(September 2015)
Bagaimana tradisi
sejarah di Indonesia? Merujuk buku Vedi R. Hadiz, Ilmu Sosial dan Kekuasaan, pada masa pemerintahan Suharto, ilmu
sosial dikuasai teknokrat Orba. Dalam pengajaran ilmu sejarah sendiri
bagaimana?
Kita menilik kaitan sejarah dengan kekuasaan
sampai jauh ke belakang. Suharto dan Sukarno memandang sejarah sebagai hal
esensial, bahkan sebagai pokok utama. Sebelum lahirnya para sejarawan, mereka
mengembangkan ilmu sejarah sedemikian rupa menjadi bagian aktivitas politik dan
pengembangan ideologi. Hampir semua penggerak zaman itu berpikir untuk
mengonstruksi sebuah nation, karenanya
sejarah jadi hal penting. Sukarno yang punya artikulasi paling besar. Pledoinya
di Landrat, misalnya, “masa lalu gemilang, masa kini penuh derita, dan masa
depan yang harusnya jaya”. Dia melihat sejarah sebagai modal, bahwa di masa
lalu kita punya nation-nation yang besar
dan bahwa nation itu pernah dijeda
oleh kolonialisme. Dalam orasi-orasinya, ia menegaskan, kita harus melanjutkan nation, tapi bukan dengan bentuk nation yang lama seperti nation lama berdasarkan penelitian
arkeologis, sebutlah N.J. Krom yang membicarakan soal Sriwijaya, Majapahit,
dll. Nah, bayangan tentang nation-nation
yang besar dan harapan atas nation
baru inilah, visi ini yang digunakan Sukarno bahwa nation yang sekarang kita bentuk adalah lanjutan dari nation yang dijeda. Yang ingin gue
garisbawahi, selanjutnya yang mengembangkan ilmu sejarah akhirnya bukan para
sejarawan, melainkan para politisi. Salah satunya Bung Karno dan Yamin. Karena
bagi mereka, nation harus diberi roh,
dan rohnya itu adalah sejarah.
Dan dalam konteks itu, kebenaran sejarah kadang
tidak penting. Yang penting adalah kepentingan visioner. Misalnya, Sukarno
bilang Indonesia dijajah 350 tahun, dari mana asalnya? Padahal itu yang
dikatakan oleh Gubjend De Jong ketika menolak permintaan agar meniru langkah
India memberikan kemerdekaan kalau misalnya berhasil dengan Inggris
bergandengan tangan melawan kapitalisme. Kata Gubjend De Jong, tidak, kalau
perlu, Indonesia dijajah 350 tahun. Nah, Bung Karno tahu betul kata-kata itu.
Diadopsi oleh Bung Karno. Secara de facto, tidak ada yang dijajah selama itu.
300 tahun mungkin ada, itu pun hanya Banda dan Batavia.
Jadi, dulu itu
pemahaman sejarah digunakan untuk upaya menyatukan bangsa?
Ya, karena kita baru merdeka. Kita gak punya
tentara. Yang kita punya adalah sejarah sebagai modal untuk menstimulus moral
dan mental masyarakat, dan lahirlah laskar-laskar untuk memerdekakan. Itu
digunakan dengan sangat baik oleh Sukarno, dia menciptakan hari-hari nasional.
Itu yang gue maksud, sejarah digunakan sedemikian rupa. Dia membawa seniman
melukis wajah-wajah pahlawan, mengangkat tokoh-tokoh yang secara faktual
kebenaran historisnya tidak diketahui, tapi yang penting melawan Belanda. Ilmu
Sejarah sendiri baru berkembang secara serius tahun 50an, walau sarjananya
sudah ada lebih dulu, seperti Husein Djayadiningrat. Sebelum itu, sejarah
dikembangkan oleh para politisi. Jadi, kalau bagian dari kekuasaan, menurut gue
itu memang hal yang nyata dalam sejarah kita. Yang lebih gila lagi, visi itu
lebih digunakan secara masif dan sistematis di zaman Suharto. Kita sudah
tahulah bagaimana negara dibangun oleh kebohongan dan propaganda yang disebut
sebagai sejarah. Ngomong apa pun, sebenarnya enggak ada sejarahnya. Lebih
banyak story daripada history. Negara memegang peranan penting saat itu dengan
mendirikan pusat sejarah ABRI/TNI yang membawa seorang yang sebenarnya bukan
jurusan sejarah dan sastrawan yang punya imajinasi tinggi seperti Nugroho
Notosusanto dan melakukan rancangan sistematis serius dan bergerak melalui
kurikulum, permuseuman, nama jalan, monumen. Semua digerakkan demi kepentingan
rezim. Yang merekonstruksi itu adalah tentara.
