Wednesday, November 13, 2013

#5BukudalamHidupku: Buku Pertama dalam Hidup, Mahabharata

Sekian belas tahun lalu, saya belajar baca-tulis dari Kakek yang sedang senggang. Kami duduk-duduk santai di depan kamar Kakek. Tiba-tiba, ia ambil buku tulis dan pulpen. Lantas, ia menulis huruf-huruf alfabet dengan berurutan. Saya ingat, huruf pertama yang paling rumit bagi saya adalah “S” karena saya tak bisa membedakannya dengan angka “5”. Beberapa hari setelah belajar baca-tulis, orangtua saya membelikan cerita bergambar (cergam) bikinan R. A. Kosasih: Mahabharata dan Bharatayudha. Buku pertama yang kemudian menjadi teman yang saya ajak ke mana pun, sampai saya fasih baca-tulis.

Sebelum usia lima tahun, menjelang saya tidur dan giliran Ayah mendongeng, sudah pasti Ayah menceritakan kisah-kisah pewayangan. Mahabharata, Bharatayudha, dan Ramayana tidak pernah absen dari daftar cerita yang ia repetisi setiap malam. Sementara Ibu hanya hafal satu cerita: Sampek Engtay, dan satu cerita itu yang kerap dia repetisi. Mungkin karena mereka bosan saya mintai mendongeng, maka dibelikanlah saya buku berukuran kitab yang judulnya “Mahabharata” dengan gambar tokoh wayang itu. Kertasnya kertas buram, baunya enak sekali, seperti mencium aroma dupa, tapi lebih pekat dan bukan  beraroma bunga. Gambar-gambar tokohnya juga tegas seperti digambar pakai tinta Cina, dan cergam ini menggunakan huruf-huruf kapital untuk teks di balon-balon dialog.  

Dalam prakata, ketahuan bahwa kisah Mahabharata diolah jadi cergam oleh R.A. Kosasih pada tahun ’50-an. Karena masih banyak peminat dan perlu terus dicetak ulang, cergam yang saya akses adalah versi EYD sesuai aturan pemerintah.

Alur Mahabharata linear dan kejadian-kejadiannya menerapkan hukum karmaphala di mana setiap perbuatan tokoh akan mendapat ganjarannya sepanjang cerita ke depan. Cerita dibuka dengan perburuan Prabu Sentanu, Raja Hastinapura, diiringi pasukan kerajaan. Dalam perburuan itu, ia tersesat dan terpisah dari pasukannya. Setelah lama mencari-cari pasukannya, ia kelelahan dan beristirahat di bawah pohon. Di sana, dia kemudian bertemu seorang putri tanpa asal usul yang kelak dijadikannya permaisuri.

[Ketika itu, teringatlah sang prabu kepada pesan ayahandanya dahulu bahwa bilamana berjumpa dengan seorang putri di dalam rimba, janganlah menanyakan asal usulnya, kawinilah dia segera dan jadikan permaisuri, sebab putri itu adalah anugerah dewata.]

Dipintalah sang putri menjadi permaisuri. Uniknya, sang putri menetapkan syarat:

[Inilah permohonan hamba: bahwa kesatu, gusti jangan sekali-kali bertanya asal usul hamba. Kedua: bila di kemudian hari ada perbuatan hamba yang aneh yang menyimpang dari hukum kemanusiaan jangalah gusti prabu berani menegurnya. Ingatlah itu gusti...]



Prabu Sentanu menyanggupi. Ia tak tahu bahwa yang dimaksud “perbuatan aneh dan menyimpang” adalah membuang keturunan mereka ke Sungai Gangga. Tujuh kali bayi-bayi mereka dibuang ke sungai, sampai suatu hari Prabu Sentanu memergoki permaisurinya. Kenapa istrinya bisa demikian tega membuang putra-putra mereka? Cergam ini pun lantas ber-alurmundur-ria. Putri itu ternyata adalah seorang dewi, Dewi Gangga, yang dihukum turun ke mayapada (dunia). Dia hanya boleh kembali ke surga apabila dapat menemukan suami yang berbudi luhur tetapi melanggar janji. Dalam hukumannya di mayapada, dia kebetulan bertemu delapan wasu (penduduk khayangan yang setengah dewata) yang juga menjalani hukuman dari khayangan. Para wasu harus terlahir lewat rahim seorang dewi dan segera dibuang ke Sungai Gangga setelah lahir untuk dapat ke khayangan. Dewi Gangga menyepakati untuk membantu mereka. Ketujuh wasu itu telah dibuang ke sungai, dan karena terpergok sang prabu, Dewi Gangga tidak membuang wasu kedelapan. Dan karena sang prabu melanggar janji, Dewi Gangga pun kembali ke khayangan dengan meninggalkan bayi itu. Bayi yang di kemudian hari berikrar untuk tidak menikah dan menjadi ksatria sejati: Bhisma, kakek dan guru bagi para Pandawa Lima.

