2013/07/09

Giveaway dan Kontes Review Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya




Untuk merayakan sebulan peluncuran novel Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya—dan karena terinspirasi giveaway dan kontes review yang dilakukan seorang teman saya, Tia Widiana—saya ingin bagi-bagi kebahagiaan dengan memberi hadiah kepada pembaca #SPTJKYJTC. Untuk seru-seruan juga, ada giveaway bagi yang pengin baca #SPTJKYJTC tapi belum punya novelnya.

1. Kontes Resensi/Review Novel #SPTJKYJTC
Periode Kontes Resensi/Review Novel: 6 Juni – 13 Agustus 2013
Ketentuan:
a. Tulisan diunggah di  kolom Goodreads, Blog/Web Pribadi, atau Note Facebook.
b. Memuat:
Judul: Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2013
ISBN13: 9789792296402
Harga: Rp 45.000
c. Share tautan lewat media sosialmu;
Twitter: mention tautan ke @Gramedia dengan tagar #SPTJKYJTC #ResensiPilihan
Facebook: tag Dewi Kharisma Michellia dalam note Facebook.
Kalau menang #ResensiPilihan, hadiahnya bisa bertambah, ada buku terbitan GPU yang bisa kamu pilih sendiri.
d. Jangan lupa daftarkan resensi kamu ke surel saya, dewikharismamichellia@gmail.com, dengan format:
Subject: Review "SPTJKYJTC" - [Namamu]
Badan e-mail berisi:
Nama:
Akun Twitter/Facebook:
E-mail:
Tautan resensi:

Hadiah:
Ada tiga pemenang yang akan mendapatkan:
1. Satu eksemplar novel IQ84 oleh Haruki Murakami (bersegel, in single volume [I, II, III] paperback bahasa Inggris, diterbitkan Vintage International, 1184 halaman) + Satu kaus spesial #SPTJKYJTC  + Sepaket stiker kuotasi pilihan #SPTJKYJTC + Sekotak teh earl grey

2. Satu eksemplar novel Jiwa-jiwa Mati oleh Nikolai Vasilievich Gogol (bersegel, diterbitkan Yayasan Obor Indonesia, 550 halaman) + Satu eksemplar kumcer Skenario Remang-remang oleh Jessica Huwae (bersegel, diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, 179 halaman) + Satu kaus spesial #SPTJKYJTC  + Sepaket stiker kuotasi pilihan #SPTJKYJTC + Sekotak teh earl grey

3. Satu eksemplar novel Steppenwolf oleh Herman Hesse (bersegel, diterbitkan Penerbit Baca, 305 halaman) + Satu eksemplar novel Life & Times of Michael K oleh J. M. Coetzee (bersegel, diterbitkan Jalasutra, 246 halaman) + Satu kaus spesial #SPTJKYJTC  + Sepaket stiker kuotasi pilihan #SPTJKYJTC + Sekotak teh earl grey

2. Twit dengan tagar #SPTJKYJTC
Periode Giveaway: 18 Juli – 13 Agustus 2013

Ketentuan:
Lakukan dua hal ini secara bersamaan:
a. Twit pertama berisi: Teman-teman, ada giveaway Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya di http://bit.ly/1aUKEUx. Ikutan yuk! @Gramedia 
b. Twit kedua tentang: Sebutkan satu judul buku/film/musik yang menjadi favoritmu dan mengapa kamu harus punya novel Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya? Dalam jawabanmu, mention @DewiMichellia & @Gramedia dengan tagar #SPTJKYJTC dalam periode 18 Juli  – 13 Agustus 2013.

Hadiah:
Ada tiga pemenang yang masing-masing akan mendapatkan: satu eksemplar novel #SPTJKYJTC bertanda tangan + pesan, sebungkus kopi + sepaket stiker kuotasi pilihan #SPTJKYJTC.

2012/12/17

Perigi Buta

SEKERAT bir hitam tersisa di lemari es. Johan menandaskan satu botol yang separuh terisi. Dalam satu tegukan itu, perutnya belum berhenti membunyikan tanda lapar.

