. Oleh para pengkaji yang kerap melakukan perbandingan pemikiran, Mengzi dan Xunzi, bersama dengan Kongzi, dikatakan sebagai Sokrates, Plato, dan Aristoteles-nya peradaban timur. Mengzi lahir di Zhou, merupakan murid Zi Si—cucu Kongzi. Sepanjang hidupnya ia mengembara ke berbagai negara untuk membujuk para kaisar menjalankan doktrin-doktrin ajaran politiknya. Ia dan para muridnya kelak menyusun catatan-catatan perjalanan itu, merangkum kegiatan dan dialog-dialognya, ke dalam Buku Mengzi. Ia mengembangkan ajaran Kongzi dengan penekanan pada ajaran mengenai kehendak langit, kodrat manusia, unsur-unsur kebajikan dan keutamaan, keadilan, dan bagaimana seorang pemimpin yang baik semestinya bertindak. Inti ajarannya adalah bahwa kodrat manusia pada dasarnya baik secara inheren dan penentuan kodrat ini tidak bersifat determinis—dalam artian bahwa setiap manusia tidak terlahir sempurna secara moral, mereka terlahir dengan unsur-unsur baik dan mengembangkannya dengan usahanya sendiri sepanjang hidupnya untuk mengerahkan semua kemampuannya demi kebajikan. Ajaran-ajaran bernasnya menjadikan ia dipandang sebagai seorang bijak seperti halnya Kongzi, dan menempatkannya sebagai Sang Bijak Kedua setelah Kongzi.

Konteks Historis dan Gagasan Ajaran Mengzi
Beberapa saat setelah Kongzi wafat, para muridnya tersebar melakukan pengembaraan untuk memberikan pembelajaran. Semasa hidupnya, Kongzi dan para muridnya sempat mengembangkan sekolah pemikiran yang dinamakan Sekolah-Ru. Delapan sekolah pemikiran Konfusianis, sebagaimana diidentifikasikan oleh Han Fei, dilanjutkan oleh Zi Zhang, Zi Si, Yan Shi, Mengzi, Qi Diaoshi, Zhong Liangshi, Xunzi, dan Yue Shengshi.[1]  Sekolah-Ru tersebar, tetapi ada pula masanya ketika pengaruh Sekolah-Ru meredup, sehingga dua ajaran dominan pada masa itu datang dari Yangzhu dan Modi—ajaran mereka menambah kesesatan situasi Dinasti Qin yang memburuk pasca-perang-antar-negara dengan ajaran mereka yang bersifat hedonis, melegitimasi seorang pemimpin dalam berpolitik perlu untuk mencari keuntungan, menekankan pada hasrat pribadi, dan kepuasan material.[2] Seturut dengan pengaruh kedua pemikir ini, Qin Shihuang, kaisar dari Dinasti Qin, membakar buku-buku ajaran Kongzi pada 221 SM dan menjatuhkan hukuman mati pada para murid Kongzi yang setia pada ajaran Analek.

Perang-antar-negara berlangsung kurang lebih 180 tahun (periode 403-221 SM), berakibat pada kekacauan moral dan konflik intelektual. Catatan singkat Teng Wen Gong 2, #14 menerangkan peperangan itu mengakibatkan kerusakan besar pada sifat manusia, hal ini dipandang melemahkan li sebagai sistem sosial dan politik yang selama empat abad telah berjalan efektif. Kelemahan moral yang dihadapi pasca-perang-antar-negara ini ditambah pula dengan ajaran-ajaran Yang dan Modi membuat kekacauan tidak terelakkan lagi, dan orang-orang bertanya mengenai apakah kodrat manusia jahat ataukah baik? Apabila kodratnya baik, mengapa kejahatan dimungkinkan, dan mengapa seorang pemimpin mengambil keuntungan pribadi dan mengabaikan rakyatnya?

Perihal ini, Mengzi berusaha untuk menyingkirkan ajaran sesat Yang dan Mo, ia menjawab bahwa kodrat baik melekat pada diri manusia, dan bahwa seorang pemimpin sebaiknya memperhitungkan kebaikan bersama dan menghindari keuntungan pribadi.[3] Dalam ajarannya, Mengzi melestarikan ajaran tiga orang bijak dari masa terdahulu, yakni dari Yu, Zhougong, dan Kongzi. Bagi Mengzi, ajaran Kongzi membawakan konsep penting tentang ren (kasih), yi (keharusan moral), dan li (relasi tepat). Kasih adalah fondasi dari keharusan moral dan relasi tepat, tetapi ia tidak menerangkan lebih lanjut tentang itu, ia hanya menegaskan bahwa kodrat manusia adalah baik. Mengzi mengembangkan ajaran tentang “kodrat manusia” ini dan menganjurkan suatu xìngshàn lùn (teori kodrat baik).

Untuk menjelaskan tentang xìngshàn (kodrat baik), Mengzi membangun gagasannya dengan konsep-konsep berikut: liángzhī (pengetahuan bawaan) dan liángnéng (kemampuan bawaan), zhītiān (tahu langit) dan shìtiān (mengabdi langit), serta gagasan dasar bahwa kejahatan bukanlah kodrat bawaan manusia. Oleh karena itu, apabila seseorang melakukan kejahatan, ia perlu untuk mengembalikan dirinya pada “kodrat semula” manusia yang baik. Di sinilah pentingnya kegiatan pembelajaran dan pendidikan yang dapat membantu individu menemukan kembali kesadaran baik dari empat unsur baik manusia yang hilang begitu manusia itu melakukan kejahatan.

Dalam penjelasannya, Mengzi memaksudkan “kodrat baik” bukan berarti bahwa manusia lahir dengan keadaan sempurna secara moral, melainkan itu berarti bahwa manusia lahir dengan unsur-unsur baik. Pendapatnya ini didasarkan pada argumentasi bahwa manusia pada dirinya membawa rasa tidak tega melihat orang lain menderita, bahwa tiap manusia memiliki hati yang tidak tega. Ia mencontohkan bagaimana seorang anak tercebur ke dalam sumur, dan orang yang melihatnya akan tersengat akan rasa ngeri dan ikut merasa sakit. Spontanitas untuk turut merasakan penderitaan orang lain itu menunjukkan beberapa unsur kodrat manusia: tanpa hati yang mampu berbagi derita maka ia bukan manusia, tanpa rasa malu maka ia bukan manusia, tanpa mendahulukan orang lain maka ia bukan manusia, dan tanpa kemampuan membedakan benar dan salah maka ia bukan manusia.

Dari sana, ia menyebutkan unsur-unsur yang menjadi embrio kodrat manusia: belas kasih adalah awal dari ren, rasa malu adalah awal dari yi, mendahulukan orang lain adalah awal dari li, dan membedakan baik dan buruk adalah awal dari zhi (kebijaksanaan). Semua orang dikatakannya memiliki keempat unsur awal ini, atau hal ini bersifat bawaan, dan dengan demikian hendaknya manusia memahami bagaimana cara mengembangkannya sampai pada kepenuhannya. Jika manusia mampu melakukannya, maka ia dikatakan mampu memeluk empat lautan—suatu metafora untuk chángdé  (“keutamaan yang bersifat tetap”).

Empat keutamaan tersebut diberikan oleh tiān (langit) dan cara mengaktualkannya adalah dengan qiú (mengerahkan seluruh kemampuan). Terdapat dua aspek untuk mengembangkannya, yaitu dengan menyatukan yi dan dao (jalan atau prinsip) untuk membantu seseorang mengangkat kesadaran pada level lebih tinggi dan memupuk tindakan benar. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan refleksi diri dan mempraktikkan shu dengan segenap tenaga. 

