Saturday, January 30, 2010

Rindu



(Cerpen ini pernah dimuat di Koran Tempo, 29 Juli 2012.)

MALAM di musim pengujan itu ia kembali mengetuk pintu. Aku menghampirinya sebagaimana biasa, membukakan pintu untuknya, menyambutnya dengan senyuman. Ia seperti biasa, terjatuh di lantai, muntah.

Sebuah suara memanggilku dari arah atas. Aku segera berlari menaiki anak tangga, menuju ke kamar tempat di mana aku dan seorang pria sebelumnya bermesraan denganku.

“Jim, tolong pergi,” kataku kepadanya sembari melempar celana bahannya ke pangkuannya.

Pria yang sedang bertelanjang dada itu melotot, sedikit mengangkat tubuh. Pantulan sinar dari kalung salib di dadanya menyentuh retinaku.

“Suamiku pulang,” Aku membantu mengancingkan kemeja Jim.

“Lima ratus ribu.” Ia menyelipkan uang sejumlah yang disebutnya itu ke sela payudaraku.

“Tolong, Jim. Aku tidak mungkin membiarkan suamiku membeku di bawah.”

“Kau tidak mungkin menyuruhku pulang, hujan lebat begini!” tukasnya sambil meraih pinggangku dan mendekapku lebih erat. Ciuman bertubi-tubi mendarat di leherku.

“Kau membawa mobil,” bisikku.

“Suamimu juga sudah di dalam rumah, ia tidak mungkin kehujanan.” Ia balas berbisik. Tangannya memainkan rambut ikalku, meremas-remas leherku.

“Ia mabuk, Jim,” jawabku keras, lantas kudorong tubuhnya hingga terjungkal kembali ke atas kasur.

“Oh, Lara… aku juga mabuk!” Tiba-tiba seluruh wajahnya merah padam. Ada sesuatu yang berkobar di matanya, barangkali api kemarahan.

“Aku istrinya,” tandasku, mencoba bersikap tenang.

“Baiklah!” Ia beranjak dari ranjang dengan kilat, dikenakannya kembali celana, sabuk, dan kaus kakinya. Lalu ia berjalan melewatiku. “Lain kali jangan suruh aku datang kalau pulangnya harus dengan cara kau usir seperti ini,” ujarnya dekat-dekat ke telingaku, masih seraya sedikit memaksa mengecup bibirku, sebelum akhirnya kudorong ia ke arah pintu.

Ia menuruni tangga, aku mengikutinya dari arah belakang.

Diludahinya suamiku yang sedang terkapar di lantai tak sadarkan diri. “Oh, Jim!” teriakku. Ia pergi, tak peduli.

Setelah ia berlalu, kututup pintu rumahku.

Lalu kutatapi seseorang yang tidur di lantai itu, pria yang sepuluh tahun lalu layaknya suamiku. Ia yang tak kuketahui kapan bisa hadir menemaniku. Jikapun ia ada di rumah, lebih sering tak ada sepatah kata yang mampu keluar dari bibirku. Lebih sering kami terdiam. Atau aku terdiam, menatapinya merokok, minum-minum.

Tubuhnya begitu berat. Susah untuk kupindahkan. Maka seperti biasanya, kuambil selimut dari kamar, kubiarkan ia tertidur di depan pintu. Aku duduk menemaninya di tangga. Menontoninya tidur pulas, seperti itu, meringkuk seperti kucing kecil.
AKU duduk menontoninya sampai cahaya matahari masuk lewat lubang ventilasi. Terdengar suara koran pagi membentur pintu rumahku, namun tak mungkin kubuka pintu untuk mengambilnya karena suamiku masih tertidur di sana.

Ia masih persis seperti dulu saat aku melihatnya tertidur pulas di hadapanku untuk pertama kali. Maksudku, mulutnya yang sedikit terbuka ketika ia tidur dan raut wajahnya yang sesekali masih terlihat belia seandainya saja tidak ada kerut-merut ataupun bekas luka di sana.

Beberapa saat kemudian ia tiba-tiba terbatuk, mencoba bangkit dari lantai, dan kembali muntah. Aku kemudian menuntunnya ke dapur. Di sana lalu ia duduk dengan polosnya seperti seorang bocah yang menanti sarapan dari ibunya.

“Siapa pria tadi malam?”

Aku menoleh ketika ia mengucapkan kalimat itu. Di sana ia sudah mengambil roti tawar dan mengunyahnya dengan rakus. “Itu Jim. Langgananku.”

“Berapa ia membayarmu?”

