Showing posts with label Harian. Show all posts
Showing posts with label Harian. Show all posts

2018/01/13

Perjalanan Menuju Roma

Entah siapa yang berceletuk tentang guna merutinkan diri berolahraga selama 41 hari dan hasil dari rutinitas itu adalah sebuah kebiasaan yang tidak pernah terputus, tapi saya dan ibu semang kemudian meyakininya dan melakoninya—bahkan melakoninya setiap pagi: berlari selama satu jam mengelilingi danau sebelum melanjutkan rutinitas lain-lain.

Kira-kira pada hari ke-22 kami merutinkan diri berolah raga, di perjalanan menuju taman, saya mengoreksi apa yang kami tahu dan percaya, “Ada temuan lain di web yang lain, di web ini dibilang, 21 hari pun sudah cukup untuk membentuk kebiasaan. Jadi, kita tidak perlu payah-payah lari rutin selama 41 hari.”

Dia memperhatikan ujaran saya, dan merespons sekenanya. Tapi saya tahu itu tidak akan berhasil membuat tekadnya putus di tengah jalan. Jadi, karena ibu semang saya adalah tipikal orang yang tidak akan berhenti di tengah jalan saat sudah memutuskan melakukan sesuatu, maka kami perlu menyelesaikan hari-hari rutin olahraga kami hingga hari ke-41.

Lantaran rutinitas kami berolahraga di taman, saya punya kedekatan tersendiri dengan taman-taman di Paris dan banlieu-nya. Beberapa taman penting kota ini menjadi tempat berjalan setapak dan menghabiskan waktu untuk apa saja, termasuk untuk menulis fragmen-fragmen cerita. Di antara taman-taman itu, yang paling menarik bagi saya adalah Parc de Floral, sebuah taman yang terletak dekat Kastil Vincennes. Belakangan taman itu dibuka menjadi taman untuk para nudis, sayangnya saya tidak berkesempatan untuk ke sana lagi setelah membaca berita tentang pembukaan taman nudis itu. Dan, bagaimanapun menariknya taman-taman lain, yang paling dekat di hati tentulah taman Lac de Creteil, taman yang mengitari sebuah danau di Creteil, dekat tempat tinggal saya—karena ke sanalah kami, saya dan sang ibu semang, biasanya menghabiskan waktu.

Tetapi pada pagi tanggal 31 Agustus itu kami tidak menuju taman mana pun, dari arah apartemen kami, ibu semang memutuskan berjalan kaki saja terus ke arah timur. Saya menyusuri jalan lebih cepat darinya. Tapi hingga sekian meter kemudian, dia baru berkata bahwa di dekat tikungan jalan itu terletak pemakaman suaminya. Begitu spontan saja. Saya mengajukan diri untuk berziarah. Maka kami berbelok arah dan sampailah di sebuah pekuburan.

Kami melewati cukup banyak nisan untuk sampai tepat di nisan itu. Rumput liar merambat di sekelilingnya. Sebuah pohon sudah tumbuh di tengah-tengah tanah gembur itu. Itu pohon liar juga, kata ibu semang. Tanpa perintah sebagai ancang-ancang, ia mulai mencabuti rumput-rumput, saya bersolidaritas dengan ikut mencabut-cabuti rumput, sampai kemudian berusaha keras mencabut pohon yang akarnya sudah menancap dalam. Itu menjelaskan sudah berapa lama nisan ini tidak dikunjunginya lagi. Mungkin ibu semang terlalu sibuk, yang jelas ia tidak mungkin tidak merindu lagi kepada suaminya yang bersemayam di sana.

“Jadi, bagaimana, kapan mau memesan tiket? Kamu jadi tidak, sih, mau ke Roma?” ujarnya di perjalanan kami ke rumah.

Ada banyak jalan menuju Roma, kata sebuah adagium, dan mulanya saya memang bersepakat untuk berjumpa kawan yang juga sedang menjalani residensi di Roma. Tapi pada tanggal 31 Agustus, ia sudah kembali ke Indonesia. Saya tidak berhasil berjumpa dengannya sebelum ia kembali, tentu karena sederetan keraguan demi keraguan untuk menempuh perjalanan yang tidak pasti di negeri orang. Jadi, menimbang untuk pergi saat itu, tentu akan sia-sia saja. Tapi, dari pertanyaan itu, saya teringat sudah pernah membikin janji untuk menginap di rumah seorang kenalan di Roma—pasangan aktivis yang saya kenal di Yogya, sang istri kini bekerja di kantor pusat FAO di Roma. Lantas, terpikir bahwa ada pula rentetan kota lain yang sekalian perlu dikunjungi, di Bussum, Belanda pada 9 September, akan ada sebuah presentasi dari kawan tentang relasi Jepang dan Belanda pada periode kolonial Belanda di Indonesia dan pada 10 September seorang kenalan baik akan meluncurkan buku novelnya di Amsterdam, dan sejak tanggal 6 September, akan ada festival sastra Berlin yang menghadirkan Arundhati Roy. Justru akan menarik bila saya merancang perjalanan yang bisa memuat kepentingan-kepentingan itu sekalian.

Maka, sepulang dari berziarah ke kuburan, ibu semang dengan bermurah hati menyediakan waktu untuk membantu memesankan tiket-tiket perjalanan ke Berlin lantas Den Haag lantas Roma untuk kemudian kembali ke Paris—tentu dengan pertimbangan panjang: mau naik kereta, bis, atau pesawat; dari stasiun dan bandara itu bagaimana cara mencapai rumah kawan yang menjadi tempat menginap; dan apa yang kira-kira penting untuk dilakukan di sana berkaitan dengan riset penulisan fiksi; perjalanan ditempuh dari tanggal berapa sampai tanggal berapa, dan seterusnya.

Secara ringkas, perjalanan saya dari Paris ke Berlin pada tanggal 5 September dengan bus cukup menyenangkan, saya melihat diri sendiri berada pada titik di Googlemap yang berpindah dengan cepatnya dari satu area ke area lain bebarengan dengan melihat pemandangan di luar: sebuah gedung atau sebuah pabrik yang bercahaya sendirian karena jarak antara ia dengan gedung atau pabrik lain lumayan jauh. Melintasi Brussels Belgia, lalu melewati Eindhoven Belanda, untuk masuk ke area Jerman bagian Barat. Petugas yang mengecek paspor mulai membangunkan penumpang yang tidur, dan terjadi cekcok lumayan panjang antara sederet penumpang yang berpaspor kedaluwarsa, tapi pada akhirnya penumpang itu tidak diturunkan di tengah jalan. Itu pastilah seorang imigran gelap yang mencoba mencari peruntungan di Berlin, begitu pikir saya, tapi setelah si petugas beralih pada saya dan saya menunjukkan paspor, saya kembali melanjutkan tidur dan tidak ambil pusing lagi. Dibutuhkan suatu kesadaran diri yang mantap untuk istirahat yang cukup, karena sembilan hari ke depan, saya akan melakoni perjalanan dari kota ke kota—dan tidak boleh merengek sedang sakit atau apa (saat itu saya baru pulih dari diare dan mimisan lantaran sedikit alergi dingin).

Tiga hari saya lewati di Berlin, untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Den Haag pada 8 September. Seharian itu hujan, sepulang dari Museum Yahudi, saya segera menuju ZOB Berlin, terminal bus yang akan membawa pergi. Di sana, saya bertemu seorang gadis mabuk yang saya lupa siapa namanya, meski kami sempat berkenalan, bercerita betapa sendirinya hidupnya. Yatim piatu, anak tunggal, dengan kehidupan cinta yang payah, dan cita-cita yang kandas, dan pekerjaan yang ia rasa mengantarkannya ke kegagalan demi kegagalan. Ia dari Sofia, Bulgaria dan tinggal delapan belas bulan di Berlin karena bekerja di bidang teknik, dan kini memutuskan akan mengadu nasib di Amsterdam. Saya ingin sekali bilang, “Hei, aku sejenis denganmu,” tapi tampaknya itu tidak lucu, maka saya biarkan dia terus mengelupas dirinya di depan saya, tanpa saya balik memperkenalkan diri. Sopir dan kondektur, yang sama galaknya dengan yang saya temui di terminal Gallieni Paris, kemudian memerintahkan kami segera masuk. Tidak bisa lanjut mendengarkan ceritanya lagi. Saya menawarkan diri agar si gadis duduk dekat-dekat saja, tapi pada akhirnya kami berpisah kursi. Banyak kursi kosong, menurutnya akan lebih lega bila kami duduk sendiri-sendiri, dan istirahat di perjalanan bisa lebih nyaman bagi kami. Saya menghela napas karena yakin bahwa kami akan berpisah, dia akan turun di Amsterdam sementara saya turun di Den Haag. Dan saya tertidur pulas malam itu, sampai akhirnya bus berhenti di terminal lebih cepat satu jam dibandingkan jadwal yang tertera di tiket. Di sana saya menyadari betapa kedisiplinan Prusia, yang berasal dari kedisiplinan ala Kantian, bagi warga Jerman masih terwaris dengan amat baik.

