Showing posts with label Cerita Pendek. Show all posts
Showing posts with label Cerita Pendek. Show all posts

2021/11/17

Teratai Merah Isan

 
 
Cerita pendek ini juga dimuat di Bacapetra.co


Di siang yang terik itu, Paman Hansa pulang bersama Kalaya dan Phichai dengan membawa bahan dan racikan bumbu untuk membuat som tam. Saat mereka datang, Ibu masih mengurai serat-serat teratai di teras rumah. Baru pagi tadi lagi-lagi aku mendengar Ayah mengeluhkan kepada Ibu soal panen teratai yang hampir gagal karena hama siput. Awalnya siput-siput itu dibudidayakan untuk diekspor ke Eropa dan menjadi makanan, tapi lambat laun justru berkembang menjadi hama.

Pada tahun-tahun di masa silam, kain-kain sutra terbaik memang lebih banyak diimpor oleh orang-orang di negeri ini dari Suzhou. Kualitas kepompong dan teknik pengolahan kain sutra mereka jadi alasan pemerintah mengimpor. Pada kenyataannya, kami tahu itu hanya gara-gara harganya murah saja. Karena itu, kami tak gentar bersaing. Produksi sutra dari teratai kami pikir bisa diteruskan, karena kami bersaing dengan memproduksi sutra organik dan dengan pewarna alami. Begitulah kemudian orang-orang di desaku terus berusaha untuk memperbaiki kualitas. 

Teratai dibudidayakan dan dirawat dengan lebih telaten. Untuk pewarnaan kain, Ayah memasok nila, kayu nangka, akar jinten, lumut, buah beri, dan kulit pohon kunyit yang memberikan warna kuning khas dan menjadikan kain produksi kami tak dipandang remeh. Kini, Ayah hanya tinggal berurusan dengan bagaimana caranya mengatasi hama-hama itu.

Satu demi satu lagu Carabao terlantun di udara saat Paman Hansa melepas helai demi helai pakaian yang dikenakannya. Dapat kulihat beberapa bekas luka di punggungnya yang telah lama mengering. Entah apakah Kalaya sempat melihat beberapa luka yang telah lama mengering itu, tapi dengan tangkasnya adik perempuanku itu segera membawa tumpukan baju kotor dengan baskom untuk dicuci di belakang rumah.

Sementara melihat mereka membersihkan diri, aku masih terpekur di ayunan rumah kami, menikmati kesendirianku dengan buku bacaanku, karya Jit Phumisak pemberian Paman Hansa beberapa pekan lalu. Phichai, adik lelakiku, tak lama kemudian ikut duduk di ayunan di hadapanku. Dia menyerahkan sepiring som tam ke arahku. Kutaruh buku di pangkuan dan lantas menyuapi sesendok untuknya.

“Enak? Bagaimana perjalanan kalian sepekan ini?” tanyaku.

Paman Hansa adalah seorang petualang. Usianya sudah 60 tahun sekarang, dan sejak kami kecil masing-masing dari kami sudah menemani Paman untuk melakoni berbagai pekerjaan serabutan mengelilingi negeri.

Dari menumpang van dan pikap atau bus yang lewat untuk menjual rajutan sutra ibu di Pasar Phahurat, berdagang bunga di Sang Khom yang hanya bakal laku keras pada hari-hari Festival Loi Krathong, hingga menjadi pemandu wisata bagi farang di pasar malam Patpong. Atau, sekadar iseng pasang judi togel tiap minggu kedua dan keempat di Rayong atau Nakhon Ratchasima.

Dari cerita Phichai, aku jadi tahu Paman Hansa sempat menghajar sampai babak belur seorang penipu di Patpong. “Oh, ya?” tanyaku terbahak.

“Ya, dan kita tahu Paman punya lebih banyak teman preman setempat. Tentu dia yang menang.”

“Seru sekali, bertemu banyak chao-poh,” komentarku. “Seandainya aku ikut.”

“Kakak sudah siap untuk ujian?” tanya Phichai.

Aku mengangguk, dan Phichai memberikan senyumnya yang begitu lebar.

Pekan depan, aku yang akan pergi ke Bangkok dengan Paman Hansa, tapi tidak seperti biasanya, kali ini untuk mengikuti ujian masuk Universitas Thammasat. Sementara aku ikut ujian, Paman sudah merencanakan dia akan menjual jimat (phra khrueang) atau membacakan rasi bintang (jyotisha) para pengunjung di pasar dekat kampus Tha Phra Chan. Dia selalu tahu apa yang bisa dijual dan bagaimana cara membawa uang pulang ke rumah, atau sekadar mengganti ongkos perjalanan kami pulang-pergi Bangkok.

Sebetulnya aku tidak merasa cukup pintar untuk perlu melanjutkan ke perguruan tinggi. Namun, Paman Hansa memaksaku karena kebetulan beberapa bulan lalu dia menang judi togel. Ia menukar simbol yang ia lihat dalam mimpinya dengan satu tiket lotere pemerintah seharga 40 baht, dan aku masih ingat wajahnya yang sumringah saat memenangkan hadiah lotere 100.000 baht itu. Saat itu, ia langsung yakin ia harus menggunakan hadiah itu untuk membiayai kuliahku.

Maka, begitulah, kini aku diwarisinya buku-buku Jit Phumisak yang selama ini disimpannya rapat-rapat di dalam lemari. Paman ingin aku mengenal tiga generasi gerakan radikal di negeri ini. “Dan kita harus bangga orang kita pernah turun ke jalan menjadi Kaus Merah,” ujarnya saat memberikan buku itu kepadaku, Wajah Sejati Feodalisme Thailand.

Sebagian besar generasi pertama radikal ini adalah komunis Tiongkok-Thailand yang punya hubungan dekat dengan Partai Komunis di Tiongkok dan Vietnam sebelum dan selama Perang Dunia II. Beberapa dari mereka ikut mendirikan Partai Komunis Siam pada 1930, yang kemudian menjadi Partai Komunis Thailand pada 1952. Jit, idola Paman Hansa, lahir tahun 1930. 

 

Generasi kedua adalah kalangan intelektual urban yang menyebarkan sosialisme ke seantero negeri. Dan generasi ketiga terdiri dari para aktivis mahasiswa yang menentang rezim militer Thanom Kittikachorn dan terlibat baku hantam dengan pasukan paramiliter dalam kerusuhan Oktober 1976, lantas masuk ke hutan dan menjalankan gerakan klandestin.

Paman Hansa adalah salah seorang aktivis dari generasi ketiga, ikut dalam gelombang kerusuhan itu, dan masih menyimpan banyak bacaan radikalnya semasa di kampus Thammasat dulu. Kekasihnya sejak masa sekolah menjadi korban yang tewas dalam kerusuhan dan Paman Hansa karena demikian mencintainya lantas memutuskan hidup selibat.

Kisah hidup Paman Hansa berbeda dengan banyak temannya yang dituduh komunis dan kini menjadi biksu Buddhis. Salah seorang temannya yang biksu, selain membantu pembangunan desa, malah dengan berani berurusan dengan chao poh setempat di Dataran Tinggi Korat. Sementara Paman Hansa memilih hidup biasa-biasa saja mengurus para keponakannya.

2021/06/02

Rahasia dari Kramat Tunggak

DIA menutup pintu apartemen. Tubuhnya lebih letih dari hari-hari yang lain, tapi begitu melihat tumpahan bir dan botol-botol yang tergeletak di lantai, dan asbak dengan belasan puntung rokok di meja makan, dia merasa sanggup membanting apa saja.

Saat membanting pintu kamar, dia sempat mendengar suara kasur reot, genjotan demi genjotan dan lenguhan demi lenguhan dari kamar sebelah.

Sudah ratusan kali dia ingatkan ibunya untuk tak menjajakan tubuh di hunian mereka.

Enam bulan lalu, kabar buruk itu datang di lapo langganan mereka, saat dia sedang khusyuk mengunyah babi panggang Karo favoritnya.

“Bantu Ibu,” pinta ibunya saat itu. “Kita lunasi utang ke para rentenir itu,” sambil mengunyah babi panggang, sang ibu dengan yakin ingin melanjutkan profesi lawasnya.

Merasa tidak perlu memberi persetujuan, dia menyudahi obrolan itu, “Ibu selesaikan urusan Ibu sendiri. Ini bukan utang yang harus aku tanggung.”

Lamunannya terusik ketika perempuan itu memanggil nama Tuhan dari ruangan sebelah, lantas berteriak kesetanan. Ibunya, dan pelanggannya yang entah siapa, kembali bergulat seperti hewan liar, seperti malam-malam sebelumnya.

“Ibumu ini dulu primadona Kramtung,” ujar ibunya bangga saat dia beranjak dari kursinya. “Kita bisa dapat banyak.”

Dahinya mengernyit. Dia bisa menghidupi dirinya sendiri, bahkan dialah yang selama ini membayar sewa rumah kontrakan mereka. Dapat banyak? Dia tak merasa butuh lebih!

Dia kepalang gengsi meminta penjelasan bagaimana bisa ibunya berutang banyak. Dia merasa dialah yang selama ini bekerja paling keras. Yang dia tahu, dia tak ingin punya urusan dengan Kramat Tunggak. Meski tak betul-betul mengingat semua detail masa kanak-kanaknya di sana, dia tahu itu bukan masa-masa yang indah untuknya, juga untuk ibunya. 

Saat lebih dewasa dia tahu bahwa Kramat Tunggak adalah mantra yang mewujudkan keajaiban Jakarta. Dengan duit dari lokalisasi itu, gubernur membiayai sebagian pembangunan, dari jalan tol ibukota sampai kompleks kesenian Taman Ismail Marzuki.

Tapi baginya segala polesan informasi dan pembenaran itu tak memperbaiki apa pun.

“Aku masih cantik dan tidak perlu kerja terlalu banyak.  Tiga tamu sehari cukup untuk bayar utang dan membiayai hidup kita,” Ibunya masih berusaha memberi penjelasan.

“Kramtung itu masa lalu kita!”

“Kita enggak kembali ke sana!” tegas ibunya.

Dan, di sinilah mereka, pindah ke tower apartemen yang disewa per bulan di Kalibata. Dia terus menunjukkan keengganannya, tapi seperti yang sudah-sudah, dia mengikuti keputusan ibunya. Untuk membayar biaya apartemen, dia harus merelakan tabungan biaya semesteran kuliahnya ludes. Sembari memaki dalam hati, dia pindah ke Kalibata dengan berbagai prasangka buruk.

