Wednesday, December 16, 2009

Apa Hidup?



Apa hidup memang... seperti, cerita tentang sebuah pohon yang tumbuh di suatu tempat asing? Bahwa yang mengetahui keberadaan pohon itu hanyalah tanah, air, dan udara; hanyalah partikel-partikel gelombang sinar mentari yang menyentuh dedaunan, hanyalah burung-burung yang mungkin mencipta sarang di cabang pepohonan.

Apa hidup memang hanya tentang cerita selebritas yang menuai gosip setiap kali mereka bergandengan dengan orang baru? Televisi yang dipenuhi keributan pembawa acara yang dengan kalimat-kalimat berbeda membawa gosip secara menggebu-gebu seolah-olah kepanasan di ruangan ber-AC. Dan kemudian, seseorang atau sekeluarga atau orang-orang, mereka menonton di depan layar televisi, lalu merasa terhibur dengan acara-acara itu?


Atau hidup adalah tentang menonton film sebanyak-banyaknya, membaca novel secepat kilat dan menghabiskan ratusan dalam seminggu, bermain game dan mengejar games terbaru lalu bertukar nama dengan orang-orang baru akibat kesamaan minat, apakah hidup hanya tentang mencari makna dari novel-novel yang dibaca, film-film yang ditonton, game-game bervisual canggih yang tokoh-tokohnya dilakoni? Apakah hidup untuk menjahit, membuat prakarya, belajar berenang, belajar alat musik; piano; gitar; biola, ikut lomba dan olimpiade ini-itu, melakukan apa yang peradaban manusia sebelumnya lakukan?


Apa hidup hanya tentang bangun dari tidur, pergi ke kamar mandi, lalu sarapan, lalu berangkat sekolah kerja mencari uang, makan siang, bermain mengerjakan sesuatu mengobrol dengan kawan, mandi dan makan malam, mengulang-ulang lagi hal-hal yang dilakukan kemarin?


Apa orang-orang selamanya akan mengikat diri mereka dalam suatu negara dan menetap selamanya sebagai penduduk patung batu di negara tersebut? Apa orang-orang akan hanya setia pada satu keyakinan, didongengi surga dan neraka yang sebenarnya tujuannya hanyalah supaya mereka tahu bahwa berbuat jahat itu tidak patut, menjaga keyakinan itu dan membuat diri mereka terpisah dari orang-orang yang berbeda keyakinan dengannya?


Sunday, December 6, 2009

Kisah Tunadaksa dari SGA

© Seno Gumira Ajidarma

Biola Tak Berdawai bercerita dari sudut pandang seorang anak tunadaksa yang dari awal sampai akhir novel membuat saya berpikir berulang-ulang kali mengapa SGA memilih bocah cilik tunadaksa itu untuk menarasikan keseluruhan jalan cerita? Keadaan tunadaksa bocah tersebut diakibatkan kelainan pada sistem serebral (cerebral system). Apa SGA memilihnya karena seorang bocah cilik akan selalu bisa mengantarkan pesan macam-macam yang polos? Apa hal tersebut ditujukan untuk menggelitik hati pembaca? Apa untuk memberi kesadaran/pemahaman tentang kejadian di lingkungan bocah cilik kepada pembaca? Karena, ada banyak sekali saya temukan semacam petuah-petuah dari bocah tunadaksa tersebut di dalam cerita ini yang terlihat jelas seperti bertujuan untuk membuat kita sebagai orang-orang yang beruntung terlahir normal agar sadar terhadap keberadaan sesama kita. Bahwa bagaimanapun, kita semua memiliki kesempatan yang sama dalam apapun. Namun tentu narasi dengan "suara" semacam itu terkesan terlalu dipaksakan.

Secara keseluruhan, novel ini seperti mengkritisi keadaan zaman saat ini di mana ada banyak bayi-bayi yang dibuang oleh orang tuanya bahkan meskipun bayi-bayi tersebut berwujud cantik. Pesan yang diusung untuk hal tersebut adalah, 'Apa yang salah dengan memiliki anak dalam kondisi miskin? Tidakkah keluarga miskin bisa bertahan untuk membesarkan bayi mereka dalam kemiskinannya?' atau kalau bayi cantik tersebut dibuang oleh seorang ibu yang merasa belum cukup umur untuk merawat bayinya, 'Kenapa mesti membuang bayi? Seorang perempuan saja memiliki gerakan feminisme dimana mereka terus menerus menuntut emansipasi, lalu ke mana hak seorang bayi untuk hidup?'

Entahlah, saya suka dengan SGA yang meriset tentang Kisah Mahabrata untuk novelnya ini. Saya tak tahu apakah ini berkat diskusi beliau dengan penulis skenario cerita ini sebelumnya, Sekar Ayu Asmara, atau bukan. Pada bagian-bagian tertentu SGA banyak memasukkan tentang kisah Dewi Drupadi yang dimadu oleh Panca Pandawa dan dinyatakan oleh sang bocah tunadaksa kisah tersebut mirip dengan kisah ibu angkatnya. Dimana ibu angkatnya untuk tetap mempertahankan panti asuhannya (yang merawat dan membesarkan bayi-bayi yang dibuang) menghalalkan segala cara bahkan dengan jalan menjual tubuhnya kepada pria-pria yang sanggup membayar mahal kemolekan tubuhnya. Well, saya engga tahu apakah Diva di Supernova yang mirip-mirip kisah ini atau justru vice versa.

