2010/02/25

Persona

AKU tahu kau akan ada di pesta kali ini. Dan membacaku seperti sebelumnya.

Persona, kita berdua selalu senang berada di pesta topeng. Pada tiap malam-malam yang tidak pernah berakhir. Pada percakapan-percakapan dan tarian yang tak kunjung usai.

Jadi pada pesta topeng kali ini, akan kuawali dengan mengatakan, rasanya aku begitu menyukai kebersamaan kita. Bahkan meski aku tahu kita sedang menggunakan topeng masing-masing dan tak mampu melihat keaslian wajah satu sama lain.

Mungkin saja itu karena aku adalah tipe gadis pesta yang tidak begitu banyak peduli. Berpesta dan tidak peduli pada apa-apa lagi selain bisa sering-sering berada bersama dengan orang-orang sepertimu.

Tapi maksudku, selalu berada bersama denganmu saja sudah cukup.

Kebersamaan dengan seseorang di balik topeng itu yang kuyakin akan selalu menyimpan senyumnya yang manis untukku meski aku tak pernah melihatnya. Seseorang yang selalu ada di kerumunan pesta setiap waktunya dan bisa selalu kutemukan akan berdiri di sudut ruang dansa pada akhirnya. Setelahnya kita selalu akan berdansa dan berpegangan tangan satu sama lain sambil menceritakan harapan-harapan rahasia yang telah pernah kita tebarkan di udara. Apa lagi yang lebih indah daripada malam-malam seperti itu?

2010/01/30

Rindu



(Cerpen ini pernah dimuat di Koran Tempo, 29 Juli 2012.)

MALAM di musim pengujan itu ia kembali mengetuk pintu. Aku menghampirinya sebagaimana biasa, membukakan pintu untuknya, menyambutnya dengan senyuman. Ia seperti biasa, terjatuh di lantai, muntah.

Sebuah suara memanggilku dari arah atas. Aku segera berlari menaiki anak tangga, menuju ke kamar tempat di mana aku dan seorang pria sebelumnya bermesraan denganku.

“Jim, tolong pergi,” kataku kepadanya sembari melempar celana bahannya ke pangkuannya.

Pria yang sedang bertelanjang dada itu melotot, sedikit mengangkat tubuh. Pantulan sinar dari kalung salib di dadanya menyentuh retinaku.

“Suamiku pulang,” Aku membantu mengancingkan kemeja Jim.

“Lima ratus ribu.” Ia menyelipkan uang sejumlah yang disebutnya itu ke sela payudaraku.

“Tolong, Jim. Aku tidak mungkin membiarkan suamiku membeku di bawah.”

“Kau tidak mungkin menyuruhku pulang, hujan lebat begini!” tukasnya sambil meraih pinggangku dan mendekapku lebih erat. Ciuman bertubi-tubi mendarat di leherku.

“Kau membawa mobil,” bisikku.

“Suamimu juga sudah di dalam rumah, ia tidak mungkin kehujanan.” Ia balas berbisik. Tangannya memainkan rambut ikalku, meremas-remas leherku.

“Ia mabuk, Jim,” jawabku keras, lantas kudorong tubuhnya hingga terjungkal kembali ke atas kasur.

“Oh, Lara… aku juga mabuk!” Tiba-tiba seluruh wajahnya merah padam. Ada sesuatu yang berkobar di matanya, barangkali api kemarahan.

“Aku istrinya,” tandasku, mencoba bersikap tenang.

“Baiklah!” Ia beranjak dari ranjang dengan kilat, dikenakannya kembali celana, sabuk, dan kaus kakinya. Lalu ia berjalan melewatiku. “Lain kali jangan suruh aku datang kalau pulangnya harus dengan cara kau usir seperti ini,” ujarnya dekat-dekat ke telingaku, masih seraya sedikit memaksa mengecup bibirku, sebelum akhirnya kudorong ia ke arah pintu.

Ia menuruni tangga, aku mengikutinya dari arah belakang.

Diludahinya suamiku yang sedang terkapar di lantai tak sadarkan diri. “Oh, Jim!” teriakku. Ia pergi, tak peduli.

Setelah ia berlalu, kututup pintu rumahku.

Lalu kutatapi seseorang yang tidur di lantai itu, pria yang sepuluh tahun lalu layaknya suamiku. Ia yang tak kuketahui kapan bisa hadir menemaniku. Jikapun ia ada di rumah, lebih sering tak ada sepatah kata yang mampu keluar dari bibirku. Lebih sering kami terdiam. Atau aku terdiam, menatapinya merokok, minum-minum.

Tubuhnya begitu berat. Susah untuk kupindahkan. Maka seperti biasanya, kuambil selimut dari kamar, kubiarkan ia tertidur di depan pintu. Aku duduk menemaninya di tangga. Menontoninya tidur pulas, seperti itu, meringkuk seperti kucing kecil.