Perjalanan ke Roma pada 12 September tampaknya lebih menguji nyali. Layanan pesawat paling murah tersedia pagi-pagi betul, karena itu saya pikir pada pukul lima saya sudah mesti mengantre check-in. Hari-hari itu, Belanda sedang dilanda badai. Dari Leiden, saya menuju Rotterdam dengan guyuran hujan yang tidak main-main. Bandaranya kecil saja, seukuran atau malah lebih kecil daripada bandara Radin Inten II Lampung yang pernah saya singgahi. Rupanya ketika saya sampai di bandara pukul sebelas malam itu, sudah ada banyak orang seperti saya juga yang memutuskan untuk bermalam. Motel paling murah hanya sepuluh euro semalam, tapi jaraknya jauh dari bandara, dan di kala badai seperti ini dan jadwal bus jadi tidak menentu, memang sangat berisiko untuk ketinggalan pesawat apabila nekat memesan penginapan, maka wajar saja bandara penuh sesak orang yang bermalam untuk menunggu penerbangan paling pagi. Beberapa orang berkeluyuran, berjalan-jalan dengan tak santai mengelilingi bandara dari satu sudut ke sudut lain, tapi sebagian besar memutuskan beristirahat seperti saya. Pukul empat pagi, pintu bandara sudah dibuka dan terdengar koper-koper yang digeret masuk. Saya melanjutkan tidur untuk menunggu jadwal check-in yang saya pikir dimulai tepat pukul lima pagi. Tapi dalam hitungan menit bandara semakin ramai, dan saya memutuskan mengecek situasi. Antrean panjang mengular pukul lima pagi itu, untuk penerbangan yang sama dengan saya pukul enam pagi. Tidur di bandara tidak menjadikan saya orang pertama yang mengantre jatah lepas landas. Tapi tidak mengapa, akhirnya saya pergi ke Roma.

Menyelesaikan perjalanan bukan hal yang ingin saya capai ketika memulai perjalanan, tetapi setiap pejalan tahu bahwa akan selalu ada akhir dari setiap perjalanan. Sembilan hari perjalanan telah lewat, dua hari terakhir saya habiskan di Roma. Saya memotret antrean di bandara Fiumicino, Roma menuju Orly pagi itu. Saya kirimkan sebuah foto dan pesan singkat kepada ibu semang, menyatakan saya akan pulang. Sembari mencatat di catatan pribadi: “Akhirnya misi tertuntaskan. Memang ada banyak jalan menuju Roma. Termasuk jalan memutar dari Paris, Berlin, Den Haag, dan Rotterdam.”

Catatan:
Di Berlin, Jerman selama tiga hari saya menghadiri sebuah festival pengarang, bertemu Pak Triyanto Triwikromo yang sedang menjalani program residensi penulis juga, dan dengannya diajak untuk berjumpa seorang penerjemah Jerman, Gudrun Fenna Ingratubun. Saya menumpang tinggal dengan penerjemah Jerman tersebut dan membicarakan banyak hal tentang kesusastraan Indonesia maupun Jerman. Perjalanan saya tempuh dengan bus dari terminal Gallieni Paris dan tiba di Berlin ZOB pada 6 September 2017. Di Berlin, saya berkesempatan juga mengunjungi beberapa museum di Kompleks Museumsinsel (mengunjungi Altes Museum dan Neues Museum), serta mengunjungi Museum Yahudi. Seluruh diskusi dalam festival sastra Berlin yang saya ikuti dilakukan dalam bahasa Jerman, saya tidak begitu memahaminya, tetapi cukup berguna bagi saya untuk memahami festival pengarang skala internasional. Seorang penulis Indonesia, Okky Madasari, diundang menjadi pembicara di festival itu, tetapi saya tidak kesampaian untuk berjumpa beliau karena jadwal yang berbeda: tapi setidaknya saya membaca nama beliau tertulis di sebuah buku tebal terkait festival sastra Berlin itu. Selanjutnya, saya mengunjungi Bussum, Belanda pada 9 September 2017 untuk menghadiri sebuah konferensi mengenai relasi Jepang-Belanda pada masa pendudukan Belanda di Indonesia, beberapa eksil perempuan hadir dan menjadi pembicara, dan seorang kawan saya di UGM Yogyakarta, Raisa Kamila, memberikan presentasi. Senang sekali mendengarkan penuturan-penuturannya dalam forum itu. Di Belanda, selain konferensi, saya berkesempatan mengunjungi Tropenmuseum, Amsterdam, dan masuk museum dengan gratis berkat kemurahan hati Aliansyah Caniago yang meminjamkan kartu museum, dan juga sempat menghadiri acara peluncuran kumpulan cerita pendek Joss Wibisonoo pada 10 September 2017. Di Belanda, saya menginap di apartemen kawan saya yang berkuliah di Universitas Leiden sehingga akses saya untuk mampir ke universitasnya pun dipermudah. Setelah itu, saya bertolak ke Roma, Italia pada 12 September 2017, di sana saya berkesempatan bertemu dengan dosen-dosen STF Driyarkara, di antaranya Romo Frumen Gions, Romo Albertus Pur, dan Romo Fellyanus Dogon yang sedang menempuh studi di Instituto Nazionale Di Studi Romani, dan mengunjungi Museum Vatikan dan beberapa ikon bersejarah kota Roma. Selama di Roma, saya menginap di apartemen sepasang suami-istri aktivis yang saya kenal di Yogyakarta, Fajar Kelana dan Noor Alifa Ardianingrum yang kini bekerja di kantor pusat Food and Agriculture Organization (FAO) PBB.

2017/10/20

Tentang Apa yang Dapat Kita Percaya

Setiap saya hendak menarik tali utas ke masa lalu, saya selalu teringat satu hal: bahwa kehadiran saya tidak pernah benar-benar diharapkan, terlepas dari ayah saya pernah mencoba untuk membuang saya ke dalam sumur di saat usia saya belum genap dua bulan.

Kalimat-kalimat ini selalu membisik di telinga saya:
Ibumu adalah seorang akademisi yang sebenarnya memutuskan laku selibat hingga di usia 39 tahun ia bertemu ayahmu. Ayahmu adalah seorang kakak yang menyesali kematian adik laki-laki satu-satunya dan ingin menyusulnya ke alam baka. Namun, dari pertemuan pertama itu, mereka tidak sampai berpacaran lebih dari tiga bulan hingga memutuskan menikah. Kamu menjadi matahari tunggal dalam hubungan rumah tangga itu dan mereka lebih menyayangimu daripada terhadap satu sama lain, tapi kamu selamanya tahu bahwa mereka berdua tak pernah mengharapkan kehadiran seorang anak.

Praktis karena mereka tak pernah mengharapkan kehadiran seorang anak, saya sebagai anak tunggal dibesarkan dengan kebebasan yang berlimpah, termasuk kebebasan memeluk keyakinan.

Dan di hari-hari ini, ada satu hal yang sangat saya rindukan setiap saya mencakupkan tangan dan mengucap mantra di bibir: kejenakaan Mama dalam menghadapi ritual keagamaan.

Saya hanya punya enam belas tahun untuk mengenalnya. Dan tentu saja, seperti kanak-kanak lainnya—saya percaya saya baru secara sadar mengenali Mama di usia tujuh-delapan tahun, bermula dari suatu kejadian yang sangat penting dan menentukan relasi kami ke depannya. Yang membuat saya berteriak hebat, “Saya tak punya siapa-siapa lagi kalau Mama pergi!” saat harus terpaksa melepasnya pergi sembilan tahun lalu.

Dari masa yang singkat itu, relasi ibu saya dan agama… bisa dikatakan tampak seperti dagelan di hadapan saya.

Di usia tujuh atau delapan, saya menyaksikan dia mulai mempelajari bahasa Bali tingkat halus, bahasa yang dipergunakan untuk bicara dengan orang yang lebih tua, dan terutama dengan pendeta upacara keagamaan; dia mulai memegang janur dan mengenal jenis-jenis “prakarya” yang dipergunakan untuk sembahyang; dan terutama sekali, dia belajar mantra-mantra sembahyang seperti trisandhya dan gayatri mantram dan menembangkan kidung-kidung sebelum dan sesudah sembahyang. Untuk poin terakhir, lucunya, dia mempelajarinya dari saya. Saya sendiri mempelajarinya karena itu diajarkan dalam mata pelajaran di sekolah... dan terutama... karena saya suka menyanyi.

