Showing posts with label Ulasan. Show all posts
Showing posts with label Ulasan. Show all posts

2021/07/28

Mengunjungi Buku Cerita Anak Lawas

Perkenalan saya dengan dongeng dan fabel bermula dari cerita ayah dan ibu setiap petang, mereka bertukar peran untuk mendongeng (yang hebatnya, mereka hafalkan), juga terkadang nenek (yang bukan membacakan, melainkan menyanyikan kisah tentang katak), dan ketika saya sudah cukup umur untuk membaca sendiri kisah-kisah tersebut, maka dimulailah petualangan saya dengan beberapa buku cerita anak.

Panchatantra adalah teman pertama yang menumbuhkan rasa sayang, saya bawa ke mana pun, dan membuat saya menangis di jok belakang mobil saat membacanya karena salah satu ceritanya yang menyentuh. Tahun 1996 lalu, versi bahasa Indonesianya saya peroleh dari sebuah toko buku kecil dengan rak-rak berdebu di Denpasar. Versi gratis berbahasa Inggris dari fabel tipis dari wikisource ini kurang-lebih sama dengan yang saya baca dulu. Meliputi lima payung besar cerita yang saling terkait tentang kehidupan hewan. Barangkali setara dengan fabel Aesop. Dari buku ini, kita dapat belajar kejiwaan manusia; sikap persahabatan, kelicikan yang tersembunyi dan bagaimana menghindar dari petaka yang disebabkannya, hingga pentingnya bersikap cerdik dan hati-hati.

Kawan selanjutnya adalah Mahabharata dari RA Kosasih (Penerbit Erlina). Komik wayang hitam putih tebal dan berukuran besar ini diberikan ayah karena dia sudah bosan saya mintai mendongeng tentang kisah panca pandawa sebagai dongeng sebelum tidur. Gubahan oleh RA Kosasih ini sudah diterbitkan sejak tahun 1950-an, mengambil cuplikan kisah dari  Adiparwa, salah satu bagian dari Astadasaparwa (delapan belas bagian) epos Mahabharata yang dikarang oleh Bhagawan Byasa. Bermula dari Dewi Gangga yang melahirkan Bhisma, hingga ke kehadiran lima pandawa dan seratus korawa. Darinya saya belajar tentang karmaphala, konsep mengenai karma (sebab-akibat) yang berlaku dalam kehidupan.

Dua buku itu dari masa taman kanak-kanak hingga awal sekolah dasar. Setelahnya, ada begitu banyak buku cerita anak yang sama menariknya. Dari buku-buku cerita bergambar yang saya sudah tak ingat lagi apa judulnya atau siapa pengarangnya hingga banyak judul populer lainnya yang sepertinya masih digandrungi hingga saat ini.

Komik Mafalda karya Quino (Kepustakaan Populer Gramedia, 2009) saya temukan belakangan, saat menggandrungi blog sastra Amerika Latin & Iberia (Sastra Alibi) yang diasuh Ronny Agustinus di masa-masa awal kuliah di Yogya satu dasawarsa lalu. Generasi saya mungkin adalah generasi yang sudah muak dengan hipokritnya penyelenggara negara, dan karenanya beberapa kawan yang sangat politis justru memilih berada di garis apolitis. Komik yang bisa dibaca oleh segala kelompok usia ini tampaknya bisa menjadi antidote bagi pahitnya kenyataan politik ini. Humor-humor politik bocah ini jenaka, lincah, dan begitu mengalir. Ini membuat saya membayangkan bagaimana jika kita punya generasi muda yang melek politik dan bisa menyampaikannya dengan jalan sesantai (alias seringan dan seasyik) Mafalda? Dan tentunya, saya membayangkan, bagaimana jika saya dan kawan-kawan sepantaran saya sudah membaca buku ini sedari kami kanak-kanak dulu?

Lebih belakangan lagi, sekira tahun 2018 lalu, Penerbit Ultimus melibatkan saya dalam sebuah rencana penerbitan ulang, untuk menyunting buku Pak Supi: Kakek Pengungsi (Penerbit Ultimus, 2018), cerita anak karangan S. Rukiah Kertapati yang diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1958. Pak Supi berkisah tentang gerombolan anak yang bertemu seorang kakek misterius, yang terlilit masalah dengan para tetangganya yang memfitnahnya, tetapi lantas mendapatkan pembelaan dari para bocah petualang yang menyaksikan banyak peristiwa ini, menguntit sang kakek bak detektif partikelir. Rukiah rupanya pernah mengasuh majalah anak-anak, Majalah Kutilang, yang terbit di tahun 1960-an dan bersamaan dengan itu dia juga menerbitkan banyak judul buku anak, di antaranya Si Lenting Kuning dan Sekumpulan Cerita Bunda. Membicarakan kiprah S. Rukiah Kertapati dalam kerangka “buku cerita anak” rasanya bisa menghasilkan satu telaah khusus tersendiri, dan mungkin rekomendasi “lima judul buku cerita anak” tersendiri.

Saat pandemi ini, saya bertukar surel dengan kawan lama, yang menceritakan betapa gembiranya dia menemukan buku yang dia sukai dan dibacanya saat SMP dulu, Undangan dari Planet Mars (Gramedia Pustaka Utama, 1974). Karena penasaran, maka saya memesannya dari marketplace. Buku ini adalah terjemahan bahasa Perancis oleh Sundari Hoesen dari karangan Philippe Ebly, Et Les Martiens Inviterent Les Hommes. Tentang geng remaja yang suka sains, terlibat dengan profesor dan piring terbang, beberapa dasawarsa lebih dulu mereka dengan antusias ingin mengunjungi Mars dibandingkan Elon Musk dan SpaceX-nya. Yang menariknya lagi, buku ini adalah buku nomor 36 dalam seri bacaan bermutu, Seri Elang, yang dulu digagas GPU. Saya jadi tertarik mengumpulkan satu per satu buku-buku cerita anak dalam seri ini.

