2017/12/22

Rasionalitas Peradaban Mesopotamia Kuno


Enûma Eliš dari Peradaban Babilonia kuno merupakan peninggalan kuneiform yang paling banyak dirujuk sebagai peninggalan tertua yang membahas perkara asal-usul alam semesta dan penciptaan manusia. Sir Austen Henry Layard adalah arkeolog yang mengekskavasi reruntuhan Nimrud, sebuah kota Asiria kuno, dan Niniwe—dan hasil ekskavasinya termasuk tujuh tablet lempung Enûma Eliš (dari abad ke-7 SM, meski perumusannya barangkali berasal dari abad ke-18 SM pada era Bangsa Kassite) dari Perpustakaan Ashurbanipal, Niniwe.[1] Kisah epik dalam tujuh tablet lempung tersebut memuat masing-masing 115 dan 170 baris teks kuno kuneiform, sistem penulisan yang digunakan oleh bangsa Sumeria, Mesopotamia—dengan isi yang memaparkan pandangan dunia peradaban Babilonia kuno, yang berpusat pada supremasi Marduk sebagai penguasa dan penciptaan manusia untuk memenuhi kehendak para dewa yang sedang memiliki masalah dengan raksasa-raksasa yang diciptakannya—epik ini bertujuan untuk menunjukkan kuasa Marduk melebihi para dewa-dewi Babilonia dalam kepercayaan Mesopotamia secara keseluruhan.

Selain Enûma Eliš, terdapat banyak mitologi lain dari berbagai daerah di sepenjuru dunia tentang asal-usul alam semesta, ataupun teks-teks religius yang menjelaskan kisah-kisah genesis. Seiring waktu, peradaban manusia berkembang ke arah sains alam yang teramat taktis, meneruskan pandangan positivis-logis sejak masa pencerahan, dan berusaha lepas dari pandangan dunia yang masih mistis ataupun metafisis, demi beranjak menuju dunia yang bertumpu pada pandangan sains. Segala hal perlu dibuktikan secara rigor, rumusan ulang untuk menemukan asal-usul semesta pun dilanjutkan. Tapi pengetahuan peradaban manusia masih terbentur dengan tidak terjelaskan secara rigornya asal-muasal alam semesta. Hingga hari ini, teori Hermann Minkowski tentang ruang-waktu yang empat dimensi menjadi penting bagi pandangan saat ini, tapi itu pun tidak bisa menjelaskan fenomena semesta secara rigor, diteruskan oleh Albert Einstein lewat teori relativitas khususnya—yang menyatakan bahwa masa lalu, masa kini, dan masa depan ada dalam satu-kesatuan dan hanyalah kesadaran manusia yang bergerak sehingga melihatnya sebagai masa-masa berlainan.

Sama halnya seperti mitologi kuno, peradaban modern kontemporer kita pun kembali menghadapi titik itu, ketika manusia pada akhirnya terbentur pada ketiadaan jawaban. Sebelumnya pada masa kuno, ia mendayagunakan segenap imajinasinya, dan setelah masa pencerahan, ia mendayagunakan segenap rasionya, tetapi rasio itu masih tidak mampu memberikan fakta empiris. Karena, apa bedanya pandangan mitologi ataupun astrologi kuno di masa Babilonia dengan penemuan Minkowski tentang kesadaran manusia yang ilusif dalam menghadapi ruang-waktu? Hal ini semestinya dapat membuat peradaban modern ini berandai-andai, dengan konsep Minkowski dan konsekuensinya dalam kehadiran teori multijagad, bahwa mungkin saja di ruang-waktu itu ada pula berbagai semesta paralel yang terhubung ke dunia bawah (sebagaimana konsep Babilonia tentang underworld) ataupun surga (konsep Babilonia tentang heaven), seperti halnya teramat mungkin untuk menemukan sekian ratus kemungkinan lain keberadaan manusia di semesta paralel itu.

Apabila yang diunggulkan oleh astronomi modern adalah perhitungan matematisnya yang ketat—yang menjelaskan proses terciptanya alam semesta melalui big bang hingga ramalan kapan alam semesta itu akan berakhir dalam suatu keadaan setimbang/harmoni, pada kenyataannya selain Enûma Eliš ataupun Enūma Anu Enlil (catatan astronomis yang berupa pertanda-pertanda langit), peradaban kuno Mesopotamia sendiri tidak sepenuhnya lepas dari perhitungan-perhitungan rigor yang berkembang pada zaman itu. Kronologi perkembangan astrologi Babilonia menunjukkan perhitungan letak benda-benda langit; bintang (bahkan mengukur bujur dan lintangnya), bulan, dan planet-planet; dan perhitungan kalender. 