“Uang darinya kupakai untuk langganan koran, juga membayar tagihan listrik, air, dan telepon.”

Dengan santainya ia menambahkan, “Lalu uang untuk roti tawar dan selai ini kau dapat dari mana?” Ia mengangkat botol selai di tangannya tinggi-tinggi.

Entahlah. Seolah baginya kerjaku sebagai pelacur adalah lelucon. Tidak ingin menjawab pertanyaannya, kuletakkan nasi goreng pedas beserta telur dadar gulung kesukaannya di atas meja. “Kau minggu lalu ke mana saja?”

Aku mengambil nasi goreng untuk diriku sendiri, lantas duduk di hadapannya. Ketika ia mulai menyuap sendok demi sendok nasi goreng yang baru saja kumasak, aku memperhatikan telinganya yang bergerak-gerak. Aku tersenyum dalam hati, telinga itu selalu menjadi pertanda bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikannya.

“Sampai kapan kau akan biarkan aku tidur dengan pria lain, Jo?”

Tawanya membahana hingga ia perlu menepuk-nepuk perut, aku menarik napas lagi, “Kau sudah mulai ketagihan tidur dengan banyak pria, ya?” Ia menyuap lagi.

Sungguh suamiku sudah sinting.

Ia lalu bangkit dan mengambil sebotol air dingin dari dalam kulkas.

“Kapan kau akan mulai bekerja lagi, Jo?”

“Selesaikan dulu nasi gorengmu, baru kita mulai makan yang lain. Sudah kubilang berulang kali, nasi goreng tidak pernah cocok dicampuradukkan dengan masalah pekerjaan,” jawabnya, bersendawa.

Selera makanku tiba-tiba hilang mendengar itu. Aku bangkit dan menumpahkan nasi gorengku ke dalam keranjang sampah, lantas mengambil bekas piring Jo di meja dan kemudian merapikan dapur.

Ketika aku menuju ruang tamu, Jo sedang menonton siaran berita di televisi.  Aku melewatinya begitu saja untuk mengambil koran di luar dan kembali untuk menemaninya di ruang tamu. Kali ini ia sedang menonton program anak-anak, kartun yang biasanya ditayangkan setiap hari Minggu.

“Seharusnya ibu rumah tangga sepertimu tidak perlu membaca koran.” Ia berkomentar, dan tak juga kunjung terbiasa mendapatiku menghindari tatapannya dengan menghalangi seluruh wajahku di balik koran.

Ketika kuturunkan koran dari wajahku, di hadapanku ia tepat sedang menatapku. Lekat. “Koran hari Minggu isinya tidak begitu berat untuk dibaca, Jo,” kujawab santai. “Aku suka membaca cerita pendek di situ. Rasanya seperti ada sesuatu yang bisa kunikmati dari tulisan orang yang tak pernah kukenal.”

Ia menaikkan alisnya lalu kembali menatap ke arah televisi, “Seorang pelacur biasanya tidak akan mampu menjawab seperti itu. Tetapi, kupikir lagi, barangkali memang akan pernah ada seseorang menuliskan kisah kita menjadi cerita pendek. Dan kelak mungkin kau akan ditakdirkan membaca cerita itu.” Ia menjawab sendiri retorikanya.

Aku tersenyum kecil.

“Menurutmu kelak kalau kita sudah tua, siapa yang akan paling direpotkan?” Ia mulai bertanya lagi. Kuturunkan lagi koranku dan di sana ia menatapku. Lekat, seperti sebelumnya.

“Aku tidak bisa membayangkan wujudku sebagai nenek-nenek, Jo. Aku tidak akan memiliki pelanggan lagi, dan aku tidak tahu aku akan bisa mendapatkan uang untuk bertahan hidup dari mana.”

“Begitu, ya?” Ia terlihat merenung sebentar, namun lantas mengalihkan perhatiannya kembali ke televisi.

Kulanjutkan membaca koran. Cerita pendek kali ini tidak begitu menarik. Entahlah, rasanya belakangan ini banyak cerita semakin turun mutunya. Atau memang karena cerita-cerita kehidupan di dunia sudah semuanya pernah tertulis? Rasanya tidak pernah ada cerita yang baru.

“Kau sedang baca cerita apa?”

Kali ini aku menjawab dengan tidak memandang ke arahnya, “Hm, entahlah. Tentang kisah cinta beda agama, pertentangan dari keluarga mereka, dan cinta yang berakhir sangat pilu. Kedua-duanya bunuh diri.”

