2017/10/20

Perjalanan Pertama di Paris

Saat saya pulang pada pukul setengah sepuluh petang, ibu semang saya sedang menyimak televisi dalam siaran berbahasa Perancis, sebelum kemudian berganti ke tayangan berbahasa Mandarin ketika saya mengambil makanan. Masih ada beberapa bahasa lagi yang dipergunakannya secara aktif, di antaranya bahasa Rusia, Jepang, dan Spanyol, dan tampaknya sedikit bahasa Arab. Tapi yang paling menguntungkan bagi saya adalah karena ia berbicara dengan saya dalam bahasa Indonesia.

“Jadi, bagaimana petualanganmu di hari perdana ini?” Dia bertanya.

Saya menyendok menu makan malam di hadapan saya, dan mulai bercerita tentang pertemuan saya dengan seorang perempuan Maroko bernama Nesha.

“Oh, orang Maroko. Di sini memang banyak orang-orang Afrika, mereka pernah jadi koloni Perancis,” sahut ibu semang saya.

Ayah Nesha meninggal enam tahun lalu, dan dia baru saja menjenguk ibunya yang sedang sakit—ibunya tinggal di banlieue juga seperti saya sementara Nesha tinggal di area Trocadero dekat Menara Eiffel. Dia sempat berbelanja bahan makanan, lalu kebetulan bertemu saya di stasiun RER C Les Saules.

Nesha membantu saya membuat kartu transportasi umum berlanggan bulanan yang dapat memudahkan saya yang tinggal di pinggiran Paris—istilah lokal, banlieue—untuk mencapai Paris dengan tarif terjangkau. Orang-orang di Paris dan banlieue terbiasa berjalan kaki—atau menggunakan otoped ataupun sepeda—dan untuk jarak jauh mereka memilih menggunakan transportasi umum: metro, RER (untuk mengantarkan ke wilayah banlieue A hingga D), bus, dan trem dengan sistem SNCF yang menggunakan kartu atau tiket Navigo. Tentunya, dibantu membuat kartu Navigo oleh warga lokal menjadikan pengalaman di hari perdana itu sebagai bentuk perkenalan yang menyenangkan dengan kota ini.

Saya memilih Paris sebagai tujuan residensi penulis, sebuah program beasiswa yang digagas oleh pemerintah, dan karena alasan membutuhkan keringanan finansial saya kemudian memutuskan tinggal di wilayah Orly, di pinggiran selatan Paris. Ibu semang saya menjelaskan sekelumit tentang tempat kami tinggal, yang baginya dapat diistilahkan sebagai “cukup kiri”. Di daerah kami, pemerintah municipal mewajibkan apartemen privat (dalam artian, semacam apartemen yang dihuni oleh orang-orang kaya) dan apartemen pemerintah (semacam apartemen yang disubsidi oleh negara) untuk dibangun saling berdampingan—dan beberapa nama pemikir ataupun politisi kiri Perancis menjadi nama rue dan avenue daerah itu. Ibu semang saya menyewa apartemen pemerintah dengan tarif relatif terjangkau bagi seorang pensiunan sepertinya, di avenue Adrien Raynal, yang diambil dari nama seorang komunis militan.

Setelah membantu saya dengan kartu transportasi umum itu, Nesha bilang dia ingin ke kebun binatang, yang terletak di salah satu stasiun yang akan saya lewati juga, sebelum pulang ke rumah, dan menawari saya untuk menyertainya. Saya mengiyakan ajakannya. Kami akan berhenti di stasiun metro Gare d’Austerlitz, sebelum saya melanjutkan perjalanan ke stasiun metro Crimée, untuk mendaftarkan diri ke sebuah tempat kursus bahasa Perancis, dan dia pulang ke Trocadero.

Tempat kursus bahasa Perancis murah itu terletak di bilangan kanal Villette. Saya pikir, mengikuti kursus akan membuat saya punya alasan untuk sekali jalan menuju pusat kota Paris, meriset ke perpustakaan ataupun museum, yang jaraknya satu jam perjalanan metro dari rumah kos saya di banlieue, sekaligus berinteraksi secara wajar dan rutin dengan penghuni kota. Dengan berbagai pembenaran untuk mengeluarkan sepeser uang demi kursus, saya menambahkan satu alasan yang terdengar bijaksana bagi diri sendiri: jika kelak saya ingin iseng menerjemahkan karya sastra Perancis ke bahasa Indonesia, bekal bahasa ini bisa membantu saya. Nantinya ketika pulang ke Indonesia, saya tinggal mendalami lagi.

Beberapa pekan setelahnya, saya bertemu Johanna Lederer, seorang pendiri sebuah komunitas pencinta kebudayaan Indonesia, Komunitas Pasar Malam—nama yang disitir dari buku Pramoedya Ananta Toer Bukan Pasar Malam, ia bersepakat untuk menerjemahkan dua cerita pendek saya ke dalam bahasa Perancis dan menerbitkannya dalam jurnal terbitan mereka. Pertemuan itu membuat saya berpikir, mengapa tidak, untuk punya impian membalas jasa dengan menerjemahkan karya sastra Perancis juga suatu saat nanti?

Sepanjang perjalanan, saya memperhatikan orang-orang di sekeliling saya. Banyak, teramat banyak gelandangan—entah itu warga lokal yang menjadi pengangguran dan tak mampu menyewa hunian lagi ataupun imigran yang menggelandang karena tak memperoleh perlindungan pemerintah.

Ada juga banyak wisatawan, karena Paris adalah destinasi pertama dunia dalam hal wisata: para wisatawan kaya yang tampak dari dandanannya—yang tentu didominasi oleh orang-orang China—dan para wisatawan miskin yang menggendong ransel lusuh dan menggeret kopernya ke mana pun, barangkali sedang mencari hostel murah lainnya yang bisa disewa untuk beberapa hari.

Lantas, warga lokal yang membawa tas belanjaan penuh barang, atau menuntun anjing yang lehernya diikat tali, atau mendorong troli bayi, atau menjinjing otoped, atau memanggul sepeda dan helmet.

Orang dari ras berbeda bercampur baur: kulit hitam, kulit sangat hitam, kulit kuning, kulit putih, kulit sangat putih, rambut merah, rambut pirang, rambut hitam, rambut warna-warni, dengan gaya berpakaian yang berbeda-beda, dengan tatapan dan gestur janggal yang tak terpahami, ataupun dengan suara keras terdengar sedikit berteriak di telepon. Soal kebiasaan bertelepon ini, di hampir setiap pinggir jalan, kita akan mendapati orang-orang kulit hitam yang getol mengobrol dengan lawan bicaranya di telepon dengan bahasa yang campur baur: Arab, Perancis, Inggris, dan entah apa lagi.

Di tengah banyak orang yang menarik bagi saya dan ingin saya ajak bicara satu persatu tapi tidak memungkinan untuk melakukannya, pertemuan dengan Nesha mencukupi rasa penasaran saya untuk mengenal yang lain.

