Thursday, January 31, 2008

Ibu

AKU benci menatapnya melalui batas kaca, melihat selang-selang itu merampas sisa napas kehidupan yang dimilikinya. Lima tahun lalu, payudara sebelah kirinya diamputasi, dua tahun kemudian sel kanker mulai merambah lehernya kemudian membesar sebesar globe seharga seratus ribu rupiah, dan kini virus itu bergerak lagi, mengubah bekas amputasi payudaranya itu menjadi sebesar globe seharga dua ratus ribu.

Aku benci ketika mendengar, “Maaf. Kami sudah berusaha menyelamatkannya...”

Kata orang, ada masa ketika keajaiban tak lagi bisa tiap hari datang padamu, mungkin kau akan kehilangan banyak cinta, dan itulah awal... kehidupan mengubahmu menjadi dewasa.

Kurasa... aku tak membutuhkan masa itu jika aku harus kehilangan ibuku. [*]

No comments:

Post a Comment