Friday, October 27, 2017

Friedrich Nietzsche: Genealogi Moral

Artikel ini berupaya menjelaskan pandangan Friedrich Nietzsche atas tradisi Yudaisme dan Kekristenan, dengan menelusuri latar belakang Nietzsche sebagai putra dari seorang pendeta Protestanisme Lutheran, pendalamannya di masa kecilnya atas agama kedua orang tuanya itu, lantas pada sikapnya yang di kemudian waktu lebih tertarik pada Katolik Roma, dan selanjutnya bergerak pada sikapnya yang anti-Yudaisme dan anti-semitisme. Pada masa perpindahan keyakinan demi keyakinan itu, Nietzsche mengembangkan suatu kritisisme berbeda dalam memandang agama. Mulanya ia mendapatkan pengaruh Schopenhauerian yang memampukannya untuk menolak cara pandang metafisis atas agama, dan lantas mendorongnya untuk mengembangkan suatu kritisisme historis, ia melihat perlunya ada suatu “filsafat historis” alih-alih “filsafat metafisis”, hingga bagaimana ia justru berpaling dari kritisisme semacam itu dan lebih tertarik pada penelusuran yang lebih mendalam ke faktor-faktor psikologis dan mengembangkan suatu kritisisme yang dinamainya “kritisisme genealogis”. Melalui pendasaran akan kritisme genealogis inilah ia kemudian melancarkan kritik-kritiknya yang paling tajam pada tradisi Yudaisme dan Kekristenan, bukan per se pada agamanya, melainkan pada perspektif atau cara pandang penganut Yudaisme ataupun Kekristenan terhadap penerapan doktrin-doktrin di ajaran agama mereka, yang membuat Nietzsche berprasangka bahwa mereka sepenuhnya memeluk suatu keyakinan “moral budak” dalam menjalankan kepercayaannya. 

Nietzsche dan Awal Keterpisahannya dengan Kristianitas
Nietzsche lahir dan tumbuh besar di tradisi keluarga yang sangat dekat dan kental akan pengaruh Protestanisme Lutheran, ayah dan sederet keluarganya adalah para klerus terkemuka yang mempelajari teks-teks Latin ataupun biblis dengan saksama. Nietzsche pun tumbuh dengan bacaan yang mendalam akan kitab suci. Jejak pembacaannya dapat ditemukan dalam buku-bukunya yang selalu memuat motif, frasa, kutipan, maupun alusi-alusi pada kitab suci, seperti halnya apa yang tertulis dalam Thus Spoke Zarathustra, meskipun buku-buku tersebut justru menyimpan sanggahan yang pedas akan tradisi biblis yang dikutipnya.

Di kemudian waktu, Nietzsche diketahui mengubah jalan hidupnya sedemikian rupa, karena ia pun menggagalkan cita-cita keluarganya yang menginginkannya menjadi seorang pendeta. Ia justru secara intens mencurahkan perhatiannya pada pemikiran Schopenhauer, lantas menggunakan asumsi dasar Schopenhauerian yang menyatakan bahwa Kristianitas sebagai agama semestinya secara esensial memiliki karakteristik yang mirip dengan suatu mite. Dalam artian itu, doktrin-doktrin dalam agama tidak ubahnya bagai suatu kisah khayalan yang juga terdapat di dalam mite atau cerita rakyat. Dengan demikian, Nietzsche berpendapat dibutuhkan interpretasi filosofis dan evaluasi atas nilai-nilai baik di dalam agama, karena terdapat nilai-nilai moral yang bisa dikontekstualisasikan dengan zaman dan tidak dapat dimutlakkan sebagaimana diterapkan dalam doktrin agama.

Sama halnya degan Schopenhauer, ia berupaya menelusuri jejak agama, dalam karangannya Untimely Meditations, ia menarik simpulan bahwa “kebutuhan metafisis” adalah salah satu alasan seseorang mengimani agama tertentu, dan dengan melepaskan diri dari cara pandang metafisis itulah, dan menggantikannya dengan suatu kritisisme historis, seseorang baru dapat dikatakan benar sedang menguji dan menjalani keyakinannya.

Dari Kritisisme Historis ke Kritisisme Genealogis
Kritisisme historis menjadi argumen kunci Nietzsche dalam menolak doktrin-doktrin agama hingga tahun 1880. Berbeda dengan kritik-kritik tajamnya di kemudian hari, pendasarannya pada kritisisme historis membuat kritiknya terkesan tidak berpolemik. Namun demikian, metode kritisisme historis ini merupakan unsur penting ketika Nietzsche menggagas bukunya Human, All Too Human yang menuntut adanya suatu “filsafat historis” untuk menggantikan “filsafat metafisis”. Ia menolak adanya suatu kebutuhan akan “metaphysisches Bedurfnis” (kebutuhan metafisis) dalam menjelaskan keberadaan Tuhan. Namun, di kemudian waktu pun, pandangan ini masih lebih jauh lagi dikembangkan dan disempurnakan dengan suatu cara tafsir yang disebutnya sebagai kritisisme genealogis, menyelidiki lebih jauh lagi dan tidak sekadar menerima tawaran fakta-fakta sejarah, tetapi bergerak ke ranah psikologis dari keberadaan manusia-manusia pertama di muka bumi, yang memunculkan adanya kelompok moral tuan dan moral budak.

