Wednesday, June 29, 2011

Inedia

Inedia, alias kemampuan bertahan hidup tanpa makan. Mungkin, bisa dibilang sebenarnya butuh makan, tetapi bentuk makanannya itu lebih menyerupai apa yang dimakan oleh tumbuh-tumbuhan; yakni, memakan sinar. Agak kurang jelas juga bagaimana prosesnya, karena bila pada tumbuhan ada organ-organ tertentu yang mengubah cahaya menjadi energi yang kemudian masuk ke dalam siklus metabolisme, saya tak tahu bagaimana halnya dengan proses Inedia yang dilakukan beberapa manusia ini.

Ritual ini hanya dilakukan oleh beberapa orang, lumayan terkesan esoteris. Di Wikipedia juga saya temukan Inedia masuk ke dalam kategori ‘Masons’. Karena orang-orang ini ‘dapat memperoleh makanan mereka hanya dengan bernapas’, maka istilah yang juga sering digunakan untuk menggambarkan kekuatan orang-orang itu adalah: Breatharianisme.

Secara logika, tentunya kemampuan ini telah menentang beberapa fakta biologis mengenai tubuh manusia. Seharusnya diberikan penjelasan lanjutan mengenai fungsi kerja organ-organ dalam ketika tidak digunakan untuk ‘memproses makanan’. Apa ususnya tidak mengerucut, mengalami disfungsi, dan berubah bentuk? Bagaimana sistem ekskresi dan sekresinya?

Umumnya, bila manusia tidak makan selama beberapa waktu, mereka dapat saja mengalami kelaparan, dehidrasi, yang bahkan berakhir pada kematian. Awalnya ketika tidak ada makanan untuk dikonsumsi, tubuh mereka akan membakar sisa-sisa lemak tubuh, glikogen, atau energi apa pun yang bisa didapat melalui otot. Bila hanya dalam beberapa hari, mungkin saja hal ini wajar. Tetapi bila lebih daripada itu, apakah benar cahayalah yang mereka gubah menjadi makanan?

Mari kita lihat sejenak sejarah biologi. Sebenarnya sejak kapan kita mempelajari tubuh kita sendiri dan kerja-kerja organ di dalamnya? Sejak kapan kita memiliki kesadaran akan makanan-makanan yang masuk ke dalam tubuh kita—apa yang boleh kita makan dan apa yang tidak? Kapan manusia berhenti keracunan makanan dan belajar memanfaatkan alam demi kepentingan perut mereka? Dari tahun 2000 SM hingga tahun 300, masyarakat baru hanya mempelajari Ilmu Obat-obatan—tidak lebih daripada itu—yang kemudian berkembang dari tahun 300 hingga 1400; mereka kemudian mempelajari Fisiologi, Anatomi, Botani dan Zoologi, dan Embriologi, serta Patologi. Sebelum tahun 2000 SM, mungkin mereka sudah mencoba beragam jenis makanan yang disediakan oleh alam; dan hanya asumsi saya saja, mungkin ada sebagian dari mereka yang pada awalnya mati karena mengkonsumsi makanan yang salah.

Namun hal ini berbeda bila faktanya dahulu kala ada manusia yang dapat makan hanya dengan bernapas. Saya bertanya-tanya sejak kapan manusia berhenti menyadari kemampuannya itu? Dalam berbagai tulisan terkait sejarah kuno pun selalu digambarkan manusia-manusia purba memiliki cara hidup tertentu untuk menghidupi dirinya, entah itu dengan berburu makanan; bercocok tanam; atau menangkap ikan. Manusia adalah makhluk Omnivora; mereka mengonsumsi olahan hewani dan tumbuh-tumbuhan, di mana semua bentuk makanan itu adalah benda padat, bukan gas.

Singkatnya, bila menyambungkan sejarah kuno dan pembelajaran biologi pada masa silam, tidak ada korelasi sama sekali pada kenyataan bahwa manusia dapat memiliki kemampuan untuk ‘tidak makan’. Oleh sebab itu, pastilah kemampuan ini hanya dikuasai oleh orang-orang tertentu saja, tetapi oleh siapa?

Melalui Wikipedia, dapat ditelusuri beberapa kepercayaan yang diwakili oleh orang-orang yang mengaku memiliki kemampuan itu, seperti Katolik Roma, Buddha, Hindu, Tao, dan kepercayaan Shaman, serta sebagian besar lainnya yang adalah mereka yang datang dari Folk Beliefs. Kepercayaan-kepercayaan kuno yang masih terdapat di beragam penjuru dunia memang terkenal dengan keunikan mereka; entah itu kepercayaan mereka pada alam (semacam Animisme/Dinamisme), kekuatan magis, hingga pada ritual penyembuhan-penyembuhan instan. Tidak aneh bila kekuatan magis Inedia ini juga mungkin berasal dari salah satu kepercayaan itu.

Mengenai bagaimana proses untuk memiliki kemampuan Inedia itu, saya yakin caranya sungguh rahasia. Mungkin lebih rahasia daripada nama perkumpulannya sendiri. Kita bisa saja tahu dari luar dan menebak-nebak apa saja yang dapat perkumpulan-perkumpulan rahasia itu lakukan di dalam tubuh organisasi mereka, tetapi kita tidak akan pernah dapat memiliki kemampuan seperti mereka.

Dan lagipula, seperti saya, siapa pun pasti punya perasaan was-was juga terhadap kemampuan semacam ini. Telah berkembang di masyarakat rasa cemas yang ditimbulkan dari sekte-sekte tertentu yang menyembah berhala, alias menuhankan Setan; menyetankan Tuhan. Jadi tidakkah kemampuan ini sebenarnya sama saja seperti itu? Lalu, mengapa manusia tidak berusaha mengembangkan kemampuan Inedia ini… supaya tidak ada yang mati kelaparan… tetapi bagaimana caranya?

Mungkin inilah yang dimaksud ilmu kebatinan. Yang saya dengar, orang-orang yang ‘tidak tuntas’ alias setengah-setengah mempelajari ilmu kebatinan akan menjadi gila bila mereka tidak menyelesaikannya.

Ada begitu banyak rahasia di dunia ini. Ada hal-hal yang tampak tidak bisa kita percayai, karena jauh melampaui batas pemikiran kita… tetapi kenyataannya hal-hal itu ada di sekitar kita. Seandainya saya memiliki kemampuan Inedia, apa yang begitu menarik? Apakah hidup saya akan berubah jauh?

Tentu!

Dipikir-pikir, pada saat itu, mungkin saya tidak butuh bekerja. Mungkin saja saya bisa tidak peduli pada apa yang terjadi di sekeliling saya. Dan apalagi yang menarik dari hidup? Marx barangkali akan memutuskan bunuh diri bila mendapatkan kekuatan itu.

Bolehkah para penganut Inedia ini makan enak, atau ada pantangan bahwa mereka harus sepenuhnya lepas dari makanan padat? Ah ya, tambahan. Tadi saya sempat baca… bahwa orang dengan kemampuan ini hanya bisa ‘makan’ di lingkungan dengan udara segar. Jika semisal di daerah perkotaan yang banyak polusinya atau lingkunganya cenderung bising, mereka lumayan kesulitan untuk menggubah ‘udara’ menjadi ‘makanan’.

Ah, terlalu banyak tanda petik saya gunakan. Lumayan rumit juga menceritakan mengenai hal-hal tidak umum semacam ini.

No comments:

Post a Comment