Tuesday, April 16, 2013

#5BukudalamHidupku: Merintis Jalan, Yan Setiawan

Ketika saya menulis ini, saya mengalami fase merasa sangat jenuh dengan dunia tulis menulis. Saya tidak lagi percaya tulisan saya dibaca—di saat ada begitu banyak karya berlimpahan dari segala zaman—apalagi mengandai-andai kalau tulisan saya memengaruhi orang-orang yang membacanya. Saya sangat pesimis dengan pakem menerbitkan buku hingga menjadi best seller, dibaca oleh sejuta orang, dibahas di banyak media. Buku yang sangat memengaruhi saya malah buku yang barangkali tidak dibaca oleh siapa pun.

Buku itu berjudul Merintis Jalan, ditulis Yan Setiawan, tiba-tiba terbaca oleh saya di bangku SD kelas 3, dan kemudian saya curi sewaktu saya kelas 6. Itu kali pertama dan kali terakhir saya mencuri buku dan mengaku-akunya sebagai milik saya. SD saya tidak memiliki perpustakaan, rak-rak buku berada persis di sebelah bangku murid-murid kelas 3. Kelas yang tanpa penerangan lampu. Guru masih menulis di papan tulis hitam dengan kapur.

Saat jam istirahat, teman-teman saya bermain lompat tali di halaman sekolah yang sempit (persis di depan ruang guru dan ruang kepala sekolah). Entah oleh sebab apa, saya tidak pernah bisa bicara dengan teman-teman seusia saya. Buku-buku di rak berdebu itulah yang kemudian menggantikan fungsi sosial mereka. Merintis Jalan—entahlah sudah saya baca hingga kali keberapa, sampai akhirnya saya mencurinya alih-alih memfotokopinya.

Buku itu bercerita tentang seorang wanita yang rumahnya—beserta suaminya di dalam rumah itu—dibakar hidup-hidup. Anak mereka satu-satunya diculik. Saya bisa membayangkan dengan jelas bagaimana situasi saat Mak Esah, nama wanita itu, pulang ke rumahnya dan melihat para tetangga tidak melakukan apa pun untuk rumah yang terlalap api itu. Saking terinspirasinya saya dengan kejadian dalam roman itu, saya yakin cerpen saya ini banyak dipengaruhi oleh kisah di sana.

Baru beberapa tahun kemudian, saya bisa mengasosiasikan cerita itu ke kejadian sekitar tahun ’60-an, terutama momen G30S, saat orang-orang yang berafiliasi dengan gerakan kiri dimusnahkan. Mereka dibakar hidup-hidup di rumahnya, atau diseret naik ke truk, untuk kemudian ditembak mati di tebing-tebing, dan jasad-jasad mati itu lantas memenuhi jurang.

Hal itu tidak ditulis Yan dalam bukunya. Ia menulis tanpa pretensi politik apa pun, tetapi bayangan itu muncul saat belakangan ini saya mencoba membaca kembali tulisannya. Saya yakin Yan tidak berkubu pada Lembaga Kebudayaan Rakyat ataupun pihak Manifes Kebudayaan. Yang saya tahu, jejaknya tidak terdeteksi.  Atau, barangkali Yan Setiawan adalah nama pena lain dari Asrul Sani yang punya banyak nama samaran.

Apa yang kemudian diajarkan Yan kepada saya, adalah tentang seorang wanita yang begitu kuat, tidak hilang asanya untuk bertahan hidup meski dunianya yang nyaman—bersama suami dan anaknya—tiba-tiba tidak bisa dia jumpai lagi. Dia kemudian pergi mengasingkan diri, menerabas hutan rimba, berhari-hari kemudian ia menemukan tempat baru untuk tinggal. Saya ingat dengan jelas gambaran ketika ia berdiri di atas sebuah batu, berteriak ke langit, bukan untuk membanggakan pencapaiannya, tetapi untuk memohon kepada Tuhan. Dia meminta untuk diperbolehkan tinggal di hutan itu.

Mak Esah dapat tinggal di hutan itu, seorang diri membersihkan rawa dan lumpur, membangun gubuk dengan kayu dan jerami yang ia temukan di hutan. Dia lalu menanam pohon lamtoro sebagai pagar di depan gubuknya, dan juga sayur-sayuran saat kantong bekal perjalanannya sudah mengempis. Awalnya dia menanam sepetak, kemudian berpetak-petak. Hasil taninya itu lalu dia jual untuk dibelikan garam dan ikan teri, beras atau sabun. Mak Esah menebas sendiri belukar yang menghalangi jalan dari rumahnya ke pasar. Di jalan yang dia lewati pulang-pergi itu kemudian dia bertemu seekor anjing yang kemudian setia menemaninya.

Hidup yang sesederhana itu. Dia mengubah kesendiriannya menjadi sesuatu yang dapat dilalui dengan sukacita. Meski tentu akhir dari roman itu bukan tentang Mak Esah yang hidup sendirian di tengah hutan. Orang-orang yang mengaku-aku dirinya sebagai orang modern kemudian datang ke sana. Tanpa peduli bahwa Mak Esah-lah yang menggali terowongan bawah tanah, membuat gua hingga ke sumber mata air. Tanpa peduli bahwa pohon-pohon yang mereka tebang ditanam oleh wanita tua itu. Tentu saja, seperti kisah-kisah hero dalam dunia angan, Mak Esah tetap menang.

Maka begitulah, bukan Henry David Thoreau—yang kemudian menginspirasi Jack Kerouac menulis novel On The Road dan kemudian difilmkan—ataupun Ralph Waldo Emerson yang mengenalkan kepada saya tentang paham transendentalisme, tentang kesukacitaan hidup yang terbebas dari aturan dan segala perangkat dalam masyarakat, tentang pemberontakan kaum sipil. Atau mengiming-imingi saya akan hidup bersama alam yang tak ternamai dan tak terjamah seperti yang dilakukan para penulis babyboomers di Amerika Latin. Yan melakukannya lebih dulu.

Sayangnya, seperti yang saya bilang di atas—barangkali hanya saya yang pernah mengetahui roman itu. Google pun tidak. Dan saya sangat bahagia memiliki satu buku yang tidak diketahui orang lain, yang kemudian menjadi bacaan favorit saya, yang bahkan saya bawa bersama saya ke Yogya—dan entahlah ke mana lagi.

Sementara apa yang terjadi saat ini? Tulisan yang bagus seolah-olah harus dirayakan, um, dibaca, semua orang. Teman-teman saya punya hobi mengumpulkan daftar karya sastra yang ditulis peraih penghargaan Nobel, Pulitzer, The Manbooker Prize, atau barangkali karya dari peraih DKJ (;p). Mereka tidak seperti saya, yang suka saja jalan-jalan ke toko buku (bekas), mengambil sembarang judul buku dengan paragraf pembuka yang asyik, dan membawanya pulang. Namun, bukan berarti saya tidak mengumpulkan daftar karya pemenang penghargaan-penghargaan itu. Hanya saja, menurut saya, kesan personal hanya bisa diperoleh ketika kamu“menemukan sendiri” para penulis serta buku-buku itu, tanpa dituntun oleh rekomendasi orang lain.

Setelah berkontemplasi berpanjang-panjang begini, mungkin jawaban dari ‘mengapa saya enggan menulis’ ada di dalam diri saya sendiri. Walaupun hanya satu orang saja yang membaca karya saya, sejauh itu memberikan pengaruh, mungkin sudah cukup. Mungkin itulah yang dimaksudkan Kurt Vonnegut dalam kredo menulisnya: “Tulislah untuk satu orang audien”.