Tuesday, December 9, 2014

Penulis Fiksi



(Cerpen ini dimuat di Koran Tempo, 12 Juli 2015)

PETANG itu anjingku menyalak ketika tetanggaku berdiri di pagar rumahnya. Ada rangkaian kunci di tangannya. Dengan sebelah tangan menjinjing bungkusan plastik, ia membuka pagar. 

Pria itu orang baru di perumahan kami. Aku tak jelas tahu dari mana ia berasal, kami belum pernah bertegur sapa sebelumnya. Ia kerap pulang larut malam dan membawa bungkusan plastik makanan.

Tirai tipis di kamarnya di lantai dua membuat bayangan tubuhnya terlihat jelas ketika disoroti sinar lampu. Dengan begitu, aku dapat memperhatikan apa yang dilakukan pria kurus berkacamata itu.

Biasanya, setelah menikmati sesuatu di meja makan, ia akan bergerak ke arah tengah ruangan, duduk menghadap layar, mengetik sesuatu, menghabiskan malam terpekur di sana sampai pukul dua pagi, lantas beranjak tidur dan biasanya ia akan kembali duduk di depan layar setelah dua jam lewat. Ia selalu hanya tidur sesebentar itu setiap malamnya. Mungkin saja pekerjaannya menuntutnya lembur di rumah untuk menyelesaikan tugas kantor yang tak sempat selesai. Atau, seperti yang diramalkan ayahku ketika aku meminta pendapatnya tentang identitas tetangga baru kami itu, pria itu barangkali berprofesi sebagai penulis atau jurnalis.

Ia menghabiskan waktu cukup lama untuk merapikan rumah, menikmati makanan di meja makan, sebelum akhirnya ia berjalan ke arah yang berlawanan dari rumahku. Ia berjalan terus ke seberang, hingga bayangannya hilang. Sekadar tahu bahwa pria itu barangkali tertidur di ruangan berbeda di rumahnya, aku lantas menutup tirai kamar dan melanjutkan tugas kuliahku.

Kali ini aku tak tahan menemaninya terjaga hingga pagi. Aku tertidur dengan headset masih menempel di telinga dan ketika terbangun esok paginya, kulihat laporan praktikumku luntur terendam susu yang tak sengaja kutumpahkan saat tertidur. Tidak biasanya aku terbangun begitu subuh, padahal aku baru bisa tidur pukul dua dini hari tadi.

Setelah meminum segelas besar air yang ditaruh Ibu di meja di depan kamarku, aku berjalan menuju dapur, di sana aroma masakan Ibu menguar kuat.

“Tetangga kita tadi pagi diantar ke rumah sakit. Beberapa tetangga merumorkan kematiannya.” Ibu berujar sembari mengaduk kuah di dalam panci.

Aku yang sedang mengupas bawang dengan pisau tentu kemudian refleks menoleh. Aku tiba-tiba membayangkan; bagaimana rasanya mati? Apakah seperti cerita Kafka dalam karyanya, ‘Metamorfosis’; rasa kematian sama seperti ketika seseorang berubah wujud menjadi serangga pada suatu pagi yang samar? Dan ia tiba-tiba bukan lagi manusia, dan ketika berubah menjadi serangga ia lantas kehilangan segala ingatannya akan dunia?

“Meninggal karena apa, Ma?” tanyaku lekas-lekas—karena aku masih melihatnya hidup tadi malam sebelum tertidur.

“Loncat dari lantai dua rumahnya.”

Hanya hal seperti itu; bisa membuat seseorang mati?

“Setelah memutus nadinya dan menenggak racun.”

“Mama dengar itu dari para tetangga kita?” tanyaku.

Bagaimana bisa Ibu masih kelihatan begitu santainya memasak di dapur dan tidak melayat ke rumah tetanggaku itu?

Friday, November 21, 2014

Alih Wahana Buku Puisi Afrizal Malna “Pada Bantal Berasap”: Puisi Visual atau Visualisasi Puisi?



Ditulis untuk program lokakarya kritik seni rupa dan kurator muda Indonesia 2014 di Dewan Kesenian Jakarta dan ruangrupa.


