2009/12/16

Apa Hidup?

Apa hidup memang... seperti, cerita tentang sebuah pohon yang tumbuh di suatu tempat asing? Bahwa yang mengetahui keberadaan pohon itu hanyalah tanah, air, dan udara; hanyalah partikel-partikel gelombang sinar mentari yang menyentuh dedaunan, hanyalah burung-burung yang mungkin mencipta sarang di cabang pepohonan.

Apa hidup memang hanya tentang cerita selebritas yang menuai gosip setiap kali mereka bergandengan dengan orang baru? Televisi yang dipenuhi keributan pembawa acara yang dengan kalimat-kalimat berbeda membawa gosip secara menggebu-gebu seolah-olah kepanasan di ruangan ber-AC. Dan kemudian, seseorang atau sekeluarga atau orang-orang, mereka menonton di depan layar televisi, lalu merasa terhibur dengan acara-acara itu?

Atau hidup adalah tentang menonton film sebanyak-banyaknya, membaca novel secepat kilat dan menghabiskan ratusan dalam seminggu, bermain game dan mengejar games terbaru lalu bertukar nama dengan orang-orang baru akibat kesamaan minat, apakah hidup hanya tentang mencari makna dari novel-novel yang dibaca, film-film yang ditonton, game-game bervisual canggih yang tokoh-tokohnya dilakoni? Apakah hidup untuk menjahit, membuat prakarya, belajar berenang, belajar alat musik; piano; gitar; biola, ikut lomba dan olimpiade ini-itu, melakukan apa yang peradaban manusia sebelumnya lakukan?

Apa hidup hanya tentang bangun dari tidur, pergi ke kamar mandi, lalu sarapan, lalu berangkat sekolah kerja mencari uang, makan siang, bermain mengerjakan sesuatu mengobrol dengan kawan, mandi dan makan malam, mengulang-ulang lagi hal-hal yang dilakukan kemarin?

Apa orang-orang selamanya akan mengikat diri mereka dalam suatu negara dan menetap selamanya sebagai penduduk patung batu di negara tersebut? Apa orang-orang akan hanya setia pada satu keyakinan, didongengi surga dan neraka yang sebenarnya tujuannya hanyalah supaya mereka tahu bahwa berbuat jahat itu tidak patut, menjaga keyakinan itu dan membuat diri mereka terpisah dari orang-orang yang berbeda keyakinan dengannya?

Apa murid-murid SMA akan selalu diminta orangtuanya untuk menjadi dokter dan pengacara atau akuntan agar bergaji tinggi dan bermasa depan cerah? Lalu apa para remaja labil akan selalu berusaha mencari tulang rusuk mereka, bahkan hingga ke ujung dunia, dan lantas memaksakan diri mereka bersenang-senang dengan pacar palsu mereka?

Apa tidak boleh jika seseorang hanya berniat melewati satu hari dalam hidupnya dengan memelototi orang-orang berbicara dalam bahasa mereka? Menyadari bahwa ketika lahir tidak ada seorang pun memiliki kosa kata, tidak ada seorang pun yang mengerti abjad-abjad. Lalu mendengar kata per kata dari orang-orang di sekitar, menonton gerak mereka berbicara bercanda gurau tertawa, memerhatikan tatap mata dan merasa mengetahui segala karakter seseorang dari sana. Merasa menjadi seseorang yang terasing.

Memikirkan bahwa jauh sekali di suatu tempat, ada sekumpulan binatang yang berlarian di padang pasir atau mencari panganan di rerumputan tanpa dikenali oleh orang-orang yang menonton selebritis di layar kaca. Ada hutan-hutan yang tak pernah disinggahi, ada langit-langit biru cerah yang mungkin saja berlubang di suatu tempat yang tak pernah diperhatikan.

Ada orang-orang yang tidak pernah ditemui. Lalu kemudian pertanyaan mengapa kita hanya menemui orang-orang yang kita temui sekarang? Mengapa kita hanya mengenal orang-orang yang kita kenal sekarang?

Ada orang-orang yang beruntung yang dikenal oleh seluruh dunia dan tentu dia tidak mengenal siapa seluruh dunia yang mengenalnya. Ada orang-orang beruntung yang mengenal semua tokoh-tokoh dunia dari buku-buku dan basa-basi mulut ke mulut di masyarakat tapi dia bahkan tidak dikenal di sekolahnya.

Ada orang-orang yang seolah-olah sudah memiliki segalanya, mungkin mereka masih sangat terikat dengan janji-janji pertemuan dengan klien dan pesta-pesta, masih harus membela komunitasnya, masih harus setia pada negaranya, masih harus berderma ke tempat peribadatannya.

Ada orang-orang yang tak memiliki sepeser pun uang, berjalan di gang-gang sempit, mengais-ngais tong sampah untuk menemukan bungkus nasi yang telah basi untuk dimakan, berjalan lagi, mungkin menadahkan tangan meminta sedekah. Masih terikat oleh kewarganegaraan, masih berdoa sebelum makan.

Apa hidup hanya seperti itu? Hanya orang-orang itu? Hanya kejadian-kejadian yang berulang? Hanya menikmati semuanya sebentar lalu mati?

Apa hidup hanya untuk menonton orang-orang membagi kata-kata bijak di atas panggung dan seolah selalu tercerahkan tiap kali mendengarnya? Tentang jalanilah hidup, raihlah ini, jagalah itu, cintailah itu, maka akan mendapatkan ini? Padahal sebenarnya di tiap diri manusia sudah ada kesadaran untuk semua itu. Mereka semua tahu apa yang harus mereka lakukan tapi mereka tetap harus mendengar ocehan-ocehan dari mulut-mulut bebal tak pernah lelah itu.

Tentang selalu ada saat-saat dan waktu-waktu yang tak tepat, selalu ada orang-orang yang datang mengganggu. Lalu katanya teorinya, jangan pikiran ‘selalu’ itu, maka mereka tidak akan datang mengganggu lagi, maka semua waktu akan menjadi tepat. Orang-orang riuh bertepuk tangan karena menemukan kesejajaran pemikiran awam mereka dengan teori sederhana dari orang besar yang berorasi di panggung. Tidak akan sadarkah mereka bahwa sesuatu selalu kelihatan benar karena sesuatu itu dipercayai dan dipegang konsepnya oleh banyak orang?

Agama tertentu bisa besar karena kesamaan pikiran di masyarakat mendukung agama itu ketimbang agama lain yang hanya didukung oleh beberapa orang kecil. Mitos bisa berkembang karena masyarakat mau tidak mau mesti memiliki kesamaan pikiran berkat dianugerahi tempat lahir yang bersuhu cuaca sama dan/atau orang-orang di sekitar yang berkepribadian mirip-mirip.

Lalu, apa hidup hanya tentang tahun baru, satu hari, satu minggu, satu bulan, satu semester, hampir akhir tahun? Hidup hanya tentang lahir, berkembang, dan mati? Hidup hanya tentang belajar ilmu-ilmu dasar lalu ilmu-ilmu terapan lalu dipergunakan di masyarakat? Hidup hanya tentang mengalami hal-hal lalu menceritakan hal-hal ke anak cucu?

Maka sampai mati, akan tetap ada ras, suku bangsa, kebangsaan, agama yang mengkotak-kotakkan dan memisahkan satu kelompok dengan kelompok lainnya, membedakan satu individu dengan individu lainnya.

