2015/06/26

Kesepian dan Penyakit Masa Kini di Tangan Empat Perupa

 

Ditulis untuk katalog mini Pameran Galeri Nginjen (GANJEN) oleh Indiguerillas & Ketjilbergerak. Pengantar tentang pameran bertajuk "Loneliness and Other Ilnesses" ini diberikan dalam katalog mini tersebut oleh kuratornya, Sita Magfira.



Perkembangan teknologi di setiap zaman selalu memicu gelombang kekhawatiran dan penolakan dari generasi masing-masing. Di masa ini, penggunaan gawai-gawai canggih yang dapat diperoleh dengan mudah adalah salah satu hal yang dikhawatirkan—sekaligus, secara paradoks, dimafhumi—sebagai faktor yang membuat individu tercerabut dari realitasnya. Karya Wulang Sunu yang bertajuk Phones and Children dan karya Ragil Surya Mega yang berjudul Misteri Hilangnya ke-Bersama-an adalah dua contoh yang memperlihatkan fenomena tersebut. Wulang merepresentasikan gagasannya tentang “masyarakat layar” dalam wujud bocah yang asyik dengan gawainya; bangun atau tidur, dalam posisi tubuh jungkir balik atau tegak, apa-apa yang dilihatnya hanya gawai. Sementara itu, dalam karyanya Ragil menghadirkan interaksi dua orang di meja makan yang, alih-alih menanggapi piring-piring berisi makanan, justru bertafakur pada laptop dan ponsel.

Wulang menghadirkan fenomena secara apa adanya. Bocah dalam gambarnya adalah potret generasi digital yang menghabiskan waktu dengan gawai. Ia merekam bagaimana para orang tua di masa ini telah membiarkan anak-anaknya terpapar pancaran radiasi dari ponsel bahkan sejak usia dini. Karena itu, sosok bocah bertatapan sayu itu bisa dilihat sebagai maskot tersendiri untuk menanggapi fenomena ini. Dalam artian, ia bisa direproduksi menjadi bentuk karya yang lebih bercerita; semisal comic strip dengan karakter ala Mafalda, bocah berusia enam tahun ciptaan JoaquĆ­n Salvador yang selalu bersikap sinis terhadap sekolah, atau ala Calvin and Hobbes dalam versi Wulang: Bocah dan Gawainya. 

Berkebalikan dengan Wulang, Ragil menambahkan sosok alien yang umum dikenal: tubuh kerempeng dengan kepala dan bola mata yang berukuran lebih besar daripada “ras manusia” dan ufo sebagai ornamen pada fenomena kegagapan individu ketika dihadapkan pada gawai mereka. Dengan ditambahi penjudulan ‘misteri hilangnya’—atau disingkat menjadi ‘Misteri Bersama’—keikutsertaan ufo dan alien bukan hanya sia-sia, melainkan tampak dipaksakan. Katakanlah, dua hal itu menjadi sebatas ornamen yang diniatkan seirama dengan judul. Alien dan ufo bisa saja dianggap sebagai representasi terbaik dari figur yang asing dan bukan masalah jika saja gaya menggambar Ragil tidak berintensi realis. Detail-detailnya yang serius, seperti kursi yang ditempati kucing yang sedang terlelap atau raut wajah tegang, sedih, dan depresif dari kedua sosok itu, menjadi kalah penting. Meskipun, dilihat dari sudut pandang lain, arsiran gambar Ragil sendiri memiliki ciri yang mewakili karakter gambar sampul buku-buku stensil atau komik silat.

Di luar aspek itu, karya-karya yang menampilkan permasalahan alienasi karena teknologi semacam itu bisa terbaca sebagai klise karena hanya menghadirkan fenomena—apa yang terjadi di permukaan—dan tidak mengeksplorasi persoalan yang lebih sistemik: rantai produksi massal dari hulu ke hilir, roda perekonomian global dan peran negara dalam pembangunan di bidang teknologi, ataupun persaingan bebas yang menjadi mesin penggerak para produsen gawai.


Dua perupa berikutnya, Azis Wicaksono dan Gilang Nuari, menghadirkan banyak simbol. Dua gambar Azis adalah wujud dari dominasi warna rempah-rempah—hijaunya lemon, kuning dan jingganya jeruk, dan merahnya cabai—plus lautan yang biru marine. Pada gambarnya yang pertama, ada beberapa objek orang-orang berjubah, kobaran api, kursi, kotak pos, mata, dan pot bunga. Kecuali pot bunga, objek-objek lainnya serupa pada gambar kedua, dengan tambahan gramofon dan seekor burung hantu yang dua bola matanya dalam posisi tak wajar. Judul dari kedua karya adalah Veil of Pseudo Fear. Ia bisa diartikan sebagai pemujaan terhadap hal-hal yang menjadi fokus di antara orang-orang berjubah tersebut: dalam gambar pertama direpresentasikan oleh pot dan dalam gambar kedua direpresentasikan oleh gramofon.

Masih dengan kekhasan pemilihan warna, dua karya Gilang Nuari adalah wujud dari warna-warna kadar oksigen dalam pemompaan darah ke jantung: merahnya aorta dan birunya vena cava. Karya Gilang yang berjudul Gambling, pertaruhan (?), itu adalah perkara antara sosok manusia yang berhidung bentuk prisma terhadap pisau dan buah delima di hadapannya. Kedua sosok dalam gambar semestinya punya hubungan yang resiprokal; karena mereka menggenggam pisau dalam posisi tangan berbeda dengan pancaran mata yang sendu. Dilihat dari posturnya, mereka juga mewakili gender berbeda. Dengan tekstur cukil kayu, warna merah aorta dan biru vena cava itu juga menghadirkan bentuk penampang, daun/jantung, ataupun pohon.


Adalah tugas ahli semiotika untuk menafsirkan makna dari pemilihan warna dan simbol-simbol dalam karya-karya Azis dan Gilang. Namun, saya mencoba untuk melihatnya dengan kerangka tema loneliness and other ilnesses, di sini karya Azis yang menampilkan sosok-sosok berjubah dengan segala pemujaan mereka (baik kepada pot ataupun kepada gramofon) tidak ubahnya adalah apa yang kita hadapi sehari-hari. Kita punya bentuk pemujaan masing-masing—selain fakta bahwa hal ini terkadang kita lakukan karena kita merasa sendirian (atau kesepian?)—kepada wujud-wujud berbeda. Dari sudut pandang itu, sarana pemujaan bisa dipandang sebagai candu peradaban. Dan karenanya pemujaan yang dilakukan oleh suatu kelompok bisa dilihat sebagai ‘penyakit’ atau ‘kegilaan’ bagi kelompok lainnya. Sementara itu, Gilang memang tidak menampilkan fenomena kekinian—gawai yang membuat masyarakat saling terisolasi atau pemujaan yang bersifat candu—dan dalam gambarnya hanya ada sosok dengan tatapan sendu yang memegang buah delima dan pisau. Namun, di sana dapat dilihat Gilang menekankan fokus karyanya pada sorot mata dan posisi tubuh dari karakternya. Dari dua benda yang dipegang dengan gestur canggung tersebut, ia menghadirkan sekaligus situasi batas Karl Jaspers: 1) Kematian, 2) Penderitaan, 3) Perjuangan, 4) Kesalahan—hal-hal yang dihadapi seseorang pada titik nadirnya. Meskipun, Gilang meluputkan satu pertanyaan: apa alasan atau latar belakang dari situasi yang dihadapi karakter dalam gambarnya?