2019/03/04

Tentang Kakek: Perjalanan dan Ingatan


Pembacaan atas Keledai yang Mulia dan beberapa Puisi Mario F. Lawi

Kaularungkan doa dari pesisir diri dengan perahu yang kaukayuh sendiri.
– “Hiri”, Keledai yang Mulia (Mario F. Lawi, Shira Media, 2019)

Mario F. Lawi adalah penyair yang dikenal dengan alusi biblis dalam puisi-puisinya. Latar belakangnya di seminari menengah dan pendarasannya atas teks-teks Latin, mata pelajaran yang diajarkan kepadanya enam jam sepekan, membuat ingatan kita mengenalnya tak terpisahkan dari Alkitab dan tradisi gereja.

Ia sendiri sebenarnya tumbuh besar dalam dua tradisi yang sama kuatnya. Ini, terkadang, membuat beberapa puisinya hadir dengan tegangan dua tradisi ini. Selain sebagai seorang pendaras Alkitab dengan seorang ibu yang erat memeluk Katolik, kakek maternalnya adalah seorang Kenuhe, Imam atau petinggi dalam Jingitiu, kepercayaan penghayat di Kepulauan Sabu, Nusa Tenggara Timur.

Dengan latar belakang ini, dalam puisi-puisinya tentu akan mudah ditemukan pula banyak metafora dari kisah-kisah ritual tradisi Sawu atau Sabu (Hawu, dalam penyebutan lokal). Jingitiu adalah latar yang membentuk kepribadian masyarakat Sawu. Ritual-ritualnya membentang dari kelahiran hingga kematian, dengan ajaran-ajaran yang mengarahkan para penghayatnya akan kebenaran dan kebaikan. Bagi Mario, khazanah biblis dan kearifan tradisi lokal Jingitiu ini sama-sama memiliki kekuatan untuk mengarahkan para penganutnya pada pesan keselamatan—keutamaan yang hendak ia sampaikan dalam puisi-puisinya.

Ia percaya kearifan lokal Jingitiu tercermin gamblang dalam kepribadian kakeknya. Kakeknya, sebagai seorang Kenuhe, dengan tanpa beban menyerahkan seluruh keluarganya melepaskan identitas Jingitiu untuk memeluk Katolik, demi menunjukkan kepada siapa pun yang mengetahui kisahnya, bahwa iman jauh lebih penting daripada agama. Ibu Mario sendiri menjadi Katolik bersama keenam saudara-saudarinya berkat baptis misionaris Austria, Pater Franz Lackner, SVD.

Menyoal Jingitiu, puisi yang hadir persis dengan judul itu termaktub dalam Lelaki Bukan Malaikat (Gramedia Pustaka Utama, 2015). Puisi ke-29 berjudul “Jingitiu” berkisah tentang pergulatan kakeknya menghadapi putra-putrinya melepaskan identitas Jingitiu, yang dibukanya dengan, “Sebelum meninggalkan ketujuh anaknya di depan pintu Gereja, kakek sempatkan berterima kasih kepada tiga belas cahaya yang membopong tubuhnya,” dan lantas ia menggambarkan bagaimana misionaris membaptis orang-orang di kampung itu, “Misionaris putih itu mulai menumpahkan isi buli-bulinya. Ia datang dari sebuah tempat yang jauh, dan ia tak mengenal Kika Ga.”

Ia menggambarkan pula bagaimana kakeknya disemayamkan sebagai seorang Jingitiu, “Kakek pun menekukkan lututnya, membetulkan kain yang digunakannya, sebelum meneteskan air matanya. Ia pun diangkat ke surga. Ke tempat yang lama ia nantikan untuk melihat mata kail yang menyangkuti Kika Ga sebelum Rai Hawu diciptakan. Ke tempat ia akan berjumpa Rai Ah—manusia pertama yang diciptakan Sang Mahakuasanya.”

Dalam keluarga inti kakeknya, hanya kakek Mario yang meninggal sebagai Jingitiu dan dikuburkan dalam sebuah kubur berbentuk bulat dalam posisi tubuh sedang duduk. 

Orang Sabu percaya bahwa kematian adalah perjalanan roh dari dunia ini ke dunia yang lain, dengan menumpang perahu bernama Ama Piga Laga. Upacara mencoret gendang dan lagu duka banyo menuturkan keberangkatan dan pelayaran roh, di mana ia dijemput oleh para leluhur. Tempat berangkatnya adalah Teluk Uba Aae, di pantai selatan Mehara, pada setiap bulan Banga Liwu, menuju ke Sumba. Barangkali itu pulalah yang membuat Mario kerap menggunakan lema “Selatan” dalam beberapa puisinya yang menoleh pada kenangannya akan kakeknya.

Puisi sebelumnya pada buku yang sama, puisi ke-28 berjudul “Penenun”, ditutupnya dengan pengalamannya dengan kakeknya yang membuat kita merasa dekat, “Bertahun-tahun kemudian, ia mendengar cerita tentang Hercules dari seorang cucunya yang lama menetap di kota. Kepada cucunya, ia berulang kali berkata, manusia adalah turunan ketiga belas setelah dewa-dewi diciptakan oleh Mara Mea.”

Bahwa betapa tradisi Jingitiu yang dipeluk kakeknya dapat selalu dihidupkan dan berkait dengan hal-hal mutakhir pada zaman ini yang kelak diketahui cucunya.

Kenangan dekat yang sama dapat kita lihat dalam puisinya “Gela” pada Ekaristi (Plotpoint, 2014), “Di dahiku masih ada tanda salib, dioleskan kakek dengan rasa haru yang harum, sepotong kelapa, serta adonan sirih dan pinang dari mulutnya,” pada puisi ini, dikutipkan mantra ritus inisiasi tradisi Jingitiu yang seiring dengan jalan kakeknya mengoleskan tanda salib pada dahi si cucu, “Wo Deo Muri, ne ta herae ta hero’de ri nyiu wou mangngi, mita rui kedi ihi kuri, mita haga dara, mita ju medera, kelodo pa taga rihi dula,” yang bermakna “Ya Allah sumber kehidupan, anak ini dioles-usapi dengan kunyahan kelapa yang harum agar kuat dan segar tubuh serta mentalnya, supaya bertambah besar dan tinggi, supaya mendapat status yang tinggi/terhormat dalam keluarga dan marga.”