Barangkali separuh ingatan saya tentang dialog-dialog yang terjadi di masa awal kehidupan saya telah teredam dengan baik ke alam bawah sadar. Saya tak ingat entahkah saya pernah menanyakan tiga kejanggalan di atas kepadanya. Terutama, tentang apa yang dia lakukan selama tiga puluh sembilan tahun melajang, apakah selama hampir empat dekade itu dia tak pernah sembahyang? Mengapa? Bagaimana dia mengenal dan memandang agama? Seperti apa dia dididik oleh kakek dan nenek saya? Dan mengapa kakek dan nenek tak banyak mengajari Mama hal-hal dasariah seorang umat beragama di Bali? Maksud saya, Bali sangat terkenal dengan kentalnya sikap masyarakatnya dalam menganut “agama leluhur”. Mengapa hal itu sama sekali tidak saya temukan dalam cara Mama bersikap?

Sementara itu, Bapak juga bukan seseorang yang bisa mengajari anaknya bersembahyang, atau bahkan memeluk agama tertentu. Kami pernah datang ke suatu acara persembahyangan, saat Mama dan saya bersimpuh untuk mulai berdoa, Bapak duduk di pojok dan tampak enggan melibatkan diri dalam kerumunan umat.

Karena itu, saya sama sekali tidak percaya sewaktu mendengar Bibi saya bilang bahwa sebelum meninggal Mama mengamanatkan agar saya menikah dengan seseorang yang memeluk agama yang sama dengan agama saya di KTP. Dan saya tidak pernah mendapati Mama dan Bapak mengekang saya dengan pilihan-pilihan hidup tertentu. Sahabat-sahabat saya tentu tertawa saat saya menceritakan pesan paman dan bibi saya itu. Mereka tahu “betapa religiusnya” saya dibandingkan orangtua saya di masa hidup mereka.

Jadi, mendapati bagaimana paman dan bibi saya bereaksi ketika melihat pemeluk agama lain menjalankan ibadah, mendengar apa pendapat mereka soal pernikahan beda agama, cukup untuk membuat saya patah hati dan merindukan Mama dan Bapak. Demikian dalamnya.

Terutama Mama. Saya rindu tawa-tawa kami saat beliau salah melafalkan mantra-mantra. Dan saya rindu bagaimana kami melantunkan kidung-kidung sebelum dan sesudah sembahyang. Mama pandai menari, saya tidak. Dan saya pandai menyanyi, Mama tidak.

Saya rindu cara kami memandang agama: hanya kebersamaan dan cara menghabiskan waktu bersosialisasi dengan orang lain. Dan seperti itulah kami menghargai orang-orang yang menjalankan ritual-ritual di agama mereka.

Di kemudian waktu, tampaknya satu-satunya hal yang membuat saya harus tetap terikat dengan agama leluhur ini adalah karena perwujudan arwah Mama dan Bapak, demikian juga Kakek dan Nenek,  konon telah distanakan sebagai dewata. Konon, wujud-wujud itu perlu terus didoakan (hal ini dapat dibayangkan seperti bagaimana seorang tokoh Disney, Mulan, menghadapi roh-roh leluhurnya). Dan konon, hanya keturunan merekalah yang akan terus mendoakan wujud-wujud dewata itu. Sesuatu yang saya melakoninya dengan sikap antara-percaya-dan-tidak-percaya. Dan mendapati fakta bahwa saya adalah anak tunggal, tanggung jawab untuk melanjutkan garis keturunan  itu tentu hanya dapat dilimpahkan kepada saya. Dalam situasi begini, saya suka sekali berlelucon, bagaimana kalau saya mendoakan mereka dengan jalan seorang anak atau cucu berucap dan bercakap-cakap, tanpa perlu pulang ke rumah dan menghampiri perwujudan mereka sebagai dewata yang distanakan di tempat persembahyangan keluarga?

"Saya mengharapkan kalian bahagia di sana. Seperti halnya saya akan selalu bahagia di sini. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi karena kalian sudah memberi saya bekal yang cukup untuk menghadapi dunia."

Tidakkah kalimat-kalimat itu cukup untuk menenangkan orang-orang yang telah tiada—jika dan hanya jika mereka masih dapat melihat hal-hal yang terjadi di bumi ini? Dan akankah Bapak dan Mama yang “tidak lebih religius” daripada saya tetap menuntut hal-hal yang tidak dapat saya penuhi? Sebagai panutan anaknya, mereka tentu tahu benar hal-hal apa yang tidak dapat saya penuhi, yang lebih dari sekadar mencakupkan tangan dan melafalkan mantra.

Seandainya sewaktu saya kecil ibu dan ayah saya bilang diri mereka ateis, saya akan percaya-percaya saja. 

Catatan: Sebenarnya sifat catatan ini sangat pribadi, saya menuliskannya beberapa hari setelah ayah saya berpulang pada 24 Januari 2016. Namun, saya memilih untuk memublikasikannya saat ini karena saya merasa telah "terlepas" dari emosi di dalam tulisan ini. Sebagai pengingat bagi saya, bahwa ada fondasi yang pernah terwariskan dari kedua orang tua saya sebelum mereka berpulang.

Saya pernah menuliskan catatan yang sama untuk mengingat Mama dalam tulisan SATU YANG KUPINTA DI TAHUN BARU, juga untuk kakek saya dalam tulisan UNTUK KAKEK: MEMORIAL DI TAHUN 0, dan untuk nenek saya dalam tulisan UNTUK NENEK: MEMORIAL DI TAHUN 0.
 

Perjalanan Pertama di Paris

Saat saya pulang pada pukul setengah sepuluh petang, ibu semang saya sedang menyimak televisi dalam siaran berbahasa Perancis, sebelum kemudian berganti ke tayangan berbahasa Mandarin ketika saya mengambil makanan. Masih ada beberapa bahasa lagi yang dipergunakannya secara aktif, di antaranya bahasa Rusia, Jepang, dan Spanyol, dan tampaknya sedikit bahasa Arab. Tapi yang paling menguntungkan bagi saya adalah karena ia berbicara dengan saya dalam bahasa Indonesia.

“Jadi, bagaimana petualanganmu di hari perdana ini?” Dia bertanya.

Saya menyendok menu makan malam di hadapan saya, dan mulai bercerita tentang pertemuan saya dengan seorang perempuan Maroko bernama Nesha.

“Oh, orang Maroko. Di sini memang banyak orang-orang Afrika, mereka pernah jadi koloni Perancis,” sahut ibu semang saya.

Ayah Nesha meninggal enam tahun lalu, dan dia baru saja menjenguk ibunya yang sedang sakit—ibunya tinggal di banlieue juga seperti saya sementara Nesha tinggal di area Trocadero dekat Menara Eiffel. Dia sempat berbelanja bahan makanan, lalu kebetulan bertemu saya di stasiun RER C Les Saules.

Nesha membantu saya membuat kartu transportasi umum berlanggan bulanan yang dapat memudahkan saya yang tinggal di pinggiran Paris—istilah lokal, banlieue—untuk mencapai Paris dengan tarif terjangkau. Orang-orang di Paris dan banlieue terbiasa berjalan kaki—atau menggunakan otoped ataupun sepeda—dan untuk jarak jauh mereka memilih menggunakan transportasi umum: metro, RER (untuk mengantarkan ke wilayah banlieue A hingga D), bus, dan trem dengan sistem SNCF yang menggunakan kartu atau tiket Navigo. Tentunya, dibantu membuat kartu Navigo oleh warga lokal menjadikan pengalaman di hari perdana itu sebagai bentuk perkenalan yang menyenangkan dengan kota ini.

Saya memilih Paris sebagai tujuan residensi penulis, sebuah program beasiswa yang digagas oleh pemerintah, dan karena alasan membutuhkan keringanan finansial saya kemudian memutuskan tinggal di wilayah Orly, di pinggiran selatan Paris. Ibu semang saya menjelaskan sekelumit tentang tempat kami tinggal, yang baginya dapat diistilahkan sebagai “cukup kiri”. Di daerah kami, pemerintah municipal mewajibkan apartemen privat (dalam artian, semacam apartemen yang dihuni oleh orang-orang kaya) dan apartemen pemerintah (semacam apartemen yang disubsidi oleh negara) untuk dibangun saling berdampingan—dan beberapa nama pemikir ataupun politisi kiri Perancis menjadi nama rue dan avenue daerah itu. Ibu semang saya menyewa apartemen pemerintah dengan tarif relatif terjangkau bagi seorang pensiunan sepertinya, di avenue Adrien Raynal, yang diambil dari nama seorang komunis militan.