Maka sampai mati, akan tetap tercipta teori-teori ekonomi baru untuk pasar-pasar yang muncul tiap harinya, teori-teori sosial untuk menjelaskan korelasi individu dan masyarakat, teori-teori politik, bahasa-bahasa yang berkembang, ilmu-ilmu kedokteran yang berusaha melakukan inovasi. Tentang semua teori dari beragam bidang ilmu yang akan terus berkembang. Dan selama mencipta, mereka melupakan siapa diri mereka sebelum lahir, juga tidak memikirkan siapa diri mereka setelah mati.

Maka sampai mati, orang-orang hanya akan tahu bahwa mereka pernah hidup dan kemudian mati.

P.S.: Benar-benar satu gambar pohon yang mengacaukan pemikiran.

2009/12/06

Kisah Bocah Tunadaksa


Biola Tak Berdawai bercerita dari sudut pandang seorang anak tunadaksa yang dari awal sampai akhir novel membuat saya berpikir berulang-ulang kali mengapa SGA memilih bocah cilik tunadaksa itu untuk menarasikan keseluruhan jalan cerita? Keadaan tunadaksa bocah tersebut diakibatkan kelainan pada sistem serebral (cerebral system). Apa SGA memilihnya karena seorang bocah cilik akan selalu bisa mengantarkan pesan macam-macam yang polos? Apa hal tersebut ditujukan untuk menggelitik hati pembaca? Apa untuk memberi kesadaran/pemahaman tentang kejadian di lingkungan bocah cilik kepada pembaca? Karena, ada banyak sekali saya temukan semacam petuah-petuah dari bocah tunadaksa tersebut di dalam cerita ini yang terlihat jelas seperti bertujuan untuk membuat kita sebagai orang-orang yang beruntung terlahir normal agar sadar terhadap keberadaan sesama kita. Bahwa bagaimanapun, kita semua memiliki kesempatan yang sama dalam apapun. Namun tentu narasi dengan "suara" semacam itu terkesan terlalu dipaksakan.

Secara keseluruhan, novel ini seperti mengkritisi keadaan zaman saat ini di mana ada banyak bayi-bayi yang dibuang oleh orang tuanya bahkan meskipun bayi-bayi tersebut berwujud cantik. Pesan yang diusung untuk hal tersebut adalah, 'Apa yang salah dengan memiliki anak dalam kondisi miskin? Tidakkah keluarga miskin bisa bertahan untuk membesarkan bayi mereka dalam kemiskinannya?' atau kalau bayi cantik tersebut dibuang oleh seorang ibu yang merasa belum cukup umur untuk merawat bayinya, 'Kenapa mesti membuang bayi? Seorang perempuan saja memiliki gerakan feminisme dimana mereka terus menerus menuntut emansipasi, lalu ke mana hak seorang bayi untuk hidup?'

Entahlah, saya suka dengan SGA yang meriset tentang Kisah Mahabrata untuk novelnya ini. Saya tak tahu apakah ini berkat diskusi beliau dengan penulis skenario cerita ini sebelumnya, Sekar Ayu Asmara, atau bukan. Pada bagian-bagian tertentu SGA banyak memasukkan tentang kisah Dewi Drupadi yang dimadu oleh Panca Pandawa dan dinyatakan oleh sang bocah tunadaksa kisah tersebut mirip dengan kisah ibu angkatnya. Dimana ibu angkatnya untuk tetap mempertahankan panti asuhannya (yang merawat dan membesarkan bayi-bayi yang dibuang) menghalalkan segala cara bahkan dengan jalan menjual tubuhnya kepada pria-pria yang sanggup membayar mahal kemolekan tubuhnya. Well, saya engga tahu apakah Diva di Supernova yang mirip-mirip kisah ini atau justru vice versa.

Saya tertegun ketika mengetahui bahwa setiap harinya ada banyak bayi yang dibuang di Indonesia (terutama di Yogyakarta di sebuah panti). Selain itu, saya suka dengan setting-setting yang digunakan di dalam cerita ini. Ada makam-makam dan Pantai Krakal. Bocah tunadaksa mengunjungi tempat-tempat tersebut sewaktu-waktu dengan ibu angkatnya. Suasana yang didapat dari tempat-tempat seperti itu sangat match dengan bocah tunadaksa agar mendapatkan kesempatan menarasikan pemikirannya tentang alam di sekitarnya. Bagaimana meskipun mereka selalu diam saja sepanjang waktu, mereka juga memiliki kepekaan yang sama seperti manusia normal untuk mengelaborasi pemikiran tentang alam sekitarnya.

Novel ini juga mengangkat nilai moral tentang seorang ibu yang sangat beruntung menjadi 'perantara' kelahiran kembali seorang anak di dunia. Mungkin karena cerita ini mengangkat Kisah Mahabrata utamanya tentang Dewi Ganggawati dan bagaimana dia membuang delapan wasu, kepercayaan akan reinkarnasi dari bocah tunadaksa tersebut jadi agaknya nampak menonjol.

Overall, kisah ini bagus dibaca sebelum hari ibu 22 Desember ini. Atau justru dijadikan hadiah oleh-oleh untuk ibu masing-masing.

2009/12/03

Kalender Awal Desember

Semuanya memang kembali menjadi lebih rapi dan aku lebih bersemangat belakangan hari ini. Hidupku sudah tertata dan terjadwal apik tidak seperti tahun sebelumnya. Tapi rasanya, sewaktu aku melihat kalenderku tadi, rasanya... ada yang hilang. Harus menyadari bahwa sebentar lagi semuanya akan berlalu. Sebentar lagi, tahun akan berganti. Hanya tersisa 28 hari lagi. Apa yang telah kulakukan selama setahun ini? Apa yang telah berubah?

Well, aku tentu saja sudah jauh berubah daripada aku di tahun sebelumnya. Aku tidak tahu apa dan oleh sebab apa. Aku hanya merasa aku sangat berubah di tahun ini. Mungkin di tahun 2009 inilah pertama kalinya aku bisa keluar dari tanah kelahiranku, Denpasar Bali. Mungkin di tahun 2009 inilah aku untuk kali pertama tinggal sendiri di kamar kos. Di tahun 2009 ini aku bertemu banyak orang baru dan juga orang-orang yang sebelumnya telah lama kukenal di dunia maya. Tahun 2009 ini sangat indah jika kupikir-pikir. Ada banyak pelajaran baru yang kudapatkan di tiap bulannya, minggunya, harinya.


Kalau kupikir, tahun 2008 aku masih cenderung kekanak-kanakan dan kurang dewasa. Aku masih terpaku pada dorongan orang-orang di sekitarku untuk bisa melangkah maju dan meraih cita-citaku. Di 2009, terutama di awal Desember ini, aku merasa bahwa semua pilihan ada di tanganku dan aku harus bertanggung jawab atas pilihan-pilihanku. Karena itu kupikir, aku harus memilih tujuan, arah, dan jalan hidup yang kusukai dan bisa kunikmati dan tidak akan kusesali karena aku akan mempertanggungjawabkannya. Kemudian di 2009, terutama di November setelah mengikuti ajang NaNoWriMo, aku jadi mengerti bagaimana pentingnya mengalokasikan waktu 24 jam yang kupunyai (seperti orang-orang lainnya miliki) dengan sebaik-baiknya.


