Friday, July 11, 2008

Penulis Takdir

"KATUPKAN jarimu, Nak..”

Arya menoleh, seorang pria tua menepuk bahunya, nampak angker dengan rambut dan janggutnya yang panjang beruban, wajahnya yang tirus dan sorot matanya yang kasar mencerminkan keangkuhannya, seolah dia telah mengetahui segala rahasia dunia.

Di hadapan pria tua itu, Arya yang masih berumur belasan sedang duduk bersila, dia mengatupkan jarinya, walau dia tidak tahu untuk apa dia melakukannya. Di sebelah mereka terdapat puluhan buku, dengan lembaran kosong dan belum tertulisi apa pun.

“Ambillah satu buku yang kau inginkan.”

Arya menuruti perintahnya dan terkesima akan apa yang baru saja dia lakukan, seolah dia sedang dihipnotis oleh kata-kata pria tua itu.

“Tulis apa pun yang kau inginkan, kau akan mendapatkannya.”

Aku ingin hidup lebih lama...

Arya lalu menutup buku itu, air matanya membeku di pelupuk matanya, dia baru saja divonis menderita kanker otak dan dia hanya mampu bertahan selama beberapa bulan.
Dia tidak ingin mati secepat itu.

BEBERAPA orang mengelilingi seorang pria yang terkapar penuh luka, Rana menyelip di antara kerumunan yang penuh sesak. Ibunya meraung, memanggil-manggil nama Ayahnya, Arya. Dia tak mengerti apa yang sedang terjadi, yang dia tahu, hujan yang turun kala itu sepenuhnya dipersembahkan untuk menutupi tangis Ibunya, Ibunya terluka.

Arya divonis mengalami amnesia, sementara kakinya divonis harus diamputasi, dan kesedihan Ibunya semakin tak terbendung. Lalu ketika kaki Ayahnya telah diamputasi, Ibunya pingsan seketika itu juga.

"DAPAT dari mana buku itu, sayang?” seorang pria setengah baya membungkuk lalu membelai rambut putrinya. Gadis itu terjengit senang lalu menunjuk sebuah tempat dengan telunjuknya, garis polisi membatasi daerah itu, dengan dua mobil menempel seolah baru saja terjadi tabrakan sengit.

“Aku bawa pulang ya, Pa?”

Pria itu tersenyum dan merenung untuk beberapa saat, “Sini Papa lihat..”

Aku ingin hidup lebih lama.., Aku ingin dia mencintaiku.., Aku ingin hidup bahagia..

Tiap lembar hanya menyimpan satu buah kalimat. Tiap kalimat hanya mengungkap sebuah harapan. Seperti sebuah diary yang usang ditelan waktu.

Pria itu menggeleng, raut wajah putrinya berubah masam.

“Jangan bilang-bilang Mama, ya..” Ucap pria itu seraya menyerahkan buku tebal bersampul hijau toska itu kepada putrinya, kemudian dipeluknya putrinya itu sayang.



DEDEN berlarian lalu melompat ke pelukan Rana. “Pagi, adikku sayang...”

“Aduh, adik kakak ini kok manja sekali, ya?” Rana berusaha melepaskan pelukannya, dan mengambilkan sepiring nasi goreng untuk Ibunya. Ibunya memang tidak biasa menjadikan roti selai sebagai sarapannya. Deden menggeleng keras, lalu menenggelamkan wajahnya di bahunya.

“Papa ada di mana, Kak?” Rana membisu dan akhirnya separuh pagi dia habiskan untuk memandang kosong ke arah rak-rak yang terletak di seberang ruang makan. Ayahnya menggendong Deden, merangkul Ibu, memperbaiki atap rumah mereka yang bocor, menyirami taman, dan kesemuanya menampakkan siluet senyum Ayahnya yang dia rindukan. Foto-foto itu yang berminggu-minggu terakhir menghancurkan Ibunya di kamarnya.

ARYA berteriak dan menggerogoti jemarinya beeberapa hari belakangan, dia dipenjarakan di gudang belakang rumahnya.

