Monday, February 10, 2014

Alice Munro: Kisah Para Perempuan Menghadapi Situasi Batas dalam Tradisi Gotik, Bildungsroman, dan Transendental

Kumpulan cerpen Munro mungkin adalah jawaban bagi para pria yang mengatakan perempuan susah dipahami. Buku-bukunya menampilkan secara apa adanya tokoh-tokoh perempuan dalam berbagai lapisan kehidupan. Munro menunjukkan sisi rahasia setiap perempuan yang barangkali hanya mereka ungkapkan dalam mimpi. Dia punya kekuatan yang tak terduga untuk mengeksplor hal yang sama tanpa pernah kehabisan napas. Cerpennya seputar relasi perempuan dan lelaki, independensi para perempuan itu, yang didukung oleh unsur anak-anak (lebih sering bocah perempuan) dalam lingkup domestik karena dalam cerpen-cerpennya, Munro berusaha mengajak pembaca mengikuti perkembangan psikologis para tokoh perempuan itu. Dari 168 cerpennya (Munro rutin menulis untuk The New Yorker, Tin House, dan The Paris Review), hanya 43 cerpen lepas (lampiran) yang tidak dimuat di media massa.

Dalam tulisan ini, saya akan membahas tiga cerpen dalam  kumpulan cerpen Hateship, Friendship, Courtship, Loveship, Marriage (2001); ComfortFamily Furnishings, dan The Bear Came Over the Mountain. Dari ketiganya, hanya The Bear Came Over the Mountainyang dimuat di media massa, The New Yorker, 27 December 1999 / 3 January 2000, 27 December 1999.

“Eighteen-year-old freshette, whose story in this issue is her first published material. Graduate of Wingham High School. Overly modest about her talents, but hopes to write the Great Canadian Novel some day. Has read little modern writing, has travelled scarcely at all, and belongs to no particular literary movement. Plans to major in Honours English, with emphasis on creative writing.

Profil Alice Laidlaw (nama lajang Alice Munro) saat cerpen pertamanya, The Dimensions of Shadow dimuat di Majalah Folio 4 No. 2 (April, 1950): 2-8 [7]. Delapan belas tahun kemudian (saat Alice berusia 37 tahun), cerpen itu kemudian diterbitkan dalam kumcer Dance of the Happy Shades (1968).

Alice Munro (lhr. 1931) adalah penulis cerpen yang tak pernah tuntas belajar menulis novel. Ketika diwawancara, entah separuh berkelakar atau tidak, dia bilang hanya menganggap cerpen yang ditulisnya sebagai medium berlatih menulis novel. Tak ayal, cerpennya selalu panjang. Belakangan ini, pada usia 81 tahun, dia berpamitan untuk tidak lanjut menulis, padahal dia belum menghasilkan satu pun novel. Meski begitu, kumpulan cerpennya, Lives of Girls and Women, seringkali dianggap sebagai novel karena keterjalinan tokohnya. Meski tak benar-benar menghasilkan novel utuh seperti yang diinginkannya, Penghargaan Nobel dalam Bidang Sastra di tahun 2013 jatuh padanya dengan bunyi: “master of the contemporary short story” dan dalam daftar pemenang Nobel, dia didapuk menjadi satu-satunya penulis yang memenangkannya dengan hanya bermodalkan cerpen. Lives of Girls and Women tidak disebutkan sebagai novel dalam keterangan itu.