Di 2008, aku belum pernah bepergian dari satu kota ke kota lain dengan kereta api darat dan berjalan sendirian di manapun. Aku belum pernah membeli tiket kereta sendiri, tiket pesawat sendiri, menumpang travel sendiri, keliling naik busway dan bus kota sendiri (di Bali engga ada bus-bus kota seperti di Jakarta, Yogya) atau naik angkot ke manapun. Di 2009, aku mengalaminya. Aku berjalan sendiri, berlari mengejar busway di jembatan penghubung antar busway sendiri, aku melihat air mancur di Bunderan HI sendiri, aku merasa hidup. Aku merasa hidup.

2009/11/04

Saat Itu yang Terjadi

Saat lukamu terlalu sakit untuk kau rasakan ketika kau terjaga, maka tidurlah.

Saat kakimu terlalu lelah untuk kau gunakan untuk melangkah, sejenak berhentilah.

Saat pintu hatimu dibanting dan ditutup keras oleh orang-orang yang kau kasihi, biarkanlah pintu itu tertutup sebentar.

Sampai lukamu sembuh, sampai kakimu kembali kuat, sampai hatimu dibukakan oleh kasih yang lain.


2009/10/11

On How I Begin Writing Literary Fiction

I encountered with serious writing tools (and then, literature--or the belle letters) on October 2007. At that time, started googling the word; suicide, I coincidentally found a site named Kemudian, and I found that the writings of the members are quite loveable. I didn't understand how to find a good way becoming member of that site, but for the first time, after the word suicide, I typed some other hints; ‘hujan’, ‘bogor’, and ‘kesepian’ and I just saved all of the writings on the disk and read it thoroughly

Back from school, I did it again. I did search for the site through while browsing for school’s material. Until then I registered for the site. Most of the writers joining the site are from Jakarta. At that time, in the middle school, Jakarta sounds like a so far foreign land for me. In my eyes, Jakarta is a capital city of my country--that in Jakarta, there would be so many arrogant people living there, that they must through a very hard life competing with each other. It’s quite funny to remember what I thought at that time, since today I found Jakarta no longer that scary.

The time I joined, I found a senior writer, Ayu Prameswary. I remember I asked her questions about the basics to use that site, such like how to adding friends, commenting to friend’s posts, and even to posting my writings there. She patiently answered my silly questions.

The entry that I posted for the first time, I took it from my diary. People commented on my writings or only did their sharing or greeting. I met several of best friends--yeah, I did find best friends from the site. Without saying who’s them, I know they know they really meant to be in my life.

In the same year, I wrote poems almost everyday, even though I made stories, I only made love stories, the teenager ones. Finding people wrote masterpiece, I then found my writings were sucks, love stories; love poems; without any morality points. Isn’t the plot and the character clear and lovable? Many questions reveal.

I did really start it from the lowest part like everyone might do (not for saying I’ve made my best, it’s only for sharing: people can get better) 'til my writings becoming better. I can say it happened because I found user name miss worm and andrea there.

2009/09/23

22 Jam


[1]


DINI HARI pada saat aku sedang kehilangan ide untuk kutulis, televisi yang masih menyala tiba-tiba menampakkan bintik-bintik semut di layar, kemudian gambar hilang sama sekali, dan televisi padam. Layar monitor di hadapanku juga padam. Suara musik Tchaikovsky yang sejak tadi kuputar untuk menemaniku menjemput inspirasi mengabur menyatu udara, senyap.

Di luar, kulihat dari jendela, hujan sudah lebat sekali padahal sejam lalu masih gerimis kecil-kecil. Udara dingin menusuk-nusuk padahal aku sedang berada di dalam rumah. Kuperhatikan dengan saksama, bongkahan-bongkahan es jatuh dari langit, membentur jalan aspal di depan rumahku dan atap-atap rumah tetanggaku, BRUK, membentur juga rumahku. Jika bisa bicara, jalan-jalan dan rumah-rumah mungkin akan bilang, mereka merasa kesakitan saat itu.

Kemudian semuanya tiba-tiba gelap. Tak ada celah cahaya, setitik pun. Wanita-wanita yang masih terjaga dari tidurnya dari rumah-rumah sebelah rumahku berteriak histeris menyambutnya. Aku hendak bergegas naik ke kamar istriku untuk membangunkannya yang sedang tertidur pulas bersama Alia dan Jala ketika kudapati suara jejak kaki terburu-buru menuruni tangga.

“Indra? Kamu di sana?” suara istriku, Alea, datang dari arah tangga. Aku hafal betul arah mata angin di rumahku meski tanpa penerangan sekali pun, aku sudah tinggal di sini hampir sepuluh tahun, “Mengapa bisa tak ada cahaya, Yah?”

Dia berjalan tergesa ke arah rak perlengkapan di dapur. Suara gesekan korek dinyalakan, tapi tidak ada api yang menyala. Hingga akhirnya tak satu pun lilin mampu dia nyalakan.

Alia dan Jala berlari ke arahku ketika kupanggil mereka. Masing-masing mereka memelukku erat, gemetar. Aku berharap mereka menanyakan sesuatu tetapi mereka tak bertanya, atau mungkin aku yang tak mampu mendengarnya karena sejak tadi Alia dan Jala menarik-narik lengan kemeja panjangku seolah berusaha meyakinkan aku mampu mendengar suara mereka. Aku pun ternyata tak mampu bersuara. Meski aku berteriak, suaraku tak terdengar sama sekali. Cahaya yang tersedot dan gelombang bunyi yang hilang.

Kami tidak mungkin keluar rumah untuk bertemu para tetangga, batu es dari langit bisa menghantam kepala kami kapan saja. Seketika itu juga aku sadari, hari itu hari pertama kami bisa merayakan ketiadaan presiden, listrik, dan internet di hidup kami.


[2]

 

SUARA muncul kembali. Batu-batu es yang membentur atap. Kemudian suara hujan. Kemudian suara tetangga yang berteriak-teriak.

Lantai yang kupijak bergetar. Rak-rak di dapur yang membuka menjatuhkan piring-piring, gelas, dan peralatan kecil-kecil kesayangan istriku. Telingaku tiba-tiba peka dan percaya akan ada sesuatu terjun dari atas kepala kami, kutarik Alia dan Jala, lampu hias membentur lantai dan pecahannya menusuk kulitku. Alia dan Jala berteriak. Pecahannya juga mengenai mereka.

Kemudian, suara orang-orang menggedor rumah kami. Suara orang-orang berteriak di jalan. Perintah agar kami turut turun ke jalan, agar kami keluar sebelum rumah kami yang berpondasi dari beton sekali pun rubuh dan menanam kami hidup-hidup.

Aku berteriak kepada Alea yang naik ke kamarnya untuk mengambil barang-barang pentingnya agar cepat turun. Orang yang menggedor-gedor rumahku meneriakkan bahwa tak ada lagi yang bisa mereka lakukan untuk kami, kemudian mereka pergi entah ke mana. Tak ada suara kendaraan apa pun, berarti mereka semua berjalan kaki atau berlari untuk menyelamatkan diri.