Dalam puisi “Bui Ihi”, Mario kembali mengutip mantra yang merupakan ritus inisiasi Jingitiu, “Ana appu ya de tape wede pa loko pa da’I ta mahhe rim one b’aga,” yang terjemahannya bermakna, “Anak cucuku ini disanjung dalam cinta dan jodoh, semoga ia mendapat jodoh seseorang yang kaya akan sawah dan lumbung.”

Dalam Mendengarkan Coldplay (Gramedia Widiasarana Indonesia, 2016), Mario menuliskan lagi tentang kakeknya, tentang pertanyaan yang barangkali diujarkan oleh si kakek kepada cucunya yang terus menggali memorinya untuk menemukan kakeknya. Dalam puisinya ini, Mario menyebut dirinya sendiri dalam kata ganti Ama Peke. “Mengapa kau mencariku, Ama Peke?” dengan pertanyaan itu, yang diujarkan sang kakek kepada si cucu, puisi ke-19 dalam buku tersebut dibuka, dan lantas dilanjutkan dengan dongeng—yang agaknya berkaitan dengan kisah Mara Mere yang disebutkan oleh kakeknya dalam sahutannya atas kisah Hercules si cucu:

“Ada sebongkah dunia, seorang lelaki dan sesosok dewi. Ada perang kecil ketika segumpal tanah dibentangkan menjadi sebuah daratan luas. Doa pertama mengambang ketika seekor ikan gagal terpancing. Sebuah jalan memanjangkan dirinya di atas datar lautan. Berkilau dan menyilaukan. Aku memikirkanmu. Telah kukenal semesta yang lain, yang mengapungkan angin gelap dan mencurahkan hujan yang anomali. Di dalam kepalaku sepasang dunia melingkupimu. Telah tersesat aku dalam ceritamu, ketika para leluhur mengajakmu terbang ke berbagai belahan dunia dengan sayap-sayap yang terbuat dari anyaman lontar yang dilapisi serat-serat tembakau, daun sirih dan kulit pinang. Langit sudah tak membutuhkan warna. Mimpi sudah tak perlu menjadi tanda. Ke mana jalan itu membawamu? Ada air mata yang jatuh dari sepasang sudut matamu ketika tangan kakimu dijepit tiang penyangga. Ada mutiara di dalam kerang yang kaududuki di dalam kubur di sudut kiri depan rumah itu.”

Dalam cuplikan panjang di atas, Mario secara sengaja memberi penekanan pada ingatan (aku memikirkanmu) dan perjalanan (ke mana jalan itu membawamu). Selanjutnya, ia masih akan mengulang “Mengapa kau mencariku, Ama Peke” dua kali lagi, dan memberikan penekanan pada “kesedihan aneh yang mengusikku” dan berbagai hal yang tampak di hadapan si Ama Peke yang mencari, di antaranya: hitam, kering, pinang, tanah, merah, rumah, belangga, kayu, pagar, batu, sirih, keriput, bayi, rakit, laut, panen, kuda, ilalang, aspal, botol, perempuan, gigi, celah, timba, lemari, asap, langit, dan kau. Simbol-simbol yang bagi si Ama Peke lekat dengan kampungnya.  

2019/02/21

Unjuk Rasa: Seni adalah Panglima


 
Apakah seni masih punya taji untuk merespons hal-hal yang tampak keliru dengan dunia kita hari ini? Dalam enam tahun terakhir, setidaknya kita bisa merunut tiga perkara.

 
Pada pameran bertajuk “Potret Diri sebagai Kaum Munafik” di Galeri Nasional pada 2018 lalu, sajadah bersimbah darah menjadi simbol yang dipilih Tisna Sanjaya untuk mengacungkan jari tengah terhadap kemunafikan masyarakat. Kita sebagai penonton, dapat memaknainya dengan apa yang kita hadapi hari ini: kita menyaksikan seseorang bersembahyang demikian taat, tampak religius dan menampilkan aura kebajikan, dan menyadari bahwa orang yang sama dapat menjadi pembunuh keji mengatasnamakan agama.

Pameran Tisna ini, misalnya, mau tidak mau mengingatkan kita pada aksi bom bunuh diri seorangibu di Surabaya—terjadi dua bulan sebelum pameran Tisna—yang menggendong putrinya menghadapi maut dengan mengatasnamakan agama.

Mundur dua tahun sebelumnya, pada 12 April 2016, ibu-ibu dari pegunungan karst, Kendeng, Jawa Tengah menanam kakinya pada semen untuk menggambarkan betapa pabrik semen yang akan dibangun di wilayah mereka seakan-akan sedang bergerak menimbun tubuh mereka hidup-hidup dengan semen. Begitu lamanya mereka menolak pembangunan pabrik Semen Indonesia ini, aksi menanam kaki pada semen itu mereka lakukan setelah setahun mereka membunyikan lesung tanda bahaya di depan Istana Presiden.

Menanamkan kaki pada semen adalah upaya tersirat mereka membongkar belenggu semen yang merusak alam dan mengancam keberlangsungan hidup para petani di sepanjang pegunungan Kendeng. 

Kembali mundur dua tahun, pada 2014, DodokPutra Bangsa menggelar aksi seni kejadian dengan mandi pasir untuk menggambarkan kekeringan yang terjadi di sumur-sumur warga Miliran, Umbulharjo. Aksinya ini bertujuan menolak pembangunan Fave Hotel di dekat permukimannya. Respons yang diterimanya kemudian adalah penjelasan tentang perizinan pembangunan sumur air tanah yang dikeluarkan oleh Badan Lingkungan Hidup Yogyakarta untuk hotel ini.