Saya tertegun ketika mengetahui bahwa setiap harinya ada banyak bayi yang dibuang di Indonesia (terutama di Yogyakarta di sebuah panti). Selain itu, saya suka dengan setting-setting yang digunakan di dalam cerita ini. Ada makam-makam dan Pantai Krakal. Bocah tunadaksa mengunjungi tempat-tempat tersebut sewaktu-waktu dengan ibu angkatnya. Suasana yang didapat dari tempat-tempat seperti itu sangat match dengan bocah tunadaksa agar mendapatkan kesempatan menarasikan pemikirannya tentang alam di sekitarnya. Bagaimana meskipun mereka selalu diam saja sepanjang waktu, mereka juga memiliki kepekaan yang sama seperti manusia normal untuk mengelaborasi pemikiran tentang alam sekitarnya.

Novel ini juga mengangkat nilai moral tentang seorang ibu yang sangat beruntung menjadi 'perantara' kelahiran kembali seorang anak di dunia. Mungkin karena cerita ini mengangkat Kisah Mahabrata utamanya tentang Dewi Ganggawati dan bagaimana dia membuang delapan wasu, kepercayaan akan reinkarnasi dari bocah tunadaksa tersebut jadi agaknya nampak menonjol.

Overall, kisah ini bagus dibaca sebelum hari ibu 22 Desember ini. Atau justru dijadikan hadiah oleh-oleh untuk ibu masing-masing.

Thursday, December 3, 2009

Kalender Awal Desember



Semuanya memang kembali menjadi lebih rapi dan aku lebih bersemangat belakangan hari ini. Hidupku sudah tertata dan terjadwal apik tidak seperti tahun sebelumnya. Tapi rasanya, sewaktu aku melihat kalenderku tadi, rasanya... ada yang hilang. Harus menyadari bahwa sebentar lagi semuanya akan berlalu. Sebentar lagi, tahun akan berganti. Hanya tersisa 28 hari lagi. Apa yang telah kulakukan selama setahun ini? Apa yang telah berubah?

Well, aku tentu saja sudah jauh berubah daripada aku di tahun sebelumnya. Aku tidak tahu apa dan oleh sebab apa. Aku hanya merasa aku sangat berubah di tahun ini. Mungkin di tahun 2009 inilah pertama kalinya aku bisa keluar dari tanah kelahiranku, Denpasar Bali. Mungkin di tahun 2009 inilah aku untuk kali pertama tinggal sendiri di kamar kos. Di tahun 2009 ini aku bertemu banyak orang baru dan juga orang-orang yang sebelumnya telah lama kukenal di dunia maya. Tahun 2009 ini sangat indah jika kupikir-pikir. Ada banyak pelajaran baru yang kudapatkan di tiap bulannya, minggunya, harinya.


Kalau kupikir, tahun 2008 aku masih cenderung kekanak-kanakan dan kurang dewasa. Aku masih terpaku pada dorongan orang-orang di sekitarku untuk bisa melangkah maju dan meraih cita-citaku. Di 2009, terutama di awal Desember ini, aku merasa bahwa semua pilihan ada di tanganku dan aku harus bertanggung jawab atas pilihan-pilihanku. Karena itu kupikir, aku harus memilih tujuan, arah, dan jalan hidup yang kusukai dan bisa kunikmati dan tidak akan kusesali karena aku akan mempertanggungjawabkannya. Kemudian di 2009, terutama di November setelah mengikuti ajang NaNoWriMo, aku jadi mengerti bagaimana pentingnya mengalokasikan waktu 24 jam yang kupunyai (seperti orang-orang lainnya miliki) dengan sebaik-baiknya.


Di 2008, aku belum pernah bepergian dari satu kota ke kota lain dengan kereta api darat dan berjalan sendirian di manapun. Aku belum pernah membeli tiket kereta sendiri, tiket pesawat sendiri, menumpang travel sendiri, keliling naik busway dan bus kota sendiri (di Bali engga ada bus-bus kota seperti di Jakarta, Yogya) atau naik angkot ke manapun. Di 2009, aku mengalaminya. Aku berjalan sendiri, berlari mengejar busway di jembatan penghubung antar busway sendiri, aku melihat air mancur di Bunderan HI sendiri, aku merasa hidup. Aku merasa hidup.

Wednesday, November 4, 2009

Saat Itu yang Terjadi

Saat lukamu terlalu sakit untuk kau rasakan ketika kau terjaga, maka tidurlah.

Saat kakimu terlalu lelah untuk kau gunakan untuk melangkah, sejenak berhentilah.

Saat pintu hatimu dibanting dan ditutup keras oleh orang-orang yang kau kasihi, biarkanlah pintu itu tertutup sebentar.

Sampai lukamu sembuh, sampai kakimu kembali kuat, sampai hatimu dibukakan oleh kasih yang lain.


Sunday, October 11, 2009

On How I Begin Writing Literary Fiction

I encountered with serious writing tools (and then, literature--or the belle letters) on October 2007. At that time, started googling the word; suicide, I coincidentally found a site named Kemudian, and I found that the writings of the members are quite loveable. I didn't understand how to find a good way becoming member of that site, but for the first time, after the word suicide, I typed some other hints; ‘hujan’, ‘bogor’, and ‘kesepian’ and I just saved all of the writings on the disk and read it thoroughly

Back from school, I did it again. I did search for the site through while browsing for school’s material. Until then I registered for the site. Most of the writers joining the site are from Jakarta. At that time, in the middle school, Jakarta sounds like a so far foreign land for me. In my eyes, Jakarta is a capital city of my country--that in Jakarta, there would be so many arrogant people living there, that they must through a very hard life competing with each other. It’s quite funny to remember what I thought at that time, since today I found Jakarta no longer that scary.