Hal ini bermula pada 1880-an, ketika itu Nietzsche tidak puas hanya berdiam diri, ia melancarkan banyak serangan tajam dan kerasnya pada Kekristenan dan menampilkan dirinya sebagai seorang anti-Kristus yang menyatakan dengan tegas hinaannya pada Kekristenan. Alasan utamanya adalah apa yang ia lihat ada dalam agama: suatu sifat inertia (kelemahan) dari Kekristenan itu sendiri. “Death to the weak!” Begitu pernyataannya. Untuk melengkapi serangannya, fabelnya yang terkenal dalam membahas mengenai sosok “manusia gila” (madman) yang mengumumkan kematian Tuhan menghujat bahkan versi sekuler dari moral ideal Kekristenan. Penyimak kisah itu, menurut Nietzsche, sudah bukan benar-benar orang yang memeluk Kekristenan, tetapi mereka tetap mempertahankan moralitas Kristen. Konsep moral Kristen inilah yang dikatakan oleh Nietzsche tetap bertahan dalam perkembangan agama dan filsafat secara sistematis. Serangannya terhadap agama sebenarnya adalah wujud ajakan untuk membawa masyarakat yang menganut agama secara “sambil lalu saja” untuk mengambil tindakan serius dengan melakukan evaluasi atas nilai-nilai hidupnya (reevaluation of all values). Dari pokok inilah, idenya mengenai suatu  kristisisme genealogis berkembang.

Jalan-jalan yang dapat ditempuh untuk perumusan genealogi ini di antaranya: pertama, ia menjelaskan secara psikologis profil dari para pemuka agama untuk membuat terang-benderang adanya keberjarakan dari tindakan serta motif para pemuka agama itu dibandingkan dengan doktrin agama yang mereka sampaikan. Kedua, ia menyingkapkan perkembangan sosial yang memungkinkan pertumbuhan Kekristenan. Ketiga, ia mencari faktor-faktor intelligible yang mendorong seseorang secara psikologis maupun fisiologis untuk tertarik pada doktrin-doktrin Kekristenan. Keempat, ia mengemukakan suatu alam pikir (state of mind) yang memotivasi para penganut agama untuk mempertahankan moralitas keagamaan mereka.

Dari jalur-jalur tersebut, Nietzsche kemudian hendak menggantikan cara pandangnya atas model kristisisme yang tepat dalam menyampaikan evaluasi atas suatu keyakinan. Ia tidak lagi berusaha mempertahankan metode kristisisme historis, tetapi ia menawarkan jalan kritisisme genealogis. Dari karya-karyanya, tampak bahwa baginya suatu kristisisme historis barulah dapat digunakan sebagai basis presuposisi, untuk memperkirakan kebenaran atas sesuatu, tetapi karena hanya berhadapan dengan fakta-fakta historis, maka yang bisa dilihat hanyalah sekadar hal-hal di permukaan. Berbeda halnya dengan jalan kritisisme genealogis yang memungkinkannya untuk mendasarkan kritiknya dari suatu pencarian akan keutuhan sistem, alam pikir, bahkan hingga ke faktor fisiologis dan psikologis para aktor di balik stabilitas moral agama. Maka, ia selanjutnya mengutamakan kritisismenya dengan jalan genealogis.

Dalam kritisisme genealogisnya pada On the Geneaology of Morals, Nietzsche memulai analisisnya dengan menyampaikan rekonstruksi hipotetis dari kemunculan peradaban manusia. Ia menggambarkan adanya dua jenis kelompok masyarakat berbeda, yakni Vormenschen (proto-manusia) yakni kelompok kecil yang memiliki kemamuan sebagai ras penakluk dan penguasa, sementara kelompok lainnya memiliki jumlah yang jauh lebih besar tetapi memilih hidup secara nomaden. Kedua kelompok ini masih hidup pada kesadaran “semi-binatang” di mana mereka bergerak berdasarkan dorongan hasrat belaka.
Nietzsche tertarik untuk melihat bagaimana kedua kelompok ini bertemu dan interaksi berjalan di antara mereka. Berbeda dengan penggambaran kisah prahistoris lain, Nietzsche menawarkan sebuah jalan cerita di mana satu kelompok besar yang bergerak nomaden tadi pada akhirnya tunduk pada kekuasaan kelompok lain yang memiliki kecenderungan sebagai ras penguasa. Pada titik inilah muncul suatu relasi yang dikatakannya sebagai relasi tuan-budak. Untuk mempertahankan keberadaannya, kelompok moral budak ini kemudian bersikap patuh dan menekan dorongan hasratnya. Hasrat itu tentu tidak hilang, tetapi berubah bentuk, yang diistilahkan Nietzsche sebagai proses “internalisasi”, yang secara lebih dalam melingkupi proses psikologis yang menyakitkan, di antaranya Triebverzicht (penolakan hasrat), Triebaufschub (pemangguhan hasrat), dan Triebverschiebung (pemindahan hasrat). Di sinilah suatu lingkup internal psikologis manusia berkembang yang terwariskan dari generasi ke generasi. Ketika moral budak yang menghasratkan kekerasan, agresi, kehendak atas kekuasaan tidak bisa dimunculkan, maka kesemua itu ditekan dan kemudian, secara ekstrem, dapat termanifestasikan ke dalam bentuk lain, misalnya pada produksi suatu karya seni berkelas (high culture). Menurutnya, suatu budaya tinggi berasal dari spiritualisasi dan intensifikasi kekejaman.
Seperti halnya yang berlaku dalam budaya tinggi itu, begitu pula ia melihat doktrin religius disasarkan pada mental budak, ia mencemooh bahwa orang-orang yang mencari suatu pelipur dari dokrin agama demi kebahagiaannya di akhir kehidupan tidak ubahnya sebagai sekelompok orang dari mental budak. Kesalahan-kesalahan pun pada umumnya ditumpukan paada hal-hal yang dijadikan kambing hitam (scapegoat), suatu jalan untuk keluar dari permasalahan. Secara historis, hal ini tampak dalam kepercayaan Yudaisme (Yahudiah) dan direformulasikan kembali dalam tradisi Kekristenan. Selanjutnya, yang terjadi dapat pula sebaliknya, orang-orang yang mulanya memanggul suatu moral budak, di zaman pada saat Nietzsche hidup justru berubah menjadi tuan-tuan baru, sosok yang berusaha melampaui tuannya, sehingga seakan-akan ia memiliki suatu moral tuan. Oleh karena itulah, Nietzsche menawarkan suatu cara pandang baru, yakni melakukan penilaian kembali atas semua nilai-nilai (revaluasi of all values) yang bertujuan menggantikan semua moralitas hasrat budak yang menyimpan kebencian pada suatu moralitas tuan yang dikatakannya sebagai suatu moralitas ekspresi-diri (morality of self-expression).  

Penutup
Nietzsche tidak menolak Yudaisme ataupun Kekristenan. Ia hanyalah menolak perspektif, cara pandang atas keyakinan tersebut. Bahkan pada zaman Nietzsche hidup, para pemuka Kekristenan dan begitu juga dalam Katolik Roma telah mengharuskan para klerus untuk memiliki suatu cakrawala berpikir dengan kritisisme historis. Nietzsche sendiri menyadari perkembangaan ini. Ia yang mulanya mendukung adanya suatu “filsafat historisisme” lantaran memegang cara pandang Schopenhauerian yang menolak “filsafat metafisis” pada akhirnya justru menggantikan cara pandangnya pada kritisisme genealogis. Hal ini lantaran ia melihat bahayanya kritisisme historis di dalam tubuh Gereja yang dapat menjatuhkan Kekristenan. Dalam kapasistas kritisisme historis, pembenaran atas keyakinan dicari melalui adanya dukungan fakta-fakta. Sementara bagi Nietzsche, semestinya tidak demikian, ia mempertanyakan: bagaimana jika sebenarnya tidak pernah ada fakta, sementara yang ada hanyalah interpretasi demi interpretasi? Tepat pada titik itulah, yang ditolak oleh Nietzsche bukanlah Kekristenan, melainkan suatu cara pandang atau tafsir yang mungkin saja diterapkaan keliru atas Kekristenan (yang disebut dalam teks sebagai perspective of Judaeo-Christian tradition), dan kekeliruan itu dapat saja berasal dari cara pembenaran keyakinan yang diupayakan untuk dicari dari fakta-fakta melalui suatu pendekatan kritisisme historis yang diterapkan oleh para klerus.

Kritisisme genealogis Nietzsche didasarkannya pada pandangan bahwa selama ini ia melihat agama bergantung pada klaim-klaim moralitas, di mana ekspresi moralitas itu terlahir dari suatu kebencian (resentment). Cara pandang ini dilihatnya sebagai cara pandang dekaden, karena mengumpamakan manusia menganut Kristianitas lantaran adanya perasaan yang tidak terpenuhi, utamanya perasaan resentment, dan ia mencari pemenuhannya di dalam beragama. Di sinilah, bagi Nietzsche, terjadi suatu reduksi atas agama. Padahal, sebagaimana dapat ditelusuri dalam sejarah, Nietzsche menjelaskan adanya dua kelompok manusia yang saling berinteraksi dan sedemikian rupa membentuk adanya suatu moral tuan dan moral budak di dalam diri manusia, moral yang saling melengkapi dan terwariskan dari generasi ke generasi. Moral budak dalam diri manusia yang tidak bisa disalurkannya ini, dan kemudian justru dia internalisasikanlah, yang menyebabkan adanya moralitas yang dikembangkan dalam agama, begitu juga agama-agama awal seperti Yudaisme ataupun yang kemudian dikembangkan dalam Kekristenan.

Sumber:
Salaquarda, Jörg. (1996) “Nietzsche and the Judaeo-Christian tradition” (h. 90-118) dalam The Cambridge Companion to Nietzsche diedit oleh Bernd Magnus.

No comments:

Post a Comment