Monday, March 4, 2019

Tentang Kakek: Perjalanan dan Ingatan


Pembacaan atas Keledai yang Mulia dan beberapa Puisi Mario F. Lawi

Kaularungkan doa dari pesisir diri dengan perahu yang kaukayuh sendiri.
– “Hiri”, Keledai yang Mulia (Mario F. Lawi, Shira Media, 2019)

Mario F. Lawi adalah penyair yang dikenal dengan alusi biblis dalam puisi-puisinya. Latar belakangnya di seminari menengah dan pendarasannya atas teks-teks Latin, mata pelajaran yang diajarkan kepadanya enam jam sepekan, membuat ingatan kita mengenalnya tak terpisahkan dari Alkitab dan tradisi gereja.

Ia sendiri sebenarnya tumbuh besar dalam dua tradisi yang sama kuatnya. Ini, terkadang, membuat beberapa puisinya hadir dengan tegangan dua tradisi ini. Selain sebagai seorang pendaras Alkitab dengan seorang ibu yang erat memeluk Katolik, kakek maternalnya adalah seorang Kenuhe, Imam atau petinggi dalam Jingitiu, kepercayaan penghayat di Kepulauan Sabu, Nusa Tenggara Timur.

Dengan latar belakang ini, dalam puisi-puisinya tentu akan mudah ditemukan pula banyak metafora dari kisah-kisah ritual tradisi Sawu atau Sabu (Hawu, dalam penyebutan lokal). Jingitiu adalah latar yang membentuk kepribadian masyarakat Sawu. Ritual-ritualnya membentang dari kelahiran hingga kematian, dengan ajaran-ajaran yang mengarahkan para penghayatnya akan kebenaran dan kebaikan. Bagi Mario, khazanah biblis dan kearifan tradisi lokal Jingitiu ini sama-sama memiliki kekuatan untuk mengarahkan para penganutnya pada pesan keselamatan—keutamaan yang hendak ia sampaikan dalam puisi-puisinya.

Ia percaya kearifan lokal Jingitiu tercermin gamblang dalam kepribadian kakeknya. Kakeknya, sebagai seorang Kenuhe, dengan tanpa beban menyerahkan seluruh keluarganya melepaskan identitas Jingitiu untuk memeluk Katolik, demi menunjukkan kepada siapa pun yang mengetahui kisahnya, bahwa iman jauh lebih penting daripada agama. Ibu Mario sendiri menjadi Katolik bersama keenam saudara-saudarinya berkat baptis misionaris Austria, Pater Franz Lackner, SVD.

Menyoal Jingitiu, puisi yang hadir persis dengan judul itu termaktub dalam Lelaki Bukan Malaikat (Gramedia Pustaka Utama, 2015). Puisi ke-29 berjudul “Jingitiu” berkisah tentang pergulatan kakeknya menghadapi putra-putrinya melepaskan identitas Jingitiu, yang dibukanya dengan, “Sebelum meninggalkan ketujuh anaknya di depan pintu Gereja, kakek sempatkan berterima kasih kepada tiga belas cahaya yang membopong tubuhnya,” dan lantas ia menggambarkan bagaimana misionaris membaptis orang-orang di kampung itu, “Misionaris putih itu mulai menumpahkan isi buli-bulinya. Ia datang dari sebuah tempat yang jauh, dan ia tak mengenal Kika Ga.”

Ia menggambarkan pula bagaimana kakeknya disemayamkan sebagai seorang Jingitiu, “Kakek pun menekukkan lututnya, membetulkan kain yang digunakannya, sebelum meneteskan air matanya. Ia pun diangkat ke surga. Ke tempat yang lama ia nantikan untuk melihat mata kail yang menyangkuti Kika Ga sebelum Rai Hawu diciptakan. Ke tempat ia akan berjumpa Rai Ah—manusia pertama yang diciptakan Sang Mahakuasanya.”