“Kau suka kisah-kisah begitu?”

“Aku berharap akan ada seseorang yang menuliskan kisahku. Kurasa kisah hidup kita lebih menarik untuk ditulis.”

Ia kontan tertawa, “Kau sejak kecil memang naif sekali, ya, Lara.”

Entahlah itu pujian atau bukan. Aku sudah tidak bisa membedakan apa maksud dari kalimat-kalimatnya.


SELALU saja begitu akhirnya. Aku tidak peduli lagi yang mana hinaan, ledekan, ejekan, candaan, pujian, atau entah apa pun. Selama kalimat itu keluar dari mulutnya, rasanya tetap sama saja. Sama pahitnya. Karena bagaimanapun aku tetap tidak akan pernah tahu siapa ia sebenarnya.

“Bagaimana ceritanya kau bisa menemukanku pertama kali, Jo?”

Kulipat koranku dan kuletakkan di atas meja.

Kami kemudian saling berhadapan dan dengan lugunya ia mengorek upil di hidungnya dan pergi menuju dapur.

Sambil masih menuangkan botol air dingin pada gelasnya, ia menjawab pertanyaanku tadi. “Jadi begini ceritanya. Jo si pria tiga puluh tahun menemukan seorang gadis kecil telantar. Gadis itu tidur di atas kursi taman. Kurasa kau masih ingat pagi itu. Saat itu aku kelaparan, betul-betul kelaparan. Tidak ada yang bisa kumakan. Maka aku mengamen saja di sekitar taman. Setelah uangku cukup, kubelikan sebungkus nasi goreng dan telur dadar. Lalu kutemukan kau tidur di sana. Lara yang baru berusia enam belas tahun, menatap kelaparan ke arahku. Dan seharusnya aku yang tanya, karena sampai sekarang aku tidak tahu dari mana asalmu.”

Aku mengangkat kakiku dan melipatnya di atas kursi, tanganku kusandarkan di pahaku dan daguku tertopang di atasnya, “Tolol. Sudah pernah kuceritakan. Masak bisa kau lupa? Pagi itu aku baru saja kabur dari panti asuhan. Hidup yang tidak nyaman. Bayangkan kau dijadikan pembantu dan kau dipaksa berpura-pura bahagia di depan para pengunjung panti.”

Jo menatapku lekat, “Kau tidak pernah cerita sebelumnya.”

“Pernah,” jawabku, agak melotot.

“Sepertinya aku pun telah melupakan usiaku.” Dan ia tertawa.

“Kau memang sudah setua itu. Kau lebih pantas menjadi ayahku. Ketika itu aku tidak pernah bertemu orang tuaku. Aku bahkan tidak tahu siapa mereka. Sampai akhirnya aku menemukanmu dan menganggapmu sebagai ayahku.”

“Sampai kita berlagak menikah enam tahun kemudian: aku menyematkan cincin ke jari manismu dan kita merasa seperti suami-istri, dan kemudian aku memaksamu melacurkan diri. Dan kau masih menganggapku sebagai ayahmu?”

“Sampai akhirnya kita duduk berdua di sini, bernostalgia, dan mengobrolkan hal-hal aneh. Apa yang terjadi padamu selama seminggu ini, Jo?”

“Serahkan tanganmu padaku, Lara.”

Ia mengulurkan kedua telapak tangannya dan kuletakkan telapak tanganku di atasnya.

“Beberapa hari lalu saat aku berlibur dengan istri dan seorang anakku, seorang peramal yang kutemui di taman hiburan mengatakan hanya akan ada satu gadis yang mencintaiku selamanya, seumur hidupnya,” ujarnya sambil membalikkan telapak tanganku dan menyusuri garis tanganku dengan jemari tangannya yang kasar. “Ciri-ciri gadis itu persis sekali denganmu, Lara.”

“Ah, dan lalu bagaimana reaksi istrimu?”

“Kupikir dia tidak begitu peduli dengan ramalan itu. Dia bertambah cantik saja setiap hari dan aku seolah beralih menjadi monster dari hari ke hari. Aku malu setiap kali berkencan berdua dengannya. Tapi untung ada anak-anak kami yang selalu membuatku nyaman. Istriku akan selalu bersama anak-anakku dan entah bagaimana aku selalu bisa memisahkan diriku dari mereka di tengah keramaian. Berjalan sendirian seperti the Beast, si buruk rupa.”

Kugenggam tangannya erat, “Kau pasti akan pergi lagi malam ini. Lalu kapan kau akan pulang ke sini lagi?”

