2021/12/24

Perkawanan Perempuan Menulis: Ingatan Perempuan dalam Narasi Lokal

Ingatan tentang ibu sebagai seorang filatelis yang menyimpan setiap edisi perangko terbitan Perum Pos (PT Pos Indonesia), yang sialnya lebih sering mencetak gambar Soeharto dengan pose sama, adalah salah satu “ingatan kanak-kanak” perihal Orde Baru dari Raisa Kamila, salah seorang pendiri kolektif Perkawanan Perempuan Menulis, yang ia bagikan dalam epilog buku debut mereka—berdampingan dengan ingatan kelima rekannya serta para perempuan yang mereka temui dan tampilkan kisahnya lewat delapan belas cerita pendek. Tank Merah Muda, judul buku itu, oksimoron yang mendampingkan tank berkonotasi garang dengan warna merah muda yang lembut, adalah kumpulan cerpen berisikan berbagai pertanyaan tentang kehidupan masyarakat selama dua dekade pasca-Reformasi, cerita-cerita yang luput dari pengetahuan publik, hingga peran, posisi, dan pengalaman perempuan dalam masa transisi ekonomi-politik tersebut. Memperoleh hibah Cipta Media Ekspresi dengan lisensi creative commons, buku tersebut dapat diakses gratis melalui tautan berikut: Tank Merah Muda.

Bersama dengan Amanatia Junda dari Sidoarjo, Maria Margareth Ratih Fernandez dari Larantuka, Armadhany dari Makassar, Ruhaeni Intan Hasanah dari Pati, dan Astuti N. Kilwouw dari Ternate, Raisa yang berasal dari Banda Aceh menggagas kolektif Perkawanan Perempuan Menulis pada 2018. Gagasan mula-mula mereka adalah membentuk suatu kolektif tempat belajar menulis bersama dan membagikan kecintaan mereka akan sastra—mereka menyebutnya, “sebuah ruang belajar menulis oleh dan untuk perempuan”. Meski sama-sama belajar menulis secara informal di berbagai tempat, kali pertama pertemuan langsung di Yogyakarta terjadi pada pertengahan Juli 2018. Seiring waktu, mereka terpantik mengisi celah dalam kesusastraan negeri ini, untuk mengangkat suara para perempuan, di luar ibukota, di luar arus dan aktivisme politik negeri, dari kalangan orang biasa-biasa saja, tentang apa saja yang terjadi pra- dan pasca-Reformasi.

Bahkan sebelum pandemi, kolektif ini menunjukkan betapa mereka berhasil mengatasi batasan geografis dengan modal pertemuan virtual dan menanggapi isu-isu terbaru terkait keperempuanan dan kesusastraan dalam karya-karya mereka—inisiatif yang ideal untuk diselenggarakan di sebuah negara dengan bentuk kepulauan dan ruang-ruang sastranya yang masih teramat maskulin. Pada 2020, kolektif dengan semboyan “merangkul, menulis, bertumbuh” ini bahkan berhasil mengundang lebih banyak lagi kawan perempuan penulis untuk bergabung dengan mereka. Sebanyak 25 peserta—dari berbagai kota berbeda—dari total 341 pendaftar mengikuti lokakarya virtual riset dan kepenulisan yang mereka selenggarakan, lantas berproses bersama, dan resmi tergabung dalam kolektif Perkawanan Perempuan Menulis ini. Karya-karya peserta lokakarya di gelombang kedua ini dapat diakses melalui tautan berikut: Perkawanan Perempuan Menulis.

Dalam wawancara ini, mereka menuturkan bagaimana mereka mulai berproses untuk belajar menulis dan meriset dengan lebih terstruktur. Mereka juga menjelaskan perihal ekosistem sastra maupun kampus yang sebelumnya mereka hadapi di enam provinsi masing-masing, hingga pentingnya menghadirkan “suara perempuan” di dalam khazanah literatur negeri ini. Sekelumit kisah tentang pengerjaan Tank Merah Muda dan berbagai pengisahan dari luar Jakarta pun mereka utarakan. Fokus kolektif pada tema sejarah dan lokalitas memang ditujukan untuk menghadirkan lebih banyak suara perempuan dari berbagai provinsi di Indonesia tentang berbagai isu lokalitas dalam latar sejarahnya masing-masing. Pada akhir percakapan, mereka membagikan pula inspirasi yang dapat dipetik dari praktik kolektif ini. Berikut ini adalah obrolan Dewi Kharisma Michellia dari tengara.id dengan Perkawanan Perempuan Menulis.

Berproses Bersama dalam Satu Kolektif

Mendapatkan energi six degrees of separation, keenam anggota Perkawanan Perempuan Menulis mengaku bahwa mereka “dipertemukan secara random”. Seiring jalan, mereka menjembatani batasan geografis dengan membentuk grup virtual “emerging writers” dan mengomunikasikan rencana mereka untuk menyusun Tank Merah Muda.

 

DEWI KHARISMA MICHELLIA

Kalian berenam berproses dan studi di Yogyakarta. Sementara kita tahu, ada juga sekian juta anak muda memilih kuliah di Yogya, bukan berarti mereka akan bikin kolektif seperti kalian, dan belum tentu juga akan angkat tema yang membahas perempuan atau isu-isu yang kalian usung dalam Tank Merah Muda. Meski kalian sudah menuliskannya dalam epilog buku, boleh ceritakan kembali bagaimana kalian dipertemukan dan membentuk Perkawanan Perempuan Menulis?

 

AMANATIA JUNDA

Awalnya, saat ada pembukaan hibah Cipta Media Ekspresi, Raisa baru pulang dari kuliahnya S2 di Leiden, saat itu dia di Aceh dan aku di Sidoarjo, kami sama-sama di kampung dan saling kontak. Dari sana tercetus ide, sepertinya seru deh untuk bikin cerpen bareng, yang ringan-ringan, dan kalau bisa, ajak teman lain. Saat itu, kami sudah berpikir untuk mencari teman dari berbagai daerah yang berbeda. Raisa dari Aceh, aku Jawa Timur, Ruhaeni dari Semarang, Ratih dari NTT, Dhany dari Makassar, dan Tuti dari Maluku Utara. Begitulah, pembentukan PPM disemangati untuk berkumpul dari berbagai daerah, dari 6 provinsi ini.

 

RAISA KAMILA

Dulu aku kuliah di Yogya, enggak pernah ketemu Ratih, Dhany, atau Tuti, apalagi Intan, sama Natia juga cuma 2-3 kali ketemu, enggak pernah benar-benar intens. Sewaktu aku S2, seorang temanku, Brita cerita tentang Natia, kami punya hal yang bisa kami bagi bareng. Kami mulai sering ngobrol, Natia kirim cerpennya ke aku, terus aku baca.

Aku merasa kayaknya seru kalau kita bisa belajar bareng kayak begini. Jadi serasa ada visinya. Terus, ngobrol-ngobrol, waktu ada pembukaan hibah CME, aku pas sedang baca arsip tahun 1990-an, dari sana kami terpikir, “Kayaknya seru, deh, menggarap sesuatu tentang periode 1990-an”. Terus, ya, akhirnya, “Ayo, kita bikin sesuatu bareng, yang bisa antardaerah.”

Waktu itu, dalam bayanganku, pengin bikin sesuatu yang bisa menghasilkan karya. Bisa jadi kayak semacam kolektif. Memberi alternatif terhadap pemahaman sejarah, periode 1990-an, dan sejarah di daerah masing-masing.

 

AMANATIA

Terus, kami coba ajak Intan, Ratih, Dhany, Tuti. Dan terkumpullah kami di grup WhatsApp yang kami namai “emerging writers”, tanpa tahu kenapa harus bikin nama grup itu. Awal mulanya sangat random, tapi kami enggak punya beban besar di awal harus bagaimana ke depannya.

 

MICHELLIA

Jadi, kalian akhirnya sepakat mau menulis soal sejarah. Lalu, kalian apply hibah dari CME. Kalau dari Dhany, Intan, dan Ratih, setelah mendapat kabar itu, bagaimana berprosesnya di grup emerging writers itu?

 

MARGARETH RATIH FERNANDEZ

Sewaktu diajak, aku belum benar-benar terang kita mau bikin output apa. Aku antusias, karena saat itu awal 2018, aku baru mau dua tahun lulus dan kerjaku masih serabutan. Karena terlalu sibuk kerja sana-sini dan merasa kurang gaul dengan teman-teman di luar circle kuliah, jadi, waktu diajak, aku pikir, oke juga ada circle pertemanan baru ini. Walau setelah masuk PPM pun, jadi merasa, “Oh, circle-nya tetap di situ-situ saja, ternyata.”

Begitu diajak, kita memang berproses dari nol banget. Clue di awal hanya tema Reformasi. Tapi kemudian kenapa kita memutuskan cerpen, dan kenapa perlu melakukan riset kembali ke kampung halaman masing-masing, semuanya berproses banget. Senang, karena bisa memulai sesuatu dari dasar.

 

RUHAENI INTAN

Waktu itu, aku dapat pesan dari Raisa, aku belum menghasilkan karya apa pun, jadi masih merasa minder, “Kok, aku dipilih, kenapa, ya?” Terus, Raisa bilang dia ajak aku karena dia baca blogku. Di awal itu, memang proyek ini belum mengerucut mau mengangkat cerpen sejarah seputar reformasi.