Baru beberapa bulan berlalu ketika kecelakaan naas itu menimpanya, kakinya diamputasi, dan seluruh hidupnya dia habiskan di atas ranjangnya. Ketika dia merasa bosan, dia akan menulis dan terus menulis, tentang apa pun.

Dia sendiri bersyukur karena lembar kertas dan goresan pena menjadi karunia baginya ketika seharusnya takdir sudah menguburnya dalam jurang keputusasaan.

Namun dia tak pernah tahu, ternyata semua itu mengantarkannya kepada lembah jurang yang lain. Di saat tulisannya yang selalu berbau kematian menghampirinya dengan kejadian yang terus berulang. Ketika dia menulis tentang satu kematian, dia mendapati kematian orang yang dia sayangi, dan ketika dia melanjutkan untuk menulis, dia menyadari, bahwa dia telah menulis takdir. Apa yang dia tulis akan menjadi kenyataan. Dia seperti seorang penentu, penulis takdir.

Dia terobsesi, dia lalu menulisi bajunya, dia menulisi tiap permukaan kulitnya, dia menulisi seprai, dan ketika semua tempat sudah habis dia tulisi, dia menjatuhkan dirinya ke lantai, lalu merangkak, dia menulisi tembok lalu membeturkan kepalanya. Ketika tinta sudah habis, dia menulis dengan darahnya.

Aku ingin mati, kalimat itu yang terus dituliskannya, di setiap tempat, dengan tinta dan juga darahnya, ataupun dengan kukunya yang terus dia goreskan pada kulitnya yang memar.
Rana terus memerhatikan Ayahnya dari balik tirai, dia tahu bukan maksud Ibunya untuk memborgol kedua tangan Ayahnya sedangkan kedua kakinya memang sudah diamputasi, itu semua dilakukan Ibunya demi kebaikan Ayahnya. Entahlah. Entah apa yang terjadi, atau telah terjadi sebelumnya.

"SAYA tidak ingin lagi melakukan tumbal.” Ucap Arya kepada pria tua di hadapannya yang puluhan tahun lalu membantunya untuk mempelajari aliran kepercayaan yang membuatnya bisa menggariskan takdirnya sendiri ataupun orang-orang di sekitarnya.

Dia lalu menyerahkan sebuah buku bersampul hijau toska, namun ditepis oleh pria tua itu, “Seminggu lagi kembalilah kemari.”

Arya kemudian bergegas pergi, dia tidak butuh lagi segala kenikmatan fana yang dijanjikan dapat dilakukan oleh buku yang sedang dia pegang itu, dia sudah memiliki keluarga yang bahagia. Baginya, itu saja sudah cukup.

"MA, buku aku di mana sih?” seorang gadis bertanya pada Ibunya, “mama bakar, ya?”

Gadis kecil itu kemudian memandang ke dalam baskom, asap masih mengepul, Ibunya tak memerhatikan raut sedih putrinya, “Buku itu kotor, sayang. Nanti Mama belikan buku yang lain.”

“Aku maunya yang itu, Ma......” putrinya menangis dan menarik dasternya manja.

Duaaar... Sebuah ledakan terjadi. Berbarengan di dua tempat. Ibu dari gadis kecil itu melarikan putrinya ke ruang tamu karena shock akan ledakan yang baru saja terjadi di dalam baskom yang dia gunakan untuk membakar sampah. Sementara di tempat lain, sebuah kompor gas meledak, Arya berteriak-teriak, api melalap tubuhnya lamat-lamat, perlahan api menyerap pada seluruh permukaan tembok dan beberapa saat kemudian telah habis membakar sebagian ruangan tempat Arya dipenjarakan.

Aku ingin hidup lebih lama..., dia mengingat kalimat itu sementara api terus menjilati tubuhnya. Dia mengingat buku bersampul hijau toska, dia mengingat istri dan putrinya, betapa lamanya dia tertidur dalam pikirannya dan ketika dia telah pulih dari amnesia, segalanya telah terlambat. Dia telah mati karena sebuah buku. [*]

No comments:

Post a Comment