Aksi ini mengungkit perihal apa yang tak dibicarakan lebih dulu oleh pihak pemberi izin (pemerintah daerah ataupun Badan Lingkungan Hidup Yogyakarta) kepada masyarakat setempat.

Bahwa orang-orang yang mengatakan dirinya mewakili rakyat tidak pernah benar-benar mewakili rakyat. Dan karena itu rakyat berhak menggugat.

Ketiga aksi ini menunjukkan betapa seni telah begitu lumrah menjadi cara penyampaian kritik sosial di ruang publik. 
 

Sensitivitas untuk Melancarkan Kritik Sosial

Buku Unjuk Rasa berkabar tentang bagaimana masyarakat bisa berdaya demi melakukan perubahan sosial dengan jalan berkesenian. Lewat berbagai upaya yang tak hanya dilakukan seniman mapan, tetapi juga digelar oleh berbagai inisiatif di luar arus utama.

Komunitas-komunitas seni ini boleh saja tampak bergerak dalam diam tetapi siap hadir dan memekakkan telinga, menyuarakan berbagai persoalan melalui beragam medium, dari upaya rekonsiliasi, seni rupa, musik, sastra, aktivisme bioskop, klub baca selepas kerja bagi para buruh migran, pelestarian tradisi lisan, hingga arsitektur.

Enam belas kontributor dalam buku ini mengajak pembaca melampaui pengertian yang sudah lumrah tentang lema “unjuk rasa” yang kerap dimaknai sekadar sebagai tangan terkepal ke udara dan barisan buruh melakukan mogok. Sementara, orang yang sekadar lewat dan sepintas melihat aksi-aksi semacam ini kerap tak menangkap esensi kegiatan itu dan meremehkan gerakan-gerakan semacam ini.

Redefinisi “unjuk rasa ini dilakukan untuk mengembalikan esensi itu, bahwa aktivisme (unjuk rasa), sebelum hadir dengan wujud tangan yang terkepal, pertama-tama hadir melalui suatu proses “menunjukkan” (unjuk) “perasaan” atau “sensitivitas” (rasa). Buku ini hendak mengatakan bahwa kunci dari gerakan sosial pada awalnya digerakkan oleh orang-orang yang bergerak dengan sensitivitas serupa atas persoalan di tengah masyarakat.

Dari pengertian itu, buku ini lantas memberi penjelasan bagaimana seni berhasil memantik sensitivitas atas persoalan masyarakat dan bagaimana masyarakat dapat berdaya lewat seni. Keenam belas artikel menjelaskan tentang proses berkesenian yang mengantarkan para seniman dan non-seniman untuk terlibat dalam proses demokratisasi lewat seni—ketika negara tidak hadir atau memang tidak dibutuhkan hadir. 

Brigitta Isabella, yang lama terlibat dalam kerja riset-aksi dengan fokus produksi pengetahuan secara partisipatoris bersama KUNCI CulturalStudies Center, dalam pengantar editorialnya, menyebutkan “pengertian unjuk rasa sebagai praktik estetiko-politik yang akan diketengahkan buku ini ialah: berbagai cara tutur menubuh yang mengaktifkan sensibilitas dan agensi politik kolektif untuk berpikir kritis, menunjukkan realitas empiris, dan mengambil peran dalam pengorganisasian transformasi sosial.”

Dari uraiannya itu, maka pertama, konteks buku ini adalah persoalan yang dihadapi orang Indonesia hari ini. Sebagai negara berdaulat dalam barisan geopolitik dunia ketiga dengan sejarah kolonial yang panjang, lantas melewati fase rezim militeristik Soeharto di bawah cetak biru developmentalisme periode Orde Baru, Indonesia memiliki kondisi khas yang juga dialami oleh negara-negara dunia ketiga yang menghadapi ketimpangan ekonomi Utara-Selatan (pandangan tentang dunia ketiga digeser sebagai negara-negara Global South).

Sejarah panjang ini menjadikan rezim hari ini masih berparadigma pembangunan yang pro-investor; perekonomian di tengah masyarakat semakin timpang, sementara pembangunan terus berkelanjutan. Artikel-artikel dalam buku ini menghadirkan upaya masyarakat dalam berdialog secara kritis dengan persoalan diskrepansi ekonomi ini.

Kedua, keadaan perekonomian negara yang pro-investor ini menyebabkan beberapa kota menjadi semacam gelembung pusat kebudayaan, seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. “Jarak” antara beberapa kota yang menjadi “pusat” ini dengan kota lainnya berimbas pada bagaimana orang-orang yang tinggal di kota-kota besar kerap mengesampingkan pergulatan orang-orang di “daerah” yang dipandang sebagai “pinggiran”.

Artikel yang melingkupi tempat-tempat yang menjangkau banyak wilayah di Indonesia ini ditujukan untuk menata ulang hubungan pusat-pinggiran yang hierarkis. Yayasan Kelola dengan beberapa inisiatif rekanannya seperti Forum Lenteng, In-Docs, dan Koalisi Seni Indonesia memiliki rekam jejak dalam menumbuhkan jaringan antar kantong-kantong kebudayaan di Indonesia ini. Dengan dua konteks ini, pembahasan dalam buku lantas dibagi ke dalam enam bagian: Mengasah Tubuh, Setelah Penyadaran dan Pemberdayaan, Me(ruang), Sub-kultur dan Budaya Populer, Mengulik Teknologi Tradisi, dan Estetika Berkomunitas.
 

Seni adalah Panglima

Setelah polemik budaya pada era awal kemerdekaan, dan berbagai perseteruan antara seniman Lekra dan Manifes Kebudayaan, para seniman Indonesia pernah menghadapi momen saat seni dan budaya pada masa Orde Baru dinyatakan harus bersih dari politik. Cholil Mahmud dalam artikel “Musik dan Peristiwa Musik sebagai Medium Aktivisme” menyatakan betapa negara menyadari musik sebagai alat propaganda yang efektif untuk menyebarkan gagasan. Meski berbeda ideologi politik, Soeharto mengambil taktik Sukarno dalam membungkam kebebasan berkesenian. Namun, para seniman idealis tidak pernah bersedia dihalang-halangi. Cholil mengutip JeremyWallach yang mencatat para musisi populer yang tak mau tunduk dan, bagaimanapun, tetap melawan pemerintah Orde Baru dengan melancarkan berbagai kritik sosial, seperti John Tobing dengan lagu “Darah Juang” atau grup musik Swami yang digawangi Iwan Fals dengan “Bento” dan “Bongkar”.