Di luar aspek intrinsik karya-karya yang dipajang, ada tiga hal menarik yang patut dicatat dalam Galeri Nginjen (Ganjen) oleh seniman komisi ART|JOG|8 “Infinity in Flux” Indieguerillas, duet Miko Bawono dan Santi Ariestyowanti, pada periode 19-23 Juni 2015 yang menampilkan empat perupa muda berbakat ini. Pertama, galeri berbentuk persegi delapan dengan ukuran minimalis; padanya, ada empat lubang bagi pengunjung untuk mengintip karya. Galeri Nginjen (ukuran tinggi 60,5 sentimeter, lebar 17 sentimeter) adalah jawaban bagi keterbatasan atau kemewahan ruang pamer di galeri-galeri pada umumnya. Ia menunjukkan bahwa seniman dapat berkarya dan menampilkannya dalam ruang paling minimalis sekalipun. Kedua, kertas sebagai medium. Drawing, gambar yang dituangkan dalam medium kertas dan pensil/pulpen, alih-alih kanvas dan cat minyak, juga dapat dilihat sebagai wujud kesederhanaan (yang tentunya membutuhkan lebih banyak perawatan untuk menghindari pelapukan). Ketiga, kepekaan kurator—Sita Magfira—yang mengaitkan tema kesepian (loneliness) dengan penyakit-penyakit (ilnesses). Tajuk ini menyepakati bahwa kalaulah loneliness bukan dikategorikan sebagai suatu penyakit, maka loneliness adalah pemicu penyakit. Ada proses dari situasi kesendirian (aloneness) untuk mewujud kesepian (loneliness), dan lantas kesepian (loneliness) untuk menjadi penyakit (ilness). Bahwasannya, sistem imun yang melemah pada orang-orang yang merasa kesepian adalah faktor penyebab penyakit, seperti dinyatakan oleh John P. Capitanio, dkk. dalam temuannya, A Behavioral Taxonomy of Loneliness in Humans and Rhesus Monkeys (Macaca mulatta). Barangkali itu yang luput dihadirkan oleh para seniman dalam pameran minimalis ini. [*]

2014/12/09

Penulis Fiksi



(Cerpen ini dimuat di Koran Tempo, 12 Juli 2015)


PETANG itu anjingku menyalak ketika tetanggaku berdiri di pagar rumahnya. Ada rangkaian kunci di tangannya. Dengan sebelah tangan menjinjing bungkusan plastik, ia membuka pagar.

Pria itu orang baru di perumahan kami. Aku tak jelas tahu dari mana ia berasal, kami belum pernah bertegur sapa sebelumnya. Ia kerap pulang larut malam dan membawa bungkusan plastik makanan.

Tirai tipis di kamarnya di lantai dua membuat bayangan tubuhnya terlihat jelas ketika disoroti sinar lampu. Dengan begitu, aku dapat memperhatikan apa yang dilakukan pria kurus berkacamata itu.

Biasanya, setelah menikmati sesuatu di meja makan, ia akan bergerak ke arah tengah ruangan, duduk menghadap layar, mengetik sesuatu, menghabiskan malam terpekur di sana sampai pukul dua pagi, lantas beranjak tidur dan biasanya ia akan kembali duduk di depan layar setelah dua jam lewat. Ia selalu hanya tidur sesebentar itu setiap malamnya. Mungkin saja pekerjaannya menuntutnya lembur di rumah untuk menyelesaikan tugas kantor yang tak sempat selesai. Atau, seperti yang diramalkan ayahku ketika aku meminta pendapatnya tentang identitas tetangga baru kami itu, pria itu barangkali berprofesi sebagai penulis atau jurnalis.

Ia menghabiskan waktu cukup lama untuk merapikan rumah, menikmati makanan di meja makan, sebelum akhirnya ia berjalan ke arah yang berlawanan dari rumahku. Ia berjalan terus ke seberang, hingga bayangannya hilang. Sekadar tahu bahwa pria itu barangkali tertidur di ruangan berbeda di rumahnya, aku lantas menutup tirai kamar dan melanjutkan tugas kuliahku.

Kali ini aku tak tahan menemaninya terjaga hingga pagi. Aku tertidur dengan headset masih menempel di telinga dan ketika terbangun esok paginya, kulihat laporan praktikumku luntur terendam susu yang tak sengaja kutumpahkan saat tertidur. Tidak biasanya aku terbangun begitu subuh, padahal aku baru bisa tidur pukul dua dini hari tadi.

Setelah meminum segelas besar air yang ditaruh Ibu di meja di depan kamarku, aku berjalan menuju dapur, di sana aroma masakan Ibu menguar kuat.

“Tetangga kita tadi pagi diantar ke rumah sakit. Beberapa tetangga merumorkan kematiannya.” Ibu berujar sembari mengaduk kuah di dalam panci.

Aku yang sedang mengupas bawang dengan pisau tentu kemudian refleks menoleh. Aku tiba-tiba membayangkan; bagaimana rasanya mati? Apakah seperti cerita Kafka dalam karyanya, ‘Metamorfosis’; rasa kematian sama seperti ketika seseorang berubah wujud menjadi serangga pada suatu pagi yang samar? Dan ia tiba-tiba bukan lagi manusia, dan ketika berubah menjadi serangga ia lantas kehilangan segala ingatannya akan dunia?

“Meninggal karena apa, Ma?” tanyaku lekas-lekas—karena aku masih melihatnya hidup tadi malam sebelum tertidur.

“Loncat dari lantai dua rumahnya.”

Hanya hal seperti itu; bisa membuat seseorang mati?

“Setelah memutus nadinya dan menenggak racun.”

“Mama dengar itu dari para tetangga kita?” tanyaku.

Bagaimana bisa Ibu masih kelihatan begitu santainya memasak di dapur dan tidak melayat ke rumah tetanggaku itu?


AKU terkesima. Apakah Tuhan benar-benar berada di masa depan dan menulis tentang takdir-takdir di masa lalu? Pria itu tidak mati, jadi itu karena Tuhan?

Katanya, pria itu hanya berhenti bernapas sebentar. Semua orang, setiap membicarakan tentang kejadian itu, berkata dengan nada pasti bahwa pria itu akan baik-baik saja. Ia hanya perlu dirawat sebentar saja di rumah sakit. Meski kami semua merasa lega ia tidak mati (selama ini belum pernah ada kejadian bunuh diri terjadi di kompleks rumahku), kurasa percobaan bunuh dirinya benar-benar bukan sesuatu yang biasa.

Aku heran ia bisa selamat. Ia melakukan tiga lapis proses untuk mati: pertama, ia meminum segelas cairan pembersih lantai (ada buktinya di kamarnya), lalu memutus nadi tangan (ada bekasnya di tangannya ketika tubuhnya ditemukan tergeletak di taman di depan rumahnya), dan loncat dari lantai dua kamarnya (untungnya kepalanya tidak membentur tanah, meski kabarnya tulang lengannya patah). Dan karena pria itu tidak mati, aku berkesempatan untuk mengunjunginya di rumah sakit.

Aku diamanatkan kesempatan itu dengan alasan: Ibu sibuk mengurusi arisan satu kelurahan, Ayah ada lembur (berhari-hari) di kantor, dan kakak sulungku yang tak bisa kuandalkan tentu saja sudah langsung menolak ajakanku tanpa aku sempat berkata-kata, dengan lagaknya yang selalu semau gue; ia tentunya lebih memilih mengurung diri di kamarnya untuk bertransformasi menjadi seorang otaku.

Dan seperti biasanya, mereka mengirimku untuk menjenguk orang (biasanya tetangga yang mana Ibu dan Ayah tidak begitu kenal akrab) ke rumah sakit, seperti biasanya pula mereka menjadikanku sebagai kurir buah. Tentu itu berarti Ibu dan Ayah menitipkan sedikit uang untuk kutukar dalam bentuk buah yang bisa kujinjing bersamaku, dan mewanti-wanti agar aku ingat menyampaikan pesan-pesan positif yang barangkali berguna bagi pria itu. Meskipun, kami belum pernah berinteraksi dengan tetangga kami yang satu itu.

Aku membayangkan apa yang akan pria itu sukai ketika aku mengelilingi toko buah siang itu. Aku tak punya bayangan buah apa yang disukai oleh pria dengan kebiasaan merokok semalam suntuk (mungkin ia menghabiskan lebih dari empat pack rokok dalam sehari) yang hanya meluangkan waktu untuk tidur dua jam sehari (mungkin ia melanjutkan tidur di busway). Dengan kebiasaan hidupnya yang seperti itu, ia barangkali memang sudah memiliki niat yang kuat untuk mati, so why on earth would he need something like… fruits—all of the nonsense?

Seketika saja, aku berubah pikiran, dengan aura yang lebih positif, bagaimanapun kupikir Tuhan telah memberikannya kesempatan untuk hidup. Setelah cukup lama menimbang-nimbang, aku menjadi tidak peduli lagi pada buah apa yang akan pria itu sukai. Aku asal saja memasukkan buah-buah favoritku ke dalam daftar belanja.

