Monday, September 8, 2014

Tanda



(Cerpen ini juga dimuat di Jakartabeat.net, 19 Mei 2013)
TELEVISI masih menyala. Ikan-ikan di akuarium bergerak-gerak cepat. Dua orang di ruangan itu terjaga dini hari itu, duduk berhadapan di sofa yang dipisahkan sebuah meja. Musik klasik menemani mereka yang saling memberi jarak.

Si gadis dengan laptop di atas bantal pada pahanya, si pria dengan buku bacaan tebalnya. Sebuah mug besar berisi kopi kental di hadapan si pria, satu botol mineral besar di hadapan si gadis.

“Kau tak pulang?” tanya si gadis pada pria di hadapannya.

Si pria menggeleng, “Terlalu larut.” Ia tahu gadisnya akan kembali lenyap dini hari itu. Pertemuan-pertemuan mereka hanya akan berlalu sekedipan mata. “Tulisanmu sudah jadi?” tanya si pria, mengalihkan pembicaraan.

Gadis itu menggeleng, “Nanti begitu aku pergi, pulanglah. Masih ada kereta untuk kembali ke Kyoto sebelum dini hari. Bacaanmu sudah habis, kan?” tukas si gadis.

Tiga buku tebal yang telah habis dibaca oleh si pria tertumpuk di meja. “Kita sudah telanjur memesan kamar hingga esok. Buku-buku ini bisa kubaca ulang, bahkan kubacakan untukmu.”

“Memangnya kau tak lelah?”

“Aku akan mulai ceritakan apa yang kubaca tadi, oke?” Si pria mengambil buku-buku yang telah diletakannya di atas meja. Ia mulai menceritakan apa-apa saja yang ia baca.

Si gadis tak memedulikannya dan terus mengetik.

“Pulanglah,” pintanya lagi. “Nanti bila aku pergi, kau bisa langsung pulang. Kau tampak sangat lelah.”

“Tidak, aku akan tetap di sini. Aku akan menangis sampai pagi.”

Mendengar hal itu, si gadis memejamkan mata, “Jangan bilang begitu.”

“Kau tahu aku rindu bertengkar denganmu. Aku begitu rindu hingga aku dapat berpura-pura semuanya baik-baik saja. Aku tak mau kehilanganmu.”

“Jangan bilang begitu.”

“Aku tak akan bilang begitu bila kau mau berjanji. Jangan menghilang dengan tiba-tiba. Jangan pernah pergi lagi dariku.”

“Itu tak mungkin. Kau tahu kenapa aku selalu berusaha mengusirmu, kan?”

Si pria mengulum senyum, dadanya perih ketika melihat tubuh gadis di hadapannya perlahan-lahan berubah menjadi asap. Air mata menetes di pipi si gadis ketika sebagian tubuhnya telah lenyap. Hingga kemudian, tubuh gadis itu menghilang sepenuhnya.





PARTIKEL-PARTIKEL mentari melewati ventilasi. Debu-debu kecil itu bergerak berputar hingga menyentuh wajah si pria yang tertidur di sofa.

Saat terbangun, si pria merasa matanya sembab lantaran menangis semalaman. Agak terhuyung ia berjalan ke arah toilet. Pada cermin di toilet itu, ia menatap wajahnya lekat. Ia lupa sejak kapan dagunya penuh berewok, bahkan rambutnya kelihatan sudah layak untuk dipangkas. Ketika ia tersadar sepenuhnya akan apa yang terjadi pada malam sebelumnya, ia buru-buru berlari kembali ke sofa tempat ia terbangun.
Ada sebuah surat lagi tertinggal untuknya. Gadis itu lenyap seperti sebelum-sebelumnya.

Aku, lagi-lagi, tak bisa menceritakan apa yang terjadi padaku di alam arwah. Namun, karena aku bisa kembali, tentu kau tahu aku baik-baik saja. Aku pun tak tahu apa yang akan terjadi padaku nanti. Aku tak akan menceritakan bagaimana-bagaimananya. Namun, aku pasti akan kembali lagi kepadamu sebisaku. Kurasa aku beruntung dapat kembali berkali-kali. Arwah temanku hanya sekali-dua kali. Oh ya, aku telah melanjutkan novelku yang belum selesai dan aku menulis beberapa cerita pendek lagi. Hanya cerita remeh-temeh. Tampak seperti sebegitu tak inginnya aku untuk mati, ya? Oh ya, aku tentu lebih senang bila kau dapat membuka dirimu kepada gadis lain. Berhentilah mencintaiku terlalu dalam.