Astrologi Babilonia terbagi berdasarkan penelusuran astronomis yang dilakukan masing-masing kekaisaran. Kronologi yang ditemukan oleh para ahli peradaban Mesopotamia (umumnya menyebut diri mereka sebagai Assyriolog) menjelaskan dari Dinasti Pertama di Babilonia (berdasarkan penanggalan Ammi-saduqa I = sejak tahun 3700 SM), Dinasti Kedua di Isin, Percampuran Dinasti (Nabu-nasir, Sargon—Dinasti Akkadia, hingga Kandalanu), Dinasti Kasdim, Dinasti Asiria, Dinasti Akhemeniyah (Persia lama), Dinasti Makedonia, Dinasti Seleukia (Yunani-Makedonia), hingga Dinasti Arsakid (Armenia). Penelusuran atas peninggalan astronomis tersebut umumnya dilakukan melalui dekodefikasi atas tinggalan berupa kuneiform.

Astrologi Mesopotamia ini sendiri memiliki peran penting untuk perkembangan agama dan budaya. Di antara para Assyriolog, terdapat perdebatan mengenai agama resmi Mesopotamia. Seorang ahli, Hugo Winckler, menegaskan bahwa sistem religius dan budaya Babilonia sepanjang sejarah peradaban Asia Barat Daya Kuno (ancient near east) mendapatkan karakteristiknya dari pengamatan yang tekun atas fenomena langit. Leo A. Oppenheim di tahun 1964 adalah ahli yang menolak untuk mengklasifikasikan agama peradaban Mesopotamia secara tunggal. Menurutnya, dengan adanya lebih dari 2.100 dewa yang disembah, dan juga kurun waktu yang berbeda untuk keberadaan dinasti-dinasti di Mesopotamia, maka agama yang dianut oleh masyarakat tidak mungkin tunggal. Jean Bottero, sebaliknya, melalui Religion in Ancient Mesopotamia menolak pendapat Oppenheim tersebut. Menurutnya, tidak perlu ada kategorisasi “agama resmi”, “agama privat”, ataupun “agama bagi kaum terpelajar”—apakah suatu klasifikasi dilakukan berdasar wilayah, Ebla Mari, Asiria, ataukah dilakukan berdasar periode waktu, Kekaisaran Seleukia (Seleucid), Kekaisaran Akhemeniyah (Achaemenid),  periode Kasdim (Chaldean) dalam Kekaisaran Babilonia Baru, Kekaisaran Asiria Baru (Neo-Assyrian), ataukah periode Bangsa Kassite, Babilonia Kuno, Sumeria Baru, ataukah Periode Akkadia Kuno—karena bagi Bottero, tidak terdapat perbedaan signifikan dari agama-agama mereka selain fakta bahwa pewarisan kekuasaan dalam dinasti-dinasti tersebut mewariskan juga sistem religius yang sama. Bagi Bottero, memisah-misahkan agama di Mesopotamia adalah upaya yang sia-sia belaka.[2]

Seperti dinyatakan di atas, terkait betapa pentingnya astrologi dalam sistem agama dan budaya di Mesopotamia, Winckler hadir dengan pendapatnya yang kemudian menegaskan bahwa klasifikasi agama dapat dirujuk melalui adanya pengamatan astrologis yang dilakukan secara ekstensif di Mesopotamia. Pandangan ini dikenal sebagai pandangan Panbabilonisme (Panbabylonism), yakni anggapan bahwa budaya dan agama peradaban Asia Barat Daya kuno berakar dari mitologi Babilonia yang dapat dirunut dari pengamatan astronomi Babilonia kuno. Selain Hugo Winckler, Friedrich Delitzsch, Peter Jensen, dan Alfred Jeremias merupakan figur terkemuka dari pandangan Panbabilonisme ini.[3]