Aku tidak tahu bagaimana seorang pria suicidal akan menanggapi buah tanganku. Aku tak punya bayangan apa yang akan aku katakan, atau bicarakan, karena mungkin saja setelah menaruh buah dan sedikit berbasa-basi mengucapkan ‘semoga lekas sehat’, aku bisa segera berpamitan pulang dan that’s it?—tapi aku akan tetap datang, apa pun yang terjadi nantinya.

Pria itu sedang mencoba mengupas apel ketika aku datang. Sekeranjang buah terletak di sisi kasurnya. Banyak bingkisan lain kulihat berderet-deret di kamarnya. Mungkin hari ini ia tidak butuh kunjungan tambahan. Aku melirik keranjang buah yang kubawa—lagipula, baru kusadari aku tak pernah punya bakat mengupas buah.

Pluk.

Hampir saja aku berjingkat berniat pulang. Namun, sepertinya ia melihat wajahku dari jendela mini pada pintu kamarnya karena kemudian ia melemparkan sesuatu ke arah pintu. Aku menoleh kembali, dan kulihat ia menyeringai. Terpaksa kubuka pintu, dan kulihat pisau yang tadi digunakannya untuk memotong apel kini telah menancap di pintu. Potongan-potongan apel berserakan di lantai.

Aku memicingkan mata. “Kau melempariku pisau?!” Aku tiba-tiba memaki.

Di ranjangnya ia terkekeh. “Kau tetanggaku, bukan?” tanyanya.

Aku meletakkan keranjang buahku di meja bufet tempat televisi. “Kau bisa bayangkan seandainya pintu ini tidak ada dan kau melempar pisau ke punggungku?”

Ia kembali tertawa. “Kau gadis yang sering terjaga sampai pagi itu, kan? Dia yang baru tidur setelah aku berpura-pura tidur?”

Sama sepertinya yang tak memedulikan makianku, aku pun tak menghiraukan kata-katanya. “Aku hanya diminta untuk mengantarkan ini oleh orang tuaku. Kata mereka, kau seharusnya menjadi lebih positif.” Aku berhenti, untuk menimbang-nimbang lagi apa yang akan aku katakan. “Kau tahu bagaimana perasaan orang-orang yang mati bahkan sebelum impian mereka tercapai?”

Pria itu tertawa, “Menurutmu, apa sekarang aku masih hidup?” Ia bertanya dengan nada lembut.

“Yes, for sure,” jawabku.

“Tak pernah ada orang yang tahu aku sudah mati. Duduklah. Biar kuceritakan sesuatu…” Ia meminta.

“Kau tahu, aku masih marah karena kau melempariku pisau. Aku sudah bilang aku hanya ditugasi mengantar buah. Dan sekarang, aku harus pulang.”

“Setelah bercapek-capek kemari dengan menumpang angkutan umum, menghabiskan waktumu menunggu kemacetan di jalan usai, kau yakin mesti pulang cepat? Tidak merasa nyaman di ruangan ber-AC?”

Aku mengamit tasku untuk bergegas pergi; ketika gerimis hujan tiba-tiba menyentuh permukaan jendela. Lantas, hujan melebat. Dan pria itu tertawa hebat, merasa menang.

Aku sebenarnya bisa saja pergi ke kafeteria rumah sakit.

Namun, aku lantas duduk. Ia menyalakan televisi dengan remote di tangannya.

“Kau tahu bagaimana rasanya mati tanpa seorang pun datang ke pemakamanmu?” tanyanya.

Aku menggeleng. “Aku belum mati. Lagipula, hal semacam itu tidak akan pernah terjadi dalam sejarah hidupku, orang-orang menyayangiku, mereka akan datang."

“Aku sudah mati bertahun-tahun lalu, tak seorang pun pernah berziarah ke pemakamanku. Bahkan tak seorang pun mengetahui kematianku. Rasanya dingin.” Ia menunjuk pada parsel-parsel yang menghiasi kamarnya. “Kau tahu dari mana datangnya bingkisan-bingkisan ini?”

Aku menggeleng. Aku tak suka orang-orang melankolis.

Ia tersenyum. “Aku meminta para perawat membelikannya untukku.”

Aku menelan ludah.

“Aku mungkin tidak mati secara fisik. Jiwakulah yang mati. Hanya saja, dalam hidupku, kupikir aku hanya perlu menyelesaikan satu hal lagi. Bulan lalu, satu hal itu telah selesai. Jadi, aku memutuskan untuk bunuh diri, di suatu tempat baru dan orang-orang tidak mengenaliku.”

“Karena itukah kau pindah ke kompleks perumahanku?” Aku menebak.

“Aku heran kenapa bisa gagal. Sebelum terjun dari kamarku, aku sudah menenggak racun dan menyayat nadiku.”

Aku menoleh ke arah pisau yang tadi kuletakkan di sebelah bingkisan buahku. Pisau yang tadi ia lempar ke arah pintu. Bisa-bisanya para perawat memberikan benda itu kepadanya?

“Tanpa kau sadari, ada hal lain lagi yang perlu kaupenuhi? Hal apa yang sudah kau selesaikan?” tanyaku. “Kau tak pernah memikirkan apa reaksi pembacamu ketika tahu penulis yang dibacanya mati karena bunuh diri?”

“Memangnya kenapa? Novel-novel religius bisa saja asalnya dari pengguna narkoba atau pemabuk berat.”

“Sepalsu itu, ya, kehidupan kalian para penulis?”

“Menyambung pertanyaanmu tadi, tentang bagaimana rasanya mati sebelum impian tercapai. Aku boleh tahu apa cita-citamu?” Ia bertanya kemudian.

“Belum tahu. Tapi aku sekarang berkuliah di jurusan pilihan orang tuaku. Sepertinya aku sudah membuat mereka merasa bangga.”

“Menyenangkan?” tanyanya.

Aku tersenyum, “Mungkin. Sejauh ini.”

“Aku menulis tentang hal-hal palsu di dunia ini, segala yang superfisial. Orang-orang yang menghidupi kehidupan orang lain. Kupikir semua orang melakukan itu dalam hidupnya.”

“Kau seperti sudah bisa menebak apa yang akan kukatakan. Lagipula di saat kau tak tahu jalan apa yang harus kau pilih, bukannya lebih baik mengambil jalan yang telah dipilihkan orang lain untukmu?”

Ia tergelak. “Sudah lama rasanya tidak berbicara dengan sesama manusia. Sebulanan ini aku berusaha membatalkan niat untuk mati, dan jadinya aku menulis sesuatu tentangmu. Kupikir, tulisanku itu akan mengubah caramu berpikir tentang hidup. Kau terlalu pesimis, kau tahu.”

“Jadi, sebenarnya, ada satu cerita tentangku?” Aku bertanya.

“Banyak cerita tentangmu.”

“Tapi, setelah menyelesaikannya, kau memutuskan untuk mati?”

Ia tertawa. “Di sana aku menanamkan harapanku. Aku tahu harapan itu tidak akan terwujud. Jadi aku pikir…” ia menghentikan kata-katanya, “mungkin, kau perlu membaca cerita itu.”

“Bagaimana caranya?” tanyaku. “Kau membawa naskah itu bersamamu?”

Ia menyerahkan serentetan kunci (yang biasa kulihat setiap ia membuka gerbang rumahnya) kepadaku. “Naskahku aman di dalam komputerku. Password-nya ini…” Ia lantas menuliskan beberapa huruf pada telapak tanganku. Hujan mereda secara tiba-tiba, dan justru pria itulah yang mengusirku, “Katanya kau tadi mau pulang?”


SETELAH menikmati makan malam (dengan memasak sendiri sepiring nasi goreng telur mata sapi), memastikan Ayah dan Ibu belum pulang dan kakakku sibuk dengan keotakuannya, aku menuju rumah tetanggaku.

Anjingku sendiri menggonggongiku ketika aku membuka gerbang rumah si pria dengan serangkaian kunci di tanganku. Aku melewati garis batas polisi yang menandakan bahwa rumah itu sempat beberapa hari menjadi TKP (dan setelah mereka menemukan bahwa pria itu masih hidup, garis itu tentu sudah tidak lagi berarti apa-apa).

Rumahnya cukup rapi untuk ukuran pria. Dan tentu saja sempat ada aparat keamanan yang sebelumnya telah menyisir ruangan-ruangan di sana. Aku segera menuju ke kamarnya (yang selama ini hanya bisa kulihat dari jendela kamarku). Terdapat banyak ilustrasi dan poster-poster strategi politik, buku-buku yang sebagian besarnya adalah karya literatur Tionghoa, dan juga beberapa novel-novel ringan, komik, dan alat gambar.
 