Lagi-lagi, pada laptop itu ia menemukan sebuah naskah novel yang belum tuntas, juga beberapa cerita singkat.

MESKI arwah si gadis menceritakan banyak hal kepadanya, pria itu tidak tahu di mana jenazah si gadis bersemayam.

Mereka dulu bertetangga. Mereka saling mengenal sejak usia lima tahun. Ketika itu mereka belum benar-benar jatuh cinta kepada satu sama lain. Hingga si gadis menghilang begitu saja dari hidup si pria. Tanpa jejak untuk dikontak. Bahkan ketika si pria berkunjung ke rumah si gadis, orang tua si gadis tak tahu ke mana putri mereka pergi berkelana.

Berada jauh dari Indonesia, si pria tak menyangka akan menemukan si gadis di sebuah taman di Osaka, Jepang. Kala itu si gadis memegang dua kembang gula di tangan. Satu diserahkannya kepada si pria, satu digigitnya sembari duduk di sebelah pria di kursi taman.

“Lama tak jumpa,” ujar si gadis ketika itu, “jadi kau telah pergi sejauh ini?”

Si pria masih terkesima dengan takdir yang dialaminya. Bertahun-tahun lewat, ia bahkan tidak menyangka dapat kembali bertemu dengan si gadis.

“Sudah bisa menyanyikan lagu seriosa?” Justru itu hal pertama yang ia tanyakan kepada si gadis setelah bertahun-tahun tak berjumpa. Entah hanya itu satu-satunya hal yang ia ingat di kepala.

Gadis itu tertawa terpingkal, lantas mulai menyanyi. “Ah, suaraku masih bagus,” bisik si gadis seusai menuntaskan sejumlah lagu.

“Kau pun masih suka minum susu kental,” ujar si pria.

“Begitulah. Jadi, apakah pria penyuka kopi karamel ini sudah menikah?” Namun,  ke sanalah si gadis mengarahkan pembicaraan mereka.

Pria itu menggeleng, “Semuda ini, menikah? Tentu belum bila belum ada yang tepat. Nona sendiri?” canda si pria dan lantas mengamati jemari si gadis.

Belum ada cincin tersemat di jari manis.

“Tidak akan bisa menikah,” jawab si gadis.

“Mengapa?”

“Tuan akan segera tahu.” Kedip mata si gadis kala itu menyiratkan sesuatu.

“Bahkan sekalipun aku yang melamar Nona?”

Saat itu tawa sang gadis pecah. “Bahkan sekalipun Tuan yang melamarku.”

Sirat mata sang gadis menemukan artinya di penghujung hari. Karena pada dini hari yang terasa cukup pendek itu, untuk pertama kalinya, si pria menyadari ia dan si gadis telah berbeda dunia. Karena di beranda kamar apartemennya dini hari itu, si gadis lenyap menjadi debu, terbang ke langit, ke arah bintang-bintang.

“KAU tahu apa yang dapat kulihat sekarang?” Pada pertemuan mereka selanjutnya si gadis muncul kembali dengan teramat tiba-tiba saat si pria berniat membeli makan siang.

Setelah berbulan-bulan lamanya ia menganggap pertemuan mereka yang pertama hanya sekadar mimpi, pada pertemuan kali itu ia justru terpaksa mengira dirinya barangkali telah mengidap skizofrenia, di mana ia tak dapat membedakan mana yang nyata dan yang maya.

Si gadis mendekatkan mata ke arah mata si pria dan sejenak dia mengerjap-ngerjap.

Dada si pria berdegup.

“Hari ini aku mau makan dim sum, mi seduh, rumput laut, dan nasi bumbu kari,” ujar si gadis. Senyumnya yang lugu dan binar matanya yang cerah menghangatkan siang yang mengantarkan titik-titik air dari angkasa.

“A-p-a k-a-u… nyata?” tanya si pria dengan terbata.