 

ARMADHANY

Saya kenal dari Natia. Kebetulan saya studi di Jogja dan ikut komunitas menulis, Bengkel Gerakan Literasi Indonesia (GLI). Waktu itu, diajak Natia pas saya masih di Thailand.

 

ASTUTI N. KILWOUW

Sebenarnya proses kami dipertemukan sangat random karena kebetulan kami punya mutual-friend yang sama. Misalnya, dari keenam kawan, sebelumnya saya hanya mengenal Natia dan Dhany. Kami beberapa kali ketemu di agendanya GLI. Setelah lulus S2, saya kembali ke Ternate dan dihubungi Natia untuk menggarap kumpulan cerpen bareng lima kawan lainnya.

 

Ekosistem Menulis Sastra di Enam Provinsi

Sebagai negeri kepulauan, ketimpangan akses antara satu wilayah dan wilayah lain sudah setua usia republik. Sudah jadi rahasia umum, bahkan di era keterbukaan informasi seperti sekarang, seorang anak daerah harus bekerja ekstra agar bisa masuk konstelasi sastra Indonesia. Bukan hanya jarak yang perlu ditempuh dengan sekian kali ganti kendaraan, mendapatkan akses atas informasi (sayembara, lomba, hibah, kesempatan karier di gelanggang sastra ataupun industri perbukuan, hingga ke akses penerbitan) ataupun “menyesuaikan selera” dengan ukuran-ukuran kesusastraan lembaga sastra tingkat nasional kerap perlu mereka upayakan ekstra.

Dalam khazanah sastra negeri ini, lazim kita ketahui kisah tentang Chairil Anwar dari Payakumbuh yang merantau ke Jakarta dan menginap saban hari di kantor Balai Pustaka. Delapan puluhan tahun kemudian, para penulis Indonesia masih perlu menempuh perjalanan kultural yang sama agar mendapat akses ke sastra Indonesia. Termasuk di dalam rombongan itu adalah para penulis perempuan.

Hingga berangkat studi ke Yogyakarta, Ratih mengaku tidak tahu satu pun komunitas sastra di daerahnya. Barulah pada 2013, ia mengenal Komunitas Dusun Flobamora, dan itu pun dari biodata buku puisi Mario F. Lawi, Memoria, lantas ia cari secara acak informasinya dari Facebook. Dari sanalah ia kemudian mengenal komunitas lainnya, Komunitas Kahe di Maumere, komunitas yang melakukan penggalian dan pengembangan budaya lokal. Setelahnya, Ratih intens mengikuti pertumbuhan komunitas berbasis literasi dan budaya di daerahnya. Termasuk Simpa Sio Institut di Larantuka yang digagas oleh Eda Tukan bersama ayahnya, seorang penulis dan budayawan lokal, dengan fokus pada perawatan dan akses arsip terkait budaya suku Lamaholot di Kabupaten Flores Timur.

Sementara, Raisa terlibat dalam aktivitas komunitas sastra di Banda Aceh sedari remaja, persisnya saat ia melewati masa-masa rehabilitasi dan rekonstruksi sesudah bencana tsunami. Ia sempat ikut kelas menulis yang diadakan oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh, Seuramoe Teumuleh lantas Sekolah Dokarim yang diadakan Komunitas Tikar Pandan. Belakangan, ia terlibat aktif di perpustakaan komunitas Rak Baca T36 yang rutin mengadakan diskusi buku di kalangan pegiat literasi di Aceh.

Amanatia pun beberapa waktu terakhir mengamati perkembangan ekosistem sastra di Sidoarjo yang semakin dinamis, dari Dewan Kesenian Sidoarjo yang berperan menumbuhkan bakat baru di daerahnya, lewat grup WhatsApp Majelis Sastra Sidoarjo, hingga terbitan buku bertajuk panorama sastra Sidoarjo.

Apa yang mereka rasakan sebagai “gadis daerah”, dulu dan kini, serta bagaimana kolektif Perkawanan Perempuan Menulis ini bersiasat menghadapi berbagai keterbatasan di lingkup ekosistem sastra daerah mereka dan di lingkup kampus?

 

MICHELLIA

Memang terasa banget bahwa Perkawanan Perempuan Menulis ini, kan, berangkat dari semangat untuk menjadi suatu kolektif yang sama-sama belajar lebih dalam seputar dunia tulis-menulis. Meski kalian tentunya juga sudah memulainya masing-masing secara informal, kalian menulis di blog pribadi dan semacam itu.

Bagaimana pandangan kalian tentang ekosistem dan dunia tulis-menulis di Indonesia sebelum kalian akhirnya punya buku tunggal ataupun buku debut kolektif bersama ini? Bagaimana kalian melihat dunia sastra sehingga, kok, kalian merasa “Oh, kita perlu, nih, berkawan dan belajar menulis bareng,” dan lalu berproses di PPM?

 

RAISA

Aku belajar menulis sejak sebelum kuliah, pas SMA, waktu aku masih di Aceh. Pas aku di Aceh juga sudah lumayan terpapar sama penulis-penulis dari Yogya dan penulis-penulis dari Jakarta. Jadi, waktu itu karena sudah baca karya-karya Puthut Ea, Eka Kurniawan, Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Dewi Lestari, jadi aku merasa, sebagai gadis daerah, “masuk ke sastra” tuh berat, untuk menjadi penulis yang diterbitkan, rasanya kayak mau jadi selebriti. Kayaknya susah banget. Itu kayak suatu industri yang jauh dan enggak terjangkau.

Apalagi waktu di Aceh, aku sempat belajar di Sekolah Dokarim yang digarap Komunitas Tikar Pandan. Memang mereka kerap mengundang orang-orang dari luar Aceh untuk mengisi workshop dan kelas belajar. Tapi aku malah makin merasa kalau untuk menjadi penulis itu susah banget. Entah itu perempuan, entah lelaki, orang daerah rasanya susah untuk menembus. Aku merasa dulu kayak ada batasan, ada banyak pos satpam yang harus dilewati untuk menjadi penulis yang top di Jakarta, yang kayak sekaliber Dewi Lestari. Terus, kayaknya harus pintar, harus bisa bahasa Inggris, harus baca Don Quixote, apalah.

Melihat infrastruktur daerahku waktu di Aceh, baru sehabis tsunami aku belajar menulis yang agak serius. Tahun 2007 itu enggak ada toko buku, bahkan Gramedia aja baru ada tiga tahun lalu di Aceh. Jadi, memang susah banget. Nah, karena itu juga habis tsunami, aku juga sempat belajar menulis sendiri di Medan. Aku sempat tinggal di Medan selama 6 bulan. Karena sekolahku lumayan dekat Gramedia dan waktu itu lagi ngetren teenlit segala macam, aku sempat pengin bikin teenlit yang diterbitkan Gramedia. Aku coba menulis dengan komputer pinjaman di rumah tanteku. Lalu, naskah itu kukirim, dan gagal, terus aku merasa, “Oh, ternyata memang susah nerbitin buku.” Ya, susahlah, tulisanku juga jelek banget.

Sewaktu aku di Yogya dan berinteraksi dengan teman-teman di komunitas sastra, perasaannya bukan “aku orang daerah yang enggak pernah baca buku apa-apa”, tapi ditambah juga “aku perempuan dan rentan”. Karena di komunitas sastra kadang-kadang suka diskusi sampai tengah malam—aku enggak ada masalah sama orang merokok atau mabuk-mabukan—tapi aku enggak merasa nyaman dan aman jadi perempuan, saat itu sendirian, dan harus menoleransi itu.

Waktu itu, aku juga jadi terpikir, “Ada enggak, ya, penulis perempuan yang punya keluarga?” Karena waktu itu kayaknya yang aku dengar dari mana-mana, tuh, penulis perempuan itu enggak usah menikah, enggak usah punya anak, karena nanti enggak bisa berkarya. Jadi rasanya pengalaman belajar di Jogja dan Aceh itu kayak dipersulit. Harus pintar, harus garang, harus melawan segala hal, harus siap mabuk kapan saja. Sori, ya. Terus, semacam ada keharusan untuk dapat pengakuan dari satpam-satpam sastra, dapat petunjuk dari mereka: “oh, aku harus baca karya yang ini”, “harus minta pendapat ke oom yang ini, ke abang yang ini”. Beberapa kali ada momen yang enggak menyenangkan dengan penulis laki-laki, tua dan muda, yang mereka kadang-kadang patronizing diri mereka, di Aceh, di Jakarta, di Yogya, entah kenapa aku ketemu terus. Sial banget. Dan untuk bisa ketemu orang yang pengin belajar aja, dan melihat aku sebagai partner yang setara, rasanya susah banget.

2021/11/17

Teratai Merah Isan

 
 
Cerita pendek ini juga dimuat di Bacapetra.co


Di siang yang terik itu, Paman Hansa pulang bersama Kalaya dan Phichai dengan membawa bahan dan racikan bumbu untuk membuat som tam. Saat mereka datang, Ibu masih mengurai serat-serat teratai di teras rumah. Baru pagi tadi lagi-lagi aku mendengar Ayah mengeluhkan kepada Ibu soal panen teratai yang hampir gagal karena hama siput. Awalnya siput-siput itu dibudidayakan untuk diekspor ke Eropa dan menjadi makanan, tapi lambat laun justru berkembang menjadi hama.

