2009/04/21

Perpisahan



(Cerpen ini kemudian dimuat di Jakartabeat.net, 10 Mei 2014)


dunia dengan dua sisi Kau tatap Ia dari pikir-Mu / kadang nyata kadang maya mendua pada Satu / dan pada-Nya Kita bergenggaman / Kita berjalan berputar / pada Ia yang menyata Satu / pada bumi yang melingkar mentari / lihat perjalanan Kita kini / adakah Kita mengiyakan tiada / mengenggankan nyata / seperti halnya Ia menjadi bumi dan mentari / Ia menjadi tanah dan langit / menjadi Aku dan Kamu / nyatakah pada-Mu senyata pada-Ku / bahwa Kita Satu / bahwa Kita adalah Ia seperti Ia adalah Kita / seperti Aku adalah Kamu / nyatakah pada-Mu Kita adalah Satu bahkan pada maya / bahkan pada tiada / karena Kita: / menyatu Alam Semesta.


ARWAHNYA secara perlahan meniti langkah pada gelap dunia niskala1 yang dulu ketika hidup tak pernah dimengertinya. Sebagai arwah dalam wujud yang halus, dia tertabrak oleh segala benda; tidak ada orang yang meminta maaf ketika berlari melewatinya. Dia ditabrak segala, bahkan oleh gas yang berpencaran.
 
Semasa hidup dia tak pernah tahu di mana tempat hunian jiwanya bilamana dia mati. Kini dia juga tak tahu ke mana dia akan menuju bilamana arwahnya hidup abadi. Saat itu, bersamanya, banyak jiwa juga berjalan pada gelap, pada kesunyataan, pada ketiadaan pemahaman, pada gelombang paralel dunia. Namun, dia menyadari, mereka tak saling melihat. Mereka berjalan tanpa mata, tanpa alat indera, tanpa atribut pada jasad yang pernah mereka huni.
 
Dia tak ingat dia lepas dari tubuh siapa. Baginya, dia hilang dari sesuatu dan menjadi bagiannya sendiri. Dia hanya masih mengingat, dia dulu pernah memiliki tempat lain untuk tinggal. Mengisi bagian tubuh seseorang dan hidup di sana. 
 
Seperti halnya ekor cacing yang masih bergerak-gerak bahkan ketika kepalanya diputus, dia menjadi bagian pada jari telunjuk yang masih hidup ketika jantung orang itu berhenti. Namun, akhirnya dia lepas.
 
Pada kesadarannya—dia bertanya-tanya, di manakah sebenarnya letak jiwa? Diakah jiwa?


“IBU tak mungkin mati!” Seorang gadis berteriak di depan kamar rumah sakit. “Apa yang bisa aku lakukan tanpa ibu? Ibu jangan mati, hanya Ibu satu-satunya yang Alin punya!”
 
Orang-orang di rumah sakit itu mengelilinginya. Setiap orang pada setiap kamar keluar untuk menonton gadis itu menangis.
 
Kamar di hadapan si gadis telah telanjur kosong. Sebuah ranjang bersprei putih tanpa penghuni. Tak ada lagi tiang infus.


Alin terus menangis, menelungkupkan kepala di lutut. Orang-orang hanya dapat memberi simpati dengan menonton dan merasa iba. “Ibu janji untuk hidup selamanya. Kenapa Ibu pergi?” teriak Alin.
 
“Kakak, kenapa menangis?” Bocah yang biasa diajaknya bermain, hari itu mendekatinya. Ia satu-satunya yang bertanya.
 
“Ibunya baru saja meninggal. Ayo, jangan diganggu, ikut Papa ke dalam.” Ayahnya lantas menarik bocah tersebut. Ia sorotkan pada gadis itu tatapan mengasihani.
 
“Ibu …” ujar Alin sesenggukan.
 
Setelahnya, dia hanya mampu terdiam tanpa sepatah kata. Seolah ada bagian jiwanya yang lepas yang mencari jiwa ibunya yang telah meninggal.
 