Si gadis tersenyum sepintas. Lantas terpingkal. Lantas menggeleng. “Mungkin sebentar lagi tidak.”

“Kau akan lenyap lagi?”

Si gadis menggenggam tangan si pria, “Barangkali, ketika aku genggam tanganmu seperti ini, dan kita berjalan dari sini mengelilingi Okachimachi, mencicipi beraneka makanan—mungkin, di tengah jalan genggamanku akan lepas.”

“Dan kau hilang?”

Si gadis mengangguk.

“Jadi, apa kau nyata?”

Si gadis tersenyum. “Mungkin kini, tidak.” Perlahan-lahan, tubuh si gadis lenyap lantas terbang menyatu dengan butiran-butiran air yang jatuh dari angkasa.

“KITA tak pernah punya kesukaan yang sama, ya?” Itulah malam pengakuan cinta mereka, jauh di masa lalu, ketika mereka berbincang berhadap-hadapan pada ayunan di belakang rumah si gadis.

“Kurasa begitu,” sahut si pria. “Aku merasa bodoh duduk di sini menemanimu.”

Si gadis tertawa lepas, “Kau tahu aku tak punya saudara, mungkin kau kasihan kepadaku?”

“Bukan,” lontar si pria cepat-cepat, “aku hanya merasa bodoh ketika menemanimu membisu seperti ini. Sementara, kupikir, seharusnya kita membicarakan sesuatu.”

Si gadis menyipitkan mata. “Adakah hal lain lagi yang masih perlu kita bicarakan?”

“Sudahkah kita membicarakan segala hal?” sedikit membelalakkan mata, si pria kala itu mencoba mengingat-ingat keseluruhan jalan cerita mereka sedari pertemuan pertama.

Ayunan masih tetap bergerak sejengkal demi sejengkal.

“Kita tidak pernah punya kesukaan yang sama, kan?” Si gadis menekankan lagi.

Si pria, entah karena tersihir, atau sedang melamun—entah karena tak pernah mengingat mereka memiliki ketertarikan yang kuat pada hal yang sama—menganggukkan kepala, “Nampaknya.”

Si gadis tersenyum. “Lalu, menurutmu, apa hal yang mungkin akan bisa sama-sama kita sukai?” tanya si gadis.

Si pria menatap ke dalam bola mata si gadis. “Saat ini aku menyukai diriku. Mungkin kau bisa mencoba menyukaiku juga?”

Si gadis terpingkal, “Ya, ya, aku bisa menyukaimu. Meski mungkin butuh waktu.”

JAM di hotel berdentang sekian kali. Peringatan bahwa ia telah harus melapor-keluar dari hotel itu. Di kamar itu, setelah hanya melahap dalam sekali telan roti sisa yang dibeli si gadis, si pria mulai membaca ulang naskah novel yang ditinggalkan si gadis.

Sepembacaannya, si gadis tidak mengisahkan ceritanya dari bagian awal hingga akhir. Dia hanya menulis sepotong-potong. Si gadis teramat sering menggunakan penceritaan non-linier. Dia mengawali ceritanya dengan klimaks, barulah meloncat ke seperempat bagian awal dari cerita, lantas menuju ke prolog, kembali ke tengah, dan begitulah. Si pria sangat menyadari, kerumitan gadis itu tercermin juga dalam tulisannya.

Ketika si pria hendak meninggalkan hotel, setelah membayar sejumlah uang tambahan akibat ia terlambat melapor-keluar, seorang petugas hotel berlari mengejarnya membawa sebuah kotak yang dibalut kain. Ketika kain disingkap, terdapat kandang aluminium yang berlubang banyak dengan seekor kucing tepat menatap mata si pria.

“Maaf, Tuan. Kucing Anda tertinggal,” ujar petugas tersebut dengan bahasa Jepang yang sopan.

Mata si pria membelalak. Kucingnya? “Mungkin Anda salah orang?” Ia menjawab dengan bahasa Jepang.

“Tidak, tidak salah. Pagi tadi nona yang bermalam bersama Anda menitipkan kucing ini kepada saya.”

Tidak mungkin. Gadisnya telah lenyap dini hari itu. Bagaimana si gadis bisa menitipkan kucing pagi itu, batinnya. “Mungkin Anda salah.”