Kelak, Bhisma ini akan bersumpah untuk tidak menikah seumur hidupnya demi ayahnya sang Prabu Sentanu dapat menikah kembali dengan seorang dewi yang (kembali) secara kebetulan ia temui di hutan. Adalah seorang putri raja bernama Dewi Setyawati yang mengasingkan diri ke hutan lantaran baunya yang amis ikan. Dia kemudian berobat dan sembuh, dari tubuhnya malah menguar wangi. Ia kemudian melahirkan seorang putra, namanya Abiyasa Dwipayana, tetapi putranya itu tetap bau amis dan lahir dengan tampang buruk. Putra itu kemudian terasing darinya.

Prabu Sentanu yang duda bertemu dengan Dewi Setyawati yang janda di tengah hutan. Diajaklah sang putri menikah oleh sang prabu. Namun, kembali dilancarkan syarat untuk menikah: sang raja harus menjadikan putra dari Dewi Setyawati sebagai raja. Itu artinya, Bhisma yang saat itu menjadi putra mahkota harus rela tidak menjadi raja.

Saya melihat, Bharatayudha (Perang Saudara) tergiring dan bermula dari sumpah-sumpah ini. Banyak hal terjadi karena Bhisma tidak menjadi raja.

Dewi Setyawati akhirnya menikah dengan Prabu Sentanu dan dikaruniai dua orang putra: Citragada dan Wicitrawirya. Citragada ini pintar, memahiri macam-macam ilmu yang diturunkan kakaknya, Bhisma. Berbeda dengan Wicitrawirya yang pendiam dan “telat mikir”. Namun karena kesaktian yang didapatnya, Citragada menjadi sombong. Ia suka melancarkan perang dan “membuat-buat” masalah hingga terjadi perang. Dewata tidak menyukai sikapnya. Dikirimlah utusan ke mayapada untuk membunuh Citragada. Setelah Citragada mati, Wicitrawirya mesti menggantikan kakaknya. Permaisuri Setyawati pun mulai kebingungan tentang pelanjut takhta kerajaan. Dengan siapa Wicitrawirya patut dinikahkan?

Bhisma kemudian bilang ada sayembara pemanahan di negeri seberang. Tiga orang putri dipertaruhkan dalam sayembara itu. Karena Wicitrawirya tak cakap apa pun, Bhisma mafhum dan mengikuti sayembara untuk memenangkan ketiga putri, yang kelak diketahui bernama Amba, Ambika, dan Ambalika. Bhisma, dengan kesaktiannya, tentu memenangkan sayembara. Diboyonglah ketiga putri pulang.

Dewi Amba, karena merasa usianya lebih tua daripada Wicitrawirya, menolak dipersunting. Lagipula, ia sudah jatuh cinta dengan Bhisma. Dan Bhisma pun telah membunuh Prabu Salya, calon suami Dewi Amba, dalam sayembara. Bhisma yang sudah kadung bersumpah untuk tak menikah lantas menakut-nakuti sang dewi dengan panahnya. Sayangnya, panah itu terlepas dari busurnya tanpa disengaja. Dewi Amba pun mati. Sebelum mati, lagi-lagi terlancarkan kutukan. Bahwa kelak akan datang seorang dewi di medan Bharatayudha. Ia yang akan membunuh Bhisma dengan tangannya dan mengajak arwah Bhisma bersatu di khayangan.

Mengetahui ini, Permaisuri Setyawati sedih. Cepat-cepat, Wicitrawirya diminta sanggama dengan Dewi Ambika dan Dewi Ambalika. Namun, ia kemudian keburu berpulang. Putra yang tersisa di kerajaan hanyalah Bhisma.  Bingunglah sang permaisuri.