Setelah membantu saya dengan kartu transportasi umum itu, Nesha bilang dia ingin ke kebun binatang, yang terletak di salah satu stasiun yang akan saya lewati juga, sebelum pulang ke rumah, dan menawari saya untuk menyertainya. Saya mengiyakan ajakannya. Kami akan berhenti di stasiun metro Gare d’Austerlitz, sebelum saya melanjutkan perjalanan ke stasiun metro Crimée, untuk mendaftarkan diri ke sebuah tempat kursus bahasa Perancis, dan dia pulang ke Trocadero.

Tempat kursus bahasa Perancis murah itu terletak di bilangan kanal Villette. Saya pikir, mengikuti kursus akan membuat saya punya alasan untuk sekali jalan menuju pusat kota Paris, meriset ke perpustakaan ataupun museum, yang jaraknya satu jam perjalanan metro dari rumah kos saya di banlieue, sekaligus berinteraksi secara wajar dan rutin dengan penghuni kota. Dengan berbagai pembenaran untuk mengeluarkan sepeser uang demi kursus, saya menambahkan satu alasan yang terdengar bijaksana bagi diri sendiri: jika kelak saya ingin iseng menerjemahkan karya sastra Perancis ke bahasa Indonesia, bekal bahasa ini bisa membantu saya. Nantinya ketika pulang ke Indonesia, saya tinggal mendalami lagi.

Beberapa pekan setelahnya, saya bertemu Johanna Lederer, seorang pendiri sebuah komunitas pencinta kebudayaan Indonesia, Komunitas Pasar Malam—nama yang disitir dari buku Pramoedya Ananta Toer Bukan Pasar Malam, ia bersepakat untuk menerjemahkan dua cerita pendek saya ke dalam bahasa Perancis dan menerbitkannya dalam jurnal terbitan mereka. Pertemuan itu membuat saya berpikir, mengapa tidak, untuk punya impian membalas jasa dengan menerjemahkan karya sastra Perancis juga suatu saat nanti?

Sepanjang perjalanan, saya memperhatikan orang-orang di sekeliling saya. Banyak, teramat banyak gelandangan—entah itu warga lokal yang menjadi pengangguran dan tak mampu menyewa hunian lagi ataupun imigran yang menggelandang karena tak memperoleh perlindungan pemerintah.

Ada juga banyak wisatawan, karena Paris adalah destinasi pertama dunia dalam hal wisata: para wisatawan kaya yang tampak dari dandanannya—yang tentu didominasi oleh orang-orang China—dan para wisatawan miskin yang menggendong ransel lusuh dan menggeret kopernya ke mana pun, barangkali sedang mencari hostel murah lainnya yang bisa disewa untuk beberapa hari.

Lantas, warga lokal yang membawa tas belanjaan penuh barang, atau menuntun anjing yang lehernya diikat tali, atau mendorong troli bayi, atau menjinjing otoped, atau memanggul sepeda dan helmet.

Orang dari ras berbeda bercampur baur: kulit hitam, kulit sangat hitam, kulit kuning, kulit putih, kulit sangat putih, rambut merah, rambut pirang, rambut hitam, rambut warna-warni, dengan gaya berpakaian yang berbeda-beda, dengan tatapan dan gestur janggal yang tak terpahami, ataupun dengan suara keras terdengar sedikit berteriak di telepon. Soal kebiasaan bertelepon ini, di hampir setiap pinggir jalan, kita akan mendapati orang-orang kulit hitam yang getol mengobrol dengan lawan bicaranya di telepon dengan bahasa yang campur baur: Arab, Perancis, Inggris, dan entah apa lagi.

Di tengah banyak orang yang menarik bagi saya dan ingin saya ajak bicara satu persatu tapi tidak memungkinan untuk melakukannya, pertemuan dengan Nesha mencukupi rasa penasaran saya untuk mengenal yang lain.

Nesha mengaku bahwa dia menjadi warga negara Perancis karena orang tuanya menetap dan membesarkannya di sana, walaupun pada mulanya itu bukan perkara mudah—sebagaimana yang terjadi pada imigran-imigran negara Afrika bekas koloni Perancis juga. Lantaran cerita yang saya dengar darinya, dia menjadi orang pertama yang membuat saya berpikir untuk menulis kisah-kisah tentang orang-orang imigran—dan kemudian mengunjungi museum imigran, musée national de l’histoire de l’immigration.

Sore sebelumnya, di hari pertama saya tiba di Paris, ibu semang juga telah mengajak saya berkenalan dengan orang-orang perahu (boat people). Pertemuan yang entah disengaja atau tidak, karena ia memang berencana menjamu kedatangan saya dengan makan nasi goreng ikan teri pedas di sebuah restoran Vietnam favoritnya—orang-orang di restoran itu adalah mereka yang pernah mengalami derita mengapung di lautan lepas selama berhari-hari demi menyelamatkan diri dari Perang Vietnam, “Saat mengapung itu, kami selama tiga hari tidak makan dan tidak mungkin meminum air laut,” begitu katanya.

Kami berjalan melintasi taman dan Nesha tiba-tiba mencerocos, “Cowok-cowok Perancis itu brengsek, tuh kamu lihat, mereka bakal merayu ceweknya dengan barang murah. Setelah si cewek berhasil dijerat hatinya, si cowok nantinya pasti mengajak makan, tapi maunya minta dibayarin si cewek saja.”

Tapi, bukankah kebanyakan laki-laki memang seperti itu atau tidak seperti itu atau berada di irisan itu? Melakukan generalisasi adalah perilaku yang payah ketika hidup di tengah orang-orang dengan berbagai latar belakang seperti ini. Sejauh ini, memang tak terjadi perselisihan antara warga lokal dan pendatang. Tapi apa yang saya tahu? Seorang penulis kontemporer Perancis, Michel Houellebecq, dalam karya terbarunya menunjukkan kebenciannya pada imigran dan semacam fobia terhadap Islam, dan entahlah apakah ia akan mempengaruhi lebih banyak orang lagi atau tidak. Perdana menteri Perancis, Manuel Valls, dalam sebuah wawancara bahkan berani menyatakan, “Perancis itu bukan Houellebecq, Perancis bukan negeri intoleran, penuh kebencian dan rasa takut.” Meskipun, sebenarnya masih kontroversial apakah Houellebecq ini melancarkan kritik pada Islam secara umum, ataukah hanya militan Islam seperti karakter yang dipilihnya dalam novelnya.

Saya menatap wajah Nesha sungguh-sungguh, apakah dia pernah dibuat patah hati oleh seorang pemuda Perancis? Pada akhirnya, saya mendapati alasannya menjadi sesinis itu, karena kemudian dia bilang dia tak pernah menikah, dan tak sedang punya pacar—di usianya yang sudah memasuki usia pensiunan. Sialnya, dia tampak tiga puluh tahun lebih muda dari usia biologisnya.

Tampaknya dia bisa kelihatan semuda dan seenergik itu karena sangat menikmati hidup. Pemerintah Perancis memastikan para pensiun dan para penganggur untuk dapat mengunjungi tempat-tempat publik yang berbayar dengan gratis. Bukan hanya tempat wisata, saya dengar beberapa tempat makan pun dapat memberikan makanan gratis kepada para penganggur. Untuk soal kunjungan gratis setiap saat ke tempat-tempat wisata, Nesha memanfaatkan statusnya sebagai pensiunan dengan sebaik-baiknya. Hampir setiap hari, dia berkunjung ke kebun binatang.

“Kenapa bukan ke museum atau tempat wisata lain yang lebih disukai turis?” tanya saya.
Dia sendiri merasa janggal menjawab pertanyaan saya, baginya itu adalah caranya mengisi kekosongan ditinggal mati ayahnya yang semasa hidup gemar mengunjungi kebun binatang.

Semua pekerja di tempat itu mengenalnya, menyapanya dengan ramah saat Nesha lewat. Dia bahkan secara sukarela menjadi pemandu yang menjelaskan tentang segala tabiat binatang di sana kepada para pengunjung yang datang. Saya menyukai berjalan di sisinya, memandang orang-orang yang mengagumi pengetahuan Nesha tentang kebun binatang itu. Kami bertahan di sana hingga jam tutup kebun binatang, dan berpisah di stasiun metro setelah bertukar nomor kontak. 

Saat sendirian tanpa ditemani Nesha di dalam metro di perjalanan ke tempat kursus ataupun perjalanan pulang ke rumah, saya mulai merasa terasing.

Dengan jas ataupun pakaian formalnya, saya bertanya-tanya apakah salah seorang dari orang-orang yang membaca buku-buku tebal di hadapan saya itu mengajar di universitas bergengsi? Ataukah orang parlemen? Apakah di antara mereka yang membaca buku itu, salah seorangnya adalah penulis muda Perancis dan sedang meniti kariernya?

