Tuesday, December 20, 2011

Aram

DUA BELAS HARI telah berlalu sejak gadis beraroma parfum mint itu berjalan di tangga pesawat. Hari-hari yang padat dan ramai—di tempat tinggal barunya tersebut—dia sudah mengurus administrasi untuk mengubah semua identitasnya, bertemu sekian banyak orang, dan berkorespondensi melalui surel dengan orang-orang yang telah didaftarnya. Ragam kartu tanda pengenal baru, apartemen baru, afiliasi baru, kawan-kawan baru, kehidupan baru.

Sekian tempat di wilayah kota tua itu telah satu-satu dia kunjungi; sebagian besar adalah galeri dan rumah seni. Ke apartemennya, dia membopong puluhan lukisan dan benda-benda rongsok. Dalam daftar yang diserahkan kepadanya sebelum dia pergi ke kota itu, selain lukisan, juga tersisa rincian judul piringan hitam dan kaset musik lama. Kalaupun dia dapat membereskan rincian dalam daftar pertama, masih tersisa daftar judul headline koran internasional dan obituari koran lokal pada tanggal-tanggal spesifik, serta sederet kartu nama yang sudah dikumpulkannya di dalam koper untuk kemudian dia dekode.

Terlalu lelah akibat berhari-hari mengulang aktivitas mendekode, dia membanting ponselnya dan menjatuhkan diri ke kasur—tidur di antara tumpukan kliping obituari dan tajuk rencana koran-koran lama, di sebelah piringan hitam di dekat bantalnya tertera rincian kode dalam segala bahasa.

“Efek kupu-kupu?” pertanyaan itu muncul di jendela Messenger-nya selama dia tidur.

“Tapi kenapa kamu hanya menyelidiki piringan hitam, kaset, dan kliping koran?” Lanjutan pertanyaan muncul di layar. Ketikan-ketikan lebih panjang terus berlanjut.

Aram terbangun karena bunyi dari komputer. Setelah membaca pesan-pesan di layar, dia kemudian menelepon melalui aplikasi bicara-lewat-video, “Aku sedang menyelidiki sesuatu.”

“Apa?”

“Banyak hal yang saling berkaitan. Hampir semua hal.”

“Kenapa pergi dengan begitu tiba-tiba? Dan hanya meninggalkan sepucuk surat?”

“Aku perlu tahu apa yang terjadi.”

“Aku paham kamu ingin pergi dari rutinitasmu yang membosankan di sini.”

“Ya—ya—ya—aku bahkan sudah menabung untuk itu,” celetuk Aram. “Tapi sebenarnya kalau aku mau kabur dari rutinitasku, aku bisa mengajakmu, kan? Nyatanya, aku sekarang sedang melakukan sesuatu yang besar di sini.”

“Tapi Aram, kau harus ingat—seberapa pun berjiwa petualangnya kamu—kita sudah akan menikah. Seminggu lagi resepsinya. Kau bahkan belum fitting, masak aku yang mesti mengecek segala persiapan pernikahan kita?”

“Bagaimana kalau kita batalkan pernikahan kita?”

Hening. Di layar, wajah kekasihnya tampak mengeras.

“Nah, seperti ini Aron. Karakterku ini—aku perlu tahu dari mana dia berasal. Itu yang sedang kucari tahu sekarang.”

Panta Rhei, demikian Aron mengetikkannya di layar. “Kau tahu, kan, apa artinya?” Lantas, ia kemudian berbisik pada headset-nya.

“Panta rhei, Heraklitus, tidak ada yang tetap sama. Semuanya berubah,” sahut Aram.

“Begitulah, maka dari itu, enggak ada itu yang namanya jati diri,” tegas Aron. “Percuma kamu mencari dirimu yang sejati, karena tidak akan ketemu.”

“Hei, Aron. Meski aku bilang aku enggak bisa paham diriku sendiri, aku tidak sedang mencari diriku dalam perjalananku ini. You got me?”

“Barusan kau bilang kau mencari tahu dari mana karaktermu yang impulsif itu berasal?”

Aram tersenyum kecut. “Well, itu artinya aku sedang mencari tahu tentang kedua orangtuaku.”

“Oh, baiklah. Proyekmu itu—bisa dihentikan? Aku yakin itu sama sia-sianya dengan mencari jati dirimu yang enggak bakal ketemu.”

“Data yang kini terkumpul belum cukup untuk menjawab pertanyaanmu.”

“Jadi, kita benar-benar akan membatalkan resepsi pernikahan kita?”

Aram mengangguk.

“Setelah mertuamu mengundang banyak reporter stasiun televisi swasta dan koran nasional untuk meliputnya?”