Akan tetapi, Bhisma mengingatkan kembali bahwa Setyawati masih memiliki seorang putra: Abiyasa. Setyawati lantas memanggil Abiyasa yang sedang dalam pertapaannya. Dia minta putranya yang buruk rupa itu (ringkih, bermata satu, dan bau amis) untuk sanggama dengan kedua putri. Dari adegan ini, saya belajar tentang kemurnian dan kesucian pikiran dan laku seorang ibu menentukan wujud putra mereka. Ambika yang jijik melihat Abiyasa, misalnya, dan memejamkan matanya selama sanggama, lantas melahirkan Destarastra yang kemudian buta. Sementara itu, Ambalika memasang muka pucat pasi, saat sanggama dan terlahirlah Pandu Dewanata dengan raut wajah putih pias seperti salju. Setyawati tidak menginginkan kedua cucu cacat itu. Maka dimintalah Abiyasa melakukan sanggama kembali kepada salah seorang putri. Putri-putri itu merasa jijik dan meminta seorang sudra (dayang) untuk tidur dengan Abiyasa. Dari persenggamaan ini, lahirlah Widura yang di kemudian hari akan menjadi penasihat kerajaan seperti halnya Bhisma.

Ketiga putra yang cacat ini kemudian dididik oleh Bhisma.  Destarastra diberi kesaktian hambalageni, Pandu menjadi ahli panahan, dan Widura dibekali ilmu kenegaraan dan tata susila manusia. Setelah itu, mereka dikirim kembali ke ayahnya, Abiyasa, untuk diberikan pemahaman tentang kebijaksanaan.

Tiba waktunya bagi mereka untuk menjadi raja dan menikah. Pandu diangkat sebagai raja karena kakak sulungnya yang buta. Maka ia mengikuti sayembara untuk memenangkan seorang putri demi dijadikan permaisuri.

Sayembara itu terbilang mudah: memanah burung dalam sangkar yang sedang berputar. Pandu yang ahli panah pun lantas memboyong Dewi Kunti pulang. Di tengah perjalanan, ia dihadang Narasoma yang mengaku dapat memenangkan sayembara pemanahan. Ia pun beradu kemampuan panahan dengan Pandu dan menjanjikan adiknya, Dewi Madrim, untuk diserahkan kepada Pandu apabila ia kalah. Benar, dalam cerita ini, perempuan memang betul-betul penurut dan dijadikan barang lelang di sana-sini. Bagaimanapun, Pandu yang sudah dasarnya ahli memanah tentu memenangkan pertaruhan. Di perjalanannya itu pula, ia bertemu dengan Sakuni dan ditantang kembali untuk mengadu kesaktian panahan. Kali ini, Sakuni mempertaruhkan kakaknya, Dewi Gandhari. Pandu menyanggupi dan kemudian menang. Dua putri itu pun kemudian diboyong pulang oleh Pandu.

Sesampai di Hastinapura, Setyawati menyarankan agar ketiga putri dibagi rata kepada ketiga saudara (Destarastra, Pandu, dan Widura). Pandu pun merelakan agar kakak sulungnya yang memilih. Ketiga putri itu tentu segan untuk menikahi seorang pangeran buta. Dewi Kunti berdoa kepada Sang Hyang Surya, Dewi Madrim kepada Sang Hyang Aswin, dan Dewi Gandhari meminta saran adiknya, Sakuni, supaya tidak dipilih Destarastra. Meskipun ketiga orang ini gigih dengan usahanya masing-masing, pilihan harus ditentukan dan jatuh pada Dewi Gandhari. Sejak saat itu, karena kesedihannya, sepanjang harinya Dewi Gandhari mengenakan penutup mata dan baru membukanya menjelang malam. Sementara itu, Widura memutuskan untuk tidak menikah.

Suatu hari, saat melakukan perburuan, Pandu melihat dua rusa sedang berkasih-kasihan. Kedua rusa itu sebenarnya adalah penyamaran dari Bhagawan Kindama dan istrinya yang sungkan melakukan sanggama dalam wadag manusia. Karena tak nyaman melihat adegan itu, Pandu memanah rusa yang jantan. Rusa itu mati, dan berubah wujud kembali menjadi manusia, dan sebelum mati mengutuk Pandu agar bila suatu hari ia melakukan sanggama, maka ia akan mati.