Pasca-1998, intensi para musisi untuk terlibat dalam politik tampak semakin jelas. Beberapa kelompok musik seperti Navicula, Seringai, Koil, Homicide, Superman is Dead, The Brandals, Jogja Hip Hop Foundation, dan Efek Rumah Kaca berpusar dalam semangat yang serupa. Ia menyebutkan, pada aksi Kamisan pun, musik dan penampilnya turut meningkatkan dukungan publik.

Musik pun menjadi terapi dan medium penyemangat bagi korban ketidakadilan dan penindasan. Paduan Suara Dialita, yang beranggotakan para ibu eks-tahanan politik atau kerabat dari mereka yang pernah ditahan ataupun terkena dampak pembantaian massal 1965, merilis album Dunia Milik Kita (2016) untuk mengawetkan ingatan kolektif mereka tentang peristiwa yang melukai hati, didukung oleh para musisi muda seperti Sisir Tanah dan Frau.

2019/01/24

Menggali Roman Medan


Lewat Roman Medan: Sebuah Kota Membangun Harapan, kita runut perkara pemberangusan buku ke belakang, dan menggali kembali kekayaan roman Medan yang pernah sengaja dihapuskan dari sejarah oleh rezim kolonial Hindia Belanda karena dianggap melancarkan perlawanan halus terhadap politik rezim kala itu.

Sejak pendirian komisi bacaan rakyat (Commissie voor de Inlansche School en Volkslectuur), pada 1917 pemerintah kolonial Hindia Belanda mulai membatasi peredaran ribuan judul buku di tanah jajahannya. Seorang periset kesusastraan pra-Indonesia dengan fokus penelitian mengenai terbitan sastra Melayu Tionghoa, Claudine Salmon, membikinkan anotasi dari 3.005 judul buku yang diberangus oleh rezim pemerintah kolonial Belanda dalam Literature in Malay by the Chinese of Indonesia: A Provisional Annotated Bibliography. Sebagian besar karya yang dibatasi ini adalah karangan peranakan Melayu Tionghoa yang dipandang menghasilkan bacaan liar berstandar rendah.

 
Roman-roman ini terbit di beberapa daerah Indonesia dengan perkembangan literasi dan modal penerbitan cukup baik, di antaranya di kalangan masyarakat yang memiliki percetakan sendiri. Pada periode kolonial, kalangan Tionghoa memiliki cukup privilese untuk menerbitkan karya mereka lewat berbagai penerbit dan usaha percetakan mereka yang telah mereka miliki sejak paruh akhir abad ke-18, yang merupakan ekses dari kebutuhan penerbitan karya-karya jurnalistik mereka. Penerbitan karya roman di Medan pun banyak diinisiasi oleh kalangan ini.

Koko Hendri Lubis—seorang peneliti sejarah roman Medan—dalam buku terbarunya Roman Medan: Sebuah Kota Membangun Harapan (Gramedia Pustaka Utama, rilis 31 Desember 2018) secara spesifik menggali bacaan-bacaan roman terbitan Medan yang dipandang sebagai karya Melayu Rendah oleh pemerintah kolonial.

Bukunya ini merangkum roman Medan yang terbit pada 1930-1965, meliputi serial roman dari majalah mingguan, dwimingguan, dan bulanan yang terbit pada periode itu. Beberapa majalah roman yang terkenal itu adalah Roman Indonesia (Padang, 1939–1940), Loekisan Poedjangga (Medan, 1939–1942), Roman Pergaoelan (Bukit Tinggi, 1939–1941), Doenia Pengalaman (Medan, 1938–1941), Perjuangan Hidup (Bukit Tinggi, 1940), Tjendrawasih (Medan, 1940–1942), Doenia Pergerakan (Medan, 1940), Doenia Pengalaman (Solo, 1938–1941), Goebahan Maya (Medan, 1939), dan Moestika Alhambra (Medan, 1941). Roman Medan pernah mengalami masa keemasan pada periode 1930-1942 dan 1947-1965. Terbitan mereka bersaing dengan buku-buku bacaan yang dikeluarkan gubernemen—pemerintah kolonial Hindia Belanda—melalui Balai Pustaka.

Sejumlah karya yang menjadi penghiburan masyarakat terbit dan menghasilkan oplah baik bagi penerbitan mereka karena pada mulanya, penerbitan roman Medan belum begitu menjadi perhatian pihak gubernemen. Polemik mulai muncul ketika menurut pihak gubernemen diperlukan penyikapan terhadap pendapat umum yang mengatakan roman Medan membantu penyebaran ideologi komunis ataupun mencantumkan cerita-cerita dengan muatan ideologi politik antikolonialis. Sejak kecurigaan ini bermula, pihak gubernemen terus berupaya mencari kesalahan redaksi dari terbitan-terbitan roman Medan ini. Dan karenanya pemolesan cerita mulai dilakukan oleh para redaksi majalah dan penerbit buku roman Medan ini demi menghadapi penyaringan ketat yang menjadi prasyarat izin terbit mereka.

Di kemudian waktu, kerepotan redaksional ini ditambah dengan ancaman para intel dari PID (Politieke Inluchtinge Diens, Dinas Intelijen Politik pemerintah kolonial Hindia Belanda) yang dengan otoritas mereka menangkap dan menyita berbagai hal berkaitan dengan penulisan dan penerbitan roman yang tidak sesuai dengan standar pemerintah kolonial. Selanjutnya, stigma sebagai bacaan buruk terhadap roman Medan dilancarkan dengan menyatakan bahwa isi karangan mereka hanyalah mengangkat tema-tema kekerasan dan percintaan cabul, sehingga tentunya bertentangan dengan kaidah moral masyarakat pada umumnya, dan karenanya patut diberangus.