Baginya, manusia sangat terkait dengan langit, ini adalah suatu “prinsip jagad” di mana orang yang tahu akan kodratnya adalah orang yang tahu akan langit. Ia menjelaskan bagaimana relasi prinsip itu dengan tindakan sadar manusia, sehingga manusia dapat dikatakan sebagai tiān mín (warga langit). Warga langit adalah ia yang mampu membawakan prinsip-prinsip langit dan terus menghadirkan prinsip itu dalam keseharian. Dari sini, Mengzi menarik simpulan bahwa warga langit adalah pribadi yang mampu hidup dalam suatu kehormatan langit. Hal ini memungkinkan adanya dua kehormatan, yakni tiānjué (kehormatan langit) dan rénjué (kehormatan manusia). Keempat unsur yakni ren, yi, li, dan zhi adalah kehormatan langit. Sementara itu, warga biasa adalah orang-orang yang tidak mampu mengembangkan dengan baik atau tidak mampu mengerahkan seluruh kemampuannya atas keempat unsur tersebut. Dimensi mistik yang dipaparkan oleh Mengzi tersebut menunjukkan bahwa manusia mampu menjadi makhluk yang tidak terbatas hanya pada dunia kasar (materi) atau kepentingan duniawi saja, tetapi ia mampu melampaui batas-batas itu. Ciri jūnzǐ (manusia utama) ini sesuai dengan sifat langit yang berlandaskan kasih dan menghidupkan, menggerakkan segala sesuatu dalam susunan harmonis dan teratur. 

Friday, May 11, 2018

Wilhelm Dilthey dan Hermeneutika sebagai Metode Memahami Sejarah


Pengantar
Wilhelm Christian Ludwig Dilthey (1833-1911) hidup pada masa awal peradaban Eropa menghadapi industrialisasi: ketika Berlin diwarnai oleh politik monarki Prussia Otto von Bismarck dan bersamaan dengan itu berkembang industrialisasi yang mendorong terjadinya produksi besar-besaran. Dilthey sendiri pada saat itu masuk kategori kelas menengah sebagai seorang profesor di Universitas Berlin.

Pada 1864, ia menulis tesis doktoral (setara dengan disertasi) berdasarkan hermeneutika romantisisme yang dikembangkan oleh Friedrich Scleiermacher, mentornya. Inspirasi di bidang hermeneutika banyak diperolehnya dari Romantisisme Jerman yang dipengaruhi oleh pandangan Schleiermacher—sehingga ia menekankan pentingnya emosi dan imajinasi, yang di kemudian waktu dikaitkannya dengan proses pemaknaan atas dunia. Posisinya yang mapan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan ini membuatnya melihat adanya ancaman dari masyarakat kapitalis (dalam istilah Marxis, para pemilik modal) dan kelas-kelas buruh (dalam istilah Marxis, kelas pekerja) yang cenderung pragmatis. Ia tidak berpihak pada salah satunya, ia berpendapat bahwa kedua jenis masyarakat ini telah mengalami degradasi lantaran revolusi industri. Seperti kalangan aristokrat pada masa itu, Dilthey hendak mengembalikan perhatian masyarakat pada sejarah dan kebudayaan, maupun merevitalisasi kehidupan mental masyarakat yang dipandangnya telah mengalami krisis ini.

Secara khusus, pandangannya ini menyorot bagaimana penulisan sejarah diperlakukan pada zamannya. Pada periode industrialisasi ini, ilmu sejarah memperoleh pengaruh dari paham positivisme yang mendasari revolusi industri. Ilmu sejarah positivis ini berkeyakinan bahwa gerak sejarah berlangsung menurut hukum-hukum atau mekanisme obyektif seperti yang terdapat di alam. Posisi Dilthey terbilang sangat kritis terhadap perkembangan mazhab historisme semacam itu, tetapi banyak juga sisi pemikirannya yang mengelaborasi segi-segi obyektif dalam ilmu pengetahuan.

Ia melanjutkan dan mengembangkan hermeneutika Schleiermacher, menjadikannya sebagai pendasaran epistemologisnya bagi pengembangan metode ilmu sosial-kemanusiaan (Geisteswissenschaften), dengan menambahkan unsur pemahaman (Verstehen) terinspirasi dari konsep Schleiermacher tentang penghayatan kembali (Narch-Erleben) yang memegang peranan kunci dalam pembedaan antara ilmu alam (Naturwissenschaften) dan ilmu sosial-kemanusiaan. 

Berbeda dengan kaum positivis yang melihat kepastian akhir sejarah manusia, Dilthey memandang manusia sebagai “sosok menyejarah” yang tidak memiliki “hakikat” maupun “kodrat” tetap yang sudah final, bagi Dilthey manusia akan senantiasa berubah dalam waktu. Demikian juga “makna” bukanlah substansi yang bersifat tetap, melainkan berciri historis, berubah dalam waktu. Sejalan dengan Friedrich Nietzsche, Georg Simmel, dan Henri Bergson, Dilthey mengembangkan pandangan tentang Lebensphilosophie, filsafat kehidupan. Aliran Lebensphilosophie ini dirintis oleh Friedrich Schlegel dengan karyanya Philosophie des Lebens (Filsafat Kehidupan, 1828) yang berupaya melawan formalisme Immanuel Kant dan G.W.F. Hegel.

Para penganut pandangan ini mengedepankan kehidupan batiniah dan pengalaman manusiawi—melancarkan kritik terhadap kecenderungan penyempitan cara memandang hidup hanya melalui unsur-unsur lahiriahnya, seperti teknologi, industri, ekonomi, dst. Para pemikir aliran ini persis berpandangan seperti Dilthey sebagaimana dijelaskan sebelumnya, mereka melihat kehidupan sebagai sebuah aliran perubahan terus-menerus, sebuah gerakan  dan proses menjadi (Werden), dan oleh karenanya memerlukan pemahaman dan penghayatan yang terus-menerus pula. Melalui metodenya ini, hermeneutika Dilthey membuka perspektif antropologis maupun ontologis tentang historisitas manusia dalam suatu “proses menjadi” bagi hermeneutika selanjutnya.

Saturday, January 13, 2018

Perjalanan Menuju Roma

Entah siapa yang berceletuk tentang guna merutinkan diri berolahraga selama 41 hari dan hasil dari rutinitas itu adalah sebuah kebiasaan yang tidak pernah terputus, tapi saya dan ibu semang kemudian meyakininya dan melakoninya—bahkan melakoninya setiap pagi: berlari selama satu jam mengelilingi danau sebelum melanjutkan rutinitas lain-lain.

Kira-kira pada hari ke-22 kami merutinkan diri berolah raga, di perjalanan menuju taman, saya mengoreksi apa yang kami tahu dan percaya, “Ada temuan lain di web yang lain, di web ini dibilang, 21 hari pun sudah cukup untuk membentuk kebiasaan. Jadi, kita tidak perlu payah-payah lari rutin selama 41 hari.”

Dia memperhatikan ujaran saya, dan merespons sekenanya. Tapi saya tahu itu tidak akan berhasil membuat tekadnya putus di tengah jalan. Jadi, karena ibu semang saya adalah tipikal orang yang tidak akan berhenti di tengah jalan saat sudah memutuskan melakukan sesuatu, maka kami perlu menyelesaikan hari-hari rutin olahraga kami hingga hari ke-41.