“Yep,” ponselnya berbunyi dari arah kasur, Aram menolehkan kepala dan bangkit berjalan menjauhi layar.

“Aram,” ujar Aron ketika Aram kembali. “Kau tahu…”

“Aron, boleh aku minta agar kamu menikahi gadis lain bila nanti aku tidak kembali?” tapi Aram telah lebih dulu memotong lanjutan perkataan Aron dengan pertayaannya.

Aron memicingkan mata. “Kau—tidak akan kembali?”

“Kemungkinan itu selalu ada.”

Hening sejenak.

“Apa, sih, yang sedang kau hadapi?” tanya Aron.

Tak perlu jawaban, karena tiba-tiba peluru telah menembus layar komputer Aram. Komputer padam, pecahan kaca sedikit menyentuh kulitnya. Tanpa menoleh ke belakang, dia merogoh pistol dalam saku, seketika mengarahkan tembakan ke arah belakang. Penembak tadi lantas jatuh terjun dari kamar apartemen Aram di lantai sebelas. [*]


20 Desember 2011

Tuesday, December 13, 2011

Apa Kau Bahagia?

"APA kau hari ini bahagia?”

Kepada pacarnya, gadis itu akan menanyakan pertanyaan yang sama berkali-kali, setiap hari, setiap saat dia ingat. Namun, Pion tak pernah mampu menjawab pertanyaan itu, seperti yang sudah-sudah.

Pion hanya menoleh singkat. Ia masih terlentang di ranjang, sibuk mengetikkan sesuatu pada laptopnya. “Bagaimana kuliahmu?”

Prita menghela napas melihat Pion lagi-lagi tak merespons pertanyaannya. Alih-alih pura-pura tak peduli dan hendak meninggalkan Pion menuju dapur, tanpa sengaja Prita menyenggol tas belanjanya sendiri. Seisi kantong berjatuhan ke lantai. Sambil menggemeletukkan jemari, dia mulai memunguti bungkus-bungkus bahan makanan yang tercecer. Bahan-bahan itu sebenarnya untuk membuat kue tart dan makanan instan yang akan cukup untuk mereka makan berdua.

“Dini hari ini ulang tahunmu,” jawab Prita kemudian. “Kau lupa?”

“Kita sudah bukan pacar lagi,” balas Pion. “Kau lupa?”

Prita tersenyum. “Apa bahagia,” ujarnya, terdiam beberapa saat, sebelum melanjutkan, “bila kita tidak bersama? Lagipula, siapa yang memutuskan itu?”

“Aku pernah memelihara seekor landak yang menyebalkan. Kadang dia berlaku menyenangkan, kadang berbulan-bulan dia menghindariku. Suatu ketika, landak itu benar-benar mati, dan aku benar-benar dibuatnya menangis berhari-hari …”

Prita memasang celemek di badannya. Dia tahu, Pion yang sangat logis itu: bila berhadapan dengan permasalahan yang menyangkut perasaan, tak akan pernah berbicara tepat sasaran dan tepat guna. Mereka akan selalu perlu berbicara berputar-putar sebelum akhirnya masuk ke persoalan utama. Memahami karakter Pion, Prita coba mengikuti alur pembicaraan, “Saat itu kau masih kecil?”

“Aku berusia enam belas waktu itu.” Pion menjawab datar.

“Berarti sudah cukup dewasa, bila hanya untuk menangisi peliharaan yang mati,” sahut Prita.

Suasana kembali hening.

“Jadi, menurutmu siapa yang memutuskan kita sudah bukan pacar lagi?” kali ini Pion yang bertanya.

“Kita kembali ke pembicaraan itu lagi?”

