Wednesday, September 23, 2009

22 Jam


[1]

DINI HARI pada saat aku sedang kehilangan ide untuk kutulis, televisi yang masih menyala tiba-tiba menampakkan bintik-bintik semut di layar, kemudian gambar hilang sama sekali, dan televisi padam. Layar monitor di hadapanku juga padam. Suara musik Tchaikovsky yang sejak tadi kuputar untuk menemaniku menjemput inspirasi mengabur menyatu udara, senyap.

Di luar, kulihat dari jendela, hujan sudah lebat sekali padahal sejam lalu masih gerimis kecil-kecil. Udara dingin menusuk-nusuk padahal aku sedang berada di dalam rumah. Kuperhatikan dengan saksama, bongkahan-bongkahan es jatuh dari langit, membentur jalan aspal di depan rumahku dan atap-atap rumah tetanggaku, BRUK, membentur juga rumahku. Jika bisa bicara, jalan-jalan dan rumah-rumah mungkin akan bilang, mereka merasa kesakitan saat itu.

Kemudian semuanya tiba-tiba gelap. Tak ada celah cahaya, setitik pun. Wanita-wanita yang masih terjaga dari tidurnya dari rumah-rumah sebelah rumahku berteriak histeris menyambutnya. Aku hendak bergegas naik ke kamar istriku untuk membangunkannya yang sedang tertidur pulas bersama Alia dan Jala ketika kudapati suara jejak kaki terburu-buru menuruni tangga.

“Indra? Kamu di sana?” suara istriku, Alea, datang dari arah tangga. Aku hafal betul arah mata angin di rumahku meski tanpa penerangan sekali pun, aku sudah tinggal di sini hampir sepuluh tahun, “Mengapa bisa tak ada cahaya, Yah?”