Nesha mengaku bahwa dia menjadi warga negara Perancis karena orang tuanya menetap dan membesarkannya di sana, walaupun pada mulanya itu bukan perkara mudah—sebagaimana yang terjadi pada imigran-imigran negara Afrika bekas koloni Perancis juga. Lantaran cerita yang saya dengar darinya, dia menjadi orang pertama yang membuat saya berpikir untuk menulis kisah-kisah tentang orang-orang imigran—dan kemudian mengunjungi museum imigran, musée national de l’histoire de l’immigration.

Sore sebelumnya, di hari pertama saya tiba di Paris, ibu semang juga telah mengajak saya berkenalan dengan orang-orang perahu (boat people). Pertemuan yang entah disengaja atau tidak, karena ia memang berencana menjamu kedatangan saya dengan makan nasi goreng ikan teri pedas di sebuah restoran Vietnam favoritnya—orang-orang di restoran itu adalah mereka yang pernah mengalami derita mengapung di lautan lepas selama berhari-hari demi menyelamatkan diri dari Perang Vietnam, “Saat mengapung itu, kami selama tiga hari tidak makan dan tidak mungkin meminum air laut,” begitu katanya.

Kami berjalan melintasi taman dan Nesha tiba-tiba mencerocos, “Cowok-cowok Perancis itu brengsek, tuh kamu lihat, mereka bakal merayu ceweknya dengan barang murah. Setelah si cewek berhasil dijerat hatinya, si cowok nantinya pasti mengajak makan, tapi maunya minta dibayarin si cewek saja.”

Tapi, bukankah kebanyakan laki-laki memang seperti itu atau tidak seperti itu atau berada di irisan itu? Melakukan generalisasi adalah perilaku yang payah ketika hidup di tengah orang-orang dengan berbagai latar belakang seperti ini. Sejauh ini, memang tak terjadi perselisihan antara warga lokal dan pendatang. Tapi apa yang saya tahu? Seorang penulis kontemporer Perancis, Michel Houellebecq, dalam karya terbarunya menunjukkan kebenciannya pada imigran dan semacam fobia terhadap Islam, dan entahlah apakah ia akan mempengaruhi lebih banyak orang lagi atau tidak. Perdana menteri Perancis, Manuel Valls, dalam sebuah wawancara bahkan berani menyatakan, “Perancis itu bukan Houellebecq, Perancis bukan negeri intoleran, penuh kebencian dan rasa takut.” Meskipun, sebenarnya masih kontroversial apakah Houellebecq ini melancarkan kritik pada Islam secara umum, ataukah hanya militan Islam seperti karakter yang dipilihnya dalam novelnya.

Saya menatap wajah Nesha sungguh-sungguh, apakah dia pernah dibuat patah hati oleh seorang pemuda Perancis? Pada akhirnya, saya mendapati alasannya menjadi sesinis itu, karena kemudian dia bilang dia tak pernah menikah, dan tak sedang punya pacar—di usianya yang sudah memasuki usia pensiunan. Sialnya, dia tampak tiga puluh tahun lebih muda dari usia biologisnya.

Tampaknya dia bisa kelihatan semuda dan seenergik itu karena sangat menikmati hidup. Pemerintah Perancis memastikan para pensiun dan para penganggur untuk dapat mengunjungi tempat-tempat publik yang berbayar dengan gratis. Bukan hanya tempat wisata, saya dengar beberapa tempat makan pun dapat memberikan makanan gratis kepada para penganggur. Untuk soal kunjungan gratis setiap saat ke tempat-tempat wisata, Nesha memanfaatkan statusnya sebagai pensiunan dengan sebaik-baiknya. Hampir setiap hari, dia berkunjung ke kebun binatang.

“Kenapa bukan ke museum atau tempat wisata lain yang lebih disukai turis?” tanya saya.
Dia sendiri merasa janggal menjawab pertanyaan saya, baginya itu adalah caranya mengisi kekosongan ditinggal mati ayahnya yang semasa hidup gemar mengunjungi kebun binatang.

Semua pekerja di tempat itu mengenalnya, menyapanya dengan ramah saat Nesha lewat. Dia bahkan secara sukarela menjadi pemandu yang menjelaskan tentang segala tabiat binatang di sana kepada para pengunjung yang datang. Saya menyukai berjalan di sisinya, memandang orang-orang yang mengagumi pengetahuan Nesha tentang kebun binatang itu. Kami bertahan di sana hingga jam tutup kebun binatang, dan berpisah di stasiun metro setelah bertukar nomor kontak. 

Saat sendirian tanpa ditemani Nesha di dalam metro di perjalanan ke tempat kursus ataupun perjalanan pulang ke rumah, saya mulai merasa terasing.

Dengan jas ataupun pakaian formalnya, saya bertanya-tanya apakah salah seorang dari orang-orang yang membaca buku-buku tebal di hadapan saya itu mengajar di universitas bergengsi? Ataukah orang parlemen? Apakah di antara mereka yang membaca buku itu, salah seorangnya adalah penulis muda Perancis dan sedang meniti kariernya?

Di dalam metro ini, bukan hanya soal ras dan warna kulit, ataupun kepercayaan yang dianut, orang-orang kaya dan orang-orang miskin, para figur publik dan orang biasa tampak tidak keberatan untuk saling membaur—dan saya, meski terasing, entah kenapa sekaligus juga merasa turut membaur di tengah keberagaman ini. Tidak seorang pun dari kami memandang aneh kepada satu sama lain, terlepas dari demikian banyak perbedaan secara fisik, dan hanya karena itu, di akhir hari saya merasa seperti tidak sedang berada di tempat asing. [*]

2017/04/28

Kita Bahkan Tidak Perlu Berbisik

 

 (Cerpen ini dimuat di Jurnal Perempuan No. 93/2017)


SEPULUH tahun telah lewat bagi kami. Itu adalah waktu saya untuk mulai menyukainya, mencintainya, dan menjalin hubungan, hingga merelakan ia pergi selamanya dari hidup saya.

Sore itu hujan, saya mendorong kursi roda kekasih saya itu. Ia bersikeras meminta saya meninggalkannya sendiri di kamar rumah sakit yang pengap oleh bau obat-obatan. Saya bilang saya tak cukup nyali untuk harus kehilangannya tanpa sepengetahuan saya.

“Aku ingin makan bubur di kafeteria,” ujarnya pada hari terakhir itu. Sementara dibiarkannya senampan makanan dari rumah sakit tak tersentuh.

Sepanjang perjalanan menuju kafeteria, kami melihat banyak burung gereja beterbangan di langit, “Besok aku akan menjadi salah satunya,” katanya. Saat itu ia seolah-olah sepenuhnya menyerah akan hidup.

