Tuesday, May 24, 2016

Nenek


 Untuk Rio Johan.
Saat aku menunggu jadwal penerbanganku di bandara, jasad seorang kawan di kampus yang juga tinggal satu indekos denganku sedang diotopsi di rumah sakit. Beberapa botol minuman yang diraciknya menewaskan belasan kawan sepeminuman kami. Dia tidak ikut mati karena mabuk minuman, tapi mungkin karena merasa bersalah, dia kemudian bunuh diri malam itu juga. Aku kebetulan tidak ikut minum dengan mereka karena sedang putus cinta. Dan kini aku terlalu patah hati untuk terlibat dalam drama atau pun persidangan terkait kematian kawan-kawanku, jadi aku memutuskan pergi.

Kalau bukan karena dikabari oleh Ibu bahwa Ayah akan dinobatkan menjadi suttan dan diistanakan di pepadun dalam minggu ini, dan karenanya Ibu mendesakku untuk pulang, aku tentu akan lebih memilih berkelana tak tentu arah daripada pulang ke rumah. Tapi pulang ke rumah pun sama dengan menghindari hal-hal tidak menyenangkan di kota ini. Lagipula, tiket pesawat dibayar sepenuhnya oleh Ibu, jadi hal apa yang patut kukeluhkan? Jadi, tentu aku akhirnya memilih pulang ke rumah.

Sudah lama aku tak pulang ke kampung halamanku. Ayah dan ibuku adalah transmigran di Tulang Bawang Barat, dan rupanya mereka terlalu mengamalkan dengan baik nilai-nilai hidup di sana sehingga kemudian diangkat anak oleh nenekku. Dan kini, sekian belas tahun setelah kepindahan kami ke daerah itu, Ayah akan mendapatkan gelar tertinggi orang-orang di sana: suttan.

Aku dijemput Paman di bandara dan ia memberiku hormat selayaknya anak pejabat. Kutertawakan kelakuannya karena aku tahu ia menyindir Ayah. Aku paham yang diejeknya bukan gelar suttan yang akan diperoleh Ayah, tetapi lebih pada sikap kaku Ayah selama ini—dan betapa kompletnya bila sikap kakunya itu disandingkan dengan gelar tertinggi tersebut. Sosok ayah tentu akan bertambah angker.

Kugoda Paman, apakah dia masih belum dapat mengalahkan Ayah dalam pertandingan catur. Dia mengangguk. Aku yakin memang akan sulit menemukan lawan tanding yang setara dengan Ayah. Maka kusimpulkan pada Paman, Ayah tidak akan tampil rendah hati di hadapannya bila dia belum kunjung mampu mengalahkannya.

Kami tertawa. Ia lantas menyodok tanganku dan mengganti topik. Kali ini ia hendak membahas soal pendamping bagiku. Sebagai anak tunggal, aku diharapkan menikah cepat. Aku menggeleng sekenanya. Aku pernah punya seseorang untuk digandeng, tapi tidak untuk saat ini. Paman rupanya mencoba untuk mengerti aku malas membahas hal itu.

Selama tiga jam saling bertukar menyetir mobil dalam perjalanan dari bandara ke rumah, aku dan Paman bertukar ringkasan lima tahun masa hidup kami yang telah terlewatkan selama masa perantauanku di pulau seberang. 

Bibi telah meninggal, dan Paman menikah lagi karena pada suatu malam dia mabuk fermentasi singkong sehingga tidak bisa membedakan bokong sapi dan bokong istrinya sekarang. Dia tukang perah sapi sebelum menikahi istri keduanya, tapi kini dia bekerja mengolah hasil perkebunan dari sekian hektare tanah milik mertuanya.

Di sepanjang jalan, dia menunjuk area kiri-kanan jalanan itu yang merupakan perkebunan milik mertuanya. Aku akan mensyukuri hidupku bila mendapatkan mertua dengan kekayaan semacam itu, kubilang kepada Paman. Tapi dia tertawa dan justru bersumpah dengan sungguh-sungguh bahwa bokong si istri pun sudah merupakan anugerah baginya.

Rumahku rupanya tak banyak berubah meski lama kutinggal. Pekarangannya masih dipenuhi pot bugenvil yang biasanya dibawa Ibu sebagai oleh-oleh dari perjalanan dinasnya, dan bahkan koleksinya bertambah lebih banyak lagi. Meski Ibu doyan membeli tumbuhan, Neneklah yang paling getol merawatnya, bersama dengan anggrek-anggrek bulan yang dipetiknya dari hutan. Dan Ayah masih memelihara anjing dalam jumlah yang lebih banyak lagi karena saat mobil kami datang, anjing-anjing itu berhamburan bagaikan domba.