Dalam keluarga inti kakeknya, hanya kakek Mario yang meninggal sebagai Jingitiu dan dikuburkan dalam sebuah kubur berbentuk bulat dalam posisi tubuh sedang duduk. 

Orang Sabu percaya bahwa kematian adalah perjalanan roh dari dunia ini ke dunia yang lain, dengan menumpang perahu bernama Ama Piga Laga. Upacara mencoret gendang dan lagu duka banyo menuturkan keberangkatan dan pelayaran roh, di mana ia dijemput oleh para leluhur. Tempat berangkatnya adalah Teluk Uba Aae, di pantai selatan Mehara, pada setiap bulan Banga Liwu, menuju ke Sumba. Barangkali itu pulalah yang membuat Mario kerap menggunakan lema “Selatan” dalam beberapa puisinya yang menoleh pada kenangannya akan kakeknya.

Puisi sebelumnya pada buku yang sama, puisi ke-28 berjudul “Penenun”, ditutupnya dengan pengalamannya dengan kakeknya yang membuat kita merasa dekat, “Bertahun-tahun kemudian, ia mendengar cerita tentang Hercules dari seorang cucunya yang lama menetap di kota. Kepada cucunya, ia berulang kali berkata, manusia adalah turunan ketiga belas setelah dewa-dewi diciptakan oleh Mara Mea.”

Bahwa betapa tradisi Jingitiu yang dipeluk kakeknya dapat selalu dihidupkan dan berkait dengan hal-hal mutakhir pada zaman ini yang kelak diketahui cucunya.

Kenangan dekat yang sama dapat kita lihat dalam puisinya “Gela” pada Ekaristi (Plotpoint, 2014), “Di dahiku masih ada tanda salib, dioleskan kakek dengan rasa haru yang harum, sepotong kelapa, serta adonan sirih dan pinang dari mulutnya,” pada puisi ini, dikutipkan mantra ritus inisiasi tradisi Jingitiu yang seiring dengan jalan kakeknya mengoleskan tanda salib pada dahi si cucu, “Wo Deo Muri, ne ta herae ta hero’de ri nyiu wou mangngi, mita rui kedi ihi kuri, mita haga dara, mita ju medera, kelodo pa taga rihi dula,” yang bermakna “Ya Allah sumber kehidupan, anak ini dioles-usapi dengan kunyahan kelapa yang harum agar kuat dan segar tubuh serta mentalnya, supaya bertambah besar dan tinggi, supaya mendapat status yang tinggi/terhormat dalam keluarga dan marga.”

Dalam puisi “Bui Ihi”, Mario kembali mengutip mantra yang merupakan ritus inisiasi Jingitiu, “Ana appu ya de tape wede pa loko pa da’I ta mahhe rim one b’aga,” yang terjemahannya bermakna, “Anak cucuku ini disanjung dalam cinta dan jodoh, semoga ia mendapat jodoh seseorang yang kaya akan sawah dan lumbung.”

Dalam Mendengarkan Coldplay (Gramedia Widiasarana Indonesia, 2016), Mario menuliskan lagi tentang kakeknya, tentang pertanyaan yang barangkali diujarkan oleh si kakek kepada cucunya yang terus menggali memorinya untuk menemukan kakeknya. Dalam puisinya ini, Mario menyebut dirinya sendiri dalam kata ganti Ama Peke. “Mengapa kau mencariku, Ama Peke?” dengan pertanyaan itu, yang diujarkan sang kakek kepada si cucu, puisi ke-19 dalam buku tersebut dibuka, dan lantas dilanjutkan dengan dongeng—yang agaknya berkaitan dengan kisah Mara Mere yang disebutkan oleh kakeknya dalam sahutannya atas kisah Hercules si cucu:

“Ada sebongkah dunia, seorang lelaki dan sesosok dewi. Ada perang kecil ketika segumpal tanah dibentangkan menjadi sebuah daratan luas. Doa pertama mengambang ketika seekor ikan gagal terpancing. Sebuah jalan memanjangkan dirinya di atas datar lautan. Berkilau dan menyilaukan. Aku memikirkanmu. Telah kukenal semesta yang lain, yang mengapungkan angin gelap dan mencurahkan hujan yang anomali. Di dalam kepalaku sepasang dunia melingkupimu. Telah tersesat aku dalam ceritamu, ketika para leluhur mengajakmu terbang ke berbagai belahan dunia dengan sayap-sayap yang terbuat dari anyaman lontar yang dilapisi serat-serat tembakau, daun sirih dan kulit pinang. Langit sudah tak membutuhkan warna. Mimpi sudah tak perlu menjadi tanda. Ke mana jalan itu membawamu? Ada air mata yang jatuh dari sepasang sudut matamu ketika tangan kakimu dijepit tiang penyangga. Ada mutiara di dalam kerang yang kaududuki di dalam kubur di sudut kiri depan rumah itu.”

Dalam cuplikan panjang di atas, Mario secara sengaja memberi penekanan pada ingatan (aku memikirkanmu) dan perjalanan (ke mana jalan itu membawamu). Selanjutnya, ia masih akan mengulang “Mengapa kau mencariku, Ama Peke” dua kali lagi, dan memberikan penekanan pada “kesedihan aneh yang mengusikku” dan berbagai hal yang tampak di hadapan si Ama Peke yang mencari, di antaranya: hitam, kering, pinang, tanah, merah, rumah, belangga, kayu, pagar, batu, sirih, keriput, bayi, rakit, laut, panen, kuda, ilalang, aspal, botol, perempuan, gigi, celah, timba, lemari, asap, langit, dan kau. Simbol-simbol yang bagi si Ama Peke lekat dengan kampungnya.  
Dalam buku puisi yang sama, pada puisi ke-21, saya lanjut menemukan bagaimana langit, ayah, luka, cinta, ibu, dan bumi memberikan tanda bagi “kamu” atau si cucu—atau malah tanda bagi sang kakek—pada kening, pipi, tangan, hati, tumit, dan kakinya. Sirih pinang dan bisa seekor ular yang remuk adalah dua tanda konkret yang khas dalam puisi itu, menggambarkan di mana tradisi penandaan itu terjadi, Nusa Tenggara Timur. Tanda, yang diberikan kepada kita, adalah hal yang akan terus melekat—kita ingat dan kita bawa dalam perjalanan.

Dan pada puisi pamungkas dalam buku ini, yakni puisi ke-27, Mario kembali menuliskan mengenai relasinya dengan kakeknya dan pencariannya atas sang kakek:

“Aku berdiri di sini, Kakek, menunggu di bagian luar sisi selatan pagar tanaman rumahmu. Jatuhkan bahasa, rupa, dari segala semesta yang pernah melingkupimu dengan kuasa dan tanda.”

Di puisi ini, ia membahas tentang bentang langit, tenung dan rasa dengki yang mengepung kampung, kesetiaan menjaga mata air yang dianggap sebagai awal mula dunia, sebuah tempat yang disebutkan sebagai: “Ia adalah rumah dewasa yang menyambutmu dengan kenangan masa kanak-kanak yang selalu penuh, dengan irisan panjang lemak babi terbaik yang memang dipelihara hanya untuk dikorbankan, dengan bagian terbaik dari cinta yang menolak untuk diberi nama, dengan tetes pertama air susu ibumu.” 

Kedekatan Mario dengan kakeknya dan tradisi Jingitiu sebagai latar belakang tampaknya kembali menjadi benang merah bagi beberapa puisi dalam Keledai yang Mulia, yang lagi-lagi dapat ditautkan pada dua perkara: perjalanan dan ingatan. 