Di dalam metro ini, bukan hanya soal ras dan warna kulit, ataupun kepercayaan yang dianut, orang-orang kaya dan orang-orang miskin, para figur publik dan orang biasa tampak tidak keberatan untuk saling membaur—dan saya, meski terasing, entah kenapa sekaligus juga merasa turut membaur di tengah keberagaman ini. Tidak seorang pun dari kami memandang aneh kepada satu sama lain, terlepas dari demikian banyak perbedaan secara fisik, dan hanya karena itu, di akhir hari saya merasa seperti tidak sedang berada di tempat asing. [*]

2014/06/05

Mokamentor dengan AS Laksana (2)

Ternyata, saya dan AS Laksana memiliki pandangan yang berbeda tentang pola program mentor. Saat saya mengontak mentor saya di awal Mei dengan tawaran mentor-jarak-jauh yang barangkali bisa disesuaikan seperti kelas dasar penulisan yang saya temui lewat tautan ini, ia membalas:
Sebenarnya aku mengharapkan hal yang berbeda dengan program mentoring, yang kupikir akan menjadikan suasana pembelajaran lebih informal dan tiap pertemuan akan menjadi kesempatan untuk saling berbagi. Aku tidak akan berteori macam-macam dalam mentoring dan hanya menyampaikan apa-apa menurut pengetahuan yang kumiliki. Dan merespons perkembangan pekerjaanmu dalam cara seperti itu juga. Tapi kok pertemuan kita tidak berjalan lancar ya?
Melalui jawabannya itu, saya menduga AS Laksana meminta ketuntasan beberapa bab Obituari Omi untuk kemudian dikomentari. Apalagi, saat ia menambahkan: “Jadi, kita saling menunggu. Padahal yang lebih baik adalah saling mendahului.

Bila kamu dalam keadaan dengan sengaja vakum menulis fiksi selama setahun (dan kerjamu hanya berkutat dengan naskah nonfiksi) dan kamu merasa ada kisah yang mesti kamu tuliskan, tapi rasanya berat betul untuk memulainya, bagaimana perasaanmu saat membaca kalimat itu?

Sekarang sudah bulan Juni, dan saya belum mulai menulis Obituari Omi. Dan, sejak surel dibalas pada pertengahan Mei, saya tidak berani menyambangi sang mentor karena saya tak menghasilkan perkembangan apa pun. Padahal sebelum ini, saya terbilang cerewet sekali untuk bertanya. Misalnya, dalam satu percakapan, saya pernah menanyakan tentang Indonesianis di Australia yang banyak menerjemahkan karya-karya penulis Indonesia, tapi tak melihat kecenderungan orang Indonesia balik menerjemahkan karya-karya penting di Australia atau Oseania. Ambil contoh, Patrick White yang menjadi satu-satunya pemenang Nobel dari Australia, bila kita tak menghitung Coetzee yang sejatinya kelahiran Afrika. Saya belum melihat teman saya punya karya terjemahan Patrick White. Atau, suatu kali saya pernah menanyakan pendapatnya tentang Omi Intan Naomi dan Oriana Falacci, dua perempuan galak yang menjadi model peranan karakter Omi dalam Obituari Omi.

Meski saya tampak tak peduli-peduli amat pada euforia menjelang pilpres ini (yang membuat orang-orang tampaknya sedikit melupakan Piala Dunia minggu depan), selama mengerjakan novel Obituari Omi ini, saya dibarengi tuntutan kerjaan lain yang benar-benar menyita waktu dan pikiran. Kalau tiba masanya saya punya waktu untuk menggarap si jabang novel, saya justru sulit berkonsentrasi.

Plot dan karakter sudah benar-benar utuh di kepala. Setting dipilih di rumah makan Cina karena saat meminjam toilet di sebuah rumah makan Cina, saya melihat sebuah keluarga sedang makan malam, dengan seorang kakek duduk di kursi roda, saya juga merasakan interaksi yang hangat di antara pengolah masakan dan pencuci piring di rumah makan itu. Sesederhana itu. Selain itu, Omi ternyata punya seorang adik perempuan dengan karakter bertolak belakang darinya karena saya tiba-tiba merasa karakter Omi tidak akan hidup bila dia menjadi anak tunggal. Kedua orang tuanya tidak jadi mati karena kecelakaan, saya menyisakan ibunya untuk Omi, sementara ayahnya terbunuh secara janggal dan karena peristiwa pembunuhan janggal itu, sang Ibu akhirnya menjadi gila dan dirawat di rumah sakit jiwa. Yang masih tetap sesuai dengan plot semula hanyalah nenek dan kakeknya yang cerewetnya tiada tara. Selain itu, Omi akan berkuliah Filsafat dan dia akan memiliki kelompok pergaulan seperti teman-teman di Lifepatch. Dalam satu kesempatan, saya menculik seorang teman dari Jakarta dan pacar adik sepupu saya untuk mampir ke sana dan kami sepakat bahwa semangat interdisipliner baik ditumbuhkan dalam satu karakter. Saya ingin para muda-mudi yang membaca Omi akan memiliki ketertarikan luas, mendalam, dan mendasar seperti Omi (ceile). Meskipun saya sudah merencanakan demikian, saya sejujurnya masih ketar-ketir juga memikirkan teknik yang tepat untuk menjadikan ide-ide ini tidak bermuatan berat. Saya ingin menuliskan kisah remaja yang sederhana, tapi menunjukkan rasa penasaran, gejolak hidup, keceriaan, kejahilan, humor gelap, persahabatan, dan semua hal-hal mendasar itu dalam karakter Omi dan teman-teman di sekitarnya.

Jadi, dengan betapa terangnya kisah Obituari Omi ini di kepala, plot dan fragmen itu sebetulnya hanya tinggal dituliskan kalimat per kalimat. Ada beberapa hambatan kecil sebelum kesadaran "disiplin" itu datang pada saya. Kibor laptop saya sempat rusak karena sederetan huruf di bagian 'zxcvbnm,.' begitu susah ditekan (saya sampai perlu seperti memukul-mukul mereka untuk bisa mengetikkan huruf di barisan itu), dan itu lumayan menghambat produktivitas (untuk segala hal yang berkaitan dengan ketak-ketik). Untunglah, hati saya akhirnya terketuk untuk merelakan kibor (yang membantu menyelesaikan SPTJKYJTC) diganti dengan yang baru. Selain masalah kibor, entah kenapa, terkadang saya merasa tak menemukan tantangan dalam menggarap Obituari Omi. Saya masih mencari-cari "eksperimen" macam apa yang bisa saya lakukan dalam mengeksekusi ide-ide itu. Maka itu, kerja saya sehari-hari, untuk menyemangati diri menulis novel, adalah membaca wawancara-wawancara di The Paris Review atau mencari informasi seputar film yang saya sukai (siapa sutradaranya, apa yang sedang digarap penulis skenarionya, dobrakan apa yang mereka rencanakan) dan mengunduh buku-buku elektronik seputar tema novel. Artikel-artikel di Paris Review, misalnya, berguna juga untuk melihat pergulatan hidup para penulis, mengetahui resep rahasia dalam menggarap karya-karya mereka, atau setidaknya berbagi derita betapa penuhnya hidup. Dan, tetap saja saya belum bisa mulai menggarap novel saya sendiri. Terlalu banyak asupan informasi yang tertimbun, entah di sebelah mana di kepala ini.

Saya mengirimkan plot novel ke AS Laksana, sekitar 4 halaman berisi fragmen-fragmen dan karakterisasi, pada 13 Mei. Senormalnya kelas berjalan setiap dua minggu. Namun, saya lebih sering merasa sedang belum perlu berkonsultasi hingga awal Juni ini, sebab balasan surel AS Laksana esok harinya membungkam saya: 
Sudah kubaca, Dewi. Aku belum bisa membayangkan detailnya akan seperti apa dan cerita ini bakal berkembang ke arah mana. Tapi menulis novel seringkali begitu. Dalam hal ini aku agak sepakat dengan E. L. Doctorow yang mengatakan, "Menulis novel serupa dengan mengemudikan mobil di malam hari. Kita hanya bisa melihat ke depan sejauh nyala lampu, tetapi kita tetap bisa menempuh perjalanan sampai tujuan."
Saranku, menulislah setiap hari pada jam yang sama. Terserah kau bisa memilih waktumu sendiri. Menulis pada jam yang sama adalah cara yang baik untuk mempersiapkan tubuh dan kesadaran. Sehingga menulis akan sama dengan kegiatan sehari-harimu yang lain, seperti makan, tidur, dan sebagainya. Menulis pada akhirnya hanya cara kita membangun kebiasaan.
Nanti akan kubaca satu kali lagi, satu kali lagi, satu kali lagi, dan seterusnya dalam seminggu ini, sampai aku menjadi akrab dengan cerita yang hendak kautulis.
Atau, sepertinya saya akan mulai berkonsentrasi menggarap Obituari Omi ini di bulan Juni. Saya sering bilang kepada beberapa orang, bahwa bulan Juni adalah bulan keberuntungan bagi saya: bulan ketika cerpen saya dimuat untuk kali pertama, ketika saya memulai kalimat pertama SPTJKYJTC dan kemudian saya menjadikannya cerpen untuk hadiah ulang tahun diri sendiri, dan ketika akhirnya SPTJKYJTC terbit. Saya pikir, saya mesti menambah satu keberuntungan lagi dalam daftar itu: bulan ketika naskah novel Obituari Omi ditamatkan. 