Entah apa yang ada di pikirannya. Yang jelas, lama setelah menerima kabar mengenai kanker yang ia derita, saya menyadari tak lama lagi saya akan kehilangan kekasih saya. Dan hanya bisa mendorong kursi roda pria itu saat ia sedang merasa hampir mati membuat saya merasa tak berguna.

Sepuluh kilogram bobot tubuhnya turun selama setahun ia menjalani kemoterapi. Kanker otak yang ia derita baru kami ketahui ketika sudah menjelang stadium akhir.

“Seandainya kita bisa kembali ke masa lalu dengan mesin waktu,” ujarnya saat itu. “Mungkin seharusnya kita tidak pernah bertemu. Waktumu terbuang sia-sia, sepuluh tahun kamu habiskan hanya untuk menemani pria yang akan mati.”


KAMI sampai di kafetaria rumah sakit. Saya memesan dua mangkuk bubur ayam dan dengan sigap mengambil dua botol air ukuran sedang.

Darah mengucur dari hidung kekasih saya. Ia tidak bisa menggerakkan tangannya untuk menghapus darah itu. Dua minggu sebelumnya, kedua tangannya mulai lumpuh.

“Kita seharusnya benar-benar tidak usah bertemu,” rajuknya. Darah dari hidungnya terus mengucur dan tak berhenti. Saya ambil tumbukan daun sirih dari wadah plastik di dalam ransel dan saya letakkan di lubang hidungnya. Beberapa saat, darahnya berhenti.

“Atau, seandainya kita segera menikah di tahun pertama perkenalan kita.” Ia masih meneruskan kelakarnya.

Saya terpaku mendengar kalimat terakhirnya. Barangkali kami memang sebodoh itu karena meniru kisah percintaan Jean Paul Sartre dan Simone de Beauvoir. Kami melewatkan sepuluh tahun hanya untuk berpacaran, bekerja, dan bervakansi menjelajahi tempat-tempat asing. Kami terlalu banyak membual soal kehidupan berumah tangga, merencanakan jumlah anak, dan rumah idaman, tanpa pernah merealisasikannya.

“Kita bahkan belum dikaruniai keturunan,” lanjutnya.

“Seandainya kamu bisa mendonorkan spermamu sebelum meninggal,” saya mencandainya. Ia tertawa, tapi tawanya tidak bisa selincah sebelum kanker bersarang di otaknya. Dulu setiap saya berlelucon, saya selalu menerima kecupan mesra darinya di kening.

“Carilah pria lain setelah aku meninggal,” pintanya.

“Bagaimana dengan opsi mengadopsi seorang anak?” jawab saya, “Dan menamainya dengan namamu atau nama orang-orang yang kita idolakan?”

Ia tersenyum, tetapi air mata jatuh di pipinya. Itu hari pertama dan hari terakhir saya melihat air mata di wajahnya.



SAYA akhirnya mengadopsi seorang anak dan membangun usaha sendiri. Anak itu saya namai Gandhi, sebagaimana kekasih saya dan saya mengagumi Mahatma Gandhi. Lima tahun telah berlalu semenjak saat itu. Saya sudah tidak mampu mengingat lagi bagaimana perasaan saya sewaktu melihat jenazah kekasih saya di ranjang rumah sakit. Usaha yang saya rintis membuat saya sepenuhnya melupakan impian berumah tangga.

Saya selalu membuka toko buku dan kafe setiap pukul enam pagi lewat sedikit, dan menutupnya ketika sudah larut. Terkadang, saya juga tidak menutupnya sama sekali. Selalu ada orang-orang yang bermalam di kafe karena larut dalam pembicaraan. Pagi ini sekitar tiga atau empat pasangan kekasih memesan kopi dan menu sarapan ringan setelah semalaman tak pulang. Buku-buku bacaan ringan dari toko buku menumpuk di meja, masih bersegel, menjadi bantal tidur mereka.

“Ini masih bisa dilakukan sendiri. Biarkan saya yang angkat,” terdengar suara seorang pria tua dari kejauhan.

Pukul tujuh pagi, tetangga saya sudah banyak bicara di teras rumahnya sewaktu saya membereskan kafe dan mengantarkan pesanan pelanggan. Saat saya lihat, pria yang berusia delapan puluhan itu dengan keras kepala menurunkan kursi roda dari mobil pick up seorang diri. Diabaikannya kurir pengantar yang berniat membantu.

Selepas kepergian kurir itu, ia berdiam diri lama demi memandangi kursi rodanya. Saya sudah membereskan piring dan gelas terakhir, dan mengganti taplak meja, ketika ia akhirnya duduk, mencoba mendorong-dorong kursi roda. Ada keriangan kanak-kanak dari caranya tergelak menertawakan diri sendiri saat duduk di kursi roda itu, dan dari caranya mengibaskan tangan sewaktu ia mendapati saya memandang ke arahnya.

Ia barangkali akan cocok dengan ayah saya. Semalam saya menjemput Ayah di bandara. Saya minta ia tinggal bersama saya.

Keputusan itu muncul di benak saya pada kunjungan terakhir saya ke rumah. Saat itu seluruh rumah bau kotoran tikus, lampu-lampu dibiarkan menyala sepanjang hari, dan botol-botol bir menumpuk di kamar Ayah. Sebagai anak tunggal, saya tak akan tega membiarkan Ayah hidup seperti itu.

Sebenarnya ibu dan ayah saya sudah bercerai sejak saya merantau kuliah dan bekerja di Jakarta. Namun, beberapa bulan lalu sesudah Ibu wafat, kata tetangga kami, kerja Ayah hanya bermurung diri dan keluar rumah untuk menghabiskan uang pesangon. Saya tak menyangka Ayah menjadi begitu tak menghargai hidup setelah mengetahui kepergian Ibu. Ia dipecat dari perusahaan tekstil tempatnya bekerja dan tak mencari pekerjaan lagi. Ayah bahkan tak bisa mencuci baju sendiri ataupun merawat diri.

Saya senang karena akhirnya ia mau ikut pindah. Meski semalam saat saya jemput, di perjalanan kembali dari bandara, ia memaksa berhenti di swalayan 24 jam dan membeli berkerat-kerat bir. Di kamarnya, kini Ayah pasti masih belum terjaga. Beberapa minggu ke depan, ia tampak masih akan menghabiskan waktunya lebih banyak untuk merokok dan minum bir sebelum tidur. Saya tak mencegahnya. Hanya saja, sebelum kepindahan kami, saya minta ia lebih bisa berlaku mandiri.

“Penghasilan saya belum banyak. Saya baru menjalankan usaha toko buku dan tempat makan ini selama lima tahun,” ujar saya di dalam taksi.

Ayah yang duduk di sebelah saya tampak tak acuh.

“Keuntungan dari usaha ini bahkan belum menutup hutang pinjaman saya di bank. Jadi, tolonglah, saya minta kerjasama Ayah.”