“Tidak, Tuan. Saya ingat betul. Ia mengaku sebagai adik Tuan, gadis dengan syal abu-abu dan rambut panjang ikal, bertopi kepala rubah, dan dia menyelipkan surat ini.”

Si pria membuka surat tersebut.

Kucing untukmu. Aku tak tahu mengapa aku membelinya dan memberikannya kepadamu.

Berdasarkan cerita teman-temanku di alam arwah, saat kau dapat mengunjungi dan tinggal di dunia dalam waktu yang lama, itu pertanda saatnya kau tak akan boleh lagi pergi ke sana nantinya. Entahlah, mendengar itu, terpikir olehku membelikan kucing ini untukmu. Omong-omong, aku lupa, apa kau suka kucing?


Sore tadi sebelum menemuimu, aku telah membeli kucing itu dan aku meminta seorang gadis mengantarkannya kepadamu. Mungkin dengan itu, dia harus membohongi petugas jaga pagi hotel. Aku tak tahu, tapi kalau surat ini telah sukses sampai kepadamu, itu artinya ia berhasil berbohong.

Si pria menatap lekat kucing kecil di dalam kandang. Ia bertanya dalam hati, entah apakah ia pernah menyukai kucing. Kucing itu, dengan bulu keemasan, telinga mungil yang tinggi, dan tatapan lembut, mengeong kepadanya.

“Betul, ini kucing adik saya. Terima kasih,” jawabnya seraya lantas mereka saling membungkukkan badan.

Kau mengusirku tadi malam. Padahal kau menitipkan kucing untukku. Ternyata kau masih sepelupa itu.

Sebelum pulang ke flat dengan menumpang kereta Nagoya-Kyoto, ia membeli beberapa kaleng susu cair dan sekaleng ikan tenggiri.

SETELAH perjalanan empat puluh menit dalam kereta, dan mengambil sejumlah dokumen ke kampusnya di Universitas Kyoto, serta meminta izin kepada pemilik flat, ia kemudian meletakkan kandang kucing yang dinamainya Tanda—yang dalam bahasa Inggris lebih bermakna Mark ketimbang Sign—itu di sebelah sofa di dalam kamarnya.

Ada beberapa proyek kampus yang masih harus ia kerjakan.

Ia membuka kandang, menuangkan sekaleng ikan tenggiri dan susu cair untuk si kucing pada mangkuk besar yang biasanya ia gunakan sebagai tempat mi udon.

Dibiarkannya film Tokyo Story terputar ketika ia mulai memasukkan cucian ke mesin cuci. Duduk di atas sofa sambil hanya mendengarkan sebagian besar dialog film, ia mulai mengerjakan tugas yang diterimanya pagi tadi dengan laptop yang ia topang di pangkuan.

Terpengaruh dialog film yang ia setel, ia teringat orang tuanya tak pernah mengunjunginya ke Jepang. Ia pun barangkali hanya menerima telepon sekali dalam setahun.

“Mungkin, suatu saat aku akan mati kesepian, seorang diri, tak dikenali siapa-siapa,” bisiknya kepada diri sendiri, “jenazahku mungkin tidak akan ditemukan siapa pun, seperti dia.”

Ketika itu, Tanda telah menghabiskan susu dan ikan tenggiri di mangkuknya.

KETUKAN di pintu. Tanda berlari ke arah ketukan. Si pria menatap dua mangkuk yang telah kosong. Ia merenggangkan tubuh, meletakkan laptop di atas meja, dan berjalan menuju pintu.

Tanda mengengong manja ke arahnya. Si pria membuka pintu.

Si gadis berdiri di sana, tersenyum, menjinjing dua tas belanja yang tampak penuh.

“Kau beri nama apa akhirnya?” tanya si gadis seraya menyerahkan tas belanjanya kepada si pria dan mengangkat Tanda ke dalam pelukan.

“Tanda.”

“Tanda, nama itu lucu. Sedang melakukan apa?” tanya si gadis, masuk ke dalam flat si pria.