“Tangkap!” Alea dari arah tangga melempar tiga mantel ke arahku, sayangnya bukan mantel baja. Aku berpikir tidak mungkin untuk masuk ke dalam lemari dan membuat dua lubang di bawah lemari dan berjalan menenteng lemari ke sana kemari agar tak mati ketika kepalaku dibentur oleh bongkahan es, tidak mungkin juga mengendarai mobilku karena tetangga-tetanggaku sepertinya tak menggunakan mobil mereka.

“Alea, bergegaslah.”

Dia turun dengan tergesa, napasnya yang terengah masih bisa kudengar kerika dia berhadapan denganku. Namun hari itu aku tak bisa melihat wajahnya yang selalu memerah berkeringat pada saat kelelahan.

“Kau gendonglah Alia, Lea. Aku bawa Jala bersamaku.”

Hap. Dia baru saja menggendong Alia bersamanya. Kugenggam tangannya dan kami berjalan keluar rumah.

Benar-benar gelap, langkah-langkah begitu pelan, langkah-langkah tanpa arah tujuan tanpa bantuan indera penglihatan. Kupeluk Jala seerat-eratnya, kugenggam tangan Alea sekuat mungkin.

“Ini yang namanya kiamat ya, Yah?” tanya Jala kepadaku.

Kudiamkan saja, itu kali pertama dalam hidupku aku berusaha meyakinkan diriku agar tak perlu menjawab pertanyaannya dengan apa yang ada di dalam kepalaku.


[3]


“MAU ke mana kita?”

Itu pertanyaan yang sejak tadi kudengar dari orang-orang yang berjalan di sekelilingku selain suara teriakan yang diakhiri dengan suara bedebam tubuh yang rubuh.

Aku mengikuti orang-orang yang bertanya dan terus berjalan. Kami tak tahu arah dan di jalan mana kami berada.

Aku bertanya kepada mereka, “Apa benar tidak ada satu pun mesin kendaraan bisa dihidupkan? Bagaimana bisa?”

Mungkin karena pertanyaanku cukup panjang, mereka tidak mendengarnya dengan saksama. Atau mungkin karena mereka juga tidak tahu. Dini hari itu kami memiliki banyak sekali pertanyaan dan tak satu pun jawaban.

“Ayah, mengapa kau terus bertanya dan tidak menjawab pertanyaan mereka?” untuk meyakinkanku, Jala membisikkannya malam itu.


[4]


ENTAHLAH, katanya kami telah sampai di perbukitan, pada saat sebuah balok es besar tepat membentur bahu kiriku. Mungkin benar juga karena rasanya sejak tadi aku seolah perlu mendaki. Sedang aku tak pernah tahu, pusat daerah di Yogyakarta memiliki bukit. Juga tak tahu seberapa jauh perjalanan yang telah kami tempuh hingga aku dari rumahku di Kaliurang bisa tiba-tiba sampai ke daerah perbukitan. Aku bahkan tak tahu apakah aku menuju ke arah Gunung Kaliurang atau ke arah perbukitan tempat lain. Aku benar-benar buta arah.

“Lalu siapa ketuanya di sini?”

“Hei, Bung! Tidak ada ketua di sini!” seseorang mengumpatku.

“Lalu siapa yang bisa kita dengar kata-katanya?”

“Kau ikuti kata hatimu sendiri!” suara yang sama kembali mengumpat.

“Mengapa kau terus yang menjawab? Mana yang lainnya?”

Hening.

“Kita sudah tidak memiliki presiden. Tidak ada pejabat apa pun lagi. Tidak ada raja. Kita bahkan tidak punya lagi alat komunikasi apa pun, tapi sekarang kita membutuhkan seseorang untuk menyatukan pendapat kita.”

Tetap hening.

“Kita selamat dari keadaan ini bersama, kita pula harus berani mati bersama,” lanjutku.

 

[5]


AKHIRNYA, kami memutuskan untuk mendaki bukit. Bukit yang aku tak tahu namanya. Untuk apa mendaki, aku juga tidak paham. Dan mengapa aku punya keberanian untuk memimpin sekian banyak orang yang berjalan di belakangku, aku juga tak mengerti. Yang kutahu, selama ini aku hanya bisa berdiam diri dan mengatur karakter-karakter dalam cerita fiksiku saja, tidak pernah sekali pun mengatur manusia yang lalu-lalang di sekitarku.


Aku menghentikan langkahku ketika suara-suara hilang kembali.

Aku berteriak, suaraku tidak terdengar. Air menembus sepatu kulitku dan menyentuh celana kainku. Kukecup dahi Jala dan kuturunkan dia dari gendonganku. Kemudian dia meremas tanganku erat. Aku tidak sedang bermimpi, Pulau Jawa tenggelam.


[6]


KETIKA semua orang berlari menerobos ke atas bukit, aku baru paham bukit apa yang sedang kudaki. Sebagian pulau telah retak dan tenggelam, dataran masih berguncang. Aku memeluk Jala erat-erat di pelukanku, tangan Alea masih di genggamanku. Kami tidak menuju ke mana pun.

Suara-suara tiba-tiba terdengar lagi. Orang-orang meneriakkan sesuatu tentang kiamat. Aku tidak mengerti kiamat macam apa. Ke mana matahari? Ke mana bulan satelit bumi? Mengapa gelap sekali?

“Lalu, apa kita akan mati sekarang?” suara Lea, aku tak tahu sepucat apa wajahnya ketika mengatakan itu.

“Belum.” Kuputuskan untuk ikut terus mendaki ke atas bukit. Tangan Alea masih di genggamanku. Bukit yang licin, kulepaskan sepatuku, kulemparkan ke bawah. Suara sepatu menyentuh perairan, jauh sekali.

2009/08/06

Pertemuan


SUATU hari seorang bocah menemukan seorang pria tua sedang duduk di taman di pinggir danau.

Siapa laki-laki itu? Sedang apakah pria tua itu di sini?

Tetap bertanya-tanya, ia mencoba mendekati si pria tua. Ia lalu memanjat pohon dan mengintai pria tua itu dari sana. 

Sang pria tua duduk di kursi taman, memegang buku sketsa di tangan. Tangan tuanya masih dengan lincah melukis pada buku sketsa. Pada lembar yang terlihat, terdapat taman dan danau yang indah—tetapi lebih indah daripada taman dan danau saat itu. Taman dan danau yang sama dengan tempat mereka berada.

Di taman dan danau di sketsa itu ada kursi taman yang persis seperti kursi taman pada kejadian sore itu; seorang gadis yang duduk di sana, dan seekor anjing kecil menemaninya di sisinya: dengan lidah menjulur dan ekor bergoyang-goyang cepat. Di langit di sketsa itu, matahari sedang terbenam. Di sudut sebelah kanan, terdapat tulisan kanji besar-besar, bertuliskan: Pertemuan.

“Mengapa mengintip saja?” Pria tua itu berkata, tanpa sebelumnya sempat menoleh ke arah bocah yang sedang mengamatinya dari atas pohon, “Turunlah, duduklah di sampingku,” lanjutnya.

Mata bocah itu melebar. Iakah yang dimaksud? Tapi bagaimana bisa pria tua itu mengetahui kehadirannya tanpa sedikit pun mengalihkan pandang?

“Apa kabarmu?” Pria tua itu bertanya ketika si bocah sudah turun dan berjalan ke arahnya.