Tanpa kesadaran penuh, dia lantas berjalan menyusuri lorong. Kekosongan dalam dirinya menuntun Alin. Dia menerobos kerumunan, berpapasan dengan orang-orang yang berjalan.
 
Setelah melewati lorong yang panjang, dia sampai ke sebuah tempat. Di mana orang-orang yang dia kenal telah berkumpul. Ada yang ribut dan menangis. Ada yang menenangkan yang menangis. Ketika melihat Alin hadir di sana, orang-orang itu hanya bisa menatap. Seolah-olah masih ada bekas jejak malaikat kematian menempel di seluruh tubuh Alin, orang-orang itu tak berusaha mendekat selangkah pun. 
 
Alin berusaha menghampiri kerumunan, semakin dekat, untuk dipeluk, atau sekadar ditenangkan. Untuk dipanggil jiwanya, agar dia berhenti mencari-cari jiwa ibunya yang baru saja mati.
 
“Memang sudah jalannya.”
 
Dia ingin loncat keluar dari mimpinya jikalau itu mimpi. Alin dipeluk, tetapi dia tak merasakan sebuah pelukan.
 
“Beliau meninggal sejam lalu.”
 
Satu jam yang lalu; tanpa menunggu dia hadir untuk mendengar kata-kata terakhir.
 
“Kenapa?”
 
“Kanker. Sebelum meninggal, beliau sesak napas…”
 
“Kenapa?” Dia masih bertanya.
 
Orang di depannya memeluk Alin semakin erat, meraih kepala gadis itu dan meletakkannya di bahu, “Alin masih punya kami di sini.”


SEGEROMBOLAN penjaga jenazah bermain kartu dengan ramai sorak-sorai, kerabat Alin sibuk menawarkan minuman dan makanan kepada yang singgah. Beberapa orang lagi masih dengan tekun membungkus peti jenazah dengan kain kasa sembari menempelkan hiasan-hiasan keemasan pada peti mati.
 
Alin tidur di sebelah jenazah yang terbungkus kain. Telah genap tiga hari dia membagi cerita di sana. Setiap siang, dia membawa makanan dan minuman yang pernah menjadi kesukaan ibunya; dia letakkan semua itu di sisi jenazah. Dupa panjang terus menyala. Ketika padam, dupa itu selalu akan diganti dengan yang lain, dan akan terus hidup sampai saatnya jenazah dikremasi.
 
“Alin, jangan tidur di sini. Bau formalin tak baik untuk kesehatan.”
Sudah dua hari dia tidur di sana. Hidungnya menjadi tidak peka lagi akan bau, acap dia mengusap mata lantaran rasa perih.
 
Keesokan hari, jenazah dimandikan. Tubuh yang telanjang. Terbayang oleh Alin, dahulu jenazah itu pernah hidup bersama Alin, pernah hadir di acara permandian jenazah orang lain. Jenazah itu juga pernah bilang, dia mungkin akan malu jika suatu saat tubuhnya dimandikan telanjang di depan umum.  
 
Menahan tangis, Alin ikut memandikan. Ritus yang panjang: termasuk akhirnya melapisi jenazah itu dengan belasan kain aneka warna hingga menutupi kemaluan jenazah dengan kain hitam. Selama itu orang-orang hanya menonton. Seolah-olah dalam skenario kehidupan Alin kala itu, hanya ada sedikit tokoh. Bahwa tidak ada lagi teman untuk beradu peran setelah ibunya berpulang.


SIANG itu, upacara Ngaben dilangsungkan. Jiwa jenazah ibunya telah berpindah pada sebuah simbol, pada wujud seorang wanita yang dipatungkan. Alin menyungsung wujud itu di kepala. Ibu-ibu lainnya membawa wujud-wujud bhatara dan bhatarisebagai simbolisme. Alin merasa kehilangan makna atas apa pun yang dia lakukan. Entahkah upacara itu diwujudkan sebagai simbol pengantar yang telah meninggal, entah hanya sebagai iring-iringan agar kelihatan indah.
 
