Sunday, May 23, 2010

Pantai Cermin


*) Pantai yang terletak di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara

(Cerpen ini pernah dimuat di Koran Tempo, 19 Juni 2011.)


“PAK, sudah ketemu kuncinya?”

Saya sering mendengar orang-orang yang bersyukur atas hidupnya berkata bahwa setiap hari dalam hidup ini memberikan anugerah tersendiri.

“Nak, masukkan koper-koper ini ke dalam mobil. Aduh, kenapa mesti disuruh-suruh? Mana adikmu?”

Jika orang-orang itu mengagumi betapa misterius waktu, maka semestinya mereka juga begitu terhadap ruang.

“Kalau kita berangkat sekarang, apa masih sempat lihat matahari terbit, Pak?”

Setiap tempat pasti mempunyai sesuatu yang berharga dan hanya dapat dirasakan oleh dia yang terikat dengan tempat tersebut.

“Ah, kenapa mesti merayakannya di laut lagi, Ayah!”

Saya sendiri selalu terikat dengan hari dan tempat kelahiran saya. Saya terikat pada laut. Saya terlahir di atas kapal. Tepat hari ini, empat puluh delapan tahun lalu.

“Itu karena Ayah hobi memancing, Kak!"

Saya pernah membaca bahwa kita mencintai kehidupan, bukan sebab kita sudah biasa hidup. Namun karena kita biasa mencintai. Saya bersyukur telah diberi tempat dan waktu yang tepat, yang membuat saya betah mencintai kehidupan.

“Ih, anak kecil ingusan. Baru lahir kemarin, sudah sok tahu. Ayah lahir di atas kapal, tahu! Pasti karena alasan itu. Iya, kan, Ayah? Ah, tapi kalau ulang tahun Ayah kita rayakan di atas kapal, kan kita jadi bosan juga!”

Seperti banyak orang seusia saya, sekarang saya pun berada di puncak karir.

“Kalian ini! Kata-kata Bunda keluar-masuk telinga kanan-kiri terus, ya? Masukkan dulu barang-barang kalian ke dalam bagasi! Sudah beres-beresnya lama, masih pakai acara ribut pula! Sana, sana!”

Saya tidak tahu puncak seperti apa yang saya alami. Namun saya sadar betul betapa Tuhan telah begitu murah hati kepada saya: saya dipertemukan dengan istri yang begitu mencintai saya dan kami dititipi anak-anak yang saya yakin bisa menjadi lebih baik dari saya sekarang ini.

“Bagaimana, Pak? Sudah ketemu, kan, kuncinya?”

Selama ini saya memiliki kehidupan yang menyenangkan. Tatapan mata istri saya begitu indah. Bagaimana mungkin saya berpaling dari nikmat kehidupan ini?

“Sudah, Bu. Ayo kita berangkat. Semuanya sudah beres.”

Kalau ada hal lain yang mengisi hidup saya sekarang mungkin itu adalah petualangan yang masih saya lakukan hingga saat ini. Memancing, menghilang dalam keterasingan.

Laut adalah keterasingan itu.

PANTAI dan matahari di ufuk timur. Barang-barang bawaan kami masih di dalam mobil. Kami membawa begitu banyak barang dari Jakarta. Beberapa hari belakangan kami telah singgah di sejumlah penginapan. Barang-barang itu masih di dalam mobil karena seusai berlayar saya akan melanjutkan perjalanan ke rumah keluarga.

Dan kami tiba di Pantai Cermin.

Kalau saya pikir-pikir, sebenarnya setiap saat laut selalu berwujud seperti ini. Seperti benda-benda langit yang tidak pernah hilang di atas sana. Seperti planet-planet yang mengitari matahari. Hanyalah letaknya yang berubah-ubah.

Saya selalu mengibaratkan kejadian di muka bumi ini dengan lautan. Sebenarnya semua ciptaan-Nya telah terasing di lautan-Nya. Semua orang tenggelam di laut semesta. Bergoncangan, beradu dengan ombak. Kita menangis saat bahagia dan kita tertawa saat bersedih. Dan pada akhirnya orang-orang yang kita cintai akan pergi. Sampai nanti kita sendiri juga pergi.

“Ah, untung kita bisa lihat matahari terbit!”

Kata paman saya, tali pusar saya dibuang di lautan ini. Ayah saya dengan cekatan membersihkannya dengan air kelapa, menaruhnya dalam wadah kemudian melemparnya ke laut.

“Kali ini aku pasti bisa menangkap ikan lebih banyak dari Kakak.”

Cakrawala membentang luas, aroma pantai yang asin tidak lagi asing.

“Ah, ngaco kamu. Mana mungkin. Setidaknya kamu mesti minta restu dulu dari tali pusar Ayah! Seperti aku nih!”

Putra sulung saya berlari ke arah ombak.

“Kenapa tidak minta restu langsung ke Ayah saja, sih? Kakak curang! Jangan mencuri start!”

Adiknya menyusul di belakangnya. Berlari tidak kalah kencang daripada kakaknya.

“Salah sendiri. Larimu lambat sekali sih, bocah!” tawa sang kakak membahana.

Beberapa jarak dari kami orang-orang yang saya kenal telah melambaikan tangan mereka ke arah saya. Mereka yang selalu tersenyum bukan karena bahagia tetapi karena telah terbiasa. Orang-orang pantai memang segigih itu. Seharusnya saya juga.

