Monday, April 23, 2012

Hidup Kita Selepas Elegi


(Cerpen ini dimuat di Media Indonesia edisi Minggu, 18 Desember 2016)


GIGI-GIGI MEREKA belum sepenuhnya rontok ketika maut memanggil tepat pada pergantian tahun. Pada akhirnya, di rumah para lansia itu—aku tak sampai hati menyebutnya panti jompo—orang tua kita melihat nenek dan kakek bertahan hidup demikian lama dengan romansa yang mengejutkan. Duduk di atas kursi roda yang bersebelahan, kakek-nenek kita memejamkan mata untuk selamanya. Siapa pun tak akan paham bagaimana bisa hal itu terjadi, sepasang suami-istri meninggal pada detik yang sama secara alamiah.

Dulu aku pernah bilang kepadamu, dalam hidup, kita tak perlu jujur-jujur amat. Mari kita jemput kakek-nenek kita, masing-masing kita selundupkan uang ayah dan ibu yang melimpah, yang sanggup membayar uang sewa rumah dan membiayai hidup dua orang berusia senja. Dengan uang itu, kita ajak mereka pergi ke Yogyakarta, tempat yang paling tepat untuk menghabiskan sisa hidup. Di sana, kakek akan tetap dapat menikmati hobinya melukis langit dan nenek akan dapat menyenandungkan lagu-lagu mesranya untuk embun pagi. 

Tetapi toh kau terlalu bebal. Kita biarkan mereka hidup kesepian di kota yang mirip neraka ini. Aku tahu itu hasil didikan ayah dan ibu di masa kecil kita. Entah kau masih ingat—suatu hari, sementara ibu melempar barang pecah-belah pada ayah, kita tetap setia pada sinetron percintaan remaja. Bahkan ketika kau harus ikut ayah, dan aku dipaksa ikut ibu, kita menganggapnya wajar. Jiwa pengecut benar kita ini. 

Asal kau tahu, sejak pisah dari ayah lima belas tahun lalu, ibu kita sudah hampir tiga ratus kali gonta-ganti pacar. Tiap dia putuskan hubungan dengan pacar-pacarnya, gaya dandanannya akan tampak makin muda satu bulan. Perhitunganku serius, karena bila satu bulan itu kau kalikan tiga ratus lalu kau bagi tiga ratus enam puluh lima, jelas bahwa semenjak pisah dengan ayah, ibu kita menjadi tampak lebih muda dua puluh empat tahun. Perumpamaan ini bisa kau buktikan dengan kasat mata, bila kau melihat aku dan ibu berjalan bersama, kau—seperti orang-orang lain—akan pula menganggap ibu kita adalah adikku. 

Entahlah, aku senang dengan pertemuan keluarga yang sudah lama tidak terjadi ini. Setelah bertahun-tahun saling berusaha melukai satu sama lain, mungkin saat mereka melihat takdir tak masuk akal dari kakek-nenek kita yang mati dengan ganjil, mereka telah mendapat pelajaran yang pantas.
  
Aneh ya, betapa mudah hidup menjurangi orang-orang yang telah lama terpisah. Meski kau berdiri di sampingku, aku bahkan tak berani bertanya kepadamu, ke mana kau selama ini, di mana kau akan menginap malam ini. Aku sangsi kau masih mengingatku di saat kau melalui momen-momen penting hidupmu. 

Sebatas dari tatapan matamu, aku tahu kau bertanya-tanya apa yang telah kulakukan atas hidupku. Duduk di persimpangan jalan dekat pemakaman, berpenampilan lusuh, berkepala botak, kurus ceking dengan perut sedikit membuncit karena terlalu banyak asupan alkohol—dari gelagatmu ketika akhirnya memutuskan duduk di sebelahku, jelaslah kelihatan tanyamu.  