“Ba… baik. Bagaimana Kakek tahu, aku sedang memperhatikan Kakek dari sana?”

“Duduklah, aku sudah lama tidak berbincang dengan diriku sendiri.”

Di… dirinya sendiri?

Bocah itu mengambil tempat di sisi pria tua.

“Kau tahu siapa aku?” Pria tua itu kemudian bertanya lagi.

Bocah menggeleng, “Bagaimana aku bisa tahu?”

“Apa kau tidak melihat kemiripan di wajah kita?”

Bocah itu mengamati. Memang mirip, sedikit mirip. Lalu apa artinya—terdapat keterkaitan di antara mereka?

“Sungguh-sungguh tak mengenali siapa aku?”

Bocah itu menimbang-nimbang, “Apa Kakek sedang mempermainkanku?”

Pria tua itu tersenyum, “Pilihlah satu dari dua kemungkinan. Aku adalah malaikat pelindungmu yang selalu ada di sisimu ataukah aku adalah dirimu dari waktu yang berbeda. Tebakanmu betul, kuberikan kau sebungkus manisan cokelat kesukaanmu.”

Pria tua itu mengangkat sebungkus cokelat dari dalam kopernya yang lusuh lalu meletakkan bungkusan itu di pangkuan si bocah.

“Kenapa aku harus menebak?”

“Karena aku akan memberimu hadiah jika tebakanmu betul.”

“Tapi kedua pilihan yang Kakek berikan, bagiku tidak masuk akal.”

Pria tua itu berdeham sejenak, “Apa kau tak percaya kepada malaikat pelindung?”

“Kenapa aku harus percaya?”

“Karena mereka ada. Benar-benar ada. Baiklah, kau membuatku kalah,” ujar si pria tua. “Aku malaikat pelindungmu.”

“Aku tak percaya.”

“Kalau kau percaya, kuberikan sebungkus manisan cokelat itu cuma-cuma untukmu.”

“Aku tidak menerima makanan dari orang asing. Terima kasih.” Bocah itu mengembalikan bungkusan merah itu kepada si pria tua. “Sekarang katakan mengapa Kakek mesti berbohong kepadaku…”

“Setiap anak kecil di usiamu selalu percaya dongeng tentang malaikat pelindung, mengapa kau tidak?” Pria tua itu kemudian bertanya.

“Aku bahkan tidak percaya Tuhan.”

“Oh, ya?” Pria tua itu terkesiap, “Bagaimana bisa? Umurmu berapa, Bocah?”

“Kupikir dunia hanya dikuasai oleh kepala manusia yang isinya berbeda-beda. Aku hanya percaya hal baik akan selamanya baik. Aku hanya butuh berkarma baik.”

“Maksudmu? Kau tidak percaya Tuhan tapi kau percaya agama?”

2009/07/14

Diandra



APA Papa juga memperhatikan mereka? Yang berjalan di sana?” Dengan satu tangannya masih menopang dagu yang bersandar di tembok restoran, matanya asyik melotot memandangi orang-orang yang berjalan di depan kami. Mulutnya dikerutkannya sejenak, telunjuk tangan kanan bermain-main di cangkir teh pada meja di depannya.

“Macam-macam orang,sahutku.

“Orang-orang yang duduk?”

Aku memperhatikan kursi tunggu yang dipenuhi oleh orang-orang yang menunggu kereta malam, kemudian kembali memandang ke arahnya, ke arah gadis kecilku yang telah dewasa, “Hal apa yang kamu minta untuk Papa perhatikan?”

“Lihat betapa mereka yang berjalan kelihatan sangat sibuk. Mereka berjalan cepat menarik kopernya seolah akan tertinggal kereta, para pengangkut barang seperti berlari mengejar mereka. Sementara orang-orang yang duduk, mereka begitu santai menonton televisi atau membaca novel atau bercengkerama dengan keluarga mereka.”

“Lihatlah, Papa ... mengapa duduk dan berjalan membuat orang terlihat berbeda?” dia melanjutkan.

“Orang yang berjalan, toh, akan duduk. Orang yang duduk juga akan berjalan. Bukannya begitu?” mungkinkah dia sedang menggiringku pada topik kegemarannya—menarik-narik logikaku agar bisa dia pereteli seperti dulu ketika kecil dia gemar membongkar-pasang mainan-mainannya.

“Aku takut, Pa ... takut sekali untuk harus tinggal sendiri.”

Kutatap matanya, kosong tanpa air mata.

“Kalau aku duduk sendiri seperti ini suatu saat nanti, apa mungkin aku hanya akan memandangi orang-orang di sekitarku seperti selama initanpa teman untuk diajak berbicara?”

“Bukannya Papa selalu ada buatmu? Kamu bahkan bisa menelepon Papa kapanpun kamu mau.”

“Mama dulu juga bilang begitu.” Dia menatapku, tersenyum samar, “Lagipula, Papa enggak akan menemaniku di Jogja. Aku akan tinggal sendiri dan berkuliah dan mencari gelar. Tanpa Papa. Apalagi Mama.”

“Hanya empat tahun. Kalau kamu rajin, bahkan bisa lebih sebentar lagi. Kalaupun kamu mau pulang ke rumah kita tiap liburan, dengan kereta atau dengan pesawat, Papa sanggup membiayainya.”

“Aku yang memutuskan untuk tinggal jauh dari Papa. Sampai kuliahku selesai, aku tidak akan pulang ke rumah.” Begitu jawabnya, sama seperti tadi di rumah, sama seperti saat-saat lalu ketika mamanya masih ada untuk melarangnya pergi jauh dari pelukan kami.

“Jadi, Papa, selama empat tahun ini mungkin aku akan berjalan saja,” tutupnya, karena setelahnya bergaung panggilan dari arah kereta untuk para penumpang. Dia menggendong ranselnya dan menggiring kedua kopernya. Kupandangi kepergiannya dari kursiku. Entah dia yang bertambah kuat semakin dia tumbuh dewasa atau aku yang bertambah lemah sehingga tak mampu berdiri untuk sekadar memeluknya atau mengantarnya ke kereta.

2009/04/21

Mengantar



(Cerpen ini kemudian dimuat di Jakartabeat.net, 10 Mei 2014)


dunia dengan dua sisi Kau tatap Ia dari pikir-Mu / kadang nyata kadang maya mendua pada Satu / dan pada-Nya Kita bergenggaman / Kita berjalan berputar / pada Ia yang menyata Satu / pada bumi yang melingkar mentari / lihat perjalanan Kita kini / adakah Kita mengiyakan tiada / mengenggankan nyata / seperti halnya Ia menjadi bumi dan mentari / Ia menjadi tanah dan langit / menjadi Aku dan Kamu / nyatakah pada-Mu senyata pada-Ku / bahwa Kita Satu / bahwa Kita adalah Ia seperti Ia adalah Kita / seperti Aku adalah Kamu / nyatakah pada-Mu Kita adalah Satu bahkan pada maya / bahkan pada tiada / karena Kita: / menyatu Alam Semesta.


ARWAHNYA secara perlahan meniti langkah pada gelap dunia niskala1 yang dulu ketika hidup tak pernah dimengertinya. Sebagai arwah dalam wujud yang halus, dia tertabrak oleh segala benda; tidak ada orang yang meminta maaf ketika berlari melewatinya. Dia ditabrak segala, bahkan oleh gas yang berpencaran.
 