Tampilan Buku Sastra yang Monoton

Konon, inilah eranya kita berhibur dengan jalan serbasingkat. Tulisan panjang kalah oleh desakan iklan, alur sinetron tak saling kait satu sama lain, karya seni di galeri menjadi puja-puji sekilas lalu di akun-akun Instagram. Dalam sorotan penuh stigma, mode hidup di zaman ini tiada lain adalah ekstase satu malam.

Untuk perayaan atas kesegalaan yang singkat ini, sekian baris puisi pendek tidak lagi dianggap hadir secara anakronis. Ia dirayakan dan tidak terpisah dari masyarakatnya. Siapa pun berhak menjadi penyair melalui cuitan di akun Twitter. Kehidupan kita seketika dibanjiri kata-kata para penyair instan itu. Sayangnya, hal itu tak serta-merta mendukung penghidupan para penyair. Damhuri Muhammad dalam suatu pengantar[1] menyampaikan:

“Seorang petugas pencatat kerjasama penjualan konsinyasi di sebuah toko buku, bahkan pernah mengatakan, “berhentilah menerbitkan buku puisi. Lebih baik kita berjualan buku tentang masak-memasak, atau buku panduan jitu cara bersolek, yang sudah pasti laris.”

Lantas, jalan sunyi macam apa lagi yang kiranya akan ditempuh para penyair?

Penahbisan penyair secara kilat dan sambil lalu ini adalah satu hal yang membuat kata-kata memerlukan bentuk baru agar ia bisa laku, atau agar ia bisa tampil dengan khas. Saya menulis artikel ini untuk tujuan kedua: mencari kekhasan demi menyudahi gelontoran karya pastiche yang menjadi primadona pasar buku hari ini. Meski demikian, saya optimis pasar pun sebenarnya menanti sesuatu yang berbeda. Karena selain era instan, di masa ini orang-orang mencari keterkejutan. Gumun yang bisa mereka bagi lewat media sosial. Untuk merespons kegumunan itu, mengapa tidak sekalian saja buku puisi ditampilkan dengan jalan yang benar-benar berlainan dari buku-buku konvensional?

Pencapaian artistik adalah salah satu alternatif yang diusulkan Damhuri melalui teks pidatonya. Saya mengartikannya, buku puisi tidak mesti tampil teks belaka. Lewat ragamrupa cetak grafis, dapat dihadirkan keunikan tipografi demi mewakili ‘suara’ ataupun gambar terpilih demi mewakili ‘visual’. Meskipun, untuk itu, penyair perlu mengolah teknik dan bereksperimen. Yang mana, juga mendorong perpaduan antardisiplin apabila diperlukan. Sebagaimana halnya Ellena Ekarahendy[2] mengintepretasikan puisi Afrizal Malna “Pada Bantal Berasap” menjadi sebuah buku puisi dengan tambahan polesan grafis. Namun, untuk metode kerja itu, kita perlu mempertanyakan kembali: tepatkah apabila genre karya Ellena ini disebut sebagai puisi konkret atau puisi visual?


Puisi Visual atau Visualisasi Puisi?
Dalam kata pengantarnya, Ellena mengakui apa yang dia lakukan bukanlah hal pertama, dan ia menyebut dua nama lain, Filippo Marinetti dan Tristan Tzara sebagai pendahulunya. Namun, dia tidak menarik garis penciptaan di mana Marinetti dan Tzara mengerjakan sendiri visual untuk puisinya, dan bahkan menciptakan konsepnya terlebih dahulu sebelum dituangkan ke kertas. Bahwasannya, intensi memvisualisasikan puisi itu dilakukan sendiri oleh penyairnya, seperti yang dilakukan oleh penyair-penyair di Indonesia, di antaranya Sutarjdi, Ibrahim, dan Hamid. Inilah apa yang umum dikenal sebagai puisi visual atau puisi konkret.