Dengan lidah pedasnya dia sebut tempat itu Taman Hidung Belang. Tempat itu ramai, semua jenis manusia tinggal di sana; para pekerja kantor, juga pedagang, juga pelajar, juga bandar, juga pekerja seks. Sebutan tempat itu apartemen, mentereng, dengan pusat perbelanjaan, dan kedai kopi, dan lapangan basket, tapi tempat itu juga sarang nyawer dan jajan lendir, markas bandar gelek dan pengedarnya, tempat seorang gadis bunuh diri loncat dari lantai 8 karena patah hati. Ringkasnya: tempat itu kolong dunia terkutuk.

Semua itu cocok jadi amunisinya jika sewaktu-waktu mesti melontarkan amarah, “Kenapa kita pindah ke tempat terkutuk ini?!

Di pagi saat mereka pindahan, seorang pria berusia sepantarannya sedang bugil menggedor-gedor pintu kamar sebelah. Tampak mabuk, si pria bugil tersenyum menyapa ke arah mereka, “Wah, tetangga baru. Sori, gue dikerjain orang-orang sinting di dalam karena kalah taruhan.” Sambil memegang karton bekas untuk menutupi selangkangannya, ia sibuk menggedor dan menggedor.

Kamar sebelah ditempati lima orang buruh yang bekerja untuk kontraktor di kamar sebelahnya lagi. Pergi pagi, pulang larut malam dengan berpeluh-peluh dan pakaian dekil berlumpur. Kepulan asap rokok mengisi sepanjang lorong saat mereka bersantai di petang hari.

Mendapati tetangga semacam itu, dalam hitungan hari, dia justru merasa betah. Dengan cepat dia mengakrabi mereka, berbagi bungkus rokok atau saling pinjam korek dengan si pria bugil dan teman-teman buruh dan kontraktornya. Sempat pula salah satu buruh menawarinya pil koplo, tapi dia menolak dengan halus.

Sementara itu, ibunya berjejaring dengan lebih cepat lagi. Walau tak muda lagi, tamu yang butuh layanannya terus bertambah, dari oom-oom bau domba sampai bocah SMA bau kencur. Ibunya memang masih molek. Tapi dia tahu betul ibunya akan butuh riasan, pakaian baru yang cukup bagus, ataupun pakaian dalam seksi yang membangunkan hasrat nakal lelaki paling alim sekalipun. Dia tahu ibunya butuh uang darinya sebagai modal.

Sehari diniatkannya melayani tiga pria, meski tak selalu begitu karena pelanggannya datang manasuka, semestinya mereka bisa tajir. Tapi karena ini upaya mendadak demi membayar utang, dan karena dia tidak pernah benar-benar setuju akan keputusan ini, dia berserah saja saat semua penghasilan masuk ke rekening ibunya. Dia hanya dapat ampas-ampasnya: lenguhan, jeritan, barang-barang terdengar berjatuhan, dan kegiatan beres-beres.

Kali ini, dia tidak membantu beres-beres. Dia terlalu lelah untuk memulai ritus bertengkar.

Tamu terakhir ibunya pulang pukul 2 pagi. Namanya dipanggil karena ibunya tahu dia masih mengetik.

“Tadi Ibu beli nasi padang buat kamu. Kok, masih utuh? Enggak enak, lho, kalau basi.”

Sementara si anak menyendok nasi padangnya, si ibu yang masih segar seusai melayani tiga pria pergi keluar membawa bungkusan plastik besar berisi sampah.

Seisi ruang apartemen sudah bersih, seolah tidak pernah dipenuhi asap rokok atau tumpahan bir. Tapi tetap saja, tempat itu berbau apak. Dinding-dindingnya dingin berjamur.

Hingga nasi padangnya tandas, ibunya masih di luar. Tahu kebiasaan ibunya untuk menikmati dini hari dengan menelusuri jalan, dan dengan jalur berbeda-beda setiap kalinya, dia menyalakan televisi dan memutar film sembari menunggunya kembali.

Kualitas keping DVD bajakan baru ini buruk sekali. Andai punya cukup waktu, dia ingin mengajari ibunya mengunduh film bajakan dari torrent agar tidak harus memandangi tontonan kualitas rendah begini.

Tapi mereka sama-sama sibuk. Saat lulus SMA, dia hampir tak lanjut kuliah. Mengirim anak perempuannya ke kampus memang impian sang ibu, tapi uang adalah penghambat segalanya. Dia bekerja menjadi SPG di mal, dengan izin yang diberikan ibunya dengan berat hati. Dua tahun kemudian, setelah menderetkan kampus-kampus swasta murah, dan dengan tabungan hasil kerjanya, dia akhirnya berani mendaftarkan diri.

Dia mengambil jurusan akuntansi supaya saat lulus bisa cepat mendapat kerja lagi. Semula dia merasa lebih cocok dengan seni rupa, tapi ibunya menyanggah minatnya, “Jurusan itu hanya untuk anak-anak orang tajir yang enggak butuh lihat duit lagi.”

Sementara ibunya bekerja jadi buruh cuci untuk tiga rumah tetangga dan menitipkan masakan di kantin kampus, dia tetap bekerja paruh waktu di kafe bilangan Cikini, dekat wilayah mereka tinggal. Dari sana dia mendapat uang untuk membayar tagihan-tagihan di rumah dan membiayai penuh perkuliahannya.

Hidup berdua dengan kebutuhan tidak banyak, dia sebenarnya masih bertanya-tanya, bagaimana mungkin ibunya dikejar-kejar rentenir? Bukankah dia mencicil biaya kuliahnya sendiri? Selain paruh waktu di kafe, dia juga mendapat upah dari mengetik transkrip untuk dosen fakultas sebelah. Namun, lantaran gengsi untuk terlalu peduli, dia memutuskan untuk tidak bertanya lagi.

Dia sadar betul mereka miskin. Sejak kecil, dia diajak berpindah-pindah tinggal dari satu gang kumuh ke gang kumuh lain, dari pinggir sungai ini ke pinggir sungai itu, berkawan dengan bocah-bocah preman sepenjuru Jakarta. Dia tak sempat menanyakan mengapa mereka miskin, di mana ayahnya, dan bagaimana bisa ibunya melonte di Kramat Tunggak.

2017/04/28

Kita Bahkan Tidak Perlu Berbisik

 

 (Cerpen ini dimuat di Jurnal Perempuan No. 93/2017)


SEPULUH tahun telah lewat bagi kami. Itu adalah waktu saya untuk mulai menyukainya, mencintainya, dan menjalin hubungan, hingga merelakan ia pergi selamanya dari hidup saya.

Sore itu hujan, saya mendorong kursi roda kekasih saya itu. Ia bersikeras meminta saya meninggalkannya sendiri di kamar rumah sakit yang pengap oleh bau obat-obatan. Saya bilang saya tak cukup nyali untuk harus kehilangannya tanpa sepengetahuan saya.

“Aku ingin makan bubur di kafeteria,” ujarnya pada hari terakhir itu. Sementara dibiarkannya senampan makanan dari rumah sakit tak tersentuh.

Sepanjang perjalanan menuju kafeteria, kami melihat banyak burung gereja beterbangan di langit, “Besok aku akan menjadi salah satunya,” katanya. Saat itu ia seolah-olah sepenuhnya menyerah akan hidup.

Entah apa yang ada di pikirannya. Yang jelas, lama setelah menerima kabar mengenai kanker yang ia derita, saya menyadari tak lama lagi saya akan kehilangan kekasih saya. Dan hanya bisa mendorong kursi roda pria itu saat ia sedang merasa hampir mati membuat saya merasa tak berguna.

Sepuluh kilogram bobot tubuhnya turun selama setahun ia menjalani kemoterapi. Kanker otak yang ia derita baru kami ketahui ketika sudah menjelang stadium akhir.

“Seandainya kita bisa kembali ke masa lalu dengan mesin waktu,” ujarnya saat itu. “Mungkin seharusnya kita tidak pernah bertemu. Waktumu terbuang sia-sia, sepuluh tahun kamu habiskan hanya untuk menemani pria yang akan mati.”


KAMI sampai di kafetaria rumah sakit. Saya memesan dua mangkuk bubur ayam dan dengan sigap mengambil dua botol air ukuran sedang.

Darah mengucur dari hidung kekasih saya. Ia tidak bisa menggerakkan tangannya untuk menghapus darah itu. Dua minggu sebelumnya, kedua tangannya mulai lumpuh.

“Kita seharusnya benar-benar tidak usah bertemu,” rajuknya. Darah dari hidungnya terus mengucur dan tak berhenti. Saya ambil tumbukan daun sirih dari wadah plastik di dalam ransel dan saya letakkan di lubang hidungnya. Beberapa saat, darahnya berhenti.

“Atau, seandainya kita segera menikah di tahun pertama perkenalan kita.” Ia masih meneruskan kelakarnya.

Saya terpaku mendengar kalimat terakhirnya. Barangkali kami memang sebodoh itu karena meniru kisah percintaan Jean Paul Sartre dan Simone de Beauvoir. Kami melewatkan sepuluh tahun hanya untuk berpacaran, bekerja, dan bervakansi menjelajahi tempat-tempat asing. Kami terlalu banyak membual soal kehidupan berumah tangga, merencanakan jumlah anak, dan rumah idaman, tanpa pernah merealisasikannya.

“Kita bahkan belum dikaruniai keturunan,” lanjutnya.

“Seandainya kamu bisa mendonorkan spermamu sebelum meninggal,” saya mencandainya. Ia tertawa, tapi tawanya tidak bisa selincah sebelum kanker bersarang di otaknya. Dulu setiap saya berlelucon, saya selalu menerima kecupan mesra darinya di kening.

“Carilah pria lain setelah aku meninggal,” pintanya.

“Bagaimana dengan opsi mengadopsi seorang anak?” jawab saya, “Dan menamainya dengan namamu atau nama orang-orang yang kita idolakan?”

Ia tersenyum, tetapi air mata jatuh di pipinya. Itu hari pertama dan hari terakhir saya melihat air mata di wajahnya.



SAYA akhirnya mengadopsi seorang anak dan membangun usaha sendiri. Anak itu saya namai Gandhi, sebagaimana kekasih saya dan saya mengagumi Mahatma Gandhi. Lima tahun telah berlalu semenjak saat itu. Saya sudah tidak mampu mengingat lagi bagaimana perasaan saya sewaktu melihat jenazah kekasih saya di ranjang rumah sakit. Usaha yang saya rintis membuat saya sepenuhnya melupakan impian berumah tangga.

Saya selalu membuka toko buku dan kafe setiap pukul enam pagi lewat sedikit, dan menutupnya ketika sudah larut. Terkadang, saya juga tidak menutupnya sama sekali. Selalu ada orang-orang yang bermalam di kafe karena larut dalam pembicaraan. Pagi ini sekitar tiga atau empat pasangan kekasih memesan kopi dan menu sarapan ringan setelah semalaman tak pulang. Buku-buku bacaan ringan dari toko buku menumpuk di meja, masih bersegel, menjadi bantal tidur mereka.

