2012/10/18

Sebuah Rumah untuk Kesenian Rakyat



Awalnya tempat itu hanya diniatkan sebagai ruang mengisi waktu luang. Kini, beragam usaha dilakukan untuk membuatnya bertahan.

Menjelang malam dua gadis kembar berlatih mendalang di ruang tengah rumah. Seruni Wida Ningrum melantunkan suluk  memulai kisah pewayangan. Intonasi suaranya mantap mengalahkan gerimis hujan di pekarangan. Bersimpuh bersisian, Seruni Wati memperadukan wayang kancil di pegangannya. Tabuhan gamelan mengiringi latihan mendalang dalam bahasa Jawa itu.

Bagi Wida-Wati, begitu mereka biasa disapa, rutinitas harian itu adalah sarana untuk mewujudkan cita-cita menjadi pendalang. Bisa dibilang Wida-Wati adalah sepasang pendalang yang disiapkan dan digembleng sejak dini oleh para pelatih di Balai Budaya Minomartani. Tak ada biaya yang diperlukan dalam setiap kegiatan mereka. Roedi Hotmann-lah yang membawa ide tanpa pungutan biaya itu ke Balai Budaya Minomartani sejak berdirinya joglo pada 1990. Walhasil, para penggiat seni Balai Budaya Minomartani lainnya kerap mengadakan pelatihan gratis karawitan, wayang, tari, ketoprak, dan teater bagi warga Minomartani dan sekitarnya.

Sebagian besar warga Minomartani tidak menggeluti ranah seni secara profesional. Mereka berlatih seni untuk mengisi waktu senggang selepas kerja. Seperti pada malam yang sama, ibu kedua saudari kembar itu, Endang Purwanti, ikut berlatih ketoprak bersama tiga puluh pendengar setia Radio Balai Budaya Minomartani (Radio BBM). Ada pentas yang mereka persiapkan untuk ditampilkan tiga minggu berikutnya. Karakterisasi ketoprak disesuaikan dengan keseharian pendengar radio BBM sebagai wujud interaksi pendengar dan pegiat Radio BBM. “Kan, pendengar Radio BBM profesinya macam-macam, itu yang akan ditampilkan,” jelas Sukisno, Kepala Taman Budaya Yogyakarta yang juga bergiat di Balai Budaya Minomartani.

Pentas juga akan diudarakan secara langsung melalui Radio BBM 107,9 FM. Dengan itu, komunitas Minomartani dapat menikmati Ketoprak kendati sebatas melalui medium suara. “Kalau tidak ada radio, balai budaya tidak jalan, karena seringnya orang-orang monitoring dari radio. Sebaliknya, radio tidak jalan tanpa balai budaya karena income radio dari penyewaan gamelan,” ujar Eko Cahyo, teknisi Radio BBM.

Jauh pada tahun 1990-an, kebutuhan warga akan budaya hanya diwadahi oleh RRI dan TVRI. Lantaran seringnya delay dan kualitas rekaman yang kurang baik, warga berinisiatif membuat media sendiri. Sebelum ada radio, warga memperoleh berita seni dan budaya melalui Koran Selembar (Kobar). Koran ditulis tangan, diperbanyak, dan lantas dibagikan kepada masyarakat. Radio BBM adalah generasi kedua dan telah beroperasi sekitar 12 tahun. Mulanya, ada Radio Suket Teki sebagai radio perintis,yang berdiri lantaran keisengan Adi Nugroho, generasi pertama teknisi radio di Minomartani. Bersama warga yang hobi membikin pemancar radio FM, bilik kecil rumah di depan joglo Balai Budaya Minomartani dijadikannya tempat siaran.

Saat itu, Adi tak meniatkan radionya menjadi ikon Balai Budaya Minomartani. Meneruskan Kobar, program siaran Radio Suket Teki masih berfokus pada seni dan budaya berdaya jangkau hingga Kalasan dan Jetis. Siaran radio terdengar belum terlalu jernih karena masih menggunakan radio rakitan sendiri. Namun, ketangguhannya beroperasi dapat ditandingkan dengan usaha radio-radio swasta pada awal tahun 2000-an. “Pada tahun-tahun itu, Radio Suket Teki sempat dijuluki mbah-nya radio komunitas,” jelas Eko.