Banyak hal terjadi selama lima belas tahun ini. Setelah keberangkatanmu ke Papua untuk percobaan menjadi dokter praktik di sana, aku beranikan untuk bilang kepada ibu kalau aku ingin keluar dari tempatku kuliah. Ibu sempat marah-marah sebentar, dia bilang, dia gagal mendidikku, merajuk dia tentang kenapa aku tidak bisa sukses sepertimu. Kamu di matanya: sudah kuliah untuk jadi dokter, perginya ke Universitas Indonesia pula. 

Bandingkanlah dengan aku di matanya: sudah kuliah Teknik Nuklir (awalnya ibu selalu bilang, ini pekerjaan martir—yang artinya, ini urusan hidup dan mati—kalau tidak nyawaku yang dikorbankan, kelak pastilah nyawa [calon] cucunya), tidak diniatkan selesai pula. Dia bilang, jangan-jangan itu karena ayah berlaku seperti diktator dalam membesarkanmu. Dia lantas memaki-maki dirinya sendiri karena selama ini berlaku terlalu baik kepadaku. 

Kupikir ibu terlalu ngawur untuk mendefinisi kesuksesan dengan sesederhana itu. Dia meracau selama sekian hari tentang hal-hal yang akan dibutuhkan zaman. Karena aku tak kunjung bersedia menurutinya untuk menamatkan kuliah, ibu menyewa jasa orang yang tak kukenal untuk menggarap skripsiku. Akhirnya aku lulus—dengan sangat mepet waktu. Aku benar-benar merasa simpati pada kegigihannya. Sayangnya, selepas kuliah, bagaimanapun, ibu justru melarangku bekerja sesuai dengan bidangku. Tentu saja, mana berani dia mendapati anaknya jadi mandul gara-gara unsur radioaktif. Sejak hari itu, dipingitlah aku di rumah. Dia yang membiayai semua kebutuhan hidup kami. Kau pasti bisa membayangkan betapa kaya-rayanya ibu berkat pacar-pacarnya. 

Apa es krimnya enak? Minuman cokelatku terasa hambar. Selama ini, aku selalu bertanya-tanya mengapa orang-orang suka duduk berlama-lama di kursi-kursi kafe, mengudap camilan dan minum kopi, terjaga semalam suntuk untuk mengobrolkan hal-hal remeh. Belasan tahun ini tak ada seorang pun yang kuajak berbicara sepanjang lebar seperti saat ini. 

Oke, aku akan melanjutkan ceritaku. Jadi, aku benar-benar tak ingat lagi apa alasannya dan kapan tepatnya, dengan niat untuk menghukum ibu, aku meminta dokter mengangkat ovariumku. Tetapi baru belakangan ini kusadari mereka tak melakukannya. Mungkin mereka hanya mengangkat payudaraku. 

Aku merasa sedang hamil, meski belum mengeceknya dengan test-pack. Aku melakukannya dengan pacarku sebulan lalu (tanpa payudara, masih ada juga yang mau tidur denganku!), dan setelah kami sempat bertengkar karena dia mengaku telah menghamili gadis muda yang ditidurinya saat mabuk; dan akhirnya kami putus—pokoknya setelah itu semua terjadi, aku sudah tak peduli lagi apa yang kuinginkan atas hidupku. Aku memutuskan hubungan dengannya tanpa mengatakan aku mungkin (sama seperti jalang yang akan dia nikahi) hamil anaknya. Aku lantas membotakkan rambut kepala.

Begitulah, kau selalu tahu kalau aku suka melakukan hal-hal fantastis yang tak ada maknanya sama sekali. 

Omong-omong, aku sangat iri ketika tadi sempat mengerling ke jari manismu dengan cincin emas itu. 

Apa? Kau berniat kawin lari? Ayah tak menyetujui hubungan kalian? Jadi kalian bahkan belum menikah? Mengejutkan. 

Kupikir ia benar-benar laki-laki yang setia, berpacaran tujuh tahun dan masih bersikap sebaik itu padamu, tampaknya ia bisa kau andalkan. Pacarmu itu tampan, apalagi melihatnya membaca buku tebal di dalam mobil seperti itu. Aku tahu, ya aku ingat kau pernah bercita-cita baru akan menikah di usia 27 tahun, jadi pacarmu itu tinggal menunggu dua tahun lagi. Kurasa kawin lari bukan masalah. 