Lantaran rutinitas kami berolahraga di taman, saya punya kedekatan tersendiri dengan taman-taman di Paris dan banlieu-nya. Beberapa taman penting kota ini menjadi tempat berjalan setapak dan menghabiskan waktu untuk apa saja, termasuk untuk menulis fragmen-fragmen cerita. Di antara taman-taman itu, yang paling menarik bagi saya adalah Parc de Floral, sebuah taman yang terletak dekat Kastil Vincennes. Belakangan taman itu dibuka menjadi taman untuk para nudis, sayangnya saya tidak berkesempatan untuk ke sana lagi setelah membaca berita tentang pembukaan taman nudis itu. Dan, bagaimanapun menariknya taman-taman lain, yang paling dekat di hati tentulah taman Lac de Creteil, taman yang mengitari sebuah danau di Creteil, dekat tempat tinggal saya—karena ke sanalah kami, saya dan sang ibu semang, biasanya menghabiskan waktu.

Tetapi pada pagi tanggal 31 Agustus itu kami tidak menuju taman mana pun, dari arah apartemen kami, ibu semang memutuskan berjalan kaki saja terus ke arah timur. Saya menyusuri jalan lebih cepat darinya. Tapi hingga sekian meter kemudian, dia baru berkata bahwa di dekat tikungan jalan itu terletak pemakaman suaminya. Begitu spontan saja. Saya mengajukan diri untuk berziarah. Maka kami berbelok arah dan sampailah di sebuah pekuburan.

Kami melewati cukup banyak nisan untuk sampai tepat di nisan itu. Rumput liar merambat di sekelilingnya. Sebuah pohon sudah tumbuh di tengah-tengah tanah gembur itu. Itu pohon liar juga, kata ibu semang. Tanpa perintah sebagai ancang-ancang, ia mulai mencabuti rumput-rumput, saya bersolidaritas dengan ikut mencabut-cabuti rumput, sampai kemudian berusaha keras mencabut pohon yang akarnya sudah menancap dalam. Itu menjelaskan sudah berapa lama nisan ini tidak dikunjunginya lagi. Mungkin ibu semang terlalu sibuk, yang jelas ia tidak mungkin tidak merindu lagi kepada suaminya yang bersemayam di sana.

“Jadi, bagaimana, kapan mau memesan tiket? Kamu jadi tidak, sih, mau ke Roma?” ujarnya di perjalanan kami ke rumah.

Ada banyak jalan menuju Roma, kata sebuah adagium, dan mulanya saya memang bersepakat untuk berjumpa kawan yang juga sedang menjalani residensi di Roma. Tapi pada tanggal 31 Agustus, ia sudah kembali ke Indonesia. Saya tidak berhasil berjumpa dengannya sebelum ia kembali, tentu karena sederetan keraguan demi keraguan untuk menempuh perjalanan yang tidak pasti di negeri orang. Jadi, menimbang untuk pergi saat itu, tentu akan sia-sia saja. Tapi, dari pertanyaan itu, saya teringat sudah pernah membikin janji untuk menginap di rumah seorang kenalan di Roma—pasangan aktivis yang saya kenal di Yogya, sang istri kini bekerja di kantor pusat FAO di Roma. Lantas, terpikir bahwa ada pula rentetan kota lain yang sekalian perlu dikunjungi, di Bussum, Belanda pada 9 September, akan ada sebuah presentasi dari kawan tentang relasi Jepang dan Belanda pada periode kolonial Belanda di Indonesia dan pada 10 September seorang kenalan baik akan meluncurkan buku novelnya di Amsterdam, dan sejak tanggal 6 September, akan ada festival sastra Berlin yang menghadirkan Arundhati Roy. Justru akan menarik bila saya merancang perjalanan yang bisa memuat kepentingan-kepentingan itu sekalian.

Maka, sepulang dari berziarah ke kuburan, ibu semang dengan bermurah hati menyediakan waktu untuk membantu memesankan tiket-tiket perjalanan ke Berlin lantas Den Haag lantas Roma untuk kemudian kembali ke Paris—tentu dengan pertimbangan panjang: mau naik kereta, bis, atau pesawat; dari stasiun dan bandara itu bagaimana cara mencapai rumah kawan yang menjadi tempat menginap; dan apa yang kira-kira penting untuk dilakukan di sana berkaitan dengan riset penulisan fiksi; perjalanan ditempuh dari tanggal berapa sampai tanggal berapa, dan seterusnya.

Secara ringkas, perjalanan saya dari Paris ke Berlin pada tanggal 5 September dengan bus cukup menyenangkan, saya melihat diri sendiri berada pada titik di Googlemap yang berpindah dengan cepatnya dari satu area ke area lain bebarengan dengan melihat pemandangan di luar: sebuah gedung atau sebuah pabrik yang bercahaya sendirian karena jarak antara ia dengan gedung atau pabrik lain lumayan jauh. Melintasi Brussels Belgia, lalu melewati Eindhoven Belanda, untuk masuk ke area Jerman bagian Barat. Petugas yang mengecek paspor mulai membangunkan penumpang yang tidur, dan terjadi cekcok lumayan panjang antara sederet penumpang yang berpaspor kedaluwarsa, tapi pada akhirnya penumpang itu tidak diturunkan di tengah jalan. Itu pastilah seorang imigran gelap yang mencoba mencari peruntungan di Berlin, begitu pikir saya, tapi setelah si petugas beralih pada saya dan saya menunjukkan paspor, saya kembali melanjutkan tidur dan tidak ambil pusing lagi. Dibutuhkan suatu kesadaran diri yang mantap untuk istirahat yang cukup, karena sembilan hari ke depan, saya akan melakoni perjalanan dari kota ke kota—dan tidak boleh merengek sedang sakit atau apa (saat itu saya baru pulih dari diare dan mimisan lantaran sedikit alergi dingin).

Tiga hari saya lewati di Berlin, untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Den Haag pada 8 September. Seharian itu hujan, sepulang dari Museum Yahudi, saya segera menuju ZOB Berlin, terminal bus yang akan membawa pergi. Di sana, saya bertemu seorang gadis mabuk yang saya lupa siapa namanya, meski kami sempat berkenalan, bercerita betapa sendirinya hidupnya. Yatim piatu, anak tunggal, dengan kehidupan cinta yang payah, dan cita-cita yang kandas, dan pekerjaan yang ia rasa mengantarkannya ke kegagalan demi kegagalan. Ia dari Sofia, Bulgaria dan tinggal delapan belas bulan di Berlin karena bekerja di bidang teknik, dan kini memutuskan akan mengadu nasib di Amsterdam. Saya ingin sekali bilang, “Hei, aku sejenis denganmu,” tapi tampaknya itu tidak lucu, maka saya biarkan dia terus mengelupas dirinya di depan saya, tanpa saya balik memperkenalkan diri. Sopir dan kondektur, yang sama galaknya dengan yang saya temui di terminal Gallieni Paris, kemudian memerintahkan kami segera masuk. Tidak bisa lanjut mendengarkan ceritanya lagi. Saya menawarkan diri agar si gadis duduk dekat-dekat saja, tapi pada akhirnya kami berpisah kursi. Banyak kursi kosong, menurutnya akan lebih lega bila kami duduk sendiri-sendiri, dan istirahat di perjalanan bisa lebih nyaman bagi kami. Saya menghela napas karena yakin bahwa kami akan berpisah, dia akan turun di Amsterdam sementara saya turun di Den Haag. Dan saya tertidur pulas malam itu, sampai akhirnya bus berhenti di terminal lebih cepat satu jam dibandingkan jadwal yang tertera di tiket. Di sana saya menyadari betapa kedisiplinan Prusia, yang berasal dari kedisiplinan ala Kantian, bagi warga Jerman masih terwaris dengan amat baik.