“Membereskan hasil konferensi minggu lalu, menggabungkan beberapa data yang diberikan oleh klienku di Nagoya kemarin, dan menghimpun semuanya menjadi satu,” jawab si pria sambil memasukkan belanjaan si gadis, yang hampir semuanya adalah bahan makanan, ke dalam kulkasnya yang sebelumnya kosong.

Tokyo Story?”

“Ya. Iseng membelinya ketika mengunjungi toko DVD, sebelumnya tidak tahu ceritanya semelankolis itu,” jawab si pria sambil menyuguhkan manju dan dua gelas teh hijau pada meja di sebelah tumpukan buku.

“Aku pernah menontonnya. Menyedihkan, anak yang lupa kepada orang tuanya. Dan begitulah memang, hidup—lama-lama—memang hanya soal melupakan dan dilupakan,” komentar si gadis dan kemudian melempar tubuhnya ke atas sofa, “tapi setidaknya ada Noriko si menantu yang akhirnya menemani mereka.”

“Begitulah. Aku membayangkan bila nanti orang tuaku datang dan aku terlalu sibuk, lalu mengabaikan mereka. Sialnya, aku belum punya istri,” jawab si pria sembari duduk di sebelah si gadis dan menggenggam tangannya. “Ah ya, mengapa kau datang begitu sering belakangan ini?”

“Aku juga tak tahu,” sahut si gadis seraya merebahkan kepala di pundak si pria, “aku tiba-tiba muncul di depan pintumu dan membawa dua tas belanja. Aku tak tahu harus melakukan apa selain mengetuk pintu.”

“Apa benar seperti yang kautulis dalam suratmu, itu tandanya suatu saat kau akan berhenti datang?”

Tanda meloncat ke tengah-tengah mereka. Pada pangkuan si gadis si kucing menggesek-gesekkan tubuh dan terlelap.

“Aku masih ingin menikah denganmu,” lanjut si pria, “dan aku ingin punya anak yang lahir darimu.”

Si gadis tertawa. “Melepaskan apa yang tak bisa menjadi milikmu lebih baik daripada kau berlarut-larut dalam kesedihan.”

“Aku hanya heran. Kalau kau pada akhirnya akan benar-benar pergi untuk selamanya, mengapa kau terus menerus datang dan membuatku tidak bisa kehilanganmu?”

Si gadis menarik napas, “Aku pun tak tahu mengapa. Aku hanya datang kepadamu. Aku tidak muncul di tempat lain. Aku hanya muncul di dekatmu,” jawab si gadis, “aku ingin mengunjungi kedua orang tuaku di Indonesia, tapi aku tak bisa melakukannya.” Dia melanjutkan. Air mata mengalir di pipinya.

Si pria menghapus tangis si gadis dengan menempelkan wajah di pipi si gadis. “Apa kau mati di Jepang?”

Si gadis memejamkan mata rapat-rapat, “Jangan bicarakan itu.”

“Aku hanya ingin tahu. Aku penasaran mengapa kau juga bisa ada di sini.”

“Jangan ingatkan aku pada kejadian itu, kumohon.”

“Bagaimana rasanya mati dan jiwamu lepas dari tubuhmu?”

“Aku tak tahu. Aku lupa.”

“Mengapa kau tak bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di alam arwah?”

Si gadis memeluk tubuh si pria dengan erat. Kemeja si pria basah air mata. Si pria mengecup ubun-ubun si gadis dan memeluknya semakin erat. Hingga lagi-lagi, si gadis tiba-tiba hilang begitu saja. Meninggalkan si pria yang ketika itu justru berakhir dengan memeluk Tanda.

MALAM ITU si pria tidur satu ranjang dengan Tanda. Tanda melingkar di kaki si pria.

Di dalam mimpinya, si pria mengikuti seorang gadis yang wajahnya samar-samar mirip seseorang yang dikenalnya dari bandara menuju ke sebuah rumah. Tiba-tiba ia menyadari siapa gadis itu ketika melihat dengan siapa si gadis berbicara.

Paman dan bibi yang telah dikenalnya selama bertahun-tahun.

Seingat si pria, paman dan bibi itu telah meninggal lima tahun lalu. Saat itu putri mereka satu-satunya, si gadis—hingga saat paman dan bibi meninggal karena kecelakaan dan kemudian dimakamkan—masih tidak jelas keberadaannya.

