Sunday, May 23, 2010

Hujan Setiap Malam di Bulan Mei

KUCOBA memperhatikan segalanya dengan lebih teliti lagi. Nyatanya segala kejadian di hidup kita selama ini tidak ada yang terurai menjadi untaian kosong. Awalnya semuanya memang mengendap tanpa kita pahami dan kemudian pada satu waktu mereka tiba-tiba meledak. Memecah belah pada suatu ketidakseimbangan. Namun bukankah lantas mereka kembali membentuk harmoni?

Yang adalah kita. Pertemuan sepasang manusia. Seperti pertemuan pasangan manusia lainnya, keberbedaan yang menyeragam. Berpencaran ke sana kemari saling mencari dan kemudian saling menemukan satu sama lain. Dua kutub yang pada akhirnya menyadari bahwa kita tercipta untuk saling melengkapi.

Ahli cinta manapun di dunia ini bisa bilang bahwa kita tidak akan jatuh cinta pada orang yang kita temui di jalan raya sekilas saja. Tetapi kita akan selalu bisa tertawa terguling-guling di lantai saat menyadari bahwa pertemuan kita dulu terjadi di jalan raya. Sekilas lalu saja.

Saat itu pada siang yang panasnya tidak menentu, kita bertemu di tikungan itu. Kau si jurnalis yang tidak pernah tahu tempat untuk meliput berita dan aku si aktivis yang selalu tidak peduli tempat tiap kali menggiring massa untuk berdemo. Kita sama-sama salah tempat saat kemudian kau duduk merokok di sana dan aku tiba-tiba berlari ke arahmu sambil membawa massa yang berlarian mengejarku dan melempariku kaleng. Salahku sehingga kau ikut juga dilempari kaleng oleh mereka.

Akan tetapi kita hanya bertemu sekilas lalu karena aku kemudian berlari melewatimu. Sementara kau masih merokok di sana tanpa menyadari bahwa seseorang yang baru saja melewatimu barangkali adalah calon istrimu di masa depan.

Kita menikah bertahun-tahun kemudian. Setelah aku pergi ke sana kemari, setelah kau berkencan dengan seribu gadis lain. Aku bahkan tak pernah menyangka kita digariskan untuk bertemu lagi. Tinggal di bawah satu atap, tidur di atas ranjang yang sama.

Tanganmu malam ini dingin sekali saat kugenggam.


Pantai Cermin


*) Pantai yang terletak di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara

(Cerpen ini pernah dimuat di Koran Tempo, 19 Juni 2011.)


“PAK, sudah ketemu kuncinya?”

Saya sering mendengar orang-orang yang bersyukur atas hidupnya berkata bahwa setiap hari dalam hidup ini memberikan anugerah tersendiri.

“Nak, masukkan koper-koper ini ke dalam mobil. Aduh, kenapa mesti disuruh-suruh? Mana adikmu?”

Jika orang-orang itu mengagumi betapa misterius waktu, maka semestinya mereka juga begitu terhadap ruang.

“Kalau kita berangkat sekarang, apa masih sempat lihat matahari terbit, Pak?”

Setiap tempat pasti mempunyai sesuatu yang berharga dan hanya dapat dirasakan oleh dia yang terikat dengan tempat tersebut.

“Ah, kenapa mesti merayakannya di laut lagi, Ayah!”

Saya sendiri selalu terikat dengan hari dan tempat kelahiran saya. Saya terikat pada laut. Saya terlahir di atas kapal. Tepat hari ini, empat puluh delapan tahun lalu.

“Itu karena Ayah hobi memancing, Kak!"

Saya pernah membaca bahwa kita mencintai kehidupan, bukan sebab kita sudah biasa hidup. Namun karena kita biasa mencintai. Saya bersyukur telah diberi tempat dan waktu yang tepat, yang membuat saya betah mencintai kehidupan.

“Ih, anak kecil ingusan. Baru lahir kemarin, sudah sok tahu. Ayah lahir di atas kapal, tahu! Pasti karena alasan itu. Iya, kan, Ayah? Ah, tapi kalau ulang tahun Ayah kita rayakan di atas kapal, kan kita jadi bosan juga!”

Seperti banyak orang seusia saya, sekarang saya pun berada di puncak karir.

“Kalian ini! Kata-kata Bunda keluar-masuk telinga kanan-kiri terus, ya? Masukkan dulu barang-barang kalian ke dalam bagasi! Sudah beres-beresnya lama, masih pakai acara ribut pula! Sana, sana!”

Saya tidak tahu puncak seperti apa yang saya alami. Namun saya sadar betul betapa Tuhan telah begitu murah hati kepada saya: saya dipertemukan dengan istri yang begitu mencintai saya dan kami dititipi anak-anak yang saya yakin bisa menjadi lebih baik dari saya sekarang ini.

“Bagaimana, Pak? Sudah ketemu, kan, kuncinya?”

Selama ini saya memiliki kehidupan yang menyenangkan. Tatapan mata istri saya begitu indah. Bagaimana mungkin saya berpaling dari nikmat kehidupan ini?

“Sudah, Bu. Ayo kita berangkat. Semuanya sudah beres.”

Kalau ada hal lain yang mengisi hidup saya sekarang mungkin itu adalah petualangan yang masih saya lakukan hingga saat ini. Memancing, menghilang dalam keterasingan.

Laut adalah keterasingan itu.