Hingga, mataku kemudian mencapai komputer yang diletakkan di pojok ruangan. Kurogoh sakuku untuk menemukan catatanku. Kumasukkan password dan mulai menelusuri tulisan-tulisan pria itu.

Ia benar-benar menulis begitu banyak karya.

Akhirnya, kutemukan sebuah tulisan. Bahkan, namaku dijadikannya judul tulisan. Ia bahkan tahu namaku.

Halo, apa kabar? Aku tahu satu-satunya jalan untuk menemuimu adalah dengan melakukan percobaan bunuh diri (aku terlalu malu untuk mengetuk pintu rumahmu), karena mungkin kau akan datang menjengukku (lagipula kisah ini sudah tertulis di dalam fiksiku).

Dan saat kau datang, aku akan menceritakan beberapa hal, mengenalmu lebih dekat. Ya, dan itu berarti aku akan berinteraksi dengan karakter di dalam tulisanku sendiri. Betapa menyenangkannya.

Jadi, kalau kau sudah membaca ini, aku tahu aku telah sukses memenuhi rencanaku. Namamu Arinda, apa aku benar? Aku Adrian. Susunan nama kita hanya seperti acakan huruf saja, ya?

Ketika aku mulai menulis cerita tentangmu, aku bukan penulis fiksi. Saat itu aku hanya seorang mahasiswa tingkat akhir, mengambil jurusan Akuntansi, bosan mengerjakan skripsi, dan dari awal mengerjakan skripsi hingga sidang, aku menulis… seratus cerita pendek.

Semuanya bercerita tentangmu. Aku tahu kita belum pernah bertemu sebelumnya. Aku juga heran mengapa aku menulis semua itu.

Awalnya aku hanya ingin menghilang dari dunia. Kau tahu orang-orang yang berkelana ke tengah hutan karena mereka merasa bosan dengan kehidupan yang superfisial? Sudah lama rasanya aku ingin membakar semua identitasku, dan bertualang ke sepenjuru dunia. Namun, kau tahu, urusan dokumen negara (membuat paspor dan lain sebagainya) sangatlah rumit untuk orang yang tak suka banyak berpikir sepertiku. Every child grows up, except one. Dulu pernah kupikir cerita tentang si bocah Peter Pan hanyalah rekayasa, supaya membuat orang-orang dewasa menolak kehidupannya sendiri, menolak menjadi tua. Namun, setelah kupikir-pikir lagi, mungkin keinginanku untuk melakukan pengasingan sebenarnya berkaitan dengan harapanku untuk selamanya menjadi kanak-kanak. Tidak direpotkan dengan kerjaan bertumpuk dari kantor, tidak perlu berpura-pura berperilaku dengan penuh etiket di masyarakat, tidak dirusak dan diubah oleh orang-orang di sekitarku.

Ketika menulis tentangmu, aku merasa tidak tumbuh besar. Rasanya menyenangkan. Ya, aku pernah ingin menghilang. Namun, kemudian aku terjerat untuk menulis satu cerita tentang seorang gadis yang merasa tersesat di dunianya sendiri. Hingga akhirnya, pada cerpen keseratus, ceritamu tamat. Saat itu, keinginanku untuk mati atau sekadar menghilang dari dunia benar-benar sudah memuncak. Namun, kemudian aku iseng mencari nama lengkap karakterku di internet, dan aku menemukanmu.

Aku tahu kau pasti tidak mengerti. Namun, kalau kau menjadi seperti aku, penulis yang menulis tentang orang yang benar-benar ada, mungkin kau akan mau mencoba untuk mengerti?

Segera setelah kau selesai membaca ini, tolong hubungi aku, ya? Kurasa aku perlu membicarakan sesuatu denganmu. Atau marilah kita menonton film bersama. Pernah menonton film Stranger than Fiction?

Ia menyertakan nomor ponselnya di akhir suratnya. Aku mulai membuka folder yang memuat seratus cerpen seperti yang ia bilang dan, sambil membaca-baca, aku mencoba menelepon nomor ponsel yang tertera di sana. [*]

Desember 2011

Cerpen ini pernah dibacakan dalam hari ulang tahun BPPM Balairung (tahun 2012?, agak lupa).

2014/11/28

Memajang Kisah Silam Poskolonial: Museum Kretek Kudus

G.G. Weix

Profesor antropologi di University of Montana, Amerika Serikat

gg.weix@mso.umt.edu

[abstract in English, ±150 words][1]

Museum Kretek Kudus berdiri pada 1986 sebagai wujud penghormatan bagi usaha lokal dan produksi asli rokok cengkeh (kretek) di Kudus, Jawa Tengah[2]. Artikel ini menganalisis bagaimana penduduk lokal menghayati museum ini, baik dari segi visual dan budayanya, juga menjawab pertanyaan-pertanyaan perihal bagaimana dan mengapa orang Indonesia menampilkan peninggalan-peninggalan terkait relasi buruh industri dan produksi komoditas lokal yang menandai bahwa pernah terjadi suatu pemerintahan kolonial di masa lalu.

Museum adalah institusi dengan kewenangan menayangkan peninggalan dari masa silam dan hal-hal yang terkait dengannya, di mana hal ini dengan sendirinya menjadikan museum sebagai suatu artefak budaya (Kahn 1995: 325). Pertumbuhan museum di Asia Tenggara berjalan dengan mengusung tema-tema seputar poskolonial dengan menghadirkan nuansa dari Perang Dunia II, di mana hal ini juga mendukung kepentingan pemerintahan Orde Baru di Indonesia.[3] Museum Nasional, yang menyimpan warisan masa prasejarah hingga warisan masa Hindia-Belanda yang ditampilkan melalui sebuah bangunan bergaya kolonial di pusat kota Jakarta, telah dipugar secara keseluruhan terutama dengan tambahan ruang pameran dengan iklim yang terjaga dan ruang etalase tambahan untuk memajang artefak. Di masa ini, museum-museum baru yang ditujukan untuk politik pergerakan dan kesejarahan negara juga turut menampilkan simulasi dan diorama kejadian di masa lalu, alih-alih sekadar memajang barang-barang tua. Museum-museum nasional ini—yang terletak di Jakarta dan sekitarnya—memajukan agenda politik untuk mengamankan legitimasi pemerintahan Orde Baru Soeharto dengan idenya mengenai Masa Pembangunan, yang oleh sebagian masyarakat secara sinis disebut sebagai “era konstruksi”.[4] Museum-museum baru ini dimulai sebagai proyek-proyek konstruksi, sementara museum daerah membaharui istana atau bangunan kolonial untuk karya pastiche berlanggam posmodern untuk bentuk arsitektur lama dan baru.

Museum-museum daerah dan swasta juga menunjukkan representasi politis pemerintahan era itu dalam konstruksi mereka, berikut patronase dan daya tarik lokal yang mereka miliki. Simbolisme visual dan desain museum swasta—beserta patronasenya—menyimpang dari agenda politik yang tadinya bertujuan untuk menyimpan sejarah kenegaraan. Sebaliknya, museum swasta melihat masa silam poskolonial melalui perspektif yang lebih lokal, yakni melalui daerah kantong-kantong usaha di masa kolonial Hindia.

Sementara itu, visualisasi pameran di museum-museum Indonesia berbagi kemiripan begitu rupa dengan apa yang terjadi di museum-museum Eropa dan Amerika Serikat. Kemiripannya terutama dapat ditemukan pada cara pelabelan dan teknik pemajangannya. Museum swasta menjadi pendukung untuk reka-ulang era poskolonial di zaman modern, di mana pameran mereka bukan hanya menampilkan narasi masa silam, melainkan juga menjaga narasi tentang keterkaitan dari kejadian yang pernah berlangsung dengan kondisi sosial saat ini. Dengan demikian, para pengunjung lokal museum menyaksikan tradisi mereka dalam dua cara pandang: sebagai potret kehidupan sosial masa silam dan potret diri mereka di masa sekarang.