Pada tahun-tahun di masa silam, kain-kain sutra terbaik memang lebih banyak diimpor oleh orang-orang di negeri ini dari Suzhou. Kualitas kepompong dan teknik pengolahan kain sutra mereka jadi alasan pemerintah mengimpor. Pada kenyataannya, kami tahu itu hanya gara-gara harganya murah saja. Karena itu, kami tak gentar bersaing. Produksi sutra dari teratai kami pikir bisa diteruskan, karena kami bersaing dengan memproduksi sutra organik dan dengan pewarna alami. Begitulah kemudian orang-orang di desaku terus berusaha untuk memperbaiki kualitas. Teratai dibudidayakan dan dirawat dengan lebih telaten. Untuk pewarnaan kain, Ayah memasok nila, kayu nangka, akar jinten, lumut, buah beri, dan kulit pohon kunyit yang memberikan warna kuning khas dan menjadikan kain produksi kami tak dipandang remeh. Kini, Ayah hanya tinggal berurusan dengan bagaimana caranya mengatasi hama-hama itu.

Satu demi satu lagu Carabao terlantun di udara saat Paman Hansa melepas helai demi helai pakaian yang dikenakannya. Dapat kulihat beberapa bekas luka di punggungnya yang telah lama mengering. Entah apakah Kalaya sempat melihat beberapa luka yang telah lama mengering itu, tapi dengan tangkasnya adik perempuanku itu segera membawa tumpukan baju kotor dengan baskom untuk dicuci di belakang rumah.

Sementara melihat mereka membersihkan diri, aku masih terpekur di ayunan rumah kami, menikmati kesendirianku dengan buku bacaanku, karya Jit Phumisak pemberian Paman Hansa beberapa pekan lalu. Phichai, adik lelakiku, tak lama kemudian ikut duduk di ayunan di hadapanku. Dia menyerahkan sepiring som tam ke arahku. Kutaruh buku di pangkuan dan lantas menyuapi sesendok untuknya.

“Enak? Bagaimana perjalanan kalian sepekan ini?” tanyaku.

Paman Hansa adalah seorang petualang. Usianya sudah 60 tahun sekarang, dan sejak kami kecil masing-masing dari kami sudah menemani Paman untuk melakoni berbagai pekerjaan serabutan mengelilingi negeri.

Dari menumpang van dan pikap atau bus yang lewat untuk menjual rajutan sutra ibu di Pasar Phahurat, berdagang bunga di Sang Khom yang hanya bakal laku keras pada hari-hari Festival Loi Krathong, hingga menjadi pemandu wisata bagi farang di pasar malam Patpong. Atau, sekadar iseng pasang judi togel tiap minggu kedua dan keempat di Rayong atau Nakhon Ratchasima.

Dari cerita Phichai, aku jadi tahu Paman Hansa sempat menghajar sampai babak belur seorang penipu di Patpong. “Oh, ya?” tanyaku terbahak.

“Ya, dan kita tahu Paman punya lebih banyak teman preman setempat. Tentu dia yang menang.”

“Seru sekali, bertemu banyak chao-poh,” komentarku. “Seandainya aku ikut.”

“Kakak sudah siap untuk ujian?” tanya Phichai.

Aku mengangguk, dan Phichai memberikan senyumnya yang begitu lebar.

Pekan depan, aku yang akan pergi ke Bangkok dengan Paman Hansa, tapi tidak seperti biasanya, kali ini untuk mengikuti ujian masuk Universitas Thammasat. Sementara aku ikut ujian, Paman sudah merencanakan dia akan menjual jimat (phra khrueang) atau membacakan rasi bintang (jyotisha) para pengunjung di pasar dekat kampus Tha Phra Chan. Dia selalu tahu apa yang bisa dijual dan bagaimana cara membawa uang pulang ke rumah, atau sekadar mengganti ongkos perjalanan kami pulang-pergi Bangkok.

Sebetulnya aku tidak merasa cukup pintar untuk perlu melanjutkan ke perguruan tinggi. Namun, Paman Hansa memaksaku karena kebetulan beberapa bulan lalu dia menang judi togel. Ia menukar simbol yang ia lihat dalam mimpinya dengan satu tiket lotere pemerintah seharga 40 baht, dan aku masih ingat wajahnya yang sumringah saat memenangkan hadiah lotere 100.000 baht itu. Saat itu, ia langsung yakin ia harus menggunakan hadiah itu untuk membiayai kuliahku.

Maka, begitulah, kini aku diwarisinya buku-buku Jit Phumisak yang selama ini disimpannya rapat-rapat di dalam lemari. Paman ingin aku mengenal tiga generasi gerakan radikal di negeri ini. “Dan kita harus bangga orang kita pernah turun ke jalan menjadi Kaus Merah,” ujarnya saat memberikan buku itu kepadaku, Wajah Sejati Feodalisme Thailand.

Sebagian besar generasi pertama radikal ini adalah komunis Tiongkok-Thailand yang punya hubungan dekat dengan Partai Komunis di Tiongkok dan Vietnam sebelum dan selama Perang Dunia II. Beberapa dari mereka ikut mendirikan Partai Komunis Siam pada 1930, yang kemudian menjadi Partai Komunis Thailand pada 1952. Jit, idola Paman Hansa, lahir tahun 1930. Generasi kedua adalah kalangan intelektual urban yang menyebarkan sosialisme ke seantero negeri. Dan generasi ketiga terdiri dari para aktivis mahasiswa yang menentang rezim militer Thanom Kittikachorn dan terlibat baku hantam dengan pasukan paramiliter dalam kerusuhan Oktober 1976, lantas masuk ke hutan dan menjalankan gerakan klandestin.

Paman Hansa adalah salah seorang aktivis dari generasi ketiga, ikut dalam gelombang kerusuhan itu, dan masih menyimpan banyak bacaan radikalnya semasa di kampus Thammasat dulu. Kekasihnya sejak masa sekolah menjadi korban yang tewas dalam kerusuhan dan Paman Hansa karena demikian mencintainya lantas memutuskan hidup selibat.

Kisah hidup Paman Hansa berbeda dengan banyak temannya yang dituduh komunis dan kini menjadi biksu Buddhis. Salah seorang temannya yang biksu, selain membantu pembangunan desa, malah dengan berani berurusan dengan chao poh setempat di Dataran Tinggi Korat. Sementara Paman Hansa memilih hidup biasa-biasa saja mengurus para keponakannya.

2021/08/19

Sabda Armandio: Berkeliling Semesta Spekulatif

Sabda Armandio mulai dikenal di jagat perbukuan Indonesia sejak menerbitkan novel debutnya Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya pada 2015. Manuskrip novel itu dirampungkannya sejak di bangku SMA dan baru dimatangkannya pada akhir 2013, dan lantas ia unggah di blog pada 2014. Takdirnya mujur karena entri blognya itu kelak dibaca oleh Dea Anugrah, yang lantas menjadi editor untuk novel debut Dio dan dengan lekas menjadi karibnya. Enam tahun berselang, Dio yang kerap berseloroh “menulis itu sebenarnya memuakkan”, kini telah menerbitkan tiga buku lain, novel 24 Jam Bersama Gaspar: Sebuah Cerita Detektif (2017), novela Dekat dan Nyaring (2019), dan kumpulan cerita Kisah-Kisah Suri Teladan (2019).

Berbeda dari karakter tokoh di dua buku pertamanya yang tampak ringan dengan pendekatan cerita menyambut masa bujang (coming of age) dan pertualangan detektif partikelir memecahkan masalah yang ganjil, novel terakhirnya Dekat dan Nyaring menghadirkan tragedi hidup manusia dibalut kemiskinan yang begitu kompleks, lebih kompleks daripada cerita detektif ala Gaspar. Dari buku terakhirnya ini, kita dapat ikut merasakan betapa kemiskinan begitu dekat dan nyaring. Masih sama dengan karya-karyanya yang lain, bagaimanapun, Dio dengan kuat menjajal humor dan ironi—dua unsur yang kental dalam gaya narasinya—untuk menggarap karakter para penghuni Gang Patos itu. Dengan mulusnya ia menceritakan bagaimana orang-orang bergulat bertahan hidup dengan moda apa pun, tak tanggung-tanggung novel ini menegaskan tagar #jakartaitukeras dengan pembuka novelnya yang menghadirkan percakapan perihal daging ular asap hingga ganja palsu dari bunga bokor—hal-hal yang akrab dalam hidup warga di wilayah kumuh tersebut.

Lewat Mongrel, cerita bersambungnya yang terbit berkala di Kumparan+, Dio masih memberi nama aneh bagi karakternya, sebutlah “Wortel”, dan bercerita tentang paguyuban, cybercommunism, alam kuantum, botani, mimpi dan alam bawah sadar yang diprogram secara sosial, bebek dengan empat kaki dan empat sayap, kode biner dan ASCII yang mesti dipecahkan sebuah Forum Federasi Pelajar, dan hal-hal lain yang terasa “begitu Dio”: abstrak, anomali, dan acak. Namun, dari keacakan itu, ia berhasil menghadirkan keutuhan, sebuah harmoni dalam semesta yang chaos. Membaca Mongrel, kita mungkin akan mengingat bagaimana 24 Jam Bersama Gaspar juga bercerita soal kotak hitam misterius yang konon bisa membuat pemiliknya kaya raya, toko emas milik Wan Ali, motor Kawasaki KZ200 Binter Mercy keluaran 1976, dan kronologi perampokan yang dihadirkan dalam wujud transkrip wawancara.