The time I joined, I found a senior writer, Ayu Prameswary. I remember I asked her questions about the basics to use that site, such like how to adding friends, commenting to friend’s posts, and even to posting my writings there. She patiently answered my silly questions.

The entry that I posted for the first time, I took it from my diary. People commented on my writings or only did their sharing or greeting. I met several of best friends--yeah, I did find best friends from the site. Without saying who’s them, I know they know they really meant to be in my life.

In the same year, I wrote poems almost everyday, even though I made stories, I only made love stories, the teenager ones. Finding people wrote masterpiece, I then found my writings were sucks, love stories; love poems; without any morality points. Isn’t the plot and the character clear and lovable? Many questions reveal.

I did really start it from the lowest part like everyone might do (not for saying I’ve made my best, it’s only for sharing: people can get better) 'til my writings becoming better. I can say it happened because I found user name miss worm and andrea there.


Wednesday, September 23, 2009

22 Jam


[1]

DINI HARI pada saat aku sedang kehilangan ide untuk kutulis, televisi yang masih menyala tiba-tiba menampakkan bintik-bintik semut di layar, kemudian gambar hilang sama sekali, dan televisi padam. Layar monitor di hadapanku juga padam. Suara musik Tchaikovsky yang sejak tadi kuputar untuk menemaniku menjemput inspirasi mengabur menyatu udara, senyap.

Di luar, kulihat dari jendela, hujan sudah lebat sekali padahal sejam lalu masih gerimis kecil-kecil. Udara dingin menusuk-nusuk padahal aku sedang berada di dalam rumah. Kuperhatikan dengan saksama, bongkahan-bongkahan es jatuh dari langit, membentur jalan aspal di depan rumahku dan atap-atap rumah tetanggaku, BRUK, membentur juga rumahku. Jika bisa bicara, jalan-jalan dan rumah-rumah mungkin akan bilang, mereka merasa kesakitan saat itu.

Kemudian semuanya tiba-tiba gelap. Tak ada celah cahaya, setitik pun. Wanita-wanita yang masih terjaga dari tidurnya dari rumah-rumah sebelah rumahku berteriak histeris menyambutnya. Aku hendak bergegas naik ke kamar istriku untuk membangunkannya yang sedang tertidur pulas bersama Alia dan Jala ketika kudapati suara jejak kaki terburu-buru menuruni tangga.

“Indra? Kamu di sana?” suara istriku, Alea, datang dari arah tangga. Aku hafal betul arah mata angin di rumahku meski tanpa penerangan sekali pun, aku sudah tinggal di sini hampir sepuluh tahun, “Mengapa bisa tak ada cahaya, Yah?”

Thursday, August 6, 2009

Rota Fortunae


SUATU hari seorang bocah kecil menemukan seorang pria tua sedang duduk di taman di pinggir danau.

Siapa laki-laki itu? Sedang apakah pria tua itu di sini?

Tetap bertanya-tanya, ia mencoba mendekati si pria tua. Ia lalu memanjat pohon dan mengintai pria tua itu dari sana. 

Sang pria tua duduk di kursi taman, memegang buku sketsa di tangan. Tangan tuanya masih dengan lincah melukis pada buku sketsa. Pada lembar yang terlihat, terdapat taman dan danau yang indah—tetapi lebih indah daripada taman dan danau saat itu. Taman dan danau yang sama dengan tempat mereka berada.

Di taman dan danau di sketsa itu ada kursi taman yang persis seperti kursi taman pada kejadian sore itu; seorang gadis yang duduk di sana, dan seekor anjing kecil menemaninya di sisinya: dengan lidah menjulur dan ekor bergoyang-goyang cepat. Di langit di sketsa itu, matahari sedang terbenam. Di sudut sebelah kanan, terdapat tulisan kanji besar-besar, bertuliskan: Pertemuan.

“Mengapa mengintip saja?” Pria tua itu berkata, tanpa sebelumnya sempat menoleh ke arah bocah kecil yang sedang mengamatinya dari atas pohon, “Turunlah, duduklah di sampingku,” lanjutnya.

Mata bocah kecil itu melebar. Iakah yang dimaksud? Tapi bagaimana bisa pria tua itu mengetahui kehadirannya tanpa sedikit pun mengalihkan pandang?

“Apa kabarmu?” Pria tua itu bertanya ketika si bocah kecil sudah turun dan berjalan ke arahnya.

“Ba… baik. Bagaimana Kakek tahu, aku sedang memperhatikan Kakek dari sana?”

“Duduklah, aku sudah lama tidak berbincang dengan diriku sendiri.”

Di… dirinya sendiri?

Bocah kecil itu mengambil tempat di sisi pria tua.

“Kau tahu siapa aku?” Pria tua itu kemudian bertanya lagi.

Bocah kecil menggeleng, “Bagaimana aku bisa tahu?”

“Apa kau tidak melihat kemiripan di wajah kita?”

Bocah kecil itu mengamati. Memang mirip, sedikit mirip. Lalu apa artinya—terdapat keterkaitan di antara mereka?

“Sungguh-sungguh tak mengenali siapa aku?”

Bocah kecil itu menimbang-nimbang, “Apa Kakek sedang mempermainkanku?”

Pria tua itu tersenyum, “Pilihlah satu dari dua kemungkinan. Aku adalah malaikat pelindungmu yang selalu ada di sisimu ataukah aku adalah dirimu dari waktu yang berbeda. Tebakanmu betul, kuberikan kau sebungkus manisan cokelat kesukaanmu.”