Menghubungkan yang Arkaik dan yang Modern

Pertumbuhan museum di Asia Tenggara dianalisis sebagai agenda politik pemerintah dalam meneguhkan wewenang mereka dan mengaitkan kejadian di masa silam dan di masa modern (Anderson 1991b: 178). Arkeologi era kolonial di abad ke-19, serta keilmuan dan usaha memengaruhi pembangunan kembali situs-situs keagamaan ke keadaan semula, menandai pergantian waktu untuk memulai sebuah bangsa baru. Situs-situs keagamaan kuno menjadi pendukung terciptanya mitos nasional atas asal usul beberapa negara poskolonial di Asia Tenggara lantaran beberapa monumen kunonya—seperti Borobudur di Indonesia dan Angkor Wat di Kamboja—menjadikan kejayaan masa lalu kembali bisa dinikmati di era modern (Anderson 1991b: 179–183).

Museum-museum di Indonesia mewarisi peran sebagai monumen bangsa; dibangun sejak hari kemerdekaan demi menyimpan memorabilia kebangsaan sebagai perwujudan memori kolektif bangsa (Anderson 1991b: 178–184). Meskipun, sejak 1966, pemerintah Orde Baru menghindari wujud memorabilia tersebut ataupun monumen bergaya realis-sosialis yang ditujukan oleh Presiden Sukarno untuk menggambarkan keadaan “Rakyat” dan “Suatu Bangsa”. Museum-museun Orde Baru melingkupi bentuk-bentuk simulasi: fotografi, diorama, dan skena kejadian sejarah yang telah direkonstruksi. Meskipun semua bentuk itu melestarikan dimensi politik ketika mereka dipajang di museum, jangkauan representasi mereka telah bergeser dari peninggalan bangsa yang sebenarnya sebatas ke simulakra dari masa ke masa.

Pergeseran pajangan ke dalam wujud simulasi dan “pemampatan waktu” dalam contohnya yang paling baik muncul dengan bentuk taman-bertema (theme park), sebuah “Miniatur Indonesia” (Taman Mini) yang dibangun di Jakarta Selatan pada 1971, di mana Museum Indonesia ditambahkan ke pekarangan ini pada 1980. Taman tersebut menghindarkan bahasan terkait transisi penuh kekerasan yang terjadi antara pemerintahan Orde Lama ke Orde Baru karena taman ini menampilkan narasi masa silam yang terus memunculkan perwujudan budaya tradisi daerah (Anderson 1991b: 176–177). Pemberton fokus pada replikasi dan miniaturisasi monumen budaya, serta krisis yang terjadi dalam peniruan kehidupan masyarakat di masa rekonstruksi rumah adat.[5] Pemerintahan Soeharto, bagaimanapun, memang memperuntukkan visualisasi kebudayaan-kebudayaan daerah dan acara-acara ritual itu untuk melakukan generalisasi atas kebudayaan nasional Indonesia.

Museum daerah mewujudkan tampuk kekuasaan di masa silam dan era kesultanan dalam simulasi sejenis (Taylor 1994: 71–74). Mereka menayangkan relik, regalia, dan kesenian tradisional sebagai nostalgia bagi pemerintahan sebelumnya yang kini digantikan peran negara, kendati mewujudkan kerajaan dalam bentuk museum akan menyinggung kekuasaan yang juga sedang berlaku di negara. Museum-museum daerah yang memiliki sejarah perihal kerajaan juga menggunakan simulakra pakaian kerajaan untuk menjaga keberlangsungan dan meningkatkan pariwisatanya. Misalnya, museum di Ternate dan Tidore di timur Indonesia, yang sebelumnya kerap dikenal sebagai pulau rempah-rempah, pun menggunakan memorabilia atas kesejarahan para sultan. Pengunjung museum dikawal ke ruang utama yang memajang artefak dan lemari yang menampung pakaian harian Sultan dan rombongan kerajaan. Lemari-lemari itu berisi manekin dengan kostum kebangsawanan ataupun kostum orang-orang biasa—asli maupun rekonstruksi—yang berbaris di dinding bekas kerajaan. Petugas pemandu mendorong pengunjung untuk melihat pertunjukan busana tersebut dan menganggapnya semata-mata sebagai kilasan masa silam, di mana pengunjung dilarang untuk memotret di dalam pameran.[6]

Berbeda dari museum yang dijelaskan di atas, museum-museum swasta di Indonesia diresmikan untuk menampilkan keaslian kinerja dan produksi komoditas dalam perindustrian. Mereka memunculkan objek-objek, foto-foto, dan diorama-diorama untuk mengilustrasikan tahapan kerja sebelum masuknya teknologi industri, di mana tenaga kerja masih mengandalkan usaha kolektif. Museum-musum swasta itu berdiri selama beberapa dasawarsa terakhir—secara eksklusif berdiri di wilayah Jawa Tengah—dan ditujukan untuk menampilkan sesuatu yang agak berbeda dari kesatuan atau keadaan proses pemerintahan sebelumnya: yakni untuk menampilkan asal usul dan perkembangan industri, khususnya perusahaan-perusahaan kapitalis yang muncul selama era kolonial. Foto-foto, memorabilia, dan artefak menampilkan pabrik konversi, gudang, ruang-ruang administrasi, atau pun gedung-gedung baru.

Para pegawai museum menyebut museum swasta semacam itu bertujuan menarik perhatian baik wisatawan domestik maupun internasional.[7] Namun, lantaran kerja-kerja industri semacam itu terkait dengan keunggulan yang dimiliki oleh suatu daerah, maka museum-museum itu berada di tempat-tempat yang jauh dari jangkauan wisatawan internasional, seperti museum yang terletak di Kota Kudus di pantai utara Jawa. Meskipun, belum jelas apakah wisatawan internasional akan tertarik dengan tempat semacam Museum Kretek Kudus, lantaran artefak yang ditampilkan bukan tentang budaya lokal, melainkan tentang ekonomi lokal yang berubah dari waktu ke waktu.

Museum-museum swasta, meski sebagai perluasan pariwisata di Indonesia, juga memiliki pengaruh lokal.[8] Sementara mereka menampilkan aspek-aspek industri sebagai sesuatu yang kuno, mereka membentuk konteks sosial di mana pengunjung yang adalah penduduk Jawa asli akan menghadapi tanda-tanda visual berupa patronase lokal dan hierarki sosial kedaerahan mereka. Untuk menggambarkan konteks ini dan memberikan bukti terkait wujud penafsiran lain tersebut, saya menyajikan suatu deskripsi etnografis mengenai Kudus beserta tatanan ekonomi dan sosialnya yang memunculkan pandangan berbeda bagi penonton. Saya kemudian membandingkan analisis visual dan budaya museum tersebut. Museum Kretek Kudus terbilang tidak umum karena ia merepresentasikan sebagian dari peninggalan di era kolonial sebagai peninggalan masa silam dalam bentuknya yang imajiner. Pamerannya berkonstribusi pada keberlanjutan otoritas dan status elite lokal, terutama karena ia banyak dikunjungi oleh penduduk setempat.

Museum Kretek Kudus adalah salah satu dari banyak proyek konstruksi yang didesain untuk mempromosikan pariwisata sepanjang pantai utara dalam dasawarsa 1980. Bersamaan dengan dibangunnya museum, sebuah menara didirikan dekat dengan terminal bus tua. Batu bata, perancah bambu, dan berkarung semen mengelilingi lokasi proyek selama berbulan-bulan; karena menara direncanakan sebagai monumen yang dikelilingi taman.[9] Menara tersebut secara abstrak menyerupai Menara, sebuah menara (minaret) di dekat makam Sunan Kudus di sudut tertua kota. Miniatur museum dipamerkan pada bilik pameran (booth) pemerintah provinsi dalam sebuah pameran pembangunan di bulan Agustus 1986. Proyek konstruksi ini didesain sebagai pelengkap alih-alih pengganti situs-situs asli. “Karena itu, pengunjung tidak perlu pergi ke Kudus Utara untuk melihat Menara,” ujar seorang lelaki muda dengan bangga kepada saya, “wisatawan dapat turun dari bus untuk melihat monumen baru; mereka dapat mengunjungi museum alih-alih sebatas mengunjungi Kudus Utara.” Proyek-proyek tersebut sesungguhnya hanya dikenali sebagai proyek pariwisata; ketika saya menanyakan keberadaan momunem yang sedang dibangun itu kepada seorang tukang becak, ia menebak bahwa “mungkin saja mereka sedang membangun hotel”.