Bagaimana kekhasan bercerita dan narasi-narasinya yang spekulatif ini bermula? Sejak kapan Dio menemukan “suara kepenulisan ala Dio” ini? Dalam obrolan berdurasi 2 jam ini, Dio menceritakan tentang bagaimana ia tumbuh besar dengan cerita-cerita yang dikisahkan saat bersepeda dengan kakeknya, ketertarikannya pada dunia komputer lantaran terbiasa melihat pekerjaan ayahnya yang mereparasi komputer pelanggan, hingga bagaimana tanggapan Dio tentang masalah umat manusia hari-hari ini: dari kebangkitan fasis hingga perubahan iklim. Berikut ini adalah obrolan Dewi Kharisma Michellia dari Tengara dengan Sabda Armandio.

 

Bersepeda dengan Kakek

Beberapa penulis tumbuh dengan cerita yang dituturkan oleh orang tua mereka. Dio, dengan kedua orang tua yang sibuk, memperoleh itu dari sang kakek maternal yang seorang dalang.

 

DEWI KHARISMA MICHELLIA

Di beberapa wawancara, kamu cerita tentang kakek maternalmu. Apakah sedemikian membekasnya bagimu punya kakek seorang dalang? Kamu juga bilang, di keluargamu tradisi lisan lebih kuat daripada tradisi tulisan.

 

SABDA ARMANDIO

Nah, kalau ditelusuri, kebiasaanku mendengarkan cerita lahir dari lingkungan di sekitarku. Jadi, ya betul, kakekku adalah dalang, dia anggota Bakoksi Pekalongan. Periode pertengahan 1960an, dia pergi dari Pekalongan, ke Garut, dan terus dari Garut langsung menetap di Jakarta di atas tahun 1965. Mungkin sekitar tahun 1967an. Aku lupa. Pokoknya, setelah itu, keluarga kami pindah. Mamaku menikah, dan pindah ke Tangerang, dan aku lahir di Tangerang. Kakekku ikut pindah ke rumah kami. Dari Manggarai—dulunya kami tinggal di Manggarai—jadi tinggal di Ciledug, Tangerang. Mamaku menikah tahun 1989, dan sudah mulai tinggal di Ciledug. Papaku kerja di daerah Pasar Ciledug, di wilayah bisnis di sana.

Waktu itu, pembangunan lagi masif. Mamaku juga buka semacam salon, jadi, kira-kira kayak begitu. Kakekku pindah ke rumah kami. Waktu itu aku masih TK, tahun 1996-1997. Rumah kami ada di antara pusat Kota Ciledug—kalau istilah itu ada—dari sana kamu tinggal naik sepeda. Kalau mau lihat pembangunan, Bintaro baru dibangun, atau ke sektor di sekitar Stasiun Sudimara itu, tinggal naik sepeda.

Jadi, kakekku, selama tinggal di rumah kami—saat Mama lagi mengurus adikku, Papa di kantor—biasanya mengajak aku keliling-keliling naik sepeda. Di perjalanan itu, dia sambil bercerita. Mungkin dia juga kangen bercerita. Aku juga baru tahu dia dalang sewaktu aku SMP-SMA. Aku juga enggak pernah tahu sebelumnya dia bekerja apa. Yang aku tahu, dia ada di rumah, dan suka mengajak main.

 

MICHELLIA

Enggak pernah pentas lagi, begitu? Apa enggak ada wahana bagi dia untuk menyalurkannya di sanggar-sanggar di Ciledug?

 

DIO

Enggak pernah. Kan, Bakoksi dibubarin, ya?

Setelah menetap di Jakarta, dia memilih profesi lain untuk menghidupi keluarganya. Kakekku, ya, suka mengajak aku jalan-jalan, dan cerita. Dia suka membenturkan dongeng-dongeng yang dia ceritakan, dengan kejadian yang lagi hangat sehari-hari. Atau, ya, lebih ke merespons mobil atau bulldozer yang kami lihat di jalan, misalnya.

Sekitar 1999, aku pindah-pindah. Dari Ciledug, sempat di Pamulang, terus sempat di Bojongsari. Lalu, menetap di Bogor, karena di tahun 1998 papaku kena PHK. Jadi, dia cari akses pekerjaan yang lebih gampang. Bagiku waktu itu, kerugian yang aku alami adalah aku jadi susah punya teman. Waktu itu aku baru kelas 1 atau 2 SD, posisi kakekku jadi penting karena dia yang menemaniku main, dia ikut pindah-pindah terus dengan keluarga kami.

Sampai, akhirnya, menetap di Bogor, masuk SD dan SMP, dari sana mungkin, ya. Pas di Bogor, karena waktu itu zamannya judi togel, orang-orang yang suka pasang judi togel itu menganggap aku pintar. Kalau ke orang lain, biasanya, kan, suka ditanya mimpinya apa. Kalau aku, dikasih angka, disuruh bantu ngecak kode, menghitung secara matematis. Dari situ, mereka sering cerita, dari mana mereka mendapatkan kode atau wangsit untuk judi-judi mereka itu. Mereka juga suka bertingkah aneh, ada yang memancing kodok, tidur di kuburan, atau makan bubur di pemakaman Cina. Semuanya yang mereka lakukan terkait sesuatu yang mistik. Kalau dipikir-pikir mirip kultus Pythagoras. Waktu itu, aku enggak punya opini apa-apa soal itu. Aku lihat mereka cuma abang-abangan, yang suka bercerita ke anak kecil.

2021/07/28

Mengunjungi Buku Cerita Anak Lawas

Perkenalan saya dengan dongeng dan fabel bermula dari cerita ayah dan ibu setiap petang, mereka bertukar peran untuk mendongeng (yang hebatnya, mereka hafalkan), juga terkadang nenek (yang bukan membacakan, melainkan menyanyikan kisah tentang katak), dan ketika saya sudah cukup umur untuk membaca sendiri kisah-kisah tersebut, maka dimulailah petualangan saya dengan beberapa buku cerita anak.

Panchatantra adalah teman pertama yang menumbuhkan rasa sayang, saya bawa ke mana pun, dan membuat saya menangis di jok belakang mobil saat membacanya karena salah satu ceritanya yang menyentuh. Tahun 1996 lalu, versi bahasa Indonesianya saya peroleh dari sebuah toko buku kecil dengan rak-rak berdebu di Denpasar. Versi gratis berbahasa Inggris dari fabel tipis dari wikisource ini kurang-lebih sama dengan yang saya baca dulu. Meliputi lima payung besar cerita yang saling terkait tentang kehidupan hewan. Barangkali setara dengan fabel Aesop. Dari buku ini, kita dapat belajar kejiwaan manusia; sikap persahabatan, kelicikan yang tersembunyi dan bagaimana menghindar dari petaka yang disebabkannya, hingga pentingnya bersikap cerdik dan hati-hati.

Kawan selanjutnya adalah Mahabharata dari RA Kosasih (Penerbit Erlina). Komik wayang hitam putih tebal dan berukuran besar ini diberikan ayah karena dia sudah bosan saya mintai mendongeng tentang kisah panca pandawa sebagai dongeng sebelum tidur. Gubahan oleh RA Kosasih ini sudah diterbitkan sejak tahun 1950-an, mengambil cuplikan kisah dari  Adiparwa, salah satu bagian dari Astadasaparwa (delapan belas bagian) epos Mahabharata yang dikarang oleh Bhagawan Byasa. Bermula dari Dewi Gangga yang melahirkan Bhisma, hingga ke kehadiran lima pandawa dan seratus korawa. Darinya saya belajar tentang karmaphala, konsep mengenai karma (sebab-akibat) yang berlaku dalam kehidupan.

Dua buku itu dari masa taman kanak-kanak hingga awal sekolah dasar. Setelahnya, ada begitu banyak buku cerita anak yang sama menariknya. Dari buku-buku cerita bergambar yang saya sudah tak ingat lagi apa judulnya atau siapa pengarangnya hingga banyak judul populer lainnya yang sepertinya masih digandrungi hingga saat ini.

Komik Mafalda karya Quino (Kepustakaan Populer Gramedia, 2009) saya temukan belakangan, saat menggandrungi blog sastra Amerika Latin & Iberia (Sastra Alibi) yang diasuh Ronny Agustinus di masa-masa awal kuliah di Yogya satu dasawarsa lalu. Generasi saya mungkin adalah generasi yang sudah muak dengan hipokritnya penyelenggara negara, dan karenanya beberapa kawan yang sangat politis justru memilih berada di garis apolitis. Komik yang bisa dibaca oleh segala kelompok usia ini tampaknya bisa menjadi antidote bagi pahitnya kenyataan politik ini. Humor-humor politik bocah ini jenaka, lincah, dan begitu mengalir. Ini membuat saya membayangkan bagaimana jika kita punya generasi muda yang melek politik dan bisa menyampaikannya dengan jalan sesantai (alias seringan dan seasyik) Mafalda? Dan tentunya, saya membayangkan, bagaimana jika saya dan kawan-kawan sepantaran saya sudah membaca buku ini sedari kami kanak-kanak dulu?