Pria tua itu mengangkat sebungkus cokelat dari dalam kopernya yang lusuh lalu meletakkan bungkusan itu di pangkuan si bocah kecil.

“Kenapa aku harus menebak?”

“Karena aku akan memberimu hadiah jika tebakanmu betul.”

“Tapi kedua pilihan yang Kakek berikan, bagiku tidak masuk akal.”

Pria tua itu berdeham sejenak, “Apa kau tak percaya kepada malaikat pelindung?”

“Kenapa aku harus percaya?”

“Karena mereka ada. Benar-benar ada. Baiklah, kau membuatku kalah,” ujar si pria tua. “Aku malaikat pelindungmu.”

“Aku tak percaya.”

“Kalau kau percaya, kuberikan sebungkus manisan cokelat itu cuma-cuma untukmu.”

“Aku tidak menerima makanan dari orang asing. Terima kasih.” Bocah itu mengembalikan bungkusan merah itu kepada si pria tua. “Sekarang katakan mengapa Kakek mesti berbohong kepadaku…”

“Setiap anak kecil di usiamu selalu percaya dongeng tentang malaikat pelindung, mengapa kau tidak?” Pria tua itu kemudian bertanya.

“Aku bahkan tidak percaya Tuhan.”

“Oh, ya?” Pria tua itu terkesiap, “Bagaimana bisa? Umurmu berapa, Bocah?”

“Kupikir dunia hanya dikuasai oleh kepala manusia yang isinya berbeda-beda. Aku hanya percaya hal baik akan selamanya baik. Aku hanya butuh berkarma baik.”

“Maksudmu? Kau tidak percaya Tuhan tapi kau percaya agama?”

Tuesday, July 14, 2009

Diandra



APA Papa juga memperhatikan mereka? Yang berjalan di sana?” Dengan satu tangannya masih menopang dagu yang bersandar di tembok restoran, matanya asyik melotot memandangi orang-orang yang berjalan di depan kami. Mulutnya dikerutkannya sejenak, telunjuk tangan kanan bermain-main di cangkir teh pada meja di depannya.

“Macam-macam orang,sahutku.

“Orang-orang yang duduk?”

Aku memperhatikan kursi tunggu yang dipenuhi oleh orang-orang yang menunggu kereta malam, kemudian kembali memandang ke arahnya, ke arah gadis kecilku yang telah dewasa, “Hal apa yang kamu minta untuk Papa perhatikan?”

“Lihat betapa mereka yang berjalan kelihatan sangat sibuk. Mereka berjalan cepat menarik kopernya seolah akan tertinggal kereta, para pengangkut barang seperti berlari mengejar mereka. Sementara orang-orang yang duduk, mereka begitu santai menonton televisi atau membaca novel atau bercengkerama dengan keluarga mereka.”

“Lihatlah, Papa ... mengapa duduk dan berjalan membuat orang terlihat berbeda?” dia melanjutkan.

“Orang yang berjalan, toh, akan duduk. Orang yang duduk juga akan berjalan. Bukannya begitu?” mungkinkah dia sedang menggiringku pada topik kegemarannya—menarik-narik logikaku agar bisa dia pereteli seperti dulu ketika kecil dia gemar membongkar-pasang mainan-mainannya.

“Aku takut, Pa ... takut sekali untuk harus tinggal sendiri.”

Kutatap matanya, kosong tanpa air mata.

“Kalau aku duduk sendiri seperti ini suatu saat nanti, apa mungkin aku hanya akan memandangi orang-orang di sekitarku seperti selama initanpa teman untuk diajak berbicara?”

“Bukannya Papa selalu ada buatmu? Kamu bahkan bisa menelepon Papa kapanpun kamu mau.”

“Mama dulu juga bilang begitu.” Dia menatapku, tersenyum samar, “Lagipula, Papa enggak akan menemaniku di Jogja. Aku akan tinggal sendiri dan berkuliah dan mencari gelar. Tanpa Papa. Apalagi Mama.”

“Hanya empat tahun. Kalau kamu rajin, bahkan bisa lebih sebentar lagi. Kalaupun kamu mau pulang ke rumah kita tiap liburan, dengan kereta atau dengan pesawat, Papa sanggup membiayainya.”

“Aku yang memutuskan untuk tinggal jauh dari Papa. Sampai kuliahku selesai, aku tidak akan pulang ke rumah.” Begitu jawabnya, sama seperti tadi di rumah, sama seperti saat-saat lalu ketika mamanya masih ada untuk melarangnya pergi jauh dari pelukan kami.

“Jadi, Papa, selama empat tahun ini mungkin aku akan berjalan saja,” tutupnya, karena setelahnya bergaung panggilan dari arah kereta untuk para penumpang. Dia menggendong ranselnya dan menggiring kedua kopernya. Kupandangi kepergiannya dari kursiku. Entah dia yang bertambah kuat semakin dia tumbuh dewasa atau aku yang bertambah lemah sehingga tak mampu berdiri untuk sekadar memeluknya atau mengantarnya ke kereta.