Museum Kretek Kudus diresmikan pada Oktober 1986.[10] Beberapa bulan sebelum penyelesaiannya, tuan rumah saya menyebut museum tersebut sebagai “proyek” yang disponsori bersama oleh pebisnis lokal di kota itu. Tujuannya adalah untuk menggambarkan perkembangan sejarah pembuatan rokok kretek dan juga untuk memperingati generasi pebisnis sebelumnya yang adalah pengusaha-pengusaha pribumi pertama dengan politik ekonomi kapitalis.

Menteri Dalam Negeri, Supardjo Rustam, diundang dari Jakarta sebagai pembicara pada upacara peresmian. Kedatangannya disambut meriah di upacara pagi itu. Setelah pernyataan awalnya, ia mengundang empat orang lainnya untuk berdiri di podium bersamanya, memperkenalkan mereka sebagai “raja rokok” (cigarette kings) keturunan dari para pendiri besar industri tersebut.[11] Kemudian, Rustam mengisahkan cerita singkat kepada ratusan tamu, pejabat, manajer, pekerja, dan staf yang hadir. Di tahun sebelumnya, setelah ia pulih dari suatu penyakit misterius, ia beroleh ilham untuk menyerukan pendirian museum daerah yang ditujukan guna memperingati bisnis dan usaha pribumi.

Jawa Tengah ketika itu telah memiliki dua museum lain yang ditujukan sebagai tempat pameran industri. Yang pertama adalah pabrik pengolahan gula di Klaten, sebelah timur laut Yogyakarta, yang kedua adalah adalah sebuah stasiun kereta api di Ambarawa, kota kecil yang sepi di sepanjang jalan raya dari Semarang ke Yogyakarta. Menurut Rustam, museum-museum tersebut adalah usaha yang dibangun kolonial Belanda. Sementara itu, ia membayangkan sebuah museum yang akan menekankan semangat kewirausahaan pribumi. Karenanya, seperti yang ia sampaikan kepada audiens, ia mendekati para direktur dari keempat perusahaan terbesar di Kudus untuk membeli lahan dan membiayai pembangunan museum yang akan diresmikan bagi “industri pribumi”.


[image]

Gambar 1 Pada pembukaan Museum Kretek Kudus, pengunjung berwisata mengelilingi bangunan. Hak foto ada pada Kantor GAPPRI, Kudus, 1986.

Museum itu, suatu bangunan yang mengesankan, dengan lintasannya yang melingkar, terletak sekitar tiga kilometer di selatan kota dan dikelilingi persawahan. Hanya dengan mengemudi secara hati-hati menyusuri jalan setapak sempit menuju distrik pedesaan Loram, maka tengara baru ini dapat disambangi. Dari jalan raya mendekati Kudus, atap museum tampak samar-samar di seberang persawahan. Penduduk setempat menyebut situs itu “tempat sepi” (a quiet place), baik secara kiasan terkait jarak tempuh dari pusat perdagangan dan secara harfiah lantaran ia terisolasi dari lalu lintas kendaraan. Bagi orang Jawa, frase itu juga berkonotasi pada tempat seperti pemakaman atau situs ziarah pegunungan yang terpencil dan ditinggali arwah.

[image]

Gambar 2 Pada upacara pembukaan Museum Kretek Kudus, Oktober 1986. Hak foto ada pada Kantor GAPPRI, Kudus.

Terlepas dari lokasinya yang terpencil, upacara peresmian museum rokok itu tampak hidup dan dihadiri banyak pegawai negeri sipil dan pimpinan bisnis, manajer, serta para pekerja. Seusai pidato pembukaan, perempuan muda dengan dandanan layaknya pedagang abad kesembilan belas menampilkan tarian yang adalah simulasi dari gerakan perempuan yang sedang melinting dan membungkus daun cengkeh diiringi rekaman musik Sunda populer. Para pejabat membuka penutup patung para petani sebagai pejuang gerilya yang menggambarkan perjuangan Revolusi Indonesia (1945–1949). Kemudian, komite melepaskan balon ke udara sementara para penonton masuk ke dalam ruang pameran dan secara perlahan memulai tur untuk mengeksplor fasilitas-fasilitas museum. Tur menjajaki jejak visual keseluruhan bangunan dan para pengunjung melihat-lihat foto, diorama, dan benda-benda penanda masa lalu.

Menegaskan Kembali Hierarki Lokal

Bagaimana penduduk lokal Jawa memandang museum sebagai narasi untuk mengingat masa lalu?[12] Mengapa penduduk lokal bahkan bersedia mengunjungi museum? Hal ini terjawab dengan menyoroti posisi lokal elite sebagai pusat patronase. Misalnya, di sepanjang pantai utara Jawa, sementara posisi istana berjarak dengan masyarakat dan kekuatan kesultanan diperebutkan, wali Islam dan komunitas pedagang menciptakan alternatif bagi hierarki aristokrat di tengah masyarakat istana Jawa (Florida 1995: 322–326). Bahkan di kota-kota dengan kekuasaan istana itu, komunitas pedagang Muslim dapat memperoleh kasta kebangsawanan, kendati mereka hanya akan mencapai status tersebut melalui akuisisi kekayaan, berbeda dengan elite aristokratis dan pemerintahan pejabat, yang memandang peringkat sosial sebagai apriori dan dalam beberapa hal dipandang sebagai jalan awal untuk memperoleh kekayaan (Brenner 1991: 57–58).

Dari sini tampak bagaimana pengunjung asli Jawa memandang museum. Pertama, pada upacara peresmian, kita dapat melihat bukti adanya penegasan hierarki lokal. Ketika menteri negara menceritakan pemulihan dirinya dari sakit, ia menyampaikan tujuan dari museum itu—untuk menghadirkan masa silam kolektif—dengan istilah yang akrab bagi orang Jawa: untuk membalas utang keseluruhan kepada sumber tak tampak yang telah jelas memulihkan kesehatannya. Pada saat yang sama, negara justru tak memberikan sponsor apa pun untuk berdirinya museum tersebut. Karenanya, Rustam meminta sumbangan dari para pengusaha Kudus—yang ia simplikasikan dengan sekadar sebutan pedagang (traders), istilah yang disengaja mengaburkan status mereka sebagai eksekutif perusahaan berpenghasilan jutaan dolar—untuk memberikan sponsor atas proyek tersebut. Kemurahan hati dalam hubungan dengan masyarakat meneguhkan posisi mereka sebagai dermawan lokal, dalam hal ini, melalui pendanaan mereka atas proyek negara yang dikeluarkan dari dukungan dana pribadi. Dengan demikian, perebutan hierarki antara aristokrat dan pedagang, atau yang secara modern dapat disamakan dengan hubungan antara kementerian negara dan para pengusaha, tampak jelas dalam acara tersebut.

Kedua, empat pemilik perusahaan tersebut menyambut menteri negara sebagai tamu kehormatan di Kudus, yang mana hal ini mengingatkan pada kunjungan sebelumnya yang dilakukan pejabat negara kolonial. Bapak serta kakek para pengusaha ini juga pernah menjadi tuan rumah bagi bangsawan-bangsawan Jawa dan para utusan asing.[13] Catatan sejarah lokal dan beberapa biografi menyebutkan kunjungan ke situs sebagai bukti ketenaran kapitalis awal Indonesia, seakan-akan para sultan Jawa dan jenderal gubernur Belanda sengaja berkunjung ke Kudus semata-mata demi menemui para pengusaha tersebut.

Namun, Rustam menegaskan beberapa keutamaan negara Orde Baru dalam menjalinkan takdir pertemuannya dan acara itu; juga perkenalannya kepada “Empat Besar” perusahaan di kota tersebut dengan selubung kesejarahan yang signifikan dalam kelas usaha lokal tersebut. Dalam sebuah laporan pemerintahan kolonial tentang usaha produksi rokok, kategori “pedagang” ditilik berdasarkan kode ras yang ditentukan oleh asal usul etnis dan agama: perusahaan yang dimiliki oleh “Pribumi” dan “Timur Asing” masuk dalam daftar berbeda, yang mana istilah terakhir digunakan pemerintahan Hindia Belanda untuk merujuk pada keturunan Tionghoa (Castles 1967). Di sektor tembakau dan tekstil pengusaha “pribumi”, yakni Muslim Jawa, bahkan cukup berhasil membangun pasar di tengah ekonomi kolonial. Sepanjang abad ke-20, pengaruh politik yang baru muncul dari kelas menengah Jawa relatif lemah dibandingkan kelas bisnis multinasional dan domestik Tionghoa (Robison 1986: 57–62). Namun, dengan memperkenalkan patron museum secara kolektif dikuasai oleh “Empat Besar”, Rustam dalam acara peresmian pada 1986 itu menyandingkan keseimbangan simbolis antara dua perusahaan: “Jawa” dan “Tionghoa”. Pembagian sejarah dan kode ras telah dipaparkan, meski upaya ini diredam di bawah naungan negara poskolonial.