Beberapa orang hilir-mudik di pekarangan rumah sembari membawa gotongan. Mereka adalah tetangga kami yang membantu persiapan pesta perayaan penobatan Ayah. "Ini pesta besar dan kamu tahu makanan lezat apa saja yang akan kamu nikmati di pesta besar itu," ujar Paman di sisiku dengan tawa yang amat lebar. Kami akan menikmati rendang sapi paling enak, kue-kue jajanan pasar paling segar, dan sepanjang pekan es buah akan mengguyur dahaga tenggorokan kami di tengah cuaca yang sedang terik membara ini. Lama tidak pulang, dan kini disambut dengan pesta. Luar biasa.

Nenek melepas selang air di pegangannya ketika melihatku turun dari mobil. Belasan anjing di pekarangan rumah itu tidak menggonggongku seolah tahu bahwa aku adalah salah satu tuan mereka juga. Membiarkan air dari selang membeceki halaman, Nenek menghampiriku dan memelukku demikian erat. "Kenapa demikian lama tidak pulang," tanyanya. "Kenapa Nenek masih tampak muda dan tak berubah sedikit pun," kujawab. Dan dia tergelak, lantas cepat-cepat menyongsongku ke arah dapur.

Ibu sedang memandu beberapa perempuan yang berada di dapur bersamanya untuk meracik bumbu. Hanya sebuah pesta besar yang akan memanggil wanita karier satu itu ke dapur dan berurusan dengan perapian. Wajah dan gerak-geriknya masih optimistis dan garang seperti biasa. Tapi begitulah ibuku kukenal sebagai perfeksionis. Saking sibuknya, bahkan ia tak menyadari kehadiran putra tunggalnya di pintu dapur.

Maka aku meminta Nenek untuk ikut ke kamar dan membiarkan Ibu larut dengan kesibukannya.

Kami duduk di ranjang di kamarku. Masih ada sederetan poster ilmuwan favoritku, atlas dunia dan atlas negara, juga catatan-catatan formula matematika, fisika, dan kimia di dinding kamar itu. Kamar itu mengingatkanku kepada diriku yang pernah hingga bermalam-malam suntuk begadang untuk mempersiapkan olimpiade sains dan pada akhirnya menggondol pulang medali-medali emas. Sementara, selama lima tahun berkuliah aku justru terjauhkan dari semua itu. Yang ada hanya deretan demonstrasi, pergerakan, harapan untuk revolusi, mabuk minuman keras, kecanduan ganja, dan kematian kawan. Betapa mudahnya hidup menjelma ironi dalam waktu singkat.

Nenek mulai menderetkan hari-hari indah dan hari-hari kelabunya selama aku tak ada di sisinya. Dia memang tak pernah kehilangan kisah untuk dia ceritakan. Kata Ibu, pada suatu hari, Kakek tiba-tiba saja tak bisa diajak bicara oleh Nenek, lalu Kakek pergi ke tengah hutan dan tak pernah kembali lagi, dan sejak itu Nenek kerap duduk termenung di halaman rumah, atau terkadang duduk di atas pepadun di lantai dua rumah kayu kami. Kepada siapa saja yang duduk di dekatnya, Nenek akan mulai menceritakan banyak kisah. Nenek punya kisah-kisah asli selama 600 tahun ke belakang. Dan kisah-kisah itu berasal dari pengalamannya sendiri. Usianya lebih dari 600 tahun, dan dia tidak bisa memastikan kapan tepatnya dia lahir. Dia adalah ibu dari nenek dan nenek dan nenek dan nenek di atas nenekku. Itu pun dengan mengandaikan bahwa ia memang nenek yang sedarah denganku, dan kenyataannya bukan. 

Saat ayah dan ibuku pindah ke Tulang Bawang Barat, mereka bertemu dengan Nenek—tinggal bersama cukup lama—dan sejak itu mereka diangkat anak olehnya. Selama ratusan tahun hidupnya, perempuan tua yang kini sedang menimang-nimang jemariku di pahanya telah sembilan kali selamat dari kematian.

Selain sembilan kali “takdir kematian” yang datangnya dari alam itu, ada ratusan kali “percobaan kecil” yang berusaha dilakukan musuh-musuhnya untuk membunuh Nenek. Dan percobaan-percobaan pembunuhan yang kecil-kecil itu tak masuk radar hitungannya. Sewaktu aku kecil, hampir setiap hari aku mendapati bagian-bagian di halaman rumahku berlubang besar. Setiap pagi, aku akan mendapati Nenek mandi kembang dan kemudian menyiram liang-liang itu dengan air pembersihannya. Katanya, itu adalah liang-liang kematian yang disiapkan musuh-musuh bebuyutannya untuk Nenek. Sepanjang malam saat aku dan seisi rumah tertidur, Nenek rupanya bertarung kesaktian dengan musuh-musuhnya itu.

