Monday, March 5, 2012

Semiliar Perbedaan



 (Cerpen ini dimuat di Bali Post, 15 September 2015)

KAMI berdua memeluk keyakinan berbeda. Ia kakak tingkatku yang menelantarkan jatah waktu kuliah hingga hampir dikeluarkan dari kampusIa selalu berpenampilan dan bertingkah sembrono. Kalau kurangkum hal-hal yang selama setahun ini kami bicarakan, tak ada satu kesepakatan pun yang tercipta dalam perdebatan-perdebatan kami.

Hari itu ketika kami semestinya diwisuda, pada jam-jam di mana seharusnya kami menunggu di gedung kampus dengan aku berpakaian kebaya dan ia rapi dengan jasnya—duduk lama menanti kesempatan pemindahan tali toga—aku justru bertemu dengannya di perpustakaan. Buku-buku lapuk bertumpuk di meja.

“Membaca Wilde lagi?” tanyaku, mengambil tempat di hadapannya.

“Kamu tak wisuda hari ini?”

Begitulah. Aku akan memulai dari A, ia bukan menjawab B, melainkan Z.

“Oscar Wilde seorang gay.” Aku mengomentari buku yang dibacanya.

“Aku juga membaca Nietzsche.”

“Nietzsche pemain wanita, meninggal karena raja singa. Kamu mencemooh orang-orang seperti mereka, biasanya. Kamu tak dapat menolerir tindakan-tindakan buruk seperti itu, bukan?”

“Sepertinya kamu memang lebih hobi membaca biografi. Kuduga kamu lebih suka menilai buku dari sampulnya?” balasnya.

Aku menyunggingkan senyum ketus untuk menuding. “Bukannya kamu yang begitu? Pria yang sangat membenci humanisme.”

Humanisme. Pernah satu waktu—aku lupa kami sebelumnya membahas apa—dengan mengutip kamus, ia bilang ia bukan seorang humanis. Menurut manifesto para pencipta kata tersebut, humanisme ialah paham yang menganggap manusia berada di tingkatan kesadaran paling tinggi, di mana para humanis tidak memercayai keberadaan hal-hal mistis dan juga bahkan tidak pula Tuhan.

Pria di hadapanku ini seperti halnya kamus berjalan. Ia penghafal sekian banyak istilah. Bila bicara dengannya, aku perlu tahu tiap makna dari lema yang seringkali spontan saja kuucapkan. Dan begitulah semua percakapan panjang lebar kami selalu bermula dari kata-kata yang salah kudefinisikan dan lantas ia betulkan.

 “Untuk apa kamu bawa buku-buku berat itu?”

Aku mengalihkan perhatian pada apa yang kupegang di tanganku. “Kamu bilang aku perlu membaca buku-buku Teologi lebih banyak?” sahutku.

“Sudah kamu temukan kitab sucimu?”

Tripitaka, tiga keranjang. Teman seimanku bilang susah kemungkinannya untuk menemukan semua naskah Tripitaka. Keranjang-keranjang dalam kata Tripitaka belum tentu sebesar sebuah keranjang kecil, bisa saja tiap keranjang itu sebesar istana.

“Bukan urusanmu. Kenapa kamu tak wisuda hari ini?”

“Untuk apa membuang setengah juta demi wisuda? Aku bisa beli buku-buku yang kusuka dengan uang sebanyak itu.”

“Jadi kamu selundupkan uang kiriman orang tuamu?”

“Kamu masih berpikir aku semanja dirimu yang bahkan untuk kosmetik pun masih meminta kepada orang tua?”

Aku selalu tahu bagaimana cara menyahuti sarkasmenya. “Kamu hanya kelepasan bicara. Kenyataannya, kamu tak pernah sudi bersahabat dengan wanita berbedak tebal.”

Menurutnya, laki-laki memang sejatinya diciptakan untuk wanita. Ia sinis terhadap sikap konsumtif untuk menarik perhatian lawan jenis. Mereka toh saling mengisi tanpa si wanita perlu berdandan, tanpa si pria perlu terkesan gagah dengan berotot. Ia pernah bilang aku memberitahunya hal-hal tak berguna sewaktu aku menjelaskan apa yang kuketahui mengenai istilah LGBT-IQ—lesbian, gay, biseksual, transeksual, interseksual, queer. Penolakannya berpedoman kepada Aristophanes sewaktu komedian Yunani itu memberi tanggapan tentang ‘apa makna cinta’ dalam sidang Plato.

Dalam sidang itu diterangkan bahwa Zeus (Tuhan bagi bangsa Yunani) menciptakan satu tubuh manusia dengan dua kepala, empat kaki, dan empat tangan. Hingga kemudian (aku lupa oleh sebab apa) tubuh itu dihukum dan lantas terbelah menjadi pria dan wanita. Hukumannya ialah agar tubuh pria dan wanita itu saling mencari seumur hidupnya. Dari sana lantas muncul pengertian soul mate, belahan jiwa.

”Untukmu ada perkecualian. Aku berteman dengan perempuan berbedak tebal dan berotak encer.”

“Sudahlah. Apa kamu pikir orangtuamu tak akan merasa senang hadir di wisudamu?” tanyaku. “Bertahun-tahun mereka membiayai sekolahmu, wisuda menjadi semacam puncak pendidikan. Kamu tak mau membuat mereka bangga?”

“Orang tuaku berpikiran sama denganku. Yang penting anak mereka mampu menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Mereka pikir banyak orang menjalani perkuliahan sekadar sebagai formalitas agar bisa mendapatkan pekerjaan; dan wisuda hanya ajang pesta pora uang rakyat. Kamu sendiri kenapa tak wisuda?”