Perjalanan ke Roma pada 12 September tampaknya lebih menguji nyali. Layanan pesawat paling murah tersedia pagi-pagi betul, karena itu saya pikir pada pukul lima saya sudah mesti mengantre check-in. Hari-hari itu, Belanda sedang dilanda badai. Dari Leiden, saya menuju Rotterdam dengan guyuran hujan yang tidak main-main. Bandaranya kecil saja, seukuran atau malah lebih kecil daripada bandara Radin Inten II Lampung yang pernah saya singgahi. Rupanya ketika saya sampai di bandara pukul sebelas malam itu, sudah ada banyak orang seperti saya juga yang memutuskan untuk bermalam. Motel paling murah hanya sepuluh euro semalam, tapi jaraknya jauh dari bandara, dan di kala badai seperti ini dan jadwal bus jadi tidak menentu, memang sangat berisiko untuk ketinggalan pesawat apabila nekat memesan penginapan, maka wajar saja bandara penuh sesak orang yang bermalam untuk menunggu penerbangan paling pagi. Beberapa orang berkeluyuran, berjalan-jalan dengan tak santai mengelilingi bandara dari satu sudut ke sudut lain, tapi sebagian besar memutuskan beristirahat seperti saya. Pukul empat pagi, pintu bandara sudah dibuka dan terdengar koper-koper yang digeret masuk. Saya melanjutkan tidur untuk menunggu jadwal check-in yang saya pikir dimulai tepat pukul lima pagi. Tapi dalam hitungan menit bndara semakin ramai, dan saya memutuskan mengecek situasi. Antrean panjang mengular pukul lima pagi itu, untuk penerbangan yang sama dengan saya pukul enam pagi. Tidur di bandara tidak menjadikan saya orang pertama yang mengantre jatah lepas landas. Tapi tidak mengapa, akhirnya saya pergi ke Roma.

Menyelesaikan perjalanan bukan hal yang ingin saya capai ketika memulai perjalanan, tetapi setiap pejalan tahu bahwa akan selalu ada akhir dari setiap perjalanan. Sembilan hari perjalanan telah lewat, dua hari terakhir saya habiskan di Roma. Saya memotret antrean di bandara Fiumicino, Roma menuju Orly pagi itu. Saya kirimkan sebuah foto dan pesan singkat kepada ibu semang, menyatakan saya akan pulang. Sembari mencatat di catatan pribadi: “Akhirnya misi tertuntaskan. Memang ada banyak jalan menuju Roma. Termasuk jalan memutar dari Paris, Berlin, Den Haag, dan Rotterdam.”

Catatan:
Di Berlin, Jerman selama tiga hari saya menghadiri sebuah festival pengarang, bertemu Pak Triyanto Triwikromo yang sedang menjalani program residensi penulis juga, dan dengannya diajak untuk berjumpa seorang penerjemah Jerman, Gudrun Fenna Ingratubun. Saya menumpang tinggal dengan penerjemah Jerman tersebut dan membicarakan banyak hal tentang kesusastraan Indonesia maupun Jerman. Perjalanan saya tempuh dengan bus dari terminal Gallieni Paris dan tiba di Berlin ZOB pada 6 September 2017. Di Berlin, saya berkesempatan juga mengunjungi beberapa museum di Kompleks Museumsinsel (mengunjungi Altes Museum dan Neues Museum), serta mengunjungi Museum Yahudi. Seluruh diskusi dalam festival sastra Berlin yang saya ikuti dilakukan dalam bahasa Jerman, saya tidak begitu memahaminya, tetapi cukup berguna bagi saya untuk memahami festival pengarang skala internasional. Seorang penulis Indonesia, Okky Madasari, diundang menjadi pembicara di festival itu, tetapi saya tidak kesampaian untuk berjumpa beliau karena jadwal yang berbeda: tapi setidaknya saya membaca nama beliau tertulis di sebuah buku tebal terkait festival sastra Berlin itu. Selanjutnya, saya mengunjungi Bussum, Belanda pada 9 September 2017 untuk menghadiri sebuah konferensi mengenai relasi Jepang-Belanda pada masa pendudukan Belanda di Indonesia, beberapa eksil perempuan hadir dan menjadi pembicara, dan seorang kawan saya di UGM Yogyakarta, Raisa Kamila, memberikan presentasi. Senang sekali mendengarkan penuturan-penuturannya dalam forum itu. Di Belanda, selain konferensi, saya berkesempatan mengunjungi Tropenmuseum, Amsterdam, dan masuk museum dengan gratis berkat kemurahan hati Aliansyah Caniago yang meminjamkan kartu museum, dan juga sempat menghadiri acara peluncuran kumpulan cerita pendek Joss Wibisonoo pada 10 September 2017. Di Belanda, saya menginap di apartemen kawan saya yang berkuliah di Universitas Leiden sehingga akses saya untuk mampir ke universitasnya pun dipermudah. Setelah itu, saya bertolak ke Roma, Italia pada 12 September 2017, di sana saya berkesempatan bertemu dengan dosen-dosen STF Driyarkara, di antaranya Romo Frumen Gions, Romo Albertus Pur, dan Romo Fellyanus Dogon yang sedang menempuh studi di Instituto Nazionale Di Studi Romani, dan mengunjungi Museum Vatikan dan beberapa ikon bersejarah kota Roma. Selama di Roma, saya menginap di apartemen sepasang suami-istri aktivis yang saya kenal di Yogyakarta, Fajar Kelana dan Noor Alifa Ardianingrum yang kini bekerja di kantor pusat Food and Agriculture Organization (FAO) PBB.

Friday, December 22, 2017

Rasionalitas Peradaban Mesopotamia Kuno


Enûma Eliš dari Peradaban Babilonia kuno merupakan peninggalan kuneiform yang paling banyak dirujuk sebagai peninggalan tertua yang membahas perkara asal-usul alam semesta dan penciptaan manusia. Sir Austen Henry Layard adalah arkeolog yang mengekskavasi reruntuhan Nimrud, sebuah kota Asiria kuno, dan Niniwe—dan hasil ekskavasinya termasuk tujuh tablet lempung Enûma Eliš (dari abad ke-7 SM, meski perumusannya barangkali berasal dari abad ke-18 SM pada era Bangsa Kassite) dari Perpustakaan Ashurbanipal, Niniwe.[1] Kisah epik dalam tujuh tablet lempung tersebut memuat masing-masing 115 dan 170 baris teks kuno kuneiform, sistem penulisan yang digunakan oleh bangsa Sumeria, Mesopotamia—dengan isi yang memaparkan pandangan dunia peradaban Babilonia kuno, yang berpusat pada supremasi Marduk sebagai penguasa dan penciptaan manusia untuk memenuhi kehendak para dewa yang sedang memiliki masalah dengan raksasa-raksasa yang diciptakannya—epik ini bertujuan untuk menunjukkan kuasa Marduk melebihi para dewa-dewi Babilonia dalam kepercayaan Mesopotamia secara keseluruhan. 