Thursday, November 17, 2011

Mengikuti Rasa Rindu




Pertemuan dan Perpisahan
“Dengan kereta malam ku pulang sendiri
Mengikuti rasa rindu pada kampung halamanku
Pada ayah yang menunggu, pada ibu yang mengasihiku
Tembang kenangan dari Franky & Jane tersebut mengabadikan perjalanan seorang individu; seorang diri, memenuhi rindunya bertemu dengan orangtua dan keluarga di kampung halaman, tentang bagaimana kemudian dia belajar mengenai kehidupan dari orang-orang yang dia temui di dalam kereta. Dia bertemu seorang ibu yang anaknya telah tiada; dan wajah anak itu mirip dengannya. Kesan akrab tergambar dari situasi tersebut.
Hanya di gerbong kelas ekonomi atau bisnis, orang-orang asing dapat leluasa saling bercengkerama. Setiap tahunnya menjelang hari lebaran, ribuan kepala mengisi gerbong-gerbong KA kelas ekonomi; mengantarkan para perantau pulang ke tanah kelahiran. Sebutlah, melestarikan tradisi. Padahal KA kelas ekonomi bukan moda transportasi yang ramah. Banyak kasus pencopetan dan penodongan senjata tajam terjadi di dalam kereta. Kenyamanan pun harus ditanggalkan; karena alasan kebersihan dan jumlah penumpang.
Banyak yang tetap menggunakan jasa KA kelas ekonomi dan tidak memedulikan tradisi kesemrawutan yang bakal terjadi di hari lebaran. Tumiso, tukang becak yang telah bekerja selama 10 tahun di Stasiun Lempuyangan, mengatakan ia selalu menyempatkan diri pulang ke kampung halaman dengan KA kelas ekonomi. Karenanya, meski izin cuti istrinya baru keluar pada hari H, mereka sekeluarga akan tetap pulang. Ia memilih pulang dengan moda transportasi KA kelas ekonomi karena ongkos yang lebih murah 4 sampai 5 kali lipat daripada tarif kelas bisnis. “Saya merasa berdosa kalau tidak pulang. Silaturahmi setahun sekali kepada orangtua. Minta restu dan minta maaf, itu penting. Uang cuma cukup kalau naik kereta ekonomi,” ujarnya.

Wednesday, June 29, 2011

The Old Odd Thoughts

Negeri seperti apa yang kini sedang kita tempati? Apa yang selama ini kita lakukan? Bekerja untuk mencari makan, makan untuk dapat bekerja. Mengapa orang suka membuat hidup menjadi lebih rumit? Dulu, rasanya benar ada orang-orang sakti yang dapat berkomunikasi hanya dengan telepati. Kini, kita semua butuh kabel charger untuk ponsel kita, hanya untuk berkomunikasi. Dulu, mereka yang sakti dapat hidup dengan hanya menghirup makanan di sekelilingnya. Kini, banyak orang mati kelaparan.

Dalam diri tiap orang ada kesendirian yang hanya mereka rasakan masing-masing. Semua orang memiliki kerinduan terpendam untuk dapat bersatu seperti dahulu kala. Tetapi dahulu kala selalu menyimpan cerita tentang peperangan antar kerajaan, dahulu kala selalu dipenuhi corak perbedaan yang diciptakan manusia. Atau hanya karena sejarah palsukah yang selama ini kita ketahui tentang masa lalu?

Mungkinkah sebenarnya kita adalah bangsa yang besar, kita hanya punya satu bahasa dan kita selalu dapat berkomunikasi dengan telepati. Tetapi apa semaraknya hidup dengan hanya satu bahasa?

Apa yang menyebabkan manusia terpisah dari alamnya? Semua kemampuan baru yang ditawarkan terkesan artifisial. Listrik untuk lampu, lampu-lampu kini mengaburkan keindahan bintang di langit malam. Banyak orang melupakan romantisme menatap bintang yang berjarak jutaan tahun cahaya. Pada malam-malam yang terasa semakin pendek, kini tiap orang lelap ditelan hingar-bingar kota.

Kita menghidupi kehidupan yang biasa. Kita makan makanan sintetis, memperpendek usia. Kita bekerja hanya untuk menjadi kaya, supaya bisa punya rumah gedongan dan kendaraan mewah. Kita bangga terpecah-pecah menjadi etnis tertentu dan menyandang kebangsaan negara tertentu. Kita tidak merasa satu. Organisasi-organisasi internasional kemudian mengatur semua keterpecahan itu agar tidak menjadi terlalu mencolok.

Padahal kita semua warga bumi.

Mungkin… ada orang-orang yang akan menyadari hal ini dan akan ada desakan hebat di dalam diri mereka untuk kembali bersatu. Tapi, lebih dapat dipercaya akan ada lebih banyak lagi orang-orang kasar yang begitu keras kepala akan menentang hal ini. Manusia semakin suka menghidupi segala perbedaan yang mereka ciptakan sendiri.

Pada dunia yang seperti ini, apa yang sebenarnya dapat diharapkan?

Pada kehidupan yang sesingkat ini, apa yang dapat kita lakukan?

Inedia

Inedia, alias kemampuan bertahan hidup tanpa makan. Mungkin, bisa dibilang sebenarnya butuh makan, tetapi bentuk makanannya itu lebih menyerupai apa yang dimakan oleh tumbuh-tumbuhan; yakni, memakan sinar. Agak kurang jelas juga bagaimana prosesnya, karena bila pada tumbuhan ada organ-organ tertentu yang mengubah cahaya menjadi energi yang kemudian masuk ke dalam siklus metabolisme, saya tak tahu bagaimana halnya dengan proses Inedia yang dilakukan beberapa manusia ini.