Tuesday, April 21, 2009

Mengantar


(Cerpen ini kemudian dimuat di Jakartabeat.net, 10 Mei 2014)



dunia dengan dua sisi Kau tatap Ia dari pikir-Mu / kadang nyata kadang maya mendua pada Satu / dan pada-Nya Kita bergenggaman / Kita berjalan berputar / pada Ia yang menyata Satu / pada bumi yang melingkar mentari / lihat perjalanan Kita kini / adakah Kita mengiyakan tiada / mengenggankan nyata / seperti halnya Ia menjadi bumi dan mentari / Ia menjadi tanah dan langit / menjadi Aku dan Kamu / nyatakah pada-Mu senyata pada-Ku / bahwa Kita Satu / bahwa Kita adalah Ia seperti Ia adalah Kita / seperti Aku adalah Kamu / nyatakah pada-Mu Kita adalah Satu bahkan pada maya / bahkan pada tiada / karena Kita: / menyatu Alam Semesta.

ARWAHNYA secara perlahan meniti langkah pada gelap dunia niskalayang dulu ketika hidup tak pernah dimengertinya. Sebagai arwah dalam wujud yang halus, dia tertabrak oleh segala benda; tidak ada orang yang meminta maaf ketika berlari melewatinya. Dia ditabrak segala, bahkan oleh gas yang berpencaran.
Semasa hidup dia tak pernah tahu di mana tempat hunian jiwanya bilamana dia mati. Kini dia juga tak tahu ke mana dia akan menuju bilamana arwahnya hidup abadi. Saat itu, bersamanya, banyak jiwa juga berjalan pada gelap, pada kesunyataan, pada ketiadaan pemahaman, pada gelombang paralel dunia. Namun, dia menyadari, mereka tak saling melihat. Mereka berjalan tanpa mata, tanpa alat indera, tanpa atribut pada jasad yang pernah mereka huni.
Dia tak ingat dia lepas dari tubuh siapa. Baginya, dia hilang dari sesuatu dan menjadi bagiannya sendiri. Dia hanya masih mengingat, dia dulu pernah memiliki tempat lain untuk tinggal. Mengisi bagian tubuh seseorang dan hidup di sana. Seperti halnya ekor cacing yang masih bergerak-gerak bahkan ketika kepalanya diputus, dia menjadi bagian pada jari telunjuk yang masih hidup ketika jantung orang itu berhenti. Namun, akhirnya dia lepas.
Pada kesadarannya—dia bertanya-tanya, di manakah sebenarnya letak jiwa? Diakah jiwa?

“IBU tak mungkin mati!” Seorang gadis berteriak di depan kamar rumah sakit. “Apa yang bisa aku lakukan tanpa ibu? Ibu jangan mati, hanya Ibu satu-satunya yang Alin punya!”
Orang-orang di rumah sakit itu mengelilinginya. Setiap orang pada setiap kamar keluar untuk menonton gadis itu menangis.
Kamar di hadapan si gadis telah telanjur kosong. Sebuah ranjang bersprei putih tanpa penghuni. Tak ada lagi tiang infus.

Tuesday, April 7, 2009

Kompilasi Tiga Kehilangan

(I)
JADI ceritanya dia sama sekali tidak lapar. Seharian sejak dari rumah hingga dia memutuskan untuk pergi jalan-jalan di tengah hari, dia mengunci mulut untuk tidak bicara juga tidak makan apa pun.

Siangnya, hujan turun begitu lebat. Dia berjalan tanpa payung. Arus air yang menuju ke bawah berlawanan dengan langkahnya yang menanjak ke atas. Ditendangnya aliran air itu. Berkecipratan.

Ingin sekali dia berjalan dengan memejamkan mata atau merentangkan tangan seperti yang biasa dia imajinasikan sejak kecil.

Ada sesuatu pada hujan yang selalu merenggut orang-orang yang dia kasihi. Sesuatu tentang hujan yang selalu menyita kenangan-kenangannya. Hingga setiap hujan tiba, dia kembali teringat akan orang-orang yang dia kasihi juga kenangan-kenangan yang sekian lama disita oleh waktu. Hingga dia selalu ingin hujan tak pernah berhenti dan dia bisa terus merentangkan tangan di sepanjang perjalanan pulang.

Sama seperti hari ketika ibunya meninggal, hujan turun begitu lebat. Sama seperti saat itu, dia menyusuri jalan dengan merentangkan tangan, sejak keluar dari kamar mayat rumah sakit hingga rumah. Seperti itulah kini dia mengulangnya.

Dia sampai di gerbang rumah. Tempat yang tanpa siapa-siapa karena kini hanya tinggal dia yang mengisi ruangan-ruangan itu. Rumah yang tanpa denyut, tanpa napas. Kosong.

Dibukanya pintu rumah. Tidak ditutupnya lagi. Tidak dipedulikannya keadaan rumah yang begitu berantakan. Dia berjalan ke arah kamar mandi, menyalakan keran air. Sementara air memenuhi bathtub, dia mengambil semua berkas-berkas di lemari, ijazah-ijazah sejak SD hingga dia lulus dengan gelar magister.

Dibawanya semua berkas itu turut bersamanya ke arah dapur. Dinyalakannya kompor gas di dapur lalu dibuangnya satu per satu semua berkas itu ke atas api. Tidak dimatikannya kompor gas itu. Lalu dia berjalan ke arah kamar mandi. Bathtub sudah dipenuhi air. Dituangnya sebotol cairan pembersih lantai kamar mandi ke dalam bathtub.

Dia melangkah keluar lagi, menuju ke arah kamar. Mengambil kertas dan menuliskan sesuatu. Setelah beberapa saat, dimasukannya kertas itu ke dalam amplop.

Teruntuk Clara. Ditulisnya di sudut kanan atas permukaan amplop. Kemudian diletakkannya amplop itu di atas meja baca. Setelah itu, dia membuka laci dan lalu mengambil sebuah pisau lipat, dibawanya menuju ke kamar mandi.


