sejumlah catatan pengamatan dalam bentuk ulasan, analisis, fragmen, hingga karya.
2018/01/13
Perjalanan Menuju Roma
2017/10/20
Tentang Apa yang Dapat Kita Percaya
Setiap saya hendak menarik tali utas ke masa lalu, saya selalu teringat satu hal: bahwa kehadiran saya tidak pernah benar-benar diharapkan, terlepas dari ayah saya pernah mencoba untuk membuang saya ke dalam sumur di saat usia saya belum genap dua bulan.
Kalimat-kalimat ini selalu membisik di telinga saya:
Ibumu adalah seorang akademisi yang sebenarnya memutuskan laku selibat hingga di usia 39 tahun ia bertemu ayahmu. Ayahmu adalah seorang kakak yang menyesali kematian adik laki-laki satu-satunya dan ingin menyusulnya ke alam baka. Namun, dari pertemuan pertama itu, mereka tidak sampai berpacaran lebih dari tiga bulan hingga memutuskan menikah. Kamu menjadi matahari tunggal dalam hubungan rumah tangga itu dan mereka lebih menyayangimu daripada terhadap satu sama lain, tapi kamu selamanya tahu bahwa mereka berdua tak pernah mengharapkan kehadiran seorang anak.
Saya hanya punya enam belas tahun untuk mengenalnya. Dan tentu saja, seperti kanak-kanak lainnya—saya percaya saya baru secara sadar mengenali Mama di usia tujuh-delapan tahun, bermula dari suatu kejadian yang sangat penting dan menentukan relasi kami ke depannya. Yang membuat saya berteriak hebat, “Saya tak punya siapa-siapa lagi kalau Mama pergi!” saat harus terpaksa melepasnya pergi sembilan tahun lalu.
Dari masa yang singkat itu, relasi ibu saya dan agama… bisa dikatakan tampak seperti dagelan di hadapan saya.
Barangkali separuh ingatan saya tentang dialog-dialog yang terjadi di masa awal kehidupan saya telah teredam dengan baik ke alam bawah sadar. Saya tak ingat entahkah saya pernah menanyakan tiga kejanggalan di atas kepadanya. Terutama, tentang apa yang dia lakukan selama tiga puluh sembilan tahun melajang, apakah selama hampir empat dekade itu dia tak pernah sembahyang? Mengapa? Bagaimana dia mengenal dan memandang agama? Seperti apa dia dididik oleh kakek dan nenek saya? Dan mengapa kakek dan nenek tak banyak mengajari Mama hal-hal dasariah seorang umat beragama di Bali? Maksud saya, Bali sangat terkenal dengan kentalnya sikap masyarakatnya dalam menganut “agama leluhur”. Mengapa hal itu sama sekali tidak saya temukan dalam cara Mama bersikap?
Sementara itu, Bapak juga bukan seseorang yang bisa mengajari anaknya bersembahyang, atau bahkan memeluk agama tertentu. Kami pernah datang ke suatu acara persembahyangan, saat Mama dan saya bersimpuh untuk mulai berdoa, Bapak duduk di pojok dan tampak enggan melibatkan diri dalam kerumunan umat.
Karena itu, saya sama sekali tidak percaya sewaktu mendengar Bibi saya bilang bahwa sebelum meninggal Mama mengamanatkan agar saya menikah dengan seseorang yang memeluk agama yang sama dengan agama saya di KTP. Dan saya tidak pernah mendapati Mama dan Bapak mengekang saya dengan pilihan-pilihan hidup tertentu. Sahabat-sahabat saya tentu tertawa saat saya menceritakan pesan paman dan bibi saya itu. Mereka tahu “betapa religiusnya” saya dibandingkan orangtua saya di masa hidup mereka.
Jadi, mendapati bagaimana paman dan bibi saya bereaksi ketika melihat pemeluk agama lain menjalankan ibadah, mendengar apa pendapat mereka soal pernikahan beda agama, cukup untuk membuat saya patah hati dan merindukan Mama dan Bapak. Demikian dalamnya.
Terutama Mama. Saya rindu tawa-tawa kami saat beliau salah melafalkan mantra-mantra. Dan saya rindu bagaimana kami melantunkan kidung-kidung sebelum dan sesudah sembahyang. Mama pandai menari, saya tidak. Dan saya pandai menyanyi, Mama tidak.