Herman J. Waluyo (Waluyo, 1987) mencatat bahwa puisi konkret terkenal sejak era 1970-an; Sutardji Calzoum Bachri dengan O, Amuk dan O, Amuk Kapal-nya, Ibrahim Sattah dengan Hai Ti dan Hamid Jabbar dengan Wajah Kita pernah pula menerapkan permainan visual dalam puisinya. Terutama Sutardji, dengan doktrin puisi mantra, jeda dan repetisi bukan mainan baru baginya. Namun, pada para penyair yang tidak berlatar belakang desain komunikasi visual, eksperimen unsur bunyi, tipografi, enjambemen, ataupun ikon parodi tidak ditampilkan dengan permainan warna atau bentuk yang mendorong interaksi visual. Mereka hanya berkutat dengan kemungkinan-kemungkinan bentuk teks: lingkaran, segitiga, baris-baris garis, dan sejenisnya untuk mewakili maksud dari puisi itu. Seringkali, upaya ini pun hanya hendak menampilkan grafis dari puisi, alih-alih pemaknaan terhadap teks. Lebih dari itu, hampir kesemua seniman itu berlaku ideologis dalam mengonsep karyanya, baik dalam makna dan tema bagi karyanya, ataupun aliran yang kemudian menopangnya.

Teknik grafis puisi sendiri sudah berkembang sejak era Yunani klasik dengan sebutan technopaigneia, dalam bahasa Latin carmina figurata, dan gesamtkunstwek dalam bahasa Jerman[3]. Kesemuanya, meski tak sepenuhnya sama, mensyaratkan penambahan elemen untuk menyampaikan maksud dari puisi dengan lebih terang.[4] Kegiatan perwujudan teks puisi ke dalam medium ini sempat redup di abad ke-12 hingga ditampilkan kembali oleh George Herbert (Bohn, 2001).

Wednesday, November 5, 2014

Apa yang Paling Kamu Inginkan

Siang itu hujan. Kita entah kenapa menyudut pada salah satu jendela restoran itu dengan dua gelas minuman dingin.

Jadi, apa yang paling kamu inginkan di masa kecilmu? Kenapa kamu menulis?

Minuman di gelasku tinggal separuh.

Memiliki teman. Cukup lama aku mendefinisikan diri sebagai seorang anak tunggal yang tak pernah punya teman akrab. Sewaktu TK, aku pernah punya. Kami ke mana pun bersama. Sayangnya, aku tiba-tiba terbujuk rayuan orang tuaku yang sejak sebelum menikah tampaknya bercita-cita mengoleksi medali dan piala dari anak mereka. Mereka membeli lemari kaca khusus untuk itu bahkan sebelum tahu aku punya bakat apa. Aku terkutuk karena lahir sebagai semata wayang sehingga dijejali harapan ini-itu: petenis, bintang di televisi seperti Maissy si Gadis Cilukba, ataupun pembawa sangsaka merah-putih dalam barisan paskibraka. Padahal, aku hanya ingin menjadi seperti Usagi di Sailor Moon. Pembela kebenaran yang tak perlu bangun pagi. Jadi begitulah, dulu setiap hari, kerjaku hanya menggambari dinding, mewujudkan cita-citaku di sana. Karena itu, usaha utama mereka untuk menjadikanku anak istimewa terbilang mudah. Mereka mendorongku akselerasi kelas ke SD di usia belum genap lima tahun, dan menjauhkanku dari komik-komikku. Yang mau tidak mau, sekaligus menjauhkanku dari sahabat terbaikku di TK itu.

Bagaimana nasib lemari kaca itu?

Kosong melompong hingga hari ini.

Kamu tertawa.

Di bangku SD, hampir semua temanku laki-laki. Karena itulah aku tak pernah merasa canggung berada di antara kaum mereka. Bahkan karena itu aku tak pernah merasakan desir-desir aneh saat duduk beraduan tatapan mata dengan pria yang kutaksir, misalnya. Aku kemudian bosan dengan keadaan itu. Percaya atau tidak, saat SMP, aku melemparkan koin ke kolam dan meminta kehadiran seorang teman kepada kolam itu.

Kamu akhirnya tergelak di bangku di hadapanku. Hampir saja mengambil gelas minum yang sengaja kamu sisihkan untuk dinikmati saat berbuka puasa, tetapi kemudian mengangsurkannya kembali ke meja. Belum waktunya bagimu untuk menutup puasamu.