2014/04/15

Mokamentor dengan AS Laksana (1)

Semestinya laporan ini rampung ditulis sebulan lalu. Justru keduluan tulisan dari sang mentor dan tulisan Diego Christian sebagai rekan sekelas.

Pertemuan terjadi di Hotel Santika dan kami mengobrol di kursi sebelah kolam renang hingga dini hari. Bayangkan betapa bahagianya saya bertemu duo sahabat penulis ini dalam satu kesempatan: AS Laksana dan Yusi Avianto Pareanom.

Saya selalu senang bertemu mereka. Yusi tahu tempat makan enak dan suka membagi humor, sehingga setiap makan bersama, saya kerap memesan menu yang sama dengannya. Malam itu pun saya menerapkan kebiasaan saya itu. Dalam perkara menulis, Yusi suka menganalogikan proses menulis seperti proses memasak: ada bahan belanjaan, resep masakan dan perkakas, serta cara pengolahan yang tepat. AS Laksana kira-kira mempraktikkan metode penulisan yang sebelas-dua belas; silakan diakses lewat buku Creative Writing. Sudah lama saya menganggap dua orang ini seperti guru sendiri. Walaupun baru belakangan melalui tulisan Diego Christian, saya tahu di kelas Jakarta School AS Laksana pernah menjadi guru dari beberapa penulis produktif.

Di pertemuan pertama, keajaiban itulah yang dilakukan mentor saya. Kejaiban yang tampaknya bisa membuat seseorang menjadi penulis produktif. Saya sempat menganggap menulis menjemukan. Alasannya banyak. Berbagai pemicu menulis (writing prompt) telah saya coba untuk mengatasinya: memilih tiga kata unik dan menebarkan kata-kata itu di dalam tulisan secara acak, menonton film dan mengambil satu fragmen menarik dan memulai cerita dari sana, mencomot satu kalimat dari buku favorit sebagai pembuka cerita, hingga mengumpulkan kliping-kliping koran untuk dijadikan sumber ide. Kesemuanya gagal dan hampir dipastikan saya vakum menulis dalam setahun itu. Saya masih merasa buntu. Namun kebuntuan itu dengan mudahnya ditembus oleh AS Laksana dengan bilang, “Menulis jelek saja di awal, yang terpenting kemudian kamu harus mengeditnya sampai jadi bagus.” Penulis yang baik adalah mereka yang menyiapkan waktu untuk membaca kembali tulisannya dan melakukan koreksi tanpa manja menunggu orang lain untuk melakukannya. Menulis jelek di awal dan baru kemudian mengeditnya hingga jadi bagus, itu adalah ide yang sangat brilian.

“Lantas, kapan kita tahu harus berhenti mengedit?” tanya saya waktu itu.

“Sampai kita sudah merasa kewalahan,” jawab AS Laksana. Hingga hari itu, ia sudah mengedit bakal novelnya, Medan Perang—yang dahulu terbit berkala sebagai cerita bersambung di harian Suara Merdeka, hingga tiga puluh kali.

Jadi, malam itu, persoalan terkait hambatan menulis (writer’s block) terpecahkan.

Perkara substansi, untuk proses mentor ini saya menyiapkan naskah novel tentang seorang gadis remaja, sejauh ini dia yatim-piatu dan dibesarkan oleh kakek-neneknya saja, cuplikan (snippet) bisa dilihat di sini. Ada latar belakang yang pilu sehingga dia menjadi sosok dingin, terkadang angkuh. Judul novel ini nantinya Obituari Omi. Kehidupannya cukup ajaib karena dia, kemungkinan besar, akan memiliki kemampuan supranatural. Dia bisa meloncat-loncati dimensi waktu melalui mimpi. Berkali-kali, dia datang ke masa depan lewat mimpi. Selain itu, barangkali akan ada kebencian yang sangat pada sistem pendidikan di Indonesia yang menjadikan guru dan murid selayaknya robot, saya belum tahu apakah akan menjadikan cerita bernuansa utopis, tapi sepertinya jangan sampai. Saya dan mentor saya, kendati novel mengandung unsur-unsur mistis itu, meniatkan novel ini bersifat realis. Jadi, PR yang harus saya pecahkan ada dua: 1) Menjadikan unsur-unsur paranormal itu tampak riil (mungkin menambahkan unsur sureal, tapi bagaimana?), 2) Mengolah alur kehidupan Omi yang bertumpuk-tumpuk agar tak terkesan dipaksakan—alias deus ex machina (kata AS Laksana, saya bisa mengusahakan kemulusan cerita di tataran plot). Oh, ya, Omi memelihara hamster dan reptil, juga membuat taman di belakang rumahnya. Juga, lantaran Omi seusia dengan mahasiswa baru, jadi dia akan menemukan teman-teman di kelas perkuliahan. Saya juga akan mengambil setting daerah pertanian. Sejauh ini, karakter telah terbangun, selain dua PR di atas, saya masih mesti mencarikan plot untuk menjadi jalur perjalanan bagi Omi.

Oh, ya, saya membuat corat-coret selama mendengarkan petuah dari sang mentor. Saya mungkin akan menyertakan fotonya di tulisan berikutnya.

2014/02/21

Tentang Drop Out Bersertifikat Itu

Dini hari itu, sekitar bulan Desember 2011, saya sedang menghapus satu per satu catatan saya di Facebook di ruang depan B21. Azhar tiba-tiba datang di muka pintu. Ia tanya apa yang sedang saya lakukan. Saya jelaskan, saya sedang menghapus catatan FB.
            “Apa enggak kasihan? Ada berapa banyak, tuh? Itu, kan, bisa jadi momen. Nanti kamu menyesal, lho...”
Azhar suka menekankan kalimatnya dengan tambahan partikel ‘tuh’ dan ‘lho’, dengan dialek yang agak menggebu, bidang dada hingga wajah yang lebih maju saat bicara, dan gerakan tangan khasnya, gerakan yang memutar-mutar. Kalau kamu sedang beruntung, kamu akan lihat semua itu dibarengi dengan tawa jenaka seorang kanak-kanak.

            “Ratusan... Ah enggak, aku sudah simpan semuanya jadi notes format PDF.”
Ketiga ratus notes itu.
            “Memangnya kamu kenapa hapus semua notes itu?”
Dan begitulah kemudian saya bercerita banyak, tentang keluarga, tentang pertemanan, tentang hidup. Azhar dan saya mungkin lupa apa yang saya bicarakan saat itu (saya ingat sebagian cerita Azhar tentang keluarganya, tapi samar-samar).

Azhar tipikal teman yang sangat halus budinya. Ia seakan-akan selalu menggunakan perasaan, dan minim menghakimi, saat berhadapan dengan orang lain. Baru belakangan hari saat menjalani tes Myers-Brigg pada kunjungan kami di GE dalam rangkaian acara KEM Tempo Institute, saya tahu arketipenya memang I, S, F, dan P. Saya hafal arketipenya karena kesemua itu memang mencerminkan dirinya. Sensing, tentu saja, ia menjadi pemimpin redaksi Balairung di tahun pertama saya bergabung dengan organisasi pers kampus itu. Feeling, saya yang pelupa ini bahkan ingat bagaimana kami berbincang di halaman depan B21 dan ia bercerita tentang penulis favoritnya, Erich Fromm. Buku yang ia baca berulang kali hingga lepak. Saya lupa judulnya, yang jelas bukan The Art of Loving, tapi saya rasa ia pun khatam TAoL. Berceritalah tentang cinta dan perasaan kepada Azhar, ia maha pendengar (maafkan saya, Tuhan, tapi hal itu memang benar adanya), maka itu ia perceiving.