“Sudah kubilang, kau tak usah ajak aku ikut pindah,” jawab ayah saya, “kau tinggal biarkan aku mati di rumahku kalau kau mau terus larang aku beli bir.”

“Saya mana tega membiarkan Ayah mati. Memangnya Ayah mau bikin saya jadi yatim piatu? Ayah bisa tinggal bersama saya, tapi tolong mengerti keadaan saya juga. Bir-bir itu, rokok-rokoknya, tolong dikurangi.”

“Capek aku dengar keluh kesah kau, Denada. Terima kasih kau ajak aku turut pindah, tapi jangan kau atur terlalu banyak hidupku,” jawab Ayah naik pitam.



SAAT saya menyetelkan televisi ke channel yang banyak menampilkan kartun-kartun hari Minggu, tetangga saya datang dengan kursi rodanya. Orang-orang memanggilnya Markus. Saat itu ia mengetuk pintu kafe. Wajah riangnya tampak tersenyum di pintu kafe, sebelum kemudian ia mendorong sendiri pintu itu.

“Kursi roda baru?” tanya saya.

Kursi roda itu tampak istimewa. Barang-barang yang ia miliki memang rata-rata bermerek mahal. Istrinya meninggal tiga tahun lalu, tetapi ia tampak baik-baik saja dengan ditemani barang-barang itu. Hingga hari ini, ketujuh anaknya—yang kesemuanya menjadi orang sukses—masih rajin mengiriminya uang dan barang. Ia hampir selalu datang bercerita ke kafe saya setiap ada kiriman yang datang. Dari yang saya lihat, barang-barang itu membuatnya bahagia.

“Anak-anakku ini kelakuannya betul-betul sudah, cerewetnya keterlaluan. Mereka kirimkan benda ini dengan pesan agar aku gunakan kursi roda ini kalau sewaktu-waktu aku capek berjalan. Sepertinya mereka mau ayahnya cepat-cepat tidak bisa berdiri.” Markus menjawab dengan bercanda. Seperti biasa, perkataannya dibarengi tawa.

“Mau minum susu dengan stroberi? Sekontainer buah segar baru datang pagi tadi. Stroberi, semangka, pisang, apel, nanas, mangga, anggur,” saya hampir merinci semua buah.

“Apa saja boleh, tapi stroberi favoritku. Asalkan kamu tidak bilang ke anakku kalau aku minum itu. Bisa-bisa dia kirim koki masakan vegetarian dan dokter gizi khusus diabetes kalau dengar ayahnya banyak konsumsi yang manis-manis dari kafe tetangga.”

“Kenapa tidak mencarikan ayahnya istri baru saja, kalau begitu?” canda saya sembari menyuguhkan susu stroberi.

“Mungkin mereka pikir ayahnya bisa mati di ranjang waktu bercinta dengan istri barunya,” sahutnya sambil tertawa. “Kulihat kamu mengajak seorang lelaki paruh baya tadi malam? Dia siapamu?”

“Itu ayah saya. Semalam ia terlalu banyak minum bir, sepertinya sekarang ia masih tidur di kamarnya.”

“Ah, siapa bilang? Pagi-pagi buta ia sudah keluar rumah, terakhir kulihat ia duduk di lapangan rumput, menonton anak-anak main sepak bola sambil pegang botol bir di tangan.”

“Pak Markus tidak mengajaknya bicara?” tanya saya.

“Aku masa bodoh saja tadi. Aku tak suka dengan orang yang dari tubuhnya menguar bau minuman keras. Ayahmu kelihatan frustrasi betul. Tapi seandainya saja aku tahu ia ayahmu, aku pasti sudah tarik lelaki bangkotan itu pulang kemari. Gila saja, gadis sebaik kamu punya ayah berkelakuan begitu.”

Saya terpingkal sejadi-jadinya. “Ibu meninggal enam bulan lalu. Mungkin itu banyak mempengaruhi Ayah, walaupun mereka sudah lama bercerai.”

“Tidak usah murung begitu. Lupakan saja ayahmu. Ayo, bicarakan yang lain. Kau lihat gunung di seberang itu? Pagi ini tampak cantik dan agung sekali. Mungkin bisa membuatmu lebih ceria.”

Mungkin juga tidak. Ada banyak kenangan dari gunung itu. Saya pernah mendakinya langsung bersama kekasih saya yang meninggal lima tahun lalu. Hanya berdua dari Jakarta, kami mengelilingi kota ini. Pada hari itu, Johan secara spontan mengajak saya menaklukkan gunung di seberang itu. Apa yang kami lakukan hari itu yang menuntun saya ke kota ini.

Ada para pecinta yang akan menantang dunia dan bersedia dunia membencinya agar ia bisa bersama dengan orang yang dicintainya. Dulu kami melakukannya, sama-sama tak peduli dengan identitas suku dan agama yang berbeda di antara kami. Selama sepuluh tahun kami menjauh dari keluarga yang menolak hubungan kami. Selama itu, satu kali pun tak pernah membersit di pikiran saya untuk mewujudkan harapan Johan menikahi saya. Ia sudah merayu saya berkali-kali untuk menikah pada tahun kelima hubungan kami. Ia bilang, dengan tabungannya, ia sudah bisa membeli rumah sendiri dan menafkahi saya.

Sayalah yang bodoh dan menyia-nyiakan kehadirannya. Sebagai anak tunggal, dengan kedua orang tua yang bercerai, saya susah menyanggupi permintaan Johan. Saat mengingat masa-masa itu, terkadang saya menangis di pojok kafe setiap tak ada pengunjung. Membenamkan wajah saya di balik buku dan tertidur pulas sampai ada pengunjung atau karyawan shift yang datang dan membangunkan saya.

“Kenapa jadi tambah murung?” Markus tampak heran. “Mana Gandhi? Hari Minggu kau taruh ia di Sekolah Minggu lagi?”

“Ia suka di sana. Hobinya menggambar mendapatkan wadah di tempat itu.”

“Atau jangan-jangan ia betah karena ia menemukan ayah baru di sana?” goda Markus. “Carikanlah anakmu itu ayah baru. Kamu masih empat puluhan, cantik, cergas memasak. Andai usiaku bisa dikorting empat puluh tahun, aku pasti melamarmu.”

Bagaimana bisa membayangkan memberi ayah baru untuknya? Saya mengadopsi Gandhi yang berusia tiga tahun dan sejak saat itu membiarkannya tumbuh besar tanpa ayah. Dia sudah terbiasa tumbuh tanpa seorang ayah. Saya bilang ayahnya diplomat, yang pekerjaannya selalu mengharuskan berpindah-pindah negara. Setiap hari ulang tahunnya, Gandhi mendapatkan kiriman dari teman-teman saya di luar negeri. Ada nama kekasih saya, Johan Winangun, di setiap kartu ucapan selamat. Saya bilang itu nama ayahnya.