Ritual ini hanya dilakukan oleh beberapa orang, lumayan terkesan esoteris. Di Wikipedia juga saya temukan Inedia masuk ke dalam kategori ‘Masons’. Karena orang-orang ini ‘dapat memperoleh makanan mereka hanya dengan bernapas’, maka istilah yang juga sering digunakan untuk menggambarkan kekuatan orang-orang itu adalah: Breatharianisme.

Secara logika, tentunya kemampuan ini telah menentang beberapa fakta biologis mengenai tubuh manusia. Seharusnya diberikan penjelasan lanjutan mengenai fungsi kerja organ-organ dalam ketika tidak digunakan untuk ‘memproses makanan’. Apa ususnya tidak mengerucut, mengalami disfungsi, dan berubah bentuk? Bagaimana sistem ekskresi dan sekresinya?

Umumnya, bila manusia tidak makan selama beberapa waktu, mereka dapat saja mengalami kelaparan, dehidrasi, yang bahkan berakhir pada kematian. Awalnya ketika tidak ada makanan untuk dikonsumsi, tubuh mereka akan membakar sisa-sisa lemak tubuh, glikogen, atau energi apa pun yang bisa didapat melalui otot. Bila hanya dalam beberapa hari, mungkin saja hal ini wajar. Tetapi bila lebih daripada itu, apakah benar cahayalah yang mereka gubah menjadi makanan?

Mari kita lihat sejenak sejarah biologi. Sebenarnya sejak kapan kita mempelajari tubuh kita sendiri dan kerja-kerja organ di dalamnya? Sejak kapan kita memiliki kesadaran akan makanan-makanan yang masuk ke dalam tubuh kita—apa yang boleh kita makan dan apa yang tidak? Kapan manusia berhenti keracunan makanan dan belajar memanfaatkan alam demi kepentingan perut mereka? Dari tahun 2000 SM hingga tahun 300, masyarakat baru hanya mempelajari Ilmu Obat-obatan—tidak lebih daripada itu—yang kemudian berkembang dari tahun 300 hingga 1400; mereka kemudian mempelajari Fisiologi, Anatomi, Botani dan Zoologi, dan Embriologi, serta Patologi. Sebelum tahun 2000 SM, mungkin mereka sudah mencoba beragam jenis makanan yang disediakan oleh alam; dan hanya asumsi saya saja, mungkin ada sebagian dari mereka yang pada awalnya mati karena mengkonsumsi makanan yang salah.

Namun hal ini berbeda bila faktanya dahulu kala ada manusia yang dapat makan hanya dengan bernapas. Saya bertanya-tanya sejak kapan manusia berhenti menyadari kemampuannya itu? Dalam berbagai tulisan terkait sejarah kuno pun selalu digambarkan manusia-manusia purba memiliki cara hidup tertentu untuk menghidupi dirinya, entah itu dengan berburu makanan; bercocok tanam; atau menangkap ikan. Manusia adalah makhluk Omnivora; mereka mengonsumsi olahan hewani dan tumbuh-tumbuhan, di mana semua bentuk makanan itu adalah benda padat, bukan gas.

Singkatnya, bila menyambungkan sejarah kuno dan pembelajaran biologi pada masa silam, tidak ada korelasi sama sekali pada kenyataan bahwa manusia dapat memiliki kemampuan untuk ‘tidak makan’. Oleh sebab itu, pastilah kemampuan ini hanya dikuasai oleh orang-orang tertentu saja, tetapi oleh siapa?

Melalui Wikipedia, dapat ditelusuri beberapa kepercayaan yang diwakili oleh orang-orang yang mengaku memiliki kemampuan itu, seperti Katolik Roma, Buddha, Hindu, Tao, dan kepercayaan Shaman, serta sebagian besar lainnya yang adalah mereka yang datang dari Folk Beliefs. Kepercayaan-kepercayaan kuno yang masih terdapat di beragam penjuru dunia memang terkenal dengan keunikan mereka; entah itu kepercayaan mereka pada alam (semacam Animisme/Dinamisme), kekuatan magis, hingga pada ritual penyembuhan-penyembuhan instan. Tidak aneh bila kekuatan magis Inedia ini juga mungkin berasal dari salah satu kepercayaan itu.

Mengenai bagaimana proses untuk memiliki kemampuan Inedia itu, saya yakin caranya sungguh rahasia. Mungkin lebih rahasia daripada nama perkumpulannya sendiri. Kita bisa saja tahu dari luar dan menebak-nebak apa saja yang dapat perkumpulan-perkumpulan rahasia itu lakukan di dalam tubuh organisasi mereka, tetapi kita tidak akan pernah dapat memiliki kemampuan seperti mereka.