Anaknya yang masih balita merangkak mendekat, menonton Johan menjilati kepala botol. Mata bulat dan bibir bocah itu sedikit terbuka, tangannya menggapai-gapai kursi. Johan melempar botol ke arahnya karena kesal. Pecahannya seketika tersebar di lantai. Bocah itu lantas menjeritkan nama ibunya yang sedang sekarat di kamar. Jeritannya berbalaskan lagu keroncong dengan volume maksimal yang diputar Johan. Berjam-jam kemudian, gesekan biola dari lagu-lagu itu berhasil menidurkannya.

Menjelang pagi, Johan membelai rambut istrinya dan membisiki agar dia bangun. Linda terlentang di kasur dan menggenggam rosario. Wajahnya pucat dan bibirnya membiru. Telah berhari-hari Linda tak makan. Kalau bukan karena sifilis, perempuan itu akan mati karena kelaparan.

Pagi itu Johan menyuapi Linda lumatan sosis dan roti sisa yang ia pungut dari keranjang sampah tetangga. Saat suapan terakhir habis, Johan berusaha mengingat tanggal. Seketika, ia tiba-tiba berlari ke arah mantelnya yang tergantung di ruang tengah, lalu merogoh saku dan mengeluarkan beberapa keping koin. Johan tahu sisa koin itu tak akan cukup untuk menunggu Linda sembuh dari kelumpuhan. Ia harus kembali bekerja.

Lima tahun lalu ia memutuskan berhenti bekerja demi menunggu kesembuhan istrinya itu. Berhari-hari ia diselimuti rasa cemas tak berkesudahan. Sekian pengandaian ia ajukan kepada dirinya. Sampai akhirnya, ia kontrakkan rumah dan dijualnya koleksi buku dan keping filmnya yang menggudang demi membiayai pengobatan Linda. Beberapa bulan berikutnya, Linda siuman dari koma setelah mereka pindah ke dangau di belakang rumah. Hanya saja, pangkal paha hingga mata kakinya lumpuh.

Sebulan terakhir Johan tak lagi mencucikan baju hangat istrinya. Ia pun tak ingat untuk menyobeki kalender China di dinding dapur. Lembar terakhir berhenti pada angka ganjil hijau. Tanggal pernikahan mereka yang sudah tak terayakan sejak Linda sakit.


EMBUSAN napas Johan menjelma asap di udara. Digunakannya koin-koinnya untuk menelepon kawan lamanya lewat telepon umum.

“Kira-kira, apa ada pekerjaan untukku?”

Koin pertama untuk penjelasan berbelit kawannya.

“Yang tiga hari kerja dalam seminggu, dan gajinya cukup untuk biaya hidup, ada?”

Koin kedua untuk Johan menjelaskan keadaan keuangannya.

“Linda tak kunjung sembuh. Aku butuh uang untuk bertahan hidup. Tapi aku tetap harus menjaganya di rumah. Pekerjaan yang ringan saja.”

Koin ketiga untuk memaki-maki.


SELALU ada orang-orang unik melewati jalan di depan rumah mereka. Pagi itu, seorang perempuan muda mendorong kereta bayi. Payudaranya penuh, gesturnya seperti Audrey Hepburn di Breakfast at Tiffany's. Johan membayangkan perempuan itu menjawab perkataan “Aku cinta kamu” dengan sebatas “Terima kasih”. Bayangan itu lenyap ketika melihat istrinya duduk di ruang tengah rumah. Saking laparnya, perempuan itu terlihat mengganyang kepala anak mereka di sana. [*]

Semacam bosan, lagu-lagu dari Banda Neira sudah buyar. Yogyakarta, 17 Desember 2012.

2012/10/18

Sebuah Rumah untuk Kesenian Rakyat



Awalnya tempat itu hanya diniatkan sebagai ruang mengisi waktu luang. Kini, beragam usaha dilakukan untuk membuatnya bertahan.

Menjelang malam dua gadis kembar berlatih mendalang di ruang tengah rumah. Seruni Wida Ningrum melantunkan suluk  memulai kisah pewayangan. Intonasi suaranya mantap mengalahkan gerimis hujan di pekarangan. Bersimpuh bersisian, Seruni Wati memperadukan wayang kancil di pegangannya. Tabuhan gamelan mengiringi latihan mendalang dalam bahasa Jawa itu.