2016/12/13

Immanuel Kant dan GWF Hegel, dan Konsep Idea

Immanuel Kant adalah filsuf pertama yang berkontribusi pada bidang logika idealisme Jerman sehingga menjadi fondasi bagi para pemikir idealisme Jerman selanjutnya, oleh Fichte, Schelling, maupun Hegel. Sementara idealisme pada masa-masa sebelumnya memisahkan antara objek material maupun objek intelektual, sebagaimana yang dilakukan oleh Plato dan Berkeley, idealisme Jerman menolak distingsi tersebut. Agaknya, idealisme Kant terbilang yang cukup moderat mendefinisikan bahwa objek yang diselidiki oleh pengetahuan manusia bersifat ideal dan transendental sekaligus riil dan empiris—menengahi konsep para pemikir sebelumnya tentang Empirisme dan Rasionalisme. Hal tersebut mungkin terjadi karena bagi Kant, pemikiran manusia dapat menghasilkan pengetahuan yang valid dari dirinya sendiri (das Ding an sich) yang berasal dari kesimpulan silogistis tertentu. Dalam diskursusnya mengenai Dialektika Transendental, Kant menyebutkan adanya tiga kesimpulan silogistis yang mungkin dan berkaitan dengan tiga kategori akal-budi (substansi, kausalitas, dan resiprositas), yang merupakan semacam kesatuan akhir yang mutlak, tiga kesimpulan itu disebutnya sebagai “idea-idea rasio murni”. Idea pertama adalah “Idea Jiwa”, idea kedua adalah “Idea Dunia”, dan idea ketiga adalah “Idea Allah”.

Dalam rentang sejarah selanjutnya, GWF Hegel berpendapat bahwa dalam kritisisme Kant masih terdapat oposisi antara fenomena dan noumena, jadi masih ada oposisi antara subjek dan objek. Hegel lebih menyetujui usaha Fichte menghapus “das Ding an sich”, ia juga mengagumi filsafat Schelling yang memaparkan adanya Alam atau dunia yang tidak dipahami sebagai oposisi Roh. Terhadap pemikiran Schelling tersebut, Hegel menambahkan unsur kesejarahan—poin tentang adanya proses perwujudan diri (Selbstverwirklichug) dari Roh. Dalam filsafat Hegel, Yang Absolut (das Absolute) atau Roh (der Geist) ini dipandang hadir pada dirinya sendiri, dan menurutnya Roh tersebut harus menyatakan dirinya dengan mengalienasikan diri dalam Alam terlebih dahulu, beserta konsep mengenai adanya negasi dalam proses perwujudan tersebut. Bagi Hegel, Roh adalah totalitas, seluruh kenyataan. 

Dari paparan di atas, perbedaan antara konsep Idea (dalam terminologi Hegel, Roh/Rasio/Yang Absolut) Hegel dengan Kant (dalam terminologi Kant, idea-idea rasio murni) adalah: 1) Hegel bersepakat dengan Fichte, menghapus adanya “das Ding an sich”, 2) Hegel menggunakan pandangan Schelling mengenai Alam dan Roh, dan menyetujui bahwa Roh identik dengan Alam, 3) Hegel menambahkan unsur kesejarahan untuk menjelaskan kaitan antara Roh dengan Alam, dan proses mengembangkan lebih lanjut konsep refleksi Schelling menjadi sebuah konsep tentang alienasi yang dilakukan oleh Roh terhadap Alam yang sesungguhnya berada dalam satu kesatuan sistem, 4) Hegel mempercayai adanya objektivitas murni yang akan diperoleh oleh Roh Absolut di akhir sejarah.

Sementara itu, persamaan konsep Idea Hegel dengan Kant adalah: 1) Masih terdapat kedekatan pandangan kedua filsuf dengan peristilahan keagamaan—yakni Roh ataupun Allah dalam istilah “Idea Allah” maupun “Roh Absolut”, 2) Keduanya mendamaikan Rasionalisme dan Empirisisme baik dengan mengajukan adanya “kesimpulan silogistis” maupun “Roh Absolut”, 3) Keduanya telah menjelaskan konsep Idea dalam tataran metafisis dengan pengandaian atas keberadaan “das Ding an sich”, meski tidak bisa dicerap melalui penginderaan, maupun “Roh Absolut”, yang hanya bisa mengemuka di akhir sejarah.   

2013/11/13

Filsafat Ilmu: Buku untuk Anak Badung

Saya rasa kamu tidak perlu menjadi seorang kanak-kanak yang tak punya masa depan untuk menyukai buku ini. Meskipun, saya perlu. Rata-rata pembaca di Goodreads memberi rating tinggi untuknya dan memuji penyusunnya, Jujun S. Suriasumantri. Ada yang menjadikan buku ini pengantar mata kuliah wajib, ada pula yang menyanjungnya karena pengaruhnya pada pemikiran kritis. Saya berhutang banyak padanya karena buku ini menjadi semacam jembatan bagi saya.

Semasa SD, saya termasuk anak badung dalam artian sesungguhnya. Suka menghitamkan kulit dengan berjemur main layangan di loteng rumah teman, berkejaran saat tali nilon dari layangan yang beradu di langit putus, atau sekadar jalan-jalan dengan kaki telanjang di sungai. Pernah bolos sekolah hingga enam bulan. Pernah ditelepon kepala sekolah SD sementara saya sedang main lompat tali di halaman rumah, dan menyuruh Nenek berbohong. Saya cuma berteman dengan laki-laki. Laku saya saban hari hanyalah menjadi kanak-kanak yang tak kenal sekolah: bangun pagi, kelayapan keluar rumah, pulang malam; setelah adu kelereng, main layangan, mampir di rumah teman ini dan itu, mencuri ubi dari halaman rumah orang, bikin ogoh-ogoh, dan entahlah apa lagi.