Saya rindu cara kami memandang agama: hanya kebersamaan dan cara menghabiskan waktu bersosialisasi dengan orang lain. Dan seperti itulah kami menghargai orang-orang yang menjalankan ritual-ritual di agama mereka.
Di kemudian waktu, tampaknya satu-satunya hal yang membuat saya harus tetap terikat dengan agama leluhur ini adalah karena perwujudan arwah Mama dan Bapak, demikian juga Kakek dan Nenek, konon telah distanakan sebagai dewata. Konon, wujud-wujud itu perlu terus didoakan (hal ini dapat dibayangkan seperti bagaimana seorang tokoh Disney, Mulan, menghadapi roh-roh leluhurnya). Dan konon, hanya keturunan merekalah yang akan terus mendoakan wujud-wujud dewata itu. Sesuatu yang saya melakoninya dengan sikap antara-percaya-dan-tidak-percaya. Dan mendapati fakta bahwa saya adalah anak tunggal, tanggung jawab untuk melanjutkan garis keturunan itu tentu hanya dapat dilimpahkan kepada saya. Dalam situasi begini, saya suka sekali berlelucon, bagaimana kalau saya mendoakan mereka dengan jalan seorang anak atau cucu berucap dan bercakap-cakap, tanpa perlu pulang ke rumah dan menghampiri perwujudan mereka sebagai dewata yang distanakan di tempat persembahyangan keluarga?
"Saya mengharapkan kalian bahagia di sana. Seperti halnya saya akan selalu bahagia di sini. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi karena kalian sudah memberi saya bekal yang cukup untuk menghadapi dunia."
Tidakkah kalimat-kalimat itu cukup untuk menenangkan orang-orang yang telah tiada—jika dan hanya jika mereka masih dapat melihat hal-hal yang terjadi di bumi ini? Dan akankah Bapak dan Mama yang “tidak lebih religius” daripada saya tetap menuntut hal-hal yang tidak dapat saya penuhi? Sebagai panutan anaknya, mereka tentu tahu benar hal-hal apa yang tidak dapat saya penuhi, yang lebih dari sekadar mencakupkan tangan dan melafalkan mantra.
Seandainya sewaktu saya kecil ibu dan ayah saya bilang diri mereka ateis, saya akan percaya-percaya saja.
Saya pernah menuliskan catatan yang sama untuk mengingat Mama dalam tulisan SATU YANG KUPINTA DI TAHUN BARU, juga untuk kakek saya dalam tulisan UNTUK KAKEK: MEMORIAL DI TAHUN 0, dan untuk nenek saya dalam tulisan UNTUK NENEK: MEMORIAL DI TAHUN 0.
Perjalanan Pertama di Paris
2014/06/05
Mokamentor dengan AS Laksana (2)
Sebenarnya aku mengharapkan hal yang berbeda dengan program mentoring, yang kupikir akan menjadikan suasana pembelajaran lebih informal dan tiap pertemuan akan menjadi kesempatan untuk saling berbagi. Aku tidak akan berteori macam-macam dalam mentoring dan hanya menyampaikan apa-apa menurut pengetahuan yang kumiliki. Dan merespons perkembangan pekerjaanmu dalam cara seperti itu juga. Tapi kok pertemuan kita tidak berjalan lancar ya?
Sudah kubaca, Dewi. Aku belum bisa membayangkan detailnya akan seperti apa dan cerita ini bakal berkembang ke arah mana. Tapi menulis novel seringkali begitu. Dalam hal ini aku agak sepakat dengan E. L. Doctorow yang mengatakan, "Menulis novel serupa dengan mengemudikan mobil di malam hari. Kita hanya bisa melihat ke depan sejauh nyala lampu, tetapi kita tetap bisa menempuh perjalanan sampai tujuan."
Saranku, menulislah setiap hari pada jam yang sama. Terserah kau bisa memilih waktumu sendiri. Menulis pada jam yang sama adalah cara yang baik untuk mempersiapkan tubuh dan kesadaran. Sehingga menulis akan sama dengan kegiatan sehari-harimu yang lain, seperti makan, tidur, dan sebagainya. Menulis pada akhirnya hanya cara kita membangun kebiasaan.