Omong-omong, benar juga ucapanmu dulu soal kematian. Kesedihan ditinggal mati selalu merupa dalam ujudnya yang cengeng dan berkarib dengan kerinduannya yang abadi. Pada masa-masa tertentu dalam hidupmu, kedua-duanya sama-sama bisa jadi tak terperi dan tak terpenuhi. Setelah kakek-nenek kita pergi, aku takut ada kelanjutannya. Meski membenci keduanya, benar-benar tak terbayangkan bagiku untuk mendapati ayah dan ibu tiba-tiba habis usianya. Aku belum berkesempatan menanyakan tentang masa muda mereka, apa mereka pernah jatuh cinta; kepada siapa saja, apa mereka pernah merasa tersesat, apa mereka pernah takut memilih jalan hidup. Tapi apakah aku akan sudi bertanya? 

Aku sudah dengar ayah menjadi perokok berat dan peminum alkohol yang parah setelah berpisah dengan Ibu. Aku tahu penghasilanmulah yang selama ini menutup biaya listrik dan air, dan keseluruhan biaya hidup kalian berdua. Ini membuatku kadang tak habis pikir, bagaimana bisa para orang tua membiarkan anak-anaknya menderita karena pilihan-pilihan salah yang mereka ambil dalam hidup? 

Kamu tentu paham, latar belakang keyakinan dua orang unik inilah yang mengawali kehancuran keluarga kecil kita. Entah bagaimana cara mereka dipertemukan. Seorang ayah yang agnostik—sesekali ke gereja hanya untuk memaki-maki pendeta dari bangku barisan paling belakang. Ibu kita—entah agamanya apa—feminis eksistensialis dan percaya laki-laki mana pun dapat takluk di telapak kakinya. 

Di mana kau tinggal sekarang? Apa di tempatmu tinggal ada kafe seperti ini juga? Aku tak pernah sebelumnya mampir ke sini. Tapi setelah hari ini, mungkin aku akan lebih sering mampir. Belakangan ini aku gemar menulis syair, mungkin aku akan menulis di sini saat senggang. Syair-syairku kugubah menjadi lagu juga. Jelas, bukan, aku tidak sebegitu nelangsanya menghadapi hidup? 

Jangan menatapku secara aneh. Aku tak sedang kehilangan topik pembicaraan. 

Aku tahu sejak balita kau sama sekali tak tertarik pada musik bernada garang, syairnya agak lawas—bukan juga favoritmu—tapi jangan sampai kau tolak bila nanti aku mengirimkan album-album musikku. Aku sudah membuat selusin lagu tentang surga dan neraka, ya aku tahu itu juga bukan favoritmu.

Ah, hujan reda. Apa kau ingat kapan terakhir kali kita main hujan bersama? Anak kecil memang tak pernah tahu malu, aku masih ingat bagaimana saat basah kuyup dan bugil kita menggigil berlari ke arah ibu untuk digantikan pakaian. Ibu selalu menomorsatukanmu. Gadis Putih-nya yang jelita, dia suka sekali memakaikanmu gaun selayaknya Putri Salju karena kulitmu yang putih sama dengan ibu. Jujur saja, itu membuatku terheran-heran hingga hari ini, mengapa ibu memutuskan memilih untuk membesarkanku, alih-alih kamu? Tetapi hidup memang penuh hal-hal yang tidak pernah kita duga, penuh juga akan hal-hal yang terjadi berulang tanpa henti.

Aku sudah terlalu banyak bicara. Sekarang giliranmu bercerita. Jadi, bagaimana, ceritamu? Oh ya, selamat tahun baru, semoga tahun ini menjadi awal yang lebih baik untuk kita.

Yogyakarta, 6 Juni 2012