“TY?” Seorang gadis memanggil-manggil dari arah gerbang yang tergembok. Dilihatnya pintu rumah Ty tidak terkunci. Terasa janggal karena tidak biasanya Ty lupa mengunci pintu rumah jika dia sudah menggembok pagar.

“Mungkin dia sedang tidur?” Pria di sebelah gadis itu berpendapat. Si gadis menoleh dengan enggan lalu menggelengkan kepala. Tidak mungkin Ty tertidur dan lupa mengunci pintu.

“Kecurigaanmu berlebihan, Clar.” Pria itu melanjutkan.

“Kartu-kartuku tak pernah salah, Ar.” Clara menjawab.

“Aku harap kali ini salah.”

Gadis itu sejenak menarik napas, “Aku juga.”

Tapi asap muncul dari arah belakang rumah. Bagian belakang rumah di hadapan mereka dilalap api yang mengganas.

ORANG-ORANG telah membantu mereka dengan memadamkan api dan menyirami sepenjuru rumah dengan berember-ember air. Di luar begitu ramai dan di hadapan mereka, mayat Ty memerah di dalam bathtub. Cairan yang entah apa menggumpal-gumpal dan terapung di atas air. Aria memeluk Clara. Gadis itu menangis di bahu Aria.

Ketika mayat Ty diangkat, Clara berteriak. Aria refleks menghalangi penglihatan Clara dengan tangan kanannya. Sementara dia melihat tubuh Ty yang membeku. Bagian bawah tubuh jenazah Ty berwarna merah keunguan. Darahnya mengendap searah dengan arah gravitasi bumi, tanda bahwa jantung Ty sudah tidak lagi berdetak, sudah tidak lagi memompa darah.

“Itu mayat, Ar?” Clara bertanya terbata.

“Itu mayat.” Aria menarik Clara semakin erat ke dalam pelukannya, “Itu Ty.”
Clara,
Kamu tahu betapa lelahnya aku menjalani hidup. Tanpa siapa-siapa menemaniku di sisiku. Aku tahu kamu mungkin tidak akan pernah menyadari kelelahanku menyimpan jiwa seorang anak-anak di dalam diriku. Ketakutanku melewati jalan-jalan baru. Dan aku terlalu takut untuk terus hidup. Sendiri dan tanpa arah tujuan. Bisakah kamu bayangkan rasanya hidup seperti itu, Clar?
Air mata Clara terjatuh di atas kertas itu. Aria membelai rambut Clara dan lalu mengecup ubun-ubunnya, “Semuanya akan baik-baik saja.”


Saturday, March 21, 2009

Gadis Pemakan Kepala Orangtuanya

PAGI itu aku duduk di atas bale di sudut sebelah timur belakang sebuah restoran, tempat yang selalu menjadi favoritku setiap mampir ke Bali karena panorama yang tidak biasa. Gedung bernuansa layaknya bangunan zaman kolonial, dengan pohon yang dipercaya bisa mendatangkan keberuntungan, Pachira aquatica nama Latinnya, tetap terpajang di dalam vas di tiap meja di atas gazebo.

Aku juga menyukai pemandangan di belakang restoran. Menyukai Gunung Batur yang diselimuti awan putih. Ditambah lagi, saat itu hujan hadir langsung dengan begitu lebat. Para pelancong, yang sebelumnya asyik mengambil foto berlatar gunung berselimut awan putih, dengan gesit berlarian ke arahku juga ke arah gazebo-gazebo lainnya.

Hingga beberapa saat kemudian perhatianku teralihkan oleh sesuatu yang janggal. Oleh seorang gadis kecil berambut blonde dengan pita merah yang menggendong seekor anjing ras Kintamani di pelukannya. Dia meletakkan anjing itu di atas gazebo di tengah kolam ikan. Gazebo yang tidak dipilih oleh siapa pun. Beberapa saat kemudian gadis itu ikut naik, menemani anjingnya.

Aku terpaku di posisiku, lebih dari sejam. Seolah tersihir oleh sesuatu yang entah apa. Aku menyadari ada sesuatu yang mistis dari caranya berjongkok di hadapan anjing itu. Sedari tadi, kulihat mereka asyik bercakap-cakap. Kuperhatikan, dia—gadis kecil itu—begitu mahir mengonggong. Tidak ada kecanggungan sama sekali.

Hampir berjam-jam mereka sama-sama berjongkok. Perawakan gadis kecil itu tinggi seperti umumnya kelahiran blasteran dan caranya mengambilkan sosis dari pinggan pelayan untuk diberikan kepada anjingnya—yang sedari tadi dia ajak berbincang dengan gonggongan—menunjukkan bahwa dia adalah orang penting di restoran itu. Gerak mata dan air mukanya mencirikan bahwa kemampuannya juga bukan seperti gadis biasa. Dia istimewa.

Betapa akhirnya kusadari banyak orang juga ikut memperhatikan tingkah gadis itu. Bukan hanya aku. Masing-masing dari kami memesan berulang kali kepada pelayan yang lewat—memesan apa pun yang bahkan tidak kami pedulikan harganya. Gadis itu seperti tontonan musik di restoran itu. Seperti pemandangan yang menyihir—seolah kami menunggu sesuatu terjadi.

Tapi tidak ada sihir yang terjadi—tidak sampai sore itu berakhir. Tidak sampai dia dijemput oleh seseorang bersetelan serba hitam dan digendong menuju pelataran parkir lalu dimasukkan ke kursi belakang mobil dengan beringas. Dia, sampai hari itu berakhir, memang seperti boneka tontonan yang mendekati sempurna.