Gandhi tak banyak bertanya lagi sejak hari pertama ia dikirimkan satu kardus berisi kamus bergambar. 

2016/12/13

Immanuel Kant dan GWF Hegel, dan Konsep Idea

Immanuel Kant adalah filsuf pertama yang berkontribusi pada bidang logika idealisme Jerman sehingga menjadi fondasi bagi para pemikir idealisme Jerman selanjutnya, oleh Fichte, Schelling, maupun Hegel. Sementara idealisme pada masa-masa sebelumnya memisahkan antara objek material maupun objek intelektual, sebagaimana yang dilakukan oleh Plato dan Berkeley, idealisme Jerman menolak distingsi tersebut. Agaknya, idealisme Kant terbilang yang cukup moderat mendefinisikan bahwa objek yang diselidiki oleh pengetahuan manusia bersifat ideal dan transendental sekaligus riil dan empiris—menengahi konsep para pemikir sebelumnya tentang Empirisme dan Rasionalisme. Hal tersebut mungkin terjadi karena bagi Kant, pemikiran manusia dapat menghasilkan pengetahuan yang valid dari dirinya sendiri (das Ding an sich) yang berasal dari kesimpulan silogistis tertentu. Dalam diskursusnya mengenai Dialektika Transendental, Kant menyebutkan adanya tiga kesimpulan silogistis yang mungkin dan berkaitan dengan tiga kategori akal-budi (substansi, kausalitas, dan resiprositas), yang merupakan semacam kesatuan akhir yang mutlak, tiga kesimpulan itu disebutnya sebagai “idea-idea rasio murni”. Idea pertama adalah “Idea Jiwa”, idea kedua adalah “Idea Dunia”, dan idea ketiga adalah “Idea Allah”.

Dalam rentang sejarah selanjutnya, GWF Hegel berpendapat bahwa dalam kritisisme Kant masih terdapat oposisi antara fenomena dan noumena, jadi masih ada oposisi antara subjek dan objek. Hegel lebih menyetujui usaha Fichte menghapus “das Ding an sich”, ia juga mengagumi filsafat Schelling yang memaparkan adanya Alam atau dunia yang tidak dipahami sebagai oposisi Roh. Terhadap pemikiran Schelling tersebut, Hegel menambahkan unsur kesejarahan—poin tentang adanya proses perwujudan diri (Selbstverwirklichug) dari Roh. Dalam filsafat Hegel, Yang Absolut (das Absolute) atau Roh (der Geist) ini dipandang hadir pada dirinya sendiri, dan menurutnya Roh tersebut harus menyatakan dirinya dengan mengalienasikan diri dalam Alam terlebih dahulu, beserta konsep mengenai adanya negasi dalam proses perwujudan tersebut. Bagi Hegel, Roh adalah totalitas, seluruh kenyataan. 

Dari paparan di atas, perbedaan antara konsep Idea (dalam terminologi Hegel, Roh/Rasio/Yang Absolut) Hegel dengan Kant (dalam terminologi Kant, idea-idea rasio murni) adalah: 1) Hegel bersepakat dengan Fichte, menghapus adanya “das Ding an sich”, 2) Hegel menggunakan pandangan Schelling mengenai Alam dan Roh, dan menyetujui bahwa Roh identik dengan Alam, 3) Hegel menambahkan unsur kesejarahan untuk menjelaskan kaitan antara Roh dengan Alam, dan proses mengembangkan lebih lanjut konsep refleksi Schelling menjadi sebuah konsep tentang alienasi yang dilakukan oleh Roh terhadap Alam yang sesungguhnya berada dalam satu kesatuan sistem, 4) Hegel mempercayai adanya objektivitas murni yang akan diperoleh oleh Roh Absolut di akhir sejarah.

Sementara itu, persamaan konsep Idea Hegel dengan Kant adalah: 1) Masih terdapat kedekatan pandangan kedua filsuf dengan peristilahan keagamaan—yakni Roh ataupun Allah dalam istilah “Idea Allah” maupun “Roh Absolut”, 2) Keduanya mendamaikan Rasionalisme dan Empirisisme baik dengan mengajukan adanya “kesimpulan silogistis” maupun “Roh Absolut”, 3) Keduanya telah menjelaskan konsep Idea dalam tataran metafisis dengan pengandaian atas keberadaan “das Ding an sich”, meski tidak bisa dicerap melalui penginderaan, maupun “Roh Absolut”, yang hanya bisa mengemuka di akhir sejarah.   

2016/05/24

Nenek


 Untuk Rio Johan.
Saat aku menunggu jadwal penerbanganku di bandara, jasad seorang kawan di kampus yang juga tinggal satu indekos denganku sedang diotopsi di rumah sakit. Beberapa botol minuman yang diraciknya menewaskan belasan kawan sepeminuman kami. Dia tidak ikut mati karena mabuk minuman, tapi mungkin karena merasa bersalah, dia kemudian bunuh diri malam itu juga. Aku kebetulan tidak ikut minum dengan mereka karena sedang putus cinta. Dan kini aku terlalu patah hati untuk terlibat dalam drama atau pun persidangan terkait kematian kawan-kawanku, jadi aku memutuskan pergi.

Kalau bukan karena dikabari oleh Ibu bahwa Ayah akan dinobatkan menjadi suttan dan diistanakan di pepadun dalam minggu ini, dan karenanya Ibu mendesakku untuk pulang, aku tentu akan lebih memilih berkelana tak tentu arah daripada pulang ke rumah. Tapi pulang ke rumah pun sama dengan menghindari hal-hal tidak menyenangkan di kota ini. Lagipula, tiket pesawat dibayar sepenuhnya oleh Ibu, jadi hal apa yang patut kukeluhkan? Jadi, tentu aku akhirnya memilih pulang ke rumah.

Sudah lama aku tak pulang ke kampung halamanku. Ayah dan ibuku adalah transmigran di Tulang Bawang Barat, dan rupanya mereka terlalu mengamalkan dengan baik nilai-nilai hidup di sana sehingga kemudian diangkat anak oleh nenekku. Dan kini, sekian belas tahun setelah kepindahan kami ke daerah itu, Ayah akan mendapatkan gelar tertinggi orang-orang di sana: suttan.

Aku dijemput Paman di bandara dan ia memberiku hormat selayaknya anak pejabat. Kutertawakan kelakuannya karena aku tahu ia menyindir Ayah. Aku paham yang diejeknya bukan gelar suttan yang akan diperoleh Ayah, tetapi lebih pada sikap kaku Ayah selama ini—dan betapa kompletnya bila sikap kakunya itu disandingkan dengan gelar tertinggi tersebut. Sosok ayah tentu akan bertambah angker.