Pandu terkejut bukan main mendapatkan kutukan itu. Ia kembali ke Hastinapura dan memberitahukannya kepada dua istrinya. Karena terpukul, mereka bertiga memutuskan mengasingkan diri ke hutan untuk melakukan pertapaan. Destarastra yang lantas menggantikan Pandu menjadi raja untuk Hastinapura. Dewi Gandhari senang bukan kepalang. Adiknya, Sakuni, diangkat menjadi patih sama seperti Bhisma dan Widura.

Sakuni membangun kebun binatang untuk menggantikan taman. Auman dan raungan binatang-binatang di sana yang diceritakan merasuki dan menjadi nyawa dari sosok-sosok seratus Kurawa. Mengenai seratus kurawa, diceritakan karena takut takhta tidak aman di tangannya, Gandhari pun ingin berketurunan. Maka bertapalah dia meminta keturunan dan menyanggupi sanggama dengan Destarastra yang buta. Saat dia hamil, bahkan dia masih sempat-sempatnya memohon pada dewata agar diberikan keturunan sebanyak yuyu (kepiting) yang dia lihat di kebun binatang. Benarlah kejadian. Saat melahirkan, di bulan keenam belas, hanya keluar sebongkah daging besar. Karena sedih, ditendangnya daging itu, pecah menjadi dua bagian, lalu ditendangnya lagi dan tercuil menjadi bagian-bagian lebih kecil.  Bongkahan daging itu yang kemudian menyosok sebagai seratus Kurawa. Kedua bongkah daging besar menjadi Duryadhana dan Dursasana. Dari seratus anak itu, hanya ada seorang putri yang kemudian dinamai Dursilawati.

Mendengar kabar itu, Dewi Kunti dan Dewi Madrim pun bersepakat untuk meminta anugerah pada dewata agar dikaruniai keturunan. Memiliki seratus putra, pikir mereka, pasti juga menjadi campur tangan dewata. Mereka menyampaikan hal ini pada Pandu, dan setelah disetujui, mereka bertiga pun bertapa tidak makan dan minum selama berhari-hari. Mendengar kesungguhan mereka, dewata pun menurunkan Bhatara Dharma untuk membuahi Dewi Kunti, terlahirlah Yudhistira. Lalu berturut-turut dengan Bhatara Bayu melahirkan Bima, dengan Bhatara Indra melahirkan Arjuna, dan Bhatara Aswin dengan Dewi Madrim melahirkan dua putra kembar, Nakula dan Sadewa. Pandu yang tak kuat menahan hasrat pun sanggama dengan salah seorang dari istrinya, lantas meninggal. Dewi Madrim yang sedih mendapati suaminya meninggal kemudian melakukan labuh geni dan ikut meninggalkan dunia.

Jadi, dari sanalah asal Pandawa Lima dan Seratus Kurawa. Cerita berikutnya akan menggiring ke banyak subplot dan menghadirkan sosok-sosok baru. Dari kisah Mahabharata ini, saya belajar tentang betapa rumitnya perbuatan baik/benar dan buruk/salah, yang pada satu waktu akan saling berkaitan. Saya ingat ada beberapa sosok yang saya kagumi dalam kisah ini, dua di antaranya Bhisma dan Dewi Amba yang kelak menjadi Srikandi.

Kelak saat saya SMP, saya kemudian tahu kisah Mahabharata ini merupakan epos, bagian dari Kitab Itihasa—Upaweda. Namun hingga hari ini, saya tidak pernah membaca Mahabharata yang versi serius dari Bhagawan Byasa. Konon, kitab ini terbagi ke dalam delapan belas bagian (parwa), sering dikenal sebagai Astadasaparwa. Entahlah, mungkin karena tidak ada gambarnya. Baru kali ini, saya merasa aneh, bila membaca buku tanpa gambar.

Yang saya tuturkan di atas baru satu bagian dari delapan belas bagian kitab itu (Adiparwa) dan itu pun sudah lumayan ngos-ngosan untuk mengikuti alur dan tokoh-tokohnya. Mungkin, di kemudian hari, saya jadi suka cerita-cerita yang kompleks lantaran Mahabharata ini. Dari kisah Mahabharata, pula, saya memahami filosofi Hindu, yuga-yuga (zaman-zaman): Satyayuga, Tetrayuga, Dwaparayuga, dan Kaliyuga, juga caturwarna, juga perbuatan manusia. Betapa kehidupan hanyalah untuk memenuhi dharma.

(*)  Tulisan ini merupakan ajakan menulis-blog-kembali dari Irwan Bajang dengan tagar #5BukudalamHidupku.

No comments:

Post a Comment