Lebih belakangan lagi, sekira tahun 2018 lalu, Penerbit Ultimus melibatkan saya dalam sebuah rencana penerbitan ulang, untuk menyunting buku Pak Supi: Kakek Pengungsi (Penerbit Ultimus, 2018), cerita anak karangan S. Rukiah Kertapati yang diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1958. Pak Supi berkisah tentang gerombolan anak yang bertemu seorang kakek misterius, yang terlilit masalah dengan para tetangganya yang memfitnahnya, tetapi lantas mendapatkan pembelaan dari para bocah petualang yang menyaksikan banyak peristiwa ini, menguntit sang kakek bak detektif partikelir. Rukiah rupanya pernah mengasuh majalah anak-anak, Majalah Kutilang, yang terbit di tahun 1960-an dan bersamaan dengan itu dia juga menerbitkan banyak judul buku anak, di antaranya Si Lenting Kuning dan Sekumpulan Cerita Bunda. Membicarakan kiprah S. Rukiah Kertapati dalam kerangka “buku cerita anak” rasanya bisa menghasilkan satu telaah khusus tersendiri, dan mungkin rekomendasi “lima judul buku cerita anak” tersendiri.

Saat pandemi ini, saya bertukar surel dengan kawan lama, yang menceritakan betapa gembiranya dia menemukan buku yang dia sukai dan dibacanya saat SMP dulu, Undangan dari Planet Mars (Gramedia Pustaka Utama, 1974). Karena penasaran, maka saya memesannya dari marketplace. Buku ini adalah terjemahan bahasa Perancis oleh Sundari Hoesen dari karangan Philippe Ebly, Et Les Martiens Inviterent Les Hommes. Tentang geng remaja yang suka sains, terlibat dengan profesor dan piring terbang, beberapa dasawarsa lebih dulu mereka dengan antusias ingin mengunjungi Mars dibandingkan Elon Musk dan SpaceX-nya. Yang menariknya lagi, buku ini adalah buku nomor 36 dalam seri bacaan bermutu, Seri Elang, yang dulu digagas GPU. Saya jadi tertarik mengumpulkan satu per satu buku-buku cerita anak dalam seri ini.

2021/06/02

Rahasia dari Kramat Tunggak

DIA menutup pintu apartemen. Tubuhnya lebih letih dari hari-hari yang lain, tapi begitu melihat tumpahan bir dan botol-botol yang tergeletak di lantai, dan asbak dengan belasan puntung rokok di meja makan, dia merasa sanggup membanting apa saja.

Saat membanting pintu kamar, dia sempat mendengar suara kasur reot, genjotan demi genjotan dan lenguhan demi lenguhan dari kamar sebelah.

Sudah ratusan kali dia ingatkan ibunya untuk tak menjajakan tubuh di hunian mereka.

Enam bulan lalu, kabar buruk itu datang di lapo langganan mereka, saat dia sedang khusyuk mengunyah babi panggang Karo favoritnya.

“Bantu Ibu,” pinta ibunya saat itu. “Kita lunasi utang ke para rentenir itu,” sambil mengunyah babi panggang, sang ibu dengan yakin ingin melanjutkan profesi lawasnya.

Merasa tidak perlu memberi persetujuan, dia menyudahi obrolan itu, “Ibu selesaikan urusan Ibu sendiri. Ini bukan utang yang harus aku tanggung.”

Lamunannya terusik ketika perempuan itu memanggil nama Tuhan dari ruangan sebelah, lantas berteriak kesetanan. Ibunya, dan pelanggannya yang entah siapa, kembali bergulat seperti hewan liar, seperti malam-malam sebelumnya.

“Ibumu ini dulu primadona Kramtung,” ujar ibunya bangga saat dia beranjak dari kursinya. “Kita bisa dapat banyak.”

Dahinya mengernyit. Dia bisa menghidupi dirinya sendiri, bahkan dialah yang selama ini membayar sewa rumah kontrakan mereka. Dapat banyak? Dia tak merasa butuh lebih!

Dia kepalang gengsi meminta penjelasan bagaimana bisa ibunya berutang banyak. Dia merasa dialah yang selama ini bekerja paling keras. Yang dia tahu, dia tak ingin punya urusan dengan Kramat Tunggak. Meski tak betul-betul mengingat semua detail masa kanak-kanaknya di sana, dia tahu itu bukan masa-masa yang indah untuknya, juga untuk ibunya. 

Saat lebih dewasa dia tahu bahwa Kramat Tunggak adalah mantra yang mewujudkan keajaiban Jakarta. Dengan duit dari lokalisasi itu, gubernur membiayai sebagian pembangunan, dari jalan tol ibukota sampai kompleks kesenian Taman Ismail Marzuki.

Tapi baginya segala polesan informasi dan pembenaran itu tak memperbaiki apa pun.

“Aku masih cantik dan tidak perlu kerja terlalu banyak.  Tiga tamu sehari cukup untuk bayar utang dan membiayai hidup kita,” Ibunya masih berusaha memberi penjelasan.

“Kramtung itu masa lalu kita!”

“Kita enggak kembali ke sana!” tegas ibunya.

Dan, di sinilah mereka, pindah ke tower apartemen yang disewa per bulan di Kalibata. Dia terus menunjukkan keengganannya, tapi seperti yang sudah-sudah, dia mengikuti keputusan ibunya. Untuk membayar biaya apartemen, dia harus merelakan tabungan biaya semesteran kuliahnya ludes. Sembari memaki dalam hati, dia pindah ke Kalibata dengan berbagai prasangka buruk.

Dengan lidah pedasnya dia sebut tempat itu Taman Hidung Belang. Tempat itu ramai, semua jenis manusia tinggal di sana; para pekerja kantor, juga pedagang, juga pelajar, juga bandar, juga pekerja seks. Sebutan tempat itu apartemen, mentereng, dengan pusat perbelanjaan, dan kedai kopi, dan lapangan basket, tapi tempat itu juga sarang nyawer dan jajan lendir, markas bandar gelek dan pengedarnya, tempat seorang gadis bunuh diri loncat dari lantai 8 karena patah hati. Ringkasnya: tempat itu kolong dunia terkutuk.

Semua itu cocok jadi amunisinya jika sewaktu-waktu mesti melontarkan amarah, “Kenapa kita pindah ke tempat terkutuk ini?!

Di pagi saat mereka pindahan, seorang pria berusia sepantarannya sedang bugil menggedor-gedor pintu kamar sebelah. Tampak mabuk, si pria bugil tersenyum menyapa ke arah mereka, “Wah, tetangga baru. Sori, gue dikerjain orang-orang sinting di dalam karena kalah taruhan.” Sambil memegang karton bekas untuk menutupi selangkangannya, ia sibuk menggedor dan menggedor.

Kamar sebelah ditempati lima orang buruh yang bekerja untuk kontraktor di kamar sebelahnya lagi. Pergi pagi, pulang larut malam dengan berpeluh-peluh dan pakaian dekil berlumpur. Kepulan asap rokok mengisi sepanjang lorong saat mereka bersantai di petang hari.

Mendapati tetangga semacam itu, dalam hitungan hari, dia justru merasa betah. Dengan cepat dia mengakrabi mereka, berbagi bungkus rokok atau saling pinjam korek dengan si pria bugil dan teman-teman buruh dan kontraktornya. Sempat pula salah satu buruh menawarinya pil koplo, tapi dia menolak dengan halus.

Sementara itu, ibunya berjejaring dengan lebih cepat lagi. Walau tak muda lagi, tamu yang butuh layanannya terus bertambah, dari oom-oom bau domba sampai bocah SMA bau kencur. Ibunya memang masih molek. Tapi dia tahu betul ibunya akan butuh riasan, pakaian baru yang cukup bagus, ataupun pakaian dalam seksi yang membangunkan hasrat nakal lelaki paling alim sekalipun. Dia tahu ibunya butuh uang darinya sebagai modal.

Sehari diniatkannya melayani tiga pria, meski tak selalu begitu karena pelanggannya datang manasuka, semestinya mereka bisa tajir. Tapi karena ini upaya mendadak demi membayar utang, dan karena dia tidak pernah benar-benar setuju akan keputusan ini, dia berserah saja saat semua penghasilan masuk ke rekening ibunya. Dia hanya dapat ampas-ampasnya: lenguhan, jeritan, barang-barang terdengar berjatuhan, dan kegiatan beres-beres.

Kali ini, dia tidak membantu beres-beres. Dia terlalu lelah untuk memulai ritus bertengkar.

Tamu terakhir ibunya pulang pukul 2 pagi. Namanya dipanggil karena ibunya tahu dia masih mengetik.

“Tadi Ibu beli nasi padang buat kamu. Kok, masih utuh? Enggak enak, lho, kalau basi.”

Sementara si anak menyendok nasi padangnya, si ibu yang masih segar seusai melayani tiga pria pergi keluar membawa bungkusan plastik besar berisi sampah.