Sebelum menuju tempat kremasi, Alin melakukan ritual khusus untuk memutus keterikatan dengan ibunya. Dia tak pernah diberi tahu apa yang akan terjadi setelah dia melakukan ritus itu. Bahwa kemudian dia akhirnya tahu dia melakukan ritus itu agar dia tak akan pernah dapat bersinggungan kembali dengan dunia niskala di mana kini ibunya tinggal. Ritual tersebut mewajibkannya melemparkan tali dan logam cina, serta beras kuning dan beras putih, kemudian diaduk dengan kunyit dan rempah-rempah, melemparkannya ke langit, membenturkan semua unsur itu ke telapak tangan, menjatuhkannya ke tanah. Ketika itu selesai, katanya, semua keterikatan antara Alin dengan ibunya telah musnah.
 
Alin lantas memimpin iring-iringan pada posisi paling depan, wadah jenazah diangkat. Orang-orang berjalan di belakang sambil memegangi kain putih panjang di atas kepala. Beberapa kerabat memotret dengan kamera. Turis-turis tak ketinggalan untuk pula mengabadikan momen tersebut dengan kamera-video.


DI tempat kremasi, wadah yang mengangkat jenazah ibunya diletakkan. Ketika jenazah dipindahkan, Alin disibukkan dengan panggilan orang-orang di sekitarnya.
 
Semua ritual khusus dilakukan oleh Pedanda. Jenazah dibaringkan ke dalam kotak yang terbuat dari pelapah pisang, selang gas melalui celah bawah pelapah. 
 
Tirta suci diguyurkan, orang-orang mulai melempar bunga, daun, beragam banten4, uang logam, dan kain kasa ke atas sang jasad. Alin hanya melempar sebuah buku gambar.
 
Di dalam buku gambar itu, ada gambar rumahnya. Di rumah itu, ada kenangan-kenangan, di mana ibunya pernah memuji gambar-gambarnya dan membantu Alin mewarnai. Alin diam-diam hanya bisa berharap supaya nanti di dunia niskala, ibunya akan tinggal di rumah-rumah yang dia gambar di buku gambarnya. 
 
Kalaupun ternyata dunia niskala tidak seperti bayangannya, dia berharap ibunya akan mendapatkan tempat yang layak.
 
“Hanya itu saja yang mau diberikan?” 
 
Alin mengangguk. Dia tidak mungkin membakar semua baju milik jenazah itu, seperti dia tidak mungkin ikut membakar televisi, mobil, rumah, ijazah-ijazah, dan lainnya. Apa yang dimiliki ketika hidup, tidak mungkin dibawa seluruhnya ke alam kematian.
 
Api dinyalakan dan mulai membakar. Alin berusaha membeku di dekat tempat pembakaran, tetapi dia terus ditarik untuk menjauh. Maka lantas dari kejauhan, dia melafalkan mantra, melagukan doa sekeras-kerasnya. Dalam tiap baris doa, api semakin berkobar. Hingga dalam waktu satu jam, yang tersisa hanya tinggal remah tulang dan tengkorak.  
 
Bahkan di saat ritual belum tertuntaskan, beberapa orang telah beranjak pulang. Sedikit orang masih membantu Alin mengumpulkan dan menyaring abu dan tulang, juga melakukan persembahyangan terakhir. Abu dan tulang-tulang lantas dipulangkan ke laut.


DI laut, dari mata Alin, semuanya hilang. Baginya, segalanya telah menyatu kembali dengan alam. Unsur-unsur pada tulang, unsur-unsur pada abu: semuanya menyatu dengan unsur-unsur pada air, unsur-unsur di udara. 