“Ini masih bisa dilakukan sendiri. Biarkan saya yang angkat,” terdengar suara seorang pria tua dari kejauhan.

Pukul tujuh pagi, tetangga saya sudah banyak bicara di teras rumahnya sewaktu saya membereskan kafe dan mengantarkan pesanan pelanggan. Saat saya lihat, pria yang berusia delapan puluhan itu dengan keras kepala menurunkan kursi roda dari mobil pick up seorang diri. Diabaikannya kurir pengantar yang berniat membantu.

Selepas kepergian kurir itu, ia berdiam diri lama demi memandangi kursi rodanya. Saya sudah membereskan piring dan gelas terakhir, dan mengganti taplak meja, ketika ia akhirnya duduk, mencoba mendorong-dorong kursi roda. Ada keriangan kanak-kanak dari caranya tergelak menertawakan diri sendiri saat duduk di kursi roda itu, dan dari caranya mengibaskan tangan sewaktu ia mendapati saya memandang ke arahnya.

Ia barangkali akan cocok dengan ayah saya. Semalam saya menjemput Ayah di bandara. Saya minta ia tinggal bersama saya.

Keputusan itu muncul di benak saya pada kunjungan terakhir saya ke rumah. Saat itu seluruh rumah bau kotoran tikus, lampu-lampu dibiarkan menyala sepanjang hari, dan botol-botol bir menumpuk di kamar Ayah. Sebagai anak tunggal, saya tak akan tega membiarkan Ayah hidup seperti itu.

Sebenarnya ibu dan ayah saya sudah bercerai sejak saya merantau kuliah dan bekerja di Jakarta. Namun, beberapa bulan lalu sesudah Ibu wafat, kata tetangga kami, kerja Ayah hanya bermurung diri dan keluar rumah untuk menghabiskan uang pesangon. Saya tak menyangka Ayah menjadi begitu tak menghargai hidup setelah mengetahui kepergian Ibu. Ia dipecat dari perusahaan tekstil tempatnya bekerja dan tak mencari pekerjaan lagi. Ayah bahkan tak bisa mencuci baju sendiri ataupun merawat diri.

Saya senang karena akhirnya ia mau ikut pindah. Meski semalam saat saya jemput, di perjalanan kembali dari bandara, ia memaksa berhenti di swalayan 24 jam dan membeli berkerat-kerat bir. Di kamarnya, kini Ayah pasti masih belum terjaga. Beberapa minggu ke depan, ia tampak masih akan menghabiskan waktunya lebih banyak untuk merokok dan minum bir sebelum tidur. Saya tak mencegahnya. Hanya saja, sebelum kepindahan kami, saya minta ia lebih bisa berlaku mandiri.

“Penghasilan saya belum banyak. Saya baru menjalankan usaha toko buku dan tempat makan ini selama lima tahun,” ujar saya di dalam taksi.

Ayah yang duduk di sebelah saya tampak tak acuh.

“Keuntungan dari usaha ini bahkan belum menutup hutang pinjaman saya di bank. Jadi, tolonglah, saya minta kerjasama Ayah.”

“Sudah kubilang, kau tak usah ajak aku ikut pindah,” jawab ayah saya, “kau tinggal biarkan aku mati di rumahku kalau kau mau terus larang aku beli bir.”

“Saya mana tega membiarkan Ayah mati. Memangnya Ayah mau bikin saya jadi yatim piatu? Ayah bisa tinggal bersama saya, tapi tolong mengerti keadaan saya juga. Bir-bir itu, rokok-rokoknya, tolong dikurangi.”

“Capek aku dengar keluh kesah kau, Denada. Terima kasih kau ajak aku turut pindah, tapi jangan kau atur terlalu banyak hidupku,” jawab Ayah naik pitam.



SAAT saya menyetelkan televisi ke channel yang banyak menampilkan kartun-kartun hari Minggu, tetangga saya datang dengan kursi rodanya. Orang-orang memanggilnya Markus. Saat itu ia mengetuk pintu kafe. Wajah riangnya tampak tersenyum di pintu kafe, sebelum kemudian ia mendorong sendiri pintu itu.

“Kursi roda baru?” tanya saya.

Kursi roda itu tampak istimewa. Barang-barang yang ia miliki memang rata-rata bermerek mahal. Istrinya meninggal tiga tahun lalu, tetapi ia tampak baik-baik saja dengan ditemani barang-barang itu. Hingga hari ini, ketujuh anaknya—yang kesemuanya menjadi orang sukses—masih rajin mengiriminya uang dan barang. Ia hampir selalu datang bercerita ke kafe saya setiap ada kiriman yang datang. Dari yang saya lihat, barang-barang itu membuatnya bahagia.

“Anak-anakku ini kelakuannya betul-betul sudah, cerewetnya keterlaluan. Mereka kirimkan benda ini dengan pesan agar aku gunakan kursi roda ini kalau sewaktu-waktu aku capek berjalan. Sepertinya mereka mau ayahnya cepat-cepat tidak bisa berdiri.” Markus menjawab dengan bercanda. Seperti biasa, perkataannya dibarengi tawa.

“Mau minum susu dengan stroberi? Sekontainer buah segar baru datang pagi tadi. Stroberi, semangka, pisang, apel, nanas, mangga, anggur,” saya hampir merinci semua buah.

“Apa saja boleh, tapi stroberi favoritku. Asalkan kamu tidak bilang ke anakku kalau aku minum itu. Bisa-bisa dia kirim koki masakan vegetarian dan dokter gizi khusus diabetes kalau dengar ayahnya banyak konsumsi yang manis-manis dari kafe tetangga.”

“Kenapa tidak mencarikan ayahnya istri baru saja, kalau begitu?” canda saya sembari menyuguhkan susu stroberi.

“Mungkin mereka pikir ayahnya bisa mati di ranjang waktu bercinta dengan istri barunya,” sahutnya sambil tertawa. “Kulihat kamu mengajak seorang lelaki paruh baya tadi malam? Dia siapamu?”

“Itu ayah saya. Semalam ia terlalu banyak minum bir, sepertinya sekarang ia masih tidur di kamarnya.”

“Ah, siapa bilang? Pagi-pagi buta ia sudah keluar rumah, terakhir kulihat ia duduk di lapangan rumput, menonton anak-anak main sepak bola sambil pegang botol bir di tangan.”

“Pak Markus tidak mengajaknya bicara?” tanya saya.

“Aku masa bodoh saja tadi. Aku tak suka dengan orang yang dari tubuhnya menguar bau minuman keras. Ayahmu kelihatan frustrasi betul. Tapi seandainya saja aku tahu ia ayahmu, aku pasti sudah tarik lelaki bangkotan itu pulang kemari. Gila saja, gadis sebaik kamu punya ayah berkelakuan begitu.”

Saya terpingkal sejadi-jadinya. “Ibu meninggal enam bulan lalu. Mungkin itu banyak mempengaruhi Ayah, walaupun mereka sudah lama bercerai.”

“Tidak usah murung begitu. Lupakan saja ayahmu. Ayo, bicarakan yang lain. Kau lihat gunung di seberang itu? Pagi ini tampak cantik dan agung sekali. Mungkin bisa membuatmu lebih ceria.”

Mungkin juga tidak. Ada banyak kenangan dari gunung itu. Saya pernah mendakinya langsung bersama kekasih saya yang meninggal lima tahun lalu. Hanya berdua dari Jakarta, kami mengelilingi kota ini. Pada hari itu, Johan secara spontan mengajak saya menaklukkan gunung di seberang itu. Apa yang kami lakukan hari itu yang menuntun saya ke kota ini.

Ada para pecinta yang akan menantang dunia dan bersedia dunia membencinya agar ia bisa bersama dengan orang yang dicintainya. Dulu kami melakukannya, sama-sama tak peduli dengan identitas suku dan agama yang berbeda di antara kami. Selama sepuluh tahun kami menjauh dari keluarga yang menolak hubungan kami. Selama itu, satu kali pun tak pernah membersit di pikiran saya untuk mewujudkan harapan Johan menikahi saya. Ia sudah merayu saya berkali-kali untuk menikah pada tahun kelima hubungan kami. Ia bilang, dengan tabungannya, ia sudah bisa membeli rumah sendiri dan menafkahi saya.

Sayalah yang bodoh dan menyia-nyiakan kehadirannya. Sebagai anak tunggal, dengan kedua orang tua yang bercerai, saya susah menyanggupi permintaan Johan. Saat mengingat masa-masa itu, terkadang saya menangis di pojok kafe setiap tak ada pengunjung. Membenamkan wajah saya di balik buku dan tertidur pulas sampai ada pengunjung atau karyawan shift yang datang dan membangunkan saya.

“Kenapa jadi tambah murung?” Markus tampak heran. “Mana Gandhi? Hari Minggu kau taruh ia di Sekolah Minggu lagi?”

“Ia suka di sana. Hobinya menggambar mendapatkan wadah di tempat itu.”

“Atau jangan-jangan ia betah karena ia menemukan ayah baru di sana?” goda Markus. “Carikanlah anakmu itu ayah baru. Kamu masih empat puluhan, cantik, cergas memasak. Andai usiaku bisa dikorting empat puluh tahun, aku pasti melamarmu.”

Bagaimana bisa membayangkan memberi ayah baru untuknya? Saya mengadopsi Gandhi yang berusia tiga tahun dan sejak saat itu membiarkannya tumbuh besar tanpa ayah. Dia sudah terbiasa tumbuh tanpa seorang ayah. Saya bilang ayahnya diplomat, yang pekerjaannya selalu mengharuskan berpindah-pindah negara. Setiap hari ulang tahunnya, Gandhi mendapatkan kiriman dari teman-teman saya di luar negeri. Ada nama kekasih saya, Johan Winangun, di setiap kartu ucapan selamat. Saya bilang itu nama ayahnya.

Gandhi tak banyak bertanya lagi sejak hari pertama ia dikirimkan satu kardus berisi kamus bergambar. 

2016/05/24

Nenek


 Untuk Rio Johan.
Saat aku menunggu jadwal penerbanganku di bandara, jasad seorang kawan di kampus yang juga tinggal satu indekos denganku sedang diotopsi di rumah sakit. Beberapa botol minuman yang diraciknya menewaskan belasan kawan sepeminuman kami. Dia tidak ikut mati karena mabuk minuman, tapi mungkin karena merasa bersalah, dia kemudian bunuh diri malam itu juga. Aku kebetulan tidak ikut minum dengan mereka karena sedang putus cinta. Dan kini aku terlalu patah hati untuk terlibat dalam drama atau pun persidangan terkait kematian kawan-kawanku, jadi aku memutuskan pergi.