Friday, March 6, 2009

Kinnara


“PERNAH tahu mitos yang mengatakan bumi ini disangga oleh empat ekor kura-kura? Seperti bintang-bintang yang berjejer di sana,” Dia menggerakkan telunjuk dari satu sudut ke sudut lainnya. “Konstelasi kura-kura.”

Hari itu seperti biasa dia memulai malam kami dengan cerita yang asing, juga seperti biasa, aku menggeleng, tak menyimak apa yang dia bicarakan.

Pasti terlihat bodoh. Selalu bodoh di matanya.

Lain waktu, tiap kali kami menatapi langit seperti saat itu, dia pasti akan selalu bilang (aku tahu niatnya hanya untuk mengomentari minimnya ketertarikanku pada langit): percuma membuat orang-orang tertarik memahami langit, sementara mereka sudah lebih dulu terpana dengan bintang-bintang yang bertebaran di layar kaca. Bintang-bintang yang redup atau terangnya hanya tergantung seberapa besar sensasi yang dibuatnya.

Dia memang sangat menyukai langit. Semua istilah yang dipakainya kait-mengait dengan bintang, meteor, atau istilah-istilah asing di fisika. Dia adalah seseorang yang lebih mudah memahami ilmu astronomi ketimbang ilmu anatomi tetapi sayangnya dia menjatuhkan pilihan dengan berkuliah di jurusan kedokteran.

Beberapa saat kemudian dia tertawa, “Tiap kali memperhatikan bintang bersamaku, tidakkah kamu juga tertarik untuk ikut menghafal nama-nama rasi bintang?”

Aku mengernyitkan dahi.

Seolah paham, dia menjelaskan, “Tidak pernah ada yang namanya rasi kura-kura.”

Lalu dia kembali tertawa.

“Aku, kan, enggak kuliah astronomi,” begitu caraku membela diri.

“Aku juga enggak kuliah astronomi.”

Saat itu, aku kembali kalah telak darinya.

Monday, February 16, 2009

Pria Kecil, Permen Kuning dalam Toples Kaca, dan Segelas Air


February 16th 2008 – February 16th 2009

Pria kecil,



PAGI ITU, saat kamu menaruhku di dalam toples kaca sebelum berangkat sekolah, entah perasaan apa yang ada di dalam diriku. Aku tak ingin kamu meninggalkanku. Karena entah kenapa, aku tahu kamu tidak akan pernah kembali.

Tapi aku terus menanti kedatanganmu. Sampai akhirnya Ibumu mengangkat telepon dan menangis setelahnya. Katanya kamu telah meninggal.

Hari itu Sabtu. Begitu kelabu buatku. Rumahmu sepi. Semua orang pergi ke rumah sakit untuk memastikan bahwa itu memang kamu. Bahwa kamu memang telah meninggal.

Andai kamu tahu. Aku selalu suka melihatmu tertidur di sebelahku, melihatmu bernapas dan bermimpi. Aku suka memperhatikanmu tertawa. Sambil menanti saatnya kamu akan memperhatikanku. Untuk mengatakan betapa manisnya diriku.

Aku tak tahu kenapa aku bisa menjadi begitu istimewa bagimu. Kami datang berdua belas. Kami ditaruh dalam sebuah kotak. Jauh-jauh dibawa Ayahmu dari Amerika. Tapi aku heran kenapa kamu hanya memakan kesebelas saudaraku. Tidakkah aku nampak manis bagimu?

Kami berkumpul, berwarna-warni bagai pelangi. Apa karena aku berwarna kuning maka kau tak menyukaiku? Kata orang-orang warna kuning adalah warna yang dekat dengan simbolisme kematian. Tapi aku tidak percaya. Aku tahu ada alasan lain kamu enggan memakanku.

Kamu menaruhku di dalam toples. Tidak pernah kamu makan, hanya kamu pandangi lekat. Sampai pagi itu kamu mengambilku dari dalam toples, menatapku. Aku pikir kamu akan memakanku. Aku yakin kamu akan menyukaiku.

Tapi Ibumu memanggilmu untuk mengikat tali sepatumu dan mengajakmu berangkat ke sekolah. Kamu mengantongiku dan berlari ke arah Ibumu.

Ayahmu duduk di meja makan, setangkup roti bakar ada di atas piring besarnya. Aku ingat ketika dulu beliau membeli kami untuk dijadikannya oleh-oleh buatmu. Khusus buat putra tunggalnya yang baru saja memenangi olimpiade fisika nasional, katanya. Kami diboyong mengelilingi kota, ke bandara, kami diajak ke rumah makan, ke toko pakaian, ke segala tempat yang ingin dia kunjungi sebelum pulang ke rumah, sampai akhirnya kami diberikan kepadamu. Dan pagi itu, hanya aku seorang yang tersisa.

Tapi saking asyiknya aku memperhatikan Ayahmu, tak kusangka aku akan jatuh dari kantongmu. Ibumu mengambilku. Dia bilang bahwa kamu tidak boleh memakan coklat untuk sementara waktu. Katanya kamu sudah terlalu banyak memakan coklat. Beberapa gigimu berlubang karenanya. Maka dia bilang agar kamu menyimpanku kembali ke dalam toples.

Aku mendengar percakapan kalian. Aku memperhatikanmu. Perjuanganmu untuk memakanku. Ternyata ada alasan mengapa kamu memutuskan untuk memakanku paling akhir.

