Friday, March 6, 2009

Kinnara


“PERNAH tahu mitos yang mengatakan bumi ini disangga oleh empat ekor kura-kura? Seperti bintang-bintang yang berjejer di sana,” Dia menggerakkan telunjuk dari satu sudut ke sudut lainnya. “Konstelasi kura-kura.”

Hari itu seperti biasa dia memulai malam kami dengan cerita yang asing, juga seperti biasa, aku menggeleng, tak menyimak apa yang dia bicarakan.

Pasti terlihat bodoh. Selalu bodoh di matanya.

Lain waktu, tiap kali kami menatapi langit seperti saat itu, dia pasti akan selalu bilang (aku tahu niatnya hanya untuk mengomentari minimnya ketertarikanku pada langit): percuma membuat orang-orang tertarik memahami langit, sementara mereka sudah lebih dulu terpana dengan bintang-bintang yang bertebaran di layar kaca. Bintang-bintang yang redup atau terangnya hanya tergantung seberapa besar sensasi yang dibuatnya.

Dia memang sangat menyukai langit. Semua istilah yang dipakainya kait-mengait dengan bintang, meteor, atau istilah-istilah asing di fisika. Dia adalah seseorang yang lebih mudah memahami ilmu astronomi ketimbang ilmu anatomi tetapi sayangnya dia menjatuhkan pilihan dengan berkuliah di jurusan kedokteran.

Beberapa saat kemudian dia tertawa, “Tiap kali memperhatikan bintang bersamaku, tidakkah kamu juga tertarik untuk ikut menghafal nama-nama rasi bintang?”

Aku mengernyitkan dahi.

Seolah paham, dia menjelaskan, “Tidak pernah ada yang namanya rasi kura-kura.”

Lalu dia kembali tertawa.

“Aku, kan, enggak kuliah astronomi,” begitu caraku membela diri.

“Aku juga enggak kuliah astronomi.”

Saat itu, aku kembali kalah telak darinya.


“SEANDAINYA aku lahir sebagai laki-laki, ayahku bilang akan menamaiku Andromeda. Nama seorang putri raja yang terkesan maskulin.” Kali kedua kami bertemu, dia memulainya dengan menjelaskan perihal asal-usul namanya. “Juga sebagai nama rasi seluas tujuh ratus dua puluh dua (722) derajat persegi. Kebalikan tanggal lahirku, dua puluh dua Juli (227).”

Aku kagum akan betapa rumit cara orang tuanya memilihkan nama untuknya. Bahkan namanya sekarang, Kinnara, terdengar tidak kalah istimewa dengan nama Andromeda yang batal disematkan di belakang gelar dokternya. Karena dia terlahir sebagai seorang perempuan, selamanya perempuan, tapi dia pun selalu berkilah menyepakati Shakespeare, apalah arti sebuah nama.

Saat itu dia berceloteh macam-macam di kamarnya.

“Gaun ini cantik?” Dia menunjukkannya kepadaku. Berpose layaknya peragawati. Berputar seratus delapan puluh derajat, seperti pedansa.

“Kurang cerah. Gelap,” kujawab.

Dia lalu melepas gaun itu di hadapanku. Dia tidak mengenakan bra. Hanya celana dalam tipis transparan berwarna hitam. Sensual.

“Ibuku selalu bilang, aku lebih cocok mengenakan gaun warna hitam.” Dia menjawab, tapi dia mengambil gaun berwarna putih. Sementara gaun hitamnya masih tergeletak di kakinya.

“Kalau ini?” Dia bertanya. Kuurungkan niatku untuk menggelengkan kepala, seberapa buruk pun gaun yang dia tunjukkan. Aku benar-benar tak betah melihatnya telanjang di hadapanku. Terlebih, kami baru bertemu dua kali. Di aula kampus dan langsung di dalam kamarnya.

“Ini hadiahnya untukku.” Dia menjelaskan lalu mengenakan gaun itu, tekanan kalimatnya barusan menyadarkanku tentang betapa istimewanya gaun putih berenda keemasan itu baginya, “Ini hadiah dari cinta pertamaku.”

