Wednesday, June 29, 2011

Saya, Jurnalisme, dan Karakter-karakter Imajiner

Saya literally tipikal orang yang cuek. Saya tak begitu tertarik dengan perseorangan dan hal-hal yang ‘terlalu’; terlalu dekat, terlalu memerhatikan, atau terlalu ‘tahu’. Yang semacam menghafal nama pemeran di film A atau penyanyi lagu B atau presiden C dari negara D. Juga pada branding, menurut saya tak begitu penting. Saya tak pernah hafal nama dari barang-barang mewah, saya palingan cuma tahu Pepsodent atau Oral-B.

Namun ketika sekarang saya tergabung di salah satu organisasi kemahasiswaan, yang berkaitan dengan Jurnalisme pula, di mana orang-orangnya sangat aktif memenuhi rasa ingin tahu mereka … saya merasa kehilangan diri saya sendiri. Sekaligus menemukan diri saya yang hilang. Saya sepertinya dituntut untuk pergi dari zona nyaman saya selama ini.

Alasan awal saya masuk ke sini sebenarnya sederhana; lantaran saya kesulitan memasukkan detail nama tokoh atau judul lagu atau nama pelukis atau hal-hal lainnya yang kental ‘branding’ ke dalam tulisan fiksi saya. Konon kabarnya, banyak penulis yang pendeskripsiannya keren; berlatar belakang jurnalistik. Ada pepatah yang terkait dengan itu.

Maka begitulah, saya mendaftar di badan pers mahasiswa kampus saya ini juga sebenarnya murni karena alasan itu.

Namun demikian, awal mengikuti beragam diklat Jurnalistik dan Jurnalisme dari para petinggi di organisasi itu, saya mulai merasa bahwa inilah tempat di mana saya suka berada. Di sini saya dapat memenuhi rasa ingin tahu saya akan segala sesuatu, membuat saya punya alasan untuk memaksakan diri saya mengetahui hal-hal yang sebelumnya saya rasa tidak menarik (seperti 5w+1h dari suatu kejadian, tokoh-tokoh yang terlibat, nama-nama istilah, dan lain sebagainya). Dan, siapa sangka politik kampus dan politik mahasiswa ternyata menyenangkan juga, meski tentu masih kalah dengan Filsafat ataupun aneka Ilmu Pasti yang selama ini saya kagumi.

Saya menemukan banyak orang menarik di dalam organisasi ini. Orang-orang yang hafal nama-nama penyanyi...

...Politik - Ekonomi - Pendidikan - dan - segalanya - tentang - ini - dan - itu, judul-judul lagu, film-film, buku-buku, gaya bahasa dan beragam tata EYD (tata kalimat, tata bahasa, yea yang semacam itulah).

Acara yang padat… newsroom—rapat pengajuan tema, eksekusi tema, rapat penulisan, terjun lapangan, penulisan berita, pengeditan berita, jadwal bagi-bagi distribusi majalah—yang frekuensinya ‘sering’ sekali, reportase yang beruntun tak habis-habis, juga diskusi film dan diklat tambahan ini-itu.

Meski rasanya seru sekali mengikuti kegiatan-kegiatan itu, anehnya… saya selalu merasa ada yang hilang dari diri saya setiap melakukan hal-hal yang terlalu 'terlibat' dengan kehidupan sosial orang lain. Mungkin di balik karakter hiperaktif saya, ada sisi melankolis plus introverted dalam diri saya yang seringkali muncul ke permukaan secara tiba-tiba.

Contohnya saja, saya selalu merasa merugi; karena terlalu sering berkumpul dengan orang banyak, saya seringkali jadi kehilangan waktu untuk berkatarsis begini. Gila-gilaan dengan diri sendiri. Saya suka menyendiri; suka merenung, mengobrol dengan diri sendiri. Menulis sesuatu untuk diri saya sendiri dan berbicara dengan tokoh-tokoh imajiner di dalam kepala saya.

Ketika saya menulis cerita fiksi, saya tak pernah kesepian karena ‘teman-teman’ saya itu muncul di hadapan saya di depan layar. Mereka mengobrol satu sama lain, menghadirkan nuansa yang menakjubkan di benak saya. Menghadirkan hujan dan suasana gelap, meski saya sedang berada di dalam kamar yang terang-benderang, atau sebaliknya. Yah, itu sangat fun. Sayangnya, belakangan ini, mereka semua musnah. Mereka hilang, pergi entah ke mana. Kadang sempat saya pikir saya tak berbakat, tapi sepertinya perjuangan untuk menjadi penulis (penulis terus menulis) memang tak akan mudah.