Lalu, siapa Bapak
Sejarah Formal?
Sejarah formal mulai dirintis Sartono
Kartodirdjo, karena itu beliau disebut bapak ilmu sejarah utama karena dia
melihat sejarah bukan urusan hitam putih. Kita tidak boleh melupakan tempat
rakyat dan orang kecil (petani, nelayan) di dalam sejarah. Nasionalisme
Indonesia dimulai dari petani. Dan mulai mengajarkan dengan apa yang disebut
sejarah kritis, sejarah akademis. Dia mulai merekrut orang-orang. Dari muridnya
seperti Lapian, kita tahu suara dari laut juga jarang, padahal kita negara
berbentuk tanah air.
Jadi, ini lebih ke
struktur birokrasinya, mereka membuat perpustakaan ABRI untuk memanipulasi
sejarah. Kalau tradisi sejarah di kampus bagaimana?
Mereka, kan, masuk melalui kurikulum. Kurikulum
itu yang menelurkan buku-buku babon. Sejarah Nasional Indonesia, misalnya. Buku
itu akhirnya merupakan suatu gambaran kalau nation Indonesia dibentuk oleh
kekuatan tentara. Jadi, wajar tentara punya posisi yang penting di dalam
republik karena mereka punya peranan besar. Di situlah, ada pertengkaran antara
sejarawan: yang ingin melihat sebuah bentuk manifestasi yang serius dari
kecakapan mereka sebagai sejarawan akademis. Konflik dari Taufik Abdullah,
Sartono malah bikin buku sendiri.
Ada kubu-kubu?
Sartono keluar, tidak ikut menulis akhirnya.
Taufik Abdullah juga tidak. Karena mereka merasa dikuasai oleh kubu-kubu
pemerintah yang diwakili oleh Nugroho Notosusanto. Istilahnya Kahtryn McGregor,
kan, sejarah yang berseragam. SNI adalah salah satu contohnya. Terutama pada
periode yang disebut sejarah kontemporer, sejak merdeka sampai 1970-an.
Perdebatannya akhirnya bukan hanya yang diharapkan jadi perdebatan akademis,
memperlihatkan kecenderungan para intelektual Indonesia. Yang terjadi
sebaliknya. Ketika buku itu ditulis kita sedang booming sejarah intelektual
Indonesia. Bukan hanya di regional Asia, tapi tingkat dunia. Mereka terlibat
percakapan serius tentang tema, topik, dan filosofi sejarah, tapi itu tidak
terlihat dalam buku SNI. Itu menyedihkan. Sekarang, kita krisis sejarawan yang
punya kaliber seperti booming tahun 70an itu, yang bisa ikut berdialog.
Booming 70an itu siapa
saja?
Sartono, Onghokham.
Lalu yang menuliskan buku SNI?
Nugroho Notosusanto. Mereka punya struktur
birokrasi, pernah jadi rektor, menteri. Karena itu, kalau sekarang kita
mendebatkan perkara 65, wajah kampus masih kelihatan seperti dulu.
Masih sampai sekarang?
Seperti penolakan kata penambahan G30S/PKI kan
sampai ke kampus-kampus perdebatannya.
Berarti, ada
tulisan-tulisan yang merujuk menolak wacana Orba?
Sartono bikin buku sendiri Dari Imperium sampai
Emporium untuk menolak. Diterbitkan Ombak karena Nursam punya kedekatan dengan
Sartono, dia menulis skripsi tentang Sartono.