Saat itu, tak pernah kusadari bahwa yang dia maksud sebagai cinta pertamanya, adalah seorang wanita. Adalah seseorang yang berjenis kelamin sama dengannya.

Kini, katanya, aku akan menjadi cinta terakhirnya. Aku. Seseorang yang berjenis kelamin sama dengannya.


MALAM 
ini sama seperti malam-malam sebelumnya. Bedanya, aku menunjuk-nunjuk rasi-rasi bintang dengan telunjukku. Mengaitkan mereka, kemudian segera mengambil catatanku. Refleks, kugambar rasi-rasi yang kutemukan. Kemudian kubaca data di Wikipedia tentang rasi-rasi itu, lantas kucatat nama-namanya di bawah rasi yang kugambar. Tingkahku persis orang gila yang menemukan tempat nyaman di pojok salnya di rumah sakit jiwa.

Setelah melewati beberapa rasi bintang, kubaca lagi data di internet karena ada sesuatu yang masih membingungkanku, seharusnya rasi bintang yang bulat itu pasti bertanduk. Berbentuk mirip seperti kambing laut. Namanya, Capricornus. Karena di dekatnyalah terletak rasi bintangku, Sagitarius. Rasi bintang pemanah. Hm. Sebutlah ini keberuntungan sebagai seorang pemula. Untuk tidak tahu bahwa dirinya mungkin saja salah.

Perfect knowledge of such things cannot be acquired without divine inspiration.” Aku terngiang pujian Kinnara kepada para ahli bintang yang dengan teliti menemukan rasi-rasi bintang itu. Kalimat itu didapatnya dari kata pengantar Catatan Nostradamus.

Kini aku memahami pemikiran Kinnara.

Mirip dengan novel Seribu Tahun Kesunyian yang ditulis oleh Garcia Marquéz, kata-katanya itu semacam pemahaman bahwa entah mengapa kami beruntung terlahir di abad ini. Saat ketika bilangan phi; 3,142—dengan berderet digit angka lain di belakangnya—sudah ditemukan untuk menyempurnakan perhitungan bangun lingkaran, saat yang dibutuhkan hanya tinggal pembuktian dari teori-teori yang berjubel banyaknya.

Terpenting, saat aku tidak perlu kesulitan memberi nama baru—yang alangkah rumitnya—pada konstelasi yang baru kutemukan (dan akhirnya kusukai) di atas sana.

Ah, dunia. Entah apa kunamai bumi ini. Entah beruntung, entah membuat bingung; untuk mengenal tentang aturan-aturan yang harus ditaati, juga hukum-hukum yang wajib dipatuhi. Dari semua planet di tata surya, planet mana lagi yang aturannya serumit di bumi?

Bahkan aturan terkecil yang akan tiap anak muda temukan di unit terkecil dalam kehidupannya, tentang ketika seorang gadis mencintai seorang pemuda, grafik membuktikan bahwa kebanyakan dari orang tuanya akan merasa berhak bertanya apa sebab para gadis itu mencintai pria ini dan kenapa tidak pria yang itu yang tinggal di wilayah mewah dan ke mana-mana naik jet pribadi itu?

Bagaimana dengan Kinnara? Bisakah dia mencintai orang lain—dan bukan mencintaiku? Mengapa dia harus menjadi seorang lesbian? Mengapa Tuhan menggariskan seperti itu untuknya?

Bahwa aku takkan pernah membalas cintanya. Karena aku bukan lesbian. Lalu, mengapa Tuhan menggariskanku untuk tidak menjadi sepertinya—seperti Kinnara yang selalu nampak ceria tetapi sesungguhnya rapuh? Penggaris apa yang Tuhan gunakan?

ADA yang mengetuk pintu kamarku. Aku bergegas membukakannya. Siapa lagi kalau bukan Kinnara.

“Lagi apa?” Dia bertanya.

“Tesis,” jawabku.

“Hm. Boleh kulihat?” Dia menengok ke dalam kamarku. Berantakan.

Aku membukakan pintu kamarku lebih lebar, “Minum apa?” tanyaku ketika dia melangkah masuk dan duduk di ranjangku.

“Kopi hitam, tanpa susu, tanpa gula, tanpa pemanis apa pun.” Dari jawabannya kuyakin dia ingin bergadang semalaman bersamaku di balkon apartemen. Kubuatkan seperti yang dia minta. Dua gelas. Untuknya, juga untukku.

