Thursday, November 14, 2013

Ziarah




(Cerpen ini pernah dimuat di Jawa Pos, 21 Oktober 2012.)

21 APRIL 1978.

BEGITU tertera pada dua kayu nisan yang tertancap di puncak bukit pagi itu. Dengan cuaca yang sama, dua puluh tahun lalu, aku ingat betul, aku hampir tak mengenali separuh orang yang berdiri mengelilingiku di bawah payung-payung gelap mereka.

Melintasi sepanjang jalan setapak kembali ke rumah, aku ingat bagaimana aku dibawa pergi oleh mobil-mobil panjang besar, oleh orang-orang yang belum genap sehari kukenal. Tengah malam di waktu sebelumnya, keluarga bibi yang tinggal di sebelah rumah—satu-satunya tetangga yang ketika itu dekat dengan keluargaku—mengantarkan mereka kepadaku. Masih separuh terjaga di sebelah peti mati kedua orang tuaku, aku mendengar percakapan mereka, tetapi tidak kuteruskan.

Mereka menghampiriku dan memperkenalkan diri sebagai kerabat dari pihak ayah, tempatku berlindung setelah segala prosesi pemakaman orang tuaku berakhir. Saat itu aku sungguh takut.

Masih kuingat betul apa yang menyebabkan kedua orang tuaku berpulang. Saat mendapat kabar, sepulang dari berburu kelinci bersama teman-teman sebaya, aku berlari menyusuri jalan setapak berkilo-kilometer jauhnya, hanya untuk memastikan aku masih bisa menyelamatkan kedua orang tuaku.

Saat aku datang, api telah melahap gudang tempat ayahku biasa bekerja. Aku berkeliling ke dalam rumah, mencari ibu. Kudapati, para tetanggaku berusaha memadamkan api dengan baskom-baskom kayu berisi air. Beberapa dari mereka bilang ibuku juga terperangkap di dalam rumah.

Segala upayaku untuk dapat mencapai gudang digagalkan. Mereka berbondong-bondong memelukku dan menghentikan niatku menerobos api. Mereka menghentikan segala teriakanku dan mendekapku seerat mungkin.

Api akhirnya padam berjam-jam kemudian, dan yang kudapati sesudahnya hanyalah tengkorak ayah dan ibuku dengan sedikit sisa daging dan kulit yang terbakar, mereka terikat saling memunggungi pada tiang besi yang sebelumnya tak pernah kulihat. Satu yang kutahu. Pastilah Tuhan tidak dengan sengaja meletakkan besi di sana dan memanggang kedua orang tuaku di gudang itu. Pasti ada orang lain yang melakukannya.

Kurasa pekerjaan ayahkulah yang menyebabkan hal itu terjadi. Hingga kini, aku tak mengerti apa yang dilakukan ayah di ruang kerjanya, padahal dulu ibu pernah bilang suatu saat aku akan tahu.

Hari ini, memasuki ruang tengah, sepenjuru rumah kayu itu telah dipenuhi tumbuhan merambat. Padahal dulu di sana aku pernah duduk, menantang dengan dada membusung, berhadapan dengan orang-orang yang tak kukenali siapa.

“Kami akan mengajakmu kembali.” Masih kuingat seorang pria jangkung berkulit bersih dengan kacamata bergagang bulat duduk di tengah-tengah, berhadap-hadapan denganku. “Di sana kakek dan nenekmu menunggu. Keluarga besar akan menghidupimu.”

Aku tak pernah tahu kakek-nenekku masih hidup. Ayah dan ibu tidak pernah menceritakan apa pun tentang masa lalu mereka, selama belasan tahun di awal hidupku, aku menerima kenyataan itu begitu saja; seolah orang tuaku benar terlahir dari batu.

“Saya adik ayahmu.”

“Saya tidak percaya.”

“Kami tahu kamu perlu bukti. Ayahmu dan istrinya mengasingkan dirinya kemari segera setelah ayahmu menamatkan kuliah di Belanda. Dalam dokumen ini kamu bisa menemukan segala hal tentangnya.”

Saat itu ia menjetikkan jari dan beberapa orang pesuruh masuk ke dalam ruangan dengan mengangkat peti-peti besi di pundak mereka. Semuanya kemudian diletakkan di hadapanku.
Pria itu sedikit memundurkan badan dan membukakan gembok yang mengunci peti dengan kunci kecil dari dalam saku, menunjukkan semua dokumen tentang kehidupan ayahku.
Aku terkesima. Ayahku bukan orang biasa.

Aku membaca beberapa potongan kliping koran yang bercampur dengan dokumen pribadi ayahku. Pemberitaan mengenai orang tuaku. Tentang hilangnya dua tokoh penting dalam sejarah kemerdekaan. Mereka mengasingkan diri ke tengah hutan segera setelah peristiwa Gestapu terjadi. Dua tahun setelahnya, aku lahir. Bahkan ketika itu aku telah mulai bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya dikerjakan ayah, atau ibu seperti apa yang melahirkanku dari rahimnya. Mereka melakukan… hal-hal yang, aku tak tahu apa dasarnya.