Oleh orang-orang di sekitarnya, Munro dikenal sangat pemalu. Banyak orang tak tahu siapa dia. Karena itu pensiun dininya, katanya, akan dia gunakan untuk lebih banyak menikmati kegiatan sosial. Pada permulaan kariernya, dia menulis untuk biaya hidup dan sekolah. Sejak usia belasan, dia sudah mulai menulis, karena menurutnya di Ontario semua perempuan membaca dan menuturkan kisah, sementara para lelaki bekerja di luar rumah. Dengan anggapan itu dan juga karakternya yang penyendiri, dia menghabiskan hidup dengan merasa teralienasi terhadap dunianya. Kepercayaannya tentang kemampuan menulis para wanita Ontario itulah yang mendorong Munro berkisah dengan sederhana. Kisah-kisahnya sangat hermetik, melekat pada ruang dan waktu yang diketahuinya—tempatnya tumbuh besar—di Ontario, Kanada kebanyakan dalam kurun waktu 1950-1960.  Meskipun, dia pernah juga menulis cerpen mengambil setting bayangan di Indonesia (lihat cerpen Jakarta) atau Rusia dan Jerman (lihat cerpen Too Much Happiness).

Munro merepresentasikan lingkaran kecil hidupnya dan terutama masa kecilnya, tentang orang-orang biasa yang kebetulan menjadi tetangganya atau orang-orang yang pernah dikenalnya, atau dirinya sendiri. Empat cerpen yang menjadi penutup karier menulisnya, Dear Life, adalah cerpen-cerpen autobiografis. Lewat pilihan setting dan karakter dalam cerpennya, dia menunjukkan orang-orang biasa pun menjalani kehidupan yang besar, dengan segala pergulatan perasaan dan pemikiran mereka.

Sebagian besar, atau hampir keseluruhan, karakter utama Munro adalah perempuan, dari segala jenjang usia. Dan semua perempuan itu saling menuturkan orang-orang di sekitarnya. Dari cerita Munro, dapat ditemukan seorang anak menceritakan tentang neneknya, atau ibunya, tantenya, bahkan selingkuhan ayahnya. Cerpennya yang hingga puluhan halaman (sekitar 40.000-100.000 karakter dengan spasi) memberikan wadah yang sangat luas baginya untuk mengeksplor para tokoh—dari kebiasaan berpakaian, cara berbicara, benda-benda kesukaan, hingga begitu banyak detail dan subplot yang biasanya ada pada novel. Seolah-olah, para karakter itu tidak bisa lepas dengan benda-benda di sekitarnya dan relasi mereka terhadap alam atau individu lain. Lewat cara ini, Munro seperti mencoba membangun asosiasi sifat/kepribadian dari tokoh utama dari bagaimana mereka berkomunikasi dengan lingkungannya.

Yang paling kentara dari fiksi-fiksinya, Munro tampak tak bisa lepas dari tradisi ceritabildungsroman, di mana dia membangun narasi untuk menguntit kehidupan tokoh utama sejak kecil hingga mati. Beberapa cerpennya dalam kumpulan Dance of the Happy Shadesdinarasikan dari sudut pandang anak kecil, juga utuh menceritakan keseluruhan hidup tokoh-tokohnya. Pada kumcer-kumcer berikutnya, narator juga biasanya membuka kisah melalui penuturan anak kecil/remaja, seperti melalui percakapan sederhana di teras rumah, atau drama hidup keseharian. Dalam wawancaranya dengan Graeme Gibson, Munro memang mengaku tidak bertujuan memanipulasi dan membuat rumit ceritanya. Pilihan diksinya terjaga supaya tetap mudah dipahami. Dalam kesederhanaannya itu, kisah-kisah Munro turut dibarengi sesuatu yang lebih besar, detail, dan berlapis-lapis seiring perkembangan karakter/watak dari tokoh utama. Tokoh utama menuju kedewasaan dengan melalui banyak pergulatan. Umumnya, Munro menjejali mereka dengan masalah-masalah domestik untuk menampilkan keintiman antara para tokoh dengan rumah/keluarga dengan tetangganya, atau bahkan dengan orang asing sekalipun (dalamDear Life dan Working for a Living).