Kugoda Paman, apakah dia masih belum dapat mengalahkan Ayah dalam pertandingan catur. Dia mengangguk. Aku yakin memang akan sulit menemukan lawan tanding yang setara dengan Ayah. Maka kusimpulkan pada Paman, Ayah tidak akan tampil rendah hati di hadapannya bila dia belum kunjung mampu mengalahkannya.

Kami tertawa. Ia lantas menyodok tanganku dan mengganti topik. Kali ini ia hendak membahas soal pendamping bagiku. Sebagai anak tunggal, aku diharapkan menikah cepat. Aku menggeleng sekenanya. Aku pernah punya seseorang untuk digandeng, tapi tidak untuk saat ini. Paman rupanya mencoba untuk mengerti aku malas membahas hal itu.

Selama tiga jam saling bertukar menyetir mobil dalam perjalanan dari bandara ke rumah, aku dan Paman bertukar ringkasan lima tahun masa hidup kami yang telah terlewatkan selama masa perantauanku di pulau seberang. 

Bibi telah meninggal, dan Paman menikah lagi karena pada suatu malam dia mabuk fermentasi singkong sehingga tidak bisa membedakan bokong sapi dan bokong istrinya sekarang. Dia tukang perah sapi sebelum menikahi istri keduanya, tapi kini dia bekerja mengolah hasil perkebunan dari sekian hektare tanah milik mertuanya.

Di sepanjang jalan, dia menunjuk area kiri-kanan jalanan itu yang merupakan perkebunan milik mertuanya. Aku akan mensyukuri hidupku bila mendapatkan mertua dengan kekayaan semacam itu, kubilang kepada Paman. Tapi dia tertawa dan justru bersumpah dengan sungguh-sungguh bahwa bokong si istri pun sudah merupakan anugerah baginya.

Rumahku rupanya tak banyak berubah meski lama kutinggal. Pekarangannya masih dipenuhi pot bugenvil yang biasanya dibawa Ibu sebagai oleh-oleh dari perjalanan dinasnya, dan bahkan koleksinya bertambah lebih banyak lagi. Meski Ibu doyan membeli tumbuhan, Neneklah yang paling getol merawatnya, bersama dengan anggrek-anggrek bulan yang dipetiknya dari hutan. Dan Ayah masih memelihara anjing dalam jumlah yang lebih banyak lagi karena saat mobil kami datang, anjing-anjing itu berhamburan bagaikan domba.

Beberapa orang hilir-mudik di pekarangan rumah sembari membawa gotongan. Mereka adalah tetangga kami yang membantu persiapan pesta perayaan penobatan Ayah. "Ini pesta besar dan kamu tahu makanan lezat apa saja yang akan kamu nikmati di pesta besar itu," ujar Paman di sisiku dengan tawa yang amat lebar. Kami akan menikmati rendang sapi paling enak, kue-kue jajanan pasar paling segar, dan sepanjang pekan es buah akan mengguyur dahaga tenggorokan kami di tengah cuaca yang sedang terik membara ini. Lama tidak pulang, dan kini disambut dengan pesta. Luar biasa.

Nenek melepas selang air di pegangannya ketika melihatku turun dari mobil. Belasan anjing di pekarangan rumah itu tidak menggonggongku seolah tahu bahwa aku adalah salah satu tuan mereka juga. Membiarkan air dari selang membeceki halaman, Nenek menghampiriku dan memelukku demikian erat. "Kenapa demikian lama tidak pulang," tanyanya. "Kenapa Nenek masih tampak muda dan tak berubah sedikit pun," kujawab. Dan dia tergelak, lantas cepat-cepat menyongsongku ke arah dapur.

Ibu sedang memandu beberapa perempuan yang berada di dapur bersamanya untuk meracik bumbu. Hanya sebuah pesta besar yang akan memanggil wanita karier satu itu ke dapur dan berurusan dengan perapian. Wajah dan gerak-geriknya masih optimistis dan garang seperti biasa. Tapi begitulah ibuku kukenal sebagai perfeksionis. Saking sibuknya, bahkan ia tak menyadari kehadiran putra tunggalnya di pintu dapur.

Maka aku meminta Nenek untuk ikut ke kamar dan membiarkan Ibu larut dengan kesibukannya.

Kami duduk di ranjang di kamarku. Masih ada sederetan poster ilmuwan favoritku, atlas dunia dan atlas negara, juga catatan-catatan formula matematika, fisika, dan kimia di dinding kamar itu. Kamar itu mengingatkanku kepada diriku yang pernah hingga bermalam-malam suntuk begadang untuk mempersiapkan olimpiade sains dan pada akhirnya menggondol pulang medali-medali emas. Sementara, selama lima tahun berkuliah aku justru terjauhkan dari semua itu. Yang ada hanya deretan demonstrasi, pergerakan, harapan untuk revolusi, mabuk minuman keras, kecanduan ganja, dan kematian kawan. Betapa mudahnya hidup menjelma ironi dalam waktu singkat.

Nenek mulai menderetkan hari-hari indah dan hari-hari kelabunya selama aku tak ada di sisinya. Dia memang tak pernah kehilangan kisah untuk dia ceritakan. Kata Ibu, pada suatu hari, Kakek tiba-tiba saja tak bisa diajak bicara oleh Nenek, lalu Kakek pergi ke tengah hutan dan tak pernah kembali lagi, dan sejak itu Nenek kerap duduk termenung di halaman rumah, atau terkadang duduk di atas pepadun di lantai dua rumah kayu kami. Kepada siapa saja yang duduk di dekatnya, Nenek akan mulai menceritakan banyak kisah. Nenek punya kisah-kisah asli selama 600 tahun ke belakang. Dan kisah-kisah itu berasal dari pengalamannya sendiri. Usianya lebih dari 600 tahun, dan dia tidak bisa memastikan kapan tepatnya dia lahir. Dia adalah ibu dari nenek dan nenek dan nenek dan nenek di atas nenekku. Itu pun dengan mengandaikan bahwa ia memang nenek yang sedarah denganku, dan kenyataannya bukan. 

Saat ayah dan ibuku pindah ke Tulang Bawang Barat, mereka bertemu dengan Nenek—tinggal bersama cukup lama—dan sejak itu mereka diangkat anak olehnya. Selama ratusan tahun hidupnya, perempuan tua yang kini sedang menimang-nimang jemariku di pahanya telah sembilan kali selamat dari kematian.

Selain sembilan kali “takdir kematian” yang datangnya dari alam itu, ada ratusan kali “percobaan kecil” yang berusaha dilakukan musuh-musuhnya untuk membunuh Nenek. Dan percobaan-percobaan pembunuhan yang kecil-kecil itu tak masuk radar hitungannya. Sewaktu aku kecil, hampir setiap hari aku mendapati bagian-bagian di halaman rumahku berlubang besar. Setiap pagi, aku akan mendapati Nenek mandi kembang dan kemudian menyiram liang-liang itu dengan air pembersihannya. Katanya, itu adalah liang-liang kematian yang disiapkan musuh-musuh bebuyutannya untuk Nenek. Sepanjang malam saat aku dan seisi rumah tertidur, Nenek rupanya bertarung kesaktian dengan musuh-musuhnya itu.