Beberapa momen di KEM Tempo Institute menjadi peneguh arketipe Azhar itu. Ia barangkali menjadi yang paling dicintai di acara kemah itu. Bagaimana tidak? Ia berinisiatif memutarkan film setiap pagi, film-film kartun dan The Simpsons. Ia menjadi abang dari gadis-gadis imut seperti Sita, Ulfa, dan Fatimah, saya melihat Azhar bengong di lorong halte busway untuk menemani para gadis itu melihat-lihat jilbab. Pria dengan kaca mata hitam dikerumuni banyak gadis. Ia tampak lucu sekali. Dan dari Azhar saya kenal istilah Manikebu dan Lekra. Saat itu di kamar peserta pria KEM, saya mampir untuk bikin rusuh, dan ia bahaslah tentang dua term sastra itu. Saya bilang saya tak tahu. “Kamu yakin kamu enggak tahu, Chelle? Kamu, kan, menulis sastra...” Saya keukeuh bilang saya tak tahu, karena memang tak tahu. Itu Oktober 2012, seingat saya. Azhar justru tertawa dan bilang, iya wajar juga saya tak tahu. Ia benar-benar jarang menghakimi orang lain. Dua bulan kemudian, novel saya malah menang sayembara menulis novel DKJ. Saya merasa seperti dikutuk. Juga dari Azhar saya tahu tentang diplomat, Agus Salim, yang ogah makan pakai alat makan dan justru menggunakan tangan untuk menikmati santap-jamuan kenegaraan. “Jadi kenapa kita mesti gaya-gayaan?” komentarnya. Saya yakin ia introvert, karena di malam anugerah KEM itu, di ballroom hotel saat semua orang menikmati santapan sambil berdiri, Azhar mengajak saya menyendiri ke belakang ruang makan. Saya lupa apa yang kami obrolkan selanjutnya. Saya hanya merasa momen seperti itu menyenangkan. Dengan siapa lagi kamu akan menyendiri di tengah pesta kecuali dengan teman yang sama-sama tak nyaman dengan pesta? Eh, Azhar waktu itu merasa nyamankah di tengah pesta? Oh, ya, lalu tentang 18.800 (tolong dikoreksi, ya), ada satu permainan di KEM yang menunjukkan bagaimana Azhar mampu menggerakkan “para borjuis” untuk mengembalikan semua harta yang timpang ke keadaan setara. Biarlah hanya kami yang paham jenis permainan Marxian macam apa yang diujicobakan panitia KEM kepada kami.

Di luar banyak selebrasi itu, saya menjalani dua momen demonstrasi turun ke jalan dengan Azhar, demonstrasi hari pendidikan dan demonstrasi hari buruh. Eh, tiga, kalau kunjungan sebentar dalam demonstrasi tuntutan pembukaan program ekstensi di UGM juga dihitung. Azhar sangat suka demonstrasi, dan revolusi, begitu katanya. “Yang penting hidup itu harus bergerak, enggak statis. Ada yang diperjuangkan.” Belakangan waktu, ia juga ikut advokasi rekan-rekan petani energik di Kulon Progo dalam rangka tuntutan menolak paksaan investor luar membangun tambang di sana yang prosesnya sudah berlarat-larat sejak 2006, juga saat ia hendak merampungkan kuliahnya, Azhar masih berjibaku membela hak-hak buruh transjogja yang di-PHK sepihak dan menghabiskan malam untuk "menuntut" di depan DPRD. Ayah Azhar konon tak menyukai aktivitas Azhar yang satu ini.

Saya bertanya-tanya apakah akan ada lebih banyak takdir bagi kami untuk merayakan selebrasi dan revolusi bersama lagi? Beberapa hari lalu, ia sudah resmi “drop out bersertifikat” dari UGM—kalau menggunakan istilah Nara. Ia akan ke Jakarta. “Ajari aku jadi anak gaul ya, Chelle, kalau kamu mampir-mampir di Jakarta...” begitu katanya, intonasinya wajar dan tidak dibuat-buat, saat saya datang di hari wisudanya. Benarlah kenapa AP sempat bilang tentang Azhar yang sebagai rivalnya (pikir saya, selain karena Azhar sudah jelas dengan apa yang ia hendak perjuangkan dalam hidup ini, terutama karena Azhar juga sangat tekun dan giat dalam membaca buku).
            “Berapa banyak buku yang kamu baca, Mas?”

            “Aku pembaca yang lambat, Chelle... Setahun saja cuma...”
Ia menyebut angka yang memang sedikit. Namun, saya yakin ia tekun terhadap bacaannya,  dan bukan tipikal orang yang meloncat-loncat dalam gagasannya. (Meski di awal masuk Balairung, saya sering hadir di diskusi di mana Azhar sering berputar-putar saat menjelaskan sesuatu.)

Akhirul kalam, akan jarang ada orang yang begitu rendah hati dan tulus seperti itu di zaman seperti ini. Saya rasa, meski sepertinya saya tak begitu berarti amat di hidup Azhar karena saya terlalu sering jadi peran figuran yang muncul sebentar untuk mencuri pengetahuan lalu hilang lagi untuk menyendiri, saya akan sangat merindukan sosok-sosok seperti Azhar. Atau karena ia tidak tergantikan, yang bisa saya doakan untuknya saat ini adalah supaya ia tidak berubah menjadi sosok yang bukan Azhar. Ia harus juga mengeksplorasi karakter spekulatif, sinis, dan lainnya, tapi tentu dengan karakternya yang sangat tulus, rendah hati, dan polos itu, saya berharap dunia akan memeluk dan menjaganya seerat-eratnya. Semoga abang kami tercinta ini ditunjukkan jalan untuk melakukan lebih banyak kebaikan bagi orang lain.

*) Ditulis saat sedang patah hati berat. Hahaha. :)
**) Mulanya diunggah di blog, tapi malu dibaca Mas Azhar, jadi dihapus lagi, eh tahu-tahu dia sudah baca dan SMS, jadinya enggak enak, maka dipasang di sini lagi. :D
***) Terima kasih untuk pembelajaran yang engkau beri padaku selama tiga tahun ini, Mas. Entahlah, kapan aku bisa bersikap seempatik dan sesimpatik kamu. :D *it's a compliment*

2014/01/14

Kopi, Pak Don Hasman, dan Petualangan

Azhar pernah mengajarkan saya cara tepat minum kopi saat ia memesan espresso, yang saya sebut kopi kental dalam cangkir mini. Hirup dalam-dalam kopi itu, hingga ke langit-langit mulut. Pikir saya waktu itu, kapan kopinya akan habis?

Don Hasman, seorang fotografer kawakan, kembali mengajari saya cara menghirup kopi. Kakek jenaka yang menampung dunia di kepalanya ini cukup dikagumi oleh Mas Pepeng, dokter penjaga Klinik Kopi yang saya singgahi sore ini. Di depan sang kakek, jagoan kopi ini menunjukkan wawasannya. Ia menunjukkan gambar biji kopi yang berwarna merah rekah berkualitas premium dan membandingkannya dengan biji-biji kopi di pasaran yang sudah tak elok lagi.

Untuk percobaan pertama, saya menghirup kopi Takengon, yang konon diperoleh dari permukiman Suku Gayo di ketinggian 1.300 mdpl. Kopi disajikan sesuai dengan lama penggilingan yang dikehendaki. Semakin lama menit penyajian, semakin asam rasa kopi. Kopi Ciwidey, favorit Mas Pepeng, tersaji untuk Pak Don dan kakek itu pun menceritakan tentang seseorang di Surabaya yang pernah ia wawancarai dan katanya bisa mengidentifikasi hingga 86 jenis kopi, urutan ke-2 dunia. Pemenangnya orang Brazilia atau Kolumbia yang bisa mengidentifikasi hingga 160-an jenis kopi.

Saya bahkan tak bisa membedakan kopi dari dua merek berbeda. Kalau betul menghirup adalah cara yang tepat menikmati kopi, maka secangkir kopi Takengon saya hari ini menjadi kopi pertama yang saya nikmati dengan cara yang terpuji.

Sudahlah tentang kopi. Mari bincangkan fotografi. Tujuan saya singgah ke Klinik Kopi karena kebetulan Pak Don mengisi diskusi tentang etnofotografi. Sekalian juga saya ingin mampir ke pameran Komunitas Analog Jogja (KAJ) dengan tema yang sangat biasa bagi saya yang termasuk bukan orang baru lagi di Yogya; Face of Jogja. Sayangnya, tema biasa ini pun diperlakukan dengan alakadarnya. Foto-foto tampil dengan objek dan eksekusi monoton yang lebih banyak mengeksplor adat Jawa yang itu-itu saja (tapi saya pun tak begitu paham kamera analog, kecuali saat SMP pernah diajari mengatur eksposur, ASA, dan lainnya oleh ayah-saya-yang-tukang-foto dan saya kemudian kapok tak ingin mencoba lagi). Selebihnya, ada dua foto dari Hardy Wiratama dengan teknik cukup menarik, membuat gabungan rerimbunan pohon dan bangunan yang belum jadi, lalu satu foto berjudul Double Date—entah oleh siapa—yang menampilkan dua pasangan yang memadu cinta sementara di belakangnya ada sosok pemulung yang tidur terlentang.