“Hukum perdata?” Dia mengangkat kertas-kertasku, kertas-kertas yang ketika itu dia pegang di tangannya, seraya lalu menyalakan televisi dengan remote di tangan kirinya. Saluran TV kabel. Tidak pernah disetelnya channel lain selain National Geographic.

“Masih belum kutentukan,” jawabku sambil membawakan dua mug besar untuk kami berdua.

“Bawa ke balkon saja,” ujarnya sambil membawa kertas-kertasku. Aku tak yakin dia akan rela menghabiskan waktunya untuk mengobrol perihal hukum di Indonesia. Sepengetahuanku, dia membenci hukum, politik, dan segala kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah Indonesia. Selamanya benci, katanya saat itu.

Tetap kubawa kedua mug kami ke arah balkon. Dia mengikutiku dari arah belakang.

“Menurutmu, kenapa semua hal harus ada aturannya?” pertanyaannya kelihatan berkaitan dengan apa yang kupelajari. Dengan isi dari lembaran kertas yang dipegangnya—tentang hukum perdata, tentang common law, tentang sejarah sistem Anglo-Saxon—tapi sesungguhnya aku yakin dia menanyakan sesuatu di luar segala teori hukum yang kuketahui.

“Kenapa orang-orang mengikuti tes IQ?” Aku balik bertanya, “Lalu percaya pada hasilnya?”

Dia terdiam. Dia yang selalu punya jawaban atas setiap pertanyaanku, menungguku menjawab pertanyaannya. Kuputuskan tidak menuruti keinginannya untuk saat ini.

“Menurutku, ketertarikan ini sudah faktor genetis. Gen superior dan inferior memang sudah ada di alel-alel dalam kromosom manusia, itu sebabnya akan selalu ada yang kelihatan benar dan kelihatan salah. Cara pandang gen-gen itu berbeda. Bahwa yang dominan akan berkata bahwa aku mencintaimu dan yang resesif akan menentangnya.” Akhirnya dia menjawab sendiri pertanyaannya.

Kuyakin dia kembali meracau seperti dulu. Baginya, menyatakan cinta akan sama mudahnya seperti membawakan peran sebagai moderator dalam sebuah seminar genetika.

“Masyarakat selalu tertarik untuk mengenali jati dirinya dan mengenali diri orang lain—juga mengenali lingkungan di sekitarnya. Maka mereka membuat pandangan-pandangan khusus dari posisi mereka yang kemudian mereka jadikan pandangan umum. Orang-orang menemukan pola. Mereka jadikan patokan. Kemudian, mereka akan mengejar kesamaan pola.” Dia melanjutkan, “Sehingga di akhir, tidak akan ada sesuatu yang berbeda. Semua manusia, mungkin saja, akan menjadi sama satu dengan lainnya. Karena aturan-aturan. Sebut saja, eugenetika sistem modern.”

Aku diam. Benar-benar diam. Tidak tahu harus menjadi apa di matanya. Kadang kata-kata lisan yang diucap oleh Kinnara bisa lebih tidak kumengerti dibandingkan saat-saat ketika aku harus dengan serius membaca sejarah Corpus Juris Civilis.

“Apa sulitnya mencintaiku?” Dia bertanya, “Apa arti gambar-gambar konstelasi ini?” Dia mengangkat buku gambarku. Lembar terakhir yang kugambar, konstelasi Sagitarius.

“Aku mulai menyukai langit,” jawabku jujur. Aku tahu dia hanya membutuhkan kejujuran pada saat seperti ini.

“Lalu kapan kamu akan mulai menyukaiku?”

“Saat kamu berhenti menyukaiku. Saat kamu hanya menganggapku sebagai sekadar sahabat,” jawabku, sekali lagi, dengan jujur.

“Apa karena kamu ingin punya keturunan? Atau karena kamu ingin dianggap normal oleh orang-orang?” Dia bertanya.

Aku tidak tahu harus menjawab apa lagi. Paling tidak, aku masih merasakan debar ketika melihat pria tampan. Aku masih bisa salah tingkah saat harus jalan berduaan dengan seniorku di profesi kenotariatan.