Segalanya seolah benar-benar menjadi mimpi ketika pria itu berkata, “Kami rasa kamu tidak akan punya pilihan lain, selain ikut bersama kami.”

MULAILAH aku didandani selayaknya perempuan pada umumnya. Gaun berpita, sepatu balet warna hitam, dan kalung mutiara. Rambutku yang biasanya kugelung lantas disisir dan diikat pita. Aku dibedaki dan bibirku diberi gincu, pipiku merona merah akibat sapuan pewarna pipi, dan alisku dibentuk.

Setiap hari aku mendapatkan materi tambahan di rumah. Diajari cara memanah, bertata krama, dan ekonomi serta politik negara. Terkadang, aku juga bermain-main dengan tabung dan botol-botol berisi zat kimia. Sesuatu yang orang-orang pikir pastilah dapat saja menurun dari kedua orang tuaku. Baru kutahu, kedua orang tuaku kimiawan. Senyatanya, hingga berminggu-minggu setelah mereka mendidikku, aku tetap tak menunjukkan bakat apa pun.

Selain apa yang diajarkan di rumah, aku tidak lagi bersekolah di HIS, di mana para bumiputera biasa duduk belajar bersama keturunan Belanda, kali ini aku pergi ke ELS, tempat di mana peranakan Cina sepertiku, menurut keluargaku—aku tak lagi asing terhadap mereka, patut pergi menapasi ilmu. Di depan cermin kuamini pernyataan mereka, kulitku memang kuning langsat dan mataku sipit, baru kusadari setelah aku tinggal bersama mereka.

21 APRIL 1981.

TAHUN demi tahun berlalu. Melewati tiga tahun masa bersekolah di MULO, di AMS kini, ‘Apalah yang dapat kita lakukan atas negara ini’ adalah retorika yang selalu kudengar dari anak-anak seusiaku. Banyak hal kami bicarakan di kelas-kelas. Tentang tulisan-tulisan perjuangan, revolusi yang terjadi di negara-negara barat, hingga aufklarung, hingga okultisme, hingga semesta alam. Bagaimanapun bentuknya, kawan-kawanku itu selalu memperjuangkan sesuatu.

Selama tiga tahun selanjutnya, kami belajar begitu keras untuk tes masuk universitas. Aku bercita-cita pergi sekolah ke Belanda, mengikuti jejak ayah.

Tetapi sekian waktu berlalu, semuanya jauh berubah. Aku tak lagi mengenali siapa diriku. Aku melebur bersama orang-orang baru yang kukenali. Kalaupun aku bertujuan pergi sekolah ke tempat dulu ayah bersekolah, tujuanku bukanlah apa pun yang berkaitan dengan masa laluku, tetapi sesuatu yang lebih kucita-citakan; negara ideal.

SETELAH memaksa keluarga agar aku diperbolehkan membakar sebagian tulang tengkorak kedua orang tuaku dan membawa abunya ke Belanda bersamaku, akhirnya dengan berbekal itu aku pergi ke Negeri Kincir Angin itu. Aku meletakkan guci abu orang tuaku di apartemen.
Di Belanda aku seringkali mengunjungi rumah bibiku, yang adalah adik ayah, di wilayah Groningen, dari merekalah aku selalu mendapatkan bekal yang cukup untuk hidup. Keseharianku sangat biasa, setiap pulang kuliah aku selalu duduk di Sneltrein membawa serangkai tulip, aku melakukannya sepanjang bulan April selama lima tahun aku menetap di sana. Dan meski segalanya terjamin, aku tetap mendaftar ke kedutaan untuk bekerja paruh waktu, di sana aku bertemu seseorang yang kelak menghancurkan hatiku.

“Sekalipun kau patah hati karenaku, tolong jangan pulang ke Indonesia. Jadilah warga Belanda.” Setelah meniduriku bermalam-malam, setelah mencekokiku dengan segala pengetahuannya tentang kepalsuan dunia, laki-laki itu mengatakan itu. Sekian minggu selanjutnya, aku hancur di apartemen sewaanku; mendengar kabar pria itu telah menikah dengan wanita yang dihamilinya.

Kekasihku selanjutnya seorang seniman. Karena itu, di kota yang sama, setelah aku menamatkan kuliah di Utrecht, aku menetap dan berkarir sebagai pelukis; terkadang aku menulis. Aku sama sekali tidak meneruskan praktik sains yang kupelajari selama empat tahun di sana. Aku lebih terbiasa bertualang di kanal-kanal, berdiskusi tentang teologi ataupun tokoh-tokoh filsafat, ketimbang berdiam diri di laboratorium dan menganalisa molekul.

Tapi takdir berlalu tanpa kendaliku, seorang profesor yang melihat bakatku dan membimbing tesisku selama paruh akhir masa kuliah memaksaku ikut bekerja di laboratoriumnya. Sambil melukis, sambil mempelajari kebudayaan Eropa, sambil menikmati hidup di usia 20-an, aku menyetujui menjadi asistennya dalam beberapa penelitian rumit yang bekerja sama dengan negara lain di wilayah Indo-European.