Semasa hidup dia tak pernah tahu di mana tempat hunian jiwanya bilamana dia mati. Kini dia juga tak tahu ke mana dia akan menuju bilamana arwahnya hidup abadi. Saat itu, bersamanya, banyak jiwa juga berjalan pada gelap, pada kesunyataan, pada ketiadaan pemahaman, pada gelombang paralel dunia. Namun, dia menyadari, mereka tak saling melihat. Mereka berjalan tanpa mata, tanpa alat indera, tanpa atribut pada jasad yang pernah mereka huni.
 
Dia tak ingat dia lepas dari tubuh siapa. Baginya, dia hilang dari sesuatu dan menjadi bagiannya sendiri. Dia hanya masih mengingat, dia dulu pernah memiliki tempat lain untuk tinggal. Mengisi bagian tubuh seseorang dan hidup di sana. 
 
Seperti halnya ekor cacing yang masih bergerak-gerak bahkan ketika kepalanya diputus, dia menjadi bagian pada jari telunjuk yang masih hidup ketika jantung orang itu berhenti. Namun, akhirnya dia lepas.
 
Pada kesadarannya—dia bertanya-tanya, di manakah sebenarnya letak jiwa? Diakah jiwa?


“IBU tak mungkin mati!” Seorang gadis berteriak di depan kamar rumah sakit. “Apa yang bisa aku lakukan tanpa ibu? Ibu jangan mati, hanya Ibu satu-satunya yang Alin punya!”
 
Orang-orang di rumah sakit itu mengelilinginya. Setiap orang pada setiap kamar keluar untuk menonton gadis itu menangis.
 
Kamar di hadapan si gadis telah telanjur kosong. Sebuah ranjang bersprei putih tanpa penghuni. Tak ada lagi tiang infus.


Alin terus menangis, menelungkupkan kepala di lutut. Orang-orang hanya dapat memberi simpati dengan menonton dan merasa iba. “Ibu janji untuk hidup selamanya. Kenapa Ibu pergi?” teriak Alin.
 
“Kakak, kenapa menangis?” Bocah yang biasa diajaknya bermain, hari itu mendekatinya. Ia satu-satunya yang bertanya.
 
“Ibunya baru saja meninggal. Ayo, jangan diganggu, ikut Papa ke dalam.” Ayahnya lantas menarik bocah tersebut. Ia sorotkan pada gadis itu tatapan mengasihani.
 
“Ibu …” ujar Alin sesenggukan.
 
Setelahnya, dia hanya mampu terdiam tanpa sepatah kata. Seolah ada bagian jiwanya yang lepas yang mencari jiwa ibunya yang telah meninggal.
 
Tanpa kesadaran penuh, dia lantas berjalan menyusuri lorong. Kekosongan dalam dirinya menuntun Alin. Dia menerobos kerumunan, berpapasan dengan orang-orang yang berjalan.
 
Setelah melewati lorong yang panjang, dia sampai ke sebuah tempat. Di mana orang-orang yang dia kenal telah berkumpul. Ada yang ribut dan menangis. Ada yang menenangkan yang menangis. Ketika melihat Alin hadir di sana, orang-orang itu hanya bisa menatap. Seolah-olah masih ada bekas jejak malaikat kematian menempel di seluruh tubuh Alin, orang-orang itu tak berusaha mendekat selangkah pun. 
 
Alin berusaha menghampiri kerumunan, semakin dekat, untuk dipeluk, atau sekadar ditenangkan. Untuk dipanggil jiwanya, agar dia berhenti mencari-cari jiwa ibunya yang baru saja mati.
 
“Memang sudah jalannya.”
 
Dia ingin loncat keluar dari mimpinya jikalau itu mimpi. Alin dipeluk, tetapi dia tak merasakan sebuah pelukan.
 
“Beliau meninggal sejam lalu.”
 
Satu jam yang lalu; tanpa menunggu dia hadir untuk mendengar kata-kata terakhir.
 
“Kenapa?”
 
“Kanker. Sebelum meninggal, beliau sesak napas…”
 
“Kenapa?” Dia masih bertanya.
 
Orang di depannya memeluk Alin semakin erat, meraih kepala gadis itu dan meletakkannya di bahu, “Alin masih punya kami di sini.”


SEGEROMBOLAN penjaga jenazah bermain kartu dengan ramai sorak-sorai, kerabat Alin sibuk menawarkan minuman dan makanan kepada yang singgah. Beberapa orang lagi masih dengan tekun membungkus peti jenazah dengan kain kasa sembari menempelkan hiasan-hiasan keemasan pada peti mati.
 
Alin tidur di sebelah jenazah yang terbungkus kain. Telah genap tiga hari dia membagi cerita di sana. Setiap siang, dia membawa makanan dan minuman yang pernah menjadi kesukaan ibunya; dia letakkan semua itu di sisi jenazah. Dupa panjang terus menyala. Ketika padam, dupa itu selalu akan diganti dengan yang lain, dan akan terus hidup sampai saatnya jenazah dikremasi.
 
“Alin, jangan tidur di sini. Bau formalin tak baik untuk kesehatan.”
Sudah dua hari dia tidur di sana. Hidungnya menjadi tidak peka lagi akan bau, acap dia mengusap mata lantaran rasa perih.
 
Keesokan hari, jenazah dimandikan. Tubuh yang telanjang. Terbayang oleh Alin, dahulu jenazah itu pernah hidup bersama Alin, pernah hadir di acara permandian jenazah orang lain. Jenazah itu juga pernah bilang, dia mungkin akan malu jika suatu saat tubuhnya dimandikan telanjang di depan umum.  
 
Menahan tangis, Alin ikut memandikan. Ritus yang panjang: termasuk akhirnya melapisi jenazah itu dengan belasan kain aneka warna hingga menutupi kemaluan jenazah dengan kain hitam. Selama itu orang-orang hanya menonton. Seolah-olah dalam skenario kehidupan Alin kala itu, hanya ada sedikit tokoh. Bahwa tidak ada lagi teman untuk beradu peran setelah ibunya berpulang.


SIANG itu, upacara Ngaben dilangsungkan. Jiwa jenazah ibunya telah berpindah pada sebuah simbol, pada wujud seorang wanita yang dipatungkan. Alin menyungsung wujud itu di kepala. Ibu-ibu lainnya membawa wujud-wujud bhatara dan bhatarisebagai simbolisme. Alin merasa kehilangan makna atas apa pun yang dia lakukan. Entahkah upacara itu diwujudkan sebagai simbol pengantar yang telah meninggal, entah hanya sebagai iring-iringan agar kelihatan indah.
 
Sebelum menuju tempat kremasi, Alin melakukan ritual khusus untuk memutus keterikatan dengan ibunya. Dia tak pernah diberi tahu apa yang akan terjadi setelah dia melakukan ritus itu. Bahwa kemudian dia akhirnya tahu dia melakukan ritus itu agar dia tak akan pernah dapat bersinggungan kembali dengan dunia niskala di mana kini ibunya tinggal. Ritual tersebut mewajibkannya melemparkan tali dan logam cina, serta beras kuning dan beras putih, kemudian diaduk dengan kunyit dan rempah-rempah, melemparkannya ke langit, membenturkan semua unsur itu ke telapak tangan, menjatuhkannya ke tanah. Ketika itu selesai, katanya, semua keterikatan antara Alin dengan ibunya telah musnah.
 