Highlight acara mungkin ada pada Pak Don yang enerjik. Usianya sekira tujuh puluhan, dan masih doyan jalan kaki, keliling-keliling, naik gunung, sambil memotret. Pak Don bikin presentasi tentang potret-potret etnografisnya di Tengger. Kunci dari foto-foto etnografisnya terletak pada detail proses kehidupan masyarakat suku yang ditelitinya, dari lahir hingga mati, dengan penekanan pada sosok masyarakat yang ekspresif—dan kalau bisa diambil dengan candid, budaya, arsitektur, hingga kuliner. Ia selalu bikin rencana dan melakukan riset sebelumnya. Dan, untuk sekali potret suatu daerah—contohnya Baduy, ia perlu tinggal langsung dengan warga setempat selama delapan tahun. Pengalaman Pak Don keliling Indonesia, mendaki Himalaya, pergi ke Tibet, menjelajahi Eropa, dan membayangkan seluruh dunia sebagai destinasinya, memicu saya untuk menggali lebih banyak lagi tentang kemanusiaan di setiap tempat di dunia dan menuliskannya menjadi fiksi. Jangan salahkan kalau besok-besok saya akan banyak menulis cerpen dengan muatan unsur lokal karena ingin menjelajahi tempat-tempat itu melalui fiksi saya. Terima kasih, Pak Don. Sebuah kesempatan yang menyenangkan untuk bertemu denganmu hari ini.

P.S. Sepertinya saya tak akan mencari-cari lagi nama samaran karena belakangan waktu ini kebanyakan membaca nonfiksi Pram, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu—yang walau dibenci oleh orang-orang di dunia kecil-nya, ia tetap tangguh untuk menggunakan nama asli pemberian orang tuanya.

2013/11/20

Tentang Proses Kreatif #SPTJKYJTC

Saya tak pernah mengharapkan sesuatu yang besar dari novel ini. Memang sejak kenal penghargaan DKJ, dan juga penghargaan KLA, kira-kira sewaktu kelas 3 SMA, di tahun 2008, saya pernah berharap untuk memenangkannya. Muluk-muluk, saya pernah ingin menjadi salah satu penulis muda berbakat-nya KLA. Namun, kita semua menua, dan saya sudah tak peduli pada penghargaan, mungkin itu yang namanya menjadi dewasa. Setelah karya saya terbit, ternyata menerima pendapat dari pembaca lewat surat-e sudah melipur semua lara (saya ketemu alasan kenapa lebih suka menaruh alamat surat-e daripada akun Twitter dalam biodata pengarang, karena obrolannya jadi lebih panjang).

Perjalanan menulis saya, seperti banyak kanak-kanak lainnya, dimulai sejak saya mengenal huruf. Kakek saya seorang guru, ia yang pertama kalinya mengajari saya baca-tulis. Dua tahun setelahnya, saya benar-benar fasih menulis dan membaca apa saja, waktu kelas 2 SD. Guru saya saat kelas 2 SD itu menemukan kesukaan saya berimajinasi. Diminta menggarap tulisan pendek, saya justru selesaikan dalam dua halaman folio bolak-balik. Karena hal ini, ibu saya dipanggil ke sekolah dan disarankan untuk membimbing saya ke dunia tulis menulis. Entahlah, bukannya dibimbing, saya lupa apa yang membuat saya setelahnya terpental dari dunia satu ini.

Seingat saya, waktu SD, saya sangat suka membaca buku puisi, meski juga suka bolos sekolah. Pinjam satu buku, bolos tiga bulan. Pinjam buku lainnya, bolos hingga enam bulan. Saya ingat, setelah sekian bulan tak sekolah, saya tiba-tiba mesti duduk di kelas 4 SD. Di tengah teman-teman saya yang paham pelajaran Matematika tentang kali silang. Saya duduk di bangku belakang kelas, menggambar saat guru Matematika menjelaskan di papan. Ibu saya dipanggil ke sekolah lagi, kali ini diminta memindahkan saya ke SLB. Kata guru saya, di kelas, saya tampak seperti autis. Kerjanya cuma menggambar dan menulis puisi dalam notes kecil. Lagi-lagi, Ibu saya tak menuruti saran guru saya.

Kembali ke buku puisi. Saya pinjam semua buku yang ada kata “puisi”-nya dari perpustakaan SD, SMP, dan perpustakan daerah. Ada seorang teman saya, waktu kelas 1 SMP, yang mencibir saya saat dia membaca buku yang saya baca. Ada kritik-kritik yang ditujukan untuk salah satu puisi. Saya suka membaca kritik-kritik sastra. Pendapat yang disampaikan untuk puisi itu: rimanya, maknanya, entahlah apa lagi, saya lupa. Tidak hanya berhenti dengan membaca, saya membuat puluhan puisi, dan bahkan menciptakan lagu dari puisi itu. Sampai kemudian saya menemukan terminal lain.

Saat itu, kelas 2 SMP, di jam istirahat, kawan saya memamerkan cerpen yang dibuatnya. Banyak yang menggemari tulisan kawan saya itu. Saya pikir, cuma menulis cerita... hal itu seharusnya mudah. Pulang dari sekolah, saya terpekur di depan komputer dan mengetik sebuah cerita pendek. Judulnya “Kesepian Pagi Hari”. Saya lupa, duluan mana, ibu saya menderita kanker atau saya memulai cerita dengan tokoh yang menderita kanker. Yang jelas, tokoh utama cerpen perdana saya itu mati karena kanker.

2013/09/13

Untuk Nenek: Memorial di Tahun 0

Ada katak-katak dari lagu-lagumu di masa kecilnya yang setia hadir di pemakamanmu. Dia pernah berpikir akan selamanya kau menyanyikan lagu-lagu itu untuknya. Namun di malam esoknya, kau tak lagi menyanyikan lagu itu. Kau membisu dan menepuk-nepuk tubuhnya. Jam di dinding yang kemudian menidurkan cucu semata wayangmu. Hingga kemudian, pada dini hari itu dia dibangunkan oleh kedua orangtuanya, dipisahkan dari ranjangmu.

Ada ikatan yang kuat antara gadis berusia lima tahun itu dengan dapur. Mangkok-mangkok yang dia buat penuh tepung, pemanggang dengan adonan roti yang gosong. Hingga suatu masa, kawan-kawan sebayanya tiba-tiba menarik cucumu dari dunia imajinernya dengan dapur. Dia lantas bermain dengan piring dan gelas plastik, daun-daun dan buah-buah kecil yang ditumbuk, dan berpura-pura menggoreng di wajan. Adonan kopi, gula, dan tepung yang saling lengket dipikirnya dapat menjadi permen.

Ada tangisan di saat dia baru mengerti tentang terbatasnya umur manusia. Hari itu kali pertama dia dipisahkan dari pengasuh yang menjadi temannya sejak kecil. Di mobil itu, di sisimu, dia menangis meraung melihat gadis remaja itu melambaikan tangan padanya. Kalian semua mencoba memberi pengertian. Namun cucumu tetap tidak mengerti kenapa orang-orang bisa dengan begitu mudah pergi dan tidak dapat lagi dijumpai. Saat itu, dia kemudian membayangkan bagaimana bila kelak, pertama-tama, ibunya meninggal, lalu ayahnya, diikuti oleh semua orang yang dia kenal. Dan dia tidak bisa berhenti menangis sepanjang hari itu. Kau yang memeluknya demikian erat.

Ada piring-piring dan gelas-gelas yang dia tinggalkan. Dia bermain dengan busa yang memenuhi halaman rumah, lantas meniupi busa-busa itu hingga menjadi balon-balon transparan di udara. Kau tahu bagaimana kemudian dia selamanya terpisah dari piring-piring dan gelas-gelasmu. Mencuci piring-piring dan gelas-gelas ibunya. Dan lalu mencuci piring-piring dan gelas-gelas tantenya.

Ada keterpisahan yang lama di antara kau dan cucumu itu. Bertahun-tahun setelah dia berhenti memelihara anjing, tidak lagi menjelajah persawahan dan sungai-sungai, tidak lagi memanjati pagar rumah tetangga hanya untuk mencuri ubi, tidak lagi membantu teman-teman sebayanya membangun ogoh-ogoh untuk hari Nyepi. Kau tak tahu apa yang dia lakukan dengan buku-bukunya, persaingan di kelas, hal-hal yang dia tekuni. Kalian tidak lagi saling bicara. Ibu dari cucumu membencimu. Cucumu juga ikut membencimu dan mencoba selamanya pergi dari hidupmu.

Dan setelah sekian tahun berlalu, kau yang kemudian selamanya pergi dari hidupnya. [*]

A Memorial. Yogyakarta, 13 September 2013. Setahun setelah Memorial untuk Kakek.

Tulisan Terdahulu