Ini menunjukkan pengaruh penting ilmu perbintangan pada pemaknaan akan kehadiran manusia di tengah semesta yang saat itu mula-mula belum benar-benar dipahami di peradaban Mesopotamia. Bahwa sejatinya peradaban Mesopotamia telah pula memiliki pandangan sains yang tidak bisa dipandang remeh. Agaknya mesti dibayangkan bahwa diperlukan sejarah teramat panjang untuk menciptakan suatu hukum bahasa yang kemudian memungkinkan kuneiform dituliskan dan diwariskan hingga hari ini, juga simbol matematika hingga perhitungan matematis yang ketat mengenai jarak bintang-bintang di langit. Tujuan artikel ini adalah untuk memaparkan jejak-jejak astrologis dan astronomis peradaban kuno Sumeria tersebut. Selanjutnya, penulis akan menghadirkan refleksi atas semua paparan itu dikaitkan dengan perkembangan teori tentang alam semesta di masa kontemporer ini.

Astrologi Babilonia dan Pertanda (Omens)

Orang-orang di peradaban Mesopotamia percaya bahwa Tuhan akan mengabarkan tentang peristiwa-peristiwa di masa depan kepada umat manusia. Oleh karena itu, mereka mempercayai beragam cara pertanda itu disampaikan: jejak yang tertinggal pada hewan kurban dalam suatu upacara persembahan, bentukan minyak yang dituangkan ke air, pertanda dalam kejadian sehari-hari, ataupun melalui fenomena langit (atmosferis maupun astronomis).[4] Pertanda dalam fenomena langit ini menyangkut raja, dinasti, ataupun politik sehari-hari. Gerhana bulan adalah salah satu pertanda bahaya, oleh karenanya terdapat ritual pada hari tersebut untuk menghapuskan marabahaya. Hal ini tertulis dalam tablet periode Kekaisaran Seleukia dari Uruk, di mana sebuah drum perak dipergunakan dalam ritual tersebut.[5] Peramalan adalah kegiatan intelektual penting di Mesopotamia, metode yang biasanya digunakan adalah “Bila x (diobservasi), maka y (konsekuensi)”, observasi dilakukan dengan mengandalkan pada pengamatan atas fenomena atmosferis ataupun astronomis.[6]

Tahun 2000 SM: Periode Babilonia Kuno, Babilonia Pertengahan, dan Akkadia Pertengahan
Sebagian besar peninggalan pada periode Babilonia Kuno berfokus pada gerhana bulan, seperti ditemukan dalam empat tablet yang membahas hal ini. Keempat tablet ini adalah prototipe bagi kelanjutan teks yang dikumpulkan dalam Enūma Anu Enlil. Temuan ini juga ditemukan di luar wilayah Babilonia, yakni di Mari, Emar, Ugarit, dan Alalah. Sebuah temuan di barat Mesopotamia, yakni di Hattušsa justru menemukan pertanda berkaitan dengan gerhana matahari,[7] dan sebuah temuan lain di Nuzi menunjukkan pertanda berkaitan dengan gempa bumi.[8] Dari Mesopotamia sendiri, hanya sedikit tablet yang memuat tentang kaitan antara pertanda dan amatan akan fenomena langit, hanya terdapat lima temuan. Dua tablet berasal dari peninggalan masa transisi Babilonia Kuno ke Babilonia Baru, tiga lainnya hadir berdekatan dengan perumusan Enūma Anu Enlil.

Tahun 1500 SM: Enūma Anu Enlil, Teks Non-kanonik, dan Panduan Peramalan
Teks pada periode ini menyangkut peninggalan tablet Dinasti Asiria Baru. Pada awal 1500 SM, pertanda tentang langit dikumpulkan dalam tablet bernama Enūma Anu Enlil, kemungkinan dikumpulkan pada periode Kassite (1595-1157 SM), meski sebagian prototipe berasal dari masa yang lebih tua lagi pada periode Babilonia kuno (1950-1595 SM). Kontennya adalah tentang peredaran bulan, fenomena terkait matahari, musim, dan gerakan bintang dan planet. Tiga belas tablet menjelaskan tentang bulan dan variasi penampakannya pada hari-hari tertentu. Tablet ke-15 hingga ke-22 berisi tulisan tentang gerhana bulan, tanggal kemunculannya, dan ramalan wilayah kemunculannya. Tablet ke-23 hingga ke-29 berisi penampakan matahari, warna, tanda-tandanya, dan kaitannya dengan langit. Gerhana matahari dibahas dalam tablet ke-30 hingga ke-39. Tablet ke-40 hingga ke-49 berisi tentang fenomena alam berupa cuaca dan gempa bumi, dengan perhatian khusus pada kemunculan halilintar. Dua puluh tablet terakhir berisi tulisan tentang bintang dan planet.[9]