Alin lantas memimpin iring-iringan pada posisi paling depan, wadah jenazah diangkat. Orang-orang berjalan di belakang sambil memegangi kain putih panjang di atas kepala. Beberapa kerabat memotret dengan kamera. Turis-turis tak ketinggalan untuk pula mengabadikan momen tersebut dengan kamera-video.


DI tempat kremasi, wadah yang mengangkat jenazah ibunya diletakkan. Ketika jenazah dipindahkan, Alin disibukkan dengan panggilan orang-orang di sekitarnya.
 
Semua ritual khusus dilakukan oleh Pedanda. Jenazah dibaringkan ke dalam kotak yang terbuat dari pelapah pisang, selang gas melalui celah bawah pelapah. 
 
Tirta suci diguyurkan, orang-orang mulai melempar bunga, daun, beragam banten4, uang logam, dan kain kasa ke atas sang jasad. Alin hanya melempar sebuah buku gambar.
 
Di dalam buku gambar itu, ada gambar rumahnya. Di rumah itu, ada kenangan-kenangan, di mana ibunya pernah memuji gambar-gambarnya dan membantu Alin mewarnai. Alin diam-diam hanya bisa berharap supaya nanti di dunia niskala, ibunya akan tinggal di rumah-rumah yang dia gambar di buku gambarnya. 
 
Kalaupun ternyata dunia niskala tidak seperti bayangannya, dia berharap ibunya akan mendapatkan tempat yang layak.
 
“Hanya itu saja yang mau diberikan?” 
 
Alin mengangguk. Dia tidak mungkin membakar semua baju milik jenazah itu, seperti dia tidak mungkin ikut membakar televisi, mobil, rumah, ijazah-ijazah, dan lainnya. Apa yang dimiliki ketika hidup, tidak mungkin dibawa seluruhnya ke alam kematian.
 
Api dinyalakan dan mulai membakar. Alin berusaha membeku di dekat tempat pembakaran, tetapi dia terus ditarik untuk menjauh. Maka lantas dari kejauhan, dia melafalkan mantra, melagukan doa sekeras-kerasnya. Dalam tiap baris doa, api semakin berkobar. Hingga dalam waktu satu jam, yang tersisa hanya tinggal remah tulang dan tengkorak.  
 
Bahkan di saat ritual belum tertuntaskan, beberapa orang telah beranjak pulang. Sedikit orang masih membantu Alin mengumpulkan dan menyaring abu dan tulang, juga melakukan persembahyangan terakhir. Abu dan tulang-tulang lantas dipulangkan ke laut.


DI laut, dari mata Alin, semuanya hilang. Baginya, segalanya telah menyatu kembali dengan alam. Unsur-unsur pada tulang, unsur-unsur pada abu: semuanya menyatu dengan unsur-unsur pada air, unsur-unsur di udara. 

Di laut itu, orang yang dia cintai berubah wujud untuk selamanya. Pikir Alin, mungkin untuk berjuta atau bermiliar tahun ke depan, baru mereka akan bisa dipertemukan lagi dalam wujud manusia. Itu pun bila reinkarnasi memang benar ada. Mereka akan bertemu ketika unsur-unsur mereka yang telah menyatu dengan alam mengisi lagi perut seorang ibu yang hamil. Ketika kesadaran mereka, dengan kemungkinan kombinasi penciptaan yang tak terhingga, bertemu pada satu titik waktu.
 
Mungkin kelak tidak sebagai ibu-dan-anak. Mungkin kelak sebagai kekasih.
Atau, mungkin saja mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Karena pada kehidupan yang sedemikian sebentarnya, entahkah ada misteri besar yang dapat dipecahkan oleh kepala. [*]
 
2009/Desember 2011


Catatan Belakang:
1 Dunia tempat tinggal arwah, makhluk gaib.
2 Orang suci dari Kaum Brahmana yang bertugas dalam upacara-upacara keagamaan.
3 Air suci yang didapatkan setelah diasapi sembari memanjatkan doa.
4 Atau canang/banten, bunga-bunga atau jenis sajian lain yang ditaruh pada satu wadah persegi.

2009/04/07

Kompilasi Tiga Kehilangan


(I)
JADI ceritanya dia sama sekali tidak lapar. Seharian sejak dari rumah hingga dia memutuskan untuk pergi jalan-jalan di tengah hari, dia mengunci mulut untuk tidak bicara juga tidak makan apa pun.

Siangnya, hujan turun begitu lebat. Dia berjalan tanpa payung. Arus air yang menuju ke bawah berlawanan dengan langkahnya yang menanjak ke atas. Ditendangnya aliran air itu. Berkecipratan.

Ingin sekali dia berjalan dengan memejamkan mata atau merentangkan tangan seperti yang biasa dia imajinasikan sejak kecil.

Ada sesuatu pada hujan yang selalu merenggut orang-orang yang dia kasihi. Sesuatu tentang hujan yang selalu menyita kenangan-kenangannya. Hingga setiap hujan tiba, dia kembali teringat akan orang-orang yang dia kasihi juga kenangan-kenangan yang sekian lama disita oleh waktu. Hingga dia selalu ingin hujan tak pernah berhenti dan dia bisa terus merentangkan tangan di sepanjang perjalanan pulang.

Sama seperti hari ketika ibunya meninggal, hujan turun begitu lebat. Sama seperti saat itu, dia menyusuri jalan dengan merentangkan tangan, sejak keluar dari kamar mayat rumah sakit hingga rumah. Seperti itulah kini dia mengulangnya.

Dia sampai di gerbang rumah. Tempat yang tanpa siapa-siapa karena kini hanya tinggal dia yang mengisi ruangan-ruangan itu. Rumah yang tanpa denyut, tanpa napas. Kosong.

Dibukanya pintu rumah. Tidak ditutupnya lagi. Tidak dipedulikannya keadaan rumah yang begitu berantakan. Dia berjalan ke arah kamar mandi, menyalakan keran air. Sementara air memenuhi bathtub, dia mengambil semua berkas-berkas di lemari, ijazah-ijazah sejak SD hingga dia lulus dengan gelar magister.

Dibawanya semua berkas itu turut bersamanya ke arah dapur. Dinyalakannya kompor gas di dapur lalu dibuangnya satu per satu semua berkas itu ke atas api. Tidak dimatikannya kompor gas itu. Lalu dia berjalan ke arah kamar mandi. Bathtub sudah dipenuhi air. Dituangnya sebotol cairan pembersih lantai kamar mandi ke dalam bathtub.

Dia melangkah keluar lagi, menuju ke arah kamar. Mengambil kertas dan menuliskan sesuatu. Setelah beberapa saat, dimasukannya kertas itu ke dalam amplop.

Teruntuk Clara. Ditulisnya di sudut kanan atas permukaan amplop. Kemudian diletakkannya amplop itu di atas meja baca. Setelah itu, dia membuka laci dan lalu mengambil sebuah pisau lipat, dibawanya menuju ke kamar mandi.


“TY?” Seorang gadis memanggil-manggil dari arah gerbang yang tergembok. Dilihatnya pintu rumah Ty tidak terkunci. Terasa janggal karena tidak biasanya Ty lupa mengunci pintu rumah jika dia sudah menggembok pagar.