Gaya bildungsroman Munro ini bisa menjadi contoh bahwa kisah keseharian mesti diselami lebih dalam (bila diandaikan seperti kolam), dan alasan-alasan dari berbagai kejadian yang terjadi di permukaan hidup mesti dicari sampai akarnya (bila diandaikan sebagai pohon). Munro menampilkan karakternya seperti mengupas lapisan bawang. Dengan beragam teknik narasi, Munro fokus pada apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh karakternya dan mengupas selubung rahasia dari tokoh-tokoh itu yang meliputi pergelutan dengan gender, kelas, usia, ras, dan banyak faktor lain. Lebih sering menarasikan kisah dengan sudut pandang pertama, Munro membuat karakternya begitu cerewet dalam mengomentari segala hal di sekelilingnya.




Ditambah lagi, gaya menulis Munro yang mirip reportase membuat cerita-ceritanya tak terkesan seperti fiksi karena tampil sangat realis. Perempuan-perempuan dengan kesehariannya itu memesona dengan interaksi yang alami. Menariknya, dalam cerita Munro tentang rumah dan keluarga, tokoh pria seringkali digambarkan sebagai sosok jahat, seperti dalam PassionRunaway, dan Fathers. Bila tidak selingkuh, maka bisa punya kecenderungan melukai atau membunuh. Selain tentang pandangan tokoh utama terhadap pria, perkembangan psikologis dan spiritual dari tokoh utamanya itu pula tampak lewat upaya Munro menggiring para karakter itu ke situasi batas seperti dalam teori Karl Jaspers: 1) Kematian, 2) Penderitaan, 3) Perjuangan, dan 4) Kesalahan.

Kombinasi keempat situasi itu muncul dalam ComfortFamily Furnishings, dan The Bear Came Over the Mountain. Ada kecenderungan dalam karya-karyanya yang mengkhidmati perasaan menyayat-nyayat tetapi tetap mampu kalem dalam menyikapi kisah cinta yang terlambat atau kisah cinta yang tak sampai. Comfort bercerita tentang  kematian seorang suami akibat tekanan dari sekolah tempatnya mengajar agar ia menghentikan pandangan-pandangan ateisnya. Family furnishings mengambil rentang waktu yang lebar untuk menceritakan pandangan seorang anak perempuan terhadap seorang wanita asing yang terlalu sering datang ke kehidupan ayahnya hingga di hari pemakaman ayahnya, dia mendapati kenyataan hubungan percintaan ayahnya dan perempuan asing itu di masa lalu. The Bear Came Over the Mountain membahas pertahanan dan pergolakan batin seorang suami menghadapi istrinya yang tak bisa memberinya keturunan dan justru mengalami alzheimer. Ketiga cerita ini bercerita tentang kehilangan dengan caranya sendiri, dengan keterkaitannya dengan situasi-situasi batas itu.

Pemilihan tema Munro dalam cerita-ceritanya itu dapat dijelaskan dengan melihat keterpaparannya atas novel bacaannya di masa kecil, Wuthering Heights. Dalam Control The Uncontrollable: Fiction of Alice Munro, Ildik√≥ de Papp Carrington beranggapan, kisah cinta tak sampai Heathcliff terhadap Catherine, termasuk kemunculan hantu Catherine, juga kematian misterius Heathcliff dalam novel Emily Bronte itu bisa jadi berpengaruh besar pada cerita-cerita Munro.

Seperti kisah-kisah Munro, Wuthering Heights merupakan kombinasi dari keempat situasi batas itu: Kematian dihadapi oleh Catherine, penderitaan dihadapi oleh Heathcliff yang terus menerus memimpikan Catherine, tentang perjuangan cinta mereka, dan kesalahan yang kemudian terjadi di hidup mereka. Sama seperti Emily Bronte, Munro sangat suka mengeksplorasi mimpi. Dari banyak cerita Munro yang menampilkan unsur mimpi tersebut,Friend of My Youth adalah hasil kerja Munro yang paling serius. Sejak awal hingga akhir, kisah pencarian tokoh Aku atas kehidupan masa lalu ibunya yang telah meninggal. Pencarian si tokoh utama itu terhadap sosok ibunya di masa muda diawali dengan mimpi-mimpi kehadiran roh si Ibu. Dalam beberapa ceritanya yang lain, Munro menggunakan mimpi sebagai landasan moral dan perilaku para tokoh.