Kalau bukan karena dikabari oleh Ibu bahwa Ayah akan dinobatkan menjadi suttan dan diistanakan di pepadun dalam minggu ini, dan karenanya Ibu mendesakku untuk pulang, aku tentu akan lebih memilih berkelana tak tentu arah daripada pulang ke rumah. Tapi pulang ke rumah pun sama dengan menghindari hal-hal tidak menyenangkan di kota ini. Lagipula, tiket pesawat dibayar sepenuhnya oleh Ibu, jadi hal apa yang patut kukeluhkan? Jadi, tentu aku akhirnya memilih pulang ke rumah.

Sudah lama aku tak pulang ke kampung halamanku. Ayah dan ibuku adalah transmigran di Tulang Bawang Barat, dan rupanya mereka terlalu mengamalkan dengan baik nilai-nilai hidup di sana sehingga kemudian diangkat anak oleh nenekku. Dan kini, sekian belas tahun setelah kepindahan kami ke daerah itu, Ayah akan mendapatkan gelar tertinggi orang-orang di sana: suttan.

Aku dijemput Paman di bandara dan ia memberiku hormat selayaknya anak pejabat. Kutertawakan kelakuannya karena aku tahu ia menyindir Ayah. Aku paham yang diejeknya bukan gelar suttan yang akan diperoleh Ayah, tetapi lebih pada sikap kaku Ayah selama ini—dan betapa kompletnya bila sikap kakunya itu disandingkan dengan gelar tertinggi tersebut. Sosok ayah tentu akan bertambah angker.

Kugoda Paman, apakah dia masih belum dapat mengalahkan Ayah dalam pertandingan catur. Dia mengangguk. Aku yakin memang akan sulit menemukan lawan tanding yang setara dengan Ayah. Maka kusimpulkan pada Paman, Ayah tidak akan tampil rendah hati di hadapannya bila dia belum kunjung mampu mengalahkannya.

Kami tertawa. Ia lantas menyodok tanganku dan mengganti topik. Kali ini ia hendak membahas soal pendamping bagiku. Sebagai anak tunggal, aku diharapkan menikah cepat. Aku menggeleng sekenanya. Aku pernah punya seseorang untuk digandeng, tapi tidak untuk saat ini. Paman rupanya mencoba untuk mengerti aku malas membahas hal itu.

Selama tiga jam saling bertukar menyetir mobil dalam perjalanan dari bandara ke rumah, aku dan Paman bertukar ringkasan lima tahun masa hidup kami yang telah terlewatkan selama masa perantauanku di pulau seberang. 

Bibi telah meninggal, dan Paman menikah lagi karena pada suatu malam dia mabuk fermentasi singkong sehingga tidak bisa membedakan bokong sapi dan bokong istrinya sekarang. Dia tukang perah sapi sebelum menikahi istri keduanya, tapi kini dia bekerja mengolah hasil perkebunan dari sekian hektare tanah milik mertuanya.

Di sepanjang jalan, dia menunjuk area kiri-kanan jalanan itu yang merupakan perkebunan milik mertuanya. Aku akan mensyukuri hidupku bila mendapatkan mertua dengan kekayaan semacam itu, kubilang kepada Paman. Tapi dia tertawa dan justru bersumpah dengan sungguh-sungguh bahwa bokong si istri pun sudah merupakan anugerah baginya.

Rumahku rupanya tak banyak berubah meski lama kutinggal. Pekarangannya masih dipenuhi pot bugenvil yang biasanya dibawa Ibu sebagai oleh-oleh dari perjalanan dinasnya, dan bahkan koleksinya bertambah lebih banyak lagi. Meski Ibu doyan membeli tumbuhan, Neneklah yang paling getol merawatnya, bersama dengan anggrek-anggrek bulan yang dipetiknya dari hutan. Dan Ayah masih memelihara anjing dalam jumlah yang lebih banyak lagi karena saat mobil kami datang, anjing-anjing itu berhamburan bagaikan domba.

Beberapa orang hilir-mudik di pekarangan rumah sembari membawa gotongan. Mereka adalah tetangga kami yang membantu persiapan pesta perayaan penobatan Ayah. "Ini pesta besar dan kamu tahu makanan lezat apa saja yang akan kamu nikmati di pesta besar itu," ujar Paman di sisiku dengan tawa yang amat lebar. Kami akan menikmati rendang sapi paling enak, kue-kue jajanan pasar paling segar, dan sepanjang pekan es buah akan mengguyur dahaga tenggorokan kami di tengah cuaca yang sedang terik membara ini. Lama tidak pulang, dan kini disambut dengan pesta. Luar biasa.

Nenek melepas selang air di pegangannya ketika melihatku turun dari mobil. Belasan anjing di pekarangan rumah itu tidak menggonggongku seolah tahu bahwa aku adalah salah satu tuan mereka juga. Membiarkan air dari selang membeceki halaman, Nenek menghampiriku dan memelukku demikian erat. "Kenapa demikian lama tidak pulang," tanyanya. "Kenapa Nenek masih tampak muda dan tak berubah sedikit pun," kujawab. Dan dia tergelak, lantas cepat-cepat menyongsongku ke arah dapur.

Ibu sedang memandu beberapa perempuan yang berada di dapur bersamanya untuk meracik bumbu. Hanya sebuah pesta besar yang akan memanggil wanita karier satu itu ke dapur dan berurusan dengan perapian. Wajah dan gerak-geriknya masih optimistis dan garang seperti biasa. Tapi begitulah ibuku kukenal sebagai perfeksionis. Saking sibuknya, bahkan ia tak menyadari kehadiran putra tunggalnya di pintu dapur.

Maka aku meminta Nenek untuk ikut ke kamar dan membiarkan Ibu larut dengan kesibukannya.

Kami duduk di ranjang di kamarku. Masih ada sederetan poster ilmuwan favoritku, atlas dunia dan atlas negara, juga catatan-catatan formula matematika, fisika, dan kimia di dinding kamar itu. Kamar itu mengingatkanku kepada diriku yang pernah hingga bermalam-malam suntuk begadang untuk mempersiapkan olimpiade sains dan pada akhirnya menggondol pulang medali-medali emas. Sementara, selama lima tahun berkuliah aku justru terjauhkan dari semua itu. Yang ada hanya deretan demonstrasi, pergerakan, harapan untuk revolusi, mabuk minuman keras, kecanduan ganja, dan kematian kawan. Betapa mudahnya hidup menjelma ironi dalam waktu singkat.

Nenek mulai menderetkan hari-hari indah dan hari-hari kelabunya selama aku tak ada di sisinya. Dia memang tak pernah kehilangan kisah untuk dia ceritakan. Kata Ibu, pada suatu hari, Kakek tiba-tiba saja tak bisa diajak bicara oleh Nenek, lalu Kakek pergi ke tengah hutan dan tak pernah kembali lagi, dan sejak itu Nenek kerap duduk termenung di halaman rumah, atau terkadang duduk di atas pepadun di lantai dua rumah kayu kami. Kepada siapa saja yang duduk di dekatnya, Nenek akan mulai menceritakan banyak kisah. Nenek punya kisah-kisah asli selama 600 tahun ke belakang. Dan kisah-kisah itu berasal dari pengalamannya sendiri. Usianya lebih dari 600 tahun, dan dia tidak bisa memastikan kapan tepatnya dia lahir. Dia adalah ibu dari nenek dan nenek dan nenek dan nenek di atas nenekku. Itu pun dengan mengandaikan bahwa ia memang nenek yang sedarah denganku, dan kenyataannya bukan. 

Saat ayah dan ibuku pindah ke Tulang Bawang Barat, mereka bertemu dengan Nenek—tinggal bersama cukup lama—dan sejak itu mereka diangkat anak olehnya. Selama ratusan tahun hidupnya, perempuan tua yang kini sedang menimang-nimang jemariku di pahanya telah sembilan kali selamat dari kematian.

Selain sembilan kali “takdir kematian” yang datangnya dari alam itu, ada ratusan kali “percobaan kecil” yang berusaha dilakukan musuh-musuhnya untuk membunuh Nenek. Dan percobaan-percobaan pembunuhan yang kecil-kecil itu tak masuk radar hitungannya. Sewaktu aku kecil, hampir setiap hari aku mendapati bagian-bagian di halaman rumahku berlubang besar. Setiap pagi, aku akan mendapati Nenek mandi kembang dan kemudian menyiram liang-liang itu dengan air pembersihannya. Katanya, itu adalah liang-liang kematian yang disiapkan musuh-musuh bebuyutannya untuk Nenek. Sepanjang malam saat aku dan seisi rumah tertidur, Nenek rupanya bertarung kesaktian dengan musuh-musuhnya itu.

Saat kutanyakan kepada Nenek apakah halaman rumah kami masih sering berlubang, dia justru balik menanyakan kepadaku apakah aku bersedia mewarisi kesaktiannya.

Apakah kesaktian yang ia maksud sama dengan kehidupan imortal?

Pertanyaan itu mengambang di benakku hingga ia bangkit dari duduknya. Aku tetap tak menanyakannya. Dia membuka lemari di seberang kamarku dan mengeluarkan kotak-kotak dari sana. Lantas, membuka kotak-kotak itu satu per satu. Kosong.

"Aku ingin berhenti dan tak mengejar apa-apa lagi," bisik Nenek lirih.

"Apakah di kotak itu terdapat sesuatu yang tak dapat kulihat," kutanya.

Dia tersenyum. "Aku akan pulang pada malam bulan purnama pekan depan," jawab Nenek.

"Apa pun yang terjadi, aku tak menghendaki kesaktian itu sama sekali," aku tegaskan kepada Nenek.

Dia memelukku demikian erat dan hanya membisikkan, "Padahal selama ini aku menunggu kepulanganmu dan mendengarmu siap mewarisinya dariku."

2014/12/09

Penulis Fiksi



(Cerpen ini dimuat di Koran Tempo, 12 Juli 2015)


PETANG itu anjingku menyalak ketika tetanggaku berdiri di pagar rumahnya. Ada rangkaian kunci di tangannya. Dengan sebelah tangan menjinjing bungkusan plastik, ia membuka pagar.

Pria itu orang baru di perumahan kami. Aku tak jelas tahu dari mana ia berasal, kami belum pernah bertegur sapa sebelumnya. Ia kerap pulang larut malam dan membawa bungkusan plastik makanan.

Tirai tipis di kamarnya di lantai dua membuat bayangan tubuhnya terlihat jelas ketika disoroti sinar lampu. Dengan begitu, aku dapat memperhatikan apa yang dilakukan pria kurus berkacamata itu.

Biasanya, setelah menikmati sesuatu di meja makan, ia akan bergerak ke arah tengah ruangan, duduk menghadap layar, mengetik sesuatu, menghabiskan malam terpekur di sana sampai pukul dua pagi, lantas beranjak tidur dan biasanya ia akan kembali duduk di depan layar setelah dua jam lewat. Ia selalu hanya tidur sesebentar itu setiap malamnya. Mungkin saja pekerjaannya menuntutnya lembur di rumah untuk menyelesaikan tugas kantor yang tak sempat selesai. Atau, seperti yang diramalkan ayahku ketika aku meminta pendapatnya tentang identitas tetangga baru kami itu, pria itu barangkali berprofesi sebagai penulis atau jurnalis.