Bagi Wida-Wati, begitu mereka biasa disapa, rutinitas harian itu adalah sarana untuk mewujudkan cita-cita menjadi pendalang. Bisa dibilang Wida-Wati adalah sepasang pendalang yang disiapkan dan digembleng sejak dini oleh para pelatih di Balai Budaya Minomartani. Tak ada biaya yang diperlukan dalam setiap kegiatan mereka. Roedi Hotmann-lah yang membawa ide tanpa pungutan biaya itu ke Balai Budaya Minomartani sejak berdirinya joglo pada 1990. Walhasil, para penggiat seni Balai Budaya Minomartani lainnya kerap mengadakan pelatihan gratis karawitan, wayang, tari, ketoprak, dan teater bagi warga Minomartani dan sekitarnya.

Sebagian besar warga Minomartani tidak menggeluti ranah seni secara profesional. Mereka berlatih seni untuk mengisi waktu senggang selepas kerja. Seperti pada malam yang sama, ibu kedua saudari kembar itu, Endang Purwanti, ikut berlatih ketoprak bersama tiga puluh pendengar setia Radio Balai Budaya Minomartani (Radio BBM). Ada pentas yang mereka persiapkan untuk ditampilkan tiga minggu berikutnya. Karakterisasi ketoprak disesuaikan dengan keseharian pendengar radio BBM sebagai wujud interaksi pendengar dan pegiat Radio BBM. “Kan, pendengar Radio BBM profesinya macam-macam, itu yang akan ditampilkan,” jelas Sukisno, Kepala Taman Budaya Yogyakarta yang juga bergiat di Balai Budaya Minomartani.

Pentas juga akan diudarakan secara langsung melalui Radio BBM 107,9 FM. Dengan itu, komunitas Minomartani dapat menikmati Ketoprak kendati sebatas melalui medium suara. “Kalau tidak ada radio, balai budaya tidak jalan, karena seringnya orang-orang monitoring dari radio. Sebaliknya, radio tidak jalan tanpa balai budaya karena income radio dari penyewaan gamelan,” ujar Eko Cahyo, teknisi Radio BBM.

Jauh pada tahun 1990-an, kebutuhan warga akan budaya hanya diwadahi oleh RRI dan TVRI. Lantaran seringnya delay dan kualitas rekaman yang kurang baik, warga berinisiatif membuat media sendiri. Sebelum ada radio, warga memperoleh berita seni dan budaya melalui Koran Selembar (Kobar). Koran ditulis tangan, diperbanyak, dan lantas dibagikan kepada masyarakat. Radio BBM adalah generasi kedua dan telah beroperasi sekitar 12 tahun. Mulanya, ada Radio Suket Teki sebagai radio perintis,yang berdiri lantaran keisengan Adi Nugroho, generasi pertama teknisi radio di Minomartani. Bersama warga yang hobi membikin pemancar radio FM, bilik kecil rumah di depan joglo Balai Budaya Minomartani dijadikannya tempat siaran.

Saat itu, Adi tak meniatkan radionya menjadi ikon Balai Budaya Minomartani. Meneruskan Kobar, program siaran Radio Suket Teki masih berfokus pada seni dan budaya berdaya jangkau hingga Kalasan dan Jetis. Siaran radio terdengar belum terlalu jernih karena masih menggunakan radio rakitan sendiri. Namun, ketangguhannya beroperasi dapat ditandingkan dengan usaha radio-radio swasta pada awal tahun 2000-an. “Pada tahun-tahun itu, Radio Suket Teki sempat dijuluki mbah-nya radio komunitas,” jelas Eko.