Di laut itu, orang yang dia cintai berubah wujud untuk selamanya. Pikir Alin, mungkin untuk berjuta atau bermiliar tahun ke depan, baru mereka akan bisa dipertemukan lagi dalam wujud manusia. Itu pun bila reinkarnasi memang benar ada. Mereka akan bertemu ketika unsur-unsur mereka yang telah menyatu dengan alam mengisi lagi perut seorang ibu yang hamil. Ketika kesadaran mereka, dengan kemungkinan kombinasi penciptaan yang tak terhingga, bertemu pada satu titik waktu.
 
Mungkin kelak tidak sebagai ibu-dan-anak. Mungkin kelak sebagai kekasih.
Atau, mungkin saja mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Karena pada kehidupan yang sedemikian sebentarnya, entahkah ada misteri besar yang dapat dipecahkan oleh kepala. [*]
 
2009/Desember 2011


Catatan Belakang:
1 Dunia tempat tinggal arwah, makhluk gaib.
2 Orang suci dari Kaum Brahmana yang bertugas dalam upacara-upacara keagamaan.
3 Air suci yang didapatkan setelah diasapi sembari memanjatkan doa.
4 Atau canang/banten, bunga-bunga atau jenis sajian lain yang ditaruh pada satu wadah persegi.

2009/04/07

Kompilasi Tiga Kehilangan


(I)
JADI ceritanya dia sama sekali tidak lapar. Seharian sejak dari rumah hingga dia memutuskan untuk pergi jalan-jalan di tengah hari, dia mengunci mulut untuk tidak bicara juga tidak makan apa pun.

Siangnya, hujan turun begitu lebat. Dia berjalan tanpa payung. Arus air yang menuju ke bawah berlawanan dengan langkahnya yang menanjak ke atas. Ditendangnya aliran air itu. Berkecipratan.

Ingin sekali dia berjalan dengan memejamkan mata atau merentangkan tangan seperti yang biasa dia imajinasikan sejak kecil.

Ada sesuatu pada hujan yang selalu merenggut orang-orang yang dia kasihi. Sesuatu tentang hujan yang selalu menyita kenangan-kenangannya. Hingga setiap hujan tiba, dia kembali teringat akan orang-orang yang dia kasihi juga kenangan-kenangan yang sekian lama disita oleh waktu. Hingga dia selalu ingin hujan tak pernah berhenti dan dia bisa terus merentangkan tangan di sepanjang perjalanan pulang.

Sama seperti hari ketika ibunya meninggal, hujan turun begitu lebat. Sama seperti saat itu, dia menyusuri jalan dengan merentangkan tangan, sejak keluar dari kamar mayat rumah sakit hingga rumah. Seperti itulah kini dia mengulangnya.

Dia sampai di gerbang rumah. Tempat yang tanpa siapa-siapa karena kini hanya tinggal dia yang mengisi ruangan-ruangan itu. Rumah yang tanpa denyut, tanpa napas. Kosong.

Dibukanya pintu rumah. Tidak ditutupnya lagi. Tidak dipedulikannya keadaan rumah yang begitu berantakan. Dia berjalan ke arah kamar mandi, menyalakan keran air. Sementara air memenuhi bathtub, dia mengambil semua berkas-berkas di lemari, ijazah-ijazah sejak SD hingga dia lulus dengan gelar magister.

Dibawanya semua berkas itu turut bersamanya ke arah dapur. Dinyalakannya kompor gas di dapur lalu dibuangnya satu per satu semua berkas itu ke atas api. Tidak dimatikannya kompor gas itu. Lalu dia berjalan ke arah kamar mandi. Bathtub sudah dipenuhi air. Dituangnya sebotol cairan pembersih lantai kamar mandi ke dalam bathtub.

Dia melangkah keluar lagi, menuju ke arah kamar. Mengambil kertas dan menuliskan sesuatu. Setelah beberapa saat, dimasukannya kertas itu ke dalam amplop.

Teruntuk Clara. Ditulisnya di sudut kanan atas permukaan amplop. Kemudian diletakkannya amplop itu di atas meja baca. Setelah itu, dia membuka laci dan lalu mengambil sebuah pisau lipat, dibawanya menuju ke kamar mandi.