Dan lagipula, seperti saya, siapa pun pasti punya perasaan was-was juga terhadap kemampuan semacam ini. Telah berkembang di masyarakat rasa cemas yang ditimbulkan dari sekte-sekte tertentu yang menyembah berhala, alias menuhankan Setan; menyetankan Tuhan. Jadi tidakkah kemampuan ini sebenarnya sama saja seperti itu? Lalu, mengapa manusia tidak berusaha mengembangkan kemampuan Inedia ini… supaya tidak ada yang mati kelaparan… tetapi bagaimana caranya?

Mungkin inilah yang dimaksud ilmu kebatinan. Yang saya dengar, orang-orang yang ‘tidak tuntas’ alias setengah-setengah mempelajari ilmu kebatinan akan menjadi gila bila mereka tidak menyelesaikannya.

Ada begitu banyak rahasia di dunia ini. Ada hal-hal yang tampak tidak bisa kita percayai, karena jauh melampaui batas pemikiran kita… tetapi kenyataannya hal-hal itu ada di sekitar kita. Seandainya saya memiliki kemampuan Inedia, apa yang begitu menarik? Apakah hidup saya akan berubah jauh?

Tentu!

Dipikir-pikir, pada saat itu, mungkin saya tidak butuh bekerja. Mungkin saja saya bisa tidak peduli pada apa yang terjadi di sekeliling saya. Dan apalagi yang menarik dari hidup? Marx barangkali akan memutuskan bunuh diri bila mendapatkan kekuatan itu.

Bolehkah para penganut Inedia ini makan enak, atau ada pantangan bahwa mereka harus sepenuhnya lepas dari makanan padat? Ah ya, tambahan. Tadi saya sempat baca… bahwa orang dengan kemampuan ini hanya bisa ‘makan’ di lingkungan dengan udara segar. Jika semisal di daerah perkotaan yang banyak polusinya atau lingkunganya cenderung bising, mereka lumayan kesulitan untuk menggubah ‘udara’ menjadi ‘makanan’.

Ah, terlalu banyak tanda petik saya gunakan. Lumayan rumit juga menceritakan mengenai hal-hal tidak umum semacam ini.

Melepaskan Identitas

Permasalahan paling utama umat manusia saat ini adalah sifat paradoks dari kehidupan yang mereka hadapi sehari-hari. Ketika mereka ingin keluar dari lingkar setan rutinitas, ternyata yang mereka hadapi ketika keluar justru rutinitas lagi.

Meski akan jadi jauh berbeda ketika, semisal, saya memilih menghidupi rutinitas itu di tempat berbeda. Kehidupan yang kita pilih sendiri.

To call each thing by its right name. – Into The Wild

Christ, tokoh utama dari Into The Wild, baru merasa menemukan dirinya ketika ia sudah terbebas dari segala identitas kemasyarakatan yang melekat padanya sejak kecil. Ia sobeki kartu-kartu identitasnya, ia bakar dokumen dan uang tabungannya. Ia berkelana mencari dirinya. Sampai mati.

I took the one less traveled by, and that made all the difference. – The Road Not Taken

If only. Seandainya. Teman saya (bilang melalui tulisannya): Amor Fati.

Seandainya saya seberani itu. Tapi nyatanya, saya belum. Saya belum berani keluar dari sistem kemasyarakatan. Saya masih menerima begitu saja diri saya menafasi hari-hari saya. Tidak terlalu menyedihkan. People live the less-colored life, with monochrome. Saya full color, seringkali seolah tak memedulikan tanggapan orang lain terhadap keceriaan saya yang berlebihan. I’m okay with that.

Saya bahagia-tanpa-sekat sewaktu-waktu, saya berduka hebat sewaktu-waktu. That makes my life different. Dan saya tak perlu keluar dari sistem, untuk itu. Sebab, bagaimana bisa keluar dari sistem? Yang saya sukai dari hidup saya adalah buku-buku yang saya baca, musik-musik yang saya dengarkan, teknologi internet, dan lain sebagainya. Saya tak bisa membayangkan untuk hidup tanpa itu semua.

Saya tak peduli apakah nama asli saya Pariyem, Joko, Pavlov, atau apapun. Roh saya masih nyaman-nyaman saja dipanggil Dew atau Michelle. Atau panah, kadang-kadang. Buat apa berkelana jauh?

Namun, kadang-kadang saya memikirkan untuk pergi sejauh-jauhnya, melesapkan identitas saya dengan segala unsur yang mengelilingi saya. Bukankah saya bagian dari semesta? Yah, semacam itu.