Kamu melakukannya, katamu, kamu tipikal gadis yang seperti itu.

Ya, pada akhirnya, kolam itu mengabulkan permintaanku.

Itu hanya self-fulfilling prophecy, sahutmu. Pada dasarnya, kamu yang berusaha untuk mendapatkan teman yang cocok denganmu.

Di satu sisi hal itu benar, aku mendapatkan teman-teman itu karena kemudian aku menulis banyak cerita sedih untuk mereka baca di jam istirahat sekolah.

Mereka menyukai cerita-ceritamu?

Mungkin kalau aku menanyai mereka sekarang, mereka akan bilang tidak. Selera kita berubah. Jadi, aku lebih percaya kolam itulah yang mengabulkan segalanya. Ah, aku ingin bertemu dengan kolam itu lagi, dan melemparkan koin yang banyak.

Kali ini, kamu mau meminta apa lagi?

Aku hanya bisa membatin; entahlah, bisakah aku minta kamu?

Aku tak pernah merasa kamu mencintaiku dan tampaknya kolam di sekolahku itu sudah dipugar. 

4 November 2014

Tuesday, October 21, 2014

Rekan Bicara

Bagimu, pernikahan adalah tentang siapa yang akan kau ajak mengobrol di masa senjamu. Karena di masa itu, ada yang percaya, tubuh kita yang kian menua dari waktu ke waktu tak akan dapat menikmati seks yang hebat, atau melakukan hal-hal liar lagi. Kelak di masa tua, kita hanya akan menjadi dua orang kesepian yang butuh rekan bicara.

Aku dan kau, seperti yang kita sama-sama tahu, adalah dua orang yang tak perlu diragukan lagi daya bicaranya. Kita dapat menjadi akrab dengan siapa pun yang baru kita kenal hanya bermodalkan senyuman dan keramahan. Kita dapat menjadi tanding setia bagi apa pun wacana yang diajukan. Bila pun kita belum pernah mengetahuinya sebelumnya, kita punya sepasang mata yang akan mengerjap dengan takjub dan bersedia untuk mencari tahu. Kita akan menjadi sepasang pewicara yang saling memperhatikan dengan antusias. Malam selalu akan larut dan pagi akan enggan berdiam lama, waktu akan memampat. Kita akan jatuh cinta untuk kesekian kalinya dalam setiap apa pun yang kita pertukarkan: ide, petualangan, kisah kerabat.

Dengan ketangguhan untuk menghabiskan waktu hanya untuk saling mengobrol dan mengobrol, siapa pun akan jatuh cinta dengan kita. Terpesona. Terbius. Terbuai. Terbuali. Dan karena itulah kau selalu meyakini, bahwa kalaupun benar pernikahan hanya perkara mencari rekan bicara, maka kita bisa jadi tak perlu membentuk suatu institusi hanya untuk kita berdua. Di masa tua nanti, bila kita kesepian, kita tinggal pergi ke suatu tempat untuk bertemu orang dan mengajak mereka bicara.

Orang yang kelak akan kita ajak bicara barangkali adalah seorang suami atau istri yang telah ditinggal mati oleh pasangannya, atau kanak-kanak yang tersisihkan dari pertengkaran orang tuanya. Mereka akan berbahagia dan merasakan puber kesekian, dan jatuh cinta lagi, ketika mengobrol dengan kita. Dan bila mereka adalah kanak-kanak yang masih meraba-raba dunia, mereka akan belajar dari ketuaan kita.

Namun, seperti yang kau tahu, kita sudah tak bisa jatuh cinta lagi kepada orang lain. Karena aku dan kau telah memilih satu sama lain, yang sayangnya meyakini bahwa hidup bersama bukanlah jalan tunggal. Meski kita sudah tak bisa jatuh cinta lagi, kita tetap akan membuat mereka terpesona, terbius, terbuai, dan terbuali, dan tak akan pernah peduli entahkah kita dapat membalas perasaan mereka.