Tahun 500 SM: Proto-horoskop dan Hypsomata
Pada paruh akhir 500 SM, horoskop bermula di Babilonia. Rochberg-Halton (1989) memberikan informasi tentang 32 horoskop yang dipergunakan sejauh ini. Dalam soal hypsomata, istilah Babilonia asar nisirti or bit nisirti secara harfiah bermakna “tempat rahasia” muncul beberapa kali untuk menjelaskan posisi planet-planet. Kemunculan pertama pada teks Esarhaddon dari Asiria, yang menjelaskan bahwa Jupiter menyentuh asar nisirti pada bulan Pet-babi. Pada saat itu, letak Jupiter adalah di antara rasi bintang Cancer dan Leo, yang berarti Jupiter ada pada 91 bujur derajat. Dalam artian ini, dikatakan bahwa penggambaran ini menunjukkan planet-planet pada hypsomata-nya.


Astronomi Babilonia

Periode Awal: Astronomi dalam Enuma Anu Enlil
Periode astronomis ini berkaitan pula dengan tablet ke-63 dari Enuma Anu Enlil, yang menggambarkan posisi Venus.[10] Tablet ini menunjukkan letak planet pada bulan tertentu, seperti tablet-tablet lainnya yang diamati. Periode ini secara terperinci menghasilkan temuan-temuan terkait Astrolab, Teks “Tiap Tiga Bintang”, MUL.APIN, I.NAM.GIŠ.HUR.AN.KI.A, Teks Bintang Ziqpu, Teks GU, Teks DAL.BA.AN.NA, hingga Teks Pengawasan-waktu. Terlalu rumit untuk membahasakannya kembali, tetapi paling tidak pada periode ini diketahui bagaimana cara membedakan antara planet dan bintang dalam penjelasan MUL.APIN sebagai planet yang merupakan “benda yang terus mengubah posisinya dan bercahaya menyentuh bintang-bintang di langit”, dikatakan lebih lanjut bahwa adanya lima planet di langit sebagai “enam dewa yang memiliki posisi sama”.[11] Sementara teks dalam tablet I.NAM.GIŠ.HUR.AN.KI.A mencakup posisi bulan dan spekulasi pengaruh bulan atas hari-hari di bumi,[12] teks DAL.BA.AN.NA menjelaskan situasi dari bintang-bintang,[13] dan teks pengawasan-waktu dalam prismagading berisi penjelasan kalender mengenai waktu yang diukur berdasarkan bēru dan UŠ merentang siang hingga malam pada kedua belas waktu musiman. Setiap representasi waktu harian nychdiemeron terdiri atas 24 jam; di sinilah pembagian waktu 12 jam siang dan 12 jam malam ditentukan.


Tahun 1000 SM: Observasi dan Prediksi Periode Sargonid
Para periode  ini ditemukan catatan harian astronomis dan almanak perbintangan. Surat dan laporan menyangkut pertanda langit dikabarkan oleh kaum terpelajar kota kepada raja Dinasti Asiria di Niniwe. Observasi tentang matahari dan bulan yang berada dalam posisi oposisi di pertengahan bulan adalah hal yang kerap dikabarkan dalam surat tersebut,[14] selanjutnya adalah prediksi tentang planet-planet dan konstelasinya.[15] Sementara itu, catatan harian astronomis merekam hasil observasi dan komputasi setiap periode dalam setengah tahun, rekaman tertua berasal dari 652 SM, tapi di Babilonia disinyalir telah dikembangkan sejak era Nabû-nâçir pada 746 SM. Ada dugaan bahwa tujuan kompilasi catatan harian ini bukan lagi untuk melakukan pembacaan pertanda, tetapi sudah lebih ditujukan pada interpretasi untuk keperluan pengembangan ilmu astronomi.[16]