2012/07/31

Perihal Angle of Vision dan Sejarah Tokoh Kosmopolitan

Wawancara dengan Andi Achdian untuk Balairungpress.com


Jumat (27/7), sejak pukul 09.00 hingga 18.00 Komunitas Etnohistori mengadakan rangkaian acara kuliah umum, peluncuran perdana Jurnal Etnohistori, diskusi buku The Will to Improve oleh Prof. Dr. Tania M. Li. dan buku The Angle of Vision oleh Andi Achdian, serta program buka bersama. Di Auditorium Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, pengurus redaksi Majalah Loka mengisi acara terakhir, diskusi buku The Angle of Vision. Diskusi buku ini mendatangkan juga Hatib Abdul Kadir M. A., dosen Jurusan Antropologi Universitas Brawijaya, dan M. Nazir, M. A., pengajar di Sekolah Tinggi Pertahanan Nasional, sebagai panelis.

Buku The Angle of Vision yang diterbitkan LOKA Publishing pada Juni 2012 ini membawa tagline “Mereka yang Tidak Menyerah pada Sejarah”. Melalui bukunya, Andi mengajak pembaca mengenal delapan tokoh yang dekat di hatinya; (diurutkan berdasarkan Daftar Isi) Kartini, Sukarno, Soedjatmoko, Gunawan Wiradi, Onghokham, Imam Muhaji, Bre Redana, dan Linda Christanty.

 
Hatib berpendapat kumpulan tulisan Andi menggunakan penulisan etnografi kontemporer. Jelasnya, penulisan etnografi tradisional masih menggunakan sudut pandang pertama, terwujud dalam penggunaan kata ganti mendaku (saya, aku, dst.), sementara etnografi kontemporer telah lepas dari penggunaan kata ganti orang pertama. “Ini terjadi karena seringkali etnografer pada masa ini takut bila dimintai pertanggungjawaban,” ungkapnya.

Sementara itu, Nazir menganggap buku Andi ini sebagai suatu milestone yang baik bagi penulisan sejarah kontemporer; terutama dengan menampilkan profil tokoh-tokoh dengan ragam potensi. Menurutnya, cukup lama penulisan sejarah Indonesia hanya terpaku pada masa lalu.

Hatib menyebutnya sebagai sejarah kosmopolitan. Ia menarik benang merah dari delapan tokoh yang dihadirkan Andi dalam bukunya ini. Tokoh-tokoh yang dihadirkan adalah tokoh-tokoh yang membuka diri kepada dunia global, juga gemar berinteraksi dengan dunia membaca dan menulis. Beberapa dari mereka bahkan telah membaca karya-karya adiluhung sejak usia muda. Meskipun, bagi Hatib, pemaparan dalam buku masih kurang dalam.

Yang menarik, Hatib melihat, penulisan profil Linda nampak sangat intim. Andi, dalam diskusi, mengakui kedekatannya dengan Linda. Baginya, intensitas wawancaranya dengan Linda yang berkali-kalilah yang menimbulkan kesan itu. Andi lantas juga memaparkan tokoh-tokoh lainnya dengan beragam profesinya. “Ada yang menjadi penulis, dramawan, tokoh politik. Delapan orang ini dapat menjadi contoh terbaik menyangkut profesi yang digelutinya. Buku ini bisa menjadi referensi bila generasi muda kita ingin belajar caranya menjadi penulis, atau dramawan yang baik, misalnya,” jelasnya.

Tidak berhenti hanya di diskusi buku, Balairungpress.com mendapatkan kesempatan wawancara khusus dengan Andi Achdian di akhir acara.

Bagaimana tanggapan Andi tentang pernyataan Hatib; ia bilang, buku ini bisa menjadi referensi untuk bahasan kosmopolitanisme?

 
Kira-kira memang betul. Indonesia dibentuk oleh tokoh-tokoh penting yang pada saat mudanya berkenalan dengan dunia luar yang lebih luas; baik keseharian maupun kesempatan belajar. Rumusan-rumusan tentang Indonesia dibuat oleh pemikiran yang sangat modern, mondial. Mereka tidak hanya berkutat dengan sebuah negeri kecil, mereka dapat bicara tentang sesuatu yang besar. Jadi ada perbandingan yang mereka lakukan, mereka tidak terkurung. Mereka menunjukkan bahwa kita adalah bagian dari dunia, bukan orang yang tertutup.