Ya, gotcha. Itu mengapa saya bilang… bagi saya hidup ini demikian dual. Atau multi, saya mesti melihatnya dari banyak sudut pandang. Tapi sudut pandang bagaimana yang ‘benar-benar saya’?

Sampai mati pun Christ tak mengubah apa-apa.

Happiness Real When Shared.

Hanya pemahaman tentang itu. Berkelana jauh, mati di dalam van di Alaska, kelaparan, keracunan… hanya untuk mengetahui bahwa kebahagiaan sejati dalam dirinya adalah ketika ia bisa berbagi.

Berbagi dengan siapa?

Untuk apa melepaskan identitas?

Seringkali pilihan-pilihan dalam hidup kita akan terkesan kontroversial. Ada beberapa orang yang tak akan suka dengan saya, sementara orang-orang lain mungkin selalu menantikan kehadiran saya.
Semacam itu.

Maka ketika saya (yang memang pada dasarnya tak begitu peduli lagi dengan apapun yang terjadi di dalam hidup saya) merasa sia-sia, saya mungkin juga bisa berkelana. Yang saya tak tahu… untuk apa.

Ah, tadi saya ngobrol dengan Bebeth, seorang teman di sebuah organisasi kemahasiswaan. Ia mengaku hanya menulis ketika dia ingin, karena dia suka. Tidak seperti saya yang meracau tak jelas begini. Haha, saya ingin tertawa. Apalah artinya bakat?

Apalah artinya segala kemelekatan yang ada pada diri kita?

Kenapa kebahagiaan-kebahagiaan dalam kehidupan benar-benar membuat ketagihan?

Saya tak menyangkal mungkin pemikiran saya yang model begini hanyalah refleksi ketidakdewasaan saya dalam memahami apa-apa yang terjadi di hidup saya. Ada banyak tulisan yang saya baca. Tapi mungkin tak cukup banyak untuk menghindari pemikiran suicidal. Tapi toh semua pemikiran saya belum sampai ke tahap realisasi.

AH. Pernahkah terpikir? Mengapa ada tulisan-tulisan yang akan merusak otak pembacanya? (Camkanlah, bahwa kebanyakan pembaca tidak benar-benar dewasa dalam menafsirkan apa yang mereka baca. Dalam pembacaan mereka, naskah mengagumi alam mungkin disangka adalah manifesto ajakan bunuh diri.) Orang-orang yang juga akan merusak otak. Film-film dan segala hal yang mengguncang batin. Yah, yang semacam itu.

Manusia mungkin memang terlalu banyak menggunakan akalnya. Namun, alangkah tidak bijaksana bila orang lain memaksakan akalnya untuk digunakan dalam akal orang lain. Semacam itu.

--- Belakangan ini kegiatan BeDuaSatu* membuat saya kehilangan segala kemampuan normal saya.

*tempat Bal dan Bul menulis, mengedit, dan bercanda-canda.

Saya, Jurnalisme, dan Karakter-karakter Imajiner

Saya literally tipikal orang yang cuek. Saya tak begitu tertarik dengan perseorangan dan hal-hal yang ‘terlalu’; terlalu dekat, terlalu memerhatikan, atau terlalu ‘tahu’. Yang semacam menghafal nama pemeran di film A atau penyanyi lagu B atau presiden C dari negara D. Juga pada branding, menurut saya tak begitu penting. Saya tak pernah hafal nama dari barang-barang mewah, saya palingan cuma tahu Pepsodent atau Oral-B.

Namun ketika sekarang saya tergabung di salah satu organisasi kemahasiswaan, yang berkaitan dengan Jurnalisme pula, di mana orang-orangnya sangat aktif memenuhi rasa ingin tahu mereka … saya merasa kehilangan diri saya sendiri. Sekaligus menemukan diri saya yang hilang. Saya sepertinya dituntut untuk pergi dari zona nyaman saya selama ini.

Alasan awal saya masuk ke sini sebenarnya sederhana; lantaran saya kesulitan memasukkan detail nama tokoh atau judul lagu atau nama pelukis atau hal-hal lainnya yang kental ‘branding’ ke dalam tulisan fiksi saya. Konon kabarnya, banyak penulis yang pendeskripsiannya keren; berlatar belakang jurnalistik. Ada pepatah yang terkait dengan itu.

Maka begitulah, saya mendaftar di badan pers mahasiswa kampus saya ini juga sebenarnya murni karena alasan itu.