Kecenderungan gotik yang senada dengan Wuthering Heights muncul secara konstan dalam Family Furnishings di mana Munro membangun narasi panjang tokoh utama (perempuan muda) tentang Alfrida (perempuan seumuran ayahnya) yang terus muncul dalam kehidupan keluarganya di pedesaan, hingga si tokoh utama berkuliah ke kota tempat tinggal Alfrida, bagaimana Alfrida berkali-kali memintanya untuk mengunjunginya tetapi ditolaknya, hingga pada pemakaman sang ayah, seorang anak dari Alfrida datang ke pemakamanAnak itu mengaku sebagai “anak yang dibuang”, dan dari percakapan itu, ada kemungkinan anak tersebut adalah hasil dari percintaan tak sampai antara Alfrida dan ayah si tokoh utama.

Nettles, Floating Bridge, dan The Bear Came over the Mountain juga mengeksplor relasi tokoh perempuan atau lelaki yang sudah menikah dengan orang di luar pernikahan mereka. The Bear Came over The Mountain terbilang menarik karena Fiona, tokoh utama perempuan, mengalami alzheimer. Karakter ini membuat Munro begitu lentur memunculkan kepribadian Fiona dan suaminya, Grant. Fiona diceritakan tidak memiliki anak, ada kesan yang muncul dalam cerita bahwa kepikunan Fiona didorong oleh hasil diagnosis itu. Fiona sulit mengingat banyak hal, bahkan termasuk kehilangan ingatan tentang cara pulang ke rumah, dia perlu menelepon Grant untuk menanyai arah jalan pulang. Hingga suatu hari, lantaran kepikunannya, Fiona membuat rusuh dengan polisi. Hal ini membuatnya masuk suaka rehabilitasi. Di sana, dia bertemu dengan Aubrey, pria lansia yang mengalami permasalahan ingatan seperti Fiona. Fiona sering menemani Aubrey bermain kartu dan ada perasaan saling mengisi di antara mereka. Di rehabilitasi itu, Fiona melupakan Grant sepenuhnya. Grant sering datang berkunjung, dan melihat kedekatan Fiona dengan Aubrey, tetapi ia tak benar-benar tampak cemburu. Terkadang, Grant malah berpikir Fiona hanya menjebaknya dalam permainan. Di sini, Munro menampakkan Grant yang dingin dan “sedikit jahat” karena seolah-olah ia tak cemburu terhadap kedekatan Fiona dan Aubrey. Penceritaan kilas balik dalam cerpen itu kemudian memperjelas situasi karena menunjukkan bahwa Grant telah melakukan hal yang sama sebelumnya. Sebagai dosen, berulang kali dia telah pernah berselingkuh dengan mahasiswinya. Anggapan Grant bahwa dirinya dijebak sebenarnya adalah rasa bersalahnya karena sebelumnya ia telah berselingkuh berkali-kali. Bahkan, diceritakan dalam narasi omniscient, menjelang akhir cerita, Grant berencana berselingkuh dengan istri Aubrey.

Ildik√≥ de Papp Carrington terutama menganalisis tentang hubungan kekuatan dan hasrat seksual, tema-tema kematian sangat mendominasi karya Munro, begitu banyaknya rahasia yang adalah kombinasi dari seks dan kematian (setiap terjadi kematian, selalu dibarengi oleh seks). Dalam Comfort, saat kehilangan suaminya, Lewis, Nina justru melakukan hubungan seks dengan pria lain—yang adalah seorang pendeta. Dalam keintiman percakapan mereka, Nina bahkan sempat bertanya: “Do you believe in such a thing as souls?” yang dijawab oleh pria itu dengan tarikan napas beserta anggukan, “Yes.”