Selain itu, siapa
lagi?
Taufik Abdullah menulis tapi tidak dalam bentuk
buku babon. Kemudian, dia menulis, diterbitkan di Singapur. Yah, mereka
mengembangkan dirilah, menulis dalam majalah Prisma dengan menulis sejarah2
alternatif. Ini membawa pengaruh berbeda dengan yang disajikan di SNI. Itu
memberi ruang sebagai suara alternatif dari sejarah resmi yang dijaga bahkan
oleh penjara, pentungan, blacklist.
Bagaimana pengaruh
para sejarawan anti-Orba ini ke para mahasiswa?
Banyak pengaruhnya. “Kalau Pak Ong sudah
protes, berarti rakyat kecil sudah kena pengaruh.” Onghokham dijadikan mistar
pengukur permasalahan. Karena beliau tiap hari pergi ke pasar, doyan masak, ke
mana-mana naik angkot. Lapian juga.
Mereka menulis dan terlibat sebagai intelektual
publik dan menjadi suara alternatif lewat kolom-kolom mereka, warna lain dari
diskursus kekuasaan yang disajikan oleh pemerintah. Mereka melihat Suharto
menerapkan pola kekuasaan Mataram baru yang feodal dan kolonial. Akhirnya,
kita seperti mengulangi sejarah. Dia memberi refleksi, dan akhirnya menjadi
perdebatan, kalau Orba itu adalah new state,
old society.
Kenapa baru ’98 Suharto
tumbang?
Ya, revolusi itu seperti pohon oak. Gak bisa
langsung besar. Harus jauh, mengakar. Revolusi butuh waktu, karena itu proses
mental. Mengubah kultur. Sampai hari ini, secara kultural tidak berubah:
feodalismenya, banditisme partainya. ’98 hanya titik menjatuhkan saja. Ada
studi menarik dari ___, dengan meneliti bacaan para aktivis 98. Mereka adalah
saksi yang tegang dari kekuasaan diktatorian yang fasistik sehingga bacaan
mereka lebih banyak pada bagaimana meruntuhkan rezim, tetapi ketika rezim
turun, bacaannya kurang. Itu yang jadi problem. Kalau kita baca refleksi
historis dari para intelektual sejarah, ya sama, mereka menyamakan Suharto
dengan rezim busuk, tapi apa selanjutnya? Itu berbeda dengan politisi seperti
Sukarno atau Hatta. Mereka bertanya: setelah kolonialisme tumbang, apa yang
akan kita buat? Indonesia ini jembatan emas, tapi seperti apa konstruksinya?
Mereka berdebat. Sementara Reformasi… mereka tidak punya kesiapan.
Mahasiswa-mahasiswa
sejarah UI, dan para pendiri Kobam yang didirikan sehari sebelum Suharto
makzul, apakah tidak punya gambaran besar tentang apa yang harus dilakukan
sekarang?
Kita bikin Kobam karena setelah Suharto jatuh,
kita baru sadar, apa yang menyebabkan Indonesia tumbang dan mengalami krisis
yang dalam. Ada yang bilang krisis politik, lalu mereka masuk partai politik.
Ekonomi, mereka masuk bisnis. Tapi jawaban gue dan teman-teman, karena kita gak
kenal apa itu Indonesia. Caranya kenal bagaimana? Kita harus pulang ke rumah
sejarah. Tapi sejarah Indonesia isinya gak ada sejarah (history), isinya cerita
(story) semua. Bagaimana? Ya, dijernihkan. Caranya bagaimana? Kembali
mewacanakan apa itu Indonesia, apa alasan kita menjadi Indonesia, dan apa
cita-cita kita. Kita harus mengampanyekan ini. Ya, harus bikin penerbit. Harus
menulis. Harus bicara.
[bercerita tentang kasus Kampung Pulo]
Hari ini, sering ada keluhan generasi muda buta
sejarah. Menurut gue bukan hanya mereka, kita semua buta sejarah.
[bercerita tentang Jokowi dan Prabowo dengan
strategi-strategi politiknya]
[kembali bercerita tentang kasus Kampung Pulo]