Ia menghabiskan waktu cukup lama untuk merapikan rumah, menikmati makanan di meja makan, sebelum akhirnya ia berjalan ke arah yang berlawanan dari rumahku. Ia berjalan terus ke seberang, hingga bayangannya hilang. Sekadar tahu bahwa pria itu barangkali tertidur di ruangan berbeda di rumahnya, aku lantas menutup tirai kamar dan melanjutkan tugas kuliahku.

Kali ini aku tak tahan menemaninya terjaga hingga pagi. Aku tertidur dengan headset masih menempel di telinga dan ketika terbangun esok paginya, kulihat laporan praktikumku luntur terendam susu yang tak sengaja kutumpahkan saat tertidur. Tidak biasanya aku terbangun begitu subuh, padahal aku baru bisa tidur pukul dua dini hari tadi.

Setelah meminum segelas besar air yang ditaruh Ibu di meja di depan kamarku, aku berjalan menuju dapur, di sana aroma masakan Ibu menguar kuat.

“Tetangga kita tadi pagi diantar ke rumah sakit. Beberapa tetangga merumorkan kematiannya.” Ibu berujar sembari mengaduk kuah di dalam panci.

Aku yang sedang mengupas bawang dengan pisau tentu kemudian refleks menoleh. Aku tiba-tiba membayangkan; bagaimana rasanya mati? Apakah seperti cerita Kafka dalam karyanya, ‘Metamorfosis’; rasa kematian sama seperti ketika seseorang berubah wujud menjadi serangga pada suatu pagi yang samar? Dan ia tiba-tiba bukan lagi manusia, dan ketika berubah menjadi serangga ia lantas kehilangan segala ingatannya akan dunia?

“Meninggal karena apa, Ma?” tanyaku lekas-lekas—karena aku masih melihatnya hidup tadi malam sebelum tertidur.

“Loncat dari lantai dua rumahnya.”

Hanya hal seperti itu; bisa membuat seseorang mati?

“Setelah memutus nadinya dan menenggak racun.”

“Mama dengar itu dari para tetangga kita?” tanyaku.

Bagaimana bisa Ibu masih kelihatan begitu santainya memasak di dapur dan tidak melayat ke rumah tetanggaku itu?


AKU terkesima. Apakah Tuhan benar-benar berada di masa depan dan menulis tentang takdir-takdir di masa lalu? Pria itu tidak mati, jadi itu karena Tuhan?

Katanya, pria itu hanya berhenti bernapas sebentar. Semua orang, setiap membicarakan tentang kejadian itu, berkata dengan nada pasti bahwa pria itu akan baik-baik saja. Ia hanya perlu dirawat sebentar saja di rumah sakit. Meski kami semua merasa lega ia tidak mati (selama ini belum pernah ada kejadian bunuh diri terjadi di kompleks rumahku), kurasa percobaan bunuh dirinya benar-benar bukan sesuatu yang biasa.

Aku heran ia bisa selamat. Ia melakukan tiga lapis proses untuk mati: pertama, ia meminum segelas cairan pembersih lantai (ada buktinya di kamarnya), lalu memutus nadi tangan (ada bekasnya di tangannya ketika tubuhnya ditemukan tergeletak di taman di depan rumahnya), dan loncat dari lantai dua kamarnya (untungnya kepalanya tidak membentur tanah, meski kabarnya tulang lengannya patah). Dan karena pria itu tidak mati, aku berkesempatan untuk mengunjunginya di rumah sakit.

Aku diamanatkan kesempatan itu dengan alasan: Ibu sibuk mengurusi arisan satu kelurahan, Ayah ada lembur (berhari-hari) di kantor, dan kakak sulungku yang tak bisa kuandalkan tentu saja sudah langsung menolak ajakanku tanpa aku sempat berkata-kata, dengan lagaknya yang selalu semau gue; ia tentunya lebih memilih mengurung diri di kamarnya untuk bertransformasi menjadi seorang otaku.

Dan seperti biasanya, mereka mengirimku untuk menjenguk orang (biasanya tetangga yang mana Ibu dan Ayah tidak begitu kenal akrab) ke rumah sakit, seperti biasanya pula mereka menjadikanku sebagai kurir buah. Tentu itu berarti Ibu dan Ayah menitipkan sedikit uang untuk kutukar dalam bentuk buah yang bisa kujinjing bersamaku, dan mewanti-wanti agar aku ingat menyampaikan pesan-pesan positif yang barangkali berguna bagi pria itu. Meskipun, kami belum pernah berinteraksi dengan tetangga kami yang satu itu.

Aku membayangkan apa yang akan pria itu sukai ketika aku mengelilingi toko buah siang itu. Aku tak punya bayangan buah apa yang disukai oleh pria dengan kebiasaan merokok semalam suntuk (mungkin ia menghabiskan lebih dari empat pack rokok dalam sehari) yang hanya meluangkan waktu untuk tidur dua jam sehari (mungkin ia melanjutkan tidur di busway). Dengan kebiasaan hidupnya yang seperti itu, ia barangkali memang sudah memiliki niat yang kuat untuk mati, so why on earth would he need something like… fruits—all of the nonsense?

Seketika saja, aku berubah pikiran, dengan aura yang lebih positif, bagaimanapun kupikir Tuhan telah memberikannya kesempatan untuk hidup. Setelah cukup lama menimbang-nimbang, aku menjadi tidak peduli lagi pada buah apa yang akan pria itu sukai. Aku asal saja memasukkan buah-buah favoritku ke dalam daftar belanja.

Aku tidak tahu bagaimana seorang pria suicidal akan menanggapi buah tanganku. Aku tak punya bayangan apa yang akan aku katakan, atau bicarakan, karena mungkin saja setelah menaruh buah dan sedikit berbasa-basi mengucapkan ‘semoga lekas sehat’, aku bisa segera berpamitan pulang dan that’s it?—tapi aku akan tetap datang, apa pun yang terjadi nantinya.

Pria itu sedang mencoba mengupas apel ketika aku datang. Sekeranjang buah terletak di sisi kasurnya. Banyak bingkisan lain kulihat berderet-deret di kamarnya. Mungkin hari ini ia tidak butuh kunjungan tambahan. Aku melirik keranjang buah yang kubawa—lagipula, baru kusadari aku tak pernah punya bakat mengupas buah.

Pluk.

Hampir saja aku berjingkat berniat pulang. Namun, sepertinya ia melihat wajahku dari jendela mini pada pintu kamarnya karena kemudian ia melemparkan sesuatu ke arah pintu. Aku menoleh kembali, dan kulihat ia menyeringai. Terpaksa kubuka pintu, dan kulihat pisau yang tadi digunakannya untuk memotong apel kini telah menancap di pintu. Potongan-potongan apel berserakan di lantai.

Aku memicingkan mata. “Kau melempariku pisau?!” Aku tiba-tiba memaki.

Di ranjangnya ia terkekeh. “Kau tetanggaku, bukan?” tanyanya.

Aku meletakkan keranjang buahku di meja bufet tempat televisi. “Kau bisa bayangkan seandainya pintu ini tidak ada dan kau melempar pisau ke punggungku?”

Ia kembali tertawa. “Kau gadis yang sering terjaga sampai pagi itu, kan? Dia yang baru tidur setelah aku berpura-pura tidur?”

Sama sepertinya yang tak memedulikan makianku, aku pun tak menghiraukan kata-katanya. “Aku hanya diminta untuk mengantarkan ini oleh orang tuaku. Kata mereka, kau seharusnya menjadi lebih positif.” Aku berhenti, untuk menimbang-nimbang lagi apa yang akan aku katakan. “Kau tahu bagaimana perasaan orang-orang yang mati bahkan sebelum impian mereka tercapai?”

Pria itu tertawa, “Menurutmu, apa sekarang aku masih hidup?” Ia bertanya dengan nada lembut.

Yes, for sure,” jawabku.

“Tak pernah ada orang yang tahu aku sudah mati. Duduklah. Biar kuceritakan sesuatu…” Ia meminta.

“Kau tahu, aku masih marah karena kau melempariku pisau. Aku sudah bilang aku hanya ditugasi mengantar buah. Dan sekarang, aku harus pulang.”

“Setelah bercapek-capek kemari dengan menumpang angkutan umum, menghabiskan waktumu menunggu kemacetan di jalan usai, kau yakin mesti pulang cepat? Tidak merasa nyaman di ruangan ber-AC?”

Aku mengamit tasku untuk bergegas pergi; ketika gerimis hujan tiba-tiba menyentuh permukaan jendela. Lantas, hujan melebat. Dan pria itu tertawa hebat, merasa menang.

Aku sebenarnya bisa saja pergi ke kafeteria rumah sakit.

Namun, aku lantas duduk. Ia menyalakan televisi dengan remote di tangannya.

“Kau tahu bagaimana rasanya mati tanpa seorang pun datang ke pemakamanmu?” tanyanya.

Aku menggeleng. “Aku belum mati. Lagipula, hal semacam itu tidak akan pernah terjadi dalam sejarah hidupku, orang-orang menyayangiku, mereka akan datang."

“Aku sudah mati bertahun-tahun lalu, tak seorang pun pernah berziarah ke pemakamanku. Bahkan tak seorang pun mengetahui kematianku. Rasanya dingin.” Ia menunjuk pada parsel-parsel yang menghiasi kamarnya. “Kau tahu dari mana datangnya bingkisan-bingkisan ini?”

Aku menggeleng. Aku tak suka orang-orang melankolis.

Ia tersenyum. “Aku meminta para perawat membelikannya untukku.”

Aku menelan ludah.

“Aku mungkin tidak mati secara fisik. Jiwakulah yang mati. Hanya saja, dalam hidupku, kupikir aku hanya perlu menyelesaikan satu hal lagi. Bulan lalu, satu hal itu telah selesai. Jadi, aku memutuskan untuk bunuh diri, di suatu tempat baru dan orang-orang tidak mengenaliku.”

“Karena itukah kau pindah ke kompleks perumahanku?” Aku menebak.

“Aku heran kenapa bisa gagal. Sebelum terjun dari kamarku, aku sudah menenggak racun dan menyayat nadiku.”

Aku menoleh ke arah pisau yang tadi kuletakkan di sebelah bingkisan buahku. Pisau yang tadi ia lempar ke arah pintu. Bisa-bisanya para perawat memberikan benda itu kepadanya?

“Tanpa kau sadari, ada hal lain lagi yang perlu kaupenuhi? Hal apa yang sudah kau selesaikan?” tanyaku. “Kau tak pernah memikirkan apa reaksi pembacamu ketika tahu penulis yang dibacanya mati karena bunuh diri?”

