Showing posts with label Sanjak. Show all posts
Showing posts with label Sanjak. Show all posts

2009/11/04

Saat Itu yang Terjadi

Saat lukamu terlalu sakit untuk kau rasakan ketika kau terjaga, maka tidurlah.

Saat kakimu terlalu lelah untuk kau gunakan untuk melangkah, sejenak berhentilah.

Saat pintu hatimu dibanting dan ditutup keras oleh orang-orang yang kau kasihi, biarkanlah pintu itu tertutup sebentar.

Sampai lukamu sembuh, sampai kakimu kembali kuat, sampai hatimu dibukakan oleh kasih yang lain.


2008/12/29

Satu yang Kupinta di Tahun Baru

Mama yang luar biasa,

Malam itu di tahun baru, sewaktu aku pulang ketika hujan dan melihatmu memegang dupa di tangan, aku hanya bisa meminta pada Tuhan: semoga tahun baru yang akan datang, aku bisa merayakannya bersamamu.


Berdua kita. Seperti tahun-tahun sebelumnya. Ketika pukul dua belas orang-orang menyalakan kembang api, kita menyulut dupa dan berdoa bersama. Mematikan lampu dan menghidupkan lilin, sesuatu yang aku mengerti filosofinya, supaya kita akhirnya bisa melihat terang di kegelapan.


Malam itu, ketika kau suruh aku untuk langsung mandi setelah diguyur hujan beberapa jam, aku harap aku bisa menebus waktu yang kubuang percuma bersama teman-temanku di malam pergantian tahun itu.


Mama yang tak tertandingi,


Aku takut melalui tahun dua ribu delapan: tahun terakhir yang kulalui bersamamu. Betapa sering kita berdebat dan beradu punggung di ranjang.


Sewaktu kecil, aku takut kehilangan kain kumal yang selalu kupereteli setiap menjelang tidur. Setelahnya aku takut kehilangan guling yang bisa kita peluk bersama. Kemudian aku takut kehilangan sejuknya udara yang kurasa di kamarku. Terlebih, aku takut suatu saat ketika harus berpisah tempat tidur denganmu.


Tahun ini aku sudah kehilangan semua yang sebelumnya aku takut untuk kehilangan, melepas semua yang berat untuk kulepas, melewati jalan-jalan yang sebelumnya enggan kulintasi sendiri.


Mama yang begitu tegar,


Kadang aku harus merasa pantas untuk menyalahkan diriku sendiri dan merasa malu atas hal-hal yang kuperbuat selama ini: betapa kita tidak mirip sama sekali, seperti kata orang-orang. Aku teringat ketika aku merajuk bahwa aku sangat ingin menjadi mirip denganmu. Bahwa banyak orang salah: membedakanmu yang begitu pendiam di masyarakat dengan aku yang begitu meledak-ledak ketika berpendapat.


Betapa aku ingin menjadi tegar sepertimu. Betapa aku ingin tidak merajuk manja. Betapa aku ingin menerima segalanya dengan apa adanya: pasrah. Tanpa peduli apa pendapat orang pada apa yang kupilih.


Mama yang selalu kucinta,


Biarkan tahun baru ini aku merayakannya bersamamu. Tidakkah bisa kau datangi aku melalui mimpi? Maka aku akan tidur pulas sampai pagi, tanpa mencipta resolusi, karena aku hanya ingin melepas rindu.


---
Minggu, 28 Desember 2008
23:14:22

2008/12/04

Tentang Kehidupan dan Seseorang

Tentang hidup dan seseorang. 

Aku ternyata tak benar-benar tahu apa makna sebuah perjalanan. Bahkan setelah sekian tahun aku mengulur-ulur waktu. Untuk terus berkata pada diriku

: Suatu saat nanti,

Aku akan sampai.
Pada satu titik dan berhenti
Dan aku akan mengerti.

Aku terus berjalan. Dan terus berkata, dengan bodohnya


: Akan ada makna dari apa,

Yang kucari.
Yang belum kutemukan.
Dari apa,
Yang menyembunyikan diri.

Dan nyatanya benar, makin lama aku berjalan, makin aku merasa otakku membentuk jaring-jaringnya yang semakin rumit untuk kumengerti.


Makin aku mencari alasan, dan banyak mengumpulkan istilah-istilah. Supaya aku kelihatan pintar. Supaya aku jadi tenar. Hanya dengan sumpalan kata-kata di kepala. Lalu, mendengar orang berkata


: Bagus.

Indah.
Liris.
Penuh makna.
Luar biasa.

-


Kadang aku kehilangan apa arti dari kehidupan. Karena semuanya makin merumit, membentur hipotesa-hipotesa yang sudah kukarang selama ini, dan ternyata salah.


Padahal semua itu kukarang, hanya untuk meyakinkan


: Aku masih hidup.


2008/07/25

Botol-Botol Filsafat

Aku mengetuk
Karena suntuk

Mengintip jendela
memanggil nama

Tak ada yang menyahut
Dipikirnya aku kalut

Baru saja pulang
Dengan langkah oleng

Mulut bersendawa
Lengan menebas udara

Pandang mata buram
Sewarna malam

Ah!
Tadi di diskotek
Aku ditawari pertanyaan,
"Siapakah engkau?"