Dari hal semacam itu, aku selalu membayangkan, bahwa sebenarnya yang kau maksud rekan bicara bukanlah seseorang yang dapat kau ajak mengobrol tentang hal yang hebat-hebat, atau malahan bukan juga tentang wacana-wacana sederhana yang terlampau membumi. Mungkin, sebenarnya, kelak ketika tua kita membutuhkan rekan bicara yang bisa bicara dari hati ke hati. Jadi, kita hanya akan bicara dengan genggaman tangan, kepala yang merebah di pundak satu sama lain, dan senandung lagu-lagu masa tua yang ditujukan untuk masa muda kita. Dan untuk hal-hal itu, sebenarnya kau tak hanya butuh sekadar rekan bicara yang dapat kau temukan asal saja di jalanan. Barangkali, seperti itu?

20 Oktober 2014



Wednesday, October 15, 2014

Kesedihan


Jauh di ujung dunia, di sudut paling gemerlap kota yang ditata megah, seorang gadis menjajakan kesedihan di lapaknya yang sederhana. Mereka yang melihatnya terheran-heran karena tak pernah lagi menjumpai kesedihan, tak pula pernah lagi diceritakan turun-temurun oleh moyang mereka. Pada hari itu, bertanya-tanyalah mereka, bagaimana caraku menyebut rasa yang muncul ketika melihat gadis itu? Apakah itu yang dinamakan … ?

Kesedihan. Tak lagi ada dalam silabus sekolah bahwa kesedihan pernah mewujud dalam kata dan bahkan tercatat dalam sisa-sisa informasi genetis dari moyang mereka. Tak ada dalam kamus bahasa mana pun, baik lema kesedihan maupun semua referensi kosakata yang mendekati makna kesedihan telah dilenyapkan berjuta-juta tahun lampau.

Maka, bagi kaum mereka, menjadi sedih adalah hal mustahil.

Peradaban manusia tak lagi kekurangan suatu apa. Seluruh dunia saling menyemangati. Tak ada perang. Tak ada kemiskinan. Tak ada ketimpangan. Tak ada pelecehan seksual. Tak ada cacian dan hinaan. Semua orang bahagia dengan kehidupannya, saling bantu mereka untuk tak lagi menyediakan celah bagi kesedihan untuk mampir.

Kota-kota dibuat jadi seragam. Semua gedung saling menyerupai. Mereka bertahan hidup dengan bahasa, agama, dan warna kulit berbeda, tetapi selalu diwanti-wanti untuk meyakini bahwa mereka sama. Hal itu mungkin saja dilakukan karena para linguis bersepakat untuk menghapus banyak kata-kata dalam kamus. Begitulah, jauh sebelum membangun peradaban nir-kesedihan itu, mereka telah menyadari bahwa kata kesedihan ternyata sangat berhubungan erat dengan kata perbedaan.

Tiap seorang bayi terlahir, mereka diproses sekian lama, untuk dicatat keseluruhan penerawangan takdirnya, kesukaannya, bakat genetisnya, dan didaftarkan ke kantor sipil. Semua itu dilakukan supaya di masa depan mereka berprofesi sesuai dengan kesemua informasi yang dicatatkan.

Dengan segala keteraturan itu, orang-orang bersukacita melakukan apa pun—utamanya yang tercatat dengan teliti di dalam buku takdir sebagai hal yang mereka sukai. Tak satu pun berusaha mengingkari takdirnya. Demi senyum sumringah, demi gejolak di dada, demi kebahagiaan abadi yang kolektif.

Selama perjalanan awal kehidupan, mereka dapat pergi ke mana pun untuk memperoleh ilmu yang mereka kehendaki dan mereka dapat menetap di mana pun kaki mereka mengarahkan. Sampai pada usia tertentu—demi menjaga kebahagiaan setiap orang terbagi sama rata—mereka harus berhenti menjelajah dan mulai ditempatkan pada daerah sesuai minat-bakatnya. Sejak titik usia itulah, yang boleh menjelajah gunung, samudera, ataupun petak-petak pada cakrawala hanyalah mereka yang pada usia dewasanya ditakdirkan menjadi pendaki dataran tinggi, pelaut, ataupun penyelam langit.