Seisi ruang apartemen sudah bersih, seolah tidak pernah dipenuhi asap rokok atau tumpahan bir. Tapi tetap saja, tempat itu berbau apak. Dinding-dindingnya dingin berjamur.

Hingga nasi padangnya tandas, ibunya masih di luar. Tahu kebiasaan ibunya untuk menikmati dini hari dengan menelusuri jalan, dan dengan jalur berbeda-beda setiap kalinya, dia menyalakan televisi dan memutar film sembari menunggunya kembali.

Kualitas keping DVD bajakan baru ini buruk sekali. Andai punya cukup waktu, dia ingin mengajari ibunya mengunduh film bajakan dari torrent agar tidak harus memandangi tontonan kualitas rendah begini.

Tapi mereka sama-sama sibuk. Saat lulus SMA, dia hampir tak lanjut kuliah. Mengirim anak perempuannya ke kampus memang impian sang ibu, tapi uang adalah penghambat segalanya. Dia bekerja menjadi SPG di mal, dengan izin yang diberikan ibunya dengan berat hati. Dua tahun kemudian, setelah menderetkan kampus-kampus swasta murah, dan dengan tabungan hasil kerjanya, dia akhirnya berani mendaftarkan diri.

Dia mengambil jurusan akuntansi supaya saat lulus bisa cepat mendapat kerja lagi. Semula dia merasa lebih cocok dengan seni rupa, tapi ibunya menyanggah minatnya, “Jurusan itu hanya untuk anak-anak orang tajir yang enggak butuh lihat duit lagi.”

Sementara ibunya bekerja jadi buruh cuci untuk tiga rumah tetangga dan menitipkan masakan di kantin kampus, dia tetap bekerja paruh waktu di kafe bilangan Cikini, dekat wilayah mereka tinggal. Dari sana dia mendapat uang untuk membayar tagihan-tagihan di rumah dan membiayai penuh perkuliahannya.

Hidup berdua dengan kebutuhan tidak banyak, dia sebenarnya masih bertanya-tanya, bagaimana mungkin ibunya dikejar-kejar rentenir? Bukankah dia mencicil biaya kuliahnya sendiri? Selain paruh waktu di kafe, dia juga mendapat upah dari mengetik transkrip untuk dosen fakultas sebelah. Namun, lantaran gengsi untuk terlalu peduli, dia memutuskan untuk tidak bertanya lagi.

Dia sadar betul mereka miskin. Sejak kecil, dia diajak berpindah-pindah tinggal dari satu gang kumuh ke gang kumuh lain, dari pinggir sungai ini ke pinggir sungai itu, berkawan dengan bocah-bocah preman sepenjuru Jakarta. Dia tak sempat menanyakan mengapa mereka miskin, di mana ayahnya, dan bagaimana bisa ibunya melonte di Kramat Tunggak.

2019/12/17

Mekanika Penjagalan Massal: Kasus yang Mendudukkan Penjagalan di Indonesia sebagai Genosida

 Jess Melvin

Macmillan Centre, Yale University, New Haven, CT, Amerika Serikat

Abstrak

Artikel ini menyajikan selayang pandang bukti baru yang ditemukan dari arsip milik bekas Badan Intelijen Negara di Banda Aceh yang mampu membuktikan, untuk kali pertama, keterlibatan militer di balik penjagalan 1965-66 di Indonesia. Berkas-berkas ini menunjukkan bahwa jajaran pimpinan militer memprakarsai dan melaksanakan penjagalan sebagai bagian dari operasi militer nasional yang terkoordinasi. Operasi militer ini digambarkan oleh para petinggi militer sebagai “operasi pemusnahan” dan dilaksanakan dengan maksud yang dinyatakan untuk “memusnahkan sampai ke akar-akarnya” saingan politik utama militer, Partai Komunis Indonesia (PKI). Bukti baru ini secara mendasar mengubah apa yang kini mungkin diketahui tentang penjagalan 1965-66, khususnya terkait pertanyaan tentang niat militer. Demikian juga, proses di mana kelompok sasaran militer diidentifikasi dan ditargetkan untuk dihancurkan kini dapat dipahami dengan menempatkan militer sendiri sebagai pelaku di balik bagaimana proses penjagalan ini terjadi. Artikel ini mengetengahkan bahwa bukti baru ini memperkuat argumen, yang diajukan oleh para pakar genosida sejak awal 1980-an, bahwa penjagalan 1965-66 harus didudukkan sebagai kasus genosida.

 

Kronologi pemuatan

Artikel diterima pada 16 Februari 2017

Artikel disetujui pada 23 September 2017

 

Kata kunci

Genosida Indonesia, penjagalan massal 1965-66; Aceh; Sumatra; militer Indonesia; Partai Komunis Indonesia (PKI)

 

Pengantar

Sejak peristiwa penjagalan 1965-66, para pengamat politik dari Indonesia dan luar negeri telah memperdebatkan istilah yang sesuai untuk melabelinya.[1] Skala penjagalan—diyakini telah merenggut hingga satu juta jiwa—beserta pernyataan para jagal yang bertujuan untuk “menumpas sampai ke akar-akarnya” kelompok masyarakat tak bersenjata agaknya telah menggiring banyak pihak untuk menyelidiki apakah penjagalan 1965-66 merupakan kasus genosida. Sejak awal 1980-an, para pakar kunci mengenai genosida berpendapat bahwa penjagalan 1965-66 tampaknya memenuhi definisi genosida sesuai Konvensi Genosida 1948. Kesulitan terbesar untuk mendukung klaim ini adalah dalam membuktikan niat militer di balik penjagalan ini dan menguatkan argumen bahwa kelompok sasaran militer dapat dipahami sebagai kelompok yang dilindungi berdasarkan Konvensi. Artikel ini menyediakan selayang pandang mengenai bukti-bukti kunci dari Provinsi Aceh yang dapat menjelaskan “persoalan bukti” ini. Dengan menggunakan catatan dari pihak militer sendiri, artikel ini akan menunjukkan bagaimana penjagalan dimulai dan diterapkan sebagai bagian dari operasi militer yang disengaja. Artikel ini juga akan menunjukkan bagaimana militer secara eksplisit mengidentifikasi kelompok sasarannya melampaui batasan “kelompok politik”—dikecualikan dari perlindungan di bawah Konvensi—untuk mengidentifikasi kelompok sasaran ini termasuk kelompok nasional yang dibentuk secara ideologis (“kelompok komunis” Indonesia) dan sebagai anggota kelompok agama (sebagai “kaum ateis”).[2] Dengan landasan itu, artikel ini berpendapat bahwa penjagalan 1965-66 tampaknya dapat dipahami sebagai kasus genosida. 

Kisah tentang bagaimana kasus ini terungkap tampaknya adalah suatu kebetulan karena nasib mujur saya. Pada 2010, saya pergi ke bekas kantor arsip Badan Intelijen Negara di Banda Aceh. Saya telah mewawancarai para penyintas dan pelaku penjagalan di provinsi tersebut sebagai bagian penelitian disertasi doktoral saya. Lantaran tidak dapat mengakses arsip secara langsung, saya meminta untuk melihat katalognya dan memesan sejumlah berkas berdasarkan tanggal pembuatannya. Saya hampir tidak bisa percaya ketika saya kemudian disodorkan sebuah kotak berisi 3.000 halaman berkas rahasia militer. Berkas-berkas ini, digabungkan dengan laporan yang dihasilkan oleh komando militer Aceh,[3] adalah berkas-berkas awal yang ditemukan dari sepenjuru Indonesia. Berkas-berkas ini lantas dikenal sebagai berkas genosida Indonesia.

 

Soal Pembuktian

Tantangan terbesar yang dihadapi para peneliti penjagalan 1965-66 adalah kurangnya berkas yang tersedia untuk bahkan sekadar menetapkan kronologi dasar atas peristiwa, apalagi untuk mengetahui rantai komando yang jelas di balik terjadinya peristiwa kekerasan ini. Selama setengah abad terakhir, militer Indonesia mengutarakan kekerasan sebagai akibat dari pemberontakan “spontan” oleh “rakyat”,[4] dan “ledakan” lantaran “bentrokan komunal yang berakibat pada pertumpahan darah di beberapa wilayah di Indonesia”.[5] Sementara itu, penyebutan spesifik tentang siapa pelaku di balik peristiwa jagal ini justru dihindari. Komando Militer Aceh menjelaskan: “gerakan spontan rakyat di seluruh Aceh secara bersamaan menghancurkan PKI [Partai Komunis Indonesia] sampai mayoritas anggota PKI terbunuh ….”[6] Tujuan dari laporan resmi oleh Komando Militer Aceh ini adalah untuk menolak bahwa penjagalan oleh operasi ini mendapatkan komando dan disengaja oleh militer. Seperti dikemukakan oleh Vedi Hadiz, dukungan jagal dan perubahan rezim yang dipengaruhi peristiwa ini tetap menjadi “pembenaran” berlakunya tatanan sosial Indonesia saat ini.[7]