“Memangnya kenapa? Novel-novel religius bisa saja asalnya dari pengguna narkoba atau pemabuk berat.”

“Sepalsu itu, ya, kehidupan kalian para penulis?”

“Menyambung pertanyaanmu tadi, tentang bagaimana rasanya mati sebelum impian tercapai. Aku boleh tahu apa cita-citamu?” Ia bertanya kemudian.

“Belum tahu. Tapi aku sekarang berkuliah di jurusan pilihan orang tuaku. Sepertinya aku sudah membuat mereka merasa bangga.”

“Menyenangkan?” tanyanya.

Aku tersenyum, “Mungkin. Sejauh ini.”

“Aku menulis tentang hal-hal palsu di dunia ini, segala yang superfisial. Orang-orang yang menghidupi kehidupan orang lain. Kupikir semua orang melakukan itu dalam hidupnya.”

“Kau seperti sudah bisa menebak apa yang akan kukatakan. Lagipula di saat kau tak tahu jalan apa yang harus kau pilih, bukannya lebih baik mengambil jalan yang telah dipilihkan orang lain untukmu?”

Ia tergelak. “Sudah lama rasanya tidak berbicara dengan sesama manusia. Sebulanan ini aku berusaha membatalkan niat untuk mati, dan jadinya aku menulis sesuatu tentangmu. Kupikir, tulisanku itu akan mengubah caramu berpikir tentang hidup. Kau terlalu pesimis, kau tahu.”

“Jadi, sebenarnya, ada satu cerita tentangku?” Aku bertanya.

“Banyak cerita tentangmu.”

“Tapi, setelah menyelesaikannya, kau memutuskan untuk mati?”

Ia tertawa. “Di sana aku menanamkan harapanku. Aku tahu harapan itu tidak akan terwujud. Jadi aku pikir…” ia menghentikan kata-katanya, “mungkin, kau perlu membaca cerita itu.”

“Bagaimana caranya?” tanyaku. “Kau membawa naskah itu bersamamu?”

Ia menyerahkan serentetan kunci (yang biasa kulihat setiap ia membuka gerbang rumahnya) kepadaku. “Naskahku aman di dalam komputerku. Password-nya ini…” Ia lantas menuliskan beberapa huruf pada telapak tanganku. Hujan mereda secara tiba-tiba, dan justru pria itulah yang mengusirku, “Katanya kau tadi mau pulang?”


SETELAH menikmati makan malam (dengan memasak sendiri sepiring nasi goreng telur mata sapi), memastikan Ayah dan Ibu belum pulang dan kakakku sibuk dengan keotakuannya, aku menuju rumah tetanggaku.

Anjingku sendiri menggonggongiku ketika aku membuka gerbang rumah si pria dengan serangkaian kunci di tanganku. Aku melewati garis batas polisi yang menandakan bahwa rumah itu sempat beberapa hari menjadi TKP (dan setelah mereka menemukan bahwa pria itu masih hidup, garis itu tentu sudah tidak lagi berarti apa-apa).

Rumahnya cukup rapi untuk ukuran pria. Dan tentu saja sempat ada aparat keamanan yang sebelumnya telah menyisir ruangan-ruangan di sana. Aku segera menuju ke kamarnya (yang selama ini hanya bisa kulihat dari jendela kamarku). Terdapat banyak ilustrasi dan poster-poster strategi politik, buku-buku yang sebagian besarnya adalah karya literatur Tionghoa, dan juga beberapa novel-novel ringan, komik, dan alat gambar.
 
Hingga, mataku kemudian mencapai komputer yang diletakkan di pojok ruangan. Kurogoh sakuku untuk menemukan catatanku. Kumasukkan password dan mulai menelusuri tulisan-tulisan pria itu.

Ia benar-benar menulis begitu banyak karya.

Akhirnya, kutemukan sebuah tulisan. Bahkan, namaku dijadikannya judul tulisan. Ia bahkan tahu namaku.

Halo, apa kabar? Aku tahu satu-satunya jalan untuk menemuimu adalah dengan melakukan percobaan bunuh diri (aku terlalu malu untuk mengetuk pintu rumahmu), karena mungkin kau akan datang menjengukku (lagipula kisah ini sudah tertulis di dalam fiksiku).

Dan saat kau datang, aku akan menceritakan beberapa hal, mengenalmu lebih dekat. Ya, dan itu berarti aku akan berinteraksi dengan karakter di dalam tulisanku sendiri. Betapa menyenangkannya.

Jadi, kalau kau sudah membaca ini, aku tahu aku telah sukses memenuhi rencanaku. Namamu Arinda, apa aku benar? Aku Adrian. Susunan nama kita hanya seperti acakan huruf saja, ya?

Ketika aku mulai menulis cerita tentangmu, aku bukan penulis fiksi. Saat itu aku hanya seorang mahasiswa tingkat akhir, mengambil jurusan Akuntansi, bosan mengerjakan skripsi, dan dari awal mengerjakan skripsi hingga sidang, aku menulis… seratus cerita pendek.

Semuanya bercerita tentangmu. Aku tahu kita belum pernah bertemu sebelumnya. Aku juga heran mengapa aku menulis semua itu.

Awalnya aku hanya ingin menghilang dari dunia. Kau tahu orang-orang yang berkelana ke tengah hutan karena mereka merasa bosan dengan kehidupan yang superfisial? Sudah lama rasanya aku ingin membakar semua identitasku, dan bertualang ke sepenjuru dunia. Namun, kau tahu, urusan dokumen negara (membuat paspor dan lain sebagainya) sangatlah rumit untuk orang yang tak suka banyak berpikir sepertiku. Every child grows up, except one. Dulu pernah kupikir cerita tentang si bocah Peter Pan hanyalah rekayasa, supaya membuat orang-orang dewasa menolak kehidupannya sendiri, menolak menjadi tua. Namun, setelah kupikir-pikir lagi, mungkin keinginanku untuk melakukan pengasingan sebenarnya berkaitan dengan harapanku untuk selamanya menjadi kanak-kanak. Tidak direpotkan dengan kerjaan bertumpuk dari kantor, tidak perlu berpura-pura berperilaku dengan penuh etiket di masyarakat, tidak dirusak dan diubah oleh orang-orang di sekitarku.

Ketika menulis tentangmu, aku merasa tidak tumbuh besar. Rasanya menyenangkan. Ya, aku pernah ingin menghilang. Namun, kemudian aku terjerat untuk menulis satu cerita tentang seorang gadis yang merasa tersesat di dunianya sendiri. Hingga akhirnya, pada cerpen keseratus, ceritamu tamat. Saat itu, keinginanku untuk mati atau sekadar menghilang dari dunia benar-benar sudah memuncak. Namun, kemudian aku iseng mencari nama lengkap karakterku di internet, dan aku menemukanmu.

Aku tahu kau pasti tidak mengerti. Namun, kalau kau menjadi seperti aku, penulis yang menulis tentang orang yang benar-benar ada, mungkin kau akan mau mencoba untuk mengerti?

Segera setelah kau selesai membaca ini, tolong hubungi aku, ya? Kurasa aku perlu membicarakan sesuatu denganmu. Atau marilah kita menonton film bersama. Pernah menonton film Stranger than Fiction?

Ia menyertakan nomor ponselnya di akhir suratnya. Aku mulai membuka folder yang memuat seratus cerpen seperti yang ia bilang dan, sambil membaca-baca, aku mencoba menelepon nomor ponsel yang tertera di sana. [*]

Desember 2011

Cerpen ini pernah dibacakan dalam hari ulang tahun BPPM Balairung (tahun 2012?, agak lupa).

2014/09/08

Tanda


(Cerpen ini juga dimuat di Jakartabeat.net, 19 Mei 2013)

TELEVISI masih menyala. Ikan-ikan di akuarium bergerak-gerak cepat. Dua orang di ruangan itu terjaga dini hari itu, duduk berhadapan di sofa yang dipisahkan sebuah meja. Musik klasik menemani mereka yang saling memberi jarak.

Si gadis dengan laptop di atas bantal pada pahanya, si pria dengan buku bacaan tebalnya. Sebuah mug besar berisi kopi kental di hadapan si pria, satu botol mineral besar di hadapan si gadis.

“Kau tak pulang?” tanya si gadis pada pria di hadapannya.

Si pria menggeleng, “Terlalu larut.” Ia tahu gadisnya akan kembali lenyap dini hari itu. Pertemuan-pertemuan mereka hanya akan berlalu sekedipan mata. “Tulisanmu sudah jadi?” tanya si pria, mengalihkan pembicaraan.

Gadis itu menggeleng, “Nanti begitu aku pergi, pulanglah. Masih ada kereta untuk kembali ke Kyoto sebelum dini hari. Bacaanmu sudah habis, kan?” tukas si gadis.

Tiga buku tebal yang telah habis dibaca oleh si pria tertumpuk di meja. “Kita sudah telanjur memesan kamar hingga esok. Buku-buku ini bisa kubaca ulang, bahkan kubacakan untukmu.”

“Memangnya kau tak lelah?”

“Aku akan mulai ceritakan apa yang kubaca tadi, oke?” Si pria mengambil buku-buku yang telah diletakannya di atas meja. Ia mulai menceritakan apa-apa saja yang ia baca.

Si gadis tak memedulikannya dan terus mengetik.

“Pulanglah,” pintanya lagi. “Nanti bila aku pergi, kau bisa langsung pulang. Kau tampak sangat lelah.”

“Tidak, aku akan tetap di sini. Aku akan menangis sampai pagi.”

Mendengar hal itu, si gadis memejamkan mata, “Jangan bilang begitu.”

“Kau tahu aku rindu bertengkar denganmu. Aku begitu rindu hingga aku dapat berpura-pura semuanya baik-baik saja. Aku tak mau kehilanganmu.”

“Jangan bilang begitu.”

“Aku tak akan bilang begitu bila kau mau berjanji. Jangan menghilang dengan tiba-tiba. Jangan pernah pergi lagi dariku.”

“Itu tak mungkin. Kau tahu kenapa aku selalu berusaha mengusirmu, kan?”

Si pria mengulum senyum, dadanya perih ketika melihat tubuh gadis di hadapannya perlahan-lahan berubah menjadi asap. Air mata menetes di pipi si gadis ketika sebagian tubuhnya telah lenyap. Hingga kemudian, tubuh gadis itu menghilang sepenuhnya.



PARTIKEL-PARTIKEL mentari melewati ventilasi. Debu-debu kecil itu bergerak berputar hingga menyentuh wajah si pria yang tertidur di sofa.