Kujawab,
"Gadis yang sedang terluka"

Orang itu jawab,
"Jiwa tak pernah terluka"

Kuteguk segelas lagi
"Dari mana asalmu?"
Begitu orang tua berewok itu bertanya

Aku menoleh,
"Dunia yang menjemukan"
jawabku asal

Terbahak Ia,
"Lalu kenapa jiwamu tak jemu-jemu terlahir kembali?"
Begitu dia mendebat

Kuteguk segelas lagi,
"Dari mana asalnya dunia?"
Dia bertanya lagi

"Kenapa kau terus bertanya?"
Kubanting botolku
Meraung menendang aku

Satpam menyeretku
Melemparku keluar

Ah, botol-botol filsafat
sungguh memabukkanku
Hingga dunia pun tak kukenali
Sebagai rumahku

Rupanya aku baru saja mengetuk
Pintu rumah Tuhan
Pantas saja tak ada siapa
Yang mau menyahut

2008/07/23

Nahkoda Cinta dan Pencinta Sepeda Tua

Kau, pria rupawan
Berdasi
Dengan kendaraan mahal
Juga cerutu Kuba

Begitu caramu menghadirkan dirimu
Seorang pria sempurna
Sosok yang kau pikir
Mampu menjeratku

Aku, gadis sederhana
Pakaian seadanya
Pencinta sepeda tua
Yang tidak istimewa

Bertemu denganmu
Sosok yang kupikir
Mampu memperlakukan tiap wanita sama rata
Tanpa cinta di tiap gerik dan kata

Kau pemain hati
Saat layarmu robek
Atau jangkarmu patah
Kau tinggal jentikkan jari

Kau bebas pilih sketsa kapal termewah
Perupa akan memberi apa yang kau damba
Dan kau juga seorang pelayar kejenuhan
Singkat saja waktumu bercinta dengan kapalmu


Setelahnya kau kan campakkan
Aku wanita bodoh yang tahu identitas
Aku tak mengerti tabiatmu
ketika kau menebar pesona
Melalui kedipan mata

Aku gadis desa
Yang jarang mengenal pria
Tapi sekali mengenal
Aku bisa bedakan
Siapa yang pantas
kuajak berkencan

2008/07/18

Hibernasi

Aku ingin bersembunyi
Sambil berhibernasi

Aku ternyata berhati kebas
Terlalu berani lampaui batas

Awalnya aku hanya ingin jadi begitu dekat
Tapi ternyata hatimu telah mampat

Kawan, hatiku memang tidak stabil
Tapi ini bukan hati dari pria hidung belang
Yang suka bergombal alang kepalang
Aku hanya wanita berhati labil

Apa artinya kebersamaan ini
Kupikir kita miliki kesamaan mimpi
Namun ternyata hanya halusinasi
Lebih-lebih jika kau pikir cuma ilusi

Kawan, bolehkah aku menghilang
Darimu juga mimpi-mimpimu
Supaya aku tak berang
Saat kau juluki aku pemimpi yang tertipu

Kawan, aku pergi saja, ya
Supaya ada tenggat waktu
Jika nanti kita kembali berjumpa
Ada sekat-sekat rindu yang membiru

Omong-omong
Nanti, aku ingin kita berjumpa
Bukan lagi di lorong-lorong
Cukuplah di tempat biasa

2008/07/17

Kembali ke Rumah

Seorang pria dengan cerutu
Perut buncit
Tawa bias
Sebuah rumah bertulang kayu
Tanpa denyut
Hawa panas
Sepercik kenangan akan dagu
Tertopang kalut
Tiada bernafas
Meninggalkannya
Separuh hati terbelah
Separuhnya lagi utuh

Saya [masih] menyayangi Ayah saya. Saya [masih] ingin menjaganya. Saya [masih] ingin memperjuangkan keberadaannya.
Saya [masih] merindukan rumah lama saya. Saya [masih] ingin tidur di atas ranjang saya. Saya [masih] ingin menyentuh semua barang-barang kesukaan saya.
Saya [masih] mengenang Mama saya. Saya [masih] merindukan kasih sayangnya. Saya [masih] menangisi perjuangannya untuk saya.
Dan ketika saya [harus] meninggalkan mereka, saya terbentur pada dua pilihan. Saya [ragu] bertanya apakah itu adalah berlari atau kembali. Karena sungguh [dalam hati] saya memang ingin kembali.

Kamis, 17 Juli 2008
12:22:55

2008/07/05

Kutunggu Hari Itu Tiba

Saat doa luruh menyatu
Menggenggam jemari kebahagiaan

Saat tiap kata siratkan kebanggaan
Aku ingin duduk diam
Di atas bukit

Kemudian memandang awan
Lalu mencari-cari Tuhan di surga

Ketika itu
Angin tak lagi sungkan berbisik merayu
Dan burung-burung akan mencuit seirama

Ah, aku ingin hari itu tiba dengan membahagiakan.

Tulisan Terdahulu