Saat kutanyakan kepada Nenek apakah halaman rumah kami masih sering berlubang, dia justru balik menanyakan kepadaku apakah aku bersedia mewarisi kesaktiannya.

Apakah kesaktian yang ia maksud sama dengan kehidupan imortal?

Pertanyaan itu mengambang di benakku hingga ia bangkit dari duduknya. Aku tetap tak menanyakannya. Dia membuka lemari di seberang kamarku dan mengeluarkan kotak-kotak dari sana. Lantas, membuka kotak-kotak itu satu per satu. Kosong.

"Aku ingin berhenti dan tak mengejar apa-apa lagi," bisik Nenek lirih.

"Apakah di kotak itu terdapat sesuatu yang tak dapat kulihat," kutanya.

Dia tersenyum. "Aku akan pulang pada malam bulan purnama pekan depan," jawab Nenek.

"Apa pun yang terjadi, aku tak menghendaki kesaktian itu sama sekali," aku tegaskan kepada Nenek.

Dia memelukku demikian erat dan hanya membisikkan, "Padahal selama ini aku menunggu kepulanganmu dan mendengarmu siap mewarisinya dariku."


Selama beberapa hari perayaan pesta penobatan Ayah sebagai suttan, rumah kami ramai bukan main. Sebagian besar kenalan Ayah dan Ibu mampir ke rumah tak kenal waktu. Teman-teman sepermainanku pun mengunjungiku dan menyampaikan selamat. Masing-masing dari mereka mengajak serta pasangannya. Tapi kami tak bicara banyak karena tampaknya hidup mengantar kami ke kutub-kutub berseberangan.

Nenek dan Ibu demikian sibuk menyambut tamu. Mereka tampak cantik dengan seragam dan mahkota berwarna cerah. Sementara Ayah duduk bersila di atas panggung dikelilingi oleh para tetua adat setempat. Musik mengalun sepanjang waktu. Gadis-gadis menari di tengah panggung.

Dan aku dibebaskan mengambil potret peristiwa itu dengan kameraku. Sejak Ayah dan Ibu memilih berprofesi menjadi “orang terpandang”, aku sudah tahu “pekerjaan” apa yang kukehendaki untuk menghindari sorot perhatian: fotografer. Sejak jauh-jauh hari, aku telah mengembangkan hobi fotografi, supaya aku punya alasan untuk menghindari kerumunan, dan mempehatikan detail-detail kecil yang diluputkan banyak orang dalam hingar-bingar pesta.

Aku diam-diam mengamati Nenek dari kejauhan, beberapa kali menjepretnya dengan pembesaran lensa tele. Melihat pembawaannya, betapa aku ingin belajar darinya cara untuk mengikhlaskan kehidupan. Aku yakin bukan hanya kepadaku ia mengatakan bahwa ia akan berpulang pekan ini. Tapi mungkin ia bisa setenang itu karena ia telah hidup selama ratusan tahun. Itu adalah jenis ketenangan yang dimiliki oleh seseorang yang telah menyesap hidup hingga ke ampas-ampasnya.

Tapi untuk apa Nenek mewariskan kesaktiannya? Tidak bisakah kesaktiannya dilimpahkan saja ke tanah yang dipijaknya? Tanah yang sakti tentu lebih baik agar tanah itu bisa menjaga unsur-unsur haranya dan menyuburkan segala jenis tanaman yang benihnya ditaburkan padanya. Aku tak memerlukan warisan kesaktian untuk hidup imortal karena itu akan membuatku semakin bertambah kecewa menghadapi hidup yang palsu ini.

Sekian hari setelah pesta Ayah usai, Nenek mulai menggigil demam. Seluruh kulit dan rambutnya berubah putih. Nenek mengisyaratkan kepada kami bahwa ia akan meninggal petang itu dan ia minta agar kami menyiapkan terusan putih panjang untuk dikenakannya malam nanti.

Ia lantas dibaringkan pada ranjang besar di ruangan utama rumah. Ibu memanggil para tetangga kami untuk mengelilingi Nenek.

Malam akhirnya tiba. Seekor harimau putih berputar sembilan kali di halaman rumah hingga ibuku membukakan pintu untuknya. Aku melihat wajah para perempuan yang mengelilingi ranjang di ruangan utama rumah ini pucat seakan kehabisan darah saat harimau itu masuk dan berdiri di pintu kamar.

Demi nenekku yang terbaring lemah di atas ranjang, mereka berpuasa dan melafalkan doa dengan amat khusyuk seharian itu.