Penolakan ini berlanjut hingga hari ini. Pada April 2016, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) RI, Luhut Pandjaitan, secara bersamaan menyangkal bahwa jagal berskala massal telah terjadi selama peristiwa penjagalan 1965-66, sekaligus menegaskan kembali penolakan pemerintah untuk menerbitkan pernyataan permohonan maaf kepada para korban jagal.[8] Bangsa Indonesia juga lanjut membungkam dan mengintimidasi mereka yang ingin menentang narasi propaganda resmi tentang peristiwa kekerasan tersebut.[9] Pada September 2017, pihak kepolisian di Jakarta menutup diskusi akademik tentang kekerasan 1965-66 di perkantoran salah satu organisasi masyarakat sipil yang paling disegani, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).[10] Para polisi menyerah pada tuntutan demonstran anti-komunis yang, dengan dukungan dari jajaran kunci pimpinan militer, telah mengepung kantor-kantor LBH, menjebak para peserta diskusi di dalam sementara secara keliru menyatakan bahwa kelompok tersebut tidak memperoleh “izin” untuk berkumpul. Para aktivis HAM mengecam Presiden Joko “Jokowi” Widodo yang memperuncing sentimen anti-komunis ini dengan mengumumkan pada Juni 2017 bahwa ia akan “menggebuk” Partai Komunis Indonesia (PKI), yang telah dilarang oleh pemerintah Indonesia sejak 1966, jika mereka berani “muncul kembali”.[11]

Selama hampir lima puluh tahun, diyakini bahwa betapa sedikit bukti dokumenter tersedia terhitung sejak masa penjagalan lantaran tidak ada catatan yang pernah dibuat. Sejak setidaknya dasawarsa 1970-an, dikatakan bahwa tidak ada perintah tertulis dikeluarkan oleh pimpinan militer untuk mengoordinasikan penjagalan.[12] Pada 2010, dinyatakan bahwa “tidak ada bukti” atas penyimpanan catatan sistematis mengenai penjagalan,[13] sementara pada 2012, dinyatakan bahwa penjagalan terjadi “tanpa dukungan berarti dari birokrasi untuk memproses dan mengadili musuh yang ditargetkan (yang semestinya meninggalkan jejak tertulis)”.[14] Artinya, mereka mempercayai bahwa perintah resmi tertulis tidak pernah dikeluarkan, dan juga meyakini bahwa penjagalan dilakukan tanpa dukungan dari negara dan struktur pemerintah sipil.

Catatan awal mengenai periode 1965-66 yang ditulis oleh para Indonesianis berfokus pada upaya memahami tindakan dan motif di balik Gerakan 30 September (G30S)—upaya kudeta yang gagal pada 1 Oktober pagi yang kesalahannya dilemparkan pada PKI dan digunakan sebagai “dalih” atas kudeta yang dilakukan oleh militer sendiri dan menjadikannya sebagai serangan terhadap PKI—alih-alih sekadar terjadinya pembunuhan biasa. Adapun, pertanyaan tentang apakah PKI bertanggung jawab atas G30S tidak bisa terjawab hingga tahun 2006, melalui penerbitan teks terobosan John Roosa, Dalih Pembunuhan Massal.[15] Sementara itu, pertanyaan tentang apakah militer melaksanakan penjagalan, sebagai bagian dari operasi militer yang disengaja, atau tidak tetap menjadi debat terbuka hingga penemuan berkas penjagalan Indonesia.[16]

Sejak awal 1980-an, terlepas dari kurangnya informasi, para peneliti seputar genosida berpendapat bahwa penjagalan 1965-66 tampaknya merupakan kasus genosida.[17] Pada 1981, Leo Kuper memasukkan penjagalan 1965-66 dalam studi fundamentalnya, Genocide: It’s Political Use in the Twentieth Century. Melalui penelitian ini, ia menolak laporan resmi Indonesia bahwa penjagalan terjadi sebagai akibat dari kekerasan horizontal spontan sebagai respons atas G30S.[18] “Sebaliknya”, ia berpendapat, “tentara terlibat aktif dalam operasi, terlibat langsung dalam pembantaian, dan secara tidak langsung dalam mengatur dan mempersenjatai pembunuhan sipil.” Penjagalan itu, ia menyarankan, harus dipahami sebagai kasus genosida lantaran skalanya yang besar dan dilakukan secara sengaja.

Ia menjelaskan bahwa hambatan utama untuk memahami penjagalan 1965-66 sebagai kasus genosida adalah pengucilan “kelompok politik” dari perlindungan berdasarkan Konvensi Genosida 1948[19]—definisi hukum standar genosida berdasarkan hukum internasional. Bagaimanapun, ia mengusulkan bahwa “dalam pembantaian para komunis, kriteria afiliasi masa lalu memiliki finalitas dan ketetapan yang cukup sebanding dengan pembantaian berdasarkan ras dan itu didasarkan pada penerapan tanggung jawab kolektif yang sama.”[20] Lebih lanjut lagi, ia menjelaskan, penjagalan melampaui batas-batas konflik antarkelompok, dengan tambahan perbedaan “kelas” dan “agama” di antara para korban dan pelaku.[21] Demikian juga, etnisitas juga merupakan faktor, sebagaimana dibuktikan dengan penjagalan “pedagang Tionghoa dan keluarga mereka.”[22] Dengan demikian, ia menduga bahwa kelompok sasaran militer secara substansial lebih luas daripada sekadar kelompok politik dan mengandung unsur-unsur identitas antargenerasi yang mendalam.

Penjagalan 1965-66 juga tercantum dalam studi klasik 1990 karya Frank Chalk dan Kurt Jonassohn, The History and Sociology of Genocide: Analyses and Case Studies. Sebagaimana Kuper, mereka mengutarakan peristiwa penjagalan itu sebagai genosida dan mengusulkan bahwa kelompok sasaran militer lebih daripada sekadar kelompok politik. Mereka menjelaskan: “Sementara genosida ini ditujukan pada suatu partai politik,” dan karenanya, secara signifikan, tidak sesuai dengan definisi hukum mengenai genosida, “kasus genosida ini menghadirkan perdebatan ganjil terkait karakter etnis, agama, dan ekonomi.”[23] Sementara itu, mereka mengusulkan bahwa rintangan utama untuk memahami penjagalan 1965-66 sebagai kasus genosida adalah “adanya banyak informasi yang saling bertentangan” ketika itu berkaitan dengan bagaimana penjagalan itu dijalankan.[24] Persoalan banyaknya “informasi yang saling bertentangan” ini kini telah terselesaikan.

Bagian berikut ini akan menyediakan tinjauan umum tentang bukti baru yang kini tersedia untuk membuktikan keterlibatan militer di balik peristiwa penjagalan, sebelum kembali pada pertanyaan tentang bagaimana bukti baru ini dapat mengatasi masalah yang diajukan oleh Kuper, Chalk, dan Jonassohn.

 

Persiapan Militer untuk Merebut Kekuasaan Negara di Sumatra sebelum 1 Oktober 1965

Sejak awal 1960-an, para petinggi militer Indonesia mulai membuat rencana khusus untuk “reorientasi” negara Indonesia.[25] Pada 1964, untuk memfasilitasi rencana ini, para petinggi militer berhasil melobi Sukarno agar mengeluarkan Keputusan Presiden untuk mengimplementasikan rancangan undang-undang yang dikenal sebagai “Keputusan Peningkat Pelaksanaan Dwikora”. Undang-undang baru ini, yang secara resmi diperkenalkan sebagai sarana pendukung kampanye Sukarno “Ganyang Malaysia”, memberi militer kekuatan baru untuk melakukan pembasmian yang sebagian besar mencerminkan undang-undang darurat militer Indonesia, dengan memberikan kemampuan untuk memobilisasi struktur militer dan paramiliter setempat.[26] Yang paling penting, ini memberikan militer kemampuan untuk menerapkan peraturan darurat militer secara internal, tanpat terlebih dahulu harus berkonsultasi dengan Sukarno.[27]

Sejak Maret 1965, militer mulai melakukan pelatihan-pelatihan militer di Aceh dan seluruh Sumatra untuk menguji kesiapan struktur-struktur baru ini.[28] Pada bulan Agustus, militer meresmikan struktur komando militer baru di provinsi tersebut, yang dinamai “Kodahan: Komando Daerah Pertahanan”. Setelahnya, tinggal menunggu dalih yang tepat untuk melancarkan agenda perebutan kekuasaan negara ini.[29] Aksi G30S pada jam-jam awal 1 Oktober 1965 menyediakan dalih ini.

Pada 1 Oktober, ketika pemimpin militer nasional masih mengulur waktu untuk memutuskan bagaimana mesti bereaksi atas peristiwa G30S, pemimpin militer di Aceh “mengaktifkan” perintah Kodahan, yang kemudian dinamai “Kohanda: Komando Pertahanan Daerah”.[30] Kohanda ini kemudian melancarkan serangannya terhadap PKI dan melancarkan perebutan kekuasaan negara di provinsi Aceh. Seperti yang dijelaskan komandan militer Aceh:

Sejak terjadinya Peristiwa GESTOK (sebutan alternatif untuk G30S) pada 1 Oktober 1965, seluruh kekuatan Kohanda Aceh telah dimobilisasi untuk melancarkan operasi penghancuran terhadap GESTOK… Operasi ini benar-benar berhasil.[31]

Penjelasan ini menegaskan bahwa kasus genosida ini dilancarkan sebagai kebijakan negara. Sementara saya tidak percaya bahwa militer harus mengantisipasi skala penjagalan yang terjadi, bagaimanapun mereka punya niat dan sarana untuk melancarkan apa yang dikatakan sebagai “operasi pemusnahan” sejak 1 Oktober.