Selain Enûma Eliš, terdapat banyak mitologi lain dari berbagai daerah di sepenjuru dunia tentang asal-usul alam semesta, ataupun teks-teks religius yang menjelaskan kisah-kisah genesis. Seiring waktu, peradaban manusia berkembang ke arah sains alam yang teramat taktis, meneruskan pandangan positivis-logis sejak masa pencerahan, dan berusaha lepas dari pandangan dunia yang masih mistis ataupun metafisis, demi beranjak menuju dunia yang bertumpu pada pandangan sains. Segala hal perlu dibuktikan secara rigor, rumusan ulang untuk menemukan asal-usul semesta pun dilanjutkan. Tapi pengetahuan peradaban manusia masih terbentur dengan tidak terjelaskan secara rigornya asal-muasal alam semesta. Hingga hari ini, teori Hermann Minkowski tentang ruang-waktu yang empat dimensi menjadi penting bagi pandangan saat ini, tapi itu pun tidak bisa menjelaskan fenomena semesta secara rigor, diteruskan oleh Albert Einstein lewat teori relativitas khususnya—yang menyatakan bahwa masa lalu, masa kini, dan masa depan ada dalam satu-kesatuan dan hanyalah kesadaran manusia yang bergerak sehingga melihatnya sebagai masa-masa berlainan.


Sama halnya seperti mitologi kuno, peradaban modern kontemporer kita pun kembali menghadapi titik itu, ketika manusia pada akhirnya terbentur pada ketiadaan jawaban. Sebelumnya pada masa kuno, ia mendayagunakan segenap imajinasinya, dan setelah masa pencerahan, ia mendayagunakan segenap rasionya, tetapi rasio itu masih tidak mampu memberikan fakta empiris. Karena, apa bedanya pandangan mitologi ataupun astrologi kuno di masa Babilonia dengan penemuan Minkowski tentang kesadaran manusia yang ilusif dalam menghadapi ruang-waktu? Hal ini semestinya dapat membuat peradaban modern ini berandai-andai, dengan konsep Minkowski dan konsekuensinya dalam kehadiran teori multijagad, bahwa mungkin saja di ruang-waktu itu ada pula berbagai semesta paralel yang terhubung ke dunia bawah (sebagaimana konsep Babilonia tentang underworld) ataupun surga (konsep Babilonia tentang heaven), seperti halnya teramat mungkin untuk menemukan sekian ratus kemungkinan lain keberadaan manusia di semesta paralel itu.


Apabila yang diunggulkan oleh astronomi modern adalah perhitungan matematisnya yang ketat—yang menjelaskan proses terciptanya alam semesta melalui big bang hingga ramalan kapan alam semesta itu akan berakhir dalam suatu keadaan setimbang/harmoni, pada kenyataannya selain Enûma Eliš ataupun Enūma Anu Enlil (catatan astronomis yang berupa pertanda-pertanda langit), peradaban kuno Mesopotamia sendiri tidak sepenuhnya lepas dari perhitungan-perhitungan rigor yang berkembang pada zaman itu. Kronologi perkembangan astrologi Babilonia menunjukkan perhitungan letak benda-benda langit; bintang (bahkan mengukur bujur dan lintangnya), bulan, dan planet-planet; dan perhitungan kalender. 


Astrologi Babilonia terbagi berdasarkan penelusuran astronomis yang dilakukan masing-masing kekaisaran. Kronologi yang ditemukan oleh para ahli peradaban Mesopotamia (umumnya menyebut diri mereka sebagai Assyriolog) menjelaskan dari Dinasti Pertama di Babilonia (berdasarkan penanggalan Ammi-saduqa I = sejak tahun 3700 SM), Dinasti Kedua di Isin, Percampuran Dinasti (Nabu-nasir, Sargon—Dinasti Akkadia, hingga Kandalanu), Dinasti Kasdim, Dinasti Asiria, Dinasti Akhemeniyah (Persia lama), Dinasti Makedonia, Dinasti Seleukia (Yunani-Makedonia), hingga Dinasti Arsakid (Armenia). Penelusuran atas peninggalan astronomis tersebut umumnya dilakukan melalui dekodefikasi atas tinggalan berupa kuneiform.


Astrologi Mesopotamia ini sendiri memiliki peran penting untuk perkembangan agama dan budaya. Di antara para Assyriolog, terdapat perdebatan mengenai agama resmi Mesopotamia. Seorang ahli, Hugo Winckler, menegaskan bahwa sistem religius dan budaya Babilonia sepanjang sejarah peradaban Asia Barat Daya Kuno (ancient near east) mendapatkan karakteristiknya dari pengamatan yang tekun atas fenomena langit. Leo A. Oppenheim di tahun 1964 adalah ahli yang menolak untuk mengklasifikasikan agama peradaban Mesopotamia secara tunggal. Menurutnya, dengan adanya lebih dari 2.100 dewa yang disembah, dan juga kurun waktu yang berbeda untuk keberadaan dinasti-dinasti di Mesopotamia, maka agama yang dianut oleh masyarakat tidak mungkin tunggal. Jean Bottero, sebaliknya, melalui Religion in Ancient Mesopotamia menolak pendapat Oppenheim tersebut. Menurutnya, tidak perlu ada kategorisasi “agama resmi”, “agama privat”, ataupun “agama bagi kaum terpelajar”—apakah suatu klasifikasi dilakukan berdasar wilayah, Ebla Mari, Asiria, ataukah dilakukan berdasar periode waktu, Kekaisaran Seleukia (Seleucid), Kekaisaran Akhemeniyah (Achaemenid),  periode Kasdim (Chaldean) dalam Kekaisaran Babilonia Baru, Kekaisaran Asiria Baru (Neo-Assyrian), ataukah periode Bangsa Kassite, Babilonia Kuno, Sumeria Baru, ataukah Periode Akkadia Kuno—karena bagi Bottero, tidak terdapat perbedaan signifikan dari agama-agama mereka selain fakta bahwa pewarisan kekuasaan dalam dinasti-dinasti tersebut mewariskan juga sistem religius yang sama. Bagi Bottero, memisah-misahkan agama di Mesopotamia adalah upaya yang sia-sia belaka.[2]


Seperti dinyatakan di atas, terkait betapa pentingnya astrologi dalam sistem agama dan budaya di Mesopotamia, Winckler hadir dengan pendapatnya yang kemudian menegaskan bahwa klasifikasi agama dapat dirujuk melalui adanya pengamatan astrologis yang dilakukan secara ekstensif di Mesopotamia. Pandangan ini dikenal sebagai pandangan Panbabilonisme (Panbabylonism), yakni anggapan bahwa budaya dan agama peradaban Asia Barat Daya kuno berakar dari mitologi Babilonia yang dapat dirunut dari pengamatan astronomi Babilonia kuno. Selain Hugo Winckler, Friedrich Delitzsch, Peter Jensen, dan Alfred Jeremias merupakan figur terkemuka dari pandangan Panbabilonisme ini.[3]


Ini menunjukkan pengaruh penting ilmu perbintangan pada pemaknaan akan kehadiran manusia di tengah semesta yang saat itu mula-mula belum benar-benar dipahami di peradaban Mesopotamia. Bahwa sejatinya peradaban Mesopotamia telah pula memiliki pandangan sains yang tidak bisa dipandang remeh. Agaknya mesti dibayangkan bahwa diperlukan sejarah teramat panjang untuk menciptakan suatu hukum bahasa yang kemudian memungkinkan kuneiform dituliskan dan diwariskan hingga hari ini, juga simbol matematika hingga perhitungan matematis yang ketat mengenai jarak bintang-bintang di langit. Tujuan artikel ini adalah untuk memaparkan jejak-jejak astrologis dan astronomis peradaban kuno Sumeria tersebut. Selanjutnya, penulis akan menghadirkan refleksi atas semua paparan itu dikaitkan dengan perkembangan teori tentang alam semesta di masa kontemporer ini.