Betapapun puasa dan doa menyucikan jiwa mereka, harimau itu tidak datang untuk mereka. Ia datang untuk nenekku. Seperti yang dikatakan Nenek, hari itu adalah hari kematiannya.

Langkahnya perlahan, seakan ia berjalan dengan dua kaki. Ketika ia mengentakkan ekornya ke lantai, nenekku terbangun dari tidur panjangnya. Nenek menyebut sebuah nama yang hanya terdengar samar-samar. Seakan panggilan itu ia pahami ditujukan untuknya, harimau itu menyelonjorkan keempat kakinya dan bersimpuh kalem di depan ranjang.

Nenek menghampirinya, ikut bersimpuh di hadapan harimau itu. Cakar si harimau menancap di dada Nenek dan cakar itu menggaruk dada itu hingga menyentuh bagian perut. Seisi rumah meraung sementara harimau itu tak kunjung mengaum. Aku terbengong-bengong dan hanya mampu membekap mulutku sendiri. Nenek bergeming, ia sentuh kepala harimau itu bagaikan ia menyentuh kepalaku saban hari, dan membelainya dengan sayang.

Selanjutnya hanyalah kisah bagaikan dongeng. Nenek menuntun harimau putih itu keluar rumah dengan dada berlubang. Isi dada dan perutnya tercecer di sepanjang langkahnya. Mereka berjalan menyusuri pekarangan, pergi jauh, hingga hilang ditelan cakrawala.

Masih dengan isak tangis, para perempuan tetangga kami itu beranjak untuk membersihkan jejak darah itu, tetapi sewaktu mereka mengambil kain lap ke belakang rumah dan kembali lagi ke ruang tengah, genangan darah kental itu telah menguap ke udara.

Kata ibuku, Nenek telah mencapai keabadian. Hari itu, aku memahami keabadian bagi Nenek adalah kehilangan bagiku.

Bagaikan sebuah kutukan, Ibu tak kunjung berhenti menangisi kepergian Nenek. Bahkan saat ia tertidur, air mata mengalir tipis di pipinya. Ayah pulang dari tempat kerjanya pada dini hari, dan sebelum tidur, ia sempatkan mengusap air mata itu dan mengecup kening Ibu. Kemesraan ayah itu berlanjut selama tiga hari, hingga suatu hari sepulang dari rumah teman masa kecilku yang baru saja melahirkan putra pertamanya, aku mendengar kabar jasad ibuku ditemukan mengambang di sungai Way Kiri. Itu adalah sungai yang kudengar keangkerannya karena orang-orang sakti di daerahku ini kehilangan kekuatannya apabila melintasi sungai itu.


Ayah memutuskan untuk tidak menikah lagi setelah itu. Ia memerintahkan tukang untuk membangun dua patung perwujudan nenek dan ibuku, dan ia menyembahnya setiap hari. Orang-orang sempat menggunjingkan perilakunya, karena Ayah sesungguhnya menganut Islam. Tapi lama-kelamaan gunjingan itu pun surut juga. Meski untuk perihal pemujaan itu kelakuan Ayah jadi tampak sangat aneh, sehari-harinya ia tetap berangkat dinas ke kantor. Sudah dua belas tahun Ayah bekerja untuk kantor sebelumnya, dan baru-baru ini ia pindah bekerja di kantor bupati karena daerah kami menjadi daerah pemekaran. Ayah menggantikan semua pekerjaan Ibu. Ia membersihkan rumah, mencuci bajunya sendiri, dan memasak. Hanya tinggal kami di rumah ini saat ini, tapi aku tidak mengerti mengapa aku tetap tak bisa bicara di hadapannya. Bahkan sejak Nenek dan Ibu masih hidup, aku merasa ada sekat di antara aku dan Ayah. Dulu Ibu adalah perantara kami. Seakan-akan semua hal yang hendak kusampaikan pada Ayah justru kualihkan kepada Ibu. Kini, saat hanya tinggal kami berdua, aku tak tahu bagaimana caranya menyembunyikan kekhawatiran ini. Hingga tiba saatnya aku kembali lagi ke perantauan beberapa pekan lagi, dan Ayah akan menghuni rumah ini seorang diri. [*]

Cerita pendek ini akan secara eksklusif diterbitkan dalam kumpulan catatan perjalanan ke Tulang Bawang Barat (bersama Yusi Avianto Pareanom, Nukila Amal, Dea Anugrah, AS Laksana, Esha Tegar Putra, Langgeng Anggradinata, Iswadi Pratama, dan Afrizal Malna) dengan Studio Hanafi yang bertajuk “Tubaba”, Juni 2016.

No comments:

Post a Comment