Saat kutanyakan kepada Nenek apakah halaman rumah kami masih sering berlubang, dia justru balik menanyakan kepadaku apakah aku bersedia mewarisi kesaktiannya.

Apakah kesaktian yang ia maksud sama dengan kehidupan imortal?

Pertanyaan itu mengambang di benakku hingga ia bangkit dari duduknya. Aku tetap tak menanyakannya. Dia membuka lemari di seberang kamarku dan mengeluarkan kotak-kotak dari sana. Lantas, membuka kotak-kotak itu satu per satu. Kosong.

"Aku ingin berhenti dan tak mengejar apa-apa lagi," bisik Nenek lirih.

"Apakah di kotak itu terdapat sesuatu yang tak dapat kulihat," kutanya.

Dia tersenyum. "Aku akan pulang pada malam bulan purnama pekan depan," jawab Nenek.

"Apa pun yang terjadi, aku tak menghendaki kesaktian itu sama sekali," aku tegaskan kepada Nenek.

Dia memelukku demikian erat dan hanya membisikkan, "Padahal selama ini aku menunggu kepulanganmu dan mendengarmu siap mewarisinya dariku."

2015/12/15

Politik Kesusastraan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda

Pendirian Commissie voor de Volkslectuur (Komisi untuk Bacaan Rakyat) di tahun 1908, yang diketuai G. A. J. Hazeu, penasihat urusan Bumiputra, adalah salah satu upaya pemerintah kolonial dalam meredam sumber-sumber pemikiran politik yang mungkin menjatuhkan kekuasaan mereka pada awal abad ke-19. Pada 1911, lewat komisi ini, D. A. Rinkes menerbitkan “Nota Over de Volkslectuur” yang menetapkan pelarangan atas penerbitan dan peredaran buku-buku yang dianggap sebagai bacaan liar dan menganggu stabilitas pemerintahan mereka, yakni di antaranya terbitan berbahasa Melayu populer[1] yang banyak diproduksi oleh para pengarang Tionghoa. Komisi ini di kemudian waktu difungsikan dan populer sebagai Penerbit Balai Pustaka.

Surat edaran Rinkes itu menyebutkan kriteria bacaan yang berterima oleh komisi tersebut: (1) netral terhadap persoalan agama; (2) tidak boleh mengandung pandangan politik yang bertentangan dengan pemerintah; (3) tidak menerima sastra yang bersifat cabul; (4) karya harus ditulis dalam bahasa Melayu tinggi karena karya tersebut akan dibawa ke sekolah-sekolah; dan (5) sastra semestinya menerapkan penokohan yang lazim: karakter hitam-putih.[2] Pada perkembangannya, pemerintah Kolonial Belanda terbilang berhasil menerapkan aturan-aturan tersebut, terutama dalam mengasingkan bahasa Melayu Populer yang merupakan bahasa utama dalam penulisan kesusastraan Melayu-Tionghoa sehingga sejak 1930-an para pengarang pribumi[3] praktis mulai belajar dan hanya menulis dalam bahasa Melayu tinggi.

Bahasa Melayu tinggi yang berasal dari Kepulauan Riau kemudian menjadi bahasa Indonesia dengan corak yang lebih baku, yakni bahasa yang ketika itu digunakan dalam sekolah-sekolah pemerintah yang kemudian lazim dikenal sebagai bahasa Balai Pustaka.[4] Penggunaan bahasa Melayu populer ini baru dibedakan dengan Melayu ala Balai Pustaka setelah terjadinya pemberontakan PKI di tahun 1920-an.[5] Terkait hal ini, perlu ditekankan bahwa Claudine Salmon, peneliti kesusastraan Melayu-Tionghoa, berpendapat bahwa sebelum pertengahan 1920-an, bahasa Melayu Populer telah lebih intensif dan lebih dahulu dipakai oleh masyarakat pribumi Indonesia di Jawa dibandingkan bahasa Melayu tinggi yang ditegaskan penggunaannya oleh Balai Pustaka.

Penerbit Balai Pustaka sendiri di kemudian waktu berperan besar dalam perpanjangan tangan politik kolonial Belanda. Oleh komisi tersebut, kesusastraan dikendalikan dan dihaluskan. Sensor diterapkan untuk hal-hal yang terkait isu kolonialisme, sebaran ideologi komunis, ataupun pemikiran progresif Islam. Karya-karya sastra Melayu-Tionghoa, bersama dengan karya sastra generasi awal penulis sosialis penduduk pribumi—literatuur socialistisch—seperti yang ditulis oleh Semaoen dan Mas Marco Kartodikromo, dicap sebagai bacaan liar karena dianggap mengganggu kestabilan pemerintahan kolonial Belanda. Kualitas karya mereka dinilai berbahaya secara politis dan mengganggu moral masyarakat.[6] Novel Mas Marco, Mata Gelap (1914), hingga novelnya satu dekade kemudian, Rasa Merdika (1924), tidak masuk dalam perbincangan sastra pada ulasan majalah ataupun resensi di masa itu. Demikian halnya dengan novel Semaoen, Hikajat Kadiroen (1922). Sementara itu, sebagian besar karya sastra Melayu Tionghoa yang dicap sebagai bacaan liar praktis diberangus habis. Secara singkat dan gamblang, dapat dikatakan politik Balai Pustaka telah sepenuhnya bekerja dalam membatasi resepsi pembaca atas karya-karya mereka.[7]

Tradisi Penerbitan


Dalam tradisi penerbitan di Indonesia, terhitung sejak masa pra-Indonesia, peranakan Eropa adalah golongan yang memiliki privilese paling besar. Pada periode 1858-1900, mereka memiliki 14 terbitan surat kabar di Betawi dan 6 terbitan surat kabar di Surabaya. Pada terbitan-terbitan mereka tersebut, peranakan Tionghoa hanya dipertugaskan untuk membantu dalam ranah pekerjaan redaksional.[8] Meskipun pada saat itu pula, Lie Kim Hok, penulis peranakan Tionghoa, telah dikenal menghasilkan sejumlah karya tulis, dan ia mendapat julukan sebagai bapak “bahasa Melayu-Betawi” berkat kamus bahasa Betawi yang disusunnya.[9] Setelah peranakan Eropa, pada tahun 1880-an, peranakan Tionghoa menyusul memiliki penerbitan sendiri. Dengan demikian, mereka lebih punya kebebasan sendiri, atas pilihan sendiri, dan dengan tanggung jawab sendiri.[10] Disusul kemudian kepemilikan penerbitan oleh golongan pribumi pada 1906-1912, yakni dengan terbentuknya NV. Javaansche Boekhandel en Drokkerij en Handel in Schrijfbehoeften “Medan Prijaji” yang dipimpin oleh R. M. Tirto Adhisoerjo.