Kapal kecil di belakang mereka masih kapal yang tahun lalu kami gunakan berlayar. Kami selalu menggunakannya hanya untuk memancing. Anak-anak saya tidak pandai memancing. Mereka lelaki, dan saya kira lelaki harus pergi memancing.

Istri saya selalu menunggu di pantai dan berbincang-bincang dengan istri-istri para nelayan. Dia menyukai anak kecil. Dia telah terbiasa diperhatikan oleh anak-anak nelayan. Tahun ini dia pasti menyiapkan sesuatu untuk bocah-bocah itu.

“Sini! Mana umpannya? Dasar bocah! Apa-apa lambat!”

“Tunggu dulu, kenapa? Mengalah pada yang lebih kecil!”

“Mengalah? Lelaki bertarung tanpa pandang umur!”

Kedua putra saya adalah pecanda yang menyukai musik. Banyak musik yang mereka perdengarkan di acara kumpul-kumpul memang terdengar lucu di telinga saya. Saya selalu mengira musik itu meningkatkan selera humor mereka. Adu mulut mereka pernah begitu sengit tetapi saya percaya selalu ada canda di sana.

Istri saya bercakap-cakap dengan istri para nelayan itu. Saya tahu ada yang berbeda.

Ada dua bocah kecil yang kami lihat tahun lalu tidak lagi terlihat bersama sang ibu. Padahal istri saya pasti sudah membawakan sesuatu untuk mereka.

“Anak kami meninggal beberapa bulan setelah kunjungan terakhir Bapak ke sini,” kata nelayan itu.

Saya berusaha melihat raut sedih di bawah capingnya.

Padahal gadis itu, Pala, adalah gadis yang begitu lincah. Dialah yang membantu ayah-ibunya menyiapkan tempat menginap untuk kami tahun lalu. Anak-anak kami senang mengusili Pala, tetapi gadis itu selalu tersenyum.

“Meninggal? Ada apa?”

Si Sulung dan si bungsu yang sedang ribut di sekitar kami tiba-tiba terdiam. Mereka berusaha untuk menyimak. Saya merasa waktu seolah turut berhenti saat mata mereka terbuka menanti penjelasan.

“Hilang di laut ini. Dia bilang dia melihat sesuatu, ada orang yang tenggelam. Dia terjun dari sampan untuk menolong orang itu. Kami di sini tak melihat apa-apa saat itu. Namun dia terus berenang, dan akhirnya hilang dari pandangan saya.”

Saya sudah menyangka demikianlah cara Pala akan kembali ke rumah sejatinya. Saya selalu berpikir bahwa orang-orang yang baik akan mati di tempat yang paling dicintainya. Saya pun mungkin akan mati di laut ini suatu saat nanti.

Akan tetapi—hilang?

“Sampai sekarang tubuhnya belum ditemukan.”

Dan percakapan tidak diteruskan lagi.

Kemudian ayah Pala berlayar sendiri. Saya dan dua putra saya bersama dengan seorang nelayan lainnya memancing ke tengah, agak lebih jauh darinya.

Menurut nelayan yang berlayar bersama kami, ia memang biasa menyendiri. Menatap permukaan air laut dan merenung. Kalau saya tidak menduga suasana hatinya saat ini, saya tentu tak akan mengira ia sedang berkaca di perairan. Berkaca, seolah siap tenggelam.

Ayah Pala mendahului kami kembali ke pantai. Perahu kami mengikutinya di belakang. Kakinya begitu kekar memijak pasir pantai. Istrinya menyambutnya di sana. Ada seorang bocah kecil menemaninya, mungkin anak bungsu mereka.

Istri saya menyentuh bahu bocah itu.

Beberapa saat sebelum saya sampai di pantai, keluarga nelayan itu telah pulang.

“Sudah kubilang aku yang akan menang, Bunda. Anak kecil mana bisa menang dari yang lebih tua,”si sulung menunjukkan tangkapannya kepada ibundanya.

“Kau dapat ikan lebih banyak. Tapi ikanku lebih besar-besar, Bunda! Lihat ini!” si bungsu menimpali.

Ibu mereka hanya tersenyum.Wajah sendu itu sudah menjadi cerah beberapa jam belakangan ini. Wajah yang sama seperti yang saya temukan pada nelayan tadi.
 .

“PANTAS saja namanya Pantai Cermin, Pak,” istri saya berujar di dalam mobil.

“Orang-orang selalu bisa bercermin di pantai ini. Dari hasil tangkapan anak-anak kita saja sudah kelihatan. Si sulung selalu punya banyak cita-cita. Tertarik pada semua hal, tapi kurang teliti. Si bungsu memang meniru si sulung, tapi selalu mengharapkan hal-hal yang lebih besar dari kakaknya.”

Saya merenungi perkataannya sejenak. Apakah saya tadi sempat bercermin juga di laut?

“Bapak nelayan tadi tiap hari bercermin. Kata istrinya, ia mencari sosok anaknya yang hilang. Tiap hari ia bercermin di sana.”

Si sulung dan si bungsu tertidur sejak tadi di kursi belakang.

“Bapak juga selalu bercermin ke pantai itu, kan?”

Saya tidak menyangka istri saya akan melanjutkan kata-katanya.

Agaknya jika saya terlalu larut memandangi pantulan diri saya di cermin, saya tak pernah sadar bahwa saya sedang bercermin.

“Setiap tahun Bapak selalu datang ke sana untuk bercermin. Mungkin karena Bapak lahir di sana.” (*)

No comments:

Post a Comment