Beberapa orang yang kutemui selama penelitian itu, yang memaksaku berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, yang juga membuatku berpisah dari kekasihku yang seniman, ternyata mengenal ayah dan ibuku. Tetapi ketika kutanyai lebih jauh, mereka hanya bilang mereka tahu sebatas nama. Dan segera setelah kejadian itu, aku diberhentikan bekerja mendampingi profesorku.

Seminggu kemudian, aku kembali ke Utrecht, mendapati kekasihku telah menikah dengan laki-laki lain. Aku dibuat terkaget-kaget oleh orientasi seksualnya yang berganti hanya dalam waktu beberapa bulan. Setelah memaki-maki sekian jam dan melemparkan barang pecah-belah ke segala sudut ruangan, aku mengemasi barangku, dan memutuskan pergi untuk selamanya dari negara itu.

Aku pindah ke negara tujuan lain, yang bahasanya selama sekian tahun kupelajari secara otodidak.

ZURICH memanglah kota beraura magis. Bahasa Prancis dan Jerman yang kupelajari mulai kupraktikkan di hari pertama, dan sempurna, kurasa aku memang memiliki bakat menjadi poliglot.

Segalanya berangsur membaik, termasuk kondisi batinku. Beberapa minggu kemudian, kudapati kabar tentang kematian keluarga paman-bibiku di Groningen, pembunuhan berantai. Selama seminggu aku kembali ke sana untuk melayat dan mengemasi barang-barang bibi yang diwasiatkan padaku. Cukup mengerikan melihat sepupu-sepupuku yang masih balita menjadi yatim-piatu seketika itu juga. Tetapi apa daya, tak ada yang bisa kulakukan ketika kemudian mereka justru diajak ke Indonesia oleh paman-bibiku. Aku pun turut dipaksa pulang, tetapi aku menolak dan justru memutuskan untuk kembali ke Zurich.

Berniat mengasingkan diri sepenuhnya akibat guncangan yang berasal dari dalam diriku, setelah kembali ke apartemenku di Zurich, aku mulai mendonasikan semua barangku ke beberapa yayasan. Dengan tabungan dan sedikit bekal lainnya, aku memutuskan untuk bertualang mengelilingi dunia. Dulu di bangku kuliah, aku cukup menggemari paham transendental dan, meskipun tidak begitu menarik, aku juga menamatkan jurnal Thoreau.

21 APRIL 1998.
USIAKU 31 tahun, telah mengelilingi seluruh dunia, namun setelah kembali ke tanah kelahiran, aku terpaksa ikut menjadi otak penggagas reformasi. Aku melakukannya bersama teman-temanku dulu yang selalu mencita-citakan negara ideal yang sama.

Sementara itu, paman-bibiku pindah ke Belanda, mengajak juga sepupu-sepupu Belandaku kembali ke tanah kelahiran mereka.

Ketika itu, aku merasa dikhianati. Aku masih belum tahu mengapa ayah dan ibuku terlalap api dua puluh tahun lalu. Apakah hal yang sama, yang memaksa mereka mengasingkan diri ke tengah hutan? Namun mengapa hanya mereka berdua?

Orang-orang di sekitarku merasa hebat dengan dirinya. Sementara aku terus mengikuti gerakan mereka, aku masih merasa aku telah mengacaukan hidupku.

Pada Mei di tahun itu, aku melihat hasil dari apa yang kami cita-citakan sebelumnya di tahun 70’an. Hanya saja, orang-orang itu kini bukanlah teman-teman sekolah yang dua puluh tahun lalu kupuja pemikirannya. Manusia berubah.

TUNTAS berpesta dan berbahagia atas kejatuhan musuh, selama sekian bulan berikutnya aku seorang diri menempati rumah kosong keluargaku di bilangan Jakarta. Semua anggota keluargaku, entah dengan cara apa, telah mengganti kewarganegaraan dan sepakat tidak akan kembali ke Indonesia, apa pun yang terjadi.

Aku merasa dikhianati oleh takdir, oleh waktu, oleh orang-orang yang pernah kukenal. Dengan demikian, mungkin hanya orang-orang yang punya waktu untuk berpikir tentang dirinya sendiri, yang sama merasa sepertiku bahwa kami telah menghidupi mimpi yang demikian panjang. Tempat di mana aku berada sekarang, bukanlah tempat yang puluhan tahun lalu aku harapkan.

Meneguk habis segelas kecil tequila yang tersisa, sambil masih sedikit-sedikit mengingat bagaimana tanganku mengarsir tipis lukisanku tentang seorang gadis dengan topi sombrero ketika di Meksiko, aku memutuskan untuk kembali ke tempat di mana semuanya berawal. Kurasa sebaiknya, sebelum mati, aku harus mengetahui sebab kematian orang tuaku. Bisa saja, dulu, bukan mereka yang mati. Bisa saja akulah yang mati, dan pergi ke tempat berbeda, dan bertemu dengan orang-orang yang sepenuhnya berlainan, dan menghidupi kematianku selama dua puluh tahun. [*]

No comments:

Post a Comment