Sementara itu, di sekolah, saya tak pernah memperhatikan pelajaran. Masa bodoh dengan guru bahasa Indonesia dan Matematika di depan kelas. Saya asyik menggambar di sudut kelas paling belakang. Pernah, saya ditegur dan diminta untuk ajak orangtua ke sekolah. Ibu saya dinasihati untuk memindahkan saya ke sekolah luar biasa dalam artian sesungguhnya. Saya tak ingat apa yang membuat saya berkarakter seberandalan itu.

Buku yang saya temukan saat kelas 1 SMP ini mengubah segalanya, dalam artian sesungguhnya. Saya sebagai bocah lugu yang tak punya masa depan ini, yang lulus dari SD dengan nilai IPS 5,4 di ijazah, tiba-tiba menemukan buku “Filsafat Ilmu” di rak ibu saya. Gambar di sampulnya lucu, gajah yang pegang macam-macam. Kelak saya mengenalnya sebagai Ganesha, dewa kecerdasan dan adik dari Dewi Saraswati.

Saya baca macam-macam sebelum ketemu “Filsafat Ilmu”, yang kebanyakan berupa cergam: Candy-candy-nya Yumiko Igarashi, Doraemon-nya Fujiko F. Fujio, Dewi Matahari-nya Suzue Miuchi. Juga seri awal Harry Potter edisi bahasa Indonesia. Namun, tak ada yang mengubah saya sedahsyat apa yang dilakukan buku ini.

Ada orang yang tahu di tahunya
Ada orang yang tahu di tidaktahunya
Ada orang yang tidak tahu di tahunya
Ada orang yang tidak tahu di tidaktahunya

(Halaman 19)

Ditambah dengan ilustrasi-ilustrasi yang sederhana nan lucu; ilustrasi Einstein yang bersimpuh dan tampak kebingungan memikirkan rumus matematika, juga ilustrasi yang berbunyi “Orang itu adalah ilmuwan ahli fisika nuklir yang diculik makhluk halus dan diselamatkan oleh dukun yang ahli ilmu gaib...” atau “Dia tidak tahu apa-apa kecuali fakta” dengan ilustrasi orang-orang yang sibuk berdiskusi dan tak peduli terhadap satu sama lain, dan banyak lagi. Anak kecil mana yang tidak jatuh cinta menemukan buku yang penuh pertanyaan dan gelitikan tetapi disajikan dengan jenaka ini?

Mahabharata: Buku Pertama dalam Hidup

Sekian belas tahun lalu, saya belajar baca-tulis dari Kakek yang sedang senggang. Kami duduk-duduk santai di depan kamar Kakek. Tiba-tiba, ia ambil buku tulis dan pulpen. Lantas, ia menulis huruf-huruf alfabet dengan berurutan. Saya ingat, huruf pertama yang paling rumit bagi saya adalah “S” karena saya tak bisa membedakannya dengan angka “5”. Beberapa hari setelah belajar baca-tulis, orangtua saya membelikan cerita bergambar (cergam) bikinan R. A. Kosasih: Mahabharata dan Bharatayudha. Buku pertama yang kemudian menjadi teman yang saya ajak ke mana pun, sampai saya fasih baca-tulis.

Sebelum usia lima tahun, menjelang saya tidur dan giliran Ayah mendongeng, sudah pasti Ayah menceritakan kisah-kisah pewayangan. Mahabharata, Bharatayudha, dan Ramayana tidak pernah absen dari daftar cerita yang ia repetisi setiap malam. Sementara Ibu hanya hafal satu cerita: Sampek Engtay, dan satu cerita itu yang kerap dia repetisi. Mungkin karena mereka bosan saya mintai mendongeng, maka dibelikanlah saya buku berukuran kitab yang judulnya “Mahabharata” dengan gambar tokoh wayang itu. Kertasnya kertas buram, baunya enak sekali, seperti mencium aroma dupa, tapi lebih pekat dan bukan  beraroma bunga. Gambar-gambar tokohnya juga tegas seperti digambar pakai tinta Cina, dan cergam ini menggunakan huruf-huruf kapital untuk teks di balon-balon dialog.  

Dalam prakata, ketahuan bahwa kisah Mahabharata diolah jadi cergam oleh R.A. Kosasih pada tahun ’50-an. Karena masih banyak peminat dan perlu terus dicetak ulang, cergam yang saya akses adalah versi EYD sesuai aturan pemerintah.

Alur Mahabharata linear dan kejadian-kejadiannya menerapkan hukum karmaphala di mana setiap perbuatan tokoh akan mendapat ganjarannya sepanjang cerita ke depan. Cerita dibuka dengan perburuan Prabu Sentanu, Raja Hastinapura, diiringi pasukan kerajaan. Dalam perburuan itu, ia tersesat dan terpisah dari pasukannya. Setelah lama mencari-cari pasukannya, ia kelelahan dan beristirahat di bawah pohon. Di sana, dia kemudian bertemu seorang putri tanpa asal usul yang kelak dijadikannya permaisuri.

[Ketika itu, teringatlah sang prabu kepada pesan ayahandanya dahulu bahwa bilamana berjumpa dengan seorang putri di dalam rimba, janganlah menanyakan asal usulnya, kawinilah dia segera dan jadikan permaisuri, sebab putri itu adalah anugerah dewata.]

Dipintalah sang putri menjadi permaisuri. Uniknya, sang putri menetapkan syarat:

[Inilah permohonan hamba: bahwa kesatu, gusti jangan sekali-kali bertanya asal usul hamba. Kedua: bila di kemudian hari ada perbuatan hamba yang aneh yang menyimpang dari hukum kemanusiaan jangalah gusti prabu berani menegurnya. Ingatlah itu gusti...]


