Sunday, December 1, 2013

Ajal

 
(Cerpen ini pernah dimuat di Media Indonesia, 9 Juni 2013.)


PRIA itu meninggal dua tahun lalu. Menjelang hari kematiannya, saat terbangun dari tidur, ia telah habis menggigiti lidahnya hingga putus. Ia biarkan lidah itu mengering di seprai. Namun, kalian perlu tahu, ia meninggal bukan karena lidahnya putus. Pagi itu, ia masih dapat beranjak ke kamar mandi, bercermin, dan menyeringai lebar ke arah dirinya sendiri. Tak ambil pusing melihat bibirnya yang merah oleh darah.

Rumahnya hari itu sepi. Keluarganya pergi menginap ke vila di wilayah pegunungan. Setelah mengambil koran di teras depan dan menyetel televisi, ia membuka keran air untuk mengisi bak mandi, lantas pergi ke dapur dan di sana menyiapkan sarapan telur ceplok tanpa garam dan kopi luwak tanpa gula. 

Selama menunggu bak penuh terisi, ia merinci detail matriks kerjanya hari itu. Sehari-hari, ia menjadi reporter lepas. Setiap pagi, ia selalu merinci daftar kegiatan baru yang dapat ia lakukan selain meliput dan menulis berita. Hari itu, ia berencana meliput desas-desus presiden yang hendak dimakzulkan dan perkara kenaikan harga daging sapi. Karena dua-duanya berkaitan dengan para pejabat, ia tinggal pergi menuju tempat yang sama. 

Sekilas lalu di televisi ia melihat seorang pria yang mati dikeroyok karena mengumpat Tuhan di internet. Lantaran kejadian yang ia lihat itu, ia tiba-tiba teringat akan Karl Jaspers—seorang eksistensialis Jerman yang selama enam tahun tiga bulan di masa kuliah pernah ia dewakan. Hari itu setelah meliput perkara daging sapi, ia berencana membaca ulang empat situasi batas dalam teori Jaspers itu, tentang 1) Kematian, 2) Penderitaan, 3) Perjuangan, dan 4) Kesalahan. Keempatnya berkaitan dengan takdir si pengumpat Tuhan. 

Selain menambahkan daftar bacaan untuk hari itu, masih ada tiga target kegiatannya yang belum tuntas: 1) Menerjemahkan I La Galigo ke dalam bahasa Inggris dan rumpun bahasa Semitik serta Armenia, 2) Belajar melukis dengan aliran ekspresionisme, dan 3) Berkorespondensi melalui surel dengan para pengoleksi tengkorak. 

Setelah merapikan dan memasukkan kembali semua perkakas pewartaannya ke dalam koper tua, barulah ia menuju kamar mandi. 

Pada hari-hari biasa, kulitnya yang terkikis oleh sabun tidak seberapa tebal. Namun, kali ini, setelah diguyur secentong air, seluruh bagian kulitnya dalam sekejap terlekang. Air yang dingin gigil pagi itu seolah-olah kawah candradimuka. Setelah kulit dari ujung rambut hingga mata kakinya rontok, otot dan saraf pria itu seketika saja mengering dan mengeras. 

Bila kalian pikir pria itu langsung mati begitu seluruh permukaan kulitnya lepas dari tubuh, kalian salah besar. Dengan telapak kaki hanya berbalut otot yang membatu, ia keluar dari kamar mandi sambil membaluti tubuh dengan handuk. Otot-ototnya yang membatu terkikis sedikit demi sedikit hingga sepanjang ia berjalan kemudian menyisakan genangan air yang becek berbaur butiran-butiran kulit yang menjelma pasir.