Selain kombinasi seks dan kematian, wujud pengaruh Wuthering Heights tampak pada bagaimana karakter-karakter Munro, seperti bagaimana orang yang telah mati menjadi begitu kuat mempengaruhi kehidupan mereka yang masih hidup dalam Friend of My Youth. Narasi gotik ini terkesan misterius karena kemunculan roh si Ibu dalam mimpi si Aku tak mendapatkan porsi penjelasan yang cukup dan malahan si Aku membentuk kesimpulan-kesimpulannya sendiri sepanjang jalan cerita. Hal ini menunjukkan seakan-akan ada benang tak tampak dalam relasi setiap tokoh di karya Munro, bahkan benang tak tampak antara yang-mati dan yang-hidup. Munro menciptakan kebetulan-kebetulan, deus ex machina, tetapi dengan tangan yang tak terlihat.

Kesukaan Munro terhadap nuansa gotik barangkali juga terkait dengan kehidupan pribadinya (dia menikah dua kali). Beberapa kali, dia menampilkan pembelaan terhadap tokoh-tokohnya yang melakukan perselingkuhan.

“And thats the first time ever I kissed a married woman.”
Floating Bridge (Hateship, Friendship, Courtship, Loveship, Marriage, 2001)

I had known this man before I left my marriage and he was
the immediate reason I had left it, though I pretended to him—
and to everyone else—that this was not so.
Nettles (Hateship, Friendship, Courtship, Loveship, Marriage, 2001)

1) Monogamy is not a natural condition for men and women.
2) The reason that we feel jealous is that we feel abandoned. This is absurd, because I am a grown-up person capable of looking after myself. I cannot, literally, be abandoned. Also we feel jealous—I feel jealous—because I reason that if Hugh loves Margaret he is taking something away from me and giving it to her. Not so. Either he is giving her extra love—in addition to the love he feels for me—or he does not feel love for me but does for her. Even if the latter is true it does not mean that I am unlovable. If I can feel strong and happy in myself then Hugh’s love is not necessary for my self-esteem. And if Hugh loves Margaret I should be glad, shouldn’t I, that he has this happiness in his life? Nor can I make any demands on him— 
The Spanish Lady (Something I’ve Been Meaning to Tell You, 1974)

Selain gotik, Munro menyukai setting pedesaan sehingga membuatnya condong membuka cerita dengan pemaparan panorama, dan menaburkan deskripsi alam di sekujur ceritanya. Tak mengherankan, semua orang yang tahu latar belakangnya sudah mafhum, karena dia hidup di pedesaan dan tumbuh besar di sana. Namun, entahlah bisa dibilang wajar atau tidak bila dalam ratusan karyanya dia masih betah saja menghubungkan relasi alam dan tokoh-tokohnya, terutama dengan gagasan bahwa para lansia akan menyenangi tinggal di beberapa tempat di daerah rural Kanada seperti dalam Walking on Water. Ada pula kesan bahwa “kekotaan” adalah sesuatu yang amat dibenci oleh para tokoh di cerita Munro seperti dalam Family Furnishings.

This was a part of town where a lot of old people still lived, though many had moved to high-rises across the park. Mr. Lougheed had a number of friends, or perhaps it would be better to say acquaintances, whom he met every day or so on the way downtown, at the bus stop, or on the walks overlooking the sea. Occasionally he played cards with them in their rooms or apartments. He belonged to a lawn-bowling club and to a club which brought in travel films and showed them, in a downtown hall, during the winter. He had joined these clubs not out of a real desire to be sociable but as a precaution against his natural tendencies, which might lead him, he thought, into becoming a sort of hermit. During his years in the drugstore business he had learned how to get through all kinds of conversations with all sorts of people, to skate along affably and go on thinking his own thoughts. He practiced the same thing with his wife. His aim was to give people what they thought they wanted, and continue, himself, solitary and unmolested. Except for his wife, few people had ever suspected what he was up to. But now that he was no longer obliged to give anybody anything, in the ordinary daily way, he put himself in a position where now and again he would have to, as he believed in some way it must be good for him. If he left it all to his own choice who would he talk to? Eugene, that was all. He would get to be a nuisance to Eugene.
Walking on Water (Something I’ve Been Meaning to Tell You, 1974)