Lalu kenapa hanya delapan tokoh ini? Tadi di dalam (auditorium FIB—red.), Andi memaparkan delapan orang ini dapat menjadi representasi yang baik untuk profesi-profesi intelektual, penulis, tokoh politik, dan sebagainya. Kenapa hanya delapan profesi?

 
Keterbatasan memberitakan banyak hal. Jadi saya ambil yang paling saya kenal. Paling tidak ada benang merah, bahwa masing-masing dari mereka punya driveangle of vision, untuk terus berkembang. Mereka semua berhasil melakukan hal yang orang-orang pada umunya lihat sebagai mustahil.

Apa bisa diceritakan satu per satu?

 
Tadi saya sudah paparkan tiga orang di dalam (Soekarno, Kartini, dan Linda—red.).

Soedjatmoko, waktu kuliah saya sangat terkesan dengan tulisannya. Walaupun tidak ada kerangka teoretis yang dikemukakan dalam tulisannya, ia orang yang merepresentasikan Indonesia yang begitu besar. Ia menjadi rektor pertama Universitas PBB di Tokyo, ia menjadi bagian dari dunia yang besar, ia menjadi bagian global.

Gunawan Wiradi, orang yang pantang menyerah, punya banyak masalah tentu, tapi ia aktif menjadi generasi yang mencoba membuat definisi baru tentang Indonesia. Terlihat dari karakternya; baginya, masalah gagal, itu lain soal.

Imam Muhaji, terlihat seperti orang biasa, ia aktivis politik, meski tingkat kampung, tapi punya sikap yang gigih, ia juga bisa realistis, punya kreativitas. Kalau keadaan menekan; kan, kita selalu bertanya, kita bisa bagaimana? Nah, Imam bisa menjawabnya. Kita butuh orang-orang yang bisa menjawab itu.

Bre Redana, ia memberikan makna baru terhadap sejarah ’65. (Ingatannya tentang sejarah ’65 muncul dalam novel semiotobiografinya yang berjudul Blues Merbabu dengan nama pena Gitanyali. Ia tidak menulis tentang kekejaman yang terjadi pada 1965, kendati ia berasal dari Merbabu, Salatiga di mana kekejaman tentang kejadian itu barangkali telah didengarnya dari banyak versi—red.)

Onghokham, dia guru saya, secara pribadi. Ia intelektual yang bisa bicara besar tentang sejarah, ia membicarakan lebih dari kapasitasnya, lebih dari sekadar sejarah, ia intelektual publik yang mewakili hasrat masyarakatkita tentang demokrasi. Saya pernah belajar di rumahnya.

Empat orang dalam daftar isi bagian awal, Kartini, Sukarno, Soedjatmoko, Gunawan Wiradi, saya belum pernah ketemu. Empat orang dalam daftar isi bagian bawah, Onghokham, Imam Muhaji, Bre Redana, dan Linda Christanty, saya pernah.

Kalau mengenai penulisan, profil yang kali pertama ditulis?

 
Saya mulai sejak Juni tahun lalu, saya menulis tentang Linda, waktu ada acara diskusi. Panjang tulisan setiap tahun berbeda, ketika itu saya belum menemukan kunci yang bisa menyatukannya. Baru bisa ketemu belakangan setelah dimuat di Majalah Loka (via daring melalui http://lokamajalah.com—red.). Yang paling puas, mungkin ketika menulis Kartini—saya banyak bermain dengan metafor, menggunakan lika-liku detail yang naratif sifatnya.

Dan dari delapan ini, kenapa perempuannya hanya dua? Kenapa tidak komposisi empat-empat?

 
Karena pilihan subjektif, yang paling menonjol ya saya lihat dua itu, ha ha ha.

Tapi apa ada tokoh lain yang potensial, utamanya wanita, namun tak dieksplor?

 
Dolorosa Sinaga, ia perupa, saya berniat menulis tentangnya. Waktunya tak terkejar, dan belum mendalam. Selebihnya, bagi saya, baru dua itu yang istimewa, Linda dan Kartini.

Ada hambatan dalam pengerjaan?

 
Teknis saja, mencetak dan menulis dua hal yang berlainan. Kendalanya, sebatas rasa malas saja, mungkin.

