2011/06/29

Melepaskan Identitas

Permasalahan paling utama umat manusia saat ini adalah sifat paradoks dari kehidupan yang mereka hadapi sehari-hari. Ketika mereka ingin keluar dari lingkar setan rutinitas, ternyata yang mereka hadapi ketika keluar justru rutinitas lagi.

Meski akan jadi jauh berbeda ketika, semisal, saya memilih menghidupi rutinitas itu di tempat berbeda. Kehidupan yang kita pilih sendiri.

To call each thing by its right name. – Into The Wild

Christ, tokoh utama dari Into The Wild, baru merasa menemukan dirinya ketika ia sudah terbebas dari segala identitas kemasyarakatan yang melekat padanya sejak kecil. Ia sobeki kartu-kartu identitasnya, ia bakar dokumen dan uang tabungannya. Ia berkelana mencari dirinya. Sampai mati.

I took the one less traveled by, and that made all the difference. – The Road Not Taken

If only. Seandainya. Teman saya (bilang melalui tulisannya): Amor Fati.

Seandainya saya seberani itu. Tapi nyatanya, saya belum. Saya belum berani keluar dari sistem kemasyarakatan. Saya masih menerima begitu saja diri saya menafasi hari-hari saya. Tidak terlalu menyedihkan. People live the less-colored life, with monochrome. Saya full color, seringkali seolah tak memedulikan tanggapan orang lain terhadap keceriaan saya yang berlebihan. I’m okay with that.

Saya bahagia-tanpa-sekat sewaktu-waktu, saya berduka hebat sewaktu-waktu. That makes my life different. Dan saya tak perlu keluar dari sistem, untuk itu. Sebab, bagaimana bisa keluar dari sistem? Yang saya sukai dari hidup saya adalah buku-buku yang saya baca, musik-musik yang saya dengarkan, teknologi internet, dan lain sebagainya. Saya tak bisa membayangkan untuk hidup tanpa itu semua.

Saya tak peduli apakah nama asli saya Pariyem, Joko, Pavlov, atau apapun. Roh saya masih nyaman-nyaman saja dipanggil Dew atau Michelle. Atau panah, kadang-kadang. Buat apa berkelana jauh?

Namun, kadang-kadang saya memikirkan untuk pergi sejauh-jauhnya, melesapkan identitas saya dengan segala unsur yang mengelilingi saya. Bukankah saya bagian dari semesta? Yah, semacam itu.

Ya, gotcha. Itu mengapa saya bilang… bagi saya hidup ini demikian dual. Atau multi, saya mesti melihatnya dari banyak sudut pandang. Tapi sudut pandang bagaimana yang ‘benar-benar saya’?

Sampai mati pun Christ tak mengubah apa-apa.

Happiness Real When Shared.

Hanya pemahaman tentang itu. Berkelana jauh, mati di dalam van di Alaska, kelaparan, keracunan… hanya untuk mengetahui bahwa kebahagiaan sejati dalam dirinya adalah ketika ia bisa berbagi.

Berbagi dengan siapa?

Untuk apa melepaskan identitas?

Seringkali pilihan-pilihan dalam hidup kita akan terkesan kontroversial. Ada beberapa orang yang tak akan suka dengan saya, sementara orang-orang lain mungkin selalu menantikan kehadiran saya.
Semacam itu.

Maka ketika saya (yang memang pada dasarnya tak begitu peduli lagi dengan apapun yang terjadi di dalam hidup saya) merasa sia-sia, saya mungkin juga bisa berkelana. Yang saya tak tahu… untuk apa.

Ah, tadi saya ngobrol dengan Bebeth, seorang teman di sebuah organisasi kemahasiswaan. Ia mengaku hanya menulis ketika dia ingin, karena dia suka. Tidak seperti saya yang meracau tak jelas begini. Haha, saya ingin tertawa. Apalah artinya bakat?

Apalah artinya segala kemelekatan yang ada pada diri kita?

Kenapa kebahagiaan-kebahagiaan dalam kehidupan benar-benar membuat ketagihan?

Saya tak menyangkal mungkin pemikiran saya yang model begini hanyalah refleksi ketidakdewasaan saya dalam memahami apa-apa yang terjadi di hidup saya. Ada banyak tulisan yang saya baca. Tapi mungkin tak cukup banyak untuk menghindari pemikiran suicidal. Tapi toh semua pemikiran saya belum sampai ke tahap realisasi.

AH. Pernahkah terpikir? Mengapa ada tulisan-tulisan yang akan merusak otak pembacanya? (Camkanlah, bahwa kebanyakan pembaca tidak benar-benar dewasa dalam menafsirkan apa yang mereka baca. Dalam pembacaan mereka, naskah mengagumi alam mungkin disangka adalah manifesto ajakan bunuh diri.) Orang-orang yang juga akan merusak otak. Film-film dan segala hal yang mengguncang batin. Yah, yang semacam itu.

Manusia mungkin memang terlalu banyak menggunakan akalnya. Namun, alangkah tidak bijaksana bila orang lain memaksakan akalnya untuk digunakan dalam akal orang lain. Semacam itu.

--- Belakangan ini kegiatan BeDuaSatu* membuat saya kehilangan segala kemampuan normal saya.

*tempat Bal dan Bul menulis, mengedit, dan bercanda-canda.

Saya, Jurnalisme, dan Karakter-karakter Imajiner

Saya literally tipikal orang yang cuek. Saya tak begitu tertarik dengan perseorangan dan hal-hal yang ‘terlalu’; terlalu dekat, terlalu memerhatikan, atau terlalu ‘tahu’. Yang semacam menghafal nama pemeran di film A atau penyanyi lagu B atau presiden C dari negara D. Juga pada branding, menurut saya tak begitu penting. Saya tak pernah hafal nama dari barang-barang mewah, saya palingan cuma tahu Pepsodent atau Oral-B.

Namun ketika sekarang saya tergabung di salah satu organisasi kemahasiswaan, yang berkaitan dengan Jurnalisme pula, di mana orang-orangnya sangat aktif memenuhi rasa ingin tahu mereka … saya merasa kehilangan diri saya sendiri. Sekaligus menemukan diri saya yang hilang. Saya sepertinya dituntut untuk pergi dari zona nyaman saya selama ini.

Alasan awal saya masuk ke sini sebenarnya sederhana; lantaran saya kesulitan memasukkan detail nama tokoh atau judul lagu atau nama pelukis atau hal-hal lainnya yang kental ‘branding’ ke dalam tulisan fiksi saya. Konon kabarnya, banyak penulis yang pendeskripsiannya keren; berlatar belakang jurnalistik. Ada pepatah yang terkait dengan itu.

Maka begitulah, saya mendaftar di badan pers mahasiswa kampus saya ini juga sebenarnya murni karena alasan itu.

Namun demikian, awal mengikuti beragam diklat Jurnalistik dan Jurnalisme dari para petinggi di organisasi itu, saya mulai merasa bahwa inilah tempat di mana saya suka berada. Di sini saya dapat memenuhi rasa ingin tahu saya akan segala sesuatu, membuat saya punya alasan untuk memaksakan diri saya mengetahui hal-hal yang sebelumnya saya rasa tidak menarik (seperti 5w+1h dari suatu kejadian, tokoh-tokoh yang terlibat, nama-nama istilah, dan lain sebagainya). Dan, siapa sangka politik kampus dan politik mahasiswa ternyata menyenangkan juga, meski tentu masih kalah dengan Filsafat ataupun aneka Ilmu Pasti yang selama ini saya kagumi.

Saya menemukan banyak orang menarik di dalam organisasi ini. Orang-orang yang hafal nama-nama penyanyi...

...Politik - Ekonomi - Pendidikan - dan - segalanya - tentang - ini - dan - itu, judul-judul lagu, film-film, buku-buku, gaya bahasa dan beragam tata EYD (tata kalimat, tata bahasa, yea yang semacam itulah).

Acara yang padat… newsroom—rapat pengajuan tema, eksekusi tema, rapat penulisan, terjun lapangan, penulisan berita, pengeditan berita, jadwal bagi-bagi distribusi majalah—yang frekuensinya ‘sering’ sekali, reportase yang beruntun tak habis-habis, juga diskusi film dan diklat tambahan ini-itu.

Meski rasanya seru sekali mengikuti kegiatan-kegiatan itu, anehnya… saya selalu merasa ada yang hilang dari diri saya setiap melakukan hal-hal yang terlalu 'terlibat' dengan kehidupan sosial orang lain. Mungkin di balik karakter hiperaktif saya, ada sisi melankolis plus introverted dalam diri saya yang seringkali muncul ke permukaan secara tiba-tiba.

Contohnya saja, saya selalu merasa merugi; karena terlalu sering berkumpul dengan orang banyak, saya seringkali jadi kehilangan waktu untuk berkatarsis begini. Gila-gilaan dengan diri sendiri. Saya suka menyendiri; suka merenung, mengobrol dengan diri sendiri. Menulis sesuatu untuk diri saya sendiri dan berbicara dengan tokoh-tokoh imajiner di dalam kepala saya.

Ketika saya menulis cerita fiksi, saya tak pernah kesepian karena ‘teman-teman’ saya itu muncul di hadapan saya di depan layar. Mereka mengobrol satu sama lain, menghadirkan nuansa yang menakjubkan di benak saya. Menghadirkan hujan dan suasana gelap, meski saya sedang berada di dalam kamar yang terang-benderang, atau sebaliknya. Yah, itu sangat fun. Sayangnya, belakangan ini, mereka semua musnah. Mereka hilang, pergi entah ke mana. Kadang sempat saya pikir saya tak berbakat, tapi sepertinya perjuangan untuk menjadi penulis (penulis terus menulis) memang tak akan mudah.

Saya harus ditolak berkali-kali dulu.

Saya harus berhenti setiap kali saya akan naik level; mengevaluasi lagi hal-hal di belakang. Kenapa saya mengambil keputusan-keputusan yang salah dan kenapa saya meninggalkan tokoh-tokoh imajiner saya di masa-masa itu. Mungkin akan ada banyak cobaan, selain penolakan dari penerbit atau dari redaktur sastra surat kabar, dan itu semualah yang harus saya hadapi. Yang jelas, setiap kali saya pergi jauh, saya harus kembali lagi kepada diri saya—setelah saya lama berputar-putar.

Setelah saya pergi teramat jauh, saya mesti kembali lagi kepada diri saya sendiri.

Banyak sekali tokoh-tokoh cerpen atau novel berkeliaran di kepala saya berminggu-minggu belakangan, tapi saya tak pernah ada waktu untuk mempersilakan mereka duduk sejenak dan mengobrol dengan saya. Saya terlalu sibuk dengan orang-orang di luar diri saya.

Bersosialisasi membahas KKN dan anak-pinaknya, dan politik busuk dan pemerintahan dan politik busuk dan politik busuk dan politik busuk, dan hal yang buruk-buruk di Indonesia. Saya terlalu ingin tahu, padahal major saya toh juga jauh dari itu semua.

Kemarin saya sempat menangis. Saya memang secengeng itu, dan bodohnya mungkin tak ada yang tahu kalau sebenarnya saya menangisi karakter-karakter saya yang masih banyak tertidur di dalam diri saya. Mereka tak dikenal, mereka hanya bisa mengobrol dengan saya, sebagai penulis mereka, hanya bisa berinteraksi dengan ruang-ruang gelap di dalam diri saya. Dan apa yang saya bayangkan dalam tangis saya adalah: mungkin sebelum saya mati, saya belum juga akan bisa memperkenalkan mereka kepada pengasuh-pengasuh mereka yang baru. Mereka mungkin akan saya ajak mati, karenanya.

Maka dari tu, mungkin… tak ada yang sebenarnya saya harapkan dari mengetahui soal hal-hal yang terjadi di luar sana. Saya hanya perlu lebih berkonsentrasi terhadap hal-hal di dalam diri saya. Saya tak membaca Kompas atau Tempo atau The Jakarta Post setiap hari, toh. Di kos juga tak ada televisi. Saya bisa saja mengakses kesemua media itu, bila saya ingin, tetapi rasa ingin tahu saya untuk hal-hal itu sama sekali buntu.

Rasa ingin tahu saya lebih banyak tercurah pada hal-hal yang dianggap remeh-temeh oleh orang-orang lain. Saya lebih tertarik mengenal perseorangan, menembus hati mereka, menyelami pemikiran mereka, melihat secara nyata kegemaran-kegemaran mereka, merasakan juga suka dan duka mereka, untuk tidak mengenal mereka sebatas nama, tidak sebatas karya, tidak sebatas kata-kata apa yang mereka sampaikan. Seperti saya mengenal secara luar-dalam karakter-karakter imajiner di kepala saya.

Sementara itu… Media sifatnya dapat sangat subjektif. Dan orang-orang yang diliput media dapat menggunakan seribu topeng demi menutupi wajah mereka. Saya tak akan pernah tahu kejadian apa yang sebenar-benarnya terjadi.

Namun tak bisa saya pungkiri. Memang, dulu saya hanya membawa tujuan sempit saya ke Dunia Jurnalisme di mana kini saya terperangkap. Karena awalnya saya hanya ingin bisa menulis deskripsi yang tajam; demi untuk menulis fiksi yang bagus, tapi kini ada hal-hal lain tumbuh dalam diri saya. Saya banyak belajar dari BPPM Balairung.

P.S.: Mungkin memang benar politik luar negeri perlu diliput. Mungkin benar kita perlu tahu hal apa yang benar-benar terjadi di wilayah-wilayah perang. Tidak seperti saya yang bisa dengan santai duduk di atas kasur saya dan mengetik ini, orang-orang di luar sana barangkali mesti bertarung dengan rasa takut mereka. Banyak orang berjuang mati-matian untuk dapat hidup. Mungkin kita perlu lebih mengenal satu sama lain. Dan mungkin itulah sejatinya tugas dari para merpati penyebar berita.

Post P.S.: Sekarang saya mau mulai (belajar) menulis puisi saja, lah. Toh, nulis fiksi rasanya masih sulit.

2011/03/23

Balada Seekor Semut

ALIANA berjalan di tengah keramaian, kegaduhan terjadi di seluruh penjuru ruangan. Dentum musik pameran kala itu mengacaukan pikiran. Berkali-kali dia berusaha menyelinap di antara kerumunan, menerobos lalu-lalang, bertekad keluar entah dari pintu mana pun. Dia harus pergi dari tempat itu. Tak peduli lagi akan janji temu yang dia buat dengan seseorang-yang-tak-benar-benar-dia-kenal. Sudah satu jam dia di sana dan keterlambatan lelaki itu tak dapat dia toleransi.

Makara sudah tiba di pintu gerbang ketika tiba-tiba letusan demi letusan terjadi. Semua lampu padam. Ia menyadari ia memang telah terlambat selama satu jam, tetapi bukan berarti itu dapat dijadikan alasan oleh gadis pembunuh misterius itu untuk kembali melakukan satu kasus pembunuhan lagi di keramaian seperti hari itu.

Para pengunjung berteriak ketika satu persatu orang yang berdiri di sebelah mereka roboh. Kepanikan memenuhi udara.

Makara tahu benar siapa yang hadir di sana. Ia dapat memprediksikan ketika gadis itu berlari ke arahnya dengan menghunuskan pisau yang dipegang di tangan kanan. Tangan kiri gadis itu masih memegang pistol dan mengarahkannya secara acak, menembak sembarangan.

Alangkah bengis, pikir Makara, ketika menangkap tangan kecil gadis itu.

“Salam kenal?” ujar Makara ketika menangkap sorot mata tajam gadis itu sekilas lalu.

Tanpa menjawab, seketika itu juga gadis itu menghilang dari pandangan.

Dan, pertemuan itu berakhir dengan kesia-siaan bagi Makara. Pembunuhan massal yang menewaskan puluhan pengunjung pameran malam itu diberitakan oleh sepenjuru media massa di Indonesia, tanpa seorang pun tahu siapa pelakunya.

2010/08/08

Forum Keluarga


(Cerpen ini dimuat di Koran Tempo, 24 September 2016)

Bila kau membaca tulisan ini, perlu kau ketahui, ini adalah isi kepalaku yang terekam secara otomatis ke dalam bentuk tulisan ketika aku menyentuh logam di tanganku. Ini adalah teknologi kuno di zamanku, tapi di zamanmu mungkin saja berbeda, maka kupikir perlu dijelaskan. Logam ini kuperoleh dari orang tuaku pada kelahiranku yang kedua, saat itu umurku seratus dua puluh tahun. Selain merekam, logam ini bisa menganalisis isi pikiranku dan secara otomatis menerjemahkan sandi keluarga kami ke dalam bahasa Indonesia. 

Serangkaian kejadian menjadi alasan mengapa aku perlu merekam pikiranku saat ini, dan menyampaikan ini padamu. Dunia sedang bergejolak hebat. Tubuh-tubuh meledak dalam berita televisi yang disiarkan langsung dari lokasi kejadian. Dan penyiar televisi yang menyiarkan kejadian itu sekejap kemudian lenyap. Sebagian penduduk di suatu negara mati karena epidemi. Dataran itu ditinggalkan penghuninya dan mereka lebih memilih mengapung-ngapungkan diri di perairan.

Puncaknya, seluruh anggota keluarga kami menerima panggilan untuk berkumpul di ruang bawah tanah milik keluarga besar. Keluarga besar kami menghuni seluruh bagian dunia. Dan masing-masing dari kami membawa kekuatan keluarga, simbolnya berupa sebuah permata dengan bentuk dan warna permata yang berbeda untuk keluarga di tiap negara. 

Separuh anggota keluarga yang terlampir dalam daftar undangan tampak di ruang bawah tanah itu ketika kami tiba. Mereka tampak gelisah.

Kami adalah keluarga besar dengan perbedaan warna kulit dan rambut dan tak satu pun dari kami berkewarganegaraan sama. Hampir seluruh anggota keluarga kami menduduki kursi tertinggi pemerintahan dunia. Kerap kulihat mereka tampil di pemberitaan media. Kecuali ayah dan ibuku. Di negaraku, entah mengapa, mereka ditempatkan hanya sebagai mata-mata.

Tak terlampau sering kami berkumpul di ruang bawah tanah berlorong panjang ini. Ini kali pertama aku diundang serta.

2010/07/03

Setangkai Arum Manis

BIDADARI kecil itu memegang setangkai panjang jajanan arum manis di genggamannya. Sambil menangis, kutempelkan dahiku di dahinya. Sore itu di hari Minggu, kami duduk berdua di alun-alun kota.

Gadis kecilku itu tidak akan bertanya mengapa aku menangis. Dia hanya akan selalu menyodorkan arum manis di tangannya ke permukaan bibirku, kubalas dengan mengusapkan pipiku di pipinya dan menggigit sebagian kecil arum manisnya, dada kami lantas menempel. Kupeluk dia seerat mungkin hingga detak jantungnya bersatu dengan detakku dan detak-detak kami kemudian akan menyanyikan sunyinya irama angin.

Aku tidak menyangka hidupku telah berjalan dengan begitu cepatnya. Dan aku telah melewati begitu banyak jalur-jalur perhentian. Dalam tiap perhentian, aku menanti dan cemas. Namun di saat aku kembali melanjutkan perjalanan setapakku, kadang kupikir aku hanya tinggal menjalani saja hidup di depanku karena semuanya seolah sudah tertera di langit.

Konstelasi bintang yang saling berpegangan tangan satu sama lain barangkali adalah representasi nyata dari takdir-takdir pertemuan manusia di muka bumi.

Tangan kecil Naya mengusap bekas arum manis di bibirku. Pancaran matanya sangat kusuka. Teduh. Seolah tidak ada sesuatu pun yang akan dia cemaskan dalam hidupnya. Sekarang ataupun kelak.

Kelak, kelak jauh di masa depan bahkan kendati nyawaku telah mesti kembali ke surga, jalan hidup Naya tidak akan diubah oleh apapun. Aku yakin dia pasti akan tumbuh menjadi gadis pemikat hati banyak pria kelak suatu saat. Aku hanya yakin sekali, tidak tahu kenapa.


Tulisan Terdahulu