Alfrida was always referred to as a career girl. This made her seem to be younger than my parents, though she was known to be about the same age. It was also said that she was a city person. And the city, when it was spoken  of in this way, meant the one she lived and worked in. People went into such a place when they had to and were glad when they got out.
Family Furnishings (Hateship, Friendship, Courtship, Loveship, Marriage, 2001)


Kaum transendentalis biasanya percaya bahwa masyarakat dan lembaga/institusi mengganggu kemurnian individu. Munro pun tampaknya demikian, terlebih dia menampilkan kehadiran unsur-unsur metafisik (seperti mimpi dan arwah) dalam ceritanya. Dalam kepercayaan transendentalis pula, ada anggapan bahwa seseorang akan berada dalam kondisi terbaik saat dia benar-benar bisa lepas dari masyarakat dan hidup secara mandiri, biasanya hal ini mendorong pada pemberontakan kaum sipil. Bila ditelusuri lebih jauh, kecenderungan Munro memberikan tempelan-tempelan deskripsi politis pada tokoh-tokohnya yang biasanya adalah “orang-orang kiri” bisa jadi menunjukkan sikap politiknya yang mendukung the civil of disobedience-nya Henry David Thoreau. Dalam cerpenJakarta, misalnya Munro menulis:

Or, at least, because of a story that had got into the newspapers. Her husband, Cottar, who was a journalist working for a magazine that Kath had never heard of, had  made a trip to Red China. He was referred to in the paper as a left-wing writer. Sonje ’s picture appeared beside his, along with the information that she worked in the library. There was concern that in her job she might be pro-moting Communist books and influencing children who used the library, so that they might become Communists. Nobody said that she had done this—just that it was a danger. Nor was it against the law for somebody from Canada to  visit China. But it turned out that Cottar and Sonje were both Americans, which made their behavior more alarming, perhaps more purposeful.
Jakarta (The Love of a Good Woman, 1998)

Namun, marilah tidak terlalu jauh melenceng membahas perihal politik dalam karya Munro karena tulisan ini tidak hendak menuju ke sana. Setidaknya, dari sikap dalam karyanya, seperti para transendentalis, Munro memiliki pegangan bahwa dengan individu-individu mandiri yang dekat dengan alam itulah sebuah masyarakat yang sebenarnya dapat dibentuk. Seperti telah disinggung sebelumnya, kesan untuk bekerja dan menyatu dengan alam ini didukung oleh latar belakang keluarga Munro, ayahnya Robert Eric Laidlaw adalah seorang petani dan peternak.

Meskipun, dalam Comfort, narasi Munro ternyata tak sepenuhnya bersifat transendetalis. Di cerpen itu, Munro menciptakan karakter Lewis yang positivistis seperti kecenderungan para ilmuwan, sangat haus akan fakta-fakta empiris untuk memperjelas hal-hal natural.

Diceritakan bahwa Nina dan Lewis adalah pasangan yang sering berdebat tentang hal-hal religius. Nina lebih menerima agama dan keyakinan sebagai mitos—kisah belaka yang mendedah baik dan buruk, sementara Lewis beranggapan lebih jauh. Ia mengajar ilmu alam di sekolah, tetapi murid-muridnya sering mengajaknya berdebat karena menganggap Lewis sama sekali tidak religius. Lewis menyahuti mereka, bahwa bila mereka ingin mendapatkan interpretasi yang religius terhadap ilmu alam, maka setidaknya mereka mesti berkuliah di sekolah khusus Kristen. Namun, pertanyaan dan hujatan justru semakin tak bisa ia bendung.