Namun demikian, awal mengikuti beragam diklat Jurnalistik dan Jurnalisme dari para petinggi di organisasi itu, saya mulai merasa bahwa inilah tempat di mana saya suka berada. Di sini saya dapat memenuhi rasa ingin tahu saya akan segala sesuatu, membuat saya punya alasan untuk memaksakan diri saya mengetahui hal-hal yang sebelumnya saya rasa tidak menarik (seperti 5w+1h dari suatu kejadian, tokoh-tokoh yang terlibat, nama-nama istilah, dan lain sebagainya). Dan, siapa sangka politik kampus dan politik mahasiswa ternyata menyenangkan juga, meski tentu masih kalah dengan Filsafat ataupun aneka Ilmu Pasti yang selama ini saya kagumi.

Saya menemukan banyak orang menarik di dalam organisasi ini. Orang-orang yang hafal nama-nama penyanyi...

...Politik - Ekonomi - Pendidikan - dan - segalanya - tentang - ini - dan - itu, judul-judul lagu, film-film, buku-buku, gaya bahasa dan beragam tata EYD (tata kalimat, tata bahasa, yea yang semacam itulah).

Acara yang padat… newsroom—rapat pengajuan tema, eksekusi tema, rapat penulisan, terjun lapangan, penulisan berita, pengeditan berita, jadwal bagi-bagi distribusi majalah—yang frekuensinya ‘sering’ sekali, reportase yang beruntun tak habis-habis, juga diskusi film dan diklat tambahan ini-itu.

Meski rasanya seru sekali mengikuti kegiatan-kegiatan itu, anehnya… saya selalu merasa ada yang hilang dari diri saya setiap melakukan hal-hal yang terlalu 'terlibat' dengan kehidupan sosial orang lain. Mungkin di balik karakter hiperaktif saya, ada sisi melankolis plus introverted dalam diri saya yang seringkali muncul ke permukaan secara tiba-tiba.

Contohnya saja, saya selalu merasa merugi; karena terlalu sering berkumpul dengan orang banyak, saya seringkali jadi kehilangan waktu untuk berkatarsis begini. Gila-gilaan dengan diri sendiri. Saya suka menyendiri; suka merenung, mengobrol dengan diri sendiri. Menulis sesuatu untuk diri saya sendiri dan berbicara dengan tokoh-tokoh imajiner di dalam kepala saya.

Ketika saya menulis cerita fiksi, saya tak pernah kesepian karena ‘teman-teman’ saya itu muncul di hadapan saya di depan layar. Mereka mengobrol satu sama lain, menghadirkan nuansa yang menakjubkan di benak saya. Menghadirkan hujan dan suasana gelap, meski saya sedang berada di dalam kamar yang terang-benderang, atau sebaliknya. Yah, itu sangat fun. Sayangnya, belakangan ini, mereka semua musnah. Mereka hilang, pergi entah ke mana. Kadang sempat saya pikir saya tak berbakat, tapi sepertinya perjuangan untuk menjadi penulis (penulis terus menulis) memang tak akan mudah.

Saya harus ditolak berkali-kali dulu.

Saya harus berhenti setiap kali saya akan naik level; mengevaluasi lagi hal-hal di belakang. Kenapa saya mengambil keputusan-keputusan yang salah dan kenapa saya meninggalkan tokoh-tokoh imajiner saya di masa-masa itu. Mungkin akan ada banyak cobaan, selain penolakan dari penerbit atau dari redaktur sastra surat kabar, dan itu semualah yang harus saya hadapi. Yang jelas, setiap kali saya pergi jauh, saya harus kembali lagi kepada diri saya—setelah saya lama berputar-putar.

Setelah saya pergi teramat jauh, saya mesti kembali lagi kepada diri saya sendiri.

Banyak sekali tokoh-tokoh cerpen atau novel berkeliaran di kepala saya berminggu-minggu belakangan, tapi saya tak pernah ada waktu untuk mempersilakan mereka duduk sejenak dan mengobrol dengan saya. Saya terlalu sibuk dengan orang-orang di luar diri saya.

Bersosialisasi membahas KKN dan anak-pinaknya, dan politik busuk dan pemerintahan dan politik busuk dan politik busuk dan politik busuk, dan hal yang buruk-buruk di Indonesia. Saya terlalu ingin tahu, padahal major saya toh juga jauh dari itu semua.

Kemarin saya sempat menangis. Saya memang secengeng itu, dan bodohnya mungkin tak ada yang tahu kalau sebenarnya saya menangisi karakter-karakter saya yang masih banyak tertidur di dalam diri saya. Mereka tak dikenal, mereka hanya bisa mengobrol dengan saya, sebagai penulis mereka, hanya bisa berinteraksi dengan ruang-ruang gelap di dalam diri saya. Dan apa yang saya bayangkan dalam tangis saya adalah: mungkin sebelum saya mati, saya belum juga akan bisa memperkenalkan mereka kepada pengasuh-pengasuh mereka yang baru. Mereka mungkin akan saya ajak mati, karenanya.