Terakhir, apa yang melatarbelakangi buku ini?

 
Ada juga inspirasi awal, ada orang yang saya tak kenal, tapi dia tahu saya. Dia menghubungi lewat YM (aplikasi Yahoo! Messenger—red.), kami bicara, dari pernyataannya: Kok susah ya ketemu tokoh yang menarik di Indonesia. Kita tidak punya seseorang yang “wah”. Harusnya ada. Bermula dari pembicaraan itu, saya ingin menulis suatu sejarah yang bukan sekadartextbook yang berlaku untuk kalangan akademis. Orang biasa, anak SMA, dan orang-orang yang tidak berhubungan dengan sejarah bisa suka dengan buku ini. Supaya anak-anak Indonesia suka sejarah.

2012/06/25

Tikungan

Sepuluh atau dua puluh tahun dari sekarang, semua kawan kita—bahkan mereka yang kini mengaku paling kesepian sekalipun—sudah akan menikah. Kawan gay, kawan lesbi, semua kawan kita tak terkecuali. Mereka akan bekerja di perkantoran, membangun usaha mereka sendiri, ataupun menganggur dan tetap bersuka cita dengan hal-hal kecil yang mereka lakukan. Atau menjadi gila karena dunia.

“Sudah selesai. Sudah beres. Sebentar aku pulang dan mengemasi semua barang.”

Tahun-tahun ke depan, kita semua akan mulai mewujudkan mimpi. Menang ataupun kalah bukan tujuan. Karena aku percaya, kau akan melanjutkan hidupmu bahkan ketika semua mimpimu tak berhasil kau wujudkan. Karena kita hanya merebut kembali apa yang sempat kita lepas. Kegembiraan anak kecil yang bercita-cita.

“Tidak, aku malas berfoto. Maksudku, aku mengiyakan untuk wisuda pun hanya agar kamu senang saja. Tapi ternyata kamu ada kerjaan lain. Mengecewakan.”

Pada saat apa pun, ayah-ibumu, adikmu, dan semua sahabatmu mungkin akan selalu menemanimu di sisimu. Seperti hari ini. Mereka dapat memelukmu, mengecup pipimu, memukul-mukul pundakmu, dan berbagi tawa denganmu. Menceritakan hal-hal lucu yang akan membuatmu terpingkal. Menaruh kesedihanmu di pundak mereka. Hari ini, kalian dapat segera berlarian, meloncat, dan kamera-kamera akan mengabadikan semuanya. Ataupun kau dapat melempar togamu ke angkasa. Biarkan mereka menangkapnya kembali untukmu.

“Tidak, hanya bercanda. Bukan masalah. Aku menikmati. Kalau tidak, aku pasti sudah  pulang dari tadi. Aku suka melihat suasana ini. Semua temanku bergembira.”

Selamanya aku hanya akan menjadi pemujamu. Tak akan selangkah pun mendekat. Tak akan memulai pembicaraan. Bila kelak kita bertemu lagi, kita hanya akan bertukar tatap. Membagi senyum sebagai kawan lama. Yang satu almamater, yang seringkali berjumpa di kesempatan-kesempatan tak terduga, dan tak pernah berkesempatan untuk saling mengenal.

“Aku tak menganggap perayaan semacam ini penting. Lagipula aku ada banyak pikiran sekarang. Kontrakan rumahku selesai bulan ini. Aku akan … pergi. Pindah ke suatu tempat. Atau mungkin hidup nomaden.”

Setelah hari ini, kau akan mencintai gadis lain. Menikahinya. Beranak. Membesarkan anak-anak kalian agar menyerupai kalian. Bertahun-tahun kemudian, mungkin aku akan jatuh cinta kepada anakmu.

“Bodoh. Sekalipun nomaden, aku tak ingin berkeliling dunia. Itu sudah terlalu mainstream.”

Jadi kita berpisah di tikungan ini. Aku tahu kau tidak akan menyadari perpisahan ini. Selamat tinggal untuk cinta empat tahunku kepadamu.

*

#25 Juni 2012

Tulisan Terdahulu