“Adam and Eve. The same old rubbish.” Begitulah Lewis menganggap dunianya. “I happen to be the boss in this classroom and I decide what will be taught.”

“I thought God was the boss, sir.” Begitu murid-muridnya membantah.

Tuntutan ini berlanjut pada surat pembaca yang ditulis para orang tua di surat kabar. Mereka mengadu bahwa mereka tak akan mampu menyekolahkan anak-anaknya di sekolah swasta (khusus Kristen), karena itu mereka tetap menganggap anaknya berhak bersekolah di tempat Lewis mengajar, tentunya dengan mengeliminasi guru-guru ”ateis” seperti Lewis.

“I will read the whole book of Genesis aloud if you like, and then I will announce that it is a hodgepodge of tribal self-aggrandizement and theological notions mainly borrowed from  other, better cultures—”

Lewis mengguyon kepada kepala sekolah yang memintanya untuk dapat beradaptasi dengan keadaan.

“Myths,” said Nina. “A myth after all is not an untruth, it is just—

Sang istri ikut menukas, tapi saat itu tak ada yang mendengarkan perkataan Nina. Perdebatan di sekolah dan di rumahnya itu membuat Lewis akhirnya jatuh sakit, “I was afraid I was neurotic, but I only have amyotrophic lateral sclerosis,” kata Lewis kepada Nina, dan sementara ia hanya bisa berbaring di tempat tidur, Nina membacakannya kisah-kisah sejarah. Nina tahu, Lewis tak akan menyukai kisah fiksi. Hingga tibalah mereka pada percakapan tentang bunuh diri. Hingga tibalah kejadian bunuh diri Lewis itu. Sepanjang ingatan Nina, Lewis memang banyak membikin rencana bunuh diri. Pertama-tama, ia tak ingin kematiannya dianggap berkaitan dengan pemecatannya dari sekolah. Kemudian, ia tak ingin jasadnya diupacarai dalam ritual keagamaan/kepercayaan tertentu.

Akan tetapi, kepala sekolah tempat Lewis mengajar mendatangi Nina dan memaksa agar diadakan penghormatan untuk suami Nina.

“Nina. Teaching was his life. He gave a lot. There are so many people, I don’t know if you understand how many people, who remember just sitting spellbound in his classroom. They  probably don’t remember another thing about high school like they remember Lewis. He had a presence, Nina. You either have it or you don’t. Lewis had it in spades.”

Kisah bunuh diri Lewis pun diakhiri dengan bagaimana Nina menyentuh abu jasad suaminya. Tak ada penjelasan lebih lanjut, karena kita berhadapan dengan Munro yang memang dapat menyudahi ceritanya kapan saja, asalkan emosi dari tokoh-tokohnya telah tercurahkan sepenuhnya.

Dari ketiga cerpen tersebut, saya menarik benang merah cerita-cerita Munro pada tradisitransendental karena kedekatan tokoh-tokoh Munro dengan alam pedesaan dan bagaimana Munro teramat lincah mengejek “kekotaan”, tradisi bildungsroman karena Munro menampilkan perkembangan karakter tokohnya dalam rentang waktu yang cukup luas, tradisi gotik karena unsur-unsur situasi batas yang ditampilkannya dalam tema-tema yang dia pilih. Walaupun, dalam cerpen Comfort, saya melihat upaya Munro untuk membela pemikiran positivistis yang menagih pembuktian empiris terhadap hal-hal religius/mistis. Upaya mengejek kaum religius yang cenderung menyudutkan para ateis. Selain menunjukkan ketiga tradisi tersebut, Munro piawai mengolah cerita agar penuturannya mengalir dengan aplikasi gaya naratologi yang segar. Dia tidak terlalu berkutat pada deskripsi yang berbunga-bunga atau rumit. Dia adalah salah satu cerpenis kontemporer terbaik karena dia mampu bercerita dengan cara sederhana tentang tema-tema yang kompleks, dengan kualitas narasi yang mengikuti zamannya: narasi-narasi new writing yang minimalis dan mirip gaya reportase, yang, barangkali, dipopulerkan berbarengan dengan berkembangnya new journalism. Kendati secara tema dan nuansa Munro bisa dibilang lebih dekat dengan Emily Bronte, secara gaya penceritaan dan narasi memang benar bila Munro dijuluki Chekovian, merujuk pada gaya bercerita Anton Chekov yang sederhana tetapi menyimpan makna yang dalam dan kompleks.