Saat terbangun, si pria merasa matanya sembab lantaran menangis semalaman. Agak terhuyung ia berjalan ke arah toilet. Pada cermin di toilet itu, ia menatap wajahnya lekat. Ia lupa sejak kapan dagunya penuh berewok, bahkan rambutnya kelihatan sudah layak untuk dipangkas. Ketika ia tersadar sepenuhnya akan apa yang terjadi pada malam sebelumnya, ia buru-buru berlari kembali ke sofa tempat ia terbangun.
Ada sebuah surat lagi tertinggal untuknya. Gadis itu lenyap seperti sebelum-sebelumnya.

Aku, lagi-lagi, tak bisa menceritakan apa yang terjadi padaku di alam arwah. Namun, karena aku bisa kembali, tentu kau tahu aku baik-baik saja. Aku pun tak tahu apa yang akan terjadi padaku nanti. Aku tak akan menceritakan bagaimana-bagaimananya. Namun, aku pasti akan kembali lagi kepadamu sebisaku. Kurasa aku beruntung dapat kembali berkali-kali. Arwah temanku hanya sekali-dua kali. Oh ya, aku telah melanjutkan novelku yang belum selesai dan aku menulis beberapa cerita pendek lagi. Hanya cerita remeh-temeh. Tampak seperti sebegitu tak inginnya aku untuk mati, ya? Oh ya, aku tentu lebih senang bila kau dapat membuka dirimu kepada gadis lain. Berhentilah mencintaiku terlalu dalam.

Lagi-lagi, pada laptop itu ia menemukan sebuah naskah novel yang belum tuntas, juga beberapa cerita singkat.



MESKI arwah si gadis menceritakan banyak hal kepadanya, pria itu tidak tahu di mana jenazah si gadis bersemayam.

Mereka dulu bertetangga. Mereka saling mengenal sejak usia lima tahun. Ketika itu mereka belum benar-benar jatuh cinta kepada satu sama lain. Hingga si gadis menghilang begitu saja dari hidup si pria. Tanpa jejak untuk dikontak. Bahkan ketika si pria berkunjung ke rumah si gadis, orang tua si gadis tak tahu ke mana putri mereka pergi berkelana.

Berada jauh dari Indonesia, si pria tak menyangka akan menemukan si gadis di sebuah taman di Osaka, Jepang. Kala itu si gadis memegang dua kembang gula di tangan. Satu diserahkannya kepada si pria, satu digigitnya sembari duduk di sebelah pria di kursi taman.

“Lama tak jumpa,” ujar si gadis ketika itu, “jadi kau telah pergi sejauh ini?”

Si pria masih terkesima dengan takdir yang dialaminya. Bertahun-tahun lewat, ia bahkan tidak menyangka dapat kembali bertemu dengan si gadis.

“Sudah bisa menyanyikan lagu seriosa?” Justru itu hal pertama yang ia tanyakan kepada si gadis setelah bertahun-tahun tak berjumpa. Entah hanya itu satu-satunya hal yang ia ingat di kepala.

Gadis itu tertawa terpingkal, lantas mulai menyanyi. “Ah, suaraku masih bagus,” bisik si gadis seusai menuntaskan sejumlah lagu.

“Kau pun masih suka minum susu kental,” ujar si pria.

“Begitulah. Jadi, apakah pria penyuka kopi karamel ini sudah menikah?” Namun, ke sanalah si gadis mengarahkan pembicaraan mereka.

Pria itu menggeleng, “Semuda ini, menikah? Tentu belum bila belum ada yang tepat. Nona sendiri?” canda si pria dan lantas mengamati jemari si gadis.

Belum ada cincin tersemat di jari manis.

“Tidak akan bisa menikah,” jawab si gadis.

“Mengapa?”

“Tuan akan segera tahu.” Kedip mata si gadis kala itu menyiratkan sesuatu.

“Bahkan sekalipun aku yang melamar Nona?”

Saat itu tawa sang gadis pecah. “Bahkan sekalipun Tuan yang melamarku.”

Sirat mata sang gadis menemukan artinya di penghujung hari. Karena pada dini hari yang terasa cukup pendek itu, untuk pertama kalinya, si pria menyadari ia dan si gadis telah berbeda dunia. Karena di beranda kamar apartemennya dini hari itu, si gadis lenyap menjadi debu, terbang ke langit, ke arah bintang-bintang.


“KAU tahu apa yang dapat kulihat sekarang?” Pada pertemuan mereka selanjutnya si gadis muncul kembali dengan teramat tiba-tiba saat si pria berniat membeli makan siang.

Setelah berbulan-bulan lamanya ia menganggap pertemuan mereka yang pertama hanya sekadar mimpi, pada pertemuan kali itu ia justru terpaksa mengira dirinya barangkali telah mengidap skizofrenia, di mana ia tak dapat membedakan mana yang nyata dan yang maya.

Si gadis mendekatkan mata ke arah mata si pria dan sejenak dia mengerjap-ngerjap.

Dada si pria berdegup.

“Hari ini aku mau makan dim sum, mi seduh, rumput laut, dan nasi bumbu kari,” ujar si gadis. Senyumnya yang lugu dan binar matanya yang cerah menghangatkan siang yang mengantarkan titik-titik air dari angkasa.

“A-p-a k-a-u… nyata?” tanya si pria dengan terbata.

Si gadis tersenyum sepintas. Lantas terpingkal. Lantas menggeleng. “Mungkin sebentar lagi tidak.”

“Kau akan lenyap lagi?”

Si gadis menggenggam tangan si pria, “Barangkali, ketika aku genggam tanganmu seperti ini, dan kita berjalan dari sini mengelilingi Okachimachi, mencicipi beraneka makanan—mungkin, di tengah jalan genggamanku akan lepas.”

“Dan kau hilang?”

Si gadis mengangguk.

“Jadi, apa kau nyata?”

Si gadis tersenyum. “Mungkin kini, tidak.” Perlahan-lahan, tubuh si gadis lenyap lantas terbang menyatu dengan butiran-butiran air yang jatuh dari angkasa.


“KITA tak pernah punya kesukaan yang sama, ya?” Itulah malam pengakuan cinta mereka, jauh di masa lalu, ketika mereka berbincang berhadap-hadapan pada ayunan di belakang rumah si gadis.

“Kurasa begitu,” sahut si pria. “Aku merasa bodoh duduk di sini menemanimu.”

Si gadis tertawa lepas, “Kau tahu aku tak punya saudara, mungkin kau kasihan kepadaku?”

“Bukan,” lontar si pria cepat-cepat, “aku hanya merasa bodoh ketika menemanimu membisu seperti ini. Sementara, kupikir, seharusnya kita membicarakan sesuatu.”

Si gadis menyipitkan mata. “Adakah hal lain lagi yang masih perlu kita bicarakan?”

“Sudahkah kita membicarakan segala hal?” sedikit membelalakkan mata, si pria kala itu mencoba mengingat-ingat keseluruhan jalan cerita mereka sedari pertemuan pertama.

Ayunan masih tetap bergerak sejengkal demi sejengkal.

“Kita tidak pernah punya kesukaan yang sama, kan?” Si gadis menekankan lagi.

Si pria, entah karena tersihir, atau sedang melamun—entah karena tak pernah mengingat mereka memiliki ketertarikan yang kuat pada hal yang sama—menganggukkan kepala, “Nampaknya.”

Si gadis tersenyum. “Lalu, menurutmu, apa hal yang mungkin akan bisa sama-sama kita sukai?” tanya si gadis.

Si pria menatap ke dalam bola mata si gadis. “Saat ini aku menyukai diriku. Mungkin kau bisa mencoba menyukaiku juga?”

Si gadis terpingkal, “Ya, ya, aku bisa menyukaimu. Meski mungkin butuh waktu.”



JAM di hotel berdentang sekian kali. Peringatan bahwa ia telah harus melapor-keluar dari hotel itu. Di kamar itu, setelah hanya melahap dalam sekali telan roti sisa yang dibeli si gadis, si pria mulai membaca ulang naskah novel yang ditinggalkan si gadis.

Sepembacaannya, si gadis tidak mengisahkan ceritanya dari bagian awal hingga akhir. Dia hanya menulis sepotong-potong. Si gadis teramat sering menggunakan penceritaan non-linier. Dia mengawali ceritanya dengan klimaks, barulah meloncat ke seperempat bagian awal dari cerita, lantas menuju ke prolog, kembali ke tengah, dan begitulah. Si pria sangat menyadari, kerumitan gadis itu tercermin juga dalam tulisannya.

Ketika si pria hendak meninggalkan hotel, setelah membayar sejumlah uang tambahan akibat ia terlambat melapor-keluar, seorang petugas hotel berlari mengejarnya membawa sebuah kotak yang dibalut kain. Ketika kain disingkap, terdapat kandang aluminium yang berlubang banyak dengan seekor kucing tepat menatap mata si pria.

“Maaf, Tuan. Kucing Anda tertinggal,” ujar petugas tersebut dengan bahasa Jepang yang sopan.

Mata si pria membelalak. Kucingnya? “Mungkin Anda salah orang?” Ia menjawab dengan bahasa Jepang.

“Tidak, tidak salah. Pagi tadi nona yang bermalam bersama Anda menitipkan kucing ini kepada saya.”

Tidak mungkin. Gadisnya telah lenyap dini hari itu. Bagaimana si gadis bisa menitipkan kucing pagi itu, batinnya. “Mungkin Anda salah.”

“Tidak, Tuan. Saya ingat betul. Ia mengaku sebagai adik Tuan, gadis dengan syal abu-abu dan rambut panjang ikal, bertopi kepala rubah, dan dia menyelipkan surat ini.”

Si pria membuka surat tersebut.

Kucing untukmu. Aku tak tahu mengapa aku membelinya dan memberikannya kepadamu.

Berdasarkan cerita teman-temanku di alam arwah, saat kau dapat mengunjungi dan tinggal di dunia dalam waktu yang lama, itu pertanda saatnya kau tak akan boleh lagi pergi ke sana nantinya. Entahlah, mendengar itu, terpikir olehku membelikan kucing ini untukmu. Omong-omong, aku lupa, apa kau suka kucing?

Sore tadi sebelum menemuimu, aku telah membeli kucing itu dan aku meminta seorang gadis mengantarkannya kepadamu. Mungkin dengan itu, dia harus membohongi petugas jaga pagi hotel. Aku tak tahu, tapi kalau surat ini telah sukses sampai kepadamu, itu artinya ia berhasil berbohong.

Si pria menatap lekat kucing kecil di dalam kandang. Ia bertanya dalam hati, entah apakah ia pernah menyukai kucing. Kucing itu, dengan bulu keemasan, telinga mungil yang tinggi, dan tatapan lembut, mengeong kepadanya.

“Betul, ini kucing adik saya. Terima kasih,” jawabnya seraya lantas mereka saling membungkukkan badan.