“Mungkin dia sedang tidur?” Pria di sebelah gadis itu berpendapat. Si gadis menoleh dengan enggan lalu menggelengkan kepala. Tidak mungkin Ty tertidur dan lupa mengunci pintu.

“Kecurigaanmu berlebihan, Clar.” Pria itu melanjutkan.

“Kartu-kartuku tak pernah salah, Ar.” Clara menjawab.

“Aku harap kali ini salah.”

Gadis itu sejenak menarik napas, “Aku juga.”

Tapi asap muncul dari arah belakang rumah. Bagian belakang rumah di hadapan mereka dilalap api yang mengganas.

ORANG-ORANG telah membantu mereka dengan memadamkan api dan menyirami sepenjuru rumah dengan berember-ember air. Di luar begitu ramai dan di hadapan mereka, mayat Ty memerah di dalam bathtub. Cairan yang entah apa menggumpal-gumpal dan terapung di atas air. Aria memeluk Clara. Gadis itu menangis di bahu Aria.

Ketika mayat Ty diangkat, Clara berteriak. Aria refleks menghalangi penglihatan Clara dengan tangan kanannya. Sementara dia melihat tubuh Ty yang membeku. Bagian bawah tubuh jenazah Ty berwarna merah keunguan. Darahnya mengendap searah dengan arah gravitasi bumi, tanda bahwa jantung Ty sudah tidak lagi berdetak, sudah tidak lagi memompa darah.

“Itu mayat, Ar?” Clara bertanya terbata.

“Itu mayat.” Aria menarik Clara semakin erat ke dalam pelukannya, “Itu Ty.”
Clara,
Kamu tahu betapa lelahnya aku menjalani hidup. Tanpa siapa-siapa menemaniku di sisiku. Aku tahu kamu mungkin tidak akan pernah menyadari kelelahanku menyimpan jiwa seorang anak-anak di dalam diriku. Ketakutanku melewati jalan-jalan baru. Dan aku terlalu takut untuk terus hidup. Sendiri dan tanpa arah tujuan. Bisakah kamu bayangkan rasanya hidup seperti itu, Clar?
Air mata Clara terjatuh di atas kertas itu. Aria membelai rambut Clara dan lalu mengecup ubun-ubunnya, “Semuanya akan baik-baik saja.”


2009/03/21

Gadis Pemakan Kepala Orangtuanya

PAGI itu aku duduk di atas bale di sudut sebelah timur belakang sebuah restoran, tempat yang selalu menjadi favoritku setiap mampir ke Bali karena panorama yang tidak biasa. Gedung bernuansa layaknya bangunan zaman kolonial, dengan pohon yang dipercaya bisa mendatangkan keberuntungan, Pachira aquatica nama Latinnya, tetap terpajang di dalam vas di tiap meja di atas gazebo.

Aku juga menyukai pemandangan di belakang restoran. Menyukai Gunung Batur yang diselimuti awan putih. Ditambah lagi, saat itu hujan hadir langsung dengan begitu lebat. Para pelancong, yang sebelumnya asyik mengambil foto berlatar gunung berselimut awan putih, dengan gesit berlarian ke arahku juga ke arah gazebo-gazebo lainnya.

Hingga beberapa saat kemudian perhatianku teralihkan oleh sesuatu yang janggal. Oleh seorang gadis kecil berambut blonde dengan pita merah yang menggendong seekor anjing ras Kintamani di pelukannya. Dia meletakkan anjing itu di atas gazebo di tengah kolam ikan. Gazebo yang tidak dipilih oleh siapa pun. Beberapa saat kemudian gadis itu ikut naik, menemani anjingnya.

Aku terpaku di posisiku, lebih dari sejam. Seolah tersihir oleh sesuatu yang entah apa. Aku menyadari ada sesuatu yang mistis dari caranya berjongkok di hadapan anjing itu. Sedari tadi, kulihat mereka asyik bercakap-cakap. Kuperhatikan, dia—gadis kecil itu—begitu mahir mengonggong. Tidak ada kecanggungan sama sekali.

Hampir berjam-jam mereka sama-sama berjongkok. Perawakan gadis kecil itu tinggi seperti umumnya kelahiran blasteran dan caranya mengambilkan sosis dari pinggan pelayan untuk diberikan kepada anjingnya—yang sedari tadi dia ajak berbincang dengan gonggongan—menunjukkan bahwa dia adalah orang penting di restoran itu. Gerak mata dan air mukanya mencirikan bahwa kemampuannya juga bukan seperti gadis biasa. Dia istimewa.

Betapa akhirnya kusadari banyak orang juga ikut memperhatikan tingkah gadis itu. Bukan hanya aku. Masing-masing dari kami memesan berulang kali kepada pelayan yang lewat—memesan apa pun yang bahkan tidak kami pedulikan harganya. Gadis itu seperti tontonan musik di restoran itu. Seperti pemandangan yang menyihir—seolah kami menunggu sesuatu terjadi.

Tapi tidak ada sihir yang terjadi—tidak sampai sore itu berakhir. Tidak sampai dia dijemput oleh seseorang bersetelan serba hitam dan digendong menuju pelataran parkir lalu dimasukkan ke kursi belakang mobil dengan beringas. Dia, sampai hari itu berakhir, memang seperti boneka tontonan yang mendekati sempurna.

2009/03/06

Kinnara


“PERNAH tahu mitos yang mengatakan bumi ini disangga oleh empat ekor kura-kura? Seperti bintang-bintang yang berjejer di sana,” Dia menggerakkan telunjuk dari satu sudut ke sudut lainnya. “Konstelasi kura-kura.”

Hari itu seperti biasa dia memulai malam kami dengan cerita yang asing, juga seperti biasa, aku menggeleng, tak menyimak apa yang dia bicarakan.

Pasti terlihat bodoh. Selalu bodoh di matanya.

Lain waktu, tiap kali kami menatapi langit seperti saat itu, dia pasti akan selalu bilang (aku tahu niatnya hanya untuk mengomentari minimnya ketertarikanku pada langit): percuma membuat orang-orang tertarik memahami langit, sementara mereka sudah lebih dulu terpana dengan bintang-bintang yang bertebaran di layar kaca. Bintang-bintang yang redup atau terangnya hanya tergantung seberapa besar sensasi yang dibuatnya.

Dia memang sangat menyukai langit. Semua istilah yang dipakainya kait-mengait dengan bintang, meteor, atau istilah-istilah asing di fisika. Dia adalah seseorang yang lebih mudah memahami ilmu astronomi ketimbang ilmu anatomi tetapi sayangnya dia menjatuhkan pilihan dengan berkuliah di jurusan kedokteran.

Beberapa saat kemudian dia tertawa, “Tiap kali memperhatikan bintang bersamaku, tidakkah kamu juga tertarik untuk ikut menghafal nama-nama rasi bintang?”

Aku mengernyitkan dahi.

Seolah paham, dia menjelaskan, “Tidak pernah ada yang namanya rasi kura-kura.”

Lalu dia kembali tertawa.

“Aku, kan, enggak kuliah astronomi,” begitu caraku membela diri.

“Aku juga enggak kuliah astronomi.”

Saat itu, aku kembali kalah telak darinya.
 

Tulisan Terdahulu