Aku menelan ludah. “Terlambat mengumpulkan berkas.”

“Nah, itu. Tak kasihan dengan orangtuamu?”

Seketika, aku mengangkat buku yang kubaca tinggi-tinggi sejurus dengan posisi wajah.

“Kamu lupa aku yatim piatu?” Aku menyahut dari balik buku. Pertanyaanku tak bersambut. “Lagipula itu memang bukan urusanmu,” bisikku sepelan-pelannya.

Sesaat kemudian, kudengar suara ia mendorong kursi. Kupikir ia akan pergi. Namun, kemudian ia berdiri di belakang kursiku, “Ikut, tidak?” tanyanya.

“Ke?”

“Membelanjakan setengah jutaku.”

Aku menghela napas. “Kamu benar-benar melakukannya.”

“Perkataanku selalu sesuai dengan tindakanku. Ayo, kalau kamu ikut, kubelikan kamu satu buku sebagai hadiah wisuda.”


KAMI melalui gang-gang sempit wilayah Malioboro. Ada beberapa toko buku bekas di sana. Kuduga sebagian dari buku-buku di sana adalah sumbangan dari orang-orang asing itu, atau mungkin hanya tanpa sengaja mereka tinggalkan. Meskipun, terlihat dari kertasnya, banyak di antaranya adalah buku-buku bajakan.

Ia membelikanku Mimo življenja, atau Passing Past Live, oleh Ivan Cankar. Aku memilihnya karena suka dengan judul dan blurb-nya. Kata orang-orang di sampul buku itu, Ivan penulis Slovenia yang kehebatannya sejajar dengan Kafka dan Joyce.

“Judulnya sangat melankolis,” komentarnya.

Judulmu pun sama melankolisnya, tahu,” balasku. Ia mengambil This Kind of Bird Flies Backward, oleh Diane diPrima. “Kenapa memilih itu?” tanyaku.

“Murah, sih,” jawabnya sambil tertawa lantang.

“Satu itu saja?”

“Yep, hanya ini yang kelihatan menarik hari ini. Seperti di travelator,”

“Ya?”

“Itu, lho. Eskalator yang bentuknya bukan tangga, tapi jalan datar. Ketika kamu di travelator, kamu masih bisa menghadap ke belakang sambil terus bergerak ke depan, atau kamu diam saja menghadap ke belakang, dan kamu sampai tujuan.”

“Tak ada bedanya dengan eskalator,” sahutku.

“Sensasi orang yang seringkali terpaku pada masa lalu hidupnya lebih bisa didapat dengan menganalogikan pada travelator. Judul buku ini mengingatkanku pada hal-hal kecil semacam itu.” Ia kemudian berjalan menuju kasir dan membayar.

“Apa rencanamu selanjutnya?” tanyanya. Kami berjalan melintasi gang lagi, masih becek bekas hujan tadi siang.

“Sekadar juru warta,” jawabku, “dan yang akan kamu lakukan?”

“Menikah.”

Spontan aku mengarahkan pandang kepadanya. Bukan denganku? Rasanya aku ingin bertanya begitu. “Sudah ada calon, ya?” tanyaku.

“Ada.”

“Kamu suka perempuan yang bagaimana?”

Perempuan yang menarik itu tinggi, proporsional, berambut pendek, ukuran dada A sampai B, niche, dan punya aura lembut.” Ia membeberkan kriterianya. Hanya kriteria ukuran dada yang menggambarkanku. Apa ia sengaja?

“Dia seperti itu?”

“Tidak. Mungkin hanya ukuran dadanya yang seperti itu,”

Setelahnya, kami bergeming selama berjalan menuju halte transjogja, di dalam bus, bahkan hingga tiba di halte koperasi mahasiswa.

“Setelah ini kita tidak akan bertemu lagi,” ucapnya. “Pasti sulit menemukan orang dengan semiliar perbedaan sepertimu.”

“Bodoh,” jawabku, “kita akan bertemu lagi.”

“Kamu selalu mengataiku bodoh,” ujarnya.

“Hanya karena kamu terlalu pintarnya,” sahutku. “Kamu bukan orang melankolis, kan? Masak kata-kata candaan pun masuk pikiran.”

“Sudahlah,” balasnya. “Sampai ketemu, kalau begitu. Semoga nanti kamu sudah jadi lebih menarik.”

Kami di jalan kami masing-masing. “Ingat kirim undangan!”

“Tentu. Naraya?”

“Ya?”

 “Saat kamu mendapati potongan-potongan puzzle, kamu bukan berusaha mencari kesamaannya untuk dapat menyatukannya. Tapi kamu mencari kecocokannya.”

“Menarik. Sayangnya, aku pelupa.”

“Nah, semoga kamu tidak lupa.” Setelah mengucapkan itu, ia kemudian berlari pergi, kali ini dengan cepat, berlawanan arah denganku. [*]


Cerita lama, ditulis di tahun 2012, ketika saya mengenal seorang pria yang selalu menjuluki dirinya Tuan Alien. Kami berteman dekat, dan ia sangat memengaruhi tulisan-tulisan saya pada pusaran waktu 2010-2012. Karakternya ikut masuk--bersama empat pria lain yang saya kenal dalam hidup saya--dalam novel debut saya SPTJKYJTC. Sementara itu, adegan di Malioboro terinspirasi dari kencan ke Malioboro dengan seorang pria lain--yang tak kalah berarti, yang hmm mungkin saya cintai--yang menyepakati ketika saya dan teman saya menjulukinya Pria Berinisial. So, here it goes, Tuan Alien and Pria Berinisial combined into one.

Beberapa orang menyukai cerpen ini, maka saya putuskan mengunggahnya kembali ke laman blog.

No comments:

Post a Comment