Maka dari tu, mungkin… tak ada yang sebenarnya saya harapkan dari mengetahui soal hal-hal yang terjadi di luar sana. Saya hanya perlu lebih berkonsentrasi terhadap hal-hal di dalam diri saya. Saya tak membaca Kompas atau Tempo atau The Jakarta Post setiap hari, toh. Di kos juga tak ada televisi. Saya bisa saja mengakses kesemua media itu, bila saya ingin, tetapi rasa ingin tahu saya untuk hal-hal itu sama sekali buntu.

Rasa ingin tahu saya lebih banyak tercurah pada hal-hal yang dianggap remeh-temeh oleh orang-orang lain. Saya lebih tertarik mengenal perseorangan, menembus hati mereka, menyelami pemikiran mereka, melihat secara nyata kegemaran-kegemaran mereka, merasakan juga suka dan duka mereka, untuk tidak mengenal mereka sebatas nama, tidak sebatas karya, tidak sebatas kata-kata apa yang mereka sampaikan. Seperti saya mengenal secara luar-dalam karakter-karakter imajiner di kepala saya.

Sementara itu… Media sifatnya dapat sangat subjektif. Dan orang-orang yang diliput media dapat menggunakan seribu topeng demi menutupi wajah mereka. Saya tak akan pernah tahu kejadian apa yang sebenar-benarnya terjadi.

Namun tak bisa saya pungkiri. Memang, dulu saya hanya membawa tujuan sempit saya ke Dunia Jurnalisme di mana kini saya terperangkap. Karena awalnya saya hanya ingin bisa menulis deskripsi yang tajam; demi untuk menulis fiksi yang bagus, tapi kini ada hal-hal lain tumbuh dalam diri saya. Saya banyak belajar dari BPPM Balairung.

P.S.: Mungkin memang benar politik luar negeri perlu diliput. Mungkin benar kita perlu tahu hal apa yang benar-benar terjadi di wilayah-wilayah perang. Tidak seperti saya yang bisa dengan santai duduk di atas kasur saya dan mengetik ini, orang-orang di luar sana barangkali mesti bertarung dengan rasa takut mereka. Banyak orang berjuang mati-matian untuk dapat hidup. Mungkin kita perlu lebih mengenal satu sama lain. Dan mungkin itulah sejatinya tugas dari para merpati penyebar berita.

Post P.S.: Sekarang saya mau mulai (belajar) menulis puisi saja, lah. Toh, nulis fiksi rasanya masih sulit.

Wednesday, March 23, 2011

Balada Seekor Semut

ALIANA berjalan di tengah keramaian, kegaduhan terjadi di seluruh penjuru ruangan. Dentum musik pameran kala itu mengacaukan pikiran. Berkali-kali dia berusaha menyelinap di antara kerumunan, menerobos lalu-lalang, bertekad keluar entah dari pintu mana pun. Dia harus pergi dari tempat itu. Tak peduli lagi akan janji temu yang dia buat dengan seseorang-yang-tak-benar-benar-dia-kenal. Sudah satu jam dia di sana dan keterlambatan lelaki itu tak dapat dia toleransi.

Makara sudah tiba di pintu gerbang ketika tiba-tiba letusan demi letusan terjadi. Semua lampu padam. Ia menyadari ia memang telah terlambat selama satu jam, tetapi bukan berarti itu dapat dijadikan alasan oleh gadis pembunuh misterius itu untuk kembali melakukan satu kasus pembunuhan lagi di keramaian seperti hari itu.

Para pengunjung berteriak ketika satu persatu orang yang berdiri di sebelah mereka roboh. Kepanikan memenuhi udara.

Makara tahu benar siapa yang hadir di sana. Ia dapat memprediksikan ketika gadis itu berlari ke arahnya dengan menghunuskan pisau yang dipegang di tangan kanan. Tangan kiri gadis itu masih memegang pistol dan mengarahkannya secara acak, menembak sembarangan.

Alangkah bengis, pikir Makara, ketika menangkap tangan kecil gadis itu.

“Salam kenal?” ujar Makara ketika menangkap sorot mata tajam gadis itu sekilas lalu.

Tanpa menjawab, seketika itu juga gadis itu menghilang dari pandangan.

Dan, pertemuan itu berakhir dengan kesia-siaan bagi Makara. Pembunuhan massal yang menewaskan puluhan pengunjung pameran malam itu diberitakan oleh sepenjuru media massa di Indonesia, tanpa seorang pun tahu siapa pelakunya.