Kamu tidak pernah memiliki pacar.” Dia menudingku, “Kamu tidak pernah berkencan dengan pria. Kamu tidak pernah ... dan aku juga ... aku tidak pernah.” Dia terhenti. Menangis.

Aku berdiri di hadapannya, sangsi dengan kelemahannya yang dia perlihatkan malam itu. Dia mendekatiku, menangis di pundakku. Kubelai rambutnya.

“Apa yang membuatmu jatuh cinta kepadaku, Kinna?” Pertama kalinya kucoba untuk mengetahui alasannya. Alasan dari sesuatu yang membuatku merinding ketika mengetahuinya.

Dia memelukku lebih erat. Air matanya semakin deras. “Aku hanya merasa aman saat berada di dekatmu.”
“Kenapa kepadaku?” Harus ada alasannya. Karena cinta yang beralasan, adalah cinta yang akan dengan mudah berubah. Akan mudah kuubah.

“Kamu selalu mendengarkan apa yang kukatakan, kamu selalu mengiyakannya, kamu selalu ...” Dia menjawab. Kubelai rambutnya dan aku tersenyum.

“Seorang gadis mencintai seorang pria, bukanlah sistem. Bukan aturan yang harus kamu takuti,” jawabku, “Bukan seperti IQ yang kamu harus ragukan atau percayai keberadaannya. Cinta memang ada. Selalu ada.”
Dia mengangkat kepalanya, memandangku.

“Bagaimana caraku tahu?” Dia bertanya, matanya penuh keraguan.

“Kamu hanya akan tahu. Suatu saat ketika cinta itu hadir.”

“Bagaimana dengan poligami? Apa cinta itu hanya satu?” Dia kembali bertanya, keingintahuan yang sama seperti milik seorang anak kecil.

“Aku tidak pernah percaya perselingkuhan dalam perkawinan itu indah.” Kuambil jeda sebentar. “Aku tidak pernah memberikan penjelasan untuk sesuatu yang tidak kupercayai. Perselingkuhan terindah mungkin hanya seperti hubungan kita dengan kedua orang tua kita.”

“Apa aku akan menemukannya?” Dia bertanya lagi, “Apa aku akan menemukan seorang pria yang memang untukku? Kenapa aku tidak boleh mencintaimu?”

Kali ini giliranku untuk tertawa. “Cinta tak pernah beralasan, Kinna. Cintamu kepadaku, sangat beralasan.”
Dia membisu. Berhenti menangis.

Kali ini, aku yang menang telak darinya. [*]

---
torsdag den 5 mars 2009
23:51:03 W.I.B.

: Mutiara yang dilempar ke lumpur/Tak akan berkurang nilainya/Dan nilainya tidak akan bertambah ketika digosok minyak kesturi/Di hadapan pemiliknya, nilainya tetap terjaga. - Penginjil Filipus (Injil Apokrif)


4 comments:

  1. kk menilai adik berbakat banget menulis ...

    karya2nya bagus2 ...

    cuma antara kita ada perbedaan mendasar.seperti "dia membuka gaun dihadapanku ... "

    wah ... kk secara pribadi baca bagian itu agak gimanaaaaaa gitu

    but,it's ok ^-^

    ReplyDelete
  2. komentku adalah, sama seperti semalam. oke, kalau mau tahu, inget2 yg semalam.

    ReplyDelete
  3. dan jika aku bole bilang, selera orang itu beda2, jika aku bilang suka,berarti seleraku sama dnegan seleramu, jika tidak, berarti bukan salah seleramu, karena smeuanya seleraku.

    btw, aku suka caramu membukanya. sipppp

    ReplyDelete
  4. Efek cerita ini buat gue adalah ... rileksing.

    Gitu deh kalo penikmat cerita sejenis 'Psychopat Doctor'* kadang-kadang melihat menu lain. Andaikan gue guru yang berhak ngasi nilai, cerita ini menunjukkan kemajuan yang signifikan.