Nanti akan kubaca satu kali lagi, satu kali lagi, satu kali lagi, dan seterusnya dalam seminggu ini, sampai aku menjadi akrab dengan cerita yang hendak kautulis.
2014/04/15
Mokamentor dengan AS Laksana (1)
Pertemuan terjadi di Hotel Santika dan kami mengobrol di kursi sebelah kolam renang hingga dini hari. Bayangkan betapa bahagianya saya bertemu duo sahabat penulis ini dalam satu kesempatan: AS Laksana dan Yusi Avianto Pareanom.
2014/02/21
Tentang Drop Out Bersertifikat Itu
“Apa enggak kasihan? Ada berapa banyak, tuh? Itu, kan, bisa jadi momen. Nanti kamu menyesal, lho...”Azhar suka menekankan kalimatnya dengan tambahan partikel ‘tuh’ dan ‘lho’, dengan dialek yang agak menggebu, bidang dada hingga wajah yang lebih maju saat bicara, dan gerakan tangan khasnya, gerakan yang memutar-mutar. Kalau kamu sedang beruntung, kamu akan lihat semua itu dibarengi dengan tawa jenaka seorang kanak-kanak.
“Ratusan... Ah enggak, aku sudah simpan semuanya jadi notes format PDF.”Ketiga ratus notes itu.
“Memangnya kamu kenapa hapus semua notes itu?”Dan begitulah kemudian saya bercerita banyak, tentang keluarga, tentang pertemanan, tentang hidup. Azhar dan saya mungkin lupa apa yang saya bicarakan saat itu (saya ingat sebagian cerita Azhar tentang keluarganya, tapi samar-samar).
Azhar tipikal teman yang sangat halus budinya. Ia seakan-akan selalu menggunakan perasaan, dan minim menghakimi, saat berhadapan dengan orang lain. Baru belakangan hari saat menjalani tes Myers-Brigg pada kunjungan kami di GE dalam rangkaian acara KEM Tempo Institute, saya tahu arketipenya memang I, S, F, dan P. Saya hafal arketipenya karena kesemua itu memang mencerminkan dirinya. Sensing, tentu saja, ia menjadi pemimpin redaksi Balairung di tahun pertama saya bergabung dengan organisasi pers kampus itu. Feeling, saya yang pelupa ini bahkan ingat bagaimana kami berbincang di halaman depan B21 dan ia bercerita tentang penulis favoritnya, Erich Fromm. Buku yang ia baca berulang kali hingga lepak. Saya lupa judulnya, yang jelas bukan The Art of Loving, tapi saya rasa ia pun khatam TAoL. Berceritalah tentang cinta dan perasaan kepada Azhar, ia maha pendengar (maafkan saya, Tuhan, tapi hal itu memang benar adanya), maka itu ia perceiving.
Beberapa momen di KEM Tempo Institute menjadi peneguh arketipe Azhar itu. Ia barangkali menjadi yang paling dicintai di acara kemah itu. Bagaimana tidak? Ia berinisiatif memutarkan film setiap pagi, film-film kartun dan The Simpsons. Ia menjadi abang dari gadis-gadis imut seperti Sita, Ulfa, dan Fatimah, saya melihat Azhar bengong di lorong halte busway untuk menemani para gadis itu melihat-lihat jilbab. Pria dengan kaca mata hitam dikerumuni banyak gadis. Ia tampak lucu sekali. Dan dari Azhar saya kenal istilah Manikebu dan Lekra. Saat itu di kamar peserta pria KEM, saya mampir untuk bikin rusuh, dan ia bahaslah tentang dua term sastra itu. Saya bilang saya tak tahu. “Kamu yakin kamu enggak tahu, Chelle? Kamu, kan, menulis sastra...” Saya keukeuh bilang saya tak tahu, karena memang tak tahu. Itu Oktober 2012, seingat saya. Azhar justru tertawa dan bilang, iya wajar juga saya tak tahu. Ia benar-benar jarang menghakimi orang lain. Dua bulan kemudian, novel saya malah menang sayembara menulis novel DKJ. Saya merasa seperti dikutuk. Juga dari Azhar saya tahu tentang diplomat, Agus Salim, yang ogah makan pakai alat makan dan justru menggunakan tangan untuk menikmati santap-jamuan kenegaraan. “Jadi kenapa kita mesti gaya-gayaan?” komentarnya. Saya yakin ia introvert, karena di malam anugerah KEM itu, di ballroom hotel saat semua orang menikmati santapan sambil berdiri, Azhar mengajak saya menyendiri ke belakang ruang makan. Saya lupa apa yang kami obrolkan selanjutnya. Saya hanya merasa momen seperti itu menyenangkan. Dengan siapa lagi kamu akan menyendiri di tengah pesta kecuali dengan teman yang sama-sama tak nyaman dengan pesta? Eh, Azhar waktu itu merasa nyamankah di tengah pesta? Oh, ya, lalu tentang 18.800 (tolong dikoreksi, ya), ada satu permainan di KEM yang menunjukkan bagaimana Azhar mampu menggerakkan “para borjuis” untuk mengembalikan semua harta yang timpang ke keadaan setara. Biarlah hanya kami yang paham jenis permainan Marxian macam apa yang diujicobakan panitia KEM kepada kami.