[image]

Gambar 3 Mengunjungi museum dengan seorang teman, November 1987. Hak atas foto ada pada Astri Wright.

Bukan hal luar biasa bagi pemilik perusahaan rokok bertindak sebagai patron dari proyek negara. Sejak 1970, perusahaan-perusahaan besar kerap memberi sponsor kegiatan-kegiatan olahraga dan hiburan dan menampilkan logo perusahaan untuk mengiklankan merek rokok terbarunya (Hatley 1994: 257). Dengan terbitnya industri perfilman nasional (yang berumur pendek) dan iklan cetak pada 1980-an, perusahaan-perusahaan itu memperluas keterjangkauan logo mereka ke berbagai acara publik. Banner logo mereka terpampang dan digantungkan pada setiap pameran-pameran dagang, acara-acara kompetisi olahraga, kegiatan publik dan sekolah agama, bahkan pada karangan bunga yang dikirimkan ke suatu pemakaman Tionghoa. Penanda pada iklan dan patronase menyertai acara peresmian museum, dan menegaskan status yang tampak pada perusahaan besar dan kecil, terlepas dari ukuran usaha dan penghasilannya. Kompetisi untuk menampilkan logo mempertinggi keterlibatan ikonik sebagai sumber patronase. Misalnya, tetangga saya dapat menjelaskan kegiatan di acara-acara olahraga tersebut hanya dengan mengidentifikasi sponsor atau patronnya: “...itu event-nya Djarum” (Djarum adalah merek rokok kretek lokal).

Sepanjang 1987, tahun pertama setelah peresmian Museum Kretek Kudus, kunjungan ke museum menjadi kegiatan rileksasi populer di tengah penduduk Kudus.[14] Sebagian besar pengunjung adalah murid sekolah dalam agenda kunjungan lapangan beserta guru-guru mereka. Teman-teman saya sering mendesak agar saya menemani mereka ke museum, yang letaknya jauh dari pusat kota dan juga memerlukan tumpangan tukang becak dalam jarak pendek, tetapi dengan harga mahal. Pada kunjungan biasanya, kami dapat memasuki bagian depan pintu dan penjaga laki-laki muda akan meminta kami untuk menandatangani buku tamu di meja di mana ia berdiri mengobrol dengan penjaga lain. Beberapa pengunjung melepaskan alas kaki sebelum masuk sebagaimana yang umum mereka lakukan sebelum memasuki Masjid atau rumah.

Interior museum terdiri atas sebuah ruangan besar, tampak dingin dan gelap di sudutnya. Pameran sepanjang sisi menampilkan bayangan lampu yang menyala terang tergantung di tengah ruangan. Banyak orang terdengar mengagumi lantai keramik, lampu berkilauan dan kayu mewah, dan terutama, pendingin ruangannya. “Udara dingin, sejuk,” (“Adhem, lho, apit”) ujar mereka dalam bahasa Jawa. Seorang guru berusia pertengahan dua puluhan mengatakan kepada saya ruangan itu menyerupai ruang tunggu dari rumah keluarga pedagang kaya raya, yang menampilkan ruang sosial di mana pasangan tersebut menerima tamu serta klien, pelanggan, dan karyawan. Begitu pula pendapat dari seorang guru sekolah pedesaan lain yang mengatakan ubin tampak licin selayaknya lantai marmer dari rumah elite pedagang. “Ruangan ini sangat nyaman,” ujarnya. “Saya bisa membayangkan tinggal di sini untuk waktu yang lama.” Beberapa pengunjung museum lain mengatakan mereka mengantuk selama waktu berkunjung lantaran keadaan museum begitu lengang.

[image]

Gambar 4 Foto close-up dari diorama yang menunjukkan pembuatan rokok kretek di pedesaan dengan membayangkan masa lalu. Foto: G.G. Weix, 1987.


Ketika pengunjung memulai tur berkeliling ruangan, pemandu mengarahkan mereka untuk melihat foto-foto dan diorama-diorama lokakarya pabrik pada 1910-an. Alat-alat kayu dan dokumen-dookumen menyebar di kotak kaca dekat foto-foto itu. Pemandu menjelaskan bahwa barang itu sangat bagus (“Sae, antik.” Kata pertama adalah istilah Jawa yang berarti “bagus” dan kata kedua adalah istilah serapan Inggris yang berarti antik.) Evaluasi kata “antik” tidak berhubungan dengan usia, karena saya mendengar orang Indonesia menyebut objek-objek terbaru, pencakar langit di Jakarta misalnya, atau pakaian modis terbaru, sebagai antik. Antik menandakan kualitas, bukan kondisi berdasarkan waktu.[15]

Generasi pertama dari pengusaha rokok cengkeh digambarkan pada dinding berpanel yang menampilkan foto-foto: potret sembilan pria mengelilingi foto Nitisemito, pengusaha pribumi paling terkenal di zamannya, dengan bingkai yang lebih besar. Terdapat keterangan di bawah foto yang menampilkan setiap nama pendiri dengan gelar senada, “Raja Rokok”. Seperti halnya gambar lain dalam pameran itu, foto-foto ini menyajikan penghormatan yang menampilkan para elite dan menyoroti hubungan patonase antara perusahaan lokal dan penduduk setempat.

Foto-foto itu juga mengingatkan tentang lukisan-lukisan para pendiri yang tergantung di depan kamar anak-anak mereka di rumah, juga di kantor-kantor pabrik mereka. Selain potret di rumah dan tempat kerja, beberapa pemilik perusahaan menghargai orang tua mereka dengan membacakan doa di makam keluarga setiap tiga puluh lima hari, pada tanggal kematian orang tua mereka berdasarkan penanggalan Jawa. Orang Indonesia keturunan Tionghoa di Kudus merupakan silsilah vertikal dari generasi yang fotonya terpajang di aula depan rumah. Dalam kedua contoh ini, para pengusaha menandai ruang kehidupan sehari-hari mereka untuk menunjukkan rasa hormat kepada generasi sebelumnya. Hanya Museum Kretek Kudus yang membentuk kesatuan set gambar dari pendiri pabrik untuk ditujukan kepada publik dalam ruang simulasi di sebuah rumah mewah. Mengingat ketegangan kesejarahan yang ditampilkan oleh kelas bisnis tersebut, dan disparitas pemaknaan industri di era kolonial dan poskolonial, konsolidasi simbolik yang menampilkan penghargaan ini tidak mudah untuk diterima dalam institusi tunggal belaka. 

2014/11/21

Buku Puisi Afrizal Malna “Pada Bantal Berasap”: Puisi Visual atau Visualisasi Puisi?



Ditulis untuk program lokakarya kritik seni rupa dan kurator muda Indonesia 2014 di Dewan Kesenian Jakarta dan ruangrupa.


Tampilan Buku Sastra yang Monoton

Konon, inilah eranya kita berhibur dengan jalan serbasingkat. Tulisan panjang kalah oleh desakan iklan, alur sinetron tak saling kait satu sama lain, karya seni di galeri menjadi puja-puji sekilas lalu di akun-akun Instagram. Dalam sorotan penuh stigma, mode hidup di zaman ini tiada lain adalah ekstase satu malam.

Untuk perayaan atas kesegalaan yang singkat ini, sekian baris puisi pendek tidak lagi dianggap hadir secara anakronis. Ia dirayakan dan tidak terpisah dari masyarakatnya. Siapa pun berhak menjadi penyair melalui cuitan di akun Twitter. Kehidupan kita seketika dibanjiri kata-kata para penyair instan itu. Sayangnya, hal itu tak serta-merta mendukung penghidupan para penyair. Damhuri Muhammad dalam suatu pengantar[1] menyampaikan:

“Seorang petugas pencatat kerjasama penjualan konsinyasi di sebuah toko buku, bahkan pernah mengatakan, “berhentilah menerbitkan buku puisi. Lebih baik kita berjualan buku tentang masak-memasak, atau buku panduan jitu cara bersolek, yang sudah pasti laris.”