“TY?” Seorang gadis memanggil-manggil dari arah gerbang yang tergembok. Dilihatnya pintu rumah Ty tidak terkunci. Terasa janggal karena tidak biasanya Ty lupa mengunci pintu rumah jika dia sudah menggembok pagar.

“Mungkin dia sedang tidur?” Pria di sebelah gadis itu berpendapat. Si gadis menoleh dengan enggan lalu menggelengkan kepala. Tidak mungkin Ty tertidur dan lupa mengunci pintu.

“Kecurigaanmu berlebihan, Clar.” Pria itu melanjutkan.

“Kartu-kartuku tak pernah salah, Ar.” Clara menjawab.

“Aku harap kali ini salah.”

Gadis itu sejenak menarik napas, “Aku juga.”

Tapi asap muncul dari arah belakang rumah. Bagian belakang rumah di hadapan mereka dilalap api yang mengganas.

ORANG-ORANG telah membantu mereka dengan memadamkan api dan menyirami sepenjuru rumah dengan berember-ember air. Di luar begitu ramai dan di hadapan mereka, mayat Ty memerah di dalam bathtub. Cairan yang entah apa menggumpal-gumpal dan terapung di atas air. Aria memeluk Clara. Gadis itu menangis di bahu Aria.

Ketika mayat Ty diangkat, Clara berteriak. Aria refleks menghalangi penglihatan Clara dengan tangan kanannya. Sementara dia melihat tubuh Ty yang membeku. Bagian bawah tubuh jenazah Ty berwarna merah keunguan. Darahnya mengendap searah dengan arah gravitasi bumi, tanda bahwa jantung Ty sudah tidak lagi berdetak, sudah tidak lagi memompa darah.

“Itu mayat, Ar?” Clara bertanya terbata.

“Itu mayat.” Aria menarik Clara semakin erat ke dalam pelukannya, “Itu Ty.”
Clara,
Kamu tahu betapa lelahnya aku menjalani hidup. Tanpa siapa-siapa menemaniku di sisiku. Aku tahu kamu mungkin tidak akan pernah menyadari kelelahanku menyimpan jiwa seorang anak-anak di dalam diriku. Ketakutanku melewati jalan-jalan baru. Dan aku terlalu takut untuk terus hidup. Sendiri dan tanpa arah tujuan. Bisakah kamu bayangkan rasanya hidup seperti itu, Clar?
Air mata Clara terjatuh di atas kertas itu. Aria membelai rambut Clara dan lalu mengecup ubun-ubunnya, “Semuanya akan baik-baik saja.”


2009/03/21

Gadis Pemakan Kepala Orangtuanya

PAGI itu aku duduk di atas bale di sudut sebelah timur belakang sebuah restoran, tempat yang selalu menjadi favoritku setiap mampir ke Bali karena panorama yang tidak biasa. Gedung bernuansa layaknya bangunan zaman kolonial, dengan pohon yang dipercaya bisa mendatangkan keberuntungan, Pachira aquatica nama Latinnya, tetap terpajang di dalam vas di tiap meja di atas gazebo.

Aku juga menyukai pemandangan di belakang restoran. Menyukai Gunung Batur yang diselimuti awan putih. Ditambah lagi, saat itu hujan hadir langsung dengan begitu lebat. Para pelancong, yang sebelumnya asyik mengambil foto berlatar gunung berselimut awan putih, dengan gesit berlarian ke arahku juga ke arah gazebo-gazebo lainnya.

Hingga beberapa saat kemudian perhatianku teralihkan oleh sesuatu yang janggal. Oleh seorang gadis kecil berambut blonde dengan pita merah yang menggendong seekor anjing ras Kintamani di pelukannya. Dia meletakkan anjing itu di atas gazebo di tengah kolam ikan. Gazebo yang tidak dipilih oleh siapa pun. Beberapa saat kemudian gadis itu ikut naik, menemani anjingnya.