Periode Teks Teoretis : Siklus “Saros”, Siklus 19-Tahunan, Teks Proto-prosedural
Peradaban Mesopotamia mengembangkan beberapa jenis siklus, di antaranya adalah siklus Saros (terkenal lantaran Edmund Halley menerapkan nama ini untuk siklus gerhana pada 1691) yang diberikan dengan perumusan sebagai berikut: satu siklus terjadi dalam 223 bulan sinode = 242 bulan drakonitik = 239 bulan anomali = 241 bulan sidereal = 18 tahun. Dalam tahun solar, diberikan perhitungan yang lebih akurat, yakni 18 tahun lebih 10,40 hari. Sementara itu, Siklus-19 Tahunan terkenal dari sumber-sumber Yunani di Atena oleh seorang astronom Meton, perhitungan ini dipergunakan juga dalam kalender Yahudi, menerangkan bahwa satu siklus 19-tahunan = 235 bulan sinodik. Pada periode ini, perhitungan noda-noda planet dan bintang dihitung dengan ketepatan letak lintang dan bujurnya yang menunjukkan kehadiran suatu teks proto-prosedural dalam meneliti benda-benda langit.

Kosmologi Babilonia

Ini adalah bagian paling menarik dari suatu peradaban kuno: bagaimana mereka menciptakan cerita untuk memberikan makna kehadiran mereka di dunia. Peradaban Mesopotamia kuno lewat Enûma Eliš menjelaskan tegangan dari realitas purba (Apsû yang merepresentasikan air tawar dan Tiamat yang merepresentasikan samudera), diciptakan tujuh dewa di antaranya Ea dan saudara-saudaranya yang mengganggu Tiamat dan  Apsû. Dari persoalan itu, terjadi pertentangan yang amat serius, dengan Ea membunuh Apsû, Ea menjadi dewa tertinggi, menikahi Damkina, dan memiliki putra bernama Marduk. Lantas, terjadi pembalasan dendam dari Tiamat yang kemudian menciptakan sebelas monster. Namun, Marduk memiliki strategi untuk melemahkan serangan dengan mengajukan penawaran kepada para monster. Tiamat menantang Marduk, dan Marduk lantas membelah tubuh Tiamat menjadi dua, dari sana tercipta langit dan bumi. Marduk lantas menciptakan kalender, mengatur peredaran planet dan bintang, dan bulan, matahari, juga cuaca.[17]

Selain peninggalan kuneiform yang menghadirkan kosmologi Enûma Eliš, peradaban Mesopotamia juga memiliki peninggalan berupa Enūma Anu Enlil yang memberi penjelasan tentang fenomena langit, dikaitkan dengan gerak semesta terkait dengan keberuntungan atau marabahaya yang barangkali dihadapi oleh dinasti-dinasti di peradaban Mesopotamia kuno. Dalam perkembangannya pada kurun lebih dari seribu tahun, pengamatan sederhana sekadar melalui melihat titik-titik kecil di langit berkembang menjadi perhitungan yang semakin serius. Meski mulanya amatan atas fenomena langit tersebut digunakan sebagai cara untuk meramalkan sesuatu (sebagai pertanda—omen), dan kemudian sebagai suatu proto-horoskop, lantas lewat astrolab terdapat perkembangan dalam melihat letak-letak benda langit, perhitungan-perhitungan yang kian serius tersebut mengarah pada dan memberikan pendasaran astronomis yang dapat dikatakan serius.

Lantaran keterbatasan waktu dan sumber, penulis hanya mengajukan pertanyaan hipotetis: mengandaikan bahwa semua penemuan astrologi dan astronomi—dengan kalkulasinya yang amat rigid—tersebut bisa jadi terwariskan pada peradaban-peradaban lain, atau memberikan pengaruh pada peradaban lain yang berkembang setelah masa dinasti-dinasti Mesopotamia kuno. Dengan demikian, penulis memandang suatu warisan yang amat kaya telah disumbangkan oleh peradaban Mesopotamia kuno pada perkembangan astronomi—yang kemudian memungkinkan manusia memperhitungkan banyak hal lainnya, termasuk menjelajahi keberadaan planet dan bintang-bintang dalam semesta, untuk dapat membayangkan posisi manusia di semesta.