Saya harus ditolak berkali-kali dulu.

Saya harus berhenti setiap kali saya akan naik level; mengevaluasi lagi hal-hal di belakang. Kenapa saya mengambil keputusan-keputusan yang salah dan kenapa saya meninggalkan tokoh-tokoh imajiner saya di masa-masa itu. Mungkin akan ada banyak cobaan, selain penolakan dari penerbit atau dari redaktur sastra surat kabar, dan itu semualah yang harus saya hadapi. Yang jelas, setiap kali saya pergi jauh, saya harus kembali lagi kepada diri saya—setelah saya lama berputar-putar.

Setelah saya pergi teramat jauh, saya mesti kembali lagi kepada diri saya sendiri.

Banyak sekali tokoh-tokoh cerpen atau novel berkeliaran di kepala saya berminggu-minggu belakangan, tapi saya tak pernah ada waktu untuk mempersilakan mereka duduk sejenak dan mengobrol dengan saya. Saya terlalu sibuk dengan orang-orang di luar diri saya.

Bersosialisasi membahas KKN dan anak-pinaknya, dan politik busuk dan pemerintahan dan politik busuk dan politik busuk dan politik busuk, dan hal yang buruk-buruk di Indonesia. Saya terlalu ingin tahu, padahal major saya toh juga jauh dari itu semua.

Kemarin saya sempat menangis. Saya memang secengeng itu, dan bodohnya mungkin tak ada yang tahu kalau sebenarnya saya menangisi karakter-karakter saya yang masih banyak tertidur di dalam diri saya. Mereka tak dikenal, mereka hanya bisa mengobrol dengan saya, sebagai penulis mereka, hanya bisa berinteraksi dengan ruang-ruang gelap di dalam diri saya. Dan apa yang saya bayangkan dalam tangis saya adalah: mungkin sebelum saya mati, saya belum juga akan bisa memperkenalkan mereka kepada pengasuh-pengasuh mereka yang baru. Mereka mungkin akan saya ajak mati, karenanya.

Maka dari tu, mungkin… tak ada yang sebenarnya saya harapkan dari mengetahui soal hal-hal yang terjadi di luar sana. Saya hanya perlu lebih berkonsentrasi terhadap hal-hal di dalam diri saya. Saya tak membaca Kompas atau Tempo atau The Jakarta Post setiap hari, toh. Di kos juga tak ada televisi. Saya bisa saja mengakses kesemua media itu, bila saya ingin, tetapi rasa ingin tahu saya untuk hal-hal itu sama sekali buntu.

Rasa ingin tahu saya lebih banyak tercurah pada hal-hal yang dianggap remeh-temeh oleh orang-orang lain. Saya lebih tertarik mengenal perseorangan, menembus hati mereka, menyelami pemikiran mereka, melihat secara nyata kegemaran-kegemaran mereka, merasakan juga suka dan duka mereka, untuk tidak mengenal mereka sebatas nama, tidak sebatas karya, tidak sebatas kata-kata apa yang mereka sampaikan. Seperti saya mengenal secara luar-dalam karakter-karakter imajiner di kepala saya.

Sementara itu… Media sifatnya dapat sangat subjektif. Dan orang-orang yang diliput media dapat menggunakan seribu topeng demi menutupi wajah mereka. Saya tak akan pernah tahu kejadian apa yang sebenar-benarnya terjadi.

Namun tak bisa saya pungkiri. Memang, dulu saya hanya membawa tujuan sempit saya ke Dunia Jurnalisme di mana kini saya terperangkap. Karena awalnya saya hanya ingin bisa menulis deskripsi yang tajam; demi untuk menulis fiksi yang bagus, tapi kini ada hal-hal lain tumbuh dalam diri saya. Saya banyak belajar dari BPPM Balairung.

P.S.: Mungkin memang benar politik luar negeri perlu diliput. Mungkin benar kita perlu tahu hal apa yang benar-benar terjadi di wilayah-wilayah perang. Tidak seperti saya yang bisa dengan santai duduk di atas kasur saya dan mengetik ini, orang-orang di luar sana barangkali mesti bertarung dengan rasa takut mereka. Banyak orang berjuang mati-matian untuk dapat hidup. Mungkin kita perlu lebih mengenal satu sama lain. Dan mungkin itulah sejatinya tugas dari para merpati penyebar berita.

Post P.S.: Sekarang saya mau mulai (belajar) menulis puisi saja, lah. Toh, nulis fiksi rasanya masih sulit.

No comments:

Post a Comment