Aku terpaku di posisiku, lebih dari sejam. Seolah tersihir oleh sesuatu yang entah apa. Aku menyadari ada sesuatu yang mistis dari caranya berjongkok di hadapan anjing itu. Sedari tadi, kulihat mereka asyik bercakap-cakap. Kuperhatikan, dia—gadis kecil itu—begitu mahir mengonggong. Tidak ada kecanggungan sama sekali.

Hampir berjam-jam mereka sama-sama berjongkok. Perawakan gadis kecil itu tinggi seperti umumnya kelahiran blasteran dan caranya mengambilkan sosis dari pinggan pelayan untuk diberikan kepada anjingnya—yang sedari tadi dia ajak berbincang dengan gonggongan—menunjukkan bahwa dia adalah orang penting di restoran itu. Gerak mata dan air mukanya mencirikan bahwa kemampuannya juga bukan seperti gadis biasa. Dia istimewa.

Betapa akhirnya kusadari banyak orang juga ikut memperhatikan tingkah gadis itu. Bukan hanya aku. Masing-masing dari kami memesan berulang kali kepada pelayan yang lewat—memesan apa pun yang bahkan tidak kami pedulikan harganya. Gadis itu seperti tontonan musik di restoran itu. Seperti pemandangan yang menyihir—seolah kami menunggu sesuatu terjadi.

Tapi tidak ada sihir yang terjadi—tidak sampai sore itu berakhir. Tidak sampai dia dijemput oleh seseorang bersetelan serba hitam dan digendong menuju pelataran parkir lalu dimasukkan ke kursi belakang mobil dengan beringas. Dia, sampai hari itu berakhir, memang seperti boneka tontonan yang mendekati sempurna.

2009/03/06

Kinnara


“PERNAH tahu mitos yang mengatakan bumi ini disangga oleh empat ekor kura-kura? Seperti bintang-bintang yang berjejer di sana,” Dia menggerakkan telunjuk dari satu sudut ke sudut lainnya. “Konstelasi kura-kura.”

Hari itu seperti biasa dia memulai malam kami dengan cerita yang asing, juga seperti biasa, aku menggeleng, tak menyimak apa yang dia bicarakan.

Pasti terlihat bodoh. Selalu bodoh di matanya.

Lain waktu, tiap kali kami menatapi langit seperti saat itu, dia pasti akan selalu bilang (aku tahu niatnya hanya untuk mengomentari minimnya ketertarikanku pada langit): percuma membuat orang-orang tertarik memahami langit, sementara mereka sudah lebih dulu terpana dengan bintang-bintang yang bertebaran di layar kaca. Bintang-bintang yang redup atau terangnya hanya tergantung seberapa besar sensasi yang dibuatnya.

Dia memang sangat menyukai langit. Semua istilah yang dipakainya kait-mengait dengan bintang, meteor, atau istilah-istilah asing di fisika. Dia adalah seseorang yang lebih mudah memahami ilmu astronomi ketimbang ilmu anatomi tetapi sayangnya dia menjatuhkan pilihan dengan berkuliah di jurusan kedokteran.

Beberapa saat kemudian dia tertawa, “Tiap kali memperhatikan bintang bersamaku, tidakkah kamu juga tertarik untuk ikut menghafal nama-nama rasi bintang?”

Aku mengernyitkan dahi.

Seolah paham, dia menjelaskan, “Tidak pernah ada yang namanya rasi kura-kura.”

Lalu dia kembali tertawa.

“Aku, kan, enggak kuliah astronomi,” begitu caraku membela diri.

“Aku juga enggak kuliah astronomi.”

Saat itu, aku kembali kalah telak darinya.
 

2009/02/16

Pria Kecil, Permen Kuning dalam Toples Kaca, dan Segelas Air


February 16th 2008 – February 16th 2009

Pria kecil,


PAGI ITU, saat kamu menaruhku di dalam toples kaca sebelum berangkat sekolah, entah perasaan apa yang ada di dalam diriku. Aku tak ingin kamu meninggalkanku. Karena entah kenapa, aku tahu kamu tidak akan pernah kembali.