Kau mengusirku tadi malam. Padahal kau menitipkan kucing untukku. Ternyata kau masih sepelupa itu.

Sebelum pulang ke flat dengan menumpang kereta Nagoya-Kyoto, ia membeli beberapa kaleng susu cair dan sekaleng ikan tenggiri.



SETELAH perjalanan empat puluh menit dalam kereta, dan mengambil sejumlah dokumen ke kampusnya di Universitas Kyoto, serta meminta izin kepada pemilik flat, ia kemudian meletakkan kandang kucing yang dinamainya Tanda—yang dalam bahasa Inggris lebih bermakna Mark ketimbang Sign—itu di sebelah sofa di dalam kamarnya.

Ada beberapa proyek kampus yang masih harus ia kerjakan.

Ia membuka kandang, menuangkan sekaleng ikan tenggiri dan susu cair untuk si kucing pada mangkuk besar yang biasanya ia gunakan sebagai tempat mi udon.

Dibiarkannya film Tokyo Story terputar ketika ia mulai memasukkan cucian ke mesin cuci. Duduk di atas sofa sambil hanya mendengarkan sebagian besar dialog film, ia mulai mengerjakan tugas yang diterimanya pagi tadi dengan laptop yang ia topang di pangkuan.

Terpengaruh dialog film yang ia setel, ia teringat orang tuanya tak pernah mengunjunginya ke Jepang. Ia pun barangkali hanya menerima telepon sekali dalam setahun.

“Mungkin, suatu saat aku akan mati kesepian, seorang diri, tak dikenali siapa-siapa,” bisiknya kepada diri sendiri, “jenazahku mungkin tidak akan ditemukan siapa pun, seperti dia.”

Ketika itu, Tanda telah menghabiskan susu dan ikan tenggiri di mangkuknya.



KETUKAN di pintu. Tanda berlari ke arah ketukan. Si pria menatap dua mangkuk yang telah kosong. Ia merenggangkan tubuh, meletakkan laptop di atas meja, dan berjalan menuju pintu.

Tanda mengengong manja ke arahnya. Si pria membuka pintu.

Si gadis berdiri di sana, tersenyum, menjinjing dua tas belanja yang tampak penuh.

“Kau beri nama apa akhirnya?” tanya si gadis seraya menyerahkan tas belanjanya kepada si pria dan mengangkat Tanda ke dalam pelukan.

“Tanda.”

“Tanda, nama itu lucu. Sedang melakukan apa?” tanya si gadis, masuk ke dalam flat si pria.

“Membereskan hasil konferensi minggu lalu, menggabungkan beberapa data yang diberikan oleh klienku di Nagoya kemarin, dan menghimpun semuanya menjadi satu,” jawab si pria sambil memasukkan belanjaan si gadis, yang hampir semuanya adalah bahan makanan, ke dalam kulkasnya yang sebelumnya kosong.

“Tokyo Story?”

“Ya. Iseng membelinya ketika mengunjungi toko DVD, sebelumnya tidak tahu ceritanya semelankolis itu,” jawab si pria sambil menyuguhkan manju dan dua gelas teh hijau pada meja di sebelah tumpukan buku.

“Aku pernah menontonnya. Menyedihkan, anak yang lupa kepada orang tuanya. Dan begitulah memang, hidup—lama-lama—memang hanya soal melupakan dan dilupakan,” komentar si gadis dan kemudian melempar tubuhnya ke atas sofa, “tapi setidaknya ada Noriko si menantu yang akhirnya menemani mereka.”

“Begitulah. Aku membayangkan bila nanti orang tuaku datang dan aku terlalu sibuk, lalu mengabaikan mereka. Sialnya, aku belum punya istri,” jawab si pria sembari duduk di sebelah si gadis dan menggenggam tangannya. “Ah ya, mengapa kau datang begitu sering belakangan ini?”

“Aku juga tak tahu,” sahut si gadis seraya merebahkan kepala di pundak si pria, “aku tiba-tiba muncul di depan pintumu dan membawa dua tas belanja. Aku tak tahu harus melakukan apa selain mengetuk pintu.”

“Apa benar seperti yang kautulis dalam suratmu, itu tandanya suatu saat kau akan berhenti datang?”

Tanda meloncat ke tengah-tengah mereka. Pada pangkuan si gadis si kucing menggesek-gesekkan tubuh dan terlelap.

“Aku masih ingin menikah denganmu,” lanjut si pria, “dan aku ingin punya anak yang lahir darimu.”

Si gadis tertawa. “Melepaskan apa yang tak bisa menjadi milikmu lebih baik daripada kau berlarut-larut dalam kesedihan.”

“Aku hanya heran. Kalau kau pada akhirnya akan benar-benar pergi untuk selamanya, mengapa kau terus menerus datang dan membuatku tidak bisa kehilanganmu?”

Si gadis menarik napas, “Aku pun tak tahu mengapa. Aku hanya datang kepadamu. Aku tidak muncul di tempat lain. Aku hanya muncul di dekatmu,” jawab si gadis, “aku ingin mengunjungi kedua orang tuaku di Indonesia, tapi aku tak bisa melakukannya.” Dia melanjutkan. Air mata mengalir di pipinya.

Si pria menghapus tangis si gadis dengan menempelkan wajah di pipi si gadis. “Apa kau mati di Jepang?”

Si gadis memejamkan mata rapat-rapat, “Jangan bicarakan itu.”

“Aku hanya ingin tahu. Aku penasaran mengapa kau juga bisa ada di sini.”

“Jangan ingatkan aku pada kejadian itu, kumohon.”

“Bagaimana rasanya mati dan jiwamu lepas dari tubuhmu?”

“Aku tak tahu. Aku lupa.”

“Mengapa kau tak bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di alam arwah?”

Si gadis memeluk tubuh si pria dengan erat. Kemeja si pria basah air mata. Si pria mengecup ubun-ubun si gadis dan memeluknya semakin erat. Hingga lagi-lagi, si gadis tiba-tiba hilang begitu saja. Meninggalkan si pria yang ketika itu justru berakhir dengan memeluk Tanda.



MALAM ITU si pria tidur satu ranjang dengan Tanda. Tanda melingkar di kaki si pria.

Di dalam mimpinya, si pria mengikuti seorang gadis yang wajahnya samar-samar mirip seseorang yang dikenalnya dari bandara menuju ke sebuah rumah. Tiba-tiba ia menyadari siapa gadis itu ketika melihat dengan siapa si gadis berbicara.

Paman dan bibi yang telah dikenalnya selama bertahun-tahun.

Seingat si pria, paman dan bibi itu telah meninggal lima tahun lalu. Saat itu putri mereka satu-satunya, si gadis—hingga saat paman dan bibi meninggal karena kecelakaan dan kemudian dimakamkan—masih tidak jelas keberadaannya.

Kalau begitu, bagaimana bisa—gadis itu ada di sana?

Hingga, pada satu titik, mimpinya kemudian berpindah ke masa berbeda. Ia berada di dalam pesawat. Si gadis sedang bersama dengan seorang lelaki, menyenderkan kepalanya kepada lelaki itu dan si lelaki membelai rambut si gadis setelahnya.

Si pria kembali meloncat lagi ke tempat berbeda. Kini pada sebuah kapal pesiar. Si gadis dan si lelaki di pesawat tadi tampak bertengkar di dalam suatu kamar. Si gadis menunjuk-nunjuk ke arah foto di dalam bingkai yang dipegangnya. Ketika si pria mengamati lebih dekat, di sana ia menemukan fotonya belasan tahun lalu. Si gadis dan si lelaki terus beradu mulut dan saling melempar apa pun yang ada di dalam kamar.

Hingga kemudian si lelaki membekap wajah si gadis dengan bantal.

Di sana, dilihatnya si lelaki mengikat tangan dan kaki si gadis, memperkosa si gadis yang telah tak bernyawa. Di sana pula, dilihatnya si lelaki memasukkan banyak hal ke dalam tas dan mengikat tas tersebut ke tubuh si gadis.

Pada malam hari, si lelaki terlihat memberikan uang kepada sejumlah orang. Orang-orang bayaran itu mengangkat tubuh si gadis ke luar kamar.

Si pria berusaha mengejar. Namun, ia kembali meloncati masa.


SI PRIA terbangun dari mimpi buruknya. Keringat membasuh tubuh. Tanda meliuk-liukkan badannya dengan manja di kaki si pria.

Air mata di pipinya. Dalam hati ia bertanya-tanya, apakah mimpi yang barusan ia alami adalah kejadian nyata?

Ada yang mengetuk pintu.

Si pria berlari cepat ke arah pintu. Ia berharap menemukan gadisnya di sana.

Namun, seorang perempuan yang tak dikenalnya yang ada di hadapannya. Si perempuan tersenyum dan memanggil sebuah nama. Ketika nama tersebut dipanggil, si kucing yang tadinya ditinggalkan si pria di atas kasur berlari melintasi si pria, lantas melompat ke arah si perempuan.

Si perempuan memeluk Tanda dengan sayang. “Aku telah mencarinya ke mana-mana,” ujar si perempuan dengan bahasa Jepang.

Si pria menatap takjub. Pikirnya, tentu tidak mungkin. Kucing itu diberikan oleh petugas hotel di Nagoya, kucing itu dibeli oleh gadisnya di suatu tempat di Nagoya.

Namun, ternyata si kucing adalah kucing yang sebenarnya berasal dari Kyoto dan dimiliki oleh tetangga flatnya?

“Tetapi, kucing ini kubeli di Nagoya,” jawab si pria cepat dengan bahasa Jepang, merebut si kucing dari pelukan si perempuan.

“Tidak mungkin. Aizu hilang pagi ini ketika aku mengajaknya berdoa ke kuil,” tukas si perempuan.

Si pria mengerutkan dahi, “Aizu?” tanyanya kaget. Aizu—Tanda, dalam bahasa Jepang.

“Ya, nama kucingku ini,” jawab si perempuan, membelai rambut lebat si kucing, “sungguh terima kasih telah menyelamatkannya,” lanjut si perempuan sembari membungkukkan tubuh dan lalu tersenyum gemas ke arah si kucing.

“Tapi …”

“Maukah kau makan bersamaku dan Aizu di flatku pagi ini? Aku akan memasak makanan yang enak sekali untuk penyelamat Aizu,” undang si perempuan dengan bersemangat.

Sebenarnya si pria enggan. Namun, ia pun tidak tahu cara menolak. Maka, ia mengunci pintu kamar flat, mengikuti si perempuan yang menggendong Tanda dengan sayang di pelukannya. Sepanjang lorong menuju kamar si perempuan, mereka mulai berkenalan.

Sementara itu, televisi yang masih menyala di kamar flat si pria menampilkan siaran berita mengenai penemuan tulang tengkorak seorang gadis di dalam sleeping bag yang terikat batu. [*]

Tulisan Terdahulu