    Yang mungkin kurang hanya sedikit krisis plot, berhubung cerita diisi tukar pikiran, dan tidak ada pikiran yang menggerakkan organ secara dramatis. Tapi sutralah. Gue pengen rileks. Gue menikmati konsep-konsep abstrak yang dihadirkan Kinnara dan 'aku'. Dan seperti biasa, gue baca lagi dan lagi sehingga gue bisa sampai di beberapa catatan.

    Yuk lihat koherensi antara:

    Q: “Kenapa orang-orang mengikuti tes IQ?” aku balik bertanya, “lalu percaya pada hasilnya?”

    A: “Menurutku, ketertarikan ini sudah faktor genetis ...”

    Ketertarikan terhadap apa, neh? Ketertarikan ikut-ikutan tes IQ?, yang dengan demikian genetis? Tes IQ dipakai jauh setelah paper pertama Mendel dilirik orang. Psikometri yang dekat sama era Mendel dilakukan Francis Galton--pelopor eugenetika yang juga disebut-sebut di cerita ini--yang tidak ada hubungannya dengan pengukuran intelijensi. Ini sama halnya dengan, misalnya, ketrampilan main piano itu genetis, sehingga ada gen yang fenotipnya bisa mengatur koordinasi jemari sehingga dengan tangkas bisa menekan tuts sedemikian rupa. Pertanyaannya, ketika Homo sapiens pertama kali ada (satu versi menyebut 400 ribu tahun y.l.), masak udah ada gen tentang piano--atau ketertarikan ke tes IQ--?

    Penulis cerita bisa jadi ingin menanamkan semacam _false belief_ ke Kinara yang kemudian dikontraskan ke _belief_ yang _mainstream_, terlebih Kinnara berhadapan dengan 'aku' yang calon notaris. Untuk sementara, biarkanlah tidak ada keterangan lanjutan tentang di mana posisi Kinara dalam diskursus genetika ini, kendati dia membuat klaim ngeri: “kalau kamu pernah belajar biologi.” Lalu mari berandai-andai, ada seorang genetikawan yang membaca cerita ini. Bila genetikawan ini tidak tergelitik, maka gue ragukan kompetensinya atau malahan kewarasannya.

    Tapi ada yang lucu soal radiasi benda hitam. Gue bandingin efek ini dengan _out body experience_ (mungkin yang lu maksud _out-of-body experience_ dalam Basa Inggris atau _rogoh sukma_ dalam Basa Jawa). Yang satu ngomong soal energi yang tidak bisa dibagi terus-menerus sampai kecilnya tak hingga tapi tidak nol. Yang satu ngomong tentang sesuatu bernama 'jiwa' atau 'roh' yang bisa independen terhadap bentuk fisis bernama 'tubuh'. Gara-gara 'aku' salah dengar, dua konsep ini bisa tertukar dan hasilnya, sumpah, menggelitik.

    Yang paling lucu: “... Perselingkuhan terindah mungkin hanya seperti hubungan kita dengan kedua orangtua kita.” Satu kata untuk _remark_ ini: gokil.

    Komentar gue kepanjangan, ya? Kalau mau lebih panjang lagi, sambung aja di imel sebelum gue memperkatakan hal-hal bodoh. Menyunting komen ini SANGAT dianjurkan.

    Bai-de-wei, sedikit usul: gimana kalo konsep-konsep abstraknya dibikin enggak jadul-jadul amat? Genetika Mendelian (dominan vs resesif, &c.) udah ratusan taun umurnya. Eugenetika udah punah sejak Nazi kalah. Radiasi benda hitam (yang sebenarnya enggak terlalu nyambung dengan penampakan langit dan konstelasi bintang sebagaimana tergambar di cerita) boleh jadi eksperimen paling menohok pada masanya. Hari ini udah ada genomik, genetika behavioral, supersimetri, lubang cacing. Kalau Galton, Darwin, Planck, dan Einstein idup lagi, pasti mereka seharian plongak-plongok setengah mati.

    Tetap semangat! Tetap meriset! Negeri ini terlalu mini, jadi, tetap pandang dunia sebagai taman bermain kita!

    ===

    *) Satu poin soal 'Psychopat Doctor': maksudnya 'psychopath' pake 'h', kah? Kalau ya, maka kelalaian di level judul ini, percayalah, sangat sangat destruktif.

    ReplyDelete