Kalau begitu, bagaimana bisa—gadis itu ada di sana?

Hingga, pada satu titik, mimpinya kemudian berpindah ke masa berbeda. Ia berada di dalam pesawat. Si gadis sedang bersama dengan seorang lelaki, menyenderkan kepalanya kepada lelaki itu dan si lelaki membelai rambut si gadis setelahnya.

Si pria kembali meloncat lagi ke tempat berbeda. Kini pada sebuah kapal pesiar. Si gadis dan si lelaki di pesawat tadi tampak bertengkar di dalam suatu kamar. Si gadis menunjuk-nunjuk ke arah foto di dalam bingkai yang dipegangnya. Ketika si pria mengamati lebih dekat, di sana ia menemukan fotonya belasan tahun lalu. Si gadis dan si lelaki terus beradu mulut dan saling melempar apa pun yang ada di dalam kamar.

Hingga kemudian si lelaki membekap wajah si gadis dengan bantal.

Di sana, dilihatnya si lelaki mengikat tangan dan kaki si gadis, memperkosa si gadis yang telah tak bernyawa. Di sana pula, dilihatnya si lelaki memasukkan banyak hal ke dalam tas dan mengikat tas tersebut ke tubuh si gadis.

Pada malam hari, si lelaki terlihat memberikan uang kepada sejumlah orang. Orang-orang bayaran itu mengangkat tubuh si gadis ke luar kamar.

Si pria berusaha mengejar. Namun, ia kembali meloncati masa.

SI PRIA terbangun dari mimpi buruknya. Keringat membasuh tubuh. Tanda meliuk-liukkan badannya dengan manja di kaki si pria.

Air mata di pipinya. Dalam hati ia bertanya-tanya, apakah mimpi yang barusan ia alami adalah kejadian nyata?

Ada yang mengetuk pintu.

Si pria berlari cepat ke arah pintu. Ia berharap menemukan gadisnya di sana.

Namun, seorang perempuan yang tak dikenalnya yang ada di hadapannya. Si perempuan tersenyum dan memanggil sebuah nama. Ketika nama tersebut dipanggil, si kucing yang tadinya ditinggalkan si pria di atas kasur berlari melintasi si pria, lantas melompat ke arah si perempuan.

Si perempuan memeluk Tanda dengan sayang. “Aku telah mencarinya ke mana-mana,” ujar si perempuan dengan bahasa Jepang.

Si pria menatap takjub. Pikirnya, tentu tidak mungkin. Kucing itu diberikan oleh petugas hotel di Nagoya, kucing itu dibeli oleh gadisnya di suatu tempat di Nagoya.

Namun, ternyata si kucing adalah kucing yang sebenarnya berasal dari Kyoto dan dimiliki oleh tetangga flatnya?

“Tetapi, kucing ini kubeli di Nagoya,” jawab si pria cepat dengan bahasa Jepang, merebut si kucing dari pelukan si perempuan.

“Tidak mungkin. Aizu hilang pagi ini ketika aku mengajaknya berdoa ke kuil,” tukas si perempuan.

Si pria mengerutkan dahi, “Aizu?” tanyanya kaget. Aizu—Tanda, dalam bahasa Jepang.

“Ya, nama kucingku ini,” jawab si perempuan, membelai rambut lebat si kucing, “sungguh terima kasih telah menyelamatkannya,” lanjut si perempuan sembari membungkukkan tubuh dan lalu tersenyum gemas ke arah si kucing.

“Tapi …”

“Maukah kau makan bersamaku dan Aizu di flatku pagi ini? Aku akan memasak makanan yang enak sekali untuk penyelamat Aizu,” undang si perempuan dengan bersemangat.

Sebenarnya si pria enggan. Namun, ia pun tidak tahu cara menolak. Maka, ia mengunci pintu kamar flat, mengikuti si perempuan yang menggendong Tanda dengan sayang di pelukannya. Sepanjang lorong menuju kamar si perempuan, mereka mulai berkenalan.


Sementara itu, televisi yang masih menyala di kamar flat si pria menampilkan siaran berita mengenai penemuan tulang tengkorak seorang gadis di dalam sleeping bag yang terikat batu di dasar laut. [*]

No comments:

Post a Comment