2008/07/25

Botol-Botol Filsafat

Aku mengetuk
Karena suntuk

Mengintip jendela
memanggil nama

Tak ada yang menyahut
Dipikirnya aku kalut

Baru saja pulang
Dengan langkah oleng

Mulut bersendawa
Lengan menebas udara

Pandang mata buram
Sewarna malam

Ah!
Tadi di diskotek
Aku ditawari pertanyaan,
"Siapakah engkau?"

Kujawab,
"Gadis yang sedang terluka"

Orang itu jawab,
"Jiwa tak pernah terluka"

Kuteguk segelas lagi
"Dari mana asalmu?"
Begitu orang tua berewok itu bertanya

Aku menoleh,
"Dunia yang menjemukan"
jawabku asal

Terbahak Ia,
"Lalu kenapa jiwamu tak jemu-jemu terlahir kembali?"
Begitu dia mendebat

Kuteguk segelas lagi,
"Dari mana asalnya dunia?"
Dia bertanya lagi

"Kenapa kau terus bertanya?"
Kubanting botolku
Meraung menendang aku

Satpam menyeretku
Melemparku keluar

Ah, botol-botol filsafat
sungguh memabukkanku
Hingga dunia pun tak kukenali
Sebagai rumahku

Rupanya aku baru saja mengetuk
Pintu rumah Tuhan
Pantas saja tak ada siapa
Yang mau menyahut

2008/07/23

Nahkoda Cinta dan Pencinta Sepeda Tua

Kau, pria rupawan
Berdasi
Dengan kendaraan mahal
Juga cerutu Kuba

Begitu caramu menghadirkan dirimu
Seorang pria sempurna
Sosok yang kau pikir
Mampu menjeratku

Aku, gadis sederhana
Pakaian seadanya
Pencinta sepeda tua
Yang tidak istimewa

Bertemu denganmu
Sosok yang kupikir
Mampu memperlakukan tiap wanita sama rata
Tanpa cinta di tiap gerik dan kata

Kau pemain hati
Saat layarmu robek
Atau jangkarmu patah
Kau tinggal jentikkan jari

Kau bebas pilih sketsa kapal termewah
Perupa akan memberi apa yang kau damba
Dan kau juga seorang pelayar kejenuhan
Singkat saja waktumu bercinta dengan kapalmu


Setelahnya kau kan campakkan
Aku wanita bodoh yang tahu identitas
Aku tak mengerti tabiatmu
ketika kau menebar pesona
Melalui kedipan mata

Aku gadis desa
Yang jarang mengenal pria
Tapi sekali mengenal
Aku bisa bedakan
Siapa yang pantas
kuajak berkencan

2008/07/18

Hibernasi

Aku ingin bersembunyi
Sambil berhibernasi

Aku ternyata berhati kebas
Terlalu berani lampaui batas

Awalnya aku hanya ingin jadi begitu dekat
Tapi ternyata hatimu telah mampat

Kawan, hatiku memang tidak stabil
Tapi ini bukan hati dari pria hidung belang
Yang suka bergombal alang kepalang
Aku hanya wanita berhati labil

Apa artinya kebersamaan ini
Kupikir kita miliki kesamaan mimpi
Namun ternyata hanya halusinasi
Lebih-lebih jika kau pikir cuma ilusi

Kawan, bolehkah aku menghilang
Darimu juga mimpi-mimpimu
Supaya aku tak berang
Saat kau juluki aku pemimpi yang tertipu

Kawan, aku pergi saja, ya
Supaya ada tenggat waktu
Jika nanti kita kembali berjumpa
Ada sekat-sekat rindu yang membiru

Omong-omong
Nanti, aku ingin kita berjumpa
Bukan lagi di lorong-lorong
Cukuplah di tempat biasa