Astrologi Babilonia dan Pertanda (Omens)

Orang-orang di peradaban Mesopotamia percaya bahwa Tuhan akan mengabarkan tentang peristiwa-peristiwa di masa depan kepada umat manusia. Oleh karena itu, mereka mempercayai beragam cara pertanda itu disampaikan: jejak yang tertinggal pada hewan kurban dalam suatu upacara persembahan, bentukan minyak yang dituangkan ke air, pertanda dalam kejadian sehari-hari, ataupun melalui fenomena langit (atmosferis maupun astronomis).[4] Pertanda dalam fenomena langit ini menyangkut raja, dinasti, ataupun politik sehari-hari. Gerhana bulan adalah salah satu pertanda bahaya, oleh karenanya terdapat ritual pada hari tersebut untuk menghapuskan marabahaya. Hal ini tertulis dalam tablet periode Kekaisaran Seleukia dari Uruk, di mana sebuah drum perak dipergunakan dalam ritual tersebut.[5] Peramalan adalah kegiatan intelektual penting di Mesopotamia, metode yang biasanya digunakan adalah “Bila x (diobservasi), maka y (konsekuensi)”, observasi dilakukan dengan mengandalkan pada pengamatan atas fenomena atmosferis ataupun astronomis.[6]

Friday, October 20, 2017

Tentang Apa yang Dapat Kita Percaya

Setiap saya hendak menarik tali utas ke masa lalu, saya selalu teringat satu hal: bahwa kehadiran saya tidak pernah benar-benar diharapkan, terlepas dari ayah saya pernah mencoba untuk membuang saya ke dalam sumur di saat usia saya belum genap dua bulan.

Kalimat-kalimat ini selalu membisik di telinga saya:
Ibumu adalah seorang akademisi yang sebenarnya memutuskan laku selibat hingga di usia 39 tahun ia bertemu ayahmu. Ayahmu adalah seorang kakak yang menyesali kematian adik laki-laki satu-satunya dan ingin menyusulnya ke alam baka. Namun, dari pertemuan pertama itu, mereka tidak sampai berpacaran lebih dari tiga bulan hingga memutuskan menikah. Kamu menjadi matahari tunggal dalam hubungan rumah tangga itu dan mereka lebih menyayangimu daripada terhadap satu sama lain, tapi kamu selamanya tahu bahwa mereka berdua tak pernah mengharapkan kehadiran seorang anak.

Praktis karena mereka tak pernah mengharapkan kehadiran seorang anak, saya sebagai anak tunggal dibesarkan dengan kebebasan yang berlimpah, termasuk kebebasan memeluk keyakinan.

Dan di hari-hari ini, ada satu hal yang sangat saya rindukan setiap saya mencakupkan tangan dan mengucap mantra di bibir: kejenakaan Mama dalam menghadapi ritual keagamaan.

Saya hanya punya enam belas tahun untuk mengenalnya. Dan tentu saja, seperti kanak-kanak lainnya—saya percaya saya baru secara sadar mengenali Mama di usia tujuh-delapan tahun, bermula dari suatu kejadian yang sangat penting dan menentukan relasi kami ke depannya. Yang membuat saya berteriak hebat, “Saya tak punya siapa-siapa lagi kalau Mama pergi!” saat harus terpaksa melepasnya pergi sembilan tahun lalu.

Dari masa yang singkat itu, relasi ibu saya dan agama… bisa dikatakan tampak seperti dagelan di hadapan saya.

Di usia tujuh atau delapan, saya menyaksikan dia mulai mempelajari bahasa Bali tingkat halus, bahasa yang dipergunakan untuk bicara dengan orang yang lebih tua, dan terutama dengan pendeta upacara keagamaan; dia mulai memegang janur dan mengenal jenis-jenis “prakarya” yang dipergunakan untuk sembahyang; dan terutama sekali, dia belajar mantra-mantra sembahyang seperti trisandhya dan gayatri mantram dan menembangkan kidung-kidung sebelum dan sesudah sembahyang. Untuk poin terakhir, lucunya, dia mempelajarinya dari saya. Saya sendiri mempelajarinya karena itu diajarkan dalam mata pelajaran di sekolah... dan terutama... karena saya suka menyanyi.

Barangkali separuh ingatan saya tentang dialog-dialog yang terjadi di masa awal kehidupan saya telah teredam dengan baik ke alam bawah sadar. Saya tak ingat entahkah saya pernah menanyakan tiga kejanggalan di atas kepadanya. Terutama, tentang apa yang dia lakukan selama tiga puluh sembilan tahun melajang, apakah selama hampir empat dekade itu dia tak pernah sembahyang? Mengapa? Bagaimana dia mengenal dan memandang agama? Seperti apa dia dididik oleh kakek dan nenek saya? Dan mengapa kakek dan nenek tak banyak mengajari Mama hal-hal dasariah seorang umat beragama di Bali? Maksud saya, Bali sangat terkenal dengan kentalnya sikap masyarakatnya dalam menganut “agama leluhur”. Mengapa hal itu sama sekali tidak saya temukan dalam cara Mama bersikap?

Sementara itu, Bapak juga bukan seseorang yang bisa mengajari anaknya bersembahyang, atau bahkan memeluk agama tertentu. Kami pernah datang ke suatu acara persembahyangan, saat Mama dan saya bersimpuh untuk mulai berdoa, Bapak duduk di pojok dan tampak enggan melibatkan diri dalam kerumunan umat.

Karena itu, saya sama sekali tidak percaya sewaktu mendengar Bibi saya bilang bahwa sebelum meninggal Mama mengamanatkan agar saya menikah dengan seseorang yang memeluk agama yang sama dengan agama saya di KTP. Dan saya tidak pernah mendapati Mama dan Bapak mengekang saya dengan pilihan-pilihan hidup tertentu. Sahabat-sahabat saya tentu tertawa saat saya menceritakan pesan paman dan bibi saya itu. Mereka tahu “betapa religiusnya” saya dibandingkan orangtua saya di masa hidup mereka.

Jadi, mendapati bagaimana paman dan bibi saya bereaksi ketika melihat pemeluk agama lain menjalankan ibadah, mendengar apa pendapat mereka soal pernikahan beda agama, cukup untuk membuat saya patah hati dan merindukan Mama dan Bapak. Demikian dalamnya.

Terutama Mama. Saya rindu tawa-tawa kami saat beliau salah melafalkan mantra-mantra. Dan saya rindu bagaimana kami melantunkan kidung-kidung sebelum dan sesudah sembahyang. Mama pandai menari, saya tidak. Dan saya pandai menyanyi, Mama tidak.

Saya rindu cara kami memandang agama: hanya kebersamaan dan cara menghabiskan waktu bersosialisasi dengan orang lain. Dan seperti itulah kami menghargai orang-orang yang menjalankan ritual-ritual di agama mereka.