Perjalanan dan Ingatan
Judul buku puisi teranyarnya, Keledai yang Mulia (Shira Media, 2019), mengingatkan kita pada dua puisi yang pernah ditulisnya dalam Lelaki Bukan Malaikat seperti “Seekor Keledai Memasuki Kerajaan Surga” dan “Seekor Keledai di Depan Lubang Jarum” ataupun dalam beberapa puisinya di Mendengarkan Coldplay yang menyitir keledai. Baru pada puisi-puisi yang ditulisnya setelah Ekaristi, alusi biblis mengenai keledai ini tampak kerap dimunculkan. Puisi “Keledai yang Mulia” ini sendiri dibuka dengan “setelah menempuh perjalanan panjang, ia merasa telah menjadi Kristus” dan ditutup dengan “Si Keledai yang Mulia pun kian yakin, Dunia memang akan benar-benar diselamatkan.”

Kisah tentang Yesus yang mengendarai keledai menuju Yerusalem lazim menjadi memori kolektif para penekun Injil. Diceritakan pada Kisah Minggu Palem (Injil Yoh 12:14-15) bahwa Yesus lebih memilih menunggangi keledai alih-alih kuda, lantaran keledai adalah sewujud penggambaran kekuatan yang dapat ditanggungkan ketika ia menanggung beban macam apa pun, sementara kuda adalah tunggangan yang cenderung teramat pilih-pilih. Kisah Yesus ini tertulis pula dalam Matius 21:8 dan Lukas 19:36, menjabarkan orang-orang di jalanan yang melemparkan kain ketika keledai itu melintas bersama Yesus.

Dalam buku puisi teranyarnya ini, beberapa kisah perjalanan dalam wujudnya yang lain, terutama yang berkait dengan kakek dan tradisi Jingitiu, ataupun ingatan akan sesuatu yang hilang, kembali termaktub melalui puisi “Meninggalkan Kupang”, “Ina Tana”, “Ecclesia penitens”, “Pulang, “Bekas Sebuah Sungai”, dan “Ecce Homo”.

Pada “Meninggalkan Kupang”, kita melihat seorang lelaki kecil yang meminta seseorang atau sesuatu agar tetap tinggal. Saya menafsirkan lelaki kecil ini sebagai Mario, sebagai cucu, yang menyentuh pintu kenangan kakeknya, memanggilnya. Atau, lelaki kecil ini adalah Mario, yang berhadapan dengan tradisi, terutama lantaran pada bait-bait “engkau tahu, sepenuhnya, tak sanggup ia menandingi tiga orang lelaki yang telah menumpahkan darah ayam, membekalimu dengan potongan kecil kopra, kacang hijau, dan memperdengarkan suara sekelompok orang yang telah menyentuhmu dengan cinta yang ajaib dan keras kepala” menggambarkan betapa yang dibicarakan adalah tentang “seseorang” atau “sesuatu” yang tidak dapat dilepaskan dari “tiga orang lelaki” atau “tiga patriark” dalam tradisi Jingitiu, yang memberikan kepadanya perlambang darah ayam, potongan kecil kopra, dan kacang hijau.

Sementara “Ina Tana” adalah perjalanan yang bergerak ke arah berseberangan. Puisi dibuka dengan “Mencintaimu sebagai keselamatan, aku pun pergi”, “aku suka caramu yang santun ketika berdosa, kulitmu yang menguarkan wangi dupa dan sukacitamu yang membumbung ke langit”, lantas “menyayangimu adalah dosa, meninggalkanmu adalah celaka”, hingga ditutup dengan “hingga biarkanlah Cinta menjadi alasan bagiku untuk menjaga jalan yang kautinggalkan”. Tanpa mengetahui makna “ina tana” adalah “ibu tercinta”, lantaran puisi ini dibuka dengan menyatakan kepergian menuju yang lain demi jalan keselamatan, saya menafsirkan puisi ini menggambarkan pergulatan yang dialami oleh ibu Mario beserta saudara-saudarinya yang mesti melepaskan tradisi Jingitiu, dan menganggap jalan yang ditempuhnya sebagai penemuan kembali, dan terlepas dari letih yang dialami dalam perjalanan itu, ia tetap menyimpan Cinta bagi tradisinya yang telah ditinggalkannya.