2008/07/17

Kembali ke Rumah

Seorang pria dengan cerutu
Perut buncit
Tawa bias
Sebuah rumah bertulang kayu
Tanpa denyut
Hawa panas
Sepercik kenangan akan dagu
Tertopang kalut
Tiada bernafas
Meninggalkannya
Separuh hati terbelah
Separuhnya lagi utuh

Saya [masih] menyayangi Ayah saya. Saya [masih] ingin menjaganya. Saya [masih] ingin memperjuangkan keberadaannya.
Saya [masih] merindukan rumah lama saya. Saya [masih] ingin tidur di atas ranjang saya. Saya [masih] ingin menyentuh semua barang-barang kesukaan saya.
Saya [masih] mengenang Mama saya. Saya [masih] merindukan kasih sayangnya. Saya [masih] menangisi perjuangannya untuk saya.
Dan ketika saya [harus] meninggalkan mereka, saya terbentur pada dua pilihan. Saya [ragu] bertanya apakah itu adalah berlari atau kembali. Karena sungguh [dalam hati] saya memang ingin kembali.

Kamis, 17 Juli 2008
12:22:55

2008/07/11

Penulis Takdir

"KATUPKAN jarimu, Nak..”

Arya menoleh, seorang pria tua menepuk bahunya, nampak angker dengan rambut dan janggutnya yang panjang beruban, wajahnya yang tirus dan sorot matanya yang kasar mencerminkan keangkuhannya, seolah dia telah mengetahui segala rahasia dunia.

Di hadapan pria tua itu, Arya yang masih berumur belasan sedang duduk bersila, dia mengatupkan jarinya, walau dia tidak tahu untuk apa dia melakukannya. Di sebelah mereka terdapat puluhan buku, dengan lembaran kosong dan belum tertulisi apa pun.

“Ambillah satu buku yang kau inginkan.”

Arya menuruti perintahnya dan terkesima akan apa yang baru saja dia lakukan, seolah dia sedang dihipnotis oleh kata-kata pria tua itu.

“Tulis apa pun yang kau inginkan, kau akan mendapatkannya.”

Aku ingin hidup lebih lama...

Arya lalu menutup buku itu, air matanya membeku di pelupuk matanya, dia baru saja divonis menderita kanker otak dan dia hanya mampu bertahan selama beberapa bulan.
Dia tidak ingin mati secepat itu.

BEBERAPA orang mengelilingi seorang pria yang terkapar penuh luka, Rana menyelip di antara kerumunan yang penuh sesak. Ibunya meraung, memanggil-manggil nama Ayahnya, Arya. Dia tak mengerti apa yang sedang terjadi, yang dia tahu, hujan yang turun kala itu sepenuhnya dipersembahkan untuk menutupi tangis Ibunya, Ibunya terluka.

Arya divonis mengalami amnesia, sementara kakinya divonis harus diamputasi, dan kesedihan Ibunya semakin tak terbendung. Lalu ketika kaki Ayahnya telah diamputasi, Ibunya pingsan seketika itu juga.

 

"DAPAT dari mana buku itu, sayang?” seorang pria setengah baya membungkuk lalu membelai rambut putrinya. Gadis itu terjengit senang lalu menunjuk sebuah tempat dengan telunjuknya, garis polisi membatasi daerah itu, dengan dua mobil menempel seolah baru saja terjadi tabrakan sengit.

“Aku bawa pulang ya, Pa?”

Pria itu tersenyum dan merenung untuk beberapa saat, “Sini Papa lihat..”

Aku ingin hidup lebih lama.., Aku ingin dia mencintaiku.., Aku ingin hidup bahagia..

Tiap lembar hanya menyimpan satu buah kalimat. Tiap kalimat hanya mengungkap sebuah harapan. Seperti sebuah diary yang usang ditelan waktu.

Pria itu menggeleng, raut wajah putrinya berubah masam.

“Jangan bilang-bilang Mama, ya..” Ucap pria itu seraya menyerahkan buku tebal bersampul hijau toska itu kepada putrinya, kemudian dipeluknya putrinya itu sayang.

Tulisan Terdahulu