Yogyakarta, 10 Februari 2014

2 comments:

  1. Hmmm... saya juga sedang mulai membaca Munro. Bercerita dengan ringan dan segar, dan sampai sekarang pun masih mengetik dari mesin ketik di rumahnya di Huron, Ontario. Sehari-hari ia selalu menjaga kebugaran tubuhnya dengan berjalan lima kilometer sehari. Itu setara dengan tiga mil per hari. Sebuah upaya yang mencengangkan meski pun umurnya sudah delapan puluh dua. Tetapi kebugaran tubuhnya itulah yang membuat stamina menulisnya tetap prima dan otaknya tetap cergas menangkap nuansa menjadi kata.

    Ia juga seorang periset. Paling tidak ia selalu mengamati komunitas di kota kecilnya untuk mengetahui perkembangan dan gosip yang ada. Alah-alah supaya menjadi cerita. Dikisahkan ia juga mempunyai beberapa teman yang mencarikan informasi mengenai apa saja di kotanya, supaya bisa diobrolkan sambil makan malam. Tentunya sambil tertawa. Ini adalah sisi seorang pencerita yang tangguh dan kaya inspirasi karena selalu mencari informasi. Begitulah maka ia bisa bercerita dengan detail seolah karyanya bernyawa.

    Begitu juga dengan metode penulisannya yang menuntut disiplin yang tinggi. Ia seorang ibu rumah tangga dan menikah ketika muda usia. Kalau tidak salah sewaktu dua puluh tahun umurnya. Karena waktu itu ia hanya mendapat beasiswa untuk menempuh college selama dua tahun saja. Setelah itu ia menikah dan kemudian mempunyai anak. Ia masih mengasuh anak-anaknya sendiri dan mengurus rumah tangga. Kesempatan menulis hanya sewaktu anaknya pergi ke sekolah saja. Jadi kira-kira pagi jam sembilan sampai jam sebelas saja. Lalu anak-anaknya akan pulang untuk makan siang, dan ia harus meladeninya. Kemudian ia masih bisa menulis satu dua jam lagi di sore hari. Begitu rutinitas sehari-hari dan tentunya itu membutuhkan disiplin dan stamina yang tinggi. Jika engkau mau tahu, sementara penyair di Indonesia hanya bisa minum bir, mabuk dan begadang semalaman saja.


    ReplyDelete
    Replies
    1. @Brintik
      Iya, saya juga membaca wawancaranya di Paris Review. Hidupnya yang soliter bisa kita samakan dengan Haruki Murakami, terutama untuk mengaitkan pola hidup Munro pada produktivitasnya. Sebenarnya, dalam rentang dekade yang dilalui Munro, 168 cerpen bukanlah jumlah yang banyak. Namun, saat memperhatikan bagaimana dia menyusun cerpennya menjadi begitu panjang (hingga ratusan ribu karakter dengan spasi), saya sepakat dengan pandanganmu. Ibaratnya, dia membuat ratusan novella.

      Sekali lagi, terima kasih untuk insight-nya. Akan sangat membantu bagi diskusi sastra tentang Munro yang akan dilangsungkan jelang akhir Februari ini.

      Delete