2010/01/07

Kitchen: Dapur yang Absurd


Menyelesaikannya dalam 5 hari. Bahkan sesungguhnya tidak berniat menyelesaikannya dan justru ingin membuat alur kisahnya yang sudah terlanjur ada dalam benakku menggantung saja. Karena, sebetulnya apa yang bisa diharapkan dari kalimat-kalimat indah yang memiliki akhir?

Entah penulisnya atau penerjemahnya yang memiliki kosa kata indah memabukkan. Yang jelas, yup, itu terjadi dalam novel 'Kitchen' ini. Saking sukanya dengan kalimat-kalimat dalam novel ini, aku bahkan bertekad untuk mulai 'belajar memberi highlight dengan stabilo' untuk kata-kata indah yang kutemukan dalam buku bacaan di rakku ini. Berikut adalah list kata-kata yang kusukai dari novel (edisi Bahasa) ini:

"Kamu tipe orang yang menilai seperti apa? -- Orang sering bilang, kita bisa menilai tipe pemilik rumah hanya dengan melihat toiletnya."

"Dapur."

Oh, sungguh, sweet.

'Aku tak punya saudara di dunia ini. Mengejutkan rasanya, menyadari bahwa aku bisa pergi ke mana saja dan melakukan apa saja.'

Begitulah yang kurasakan untuk tumbuh besar sebagai seorang anak tunggal.

'Sikapnya yang sama sekali tidap hangat maupun tidak dingin justru membuatku merasa dekat.'

Aku selalu merasa begitu kepada orang yang kukenal. Aku senang merasa asing di hadapan orang yang sangat kusayangi sekalipun. Pada dasarnya, tiap orang terasing dalam pemikirannya sendiri, kan?


2009/12/06

Biola Tak Berdawai: Kisah Bocah Tunadaksa


Biola Tak Berdawai bercerita dari sudut pandang seorang anak tunadaksa yang dari awal sampai akhir novel membuat saya berpikir berulang-ulang kali mengapa SGA memilih bocah cilik tunadaksa itu untuk menarasikan keseluruhan jalan cerita? Keadaan tunadaksa bocah tersebut diakibatkan kelainan pada sistem serebral (cerebral system). Apa SGA memilihnya karena seorang bocah cilik akan selalu bisa mengantarkan pesan macam-macam yang polos? Apa hal tersebut ditujukan untuk menggelitik hati pembaca? Apa untuk memberi kesadaran/pemahaman tentang kejadian di lingkungan bocah cilik kepada pembaca? Karena, ada banyak sekali saya temukan semacam petuah-petuah dari bocah tunadaksa tersebut di dalam cerita ini yang terlihat jelas seperti bertujuan untuk membuat kita sebagai orang-orang yang beruntung terlahir normal agar sadar terhadap keberadaan sesama kita. Bahwa bagaimanapun, kita semua memiliki kesempatan yang sama dalam apapun. Namun tentu narasi dengan "suara" semacam itu terkesan terlalu dipaksakan.

Secara keseluruhan, novel ini seperti mengkritisi keadaan zaman saat ini di mana ada banyak bayi-bayi yang dibuang oleh orang tuanya bahkan meskipun bayi-bayi tersebut berwujud cantik. Pesan yang diusung untuk hal tersebut adalah, 'Apa yang salah dengan memiliki anak dalam kondisi miskin? Tidakkah keluarga miskin bisa bertahan untuk membesarkan bayi mereka dalam kemiskinannya?' atau kalau bayi cantik tersebut dibuang oleh seorang ibu yang merasa belum cukup umur untuk merawat bayinya, 'Kenapa mesti membuang bayi? Seorang perempuan saja memiliki gerakan feminisme dimana mereka terus menerus menuntut emansipasi, lalu ke mana hak seorang bayi untuk hidup?'

Entahlah, saya suka dengan SGA yang meriset tentang Kisah Mahabrata untuk novelnya ini. Saya tak tahu apakah ini berkat diskusi beliau dengan penulis skenario cerita ini sebelumnya, Sekar Ayu Asmara, atau bukan. Pada bagian-bagian tertentu SGA banyak memasukkan tentang kisah Dewi Drupadi yang dimadu oleh Panca Pandawa dan dinyatakan oleh sang bocah tunadaksa kisah tersebut mirip dengan kisah ibu angkatnya. Dimana ibu angkatnya untuk tetap mempertahankan panti asuhannya (yang merawat dan membesarkan bayi-bayi yang dibuang) menghalalkan segala cara bahkan dengan jalan menjual tubuhnya kepada pria-pria yang sanggup membayar mahal kemolekan tubuhnya. Well, saya engga tahu apakah Diva di Supernova yang mirip-mirip kisah ini atau justru vice versa.

Saya tertegun ketika mengetahui bahwa setiap harinya ada banyak bayi yang dibuang di Indonesia (terutama di Yogyakarta di sebuah panti). Selain itu, saya suka dengan setting-setting yang digunakan di dalam cerita ini. Ada makam-makam dan Pantai Krakal. Bocah tunadaksa mengunjungi tempat-tempat tersebut sewaktu-waktu dengan ibu angkatnya. Suasana yang didapat dari tempat-tempat seperti itu sangat match dengan bocah tunadaksa agar mendapatkan kesempatan menarasikan pemikirannya tentang alam di sekitarnya. Bagaimana meskipun mereka selalu diam saja sepanjang waktu, mereka juga memiliki kepekaan yang sama seperti manusia normal untuk mengelaborasi pemikiran tentang alam sekitarnya.

Novel ini juga mengangkat nilai moral tentang seorang ibu yang sangat beruntung menjadi 'perantara' kelahiran kembali seorang anak di dunia. Mungkin karena cerita ini mengangkat Kisah Mahabrata utamanya tentang Dewi Ganggawati dan bagaimana dia membuang delapan wasu, kepercayaan akan reinkarnasi dari bocah tunadaksa tersebut jadi agaknya nampak menonjol.

Overall, kisah ini bagus dibaca sebelum hari ibu 22 Desember ini. Atau justru dijadikan hadiah oleh-oleh untuk ibu masing-masing.

Tulisan Terdahulu