“Ini warna favoritku, Ibu. Coklat ini favoritku.. Aku sudah memutuskan untuk memakannya sekarang,”

“Ibu tahu kamu selalu memakan makanan yang kamu sukai paling akhir, tapi dokter gigimu bilang kamu tidak boleh makan coklat lagi untuk sementara waktu.”

“Tapi Ibu..,”

“Kamu bisa memakannya lain waktu.”

Biarpun wajahmu berkerut kesal, kamu tetap melakukan perintah Ibumu dengan patuh, kamu membawaku kembali ke kamarmu dan meletakkanku di dalam toples di sebelah segelas penuh air minum pada meja panjang di pinggir jendela. Setelahnya kamu membuka gorden. Aku melihat cahaya matahari masuk melalui celah-celah ventilasi di bagian atasnya. Lalu kamu menutup toples.


Saturday, February 7, 2009

Religia


(Seorang Wanita di Kursi Roda)
DULU hujan selalu membuatku berjarak dengannya. Karena aku tak bisa melihat secara jelas sosoknya yang kabur di balik jendela berembun. Bertahun-tahun hujan selalu akan membuatku berjarak dengannya. Mengamatinya merentangkan tangan di kejauhan, sementara aku menggenggam gelas gin berisi soda susu. Aku sering berkata kepadanya, bahwa aku tak punya siapa-siapa dalam hidupku. Tanpa kusadari, bahwa aku selalu memilikinya untuk mendengarkanku bercerita. Andai ia tahu, ia membuatku sering merasa kosong. Seperti yang acap ia dengar, bahwa aku benci keterikatan. Keadaan terikat yang tak impas membuat ruang menjadi terlihat terlalu luas dan jarak merentang semakin jauh. Karena ia selalu membuatku berpikir; bagaimana seandainya jika aku kehilangannya atau ia kehilanganku? 

(Pria yang Mendorong Kursi Roda)
SORE itu hujan, aku mendorong kursi rodanya, entah menuju ke mana. Dia bersikeras memintaku meninggalkannya sendiri di kamar yang pengap oleh bau obat atau membiarkan suster jaga mengajaknya jalan-jalan berkeliling. Kubilang aku tak cukup nyali untuk harus kehilangannya tanpa sepengetahuanku.

“Aku ingin makan bubur,” ujarnya. Sementara dia membiarkan senampan makanan dari rumah sakit di meja di sebelah ranjang tak tersentuh.

Sepanjang perjalanan menuju kafetaria, kami melihat banyak burung gereja di langit. “Besok aku akan menjadi salah satunya.” Begitulah dia selalu percaya orang-orang mati akan bermanifestasi terlebih dulu menjadi hewan sebelum terlahir kembali.

“Aku ingat kata-kata ayahku, tentang bagaimana dia sampai harus kehilangan ibuku hanya untuk melahirkanku.”

Entah apa yang ada di pikirannya. Yang jelas di pikiranku, semua kenangan tentang kebersamaan kami berputar di dalam orbitalnya, tereksitasi satu per satu di dalam tempurung kepalaku, semakin kehilangan energi tiap kali kusadari aku akan kehilangannya sebentar lagi.

“Mungkin sebelum mati, malaikat surga bertanya kepadanya. Antara dia memilih untuk terus hidup dan membiarkanku mati, atau dia mati untuk membiarkanku terus hidup.”

Mendorong kursi rodanya saat dia sedang merasa kehilangan semangat hidup, membuatku kehilangan daya gerakku sama sekali.

“Dan nyatanya ibuku memilih mati.”

Beratnya sudah turun sebanyak dua puluh kilogram selama setahun dia menjalani kemoterapi. Usianya baru dua puluh satu tahun, dan dia menderita kanker otak. Tumor di otak tidak membuatnya kehilangan daya pikir atau menurunkan kecerdasannya. Bahkan setiap hari semenjak dia dirawat inap di rumah sakit, dengan banyak jenis buku yang dia baca, aku selalu berfirasat seolah suatu saat dia akan mengalahkanku dalam banyak hal.

Sebelumnya dia selalu kalah pada diskusi tentang apa pun yang kusukai, dan aku selalu seimbang tiap kali diajaknya berdebat tentang hal-hal yang dia sukai. Kami membicarakan tentang kecerdasan artifisial, kemungkinan penyebab kiamat, kadang aku membicarakan tentang ilmuwan Matematika, dan dia membahas mengenai kesamaan mereka dengan tokoh-tokoh Psikologi. Mengingat momen-momen itu, aku tahu dia tidak akan tergantikan.

“Ibumu memberimu hidup selama dua puluh tahun,” kataku, “yang mungkin dia tidak yakin apakah dia akan membutuhkan seperempat dari waktunya itu untuk terus menantikan seorang putri sepertimu.”

Ibunya melahirkannya di usia empat puluh tahun, dan sebagaimana umumnya wanita pra-menopause, mereka akan kehilangan kesuburan menjelang usia empat puluh lima. Aku yakin, saat itu ibunya pasti tidak mau membuang-buang waktu untuk menunggu lagi.

“Seandainya dia tahu putrinya tidak akan berumur panjang,” dia menjawab, “apa mungkin dia mau mengorbankan nyawa?”

“Manusia tidak pernah tahu,” sejenak aku terdiam, “… tentang keajaiban apa yang akan Tuhan beri di sepanjang perjalanan hidupnya. Kupikir dia hanya mencoba mengambil risiko dan bertaruh dengan keniscayaan.”

Dia menarik napas. Sepanjang perjalanan selanjutnya kami membeku dalam diam.