Tapi aku terus menanti kedatanganmu. Sampai akhirnya Ibumu mengangkat telepon dan menangis setelahnya. Katanya kamu telah meninggal.

Hari itu Sabtu. Begitu kelabu buatku. Rumahmu sepi. Semua orang pergi ke rumah sakit untuk memastikan bahwa itu memang kamu. Bahwa kamu memang telah meninggal.

Andai kamu tahu. Aku selalu suka melihatmu tertidur di sebelahku, melihatmu bernapas dan bermimpi. Aku suka memperhatikanmu tertawa. Sambil menanti saatnya kamu akan memperhatikanku. Untuk mengatakan betapa manisnya diriku.

Aku tak tahu kenapa aku bisa menjadi begitu istimewa bagimu. Kami datang berdua belas. Kami ditaruh dalam sebuah kotak. Jauh-jauh dibawa Ayahmu dari negeri seberang. Tapi aku heran kenapa kamu hanya memakan kesebelas saudaraku. Tidakkah aku nampak manis bagimu?

Kami berkumpul, berwarna-warni bagai pelangi. Apa karena aku berwarna kuning maka kau tak menyukaiku? Kata orang-orang warna kuning adalah warna yang dekat dengan simbolisme kematian. Tapi aku tidak percaya. Aku tahu ada alasan lain kamu enggan memakanku.

Kamu menaruhku di dalam toples. Tidak pernah kamu makan, hanya kamu pandangi lekat. Sampai pagi itu kamu mengambilku dari dalam toples, menatapku. Aku pikir kamu akan memakanku. Aku yakin kamu akan menyukaiku.

Tapi Ibumu memanggilmu untuk mengikat tali sepatumu dan mengajakmu berangkat ke sekolah. Kamu mengantongiku dan berlari ke arah Ibumu.

Ayahmu duduk di meja makan, setangkup roti bakar ada di atas piring besarnya. Aku ingat ketika dulu beliau membeli kami untuk dijadikannya oleh-oleh buatmu. Khusus buat putra tunggalnya yang baru saja memenangi olimpiade fisika nasional, katanya. Kami diboyong mengelilingi kota, ke bandara, kami diajak ke rumah makan, ke toko pakaian, ke segala tempat yang ingin dia kunjungi sebelum pulang ke rumah, sampai akhirnya kami diberikan kepadamu. Dan pagi itu, hanya aku seorang yang tersisa.

Tapi saking asyiknya aku memperhatikan Ayahmu, tak kusangka aku akan jatuh dari kantongmu. Ibumu mengambilku. Dia bilang bahwa kamu tidak boleh memakan coklat untuk sementara waktu. Katanya kamu sudah terlalu banyak memakan coklat. Beberapa gigimu berlubang karenanya. Maka dia bilang agar kamu menyimpanku kembali ke dalam toples.

Aku mendengar percakapan kalian. Aku memperhatikanmu. Perjuanganmu untuk memakanku. Ternyata ada alasan mengapa kamu memutuskan untuk memakanku paling akhir.

“Ini warna favoritku, Ibu. Coklat ini favoritku.. Aku sudah memutuskan untuk memakannya sekarang,”

“Ibu tahu kamu selalu memakan makanan yang kamu sukai paling akhir, tapi dokter gigimu bilang kamu tidak boleh makan coklat lagi untuk sementara waktu.”

“Tapi Ibu..,”

“Kamu bisa memakannya lain waktu.”

Biarpun wajahmu berkerut kesal, kamu tetap melakukan perintah Ibumu dengan patuh, kamu membawaku kembali ke kamarmu dan meletakkanku di dalam toples di sebelah segelas penuh air minum pada meja panjang di pinggir jendela. Setelahnya kamu membuka gorden. Aku melihat cahaya matahari masuk melalui celah-celah ventilasi di bagian atasnya. Lalu kamu menutup toples.


Tulisan Terdahulu