“Setelah mengetahui ramalan itu, aku seperti ingin tinggal selamanya denganmu di sini, Lara.”

Entahlah, tatapannya memang agak berbeda kali ini. “Ketika kau akhirnya tahu siapa yang akan mencintaimu untuk selamanya dan berada di sisimu sampai kapanpun juga, apa hatimu tidak akan tergerak untuk menghabiskan sisa hidupmu dengan orang itu sampai ajal menjemputmu?”

“Kau masih butuh istrimu, Jo. Kau sudah tidak bekerja, kan?”

“Dan istriku kaya raya. Yah, begitulah Lara!” Ia lantas melepaskan genggaman tangan kami, “Kupikir aku memang tidak harus memercayai ramalan.”

“Kau mau ke mana, Jo?” tanyaku ketika ia beranjak dari kursinya dan naik menyusuri tangga, barangkali ke arah kamarnya.

“Mengambil barang-barangku dan pulang ke tempat istriku,” sahutnya.


KUBIARKAN ia membereskan barang-barangnya di atas. Kudengar banyak barang-barang yang dibanting olehnya.

“Lalu kapan kau akan kembali?” Kuhadang langkahnya ketika ia berjalan ke arah pintu. Ia berdiri di hadapanku dan menggendong ransel besar.

“Mungkin kau harus mencari ayah yang lain untukmu, Lara. Kau sudah besar sekarang.” Ia memegang hidungku dan menciumnya. Dahiku persis menempel dengan dahinya.

“Aku akan merindukanmu, putriku.”

“Bukankah aku istrimu, Jo?”

Ia lalu memelukku, “Istri yang tidak pernah kusentuh. Ya, kau istri yang akan selalu memiliki tempat di hatiku, Lara. Jaga dirimu baik-baik. Pilihlah laki-laki yang baik.”

“Jo…”

“Dan ingat, selalu gunakan pengaman.”

Ada air mata di pelupuk mataku dan aku hanya bisa tertawa kecil, ia membalas tawaku dan mengecup dahiku lembut.

“Jo...” Ia menatap ke arahku ketika kupanggil namanya.

“Aku suka membaca apa pun. Aku sangat suka membaca... karena kaulah yang mengajariku membaca. Karena saat aku membaca sesuatu, aku selalu ingat bagaimana tanganmu memegang tanganku dan menunjukkan huruf-huruf satu-satu. Bagaimana kau mengajariku menulis…”

Ia tersenyum, “Itulah sebabnya aku tidak pernah berani menyentuhmu. Seorang ayah tidak akan pernah punya nyali melukai putrinya. Ah, sudahlah.”

Ia lalu pergi.

Dan tidak pernah ada kabar lagi darinya setelah itu meski aku selalu menunggu ketukannya di pintuku.

Berkali-kali pria lain telah mengetuk, mencariku sejak itu. Tidak ada seorang pun yang akan muntah seperti ia ketika pintu kubuka. Dan tidak akan ada seorang pun yang menyerupainya. Seumur hidupku. [*]

9 comments:

  1. keren ceritanya,,,
    miris rasanya,,,mga aja hanya dalam cerita

    ReplyDelete
  2. miris cerita ya,,,
    but nice story
    n mga aj cuma ada dalam cerita

    ReplyDelete
  3. akhiiirnya, si Jo muncul juga ^^
    eh, gimana kabar cerita yang kau kirim di YM tempo hari, Phi, udah selesai?

    ReplyDelete
  4. Foot printin'.

    Salam kenal ^^

    Dipanggilnya Dewi, Kharisma, atau
    Michelle?

    Oh ya, saya link ya ke blog
    akyu... ^^

    ReplyDelete
  5. salam kenal..

    cerpennya bagus.. suka..

    ReplyDelete
  6. agak terlalu dipersingkat keknyah. heheh. tapi idenya menarik. PiHu, gwa nyasar ini dari si Tera di notes FB dia yg :
    http://www.facebook.com/notes/siberproust-tera/panah-hujan/318497049345
    yoo brow, teruskan imajinasimu (atau realita atau apa pun lah. beneran ini mah..)

    ReplyDelete
  7. Lara,sesuai namanya,miris banget,banyak kejutan ga tertebak,great...
    Kenapa ga bikin buku kumpulan cerpenmu aja wik,aku siap bantu bikin foto covernya jika mau :D

    ReplyDelete
  8. wow. pendek tapi dalem.
    brilian :)

    saya pasti jadi sering kesini sesudah ini

    ReplyDelete