Hingga, pada 2002, komunitas Minomartani yang jarak rumahnya jauh dari wilayah Minomartani tak lagi dapat mengakses siaran Radio BBM. Saat itu, pemerintah mengeluarkan Undang-Undang No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Tercantum didalamnya bahwa pemerintah hanya menyediakan tiga kanal untuk radio komunitas (107,7 hingga 107,9 FM). Siap tidak siap, tiap radio komunitas mesti menyesuaikan keadaan untuk mengantungi Izin Penyelenggara Penyiaran serta Izin Siaran Radio. Untuk memperoleh izin, Radio BBM mengubah frekuensi radio menjadi 107,9 FM. Dalam rentang frekuensi itu, siaran radio BBM hanya mampu menjangkau pendengar hingga jarak 2,5 kilometer.

Selain tak lagi dapat diakses pendengar setia di jarak jauh, kanal terbatas yang disediakan pemerintah sering membuat siaran radio mereka bertabrakan dengan frekuensi bandara (108 FM). “Kalau alat dalam keadaan kurang bagus, frekuensi bisa melebihi batas, pilot di hanggar atau yang sedang lepas landas memang dapat mendengar siaran kami,” ungkap Kuncoro. Pembatasan jarak pancar yang hanya 2,5 kilometer juga membuat Radio BBM harus mati-matian bersaing, “perang frekuensi”, dengan radio komunitas lain. Terutama dengan Radio Demangan (107,8 FM) dan Radio Wijaya (107,7 FM) yang jaraknya berdekatan dengan stasiun Radio BBM.

Sejauh ini, Radio BBM mengusahakan izin siaran sejak 2005. Namun, hingga tahun 2012 ini mereka baru sampai pada tahap Rekomendasi Kelayakan (RK). “Soalnya baru belakangan ini KPI punya good-will untuk men-support lembaga penyiaran komunitas. Lembaga swasta dan publik didukung duluan, yang dekat dengan akar rumput dianggap kurang signifikan. Di Indonesia, pegawai ya aras-arasen mengurus yang enggak ada apa-apanya,” keluh Sri Kuncoro, pegiat Radio BBM.

Selain perihal izin, kurangnya tenaga penyiar juga menjadi masalah. Di hari kerja, Radio BBM hanya bersiaran dari pukul 7-12 malam. Program siaran rutin hanya diisi oleh pemutaran lagu keroncong, campursari, ataupun lagu lawas. “Sekarang jarang ada siaran langsung, jumlah pentas juga menurun padahal dulu bisa satu-dua kali dalam sebulan,” ungkap Eko.

Menurunnya partisipasi warga dalam pentas disebabkan tuntutan hidup yang semakin banyak. Menurut Nanang Karbito, penggiat seni di Balai Budaya Minomartani, kesenian tidak bisa dipaksakan; prinsipnya, kegiatan di Balai Budaya Minomartani tergantung pada yang berminat. Penggiat Balai Budaya Minomartani berusaha menciptakan suasana guyub dan cair sehingga Balai Budaya Minomartani dapat menjadi rumah untuk memahami budaya Jawa tanpa paksaan. Harapan Nanang hanyalah, ketika warga sudah tak lagi sibuk dengan pekerjaannya, mereka dapat kembali datang dan berkesenian.

Sejauh ini, Nanang masih berusaha mendorong warga untuk terus menggiatkan budaya Jawa. “Puskat membangun dan memberi fasilitas dengan harapan masyarakat dapat bergerak sendiri,” ujarnya. Pada 2009, ia membentuk Sanggar Seni Sang Bumi untuk menumbuhkan kedekatan dan rasa memiliki atas budaya Jawa. Di sana anak-anak usia TK-SD dilatih untuk melakukan pentas bertema kesenian dan budaya Jawa. Ia juga menggerakkan warga usia dewasa dengan mengkreasikan harmoni gamelan dan karawitan kontemporer, serta membuat wayang alam, seperti wayang damen yang terbuat dari tangkai padi. “Dengan begitu, mereka akan tahu kalau kesenian tradisional bisa digarap dan dikomposisikan, dan melihat berkesenian sebagai medium yang menyenangkan,” tutupnya. [*]

No comments:

Post a Comment

Tulisan Terdahulu