Demikian juga setiap takdir pertemuan telah diatur sedemikian rupa, sehingga pertemuan-pertemuan tak lagi menjadi suatu kebetulan belaka.

Orang-orang tak lagi bertukar pengalaman, karena semua yang boleh mengisi rongga kepala mereka hanyalah hal-hal yang benar-benar mereka butuhkan. Mereka tak boleh memikirkan hal-hal yang tak berkaitan dengan fungsi profesi mereka, mereka tak boleh mempelajari hal-hal yang hanya akan sia-sia dalam catatan takdir mereka. Bila ingin menjadi dokter, maka mereka tak diperkenankan mengetahui satu hal pun tentang seni musik ataupun seni lukis, ataupun apa pun itu.

Dan walau mereka berada dalam suatu ruang dengan entitas-entitas lainnya (pada zaman itu mereka hidup berbaur dengan robot dan para arwah), mereka tak pernah menggunakan mulut untuk berbicara. Sudah sejak lama diupayakan agar selalu ada fasilitas yang dapat mewadahi mereka untuk berkomunikasi. Seketika pula, kemampuan bicara mereka merosot sedemikian tajam. Bagaimanapun, hal itu tak pernah menjadi masalah besar karena kebutuhan komunikasi mereka telah tercukupi dengan penggunaan piranti-piranti logam yang tak lekang oleh zaman.

Lain halnya pada sekelompok entitas dengan profesi tertentu yang masih diwajibkan untuk memiliki kepekaan yang tinggi dalam berbicara. Karena, dalam masyarakat yang sempurna seperti itu pula, tugas para ahli hukumlah untuk menengahi, misalnya, para dokter yang tak memiliki secuil pengetahuan pun tentang seni lukis dengan para pelukis yang tak peduli hal apa pun yang mungkin dapat dikerjakan oleh seorang dokter. Ketika pun pada suatu sidang dua jenis manusia itu dipertemukan, segala halnya sudah disiapkan untuk mengawasi segalanya berjalan lancar dan damai. Lagipula, catatan-catatan takdir manusia yang demikian teratur telah membantu para ahli hukum untuk memetakan kasus-kasus penyimpangan yang akan terjadi pada takdir pertemuan—dalam contoh kali ini—antara para dokter dengan para pelukis.

Selain itu, pernah ada orang-orang tertentu yang melanggar perintah, untuk merekalah suntikan-suntikan ataupun butir-butir obat anti-perlawanan ditujukan. Dalam zaman itu, mereka tak menyebut tempat rehabilitasi para pengkhianat itu sebagai rumah sakit jiwa. Karena bagaimanapun, mereka telah menghapus segala kosakata yang berhubungan dengan kasus paradoksal kesedihan-dan-kebahagiaan yang sejak berjuta-juta tahun telah dimediasi sepenuhnya oleh kata ‘kegilaan’.

Ah, aku sudah terlambat. Ada orang-orang yang menungguku untuk menambal gigi geraham mereka yang rusak.

Sial, aku tak seharusnya menonton gadis itu di sini. Lukisan-lukisanku sudah akan diambil oleh distributorku.

Buku-buku ini. Apa yang kulakukan di sini. Aku harus segera menemui penyeliaku, karena dia juga akan menemui bosnya. Ampun, tiga puluh menit lagi?!

Bergegas, mereka yang sempat menonton seorang gadis dengan pancaran rasa yang tak mereka kenal apa namanya berlari dengan kilat memenuhi takdir-takdir mereka yang sudah diperingatkan sejak dini hari melalui gelombang mimpi. Para robot, tentu saja, tak perlu menjadi sepelupa orang-orang itu, karena mereka sudah menyimpan segala catatan takdir harian mereka dalam chip-nya.

Pada suatu masa, robot-robot itu pernah menuntut haknya agar sama dengan para manusia. Semenjak seorang penemu asal Rusia menciptakan program yang mahakompleks untuk memberikan definisi perasaan, karakter, dan kepribadian bagi makhluk dengan kecerdasan buatan, para robot semakin marak dijumpai dalam keluarga-keluarga misantropis ataupun mereka yang berselibat. Suatu gerakan yang besar pernah tercipta ketika musik metal akhirnya tumbang di tengah rezim otoriter penguasa dunia baru.