“Ecclesia penitens” menceriterakan bagaimana seorang tua menghampiri ayah Dope Ga, karakter dalam puisi ini yang berasal dari penamaan karakter Jingitiu, menyentuhkan telunjuknya yang berlumur liur sirih pinang ke sepasang pipi ayah Dope Ga. Ayahnya adalah orang yang kelak menjabarkan kepada Dope Ga nama-nama tumbuhan sebelum ia mengenal kisah dalam tradisi Jingitiu tentang dewa kesuburan dan manusia pertama yang menyentuh tempatnya kini berpijak. 

Penduduk Sabu diturunkan dari leluhur Hawu Ga (Kika Ga). Dalam genealoginya, urutan sesudah kedatangan orang Sabu menunjukkan pemisahan antara manusia dan tumbuhan. Pohon tumbuh dari tubuh Rai Ae, seorang perempuan, yang mati dan dari bagian-bagian tubuhnya menjelmalah berbagai jenis tumbuhan. Di Mehara, muncul tujuh macam tumbuhan, kelapa dari tempurung kepala, pinang dari biji mata, sirih dari jari, pohon lontar dari kemaluan, kacang dari ginjal, nila dari empedu, dan mengkudu dari ludah. Karena itu, ketujuh jenis tumbuhan ini pun penting kedudukannya dalam kehidupan orang Sabu.

“Pulang” adalah puisi yang sejak pembukanya pun telah menghamparkan rasa hangat, “kau tahu laut begitu ramah padamu, mempersembahkan hasil-hasilnya ketika kau berdiri di pantai saat paceklik mencekik kampungmu,” dan “kau tahu seorang cucu sepenuhnya menyukai segala yang ada padamu, menjadi seseorang yang sama sekali tak mengenal kata “pulang” dalam bahasa daerah ayah maupun ibunya, tapi merawat cintanya”. Dua kuplet ini menunjukkan bagaimana si cucu mencoba menjabarkan tentang kakeknya. Kemesraan penggambaran ini berlanjut dengan berbagai persepektif lain, “kau tahu langit mengerti rahasiamu”, “kau tahu cerita seorang santa pernah mengisi masa kecilmu”, “kau tahu istrimu begitu terpesona pada”, “kau tahu para penggantimu akan”, “kau tahu airmata yang mengucur dari jasadmu”, hingga ditutup dengan “kau tahu ibu selalu berharap kau bahagia di dalam sana dan di atas sana”. Ia menutup puisi persembahan untuk kakeknya ini dengan kisah betapa ibunya masih menyampaikan doa-doa kepada Tuhan sang kakek, tentang hal-hal yang tak kunjung dipahami si kakek semasa hidup. 

Dua puisi terakhir “Bekas Sebuah Sungai” dan “Ecce Homo” menggambarkan tentang ingatan akan masa lalu dan refleksi akan waktu-waktu yang telah lewat, hingga perasaan tentang kehilangan sesuatu yang paling berharga. “Bekas Sebuah Sungai” dibuka dengan menyebutkan, “Kupelihara masa lalu dengan canggung” dan menjelaskan bahwa “rumah bagi waktu adalah alirannya, tempat kita ikut hanyut, menyisihkan apa saja yang kita anggap berharga hingga semuanya benar-benar tiada”. Sementara “Ecce Homo” dengan sendu mengatakan, “Kupadamkan cahaya sekeliling untuk mengingatmu di tengah malam yang cerah ini”, kesedihan terkatakan dalam “semesta diriku dulu punya nama dan bahasa, dan seketika kehilangan sesuatu yang paling berharga dari dirinya”. Apabila kita berpikir bahwa terkadang Mario menujukan pernyataan-pernyataannya dalam kedua puisi ini kepada kakeknya yang telah tiada, agaknya itu adalah sublimasi kesedihan seorang cucu yang mengenang kakeknya dan terkatakan dengan begitu indah. {*}

No comments:

Post a Comment