Lantas, jalan sunyi macam apa lagi yang kiranya akan ditempuh para penyair?

Penahbisan penyair secara kilat dan sambil lalu ini adalah satu hal yang membuat kata-kata memerlukan bentuk baru agar ia bisa laku, atau agar ia bisa tampil dengan khas. Saya menulis artikel ini untuk tujuan kedua: mencari kekhasan demi menyudahi gelontoran karya pastiche yang menjadi primadona pasar buku hari ini. Meski demikian, saya optimis pasar pun sebenarnya menanti sesuatu yang berbeda. Karena selain era instan, di masa ini orang-orang mencari keterkejutan. Gumun yang bisa mereka bagi lewat media sosial. Untuk merespons kegumunan itu, mengapa tidak sekalian saja buku puisi ditampilkan dengan jalan yang benar-benar berlainan dari buku-buku konvensional?

Pencapaian artistik adalah salah satu alternatif yang diusulkan Damhuri melalui teks pidatonya. Saya mengartikannya, buku puisi tidak mesti tampil teks belaka. Lewat ragamrupa cetak grafis, dapat dihadirkan keunikan tipografi demi mewakili ‘suara’ ataupun gambar terpilih demi mewakili ‘visual’. Meskipun, untuk itu, penyair perlu mengolah teknik dan bereksperimen. Yang mana, juga mendorong perpaduan antardisiplin apabila diperlukan. Sebagaimana halnya Ellena Ekarahendy[2] mengintepretasikan puisi Afrizal Malna “Pada Bantal Berasap” menjadi sebuah buku puisi dengan tambahan polesan grafis. Namun, untuk metode kerja itu, kita perlu mempertanyakan kembali: tepatkah apabila genre karya Ellena ini disebut sebagai puisi konkret atau puisi visual?

Puisi Visual atau Visualisasi Puisi?

Dalam kata pengantarnya, Ellena mengakui apa yang dia lakukan bukanlah hal pertama, dan ia menyebut dua nama lain, Filippo Marinetti dan Tristan Tzara sebagai pendahulunya. Namun, dia tidak menarik garis penciptaan di mana Marinetti dan Tzara mengerjakan sendiri visual untuk puisinya, dan bahkan menciptakan konsepnya terlebih dahulu sebelum dituangkan ke kertas. Bahwasannya, intensi memvisualisasikan puisi itu dilakukan sendiri oleh penyairnya, seperti yang dilakukan oleh penyair-penyair di Indonesia, di antaranya Sutarjdi, Ibrahim, dan Hamid. Inilah apa yang umum dikenal sebagai puisi visual atau puisi konkret.

Herman J. Waluyo (Waluyo, 1987) mencatat bahwa puisi konkret terkenal sejak era 1970-an; Sutardji Calzoum Bachri dengan O, Amuk dan O, Amuk Kapal-nya, Ibrahim Sattah dengan Hai Ti dan Hamid Jabbar dengan Wajah Kita pernah pula menerapkan permainan visual dalam puisinya. Terutama Sutardji, dengan doktrin puisi mantra, jeda dan repetisi bukan mainan baru baginya. Namun, pada para penyair yang tidak berlatar belakang desain komunikasi visual, eksperimen unsur bunyi, tipografi, enjambemen, ataupun ikon parodi tidak ditampilkan dengan permainan warna atau bentuk yang mendorong interaksi visual. Mereka hanya berkutat dengan kemungkinan-kemungkinan bentuk teks: lingkaran, segitiga, baris-baris garis, dan sejenisnya untuk mewakili maksud dari puisi itu. Seringkali, upaya ini pun hanya hendak menampilkan grafis dari puisi, alih-alih pemaknaan terhadap teks. Lebih dari itu, hampir kesemua seniman itu berlaku ideologis dalam mengonsep karyanya, baik dalam makna dan tema bagi karyanya, ataupun aliran yang kemudian menopangnya.

Teknik grafis puisi sendiri sudah berkembang sejak era Yunani klasik dengan sebutan technopaigneia, dalam bahasa Latin carmina figurata, dan gesamtkunstwek dalam bahasa Jerman[3]. Kesemuanya, meski tak sepenuhnya sama, mensyaratkan penambahan elemen untuk menyampaikan maksud dari puisi dengan lebih terang.[4] Kegiatan perwujudan teks puisi ke dalam medium ini sempat redup di abad ke-12 hingga ditampilkan kembali oleh George Herbert (Bohn, 2001).

2014/11/05

Apa yang Paling Kamu Inginkan

Siang itu hujan. Kita entah kenapa menyudut pada salah satu jendela restoran itu dengan dua gelas minuman dingin.

Jadi, apa yang paling kamu inginkan di masa kecilmu? Kenapa kamu menulis?
Minuman di gelasku tinggal separuh.

Memiliki teman. Cukup lama aku mendefinisikan diri sebagai seorang anak tunggal yang tak pernah punya teman akrab. Sewaktu TK, aku pernah punya. Kami ke mana pun bersama. Sayangnya, aku tiba-tiba terbujuk rayuan orang tuaku yang sejak sebelum menikah tampaknya bercita-cita mengoleksi medali dan piala dari anak mereka. Mereka membeli lemari kaca khusus untuk itu bahkan sebelum tahu aku punya bakat apa. Aku terkutuk karena lahir sebagai semata wayang sehingga dijejali harapan ini-itu: petenis, bintang di televisi seperti Maissy si Gadis Cilukba, ataupun pembawa sangsaka merah-putih dalam barisan paskibraka. Padahal, aku hanya ingin menjadi seperti Usagi di Sailor Moon. Pembela kebenaran yang tak perlu bangun pagi. Jadi begitulah, dulu setiap hari, kerjaku hanya menggambari dinding, mewujudkan cita-citaku di sana. Karena itu, usaha utama mereka untuk menjadikanku anak istimewa terbilang mudah. Mereka mendorongku akselerasi kelas ke SD di usia belum genap lima tahun, dan menjauhkanku dari komik-komikku. Yang mau tidak mau, sekaligus menjauhkanku dari sahabat terbaikku di TK itu.

Bagaimana nasib lemari kaca itu?

Kosong melompong hingga hari ini.

Kamu tertawa.

Di bangku SD, hampir semua temanku laki-laki. Karena itulah aku tak pernah merasa canggung berada di antara kaum mereka. Bahkan karena itu aku tak pernah merasakan desir-desir aneh saat duduk beraduan tatapan mata dengan pria yang kutaksir, misalnya. Aku kemudian bosan dengan keadaan itu. Percaya atau tidak, saat SMP, aku melemparkan koin ke kolam dan meminta kehadiran seorang teman kepada kolam itu.

Kamu akhirnya tergelak di bangku di hadapanku. Hampir saja mengambil gelas minum yang sengaja kamu sisihkan untuk dinikmati saat berbuka puasa, tetapi kemudian mengangsurkannya kembali ke meja. Belum waktunya bagimu untuk menutup puasamu.

Kamu melakukannya, katamu, kamu tipikal gadis yang seperti itu.

Ya, pada akhirnya, kolam itu mengabulkan permintaanku.

Itu hanya self-fulfilling prophecy, sahutmu. Pada dasarnya, kamu yang berusaha untuk mendapatkan teman yang cocok denganmu.

Di satu sisi hal itu benar, aku mendapatkan teman-teman itu karena kemudian aku menulis banyak cerita sedih untuk mereka baca di jam istirahat sekolah.

Mereka menyukai cerita-ceritamu?

Mungkin kalau aku menanyai mereka sekarang, mereka akan bilang tidak. Selera kita berubah. Jadi, aku lebih percaya kolam itulah yang mengabulkan segalanya. Ah, aku ingin bertemu dengan kolam itu lagi, dan melemparkan koin yang banyak.

Kali ini, kamu mau meminta apa lagi?

Aku hanya bisa membatin; entahlah, bisakah aku minta kamu?

Aku tak pernah merasa kamu mencintaiku dan tampaknya kolam di sekolahku itu sudah dipugar.


4 November 2014


Tulisan Terdahulu