Di luar banyak selebrasi itu, saya menjalani dua momen demonstrasi turun ke jalan dengan Azhar, demonstrasi hari pendidikan dan demonstrasi hari buruh. Eh, tiga, kalau kunjungan sebentar dalam demonstrasi tuntutan pembukaan program ekstensi di UGM juga dihitung. Azhar sangat suka demonstrasi, dan revolusi, begitu katanya. “Yang penting hidup itu harus bergerak, enggak statis. Ada yang diperjuangkan.” Belakangan waktu, ia juga ikut advokasi rekan-rekan petani energik di Kulon Progo dalam rangka tuntutan menolak paksaan investor luar membangun tambang di sana yang prosesnya sudah berlarat-larat sejak 2006, juga saat ia hendak merampungkan kuliahnya, Azhar masih berjibaku membela hak-hak buruh transjogja yang di-PHK sepihak dan menghabiskan malam untuk "menuntut" di depan DPRD. Ayah Azhar konon tak menyukai aktivitas Azhar yang satu ini.
Saya bertanya-tanya apakah akan ada lebih banyak takdir bagi kami untuk merayakan selebrasi dan revolusi bersama lagi? Beberapa hari lalu, ia sudah resmi “drop out bersertifikat” dari UGM—kalau menggunakan istilah Nara. Ia akan ke Jakarta. “Ajari aku jadi anak gaul ya, Chelle, kalau kamu mampir-mampir di Jakarta...” begitu katanya, intonasinya wajar dan tidak dibuat-buat, saat saya datang di hari wisudanya. Benarlah kenapa AP sempat bilang tentang Azhar yang sebagai rivalnya (pikir saya, selain karena Azhar sudah jelas dengan apa yang ia hendak perjuangkan dalam hidup ini, terutama karena Azhar juga sangat tekun dan giat dalam membaca buku).
“Berapa banyak buku yang kamu baca, Mas?”Ia menyebut angka yang memang sedikit. Namun, saya yakin ia tekun terhadap bacaannya, dan bukan tipikal orang yang meloncat-loncat dalam gagasannya. (Meski di awal masuk Balairung, saya sering hadir di diskusi di mana Azhar sering berputar-putar saat menjelaskan sesuatu.)
“Aku pembaca yang lambat, Chelle... Setahun saja cuma...”
Akhirul kalam, akan jarang ada orang yang begitu rendah hati dan tulus seperti itu di zaman seperti ini. Saya rasa, meski sepertinya saya tak begitu berarti amat di hidup Azhar karena saya terlalu sering jadi peran figuran yang muncul sebentar untuk mencuri pengetahuan lalu hilang lagi untuk menyendiri, saya akan sangat merindukan sosok-sosok seperti Azhar. Atau karena ia tidak tergantikan, yang bisa saya doakan untuknya saat ini adalah supaya ia tidak berubah menjadi sosok yang bukan Azhar. Ia harus juga mengeksplorasi karakter spekulatif, sinis, dan lainnya, tapi tentu dengan karakternya yang sangat tulus, rendah hati, dan polos itu, saya berharap dunia akan memeluk dan menjaganya seerat-eratnya. Semoga abang kami tercinta ini ditunjukkan jalan untuk melakukan lebih banyak kebaikan bagi orang lain.