2019/06/24

Wanita Tamansiswa: Api Narasi Ibu sebagai Guru


Prakarsa para ibu guru Tamansiswa yang melampaui zamannya, menggugat status quo, demi pendidikan anak perempuannya.

Pada 22-25 Desember 1928, dua bulan setelah ikrar Sumpah Pemuda, Kongres Perempuan Indonesia nasional pertama dihelat di Yogyakarta. Tanggal penyelenggaraan kongres, 22 Desember, pun ditetapkan sebagai Hari Ibu. Tiga puluh organisasi perempuan hadir dalam kongres ini. Penggagasnya, R. A. Sutartinah, adalah seorang perintis organisasi Wanita Tamansiswa, akrab dikenal dengan nama Nyi Hadjar Dewantara, nama panggilannya sebagai istri Ki Hadjar Dewantara. Nyi dan Ki, demikianlah murid-murid Tamansiswa memanggil para guru yang mereka hormati.

Nyi Hadjar Dewantara melibatkan rekan-rekan gurunya yang juga bergiat di organisasi Wanita Tamansiswa dalam kepengurusan awal kongres, di antaranya Siti Sukaptinah Sunaryo Mangunpuspito, Sunaryati Sukemi, dan Sri Mangunsarkoro. Mereka aktif menghasilkan sejumlah artikel dan naskah orasi bertemakan pendidikan anak perempuan. Dalam kepengurusan kongres, mereka lantas mengajak juga dokter Sukonto, perwakilan Wanita Utomo, dan Suyatin, perwakilan Puteri Indonesia agar berbagai organisasi perempuan kala itu turut terlibat dan dapat merumuskan persoalan-persoalan perempuan kala itu.

Dalam waktu singkat, mereka berhasil menarik organisasi perempuan lain seperti Aisyiyah, Wanita Katolik, Jong Islamieten Bond Dames Afdeling, hingga Jong Java Dames untuk terlibat, hingga terkumpul tiga puluh organisasi. Organisasi-organisasi perempuan ini lantas bersepakat mengajukan mosi mengenai reformasi perkawinan dan pendidikan, yang kemudian disepakati dalam kongres. 

Kongres pertama itu menyetujui berdirinya badan federasi bernama Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI). Meski mosi tentang reformasi perkawinan dan pendidikan diterima dalam kongres, ketegangan tetap timbul di antara organisasi-organisasi perempuan Islam yang menentang usulan koedukasi, yakni kesempatan setara bagi lelaki dan perempuan untuk bersekolah dalam satu kelas, dan organisasi-organisasi perempuan Kristen dan nasional yang menuntut penghapusan poligini.

Sengkarut perdebatan ini membuktikan, jauh sebelum kehadiran Isteri Sedar pada 1930, organisasi perempuan paling radikal pada zaman itu yang tak mau berkompromi soal masalah-masalah poligini dan perceraian, berbagai organisasi Kristen dan nasional di PPPI telah bertentangan langsung dengan organisasi-organisasi perempuan Islam menyoal urusan perkawinan. Beberapa organisasi perempuan sayap Islam dalam kongres dengan terang-terangan menentang gagasan penolakan praktik poligini.

Selain soal internal organisasi, pelantikan ketua dan kepengurusan, serta anggaran dasar ataupun kebijakan teknis organisasi, kongres ini juga menghasilkan keputusan di beberapa bidang meliputi soal-soal yang berhubungan dengan masalah perkawinan, perburuhan, kesehatan, hingga politik dan hubungan dengan luar negeri.

Ellena Ekarahendy dan Maesy Angelina dari POST Bookshop menggagas inisiatif untuk mengetik ulang dan memperkenalkan pemikiran para perempuan anggota organisasi Wanita Tamansiswa yang menyangkut persoalan-persoalan dalam kongres tersebut dan perkembangan pemikiran para tokoh ini sesudah kongres. Ellena dan Maesy mengajak beberapa kawan dari berbagai latar belakang terlibat dalam pembacaan kembali arsip-arsip ini, dan melakukan pengetikan atas tulisan anggota organisasi ini. Hasil tilikan mereka atas arsip-arsip tersebut membantu untuk memahami dinamika perempuan pada periode pra-kemerdekaan.

Gagasan kelompok membaca ini bermula seusai Ellena menjalani residensi di Yogyakarta dalam program Sekolah Salah Didik dari KUNCI Cultural Studies pada 2017. Sekolah Salah Didik adalah proyek KUNCI yang lahir dari pengalaman mereka mengelola beragam ruang-ruang belajar selama 19 tahun. Wadah pendidikan alternatif SSD ini ditujukan untuk mempertanyakan kembali relasi hierarkis guru-siswa, ataupun penyeragaman pedagogi dalam kelas-kelas formal, hingga kurikulum sekolah formal yang hanya menekankan pada kegunaan ilmu sehingga membatasi imajinasi. Dengan penekanan pada makna belajar bagi para peserta program, sekolah ini menawarkan suatu ruang belajar yang cair dan fleksibel. Para peserta, termasuk Ellena, dimungkinkan untuk bereksplorasi sebebas-bebasnya mengimajinasikan pengetahuan yang bermakna baginya.

Pertemuan Ellena dengan berbagai organisasi dalam program ini mendorongnya untuk menelusuri arsip majalah Poesara, terbitan bulanan Tamansiswa. Ellena lantas terpantik mengumpulkan sejumlah tulisan anggota Wanita Tamansiswa yang ditulis dalam periode 1932-1940, dan mengajak Maesy dari Toko Buku POST untuk mengumpulkan kawan-kawan yang tertarik melakukan pembacaan ulang artikel-artikel ini.

Narasi Perempuan Proto-Indonesia

Sejak April 2019, inisiatif “Membaca Ulang Perempuan Tamansiswa” menggandeng Agnes Indraswari, Farhanah, Kania Mamonto, Khanza Vinaa, Nin Djani, Nur Janti, dan Rebecca Nyuei untuk membaca, mengetik, dan membicarakan kembali tulisan-tulisan berjudul “Arti Cultuur dalam Pergerakan Perempuan Indonesia”, “Soal Poligami”, “Meninggikan Derajat Rumah Tangga”, hingga “Pekerjaan Tangan sebagai Alat Pendidikan”.

Pembacaan dan pengetikan dilakukan secara mandiri dalam sebulan, pertemuan mereka laksanakan dua kali di POST Bookshop yakni pada Sabtu, 13 April 2019 yang terbatas bagi para peserta inisiatif, dan pada Sabtu, 18 Mei 2019 dalam rangka membagikan hasil diskusi mereka kepada pembaca yang lebih luas.

Bagi mereka, tulisan-tulisan ini menarik karena memuat wacana pembebasan perempuan yang relevan hingga masa kini. Kendati tulisan-tulisan itu tentu masih kental memunculkan corak kepatuhan perempuan karena berasal dari para ibu yang dinaungi organisasi perguruan Tamansiswa.

Sebagai badan Perguruan Tamansiswa, Wanita Tamansiswa dirintis oleh Nyi Hadjar Dewantara pada 1922 sebagai wadah bertukar gagasan untuk menguatkan pendidikan di kalangan perempuan. Badan ini resmi didirikan pada 31 Maret 1931 di Gedung Wisma Rini, Mataram pada Konferensi Jawa Tengah, dengan ketua Nyi Hadjar Dewantara, Nyi Mangunsarkoro sebagai wakil pusat di Jawa Barat, dan Nyi Sujarwa sebagai wakil pusat di Jawa Timur.

Sebagian besar anggotanya adalah guru atau istri guru. Sama seperti istrinya dan para anggota Wanita Tamansiswa yang peduli akan gerakan pendidikan bagi anak perempuan, Ki Hadjar Dewantara, melihat pentingnya pendidikan bagi anak perempuan, pun menggubah tembang berisi nasihat bagi remaja putri “Wasita Rini” yang kerap dilantunkan dalam perguruannya. Dukungan kuat Ki Hadjar Dewantara terhadap organisasi yang dirintis oleh istrinya ini juga diamini oleh sebagian besar anggota perguruan Tamansiswa. Kaum lelaki di perguruan itu juga berpendapat bahwa tenaga perempuan sangat diperlukan dalam mendidik dan mengajar anak-anak. Pendek kata, bagi mereka, pendidikan anak-anak tidak dapat sempurna andaikata hanya dijalankan oleh kaum bapak atau para lelaki saja. 

Bagaimanapun, kekhususan lantas diterapkan dalam jalannya pendidikan anak perempuan di Tamansiswa, yakni lewat pengajaran kepandaian putri, pemeliharaan anak gadis, pemahaman tentang adab dan kesopanan, pandangan mengenai kesucian, kesusilaan tingkah laku, hingga kesusilaan pakaian perempuan. Nyi Sri Mangunsarkoro, penulis sebagian besar arsip Wanita Tamansiswa, menekankan dua kewajiban anggota Tamansiswa, yakni memperbaiki nasib perempuan melalui pendidikan dan mendidik anak untuk mencapai cita-cita Indonesia Baru. 

Tulisan Terdahulu