Sastra Melayu-Tionghoa: Selayang Pandang

Usaha-usaha Percetakan dan Penerbitan oleh Masyarakat Tionghoa
Usaha percetakan Tionghoa pertama di Indonesia didirikan pada 1879. Percetakan tersebut dimiliki dan dikelola oleh Yap Goan Ho. Usaha Yap Goan Ho ini dilanjutkan oleh Lie Kim Hok, tetapi di tengah jalan mengalami kegagalan sehingga ia menjual alat-alat percetakannya kepada penerbit Belanda, Albrecht. Pada umumnya, dana usaha penerbitan buku masyarakat Tionghoa bersumber dari sebagian hasil usaha dagang mereka di luar percetakan maupun penerbitan.[11] Hal ini berbeda dengan penduduk pribumi ataupun pemerintah kolonial Belanda yang masih menggantungkan diri dari subsidi pemerintah. Berdasarkan karakteristiknya, kesusastraannya tumbuh atas dukungan jurnalisme mereka yang sudah bermula sejak tahun 1950-an.[12]
 
Sejalan dengan adanya usaha percetakan dan penerbitan itu pula, produksi kesusastraan Melayu-Tionghoa dapat dikatakan membentang dalam kurun waktu cukup panjang, 1870-an hingga 1960. Dalam penelitian ekstensifnya,[13] Claudine Salmon dan Denys Lombard mendapatkan hasil yang mengesankan mengenai kesusastraan “yang hilang dan dilupakan” tersebut:

Jumlah pengarang dan penerjemah : 806
Jumlah karya-karya mereka : 2.757
Karya-karya anonim : 248

Jumlah keseluruhan karya-karya : 3.005

Di antara ke-3.005 judul tersebut, tanpa memperhitungkan terbitan ulang, terdapat:
73        sandiwara
183      syair
233      terjemahan karya-karya barat
759      terjemahan dari bahasa Cina
1398    novel dan cerpen asli

Sumber: Literature in Malay by the Chinese of Indonesia: A Provisional Annotated Bibliography (Etudes insulindiennes-Archipel: 3, Paris, Editions de la Maison des Sciences de l’Homme, 1981)

Claudine memyandingkan temuannya tersebut dengan jumlah judul dari tradisi kesusastraan Indonesia yang didokumentasikan dalam “kesusastraan Indonesia modern”, bersumber dari penelitian pakar sastra Indonesia, A. Teeuw, yang dinyatakan meliputi sekitar 175 pengarang dan sekitar 400 karya (1967) dan 284 pengarang dengan 770 karya (1979).[14] Hasil penelitian Salmon ini mengoreksi penelitian Teeuw sehingga Teeuw merasa perlu untuk bermawas diri dan meninjau kembali pandangannya mengenai kesusastraan modern Indonesia, hingga ia sampai pada simpulan:

“Buku tersebut [buku Claudine Salmon, sic!] telah memberi landasan kuat bagi kritik sastra yang sangat diperlukan untuk lebih memajukan penelitian sastra Indonesia modern. Berhubung dengan alasan-alasan yang diajukan Salmon itu tak terbantahkan dan begitu meyakinkan, para peneliti perlu melepaskan sikap apriori bahwa sastra Indonesia awal dan manifestasi satu-satunya sebelum Perang Dunia Kedua adalah novel-novel Balai Pustaka. Dengan terbitnya buku tersebut, tak diragukan lagi bahwa sastra peranakan Tionghoa merupakan mata rantai pokok dari perkembangan sastra Indonesia masa kini…”[15]

Liang Liji, seorang pembaca kesusastraan Melayu-Tionghoa, merefleksikan bahwa ada dua hal yang menyebabkan kesusastraan Melayu-Tionghoa tidak mendapatkan tempat dalam nomenklatur sastra pada masa itu. Diterangkan oleh Liang Liji, alasan-alasannya di antaranya: pertama, keturunan Tionghoa pada masa itu berstatus dwi-warganegara dan hanya dianggap sebagai perantau. Padahal, sesungguhnya mereka bukan hanya merantau, melainkan berimigrasi dan berkehendak untuk menetap. Mereka berangsur-angsur membaurkan diri dengan masyarakat Indonesia. Pramoedya Ananta Toer menyebutnya sebagai upaya asimilasi dan menetapkannya sebagai periode asimilatif atau periode pra-sastra Indonesia, apabila hendak dikaitkan dengan pembabakan kesusastraan. Dalam sejarahnya kemudian, saat dihadapkan pada status dwinegara tersebut, mereka lebih memilih Indonesia. Ini berarti mereka menganggap diri sebagai bagian dari Indonesia dan dengan demikian semestinya karya kesusastraan mereka dimasukkan dalam kategori kesusastraan Indonesia.

Kedua, kesusastraan ini ditulis dalam bahasa Melayu populer yang didiskreditkan oleh pihak kolonial Belanda sebagai “bahasa Melayu rendah”—atau bahasa Melayu pasar. Bahasa Melayu rendah ini tidak dipandang sebagai sumber dari bahasa Indonesia yang digunakan pada masa ini. Ada anggapan bahwa bahasa Indonesia pada masa ini hanya bersumber dari bahasa Melayu tinggi yang berakar dari bahasa Melayu yang dipakai di Kepulauan Riau. Padahal, seperti yang dijelaskan Salmon, bahasa Melayu populer digunakan secara lebih luas di tengah masyarakat karena terasa lebih cocok dan lancar untuk dipergunakan mengungkapkan perasaan dan pikiran dalam kehidupan sehari-hari. 

Balai Pustaka menempatkan mutu karya sastra Melayu-Tionghoa sebagai “bacaan liar”, padahal beberapa karya sastra Melayu-Tionghoa justru bisa dikategorikan sebagai “kesusastraan Melayu tinggi”. Pertama, karena isinya lebih realistis, tidak hanya membahas dunia khayal dan mitos, tetapi lebih banyak mengungkapkan kehidupan dalam masyarakat dan melukiskan suka-duka manusia dalam kesehariannya. Kedua, penulisannya sudah menerapkan bentuk dan metode kreasi modern dan meninggalkan gaya penulisan usang. Ketiga, penggunaan gaya bahasanya telah meningkatkan “bahasa Melayu populer” ke taraf bahasa sastra dan memopulerkannya ke seluruh Indonesia. Keempat, selain mengandung nilai sastra, kesusastraan mereka juga dapat disebut sebagai dokumen sejarah karena isinya yang kontekstual dan berdasarkan peristiwa aktual pada saat itu. Untuk alasan-alasan ini, Jakob Soemardjo mengafirmasi kesusastraan Melayu-Tionghoa sebagai cikal bakal sastra modern di Indonesia.[16]

Tulisan Terdahulu