*) Ditulis saat sedang patah hati berat. Hahaha. :)
**) Mulanya diunggah di blog, tapi malu dibaca Mas Azhar, jadi dihapus lagi, eh tahu-tahu dia sudah baca dan SMS, jadinya enggak enak, maka dipasang di sini lagi. :D
***) Terima kasih untuk pembelajaran yang engkau beri padaku selama tiga tahun ini, Mas. Entahlah, kapan aku bisa bersikap seempatik dan sesimpatik kamu. :D *it's a compliment*
2014/01/14
Kopi, Pak Don Hasman, dan Petualangan
2013/11/20
Tentang Proses Kreatif #SPTJKYJTC
2013/09/13
Untuk Nenek: Memorial di Tahun 0
Ada ikatan yang kuat antara gadis berusia lima tahun itu dengan dapur. Mangkok-mangkok yang dia buat penuh tepung, pemanggang dengan adonan roti yang gosong. Hingga suatu masa, kawan-kawan sebayanya tiba-tiba menarik cucumu dari dunia imajinernya dengan dapur. Dia lantas bermain dengan piring dan gelas plastik, daun-daun dan buah-buah kecil yang ditumbuk, dan berpura-pura menggoreng di wajan. Adonan kopi, gula, dan tepung yang saling lengket dipikirnya dapat menjadi permen.
Ada tangisan di saat dia baru mengerti tentang terbatasnya umur manusia. Hari itu kali pertama dia dipisahkan dari pengasuh yang menjadi temannya sejak kecil. Di mobil itu, di sisimu, dia menangis meraung melihat gadis remaja itu melambaikan tangan padanya. Kalian semua mencoba memberi pengertian. Namun cucumu tetap tidak mengerti kenapa orang-orang bisa dengan begitu mudah pergi dan tidak dapat lagi dijumpai. Saat itu, dia kemudian membayangkan bagaimana bila kelak, pertama-tama, ibunya meninggal, lalu ayahnya, diikuti oleh semua orang yang dia kenal. Dan dia tidak bisa berhenti menangis sepanjang hari itu. Kau yang memeluknya demikian erat.
Ada piring-piring dan gelas-gelas yang dia tinggalkan. Dia bermain dengan busa yang memenuhi halaman rumah, lantas meniupi busa-busa itu hingga menjadi balon-balon transparan di udara. Kau tahu bagaimana kemudian dia selamanya terpisah dari piring-piring dan gelas-gelasmu. Mencuci piring-piring dan gelas-gelas ibunya. Dan lalu mencuci piring-piring dan gelas-gelas tantenya.
Ada keterpisahan yang lama di antara kau dan cucumu itu. Bertahun-tahun setelah dia berhenti memelihara anjing, tidak lagi menjelajah persawahan dan sungai-sungai, tidak lagi memanjati pagar rumah tetangga hanya untuk mencuri ubi, tidak lagi membantu teman-teman sebayanya membangun ogoh-ogoh untuk hari Nyepi. Kau tak tahu apa yang dia lakukan dengan buku-bukunya, persaingan di kelas, hal-hal yang dia tekuni. Kalian tidak lagi saling bicara. Ibu dari cucumu membencimu. Cucumu juga ikut membencimu dan mencoba selamanya pergi dari hidupmu.
Dan setelah sekian tahun berlalu, kau yang kemudian selamanya pergi dari hidupnya. [*]
Tulisan Terdahulu
-
Tentang hidup dan seseorang. Aku ternyata tak benar-benar tahu apa makna sebuah perjalanan. Bahkan setelah sekian tahun aku mengulur-ulur w...
-
Sekian belas tahun lalu, saya belajar baca-tulis dari Kakek yang sedang senggang. Kami duduk-duduk santai di depan kamar Kakek. Tiba-tiba, i...
-
Apa hidup memang... seperti, cerita tentang sebuah pohon yang tumbuh di suatu tempat asing? Bahwa yang mengetahui keberadaan pohon itu hanya...
-
Menyelesaikannya dalam 5 hari. Bahkan sesungguhnya tidak berniat menyelesaikannya dan justru ingin membuat alur kisahnya yang sudah terlan...
-
Pendirian Commissie voor de Volkslectuur (Komisi untuk Bacaan Rakyat) di tahun 1908, yang diketuai G. A. J. Hazeu, penasihat urusan Bumiputr...