Di kemudian waktu, tampaknya satu-satunya hal yang membuat saya harus tetap terikat dengan agama leluhur ini adalah karena perwujudan arwah Mama dan Bapak, demikian juga Kakek dan Nenek,  konon telah distanakan sebagai dewata. Konon, wujud-wujud itu perlu terus didoakan (hal ini dapat dibayangkan seperti bagaimana seorang tokoh Disney, Mulan, menghadapi roh-roh leluhurnya). Dan konon, hanya keturunan merekalah yang akan terus mendoakan wujud-wujud dewata itu. Sesuatu yang saya melakoninya dengan sikap antara-percaya-dan-tidak-percaya. Dan mendapati fakta bahwa saya adalah anak tunggal, tanggung jawab untuk melanjutkan garis keturunan  itu tentu hanya dapat dilimpahkan kepada saya. Dalam situasi begini, saya suka sekali berlelucon, bagaimana kalau saya mendoakan mereka dengan jalan seorang anak atau cucu berucap dan bercakap-cakap, tanpa perlu pulang ke rumah dan menghampiri perwujudan mereka sebagai dewata yang distanakan di tempat persembahyangan keluarga?

"Saya mengharapkan kalian bahagia di sana. Seperti halnya saya akan selalu bahagia di sini. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi karena kalian sudah memberi saya bekal yang cukup untuk menghadapi dunia."

Tidakkah kalimat-kalimat itu cukup untuk menenangkan orang-orang yang telah tiada—jika dan hanya jika mereka masih dapat melihat hal-hal yang terjadi di bumi ini? Dan akankah Bapak dan Mama yang “tidak lebih religius” daripada saya tetap menuntut hal-hal yang tidak dapat saya penuhi? Sebagai panutan anaknya, mereka tentu tahu benar hal-hal apa yang tidak dapat saya penuhi, yang lebih dari sekadar mencakupkan tangan dan melafalkan mantra.

Seandainya sewaktu saya kecil ibu dan ayah saya bilang diri mereka ateis, saya akan percaya-percaya saja. 

Catatan: Sebenarnya sifat catatan ini sangat pribadi, saya menuliskannya beberapa hari setelah ayah saya berpulang pada 28 Januari 2016. Namun, saya memilih untuk memublikasikannya saat ini karena saya merasa telah "terlepas" dari emosi di dalam tulisan ini. Sebagai pengingat bagi saya, bahwa ada fondasi yang pernah terwariskan dari kedua orang tua saya sebelum mereka berpulang.

Saya pernah menuliskan catatan yang sama untuk mengingat Mama dalam tulisan SATU YANG KUPINTA DI TAHUN BARU, juga untuk kakek saya dalam tulisan UNTUK KAKEK: MEMORIAL DI TAHUN 0, dan untuk nenek saya dalam tulisan UNTUK NENEK: MEMORIAL DI TAHUN 0.
 

Perjalanan Pertama di Paris

Saat saya pulang pada pukul setengah sepuluh petang, ibu semang saya sedang menyimak televisi dalam siaran berbahasa Perancis, sebelum kemudian berganti ke tayangan berbahasa Mandarin ketika saya mengambil makanan. Masih ada beberapa bahasa lagi yang dipergunakannya secara aktif, di antaranya bahasa Rusia, Jepang, dan Spanyol, dan tampaknya sedikit bahasa Arab. Tapi yang paling menguntungkan bagi saya adalah karena ia berbicara dengan saya dalam bahasa Indonesia.

“Jadi, bagaimana petualanganmu di hari perdana ini?” Dia bertanya.

Saya menyendok menu makan malam di hadapan saya, dan mulai bercerita tentang pertemuan saya dengan seorang perempuan Maroko bernama Nesha.

“Oh, orang Maroko. Di sini memang banyak orang-orang Afrika, mereka pernah jadi koloni Perancis,” sahut ibu semang saya.

Ayah Nesha meninggal enam tahun lalu, dan dia baru saja menjenguk ibunya yang sedang sakit—ibunya tinggal di banlieue juga seperti saya sementara Nesha tinggal di area Trocadero dekat Menara Eiffel. Dia sempat berbelanja bahan makanan, lalu kebetulan bertemu saya di stasiun RER C Les Saules.

Nesha membantu saya membuat kartu transportasi umum berlanggan bulanan yang dapat memudahkan saya yang tinggal di pinggiran Paris—istilah lokal, banlieue—untuk mencapai Paris dengan tarif terjangkau. Orang-orang di Paris dan banlieue terbiasa berjalan kaki—atau menggunakan otoped ataupun sepeda—dan untuk jarak jauh mereka memilih menggunakan transportasi umum: metro, RER (untuk mengantarkan ke wilayah banlieue A hingga D), bus, dan trem dengan sistem SNCF yang menggunakan kartu atau tiket Navigo. Tentunya, dibantu membuat kartu Navigo oleh warga lokal menjadikan pengalaman di hari perdana itu sebagai bentuk perkenalan yang menyenangkan dengan kota ini.

Saya memilih Paris sebagai tujuan residensi penulis, sebuah program beasiswa yang digagas oleh pemerintah, dan karena alasan membutuhkan keringanan finansial saya kemudian memutuskan tinggal di wilayah Orly, di pinggiran selatan Paris. Ibu semang saya menjelaskan sekelumit tentang tempat kami tinggal, yang baginya dapat diistilahkan sebagai “cukup kiri”. Di daerah kami, pemerintah municipal mewajibkan apartemen privat (dalam artian, semacam apartemen yang dihuni oleh orang-orang kaya) dan apartemen pemerintah (semacam apartemen yang disubsidi oleh negara) untuk dibangun saling berdampingan—dan beberapa nama pemikir ataupun politisi kiri Perancis menjadi nama rue dan avenue daerah itu. Ibu semang saya menyewa apartemen pemerintah dengan tarif relatif terjangkau bagi seorang pensiunan sepertinya, di avenue Adrien Raynal, yang diambil dari nama seorang komunis militan.

Setelah membantu saya dengan kartu transportasi umum itu, Nesha bilang dia ingin ke kebun binatang, yang terletak di salah satu stasiun yang akan saya lewati juga, sebelum pulang ke rumah, dan menawari saya untuk menyertainya. Saya mengiyakan ajakannya. Kami akan berhenti di stasiun metro Gare d’Austerlitz, sebelum saya melanjutkan perjalanan ke stasiun metro Crimée, untuk mendaftarkan diri ke sebuah tempat kursus bahasa Perancis, dan dia pulang ke Trocadero.

Tempat kursus bahasa Perancis murah itu terletak di bilangan kanal Villette. Saya pikir, mengikuti kursus akan membuat saya punya alasan untuk sekali jalan menuju pusat kota Paris, meriset ke perpustakaan ataupun museum, yang jaraknya satu jam perjalanan metro dari rumah kos saya di banlieue, sekaligus berinteraksi secara wajar dan rutin dengan penghuni kota. Dengan berbagai pembenaran untuk mengeluarkan sepeser uang demi kursus, saya menambahkan satu alasan yang terdengar bijaksana bagi diri sendiri: jika kelak saya ingin iseng menerjemahkan karya sastra Perancis ke bahasa Indonesia, bekal bahasa ini bisa membantu saya. Nantinya ketika pulang ke Indonesia, saya tinggal mendalami lagi.

Beberapa pekan setelahnya, saya bertemu Johanna Lederer, seorang pendiri sebuah komunitas pencinta kebudayaan Indonesia, Komunitas Pasar Malam—nama yang disitir dari buku Pramoedya Ananta Toer Bukan Pasar Malam, ia bersepakat untuk menerjemahkan dua cerita pendek saya ke dalam bahasa Perancis dan menerbitkannya dalam jurnal terbitan mereka. Pertemuan itu membuat saya berpikir, mengapa tidak, untuk punya impian membalas jasa dengan menerjemahkan karya sastra Perancis juga suatu saat nanti?