Dari ajuan hipotetis tersebut, penulis menolak memandang peralihan narasi mitis ke sains sebagai peralihan cara pikir tidak rasional ke cara pikir rasional. Kembali jauh ke periode Mesopotamia kuno, kendati masyarakat dalam peradaban itu pada mulanya menggunakan pengamatannya atas fenomena langit untuk tujuan yang agaknya terhitung mitis (meramalkan marabahaya melalui omen ataupun menerapkan penggunaan horoskop), mereka telah menerapkan perhitungan matematis yang rigid. Kehadiran dewa-dewi ataupun adanya tujuh tingkat semesta adalah irasional, tetapi itu bila dikaji melalui semata-mata penalaran empiris. Pada kenyataannya, justru dengan pemahaman mitis itu, mereka memiliki kebijaksanaan untuk menjaga Bumi. Lebih tepat untuk mengatakan bahwa peradaban Mesopotamia kuno menerapkan cara pikir (rasionalitas tersendiri) yang berbeda dengan cara pikir peradaban kontemporer setelah zaman pencerahan—dan bukan berarti mereka tidak rasional. 


Kepustakaan

Bottero, Jean. (2001). Religion in Ancient Mesopotamia. Chicago: University of Chicago Press.
Foster, Benjamin R.  (1995). From Distant Days: Myths, Tales, and Poetry of Ancient Mesopotamia. vi. Bethesda. Maryland: CDL Press.
_________________. (2005). Before the Muses: An Anthology of Akkadian Literature Maryland: CDL Press.
Gold, Daniel. (2003). Aesthetics and Analysis in Writing on Religion: Modern Fascinations. California: University of California Press.
Hunger, Hermann dan David Pingree. (1999). Astral Sciences in Mesopotamia: Handbook of Oriental Studies. Leiden: Koninklijke Brill.
Jacobsen, T. (1976). The Treasures of Darkness : A History of Mesopotamian Religion. New Haven: Yale University Press.  
Scherer, Frank F. (2015). The Freudian Orient: Early Psychoanalysis, Anti-Semitic Challenge, and the Vicissitudes of Orientalist Discourse. Maryland: Kanarc Books.
Smith, George. (1876). The Chaldean Account of Genesis. (London, 1876) dalam  http://www.sacred-texts.com/ane/caog/index.htm.
Swerdlow, N. M. (2014). The Babylonian Theory of the Planets. (New Jersey: Princeton University Press.




[1]Lih. George Smith, "The Chaldean Account of Genesis" (London, 1876), http://www.sacred-texts.com/ane/caog/index.htm.
[2] Lih. Jean Bottero. Religion in Ancient Mesopotamia (Chicago, 2001).
[3] Lih. Gold, Daniel. Aesthetics and Analysis in Writing on Religion: Modern Fascinations. (California, 2003), hlm. 149-158 dan Scherer, Frank F. The Freudian Orient: Early Psychoanalysis, Anti-Semitic Challenge, and the Vicissitudes of Orientalist Discourse (London, 2015), hlm. 18.
[4] Lih. Hermann Hunger dan David Pingree. Astral Sciences in Mesopotamia: Handbook of Oriental Studies (Leiden, 1999), hlm. 5.
[5] Ibid, hlm. 6.
[6] Lih. Benjamin R. Foster. Before the Muses: An Anthology of Akkadian Literature (Maryland, 2005), hlm. 36.
[7] Lih. Hermann Hunger dan David Pingree. Astral Sciences in Mesopotamia: Handbook of Oriental Studies (Leiden, 1999), h. 9.
[8] Ibid, h. 11.
[9] Lih. N. M. Swerdlow, The Babylonian Theory of the Planets (New Jersey, 2014), hlm. 45 dan Hermann Hunger dan David Pingree. Astral Sciences in Mesopotamia: Handbook of Oriental Studies (Leiden, 1999), hlm. 12-26.
[10] Lih. Hermann Hunger dan David Pingree. Astral Sciences in Mesopotamia: Handbook of Oriental Studies (Leiden, 1999), h. 32.
[11] Ibid, h. 73.
[12] Ibid, h. 84.
[13] Ibid, h. 101.
[14] Ibid, h. 116-122.
[15] Ibid, h. 123-138.
[16] Ibid, h.139.
[17] Lih. Foster, B.R. From Distant Days : Myths, Tales, and Poetry of Ancient Mesopotamia (Maryland, 1995), hlm. 438 dan Jacobsen, T. The Treasures of Darkness : A History of Mesopotamian Religion. (New Haven, 1976). hlm. 273.

No comments:

Post a Comment

Tulisan Terdahulu