Monday, January 2, 2017

Paul Ricœur: Kebutuhan Akan Narasi

Kita ketahui bersama, pengetahuan hadir dalam teks-teks, dari satu narasi ke narasi lainnya—dan upaya untuk melestarikan ingatan terbantu oleh adanya arsip-arsip peradaban dalam ujudnya yang berupa tablet tanah liat, ukiran pada daun lontar ataupun lembar papirus, hingga dalam wujud buku yang dicetak massal dengan bantuan teknologi yang dimulai dari penemuan mesin cetak Gutenberg di abad ke-16. Dari sekian peninggalan tersebut, jelaslah bahwa narasi sejarah maupun narasi fiksi telah berurat akar lama dalam peradaban manusia. Namun demikian, pada suatu titik, bagi beberapa pihak, pengetahuan dan ingatan yang ditawarkan dalam narasi-narasi tersebut dapat menjadi demikian berbahaya; karena teks berpengaruh sangat besar pada perikehidupan manusia. Maka, siapa pun yang hendak memusnahkan suatu peradaban, pertimbangkanlah untuk menghancurkan literatur peradaban tersebut. Arahan ini selaras dengan penjelasan Milan Kundera bahwa perjuangan seseorang melawan kekuasaan adalah perjuangannya melawan lupa, dan tentu saja jalan paling praktis untuk menciptakan suatu kelupaan massal pertama-tama adalah dengan menghancurkan sumber pengetahuan masyarakat. Bukti penghancuran ini pun dapat ditemukan dari masa ke masa. Dalam bukunya, A Universal History of the Destruction of Books: From Ancient Sumer to Modern Iraq (diterbitkan dalam judul bahasa Indonesia: Penghancuran Buku dari Masa ke Masa), Fernando Baez menggambarkan peristiwa penghancuran buku yang terjadi bahkan sejak era Sumeria Kuno, sekira 4000 tahun sebelum masehi, dan hal yang sama masih terus berlanjut sepanjang sejarah para penguasa yang tiran dan fasis. Hal ini terjadi hanya karena narasi dipandang demikian memiliki makna!—dan, pertanyaan berikutnya adalah: apakah hal serupa masih terjadi di saat orang-orang tidak lagi membaca?

Artikel Life in Quest of Narrative oleh Paul Ricœur memperteguh pandangan saya bahwa teks dapat menjadi demikian berarti di dalam kehidupan seseorang. Melalui artikelnya ini, ia menjelaskan kebutuhan manusia akan narasi—bahwa narasi hidup adalah apa yang menjembatani totalitas kehidupan manusia dari fase kelahirannya hingga fase kematiannya. Narasi hadir untuk memberikan makna bagi hidup seseorang. Ia lantas memaparkan mengenai bagaimana seseorang menuangkan kehidupannya dengan menentukan suatu struktur (emplotment) atas narasi kehidupannya, dan kemudian secara timbal balik narasi yang dihasilkan tersebut dapat berpengaruh bagi kreator ataupun (calon) pembaca narasi kehidupan tersebut. Hal ini mengingatkan saya pada pembahasan dalam Temps et Récit mengenai Mimesis 1: Proses Prafigurasi terkait pengumpulan bahan-bahan narasi dari peristiwa kehidupan dan Mimesis 2: Proses Konfigurasi terkait penyusunan narasi berdasarkan bahan yang telah terkumpul. Selanjutnya, masih terkait dengan Temps et Récit, terutama melalui Mimesis 3, dalam artikel ini Ricœur menjelaskan bagaimana suatu bacaan memiliki relasi yang begitu dalam dengan kehidupan seorang pembaca, dan memungkinkan pembaca tersebut untuk memaknai hidupnya berdasarkan narasi yang dibacanya, bahkan mengapropriasikan hal-hal yang dibacanya ke dalam kehidupannya. Lebih jauh lagi, ia membedakan pemaknaan yang berlaku selama ini—narasi sebagai apa yang dikenang-kenang dan diceritakan, dan tidak dihidupi; sementara hidup itu dihidupi, dan bukan semata untuk dikenang-kenang—dan bagaimana ia kemudian menawarkan suatu proses timbal balik yang memperlihatkan bahwa narasi dapat dihidupi dan demikian juga hidup dapat dinarasikan.

Pemplotan Cerita: Menuangkan Hidup ke dalam Cerita
Sebuah narasi merangkum beragam peristiwa dan menampilkan identitas narasi yang bersifat dinamis: orang-orang yang berkembang sepanjang hidup, dan tokoh-tokoh dalam penceritaan bildungsroman yang berkembang sepanjang narasi. Diperlukan suatu penstrukturan yang khusus atas suatu karya, dan hal ini selama ini didasarkan pada tradisi penceritaan yang kemudian menentukan kategorisasi cerita: spektrum asal-muasal suatu cerita (apakah ia murni imajinasi ataukah berdasarkan kisah sejarah) hingga spektrum jenis cerita itu (apakah ia termasuk karya sastra ataukah karya genre seperti kisah detektif ataukah kisah cyberpunk). Adanya tradisi penceritaan ini yang membantu adanya kanonisasi di dalam kesusastraan, mendefinisikan karya-karya adiluhung ataukah karya-karya pastiche, maupun menempatkan karya sebagai karya sastra ataukah karya bergenre. Cerita-cerita tradisional, dongeng, maupun mitos jatuh sepenuhnya pada kutub cerita yang mendayagunakan repetisi (the pole of repetition). Namun demikian, Ricœur menegaskan bahwa suatu karya tidak mutlak berasal dari imajinasi, hal ini karena adanya keterpengaruhan dari hidup si pengarang atas apa yang dikarangnya, setidaknya separuh dari diri pengarang ataupun lingkungan maupun peristiwa sejarah yang dihidupinya turut tertuang ke dalam narasinya.  

Pemplotan                                  
Di dalam hidup seseorang, ia dihadapkan pada peristiwa-peristiwa yang demikian beragam. Pemplotan adalah proses yang memungkinkan seorang pengarang memilih peristiwa-peristiwa yang penting untuk dituangkan ke dalam cerita dengan mempertimbangkan bahwa pemasukan unsur peristiwa tersebut ke dalam cerita akan membantu narasi berkembang. Hal ini dijelaskan oleh Ricœur sebagai totalitas dalam keselarasan dan ketidakselarasan. Tiga poin pokok yang perlu dikembangkan untuk menengahi adanya keragaman peristiwa menurutnya adalah: menciptakan plot, menempatkan hal-hal yang selaras di atas ketidakselarasan, dan menjalankan konfigurasi cerita.

Dampak lanjutan dalam pembentukan  plot juga perlu dipertimbangkan, di antaranya unsur universal dari kondisi manusia. Plot hidup seseorang dapat menjadi berarti bagi orang lain ketika mencantumkan pula nilai-nilai yang dapat dimaknai oleh orang lain. Unsur universalitas ini akan menghubungkan narasi pada kepekaan moralitas, dan kemudian setidaknya memberi pengaruh pada aspek etika—ketika kelak karya tersebut dibaca dan menjalankan fungsi etis sebagai karya yang memiliki makna bagi pengarangnya maupun pembacanya. Ricœur mengatakan bahwa proses penentuan plot ini membutuhkan pemahaman yang diperoleh secara hati-hati (phronetic understanding) melalui suatu daya refleksi.

Narasi Kontemporer
Ricœur memandang bahwa pemplotan suatu karya terjadi dengan mempertimbangkan tradisi (istilah lainnya, sedimentasi) dan inovasi. Suatu tradisi penceritaan yang tersedimentasikan menentukan dengan rigor struktur dari suatu narasi sehingga ia dapat dikategorikan sebagai novel, kisah tragedi, ataupun kisah komedi. Sementara itu, inovasi membantu seseorang untuk mengembangkan suatu narasi yang baru dan khas, yang disinggungnya sebagai naratologi kontemporer.

Suatu skema naratif atas naratologi kontemporer yang bersifat baru ini dihasilkan melalui imajinasi yang produktif, yang memungkinkan seorang pengarang untuk melompat dari tradisi yang telah ada, dan menghasilkan suatu karya yang segar. Hal ini agaknya memang berkembang dalam berbagai eksperimentasi teknik narasi di awal abad ke-20 ini, beragam jenis cerita dengan kategorisasi baru dapat dengan mudah ditemukan di rak-rak buku fiksi. Saking inovatifnya karya-karya sastra kontemporer, Ricœur menyebutkan bahwa bahkan beberapa darinya barangkali dapat dikategorikan sebagai bersifat anti-novel.

Apropriasi Cerita: Merengkuh Cerita ke dalam Hidup
Ricœur merefleksikan bahwa hidup tidak lebih dari sekadar fenomena biologis sejauh tidak diinterpretasikan. Narasi hidup adalah apa yang membantu dan memegang peranan interpretasi dalam kehidupan manusia. Melalui penciptaan narasi-narasi sepanjang hidupnya, seseorang dapat berkaca mengenai kehidupan yang telah dilaluinya, ataupun membentuk narasi pribadi yang menyangkut harapan tentang apa yang dikehendakinya di masa mendatang. Narasi membantu seseorang menghidupi hidup. Dilihat dengan jalan ini, kehidupan manusia terbedakan dengan kehidupan makhluk-makhluk biologis lainnya karena mereka memiliki daya untuk memaknai hidupnya di dalam penciptaan suatu narasi. Pemaknaan tindakan dapat dilakukan sejauh aksi, tujuan, proyeksi, maupun keadaan lingkungan diperhitungkan dalam menentukan sifat dan karakter.

Selanjutnya, Ricœur menjelaskan mengenai kapasitas pranaratif yang ditawarkan oleh kehidupan, bahwa dengan memperhitungkan adanya pengalaman-pengalaman hidup itulah seseorang berupaya mengembangkan narasi hidupnya. Dikatakannya pula, kemampuan interpretasi atas kehidupan yang kemudian dituangkan ke dalam narasi ini terutama didukung oleh kemampuan manusia untuk beradaptasi dengan lingkungannya lewat jalan berkomunikasi dalam bahasa, dan kemudian menciptakan simbol-simbol lantas mendayagunakannya dalam kapasitas yang demikian tak terbatasi karena bahasa dapat berkembang dengan dinamis. Dalam artian  ini, mediasi simbolis dari tindakan tertentu yang diinternalisasikan seseorang dapat dituangkannya ke dalam wujud konkret. Simbol adalah perwujudan pemaknaan  atas tindakan yang ditentukan di dalam diri seseorang. Dengan demikian, tindakan dapat dipahami sebagai kuasi-teks yang ditentukan oleh dukungan aturan-aturan simbol yang telah diinterpretasikan.

Simbol-lah yang memungkinkan seseorang untuk menciptakan dan membaca narasi-narasi. Pada titik ini, ia menyatakan bahwa membaca adalah jalan untuk menghidupi suatu kehidupan yang ditawarkan di dalam teks yang sedang dibaca. Komposisi suatu cerita belum bisa dikatakan selesai ketika suatu karya dipublikasikan oleh pengarangnya. Suatu karya masih harus berproses bersama dengan pembacanya, bahkan diapropriasikan ke dalam hidup pembacanya, direngkuh erat-erat dan dijadikannya nilai hidup. Demi memungkinkan terjadinya apropriasi narasi dari teks ke pembaca, ada dua aspek yang menjadi pertimbangan: horizon pengalaman maupun horizon harapan pembaca.

Pemahaman Ricœur yang mendalam mengenai hal tersebutlah yang menyebabkannya melancarkan kritik kepada para kritikus sastra dan kritik sastra yang mereka ciptakan. Bagi Ricœur, peran suatu kritik sastra dalam menganalisis teks tidak melulu bekerja pada ranah yang justru menjauhkan pembacaan dari realitas kehidupan, tidak melulu terjadi pada aspek linguistik—semiotika ataupun semantik yang melulu mempertanyakan urutan subjek-predikat dalam kalimat ataupun makna-referensi dari suatu wacana.

Pada poin tersebut, suatu jenis hermeneutika perlu dikembangkan oleh para kritikus sastra. Hal ini dapat dilakukan yakni dengan kembali menilik hubungan antara seseorang dengan dunia, antara satu orang dengan orang lainnya, dan antara seseorang dengan dirinya sendiri. Dengan demikian, suatu karya sastra semestinya dipandang memiliki tiga dimensi: merujuk suatu rujukan (referentiality), daya komunikasi (communicability), dan pemahaman atas kediriannya (self-understanding). Perkembangan pendekatan hermeneutis muncul ketika linguistik tidak ikut disertakan, yaitu dengan berusaha menemukan corak perujukan yang tidak deskriptif, daya komunikasi yang tidak utilitarian, serta daya perenungan yang tidak mementingkan diri sendiri. Hal ini ditegaskan Ricœur lantaran refleksinya bahwa suatu karya sastra diciptakan dalam proses persiapan yang panjang, ia terwujud melalui proses prafigurasi yang mensyaratkan bahan-bahan narasi yang demikian beragam hingga proses penyusunan narasi dalam proses pemplotan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

No comments:

Post a Comment