Sepanjang perjalanan, saya memperhatikan orang-orang di sekeliling saya. Banyak, teramat banyak gelandangan—entah itu warga lokal yang menjadi pengangguran dan tak mampu menyewa hunian lagi ataupun imigran yang menggelandang karena tak memperoleh perlindungan pemerintah.

Ada juga banyak wisatawan, karena Paris adalah destinasi pertama dunia dalam hal wisata: para wisatawan kaya yang tampak dari dandanannya—yang tentu didominasi oleh orang-orang China—dan para wisatawan miskin yang menggendong ransel lusuh dan menggeret kopernya ke mana pun, barangkali sedang mencari hostel murah lainnya yang bisa disewa untuk beberapa hari.

Lantas, warga lokal yang membawa tas belanjaan penuh barang, atau menuntun anjing yang lehernya diikat tali, atau mendorong troli bayi, atau menjinjing otoped, atau memanggul sepeda dan helmet.

Orang dari ras berbeda bercampur baur: kulit hitam, kulit sangat hitam, kulit kuning, kulit putih, kulit sangat putih, rambut merah, rambut pirang, rambut hitam, rambut warna-warni, dengan gaya berpakaian yang berbeda-beda, dengan tatapan dan gestur janggal yang tak terpahami, ataupun dengan suara keras terdengar sedikit berteriak di telepon. Soal kebiasaan bertelepon ini, di hampir setiap pinggir jalan, kita akan mendapati orang-orang kulit hitam yang getol mengobrol dengan lawan bicaranya di telepon dengan bahasa yang campur baur: Arab, Perancis, Inggris, dan entah apa lagi.

Di tengah banyak orang yang menarik bagi saya dan ingin saya ajak bicara satu persatu tapi tidak memungkinan untuk melakukannya, pertemuan dengan Nesha mencukupi rasa penasaran saya untuk mengenal yang lain.

Nesha mengaku bahwa dia menjadi warga negara Perancis karena orang tuanya menetap dan membesarkannya di sana, walaupun pada mulanya itu bukan perkara mudah—sebagaimana yang terjadi pada imigran-imigran negara Afrika bekas koloni Perancis juga. Lantaran cerita yang saya dengar darinya, dia menjadi orang pertama yang membuat saya berpikir untuk menulis kisah-kisah tentang orang-orang imigran—dan kemudian mengunjungi museum imigran, musée national de l’histoire de l’immigration.

Sore sebelumnya, di hari pertama saya tiba di Paris, ibu semang juga telah mengajak saya berkenalan dengan orang-orang perahu (boat people). Pertemuan yang entah disengaja atau tidak, karena ia memang berencana menjamu kedatangan saya dengan makan nasi goreng ikan teri pedas di sebuah restoran Vietnam favoritnya—orang-orang di restoran itu adalah mereka yang pernah mengalami derita mengapung di lautan lepas selama berhari-hari demi menyelamatkan diri dari Perang Vietnam, “Saat mengapung itu, kami selama tiga hari tidak makan dan tidak mungkin meminum air laut,” begitu katanya.

Kami berjalan melintasi taman dan Nesha tiba-tiba mencerocos, “Cowok-cowok Perancis itu brengsek, tuh kamu lihat, mereka bakal merayu ceweknya dengan barang murah. Setelah si cewek berhasil dijerat hatinya, si cowok nantinya pasti mengajak makan, tapi maunya minta dibayarin si cewek saja.”

Tapi, bukankah kebanyakan laki-laki memang seperti itu atau tidak seperti itu atau berada di irisan itu? Melakukan generalisasi adalah perilaku yang payah ketika hidup di tengah orang-orang dengan berbagai latar belakang seperti ini. Sejauh ini, memang tak terjadi perselisihan antara warga lokal dan pendatang. Tapi apa yang saya tahu? Seorang penulis kontemporer Perancis, Michel Houellebecq, dalam karya terbarunya menunjukkan kebenciannya pada imigran dan semacam fobia terhadap Islam, dan entahlah apakah ia akan mempengaruhi lebih banyak orang lagi atau tidak. Perdana menteri Perancis, Manuel Valls, dalam sebuah wawancara bahkan berani menyatakan, “Perancis itu bukan Houellebecq, Perancis bukan negeri intoleran, penuh kebencian dan rasa takut.” Meskipun, sebenarnya masih kontroversial apakah Houellebecq ini melancarkan kritik pada Islam secara umum, ataukah hanya militan Islam seperti karakter yang dipilihnya dalam novelnya.

Saya menatap wajah Nesha sungguh-sungguh, apakah dia pernah dibuat patah hati oleh seorang pemuda Perancis? Pada akhirnya, saya mendapati alasannya menjadi sesinis itu, karena kemudian dia bilang dia tak pernah menikah, dan tak sedang punya pacar—di usianya yang sudah memasuki usia pensiunan. Sialnya, dia tampak tiga puluh tahun lebih muda dari usia biologisnya.

Tampaknya dia bisa kelihatan semuda dan seenergik itu karena sangat menikmati hidup. Pemerintah Perancis memastikan para pensiun dan para penganggur untuk dapat mengunjungi tempat-tempat publik yang berbayar dengan gratis. Bukan hanya tempat wisata, saya dengar beberapa tempat makan pun dapat memberikan makanan gratis kepada para penganggur. Untuk soal kunjungan gratis setiap saat ke tempat-tempat wisata, Nesha memanfaatkan statusnya sebagai pensiunan dengan sebaik-baiknya. Hampir setiap hari, dia berkunjung ke kebun binatang.

“Kenapa bukan ke museum atau tempat wisata lain yang lebih disukai turis?” tanya saya.
Dia sendiri merasa janggal menjawab pertanyaan saya, baginya itu adalah caranya mengisi kekosongan ditinggal mati ayahnya yang semasa hidup gemar mengunjungi kebun binatang.

Semua pekerja di tempat itu mengenalnya, menyapanya dengan ramah saat Nesha lewat. Dia bahkan secara sukarela menjadi pemandu yang menjelaskan tentang segala tabiat binatang di sana kepada para pengunjung yang datang. Saya menyukai berjalan di sisinya, memandang orang-orang yang mengagumi pengetahuan Nesha tentang kebun binatang itu. Kami bertahan di sana hingga jam tutup kebun binatang, dan berpisah di stasiun metro setelah bertukar nomor kontak. 

Saat sendirian tanpa ditemani Nesha di dalam metro di perjalanan ke tempat kursus ataupun perjalanan pulang ke rumah, saya mulai merasa terasing.

Dengan jas ataupun pakaian formalnya, saya bertanya-tanya apakah salah seorang dari orang-orang yang membaca buku-buku tebal di hadapan saya itu mengajar di universitas bergengsi? Ataukah orang parlemen? Apakah di antara mereka yang membaca buku itu, salah seorangnya adalah penulis muda Perancis dan sedang meniti kariernya?

Di dalam metro ini, bukan hanya soal ras dan warna kulit, ataupun kepercayaan yang dianut, orang-orang kaya dan orang-orang miskin, para figur publik dan orang biasa tampak tidak keberatan untuk saling membaur—dan saya, meski terasing, entah kenapa sekaligus juga merasa turut membaur di tengah keberagaman ini. Tidak seorang pun dari kami memandang aneh kepada satu sama lain, terlepas dari demikian banyak perbedaan secara fisik, dan hanya karena itu, di akhir hari saya merasa seperti tidak sedang berada di tempat asing. [*]

Catatan: Ini adalah catatan perjalanan saya selama mengikuti program residensi penulis dari Komite Buku Nasional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Saya menjalani program itu selama dua bulan (Juli-September 2017).