Perserikatan Bangsa-Bangsa, ya, kau pasti tak asing dengan istilah ini, ketika itu digulingkan, menyusul organisasi-organisasi internasional lainnya yang tak menyetujui presiden dunia pertama naik menjabat.

Tapi bagaimanapun, presiden dunia itu akhirnya terpilih (dan bahkan sekarang telah berpuluh kali presiden dunia berganti). Darah tumpah begitu banyak untuk revolusi semacam itu. Perjuangan untuk mempertahankan kekuasaan menjadi benar-benar tak masuk akal.

Aku tak tahu kapan tepatnya—ketika itu mereka langsung mengganti penanggalan solar menjadi penanggalan berbalik dari aturan solar ataupun lunar, ataupun keduanya. Masuk akal mereka melakukan itu, karena segala sistem dunia memang perlu diubah saat itu juga untuk menghapus jejak sejarah. Dan untuk urusan waktu, itu akan jadi sangat penting, karena kau tak bisa tahu pasti kapan waktu berganti. Yang pasti, tepat saat itu pula, segala catatan sejarah dimusnahkan, kronologi dimulai dari titik nol, dan kau tak dapat melacaknya lagi setelah banyak literatur yang tak sesuai dengan zamannya dibumihanguskan.

Yang jelas, paling tidak, sejauh apa yang kudengar dari narasumberku, banyak orang ketika itu masih cukup waras untuk menentang rezim baru yang luar biasa otoriter itu. Sayangnya, orang-orang yang ketika itu masih melakukan penentangan tak segan-segan langsung dibasmi dengan beragam taktik eugenetis yang telah distrategikan jauh-jauh hari oleh para pendukung presiden pertama dunia kala itu. Itulah yang menyebabkan manusia-manusia yang kau lihat sekarang seperti itu. Mereka adalah kaum paling pengecut yang pernah ada dari sekumpulan bangsa manusia.

Dan setelah semua orang pergi, dan si gadis usai mempertontonkan kesedihannya, di sana dia memutus urat nadinya dan merebahkan tubuh. Orang-orang, mengejar waktu, berlalu-lalang menginjak-injak jasad si gadis demi keseharian mereka yang penuh kebahagiaan. [*]

Yogyakarta, 11 Januari 2013

Wednesday, September 10, 2014

Transportasi Indonesia: Dari Konsumsi Industri Hingga Kesalahan Pembangunan Kota

 
(Kolaborasi Tulisan dengan M. Misbahul Ulum dan Purnama Ayu Rizky.)
Industrialisasi oleh negara menjadikan Indonesia hanya sebagai konsumen belaka. Tingginya konsumsi kendaraan mengakibatkan kemacetan di kota-kota yang tidak terencana pembangunannya dan hanya meniru (disebut menjiplak, juga boleh) model-model negara lain. Sedangkan, infrastruktur di desa-desa tetap tidak terurus.

Pada dekade ‘70-an, hampir semua negara di Eropa dan juga Amerika Serikat menjadikan gagasan Adam Smith dalam An Inquiry Into the Nature and Causes of The Wealth of Nations sebagai basis menuju gerbang industrialisasi. Meski pengaruh gagasannya yang melahirkan sistem ekonomi kapitalis itu sempat meredup, terutama saat dunia usaha mengalami depresi pada 1929-1930, beberapa ekonom liberal tetap teguh berpegang pada sistem ini. John Maynard Keynes, dalam buku bertajuk The General Theory of Employment, Interest, and Money (1936), menawarkan solusi untuk menyudahi krisis ekonomi asalkan sistem ekonomi tetap mengacu pada semangat kapitalisme. Keynes percaya, ekonomi kapitalisme masih bisa terselamatkan dengan catatan ada sedikit intervensi dari pemerintah.

Berapa besar intervensi pemerintah, itu tak pernah tuntas dijelaskan oleh Keynes. Hal inilah yang kemudian membuat negara merasa memiliki kontrol yang besar. Ian Chalmers (1996) menjelaskan, akar intelektual kebijakan industrialisasi terletak pada abad ke-19. Selanjutnya, antusiasme terhadap industrialisasi melanda seantero Jepang dan dunia Barat. Imbasnya, apa yang semula tak lebih dari tujuan kebijakan berubah menjadi ideologi independensi ekonomi, yang menghendaki peningkatan posisi negara serta titik berat industrialisasi sebagai wahana integrasi nasional.

Chalmers menguraikan, selang Perang Dunia II, retorika nasionalisme dunia ketiga—termasuk Indonesia—dikaitkan dengan agenda pembangunan industri. Industrialisme menjadi unsur utama dalam ideologi pembangunan nasional. Pada masa itu, industri otomotif menjadi tumpuan harapan pembangunan industri dari banyak politisi negara Dunia Ketiga. Gengsi yang terkandung dalam pengembangan manufaktur, yang dalam hal ini diartikan sebagai produksi—dan bukan perakitan—mobil ini menciptakan keterkaitan dengan sektor ekonomi lain.

Mendapat angin segar, negara-negara industri seperti Amerika Serikat, Kanada, Inggris, dan Australia pun kian giat memasarkan produksi mobil ke Dunia Ketiga. Seperti yang diungkapkan Henry Ford, ekspansi mobil ini juga terpengaruh kebijakan industri nasional yang menuntut perusahaan perakitan mobil merelokasi pasar ke negara Dunia Ketiga. Di Indonesia, industri otomotif didaratkan lewat kolonialisme Belanda. Belanda mengusung ide ekonomi kolonial, di mana mereka membebaskan ekonomi Indonesia dari ketergantungan terhadap sektor pertanian serta ekspor primer, dan menciptakan struktur ekonomi yang seimbang.

Di sisi lain, pemerintah kolonial juga menghasilkan dominasi asing terhadap seluruh sumber daya ekonomi yang penting, dan lingkungan sosial menyediakan lahan subur bagi perkembangan sentimen anti-asing. Dengan demikian, hasil perkembangan penting dari masa kolonial Indonesia adalah tekanan politik bagi pribumisasi pemilikan.

Ikhwal ini, ada silang pendapat di antara politisi dan ekonom Indonesia era 1950-an. Mereka terbagi dalam dua poros: dalam negeri dan luar negeri. Dr. Soemitro Djojohadikusumo—anggota PSI—mewakili pihak luar negeri menghendaki adanya penanaman modal asing, tetapi juga tampak siap siaga melancarkan intervensi demi melindungi bisnis pribumi. Sebaliknya, para politisi PKI mendesakkan nasionalisasi terhadap hak milik asing meski juga menganjurkan proteksi negara terhadap seluruh modal nasional, termasuk bisnis milik orang Tionghoa.

Di era ini, ada usaha yang ekstrem dari mereka yang pro-Sumitro untuk meneguhkan peran borjuasi pribumi. Lewat kebijakan Benteng buatan Dr. Juanda, Menteri Kemakmuran Rakyat, kelompok bisnis pribumi berhasil melesakkan proteksi negara; pada 1951 impor mencakup 10 persen; 1952 impor diperluas hingga 25 persen; dan 1954 tercakup 85 persen dari jenis barang impor. Pada suatu waktu, jumlah ini bahkan tercatat menembus 4.000 importir.

Dalam hal industri otomotif, sekelompok pengusaha pribumi dengan cepat dapat mengontrol impor mobil. Di kala kecenderungan nasionalisme ekonomi berkuasa dan pembangunan industri mendapat titik berat, industri mobil pun dibangun. Sebagian besar mereka yang membangun memiliki keterkaitan dengan PNI

Salah satu pabrik terbesar di Indonesia adalah pabrik perakitan mobil yang dibangun di Tanjung Priok pada 1927, yakni NV General Motors Java Handel Mij. Pabrik ini memulai usaha sesaat sebelum produksi boom pada 1930-an. Selama sepuluh tahun pertama masa produksi, perusahaan itu merakit tak kurang dari 47.000 mobil, sebagian besar mobil Chevrolet dan truk General Motors. Pabrik ini menjadi salah satu manifestasi pertama industri modern di Indonesia.