2010/01/07

Kitchen: Dapur yang Absurd


Menyelesaikannya dalam 5 hari. Bahkan sesungguhnya tidak berniat menyelesaikannya dan justru ingin membuat alur kisahnya yang sudah terlanjur ada dalam benakku menggantung saja. Karena, sebetulnya apa yang bisa diharapkan dari kalimat-kalimat indah yang memiliki akhir?

Entah penulisnya atau penerjemahnya yang memiliki kosa kata indah memabukkan. Yang jelas, yup, itu terjadi dalam novel 'Kitchen' ini. Saking sukanya dengan kalimat-kalimat dalam novel ini, aku bahkan bertekad untuk mulai 'belajar memberi highlight dengan stabilo' untuk kata-kata indah yang kutemukan dalam buku bacaan di rakku ini. Berikut adalah list kata-kata yang kusukai dari novel (edisi Bahasa) ini:

"Kamu tipe orang yang menilai seperti apa? -- Orang sering bilang, kita bisa menilai tipe pemilik rumah hanya dengan melihat toiletnya."

"Dapur."

Oh, sungguh, sweet.

'Aku tak punya saudara di dunia ini. Mengejutkan rasanya, menyadari bahwa aku bisa pergi ke mana saja dan melakukan apa saja.'

Begitulah yang kurasakan untuk tumbuh besar sebagai seorang anak tunggal.

'Sikapnya yang sama sekali tidap hangat maupun tidak dingin justru membuatku merasa dekat.'

Aku selalu merasa begitu kepada orang yang kukenal. Aku senang merasa asing di hadapan orang yang sangat kusayangi sekalipun. Pada dasarnya, tiap orang terasing dalam pemikirannya sendiri, kan?


2009/12/16

Apa Hidup?

Apa hidup memang... seperti, cerita tentang sebuah pohon yang tumbuh di suatu tempat asing? Bahwa yang mengetahui keberadaan pohon itu hanyalah tanah, air, dan udara; hanyalah partikel-partikel gelombang sinar mentari yang menyentuh dedaunan, hanyalah burung-burung yang mungkin mencipta sarang di cabang pepohonan.

Apa hidup memang hanya tentang cerita selebritas yang menuai gosip setiap kali mereka bergandengan dengan orang baru? Televisi yang dipenuhi keributan pembawa acara yang dengan kalimat-kalimat berbeda membawa gosip secara menggebu-gebu seolah-olah kepanasan di ruangan ber-AC. Dan kemudian, seseorang atau sekeluarga atau orang-orang, mereka menonton di depan layar televisi, lalu merasa terhibur dengan acara-acara itu?

Atau hidup adalah tentang menonton film sebanyak-banyaknya, membaca novel secepat kilat dan menghabiskan ratusan dalam seminggu, bermain game dan mengejar games terbaru lalu bertukar nama dengan orang-orang baru akibat kesamaan minat, apakah hidup hanya tentang mencari makna dari novel-novel yang dibaca, film-film yang ditonton, game-game bervisual canggih yang tokoh-tokohnya dilakoni? Apakah hidup untuk menjahit, membuat prakarya, belajar berenang, belajar alat musik; piano; gitar; biola, ikut lomba dan olimpiade ini-itu, melakukan apa yang peradaban manusia sebelumnya lakukan?

Apa hidup hanya tentang bangun dari tidur, pergi ke kamar mandi, lalu sarapan, lalu berangkat sekolah kerja mencari uang, makan siang, bermain mengerjakan sesuatu mengobrol dengan kawan, mandi dan makan malam, mengulang-ulang lagi hal-hal yang dilakukan kemarin?

Apa orang-orang selamanya akan mengikat diri mereka dalam suatu negara dan menetap selamanya sebagai penduduk patung batu di negara tersebut? Apa orang-orang akan hanya setia pada satu keyakinan, didongengi surga dan neraka yang sebenarnya tujuannya hanyalah supaya mereka tahu bahwa berbuat jahat itu tidak patut, menjaga keyakinan itu dan membuat diri mereka terpisah dari orang-orang yang berbeda keyakinan dengannya?

Apa murid-murid SMA akan selalu diminta orangtuanya untuk menjadi dokter dan pengacara atau akuntan agar bergaji tinggi dan bermasa depan cerah? Lalu apa para remaja labil akan selalu berusaha mencari tulang rusuk mereka, bahkan hingga ke ujung dunia, dan lantas memaksakan diri mereka bersenang-senang dengan pacar palsu mereka?

Apa tidak boleh jika seseorang hanya berniat melewati satu hari dalam hidupnya dengan memelototi orang-orang berbicara dalam bahasa mereka? Menyadari bahwa ketika lahir tidak ada seorang pun memiliki kosa kata, tidak ada seorang pun yang mengerti abjad-abjad. Lalu mendengar kata per kata dari orang-orang di sekitar, menonton gerak mereka berbicara bercanda gurau tertawa, memerhatikan tatap mata dan merasa mengetahui segala karakter seseorang dari sana. Merasa menjadi seseorang yang terasing.

Memikirkan bahwa jauh sekali di suatu tempat, ada sekumpulan binatang yang berlarian di padang pasir atau mencari panganan di rerumputan tanpa dikenali oleh orang-orang yang menonton selebritis di layar kaca. Ada hutan-hutan yang tak pernah disinggahi, ada langit-langit biru cerah yang mungkin saja berlubang di suatu tempat yang tak pernah diperhatikan.

Ada orang-orang yang tidak pernah ditemui. Lalu kemudian pertanyaan mengapa kita hanya menemui orang-orang yang kita temui sekarang? Mengapa kita hanya mengenal orang-orang yang kita kenal sekarang?

Ada orang-orang yang beruntung yang dikenal oleh seluruh dunia dan tentu dia tidak mengenal siapa seluruh dunia yang mengenalnya. Ada orang-orang beruntung yang mengenal semua tokoh-tokoh dunia dari buku-buku dan basa-basi mulut ke mulut di masyarakat tapi dia bahkan tidak dikenal di sekolahnya.

Ada orang-orang yang seolah-olah sudah memiliki segalanya, mungkin mereka masih sangat terikat dengan janji-janji pertemuan dengan klien dan pesta-pesta, masih harus membela komunitasnya, masih harus setia pada negaranya, masih harus berderma ke tempat peribadatannya.

Ada orang-orang yang tak memiliki sepeser pun uang, berjalan di gang-gang sempit, mengais-ngais tong sampah untuk menemukan bungkus nasi yang telah basi untuk dimakan, berjalan lagi, mungkin menadahkan tangan meminta sedekah. Masih terikat oleh kewarganegaraan, masih berdoa sebelum makan.

Apa hidup hanya seperti itu? Hanya orang-orang itu? Hanya kejadian-kejadian yang berulang? Hanya menikmati semuanya sebentar lalu mati?

Apa hidup hanya untuk menonton orang-orang membagi kata-kata bijak di atas panggung dan seolah selalu tercerahkan tiap kali mendengarnya? Tentang jalanilah hidup, raihlah ini, jagalah itu, cintailah itu, maka akan mendapatkan ini? Padahal sebenarnya di tiap diri manusia sudah ada kesadaran untuk semua itu. Mereka semua tahu apa yang harus mereka lakukan tapi mereka tetap harus mendengar ocehan-ocehan dari mulut-mulut bebal tak pernah lelah itu.

Tentang selalu ada saat-saat dan waktu-waktu yang tak tepat, selalu ada orang-orang yang datang mengganggu. Lalu katanya teorinya, jangan pikiran ‘selalu’ itu, maka mereka tidak akan datang mengganggu lagi, maka semua waktu akan menjadi tepat. Orang-orang riuh bertepuk tangan karena menemukan kesejajaran pemikiran awam mereka dengan teori sederhana dari orang besar yang berorasi di panggung. Tidak akan sadarkah mereka bahwa sesuatu selalu kelihatan benar karena sesuatu itu dipercayai dan dipegang konsepnya oleh banyak orang?

Agama tertentu bisa besar karena kesamaan pikiran di masyarakat mendukung agama itu ketimbang agama lain yang hanya didukung oleh beberapa orang kecil. Mitos bisa berkembang karena masyarakat mau tidak mau mesti memiliki kesamaan pikiran berkat dianugerahi tempat lahir yang bersuhu cuaca sama dan/atau orang-orang di sekitar yang berkepribadian mirip-mirip.

Lalu, apa hidup hanya tentang tahun baru, satu hari, satu minggu, satu bulan, satu semester, hampir akhir tahun? Hidup hanya tentang lahir, berkembang, dan mati? Hidup hanya tentang belajar ilmu-ilmu dasar lalu ilmu-ilmu terapan lalu dipergunakan di masyarakat? Hidup hanya tentang mengalami hal-hal lalu menceritakan hal-hal ke anak cucu?

Maka sampai mati, akan tetap ada ras, suku bangsa, kebangsaan, agama yang mengkotak-kotakkan dan memisahkan satu kelompok dengan kelompok lainnya, membedakan satu individu dengan individu lainnya.

Maka sampai mati, akan tetap tercipta teori-teori ekonomi baru untuk pasar-pasar yang muncul tiap harinya, teori-teori sosial untuk menjelaskan korelasi individu dan masyarakat, teori-teori politik, bahasa-bahasa yang berkembang, ilmu-ilmu kedokteran yang berusaha melakukan inovasi. Tentang semua teori dari beragam bidang ilmu yang akan terus berkembang. Dan selama mencipta, mereka melupakan siapa diri mereka sebelum lahir, juga tidak memikirkan siapa diri mereka setelah mati.

Maka sampai mati, orang-orang hanya akan tahu bahwa mereka pernah hidup dan kemudian mati.

P.S.: Benar-benar satu gambar pohon yang mengacaukan pemikiran.

2009/12/06

Biola Tak Berdawai: Kisah Bocah Tunadaksa


Biola Tak Berdawai bercerita dari sudut pandang seorang anak tunadaksa yang dari awal sampai akhir novel membuat saya berpikir berulang-ulang kali mengapa SGA memilih bocah cilik tunadaksa itu untuk menarasikan keseluruhan jalan cerita? Keadaan tunadaksa bocah tersebut diakibatkan kelainan pada sistem serebral (cerebral system). Apa SGA memilihnya karena seorang bocah cilik akan selalu bisa mengantarkan pesan macam-macam yang polos? Apa hal tersebut ditujukan untuk menggelitik hati pembaca? Apa untuk memberi kesadaran/pemahaman tentang kejadian di lingkungan bocah cilik kepada pembaca? Karena, ada banyak sekali saya temukan semacam petuah-petuah dari bocah tunadaksa tersebut di dalam cerita ini yang terlihat jelas seperti bertujuan untuk membuat kita sebagai orang-orang yang beruntung terlahir normal agar sadar terhadap keberadaan sesama kita. Bahwa bagaimanapun, kita semua memiliki kesempatan yang sama dalam apapun. Namun tentu narasi dengan "suara" semacam itu terkesan terlalu dipaksakan.

Secara keseluruhan, novel ini seperti mengkritisi keadaan zaman saat ini di mana ada banyak bayi-bayi yang dibuang oleh orang tuanya bahkan meskipun bayi-bayi tersebut berwujud cantik. Pesan yang diusung untuk hal tersebut adalah, 'Apa yang salah dengan memiliki anak dalam kondisi miskin? Tidakkah keluarga miskin bisa bertahan untuk membesarkan bayi mereka dalam kemiskinannya?' atau kalau bayi cantik tersebut dibuang oleh seorang ibu yang merasa belum cukup umur untuk merawat bayinya, 'Kenapa mesti membuang bayi? Seorang perempuan saja memiliki gerakan feminisme dimana mereka terus menerus menuntut emansipasi, lalu ke mana hak seorang bayi untuk hidup?'

Entahlah, saya suka dengan SGA yang meriset tentang Kisah Mahabrata untuk novelnya ini. Saya tak tahu apakah ini berkat diskusi beliau dengan penulis skenario cerita ini sebelumnya, Sekar Ayu Asmara, atau bukan. Pada bagian-bagian tertentu SGA banyak memasukkan tentang kisah Dewi Drupadi yang dimadu oleh Panca Pandawa dan dinyatakan oleh sang bocah tunadaksa kisah tersebut mirip dengan kisah ibu angkatnya. Dimana ibu angkatnya untuk tetap mempertahankan panti asuhannya (yang merawat dan membesarkan bayi-bayi yang dibuang) menghalalkan segala cara bahkan dengan jalan menjual tubuhnya kepada pria-pria yang sanggup membayar mahal kemolekan tubuhnya. Well, saya engga tahu apakah Diva di Supernova yang mirip-mirip kisah ini atau justru vice versa.

Saya tertegun ketika mengetahui bahwa setiap harinya ada banyak bayi yang dibuang di Indonesia (terutama di Yogyakarta di sebuah panti). Selain itu, saya suka dengan setting-setting yang digunakan di dalam cerita ini. Ada makam-makam dan Pantai Krakal. Bocah tunadaksa mengunjungi tempat-tempat tersebut sewaktu-waktu dengan ibu angkatnya. Suasana yang didapat dari tempat-tempat seperti itu sangat match dengan bocah tunadaksa agar mendapatkan kesempatan menarasikan pemikirannya tentang alam di sekitarnya. Bagaimana meskipun mereka selalu diam saja sepanjang waktu, mereka juga memiliki kepekaan yang sama seperti manusia normal untuk mengelaborasi pemikiran tentang alam sekitarnya.

Novel ini juga mengangkat nilai moral tentang seorang ibu yang sangat beruntung menjadi 'perantara' kelahiran kembali seorang anak di dunia. Mungkin karena cerita ini mengangkat Kisah Mahabrata utamanya tentang Dewi Ganggawati dan bagaimana dia membuang delapan wasu, kepercayaan akan reinkarnasi dari bocah tunadaksa tersebut jadi agaknya nampak menonjol.

Overall, kisah ini bagus dibaca sebelum hari ibu 22 Desember ini. Atau justru dijadikan hadiah